Monday, July 13, 2020

Homili 13 Juli 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XV
Yes. 1:11-17
Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23
Mat. 10:34-11:1

Mewujudkan kekudusan dalam diri kita

Pada tanggal 19 Maret 2018, Bapa Suci Paus Fransiskus menulis sebuah Seruan Apsotolik bernama Gaudete et Exultate (Bersukacita dan Bergembiralah). Beliau mengatakan: “Dengan seruan ini saya ingin menekankan terutama pada panggilan untuk kekudusan yang ditujukan Tuhan kepada kita masing-masing, sebuah panggilan dengan mana Dia menyapa secara pribadi lepas pribadi, bagi Anda juga. Sebab itu jangan takut akan kekudusan. Kekudusan itu tidak akan menghilangkan tenaga, vitalitas, atau kegembiraan Anda.” Di dalam Seruan Apostolik ini, Bapa Suci menekankan lima poin penting di mana kita bersukacita dan bergembira untuk menjadi kudus yakni pertama, kekudusan berarti menjadi diri sendiri artinya Setiap orang percaya perlu  “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri”. Kedua, Kehidupan sehari-hari yang nyata dapat memimpin kita kepada kekudusan. Ketiga, Menghindari dua kecenderungan utama: Gnostisisme dan Pelagianisme. Keempat, Bersikap baik dan Kelima, Ucapan Sabda Bahagia adalah penunjuk jalan menuju kekudusan.

Dari kelima poin yang menggambarkan isi Seruan Apostolik Gaudete et Exultate ini, saya mau memfokuskan perhatian kita pada salah satu ciri khas kekristenan kita yaitu bersikap baik. Paus Fransiskus memberi contoh-contoh praktis dalam hidup sehari-hari seperti jangan bergosip, hentikan sikap memberi penilaian dan berhenti bersikap kejam. Selain itu beliau berpesan: “Fitnah dan umpatan bisa menjadi hal yang biasa, karena semua hal dapat diungkapkan di sana, tidak dapat diterima dalam wacana publik, sebab orang-orang mencari untuk mengimbangi ketidakpuasan mereka sendiri dengan menertawakan atau memukul orang lain. Dalam mengklaim untuk menegakkan perintah-perintah lain, mereka benar-benar mengabaikan Perintah Allah kedelapan, yang melarang membuat saksi palsu atau berbohong dan dengan kejam memfitnah orang lain.” Contoh-contoh praktis ini memang terjadi dalam hidup kita setiap hari hanya banyak orang tidak menyadarinya sebagai dosa.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini sangat menginspirasi kita untuk hidup sebagai orang Kristen yang terbaik sehingga dapat mencapai kekudusan sebab kekudusan juga diperuntukan bagi kita. Namun untuk mewujudkan kekudusan itu terdapat banyak tantangannya. Nabi Yesaya dan Tuhan Yesus mengungkapkan berbagai kelemahan manusia yang mengakibatkan manusia itu jatuh dalam dosa sehingga tidak menggapai kekudusan pribadi. Tuhan melalui nabi Yesaya memberi kritikan keras kepada para pemimpin Sodom yang berpikir bahwa sudah cukuplah mempersembahkan kurban bakaran berupa domba jantan dan anak lembu tambun yang berlemak. Tuhan mengatakan ketidaksukaan-Nya kepada darah lembu, kambing dan domba. Mengapa Tuhan tidak suka? Sebab mereka kelihatan terpaksa mempersembahkan kurban bakaran kepada Tuhan. Sebab itu Tuhan mengatakan ‘baunya menjijikan bagi-Nya’. Semua perayaan yang dilakukan di hadapan Tuhan berisi kemunafikan sebab isinya adalah kejahatan. Sikap-sikap seperti ini membuat Tuhan memalingkan wajah-Nya ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Tuhan Yesus juga melihat sisi-sisi kelemahan manusia. Misalnya, ada di antara orang-orang pada zaman-Nya dan kita yang membaca Injil saat ini yang lebih cenderung memprovokasi perpecahan bukan damai, permusuhan-permusuhan di dalam keluarga akibat kerakusan terhadap harta. Hati orang melekat pada harta dan mengabaikan nilai hidup manusia. Keengganan orang untuk tidak mau berkorban, memikul salib untuk kebahagiaan sesamanya, kesulitan untuk memberi kesaksian yang benar tentang hidup kristiani yang sesungguhnya. Semua kelemahan manusiawi ini ada di dalam diri kita, dan di dalam gereja kita. Saya teringat pada sebuah perkataan Paus Fransiskus pada tanggal 9 Oktober 2018 yang lalu bahwa Gereja adalah rumah Tuhan. Sebab itu janganlah gereja itu diubah menjadi pasar atau ruang publik yang di dominasi oleh keduniawian. Ini adalah sebuah kritik sosial bagi gereja dan para pelayan yang ‘memasang tarif’ dalam pelayanan-pelayanan sakramen.

Dengan melihat berbagai kelemahan ini, apakah kita harus mengalah begitu saja dan membiarkan dunia semakin gelap karena dosa? Tentu saja tidak. Tuhan akan mengubah hati manusia yang keras untuk menjadi lembut dan mampu mengasihi dengan kasih Tuhan. Apa saja yang dapat kita lakukan dalam hidup untuk menuju kepada kekudusan? Tuhan memberi jalan pertobatan yang pasti melalui nabi Yesaya berikut ini: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yes 1:16-17). Buah pertobatan adalah kasih dan kebaikan sebab kita sendiri mengalaminya dari Tuhan. Pertobatan radikal merupakan pengalaman akan Allah yang nyata.

Tuhan Yesus juga membuka jalan kekudusan bagi kita untuk menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita setiap hari. Misalnya, Ia meminta kesiapan kita untuk memikul salib dan mengikuti-Nya dari dekat. Salib adalah penderitaan pribadi yang membuakan kebahagiaan bagi sesama, bahkan salib dapat membuat orang kehilangan nyawanya karena kasihnya kepada Tuhan Yesus. Dalam sejarah gereja kita memiliki banyak martir yang menyerahkan nyawanya karena cinta kepada Kristus. Tuhan Yesus menasihati supaya kita memiliki kerelaan untuk menyambut sesama karena dengan demikian kita juga menyambut Tuhan sendiri. Inilah perkataan Yesus: “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.” (Mat 10:40-41). Selain kerelaan untuk menyambut, Yesus juga mengajarkan semangat berbagi dengan sesama manusia. Inilah perkataan Yesus: “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Mat 10:42).

Hidup Kristiani menjadi nyata dalam kasih. Tuhan mengajar kita untuk mengasihi bukan untuk membenci. Kasih itulah yang mengantar kita untuk masuk dalam kekudusan karena kekudusan adalah milik Allah. Kita masuk dan menjadi bagian dari Tuhan sendiri. St. Paulus berkata: “Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” (Rm 14:7-9). Kita wujudkan diri kita sebagai milik Tuhan dengan menjadi kudus. Dengan demikian kita juga dapat menyaksikan keselamatan yang dari Allah (Mzm 50:23). 

PJ-SDB

Sunday, July 12, 2020

Food For Thought: Nilai Rohani Penderitaan

Nilai Penderitaan

Apakah anda pernah menderita? Ini adalah sebuah pertanyaan yang gampang untuk dijawab oleh semua orang sebab saya merasa yakin bahwa semua orang sudah sedang mengalami penderitaan. Ada yang mengalami penderitaan fisik, ada juga yang mengalami penderitaan psikis dan rohani. Boleh dikatakan tidak seorang pun di dunia ini yang luput dari penderitan dan kemalangan. Kita semua tidak dapat menghindar dari penderitaan.

Penderitaan tidak selamanya menakutkan. Memang secara manusiawi kita pasti takut, tetapi kalau kita melihat ke depan dengan tatapan yang optimism aka penderitaan akan menghasilkan kemuliaan dan kebahagiaan. St. Paulus pernah mengalami sendiri dan membagikan pengalamannya ini dengan orang-orang Yahudi di Roma. Ketika itu mereka mengalami berbagai penindasan yang membuat mereka sangat menderita. Semua karena iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Maka Paulus menghibur mereka dengan berkata: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Rm 8:18). Paulus tidak sedang beteori, tetapi dia sedang menampilkan pengalaman Yesus sendiri. Tuhan Yesus menderita, wafat dengan tragis di salib tetapi kebangkitan-Nya dari alam maut memenangkan dan membahagiakan segalanya. Orang berdosa memperoleh penebusan berlimpah.

Khalil Gibran pernah berkata: “Akhir dari penderitaan menghasilkan jiwa yang kuat; karakter terkuat ditandai oleh bekas luka.” Pernahkan anda memperhatikan bekas luka pada bagian tubuhmu? Apa yang anda pikirkan dari bekas luka itu? Ada rasa marah dan kesal karena pengalaman yang melukai tubuhmu. Ada rasa bahagia karena dari luka itu semakin memberi makna bagi hidupmu. Ada rasa syukur karena dari luka itu dapat membahagiakan orang lain. Ada banyak perasaan ketika melihat bekas luka yang membuat karakter semakin kuat dan bertahan dalam derita.

Saya mengakhiri FFT ini dengan mengutip Filsuf Amerikan bernama Thomas Paine. Ia pernah berkata begini: “Saya suka orang yang bisa tersenyum pada masalah, mengumpulkan kekuatan dari penderitaan dan tumbuh berani dengan bercermin diri.” Semoga kita boleh tersenyum pada masalah, mendapat kekuatan dari penderitaan dan kemalangan hidup kita. Manusia hebat seharusnya demikian.

Tuhan menberkati kita semua.

PJ-SDB

Homili Hari Minggu Biasa ke-XV/A - 2020

Hari Minggu Biasa ke-XV/A
Yes. 55:10-11
Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14
Rm. 8:18-23
Mat. 13:1-23

Belajar dari sang Penabur

Pada hari ini kita memasuki hari Minggu Biasa ke-XV/A. Perayaan Ekaristi hari ini diawali dengan sebuah Antifon Pembuka yang inspiratif berikut ini: “Dalam kebenaran, aku mau memandang wajah-Mu, dan aku akan puas waktu menyaksikan kemuliaan-Mu.” (Mzm 17:15). Apa saja yang terjadi dalam perayaan Ekaristi? Kita semua mencari Tuhan sepanjang hidup kita. Satu hasrat kita dalah tinggal bersama Tuhan dalam keabadian yang dapat kita alami mulai di dunia ini. Setiap hari Minggu misalnya, merupakan kesempatan emas bagi kita semua untuk mencari Tuhan sang Kebenaran sejati. Kita berusaha untuk memandang wajah Tuhan dalam Ekaristi. Dialah yang tersamar dalam rupa roti dan anggur. Sambil memadang wajah Tuhan dalam Ekaristi, kita akan puas menyaksikan kemuliaan-Nya sendiri. Dalam perayaan Ekaristi, Tuhan memuaskan kita melalui Sabda yang kita dengar, renungkan dan diwartakan di dalam hidup. Kita juga menerima Tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi. Sabda dan daging menyatu dalam perayaan Ekaristi kita. 

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu Biasa ke-XV ini akan membantu kita untuk merenung lebih mendalam tentang spiritualitas sang Penabur dan kita berusaha untuk belajar dari pada-Nya. Sebagaimana dikisahkan oleh Penginjil Matius bahwa Sang Penabur tanpa nama ini keluar dari rumahnya untuk menabur benih gandum sesuai kehendaknya. Ia menggengam benih gandum yang sudah disiapkan dan menabur dengan bebas di tempat yang dia kehendaki. Dengan demikian ada benih gandum yang jatuh di pinggir jalan dan langsung dimakan burung-burung sampai habis. Ada benih yang jatuh di atas batu, dapat bertumbuh tetapi hanya bertahan dalam waktu singkat saja karena tidak ada tanahnya. Ada benih yang jatuh di antara semak berduri, dapat bertumbuh tetapi tidak berkembang dan mati karena dihimpit semak duri itu. Ada benih yang jatuh di tanah yang baik dan berbuah seratus, enam puluh dan tiga puluh kali lipat. Perumpamaan ini memang sangat kontekstual karena diberikan Yesus di Galilea, sebuah daerah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.

Tuhan Yesus mengetahui ketidakmampuan para murid-Nya untuk memahami dengan baik makna perumpamaan-Nya ini, meskipun Yesus sendiri mengatakan bahwa mereka diberi kemampuan untuk mamahami rahasia Kerajaan Surga (Mat 13: 11). Sebab itu Ia menjelaskan makna perumpamaan ini kepada mereka. Sang Penabur adalah Tuhan Yesus sendiri. Dia yang memiliki kehendak untuk berbicara kepada semua orang tanpa memandang siapakah orang itu. Dia tidak memilih dan memilah lawan bicara di hadapan-Nya. Benih adalah Sabda atau setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah. Benih yang jatuh di pinggir jalan itu sama seperti orang yang mendengar sabda tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengerti sehingga dengan mudah iblis merampas dari dalam hatinya. Benih yang jatuh di atas batu itu terjadi pada orang yang senang menerima Sabda tetapi tidak berakar dalam hatinya. Ketika da penindasan dan penganiayaan maka orang itu cepat murtad. Benih yang jatuh di antara semak duri adalah orang yang mendengar sabda namun ia mudah sekali khawatir, tenggelam dalam tipu daya kekayaan sehingga tidak berbuah. Benih yang jatu di tanah yang baik adalah orang yang mendengar Sabda, mengerti denhan baik sehingga berbuah dalam kelimpahan.

Sekarang pikiran kita terarah pada kemampuan kita untuk mendengar, merenung dan melakukan Sabda di dalam hidup kita. Apakah hati kita itu menjadi tempat yang tepat bagi Sabda sehingga dapat menghasilkan buah yang berlimpah? Atau hati kita justru diliputi oleh kuasa kejahatan sehingga tidak ada tempat bagi Sabda, bermental bekicot sehingga tidak bertahan dalam derita dan penuh dengan kekhawatiran karena harta dan hati menyatu. Masing-masing kita boleh memeriksa batin dan mengatakan dengan jujur kepada Tuhan hidup kita yang sebenarnya. Banyak kali orang boleh aktif di gereja dua puluh lima jam tetapi dia bukanlah lahan yang subur bagi Sabda. Dia tidak lebih dari benih di pinggir jalan, di atas batu dan di antara semak duri. Ini namanya iman yang dangkal dan tidak dewasa.

Sabda Tuhan adalah benih yang mampu mengubah hidup kita. Maka hati kita haruslah menjadi lahan yang subur bagi benih Sabda Tuhan. Artinya setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah itu harus memiliki daya transformatif dalam hidup kita. Tepatlah perkataan nabi Yesaya ini: “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yes 55:10-11). Dan memang benar perkataan Tuhan melalui nabi Yesaya ini. Sabda itu tidak akan kembali begitu saja. Sabda melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan. Tuhan Yesus sebagai Sabda hidup melakukan kehendak Bapa dengan Penebusan berlimpah.

Bagaimana kita menyikapi Sabda Tuhan di dalam hidup kita? 

Saya teringat pada Paus Fransiskus dan perkataan-perkataannya yang selalu menginspirasi. Ia pernah berkata: “Tuhan memberimu firman-Nya, sehingga anda dapat menerimanya seperti surat cinta yang telah ia tulis kepadamu, untuk membantu anda menyadari bahwa Dia berada di pihakmu.” Sangat sepakat dengan Sri Paus, bahwa Sabda Tuhan adalah benih yang ditabur oleh Tuhan sendiri merupakan kata-kata cinta Tuhan bagi kita. Ketika kita membaca Kitab Suci atau mendoakan ibadat harian maka kita mengalami kata-kata kasih, sebuah surat cinta dari Tuhan sendiri. Sri Paus juga mengatakan: “Firman-Nya menghibur dan mendorong kita. Pada saat yang sama itu menantang kita, membebaskan kita dari ikatan keegoisan kita dan memanggil kita untuk bertobat, karena firman-Nya memiliki kekuatan untuk mengubah hidup kita dan untuk menuntun kita keluar dari kegelapan menuju terang.”

Kita harus percaya kepada Tuhan sang Penabur benih Sabda-Nya. Dari Tuhan sendiri kita belajar sebuah spiritualitas yang dijiwai kasih penuh kebebasan. Dia memiliki kehendak bebas untuk berkata-kata dan kata-kata itu memiliki daya transformatif yang luar biasa. Pikirkankanlah dan percayalah bahwa setiap perkataan yang ada di dalam Kitab Suci merupakan sapaan kasih Tuhan bagi kita semua. Sapaan kasih itu harus kita balas dengan kasih bukan dengan yang lain. Maka tugas kita adalah mendengar, merenungkan dan melakukan Sabda. Sabda mengubah hidup kita dan kita mengubah hidup sesama dengan kuasa sabda dalam diri kita yang nampak keluar dalam bentuk keteladanan hidup.

Mari kita belajar dari Tuhan sang Penabur benih Sabda. Kita berjalan dalam lorong-lorong kehidupan sesama untuk untuk menabur kasih dan kebaikan. Biarlah semua orang semakin mencintai Tuhan dan sabda-Nya. 

PJ-SDB

Saturday, July 11, 2020

Food For Thought: Hati penuh syukur

Bersyukur kepada Tuhan

Mengakhiri hari ini saya membaca Kitab Mazmur sambil menyiapkan ibadat sore pertama menjelang Hari Minggu Biasa ke-XV. Saya menemukan kalimat-kalimat doa yang indah dari Mazmur 105. Inilah kata-kata doa yang saya maksudkan: “Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!” (Mzm 105:1-2). Kata-kata ini menjadi doa syukurku untuk menutup hari Sabtu yang indah ini.

Saya menyatakan rasa syukur kepada Tuhan karena Tuhan sungguh baik. Dia sungguh baik kepada saya karena selama seminggu mengikuti retret tahunan kongregasi Salesian tahun 2020. Retret ini membahas dan merenung kembali tulisan Bapa Suci Fransiskus kepada kaum muda yakni Christus Vivit. Tentu saja semua Salesian merasa disegarkan kembali untuk mencintai panggilannya dan melayani kaum muda lebih baik lagi seperti Kristus sendiri dan Bapak Pendiri St. Yohanes Bosco. 

Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena retret tahunan ini menjadi momen pembaharuan dalam hidup saya. Sekarang saya boleh menatap ke depan untuk menjadi lebih baik lagi. Saya merasa bersyukur karena Tuhan menyapa saya dengan sabda-Nya yang begitu bagus. Ia mengasihiku apa adanya dan menghendaki agar saya juga membaharui diri dengan semangat pertobatan. Semangat yang sama menginspirasi saya untuk mewartakan seruan tobat kepada sesama yang lain. 

Banyak di antara kita yang berbibir najis seperti Yesaya, tetapi Tuhan menguduskan dengan seruan tobat. Banyak di antara kita yang egois dan suka merendahkan orang lain. Pertobatan adalah jalan yang tepat untuk mengalami kasih dan kemurahan Tuhan. Pertobatan membuka jalan untuk semakin menyerupai Tuhan Yesus.  

Tuhan mengasihi dan memberkati kita semua. Selamat mengakhiri hari ini.

PJ-SDB

Homili 11 Juli 2020

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XIV
Peringatan Wajib St. Benediktus
Yes. 6:1-8
Mzm. 93:1ab,1c-2,5
Mat. 10:24-33

Lebih berharga di mata Tuhan

Pada hari ini kita mengenang santu Benediktus. Kita mendoakan semua orang yang memakai nama Benediktus. Lebih khusus lagi kita mengenang Paus Emeritus, Benediktus ke-XVI (Latin: Papam Emeritum Benedictus PP. XVI). Semoga dengan doa-doa santu Benediktus, dapat member berkat berlimpah kepada Paus Emeritus Benediktus ke-XIV dan Benediktus yang lainnya. Nama Benediktus berarti diberkati. Santo Benediktus dikenal luas ketika mendirikan biaranya yang sederhana pada abad ke enam. Biaranya itu laksana surga yang penuh kedamaian, dihiasi dengan doa dan kerja. Beliau menulis aturan hidup bersama yang dikenal sebagai Regula Sancti Benedicti yang ditulisnya pada tahun 516. Regula ini bertujuan untuk menolong para saudara yang mengikuti jalan kebijaksanaan Tuhan berdasarkan pada tiga kaul yaitu ketaatan, stabilitas dan pertobatan hidup. Ia berkata kepada setiap anggota komunitasnya: “Untuk berkembang secara spiritual kita harus berhenti dan mendengar tidak saja dengan telinga kita, tapi juga dengan hati kita.” Para anggota komunitas harus seimbang dalam hidup doa dan karya. Ia mengatakan: “Kemalasan adalah musuh terbesar jiwa.” Sebab itu orang harus tekun berdoa dalam hidupnya. Cita-cita dan perjuangan hidupnya adalah supaya ada kesungguhan supaya untuk menghargai martabat manusia. Manusia itu berharga di mata Tuhan.

Pada hari ini kita mendengar bacaan-bacaan Kitab Suci yang sangat menginspirasi kita untuk menghargai nilai hidup manusia. Di bacaan pertama kita mendengar kisah panggilan nabi Yesaya. Dikisahkan bahwa pada suatu kesempatan, Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang. Ujung jubahnya memenuhi bait suci. Dalam penglihatannya itu terdapat para Serafim yang berseru: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yes 6:3). Yesaya merasa takut dan juga merasa tidak layak di hadapan Tuhan Yang Kudus. Ia berkata: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam." (Yes6:5). Namun Tuhan menyempurnakannya dan ia siap untuk diutus untuk mewartakan sabda dan karya Tuhan. 

Kisah panggilan nabi Yesaya adalah kisah hidup kita. Masing kita juga berbibir najis. Kita orang berdosa namun Tuhan memiliki rencana untuk menguduskan kita sebab kita amat berharga di hadirat-Nya. Dia menguduskan dan mengutus kita juga untuk mewartakan Sabda-Nya. Banyak kali kita merasa minder, tidak layak di hadirat Tuhan sebab kita orang berdosa. Perasaan seperti ini memang harus kita miliki supaya kita juga dapat sadar diri dan bertobat. Tanpa ada perasaan sebagai orang berdosa maka kita pun akan tetap menikmati dosa yang sama. Dengan demikian, kita juga tidak layak untuk menjadi utusan. Kita tetap tinggal sebagai pribadi berbibir najis. Kita berbibir najis ketika kita salah menggunakan lidah kita. Dalam bertutur kata kita sering berbicara lebih dahulu baru berpikir. St. Yakobus mengatakan: “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (Yak 3:6). 

Dalam bacaan Injil Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk menghargai nilai kehidupan manusia. Ia mengungkapkan dalam perumpamaan: “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.” (Mat 10:24-25). Lihatlah dalam kehidupan kita setiap hari. Betapa banyak orang menilai dari isi dompetnya, dari profesinya dan lupa harkat dan martabat manusia. Cukuplah seorang murid sama dengan gurunya, seorang hamba sama dengan tuannya ‘sebab yang lebih itu berasal dari si jahat’ (Mat 5:37). Yang lebih adalah pembohongan publik, keserakahan, menganggap rendah dan kesombongan lainnya.

Nilai kehidupan manusia itu menjadi kekuatan dalam mewartakan sabda. Kalau saja orang merasa diri dihargai maka ia dapat mengaktualisasikan dirinya dalam mewartakan Sabda. Dia akan berani, percaya diri dan mewartakan Sabda secara terang-terangan. Kalau tidak ada penghargaan terhadap diri manusia maka dengan sendirinya orang itu tidak akan berani untuk melayani. Yang ada hanyalah rasa minder dan malu untuk bersaksi tentang Tuhan dan Sabda-Nya. Tuhan Yesus sendiri berkata: “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” (Mat 10:27). Keberanian untuk mewartakan Sabda membawa kita kepada kemampuan untuk bersaksi tentang Tuhan yang satu dan sama. Berkaitan dengan ini Yesus berkata: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 10:32-33). 

Pada hari ini kita patut bersyukur karena kita berharga di mata Tuhan dan hendaknya kita berharga juga di mata sesama. Salin menghargai sebagai sesama manusia itu perlu dan harus. Tuhan mengatakan: “Karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Mat 10:31), tetapi kita menganggap sesama setingkat dengan isi kandang. Pikirkanlah sepanjang hari ini, ada di antara kita yang sudah mengatakan kepada sesamanya: ‘monyet, bangsat, burung, anjing, kuda…” Padahal Tuhan mengatakan bahwa kita itu lebih berharga dari burung pipit. Mintalah maaf kepada orang yang disakiti hari ini karena disamakan dengan hewan. St. Benediktus, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB

Friday, July 10, 2020

Food For Thought: Tidak pernah sendiri

Tak pernah sendiri

Tuhan Yesus pernah berkata: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” (Yoh 14:18). Apakah kita pernah merasa bersyukur kepada Tuhan yang menyatakan diri-Nya sebagai Imanuel artinya Allah beserta kita? Atau mungkin kita tidak sempat menyadari penyertaan Tuhan? Biasanya orang kalau tidak mengalami persoalan dalam hidupnya, ia seolah-olah tidak memerlukan penyertaan Tuhan. Namun kalau ia memiliki masalah dan persoalan hidup maka siang dan malam ia akan coba mendekatkan diri kepada Tuhan, berdevosi dan menginjak halaman gereja. Kita memang sering tidak menyertai Tuhan tetapi Tuhan selalu menyertai kita. Dia tidak pernah membiarkan kita sendirian seperti anak yatim piatu, Dia tetap ada bersama kita.

Saya membayangkan suasana ketika Tuhan Yesus mengatakan kepada para pilihan-Nya: “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah serigala”. Pikirkanlah domba yang diterkam kawanan serigala buas ketika kita menonton di televisi ‘National Geography”. Mengerikan dan menakutkan. Ini baru domba belum manusia. Dalam sejarah gereja, perkataan Yesus ini terbukti ketika para martir dijadikan santapan serigala buas. Para martir bahkan menjadi tontonan orang-orang tak bernurani saat itu. Mereka tertawa di atas penderitaan orang. Persis sama dengan orang-orang masa kini yang suka tertawa di atas penderitaan orang lain atau yang berprinsip EGP alias Emang Gue Pikirin. 

Kita tidak pernah sendirian. Dalam situasi yang baik kita punya banyak teman, tetapi dalam situasi yang sulit kita hanya punya satu sahabat. Sahabat nomor satu adalah Tuhan yang tidak membiarkan kita sendirian, dan sahabat yang berempati dengan kita. Benar perkataan ini: “Satu sahabat yang memahami air matamu lebih berharga dari ribuan teman yang hanya memahami senyummu.” Ini memang selalu terjadi dalam hidup kita. Tetapi Tuhan ternyata sahabat sejati. Ia berkata: “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” (Mat 10:19-20).

Tuhan Yesus memberkatimu. Ingat, anda tidak sendirian. Masih ada Tuhan di sampingmu.

P. John Laba, SDB

Homili 10 Juli 2020

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XIV
Hos. 14:2-10
Mzm. 51:3-4,8-9,12-13,14,17
Mat. 10:16-23

Memandang Wajah Kerahiman Allah

Paus Fransiskus menulis dalam Misericordiae Vultus perkataan yang sangat menginspirasi berikut ini: “Kerahiman adalah fondasi Gereja sendiri. Segala kegiatan pastoralnya harus terungkap dalam kelembutan yang dinyatakan pada umat beriman. Tak satu pun khotbah-khotbah dan kesaksian Gereja kepada dunia tanpa belas kasih. Kredibilitas Gereja itu sendiri terlihat dalam bagaimana ia menunjukkan cinta yang penuh belas kasih dan bela rasa. Gereja tak pernah kehabisan semangat untuk menunjukkan kemurahan hati.”(MV, 10). Saya mengatakan bahwa perkataan Paus Fransikus ini sangat menginspirasi karena kita semua diingatkan bahwa Allah yang kita imani itu Maharahim. Dia adalah seorang Allah Bapa yang Mahabaik, berhati ibu yang penuh kasih. Kerahiman Allah menjadi fondasi gereja kita karena gereja juga memiliki andil besar untuk menunjukkan Wajah Allah yang Maharahim kepada semua orang. Ada kasih yang penuh belas kasih dan empati. Ini menjadi semacam kampanye dari Paus Fransiskus bagi Gereja masa kini supaya benar-benar menunjukkan wajah kerahiman Allah bagi dunia.

Pengalaman akan Allah ditandai dengan pertobatan yang terus menerus. Pertobatan sendiri lalu menjadi kesempatan untuk mengalami kerahiman Allah. Sebelum menjadi seorang imam, saya berpikir bahwa orang mengaku dosa itu hanya menuruti sebuah kebiasaan di mana kita memeriksa batin, mengaku dosa, memperoleh penitensi yang berguna dan selesai. Namun setelah menjadi imam, pikiran saya semakin luas dan berkembang. Saat mengaku dosa saya merasa yakin bahwa Tuhan mengampuni dosa-dosaku dan mengasihi aku apa adanya. Tuhan itu baik, maharahim dan besar kasih setia-Nya bagi manusia yang berharap kepada-Nya. Dan saya tetap merasa yakin bahwa Tuhan tetap menunjukkan kerahiman-Nya bagi manusia.

Pada hari ini kita mendengar nabi Hosea dalam bacaan pertama mengingatkan orang-orang Samaria untuk melakukan pertobatan secara radikal sebab Allah itu senantiasa besar kasih setia-Nya. Allah itu Maharahim kepada orang-orang berdosa. Tuhan berkata: “Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami.” (Hos 14:2). Kerahiman Allah itu menjadi nyata ketika kita mengakui dosa dan salah kita. Ada rasa penyesalan mendalam karena semua dosa dan salah yang sudah dilakukan dan keterbukaan hati untuk bertobat. Keterbukaan hati itu ditandai dengan sikap memohon ampun atas dosa dan salah kita.

Tuhan sendiri menujukkan kasih dan kebaikan-Nya  dengan mengampuni dosa dan salah. Inilah janji Tuhan bagi manusia: “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka.” Tuhan mengampuni dan memulihkan kita dari segala dosa dan salah kita. Murkanya yang bernyala-nyala menjadi surut karena kasih dan kerahiman-Nya. Itulah Tuhan kita, Allah pengasih dan penyayang. Ia mengasihi kita semua sampai tuntas. Bukti kasih-Nya nyata dalam perkataan ini: “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka.” Tuhan juga menyebut diri-Nya sebagai embun bagi Israel, bunga bakung dan menjulurkan akar seperti pohon hawar, pohon zaitun dan memberikan aroma keharuman. 

Gambaran alamiah tentang kerahiman Allah terlukis dalam analogi-analogi alamiah seperti disebutkan di atas. Dalam pandangan manusia, orang berdosa itu patut dihukum, dalam pandangan Tuhan, orang berdosa patut dikasihi. Orang berdosa yang dikasihi Tuhan akan menunjukkan pertobatan yang radikal. Pertobatan menjadi kesempatan untuk kembali mengalami kasih Allah dalam hidup setiap hari. Pertobatan menjadi momen yang tepat untuk mengalami kerahiman Allah dan siap mewartakan kerahiman atau menjadi saksi kerahiman.

Tuhan Yesus dalam Injil hari ini meminta para murid untuk menjadi saksi kerahiman Allah dengan menyerukan pertobatan dalam pewartaannya. Untuk menjadi pewarta kerahiman Allah tidaklah muda. Ia sendiri berkata: "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16). Tentu saja para murid yang mendengar perkataan Yesus ini secara langsung merasa ketakutan dan kecemasan yang kuar biasa. Hanya orang yang sungguh beriman dapat menyatakan kesanggupannya untuk dikirim ke tengah serigala. Setiap murid harus beradaptasi seperti ular dan merpati. Berkaitan dengan hal ini, Tuhan Yesus pernah berkata: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:11-12). 

Para utusan Tuhan untuk mewartakan kasih dan kerahiman Allah selalu siap untuk menderita karena buah dari penderitaan adalah kebahagiaan abadi. Hal ini dirasakan oleh semua murid Yesus yang akhir hidupnya adalah menumpahkan darah sebagai martir. Benarlah perkataan Tertulianus: “Il sangue dei martiri e’ seme dei Cristiani” (darah para martir adalah benih bagi iman kristiani). Hal yang menarik perhatian kita adalah penyertaan Tuhan. Di saat-saat yang sulit, Tuhan menunjukkan penyertaan-Nya kepada manusia. Yesus berkata: “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” (Mat 10:19-20).

Hal yang penting dalam mewartakan kasih dan kerahiman Allah adalah kesetiaan. Para murid bertahan sampai kesudahan sehingga mereka selamat. Kita pun siap mewartakan kerahiman Allah, apapun situasinya. Dan Yesus dengan tegas berkata: “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 10: 22). Bersama Yesus kita tidak perlu takut karena kita ‘lebih dari pemenang’. 

Pada hari ini kita bersukur kepada Tuhan sebab Dia mengingatkan kita supaya melakukan pertobatan yang radikal dan mengalami kerahiman-Nya. Apapun hidup kita, Tuhan akan menguatkan dan menyempurnakan kita. Bersama St. Paulus kita berprinsip: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp 1:21). Kita setia memandang wajah Kerahiman Allah yang menguatkan kita.

PJ-SDB