Wednesday, November 16, 2011

Renungan 16 Nopember 2011

Bacaan I: 2 Mak 7:1.20-31
Mazmur:  17:1.5-6.8b.15
Injil: Luk 19:11-28



Menjadi hamba yang setia

Penginjil Lukas seakan mengajak kita berjalan bersama Yesus dari Jeriko menuju ke Yerusalem. Ketika Yesus sudah mendekati kota Yersalem, banyak orang menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera nampak. Tuhan Yesus lalu memberikan sebuah perumpamaan tentang seorang bangsawan yang melakukan perjalanan untuk dinobatkan sebagai Raja.

Dikisahkan bahwa bangsawan yang hendak dinobatkan sebagai raja memberikan 10 mina kepada 10 orang yang berbeda. Satu mina nilainya 60 duit (satu duit beratnya 11,5 gram). Ketika kembali bangsawan itu meminta pertanggungjawaban para hambanya. Hanya ada tiga hamba yang dihadirkan dimana dua yang pertama menunjukkan komitmennya. Hamba pertama dengan satu mina menghasilkan sepuluh mina. Hamba kedua dengan satu mina menghasilkan lima mina. Kepada kedua hamba yang setia ini, bangsawan menjadikan mereka mitranya untuk menguasai 10 kota untuk hamba pertama dan 5 kota untuk hamba yang kedua. Sedangkan hamba ketiga hanya menyembunyikan uang tersebut dalam saputangan, mengembalikannya sambil membenarkan diri dengan menganggap bangsawan itu sebagai orang kejam. Hamba ini dihukum karena kemalasannya dan perkataannya yang tidak sopan terhadap bangsawan pemilik modal tersebut. Dengan perkataannya itu ia juga diadili.

Perumpamaan Yesus ini mirip dengan fakta historis yang terjadi saat itu: Arkhelaus melakukan perjalanan ke Roma untuk dinobatkan sebagai raja oleh Kaisar Agustus. Arkhelaus akan menggantikan Herodes Agung yang meninggal dunia. Menurut sejarahwan Giuseppe Flavio, pada saat yang sama ada 50 orang Yahudi juga berangkat ke Roma secara terpisah untuk memohon kepada kaisar supaya menghapus dinasti Herodes di Palestina. Ini  berarti Arkhelaus tidak diberi gelar sebagai raja oleh Kaisar. Dan ketika Arkhelaus kembali ke Yerusalem, tejadilah murka yang besar bagi orang Yahudi.

Sikap bathin yang perlu dibangun: Pertama, menanti kedatangan Tuhan dengan kerajinan bukan kemalasan. Rajin dalam memajukan komitmen pribadi untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah. Tuhan akan menanyakan seberapa besar tanggung jawab kita dalam bekerja sama denganNya untuk mengembangkan Kerajaan Allah di bumi ini. Apakah karya-karya kita membuat banyak orang memperoleh keselamatan? Keteguhan dalam iman. Kedua, Menjadi murid Kristus membutuhkan pengorbanan diri seperti kemartiran ibu dan anak-anak dalam Kitab Kedua Makabe. Mereka setia mempertahankan iman mereka yang murni kepada Jahve. Prinsip mereka: lebih baik mati dari pada berbuat dosa. Apakah kita juga memiliki kesetiaan iman seperti mereka? Atau gampang sekali murtad karena kita minoritas di antara mayoritas, tidak puas dengan Gereja katolik karena dinilai kolot dan kaku?

Doa: Tuhan selamatkanlah aku.

PJSDB

Tuesday, November 15, 2011

Renungan 15 Nopember 2011


Bacaan I: 2Mak 6:18-31
Mazmur 3:2-7
Bacaan Injil: Luk 19:1-10
Deî me meînai

Kisah tentang Zakheus sebagai kepala pemungut cukai yang bertobat merupakan kisah unik di dalam Injil Lukas. Zakheus tidak dapat melihat Yesus karena pendek badanya dan dihambat oleh banyak orang yang secara fisik lebih tinggi darinya. Namun dia menunjukkan usahanya untuk melihat Yesus. Ia memanjat pohon ara tanpa minder dengan kekurangan fisiknya dan melupakan status sosialnya dalam masyarakat sebagai kepala pemungut cukai. Satu hal yang menarik di sini adalah meskipun dia berpikir akan lebih dahulu melihat Yesus tetapi ternyata Yesuslah yang melihatnya terlebih dahulu. Yesus pun tanpa segan meminta Zakheus untuk turun dari pohon dan Yesus sendiri berkata, “Aku ingin tinggal di rumahmu” (deî me meînai). Pertemuan dengan Yesus di dalam rumah sungguh-sungguh mengubah Zakheus.


Mengapa Zakheus mau memanjat pohon meskipun fisiknya tidak memungkinkan? Mungkin pertama-tama dia sekedar ingin tahu siapakah Yesus itu. Tetapi alasan kedua yang kiranya lebih tepat adalah Zakheus ingin bertobat. Maka dengan alasan kedua ini dapatlah dikatakan bahwa sebelum Zakheus mencari jalan untuk melihat Yesus, Tuhan Allah telah memberikan kepadanya anugerah keselamatan. Tindakannya memanjat pohon ara menandakan sikap yang terbuka untuk menerima anugerah Allah itu sendiri. Tuhan Yesus yang bangkit datang sebagai pribadi ke rumah orang berdosa, masuk dan tinggal di dalam diri pribadi orang tersebut. Zakheus menerima anugerah keselamatan dalam kunjungan ini, ia bertobat dari sikapnya yang tidak adil dan berjanji untuk berbagi dengan kaum papa dan para korban yang pernah drugikan.


Misteri pertobatan dan pengampunan terungkap di sini. Hidup baru pun dicurahkan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan pada kaum miskin. Dan apabila ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan ku kembalikan empat kali lipat.” Jadi semangat pertobatan mengimplikasikan suatu tindakan yang konkret yang diwujudkan dengan membangun rasa solidaritas dengan kaum miskin dan para korban yang dirugikan. Sikap terbuka dari Zakheus membuat Yesus juga menegaskan bahwa, “Hari ini terjadilah keselamatan atas rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”


Hal yang penting bagi penginjil Lukas di sini adalah bahwa Allah membutuhkan orang berdosa. Orang-orang yang merasa dirinya orang benar tidak akan memerlukan Allah di dalam hidupnya. Hanya orang berdosa yang membutuhkan keselamatan. Siapa yang merasa diri tidak tersesat tidak membutuhkan Tuhan yang mencari dan menemukannya.


Dengan mengidentifikasikan Zakheus sebagai orang kaya, Lukas juga menekankan satu aspek yang lain yakni pentingnya bersikap lepas bebas terhadap harta kekayaan. Di mata Lukas, kekayaan itu sifatnya sementara maka setiap orang perlu berbagi dengan sesama yang paling membutuhan. Baginya, kekayaan tidak menjamin hidup kekal. Betapa sulitnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Surga (Luk 18:24-27).


Dalam Kitab kedua Makabe kita juga mengambil pengalaman Eleazar yang sudah lanjut usia tetapi tetap teguh dalam imannya. Ia bahkan memilih lebih baik mati dari pada berbuat dosa. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang muda yang mungkin memilih lebih baik berbuat dosa dari pada mati. Ia membela dan mempertahankan iman kepada Jahve dengan hidupnya.


Sabda Tuhan hari ini menyapa kita untuk bertobat dan bertahan dalam iman. Zakheus adalah tokoh yang mencari Yesus dan menyatakan dirinya siap untuk bertobat. Banyak kali sikap Zakheus juga masuk dalam diri kita yang suka memeras orang lain bukan hanya soal materi tetapi juga waktu kehidupan mereka. Banyak kali kita masih merasa gengsi dengan status sosial dan lupa bahwa diri kita juga orang berdosa dan memerlukan pertobatan. Banyak kali kita tidak berani mengakui dosa kita di depan umum dalam arti berani meminta maaf apabila kita telah berdosa melawan Tuhan dan sesama. Zakheus membuka pintu rumahnya dan juga pintu hatinya sehingga dia berubah. Dia membuka pintu rumahnya untuk Tuhan dan orang-orang miskin. Dia menjadi baru!


Belajar juga dari Eleazar yang meskipun sudah lanjut usia tetap mempertahankan imannya kepada Jahve. Apakah pada saat kita dianiaya, saat kita mengalami diskriminasi, kita juga seperti Eliazar atau justru kita dengan mudah menjadi murtad demi uang dan status sosial?


Doa: Tuhan semoga saya dapat membuka hatiku untukMu.


PJSDB

Monday, November 14, 2011

Renungan 14 Nopember 2011

Bacaan:
1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64
Mzm 119: 53.61.134.150.155.158
Luk 18: 35-41


“Semoga aku bisa melihat”



Pebasket Michael Jordan pernah berkata: “Segala tantangan yang dialami, tidak seharusnya dapat menghentikan langkahmu. Jika anda menghadapi tembok, janganlah hanya berputar-putar lalu menyerah, tetapi perhitungkanlah bagaimana dapat memanjatnya.”

Penginjil Lukas berkisah hari ini. Yesus dalam Perjalanan ke Yerusalem, melewati kota Yerikho. Seorang buta anonim duduk di pinggir jalan, mengemis. Kemungkinan ia pernah mendengar Yesus dan ingin melihatNya. Dia mengungkapkan keinginanNya dengan berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Keinginan ini disampaikan dengan “berteriak” tanpa henti sehingga Yesus pun mendengarnya. Sementara banyak orang menghalangi dia karena mereka merasa terganggu. Yesus bertanya, “Apa yang kau inginkan Kuperbuat bagimu?” Dengan polos ia memohon: “Tuhan, semoga aku melihat!” Dan Yesus berkata, “Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau”. Dia pun melihat Yesus, memuliakan Allah dan mengikutiNya. Pengaruh: banyak orang pun ikut memuji Allah karena “melihat” orang yang buta dapat “melihat”.

Lukas menggunakan kisah ini untuk membandingkan iman orang buta miskin ini dengan kurang pahamnya para rasul akan diri Yesus sehingga mereka belum percaya. Kisah orang buta ini juga menjadi contoh jawaban manusia terhadap anugerah keselamatan yang diberikan Allah kepadanya. Orang buta ini menjadi model bagi banyak orang untuk mendekatkan diri pada Yesus sumber terang dan keselamatan. Dia jugamenjadi simbol  pertobatan yang radikal di dalam ziarah hidupnya di dunia ini.

Ada beberapa tahapan perkembangan iman orang buta ini dan dapat menjadi model bagi kita semua: Pertama, Orang buta ini mendengar nama Yesus dari Nazaret yang sedang lewat di depannya. Dia dengan segera berteriak, “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku”. Seruan Anak Daud sebetulnya sebuah harapan bahwa Yesus dapat menjadi Mesias, Dia yang diurapi atau ditahbiskan. Dia jugalah yang akan menjadi pewaris Raja Daud untuk menata kembali Israel sebagai sebuah Kerajaan besar. Kedua, Orang buta ini menyapa Yesus, “Tuhan” merupakan pengakuan akan Yesus yang bangkit. Orang buta ini memiliki iman dalam hal ini keinginannya memiliki mata untuk melihat Yesus. Jawaban atas imannya ini adalah ia dapat melihat dan ia diselamatkan. Melihat dengan mata artinya mencintai,membiarkan orang itu masuk dalam hidup dn terlibat dalam kehidupan kita. Itulah yang mau dirasakan si buta ketika berjumpa dengan Yesus.

Ketiga, Jawaban dari anugerah keselamatan adalah memuliakan Allah. Orang buta ini menunjukkan pertobatannya dengan memuliakan Allah. Allah melakukan pendekatan pertama dengan menganugerahkan keselamatan dan umatNya menjawabi anugerah keselamatan itu dengan memuliakanNya tanpa henti. Keempat, menjadi murid. Setelah merasakan anugerah keselamatan, orang buta ini memuji Allah dan menyatakan komitmennya sebagai murid yang mengikuti Yesus ke Yerusalem. Komitmen yang luar biasa karena pergi ke Yerusalem berarti siap menyerupai Yesus yang akan menderita, wafat dan bangkit. Kelima, pengaruhnya. Perjalanan iman si buta ini menjadi sempurna karena membawa banyak orang dapat melihat dengan iman dan menjadi murid yang mengikuti Yesus ke Yerusalem.

Beriman secara radikal membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Orang buta dalam injil ini tidak merasa takut ketika dihalangi oleh para murid untuk bertemu dengan Yesus. Keluarga Juda dalam Kitab Makabe juga menunjukkan perjuangan iman yang luar biasa untuk tetap percaya kepada Yahve. Orang lain boleh murtad, menyembah berhala tetapi keluarga ini tetap teguh menunjukkann imannya hanya kepada satu-satunya Jahve, Allah Israel.

Sabda Tuhan pada hari ini sangat meneguhkan kita semua. Kita harus berjuang untuk mempertahankan iman meskipun mendapat banyak halangan dari orang-orang di sekitar kita. Iman itu perlu diperjuangkan dan sekali kita memperolehnya, perlu dipertahankan selama-lamanya. Tugas kita membawa orang lain untuk mengimani Yesus.Jangan pernah menjadi penghalang atau batu sandungan bagi orang yang mau bertemu dan mengimani Yesus. Dengan bercermin pada orang buta ini, renungkanlah tahapan perkembangan imanmu dan apa yang anda temukan dalam hidup ini? Katakanlah dengan syukur dan pujian kepada Tuhan.
Doa kita: “Tuhan semoga saya dapat melihat terangMu”.
PJSDB

Sunday, November 13, 2011

Inspirasi Talenta

Teladan BeataTheresia dari Kalkuta:

Beata Teresa dari Kalkuta. Selagi masih hidup beliau pernah mengunjungi komunitasnya di Australia. Selama di sana ia memperhatikan seorang lelaki Aborigin tinggal menyendiri di sebuah rumah. Pakaiannya kotor, rumahnya juga sederhana. Bunda Teresa mendekati lelaki itu dan memohon supaya ia mencuci pakaian, membersihkan rumah dan membereskan tempat tidurnya. Tetapi lelaki itu tidak mau. Tetapi karena dibujuk akhirnya dia bersedia. Pada saat sedang membersihkan rumah, Bunda Teresa menemukan sebuah lampu yang bagus. Dia bertanya kepada lelaki itu, “Apakah pernah menyalahkan lampu itu” Lelaki itu menjawab, “Saya tidak pernah menyalahkannya karena selama ini tak seorang pun yang mengunjungi aku..” Setelah semuanya beres, Bunda Teresa berpesan kepada para susternya untuk tetap mengunjungi lelaki itu secara rutin dan lampunya dinyalakan. Setelah dua tahun, lelaki itu berpesan kepada Bunda Teresa melalui para suster, “Sampaikan terima kasihku padanya, karena dia telah menyalahkan lampu kehidupanku.”

Refleksi:

Talenta yang Tuhan berikan kepada kita hendaknya membuat kita mampu mewujudkannya dalam hukum kasih. Dengan demikian Tuhan akan menambahkan lagi rahmatNya yang baru kepada kita. Tugas kita adalah menerangi atau menyalahkan lampu kehidupan sesama. Biarlah mereka melihat terang...Tuhan sendiri.

Homili Hari Minggu XXXIII/A 13 Nopember 2011

Homili XXXIII/A, 13 Nopember 2011

Bacaan I: Amsal 31:10-13.19-20.30-31
Mzm 128: 1-2.3.4-5
Bacaan II: ITes 5:1-6
Injil: Matius 25: 14-30



Harus Punya Jiwa Dagang Untuk Tuhan


Ada seorang calon imam yang masuk dalam kategori late vocation. Dia setelah selesai kuliah di sebuah universitas terkemuka di Australia, lalu bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahan asing. Setelah sepuluh tahun bekerja sebagai konsultan pada sebuah perusahan asing ia memutuskan untuk masuk dalam sebuah biara. Pada mulanya ia begitu bahagia apalagi ketika sudah diterima dan memakai jubah kebesaran sebagai biarawan. Namanya juga sudah ada tambahan di depan ‘frater’ dan belakangnya ada nama kongregasi. Sungguh hari-hari dilewati dengan indah. Namun semakin lama bersama di dalam komunitas, dia merasa bahwa ternyata teman-temannya yang lebih muda, ada yang memiliki kemampuan dan bakat yang melebihi dirinya. Dia sendiri masih berbangga dengan pendidikan di luar negeri dan pengalaman sepuluh tahun sebagai konsultan dengan gaji yang besar.

Sangat manusiawi! Ia mengalami krisis dan berniat untuk mundur. Dia lalu bertemu dengan superior biara dan mengutarakan semua perasaannya. Superior bertanya kepadanya, “Apa yang bisa kamu sumbangkan untuk kebaikan komunitas?” Dia bingung dan mengatakan, “Sepertinya saya tidak bisa menyumbang apa-apa. Musik aku tak mampu, olah raga aku tak punya hobby. Bekerja di taman aku tak mampu.”Lalu superior yang sudah lama menjadi pembimbing terdiam tetapi mengetahui bakat tersembunyi dalam diri frater ini. Dia lalu diminta untuk membantu merencanakan outing komunitas ke sebuah sebuah villa di pegunungan. Dan luar biasa dalam waktu yang singkat dia menyiapkan budget, dan acara-acara yang baik untuk pembinaan para frater. Semuanya begitu jelas sampai membuat superiornya kaget dan merasa bahwa outing saat itu pasti akan sukses. Dan betul semua kegiatan selama outing itu sangat memuaskan baik para frater maupun para pembinanya.

Setiap orang dibekali oleh Tuhan dengan aneka bakat dan kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Dalam bacaan pertama, Kitab Amzal mengingatkan kita semua akan bakat-bakat dan kemampuan seorang isteri di depan suaminya. Istri yang cakap, yang memiliki talenta adalah pribadi yang menyenangkan hati suami. Dia tidak diukur dari cashing luarnya yakni cantik atau tidak cantik tetapi jati dirinya. Jati diri yang menandakan bahwa dia itu menggunakan bakat dan kemampuan untuk kebaikan, bekerja dengan ulet, mencintai Tuhan dan sesama dan takut akan Tuhan.

Sikap sebagai isteri yang ulet dalam bekerja sebanding apa yang Yesus umpamakan dalam Injil. Tuhan Yesus mengarahkan para muridNya untuk bekerja dengan tekun dalam menanti kedatangan Tuhan. Mengapa bekerja dengan tekun? Karena setiap pribadi akan dinilai berdasarkan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya. Tuhan memberi “Injil Kerajaan” sebagai modal. Apakah setiap orang bertanggungjawab dalam mengembangkan Injil Kerajaan dan membuat banyak orang memperoleh keselamatan?

Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tentang talenta yang diberikan kepada tiga orang sesuai kemampuannya. Talenta bukan soal bakat dan kemampuan tetapi ‘uang’sebagai modal yang harus dikembangkan. Orang pertama diberikan lima talenta dan menghasilkan laba lima talenta. Dia diterima dengan baik oleh Tuannya dan diberikan hadia kebahagiaan. Orang kedua menerima dua talenta dan menghasilkan laba dua talenta. Dia diterima dengan baik dan diberikan hadia kebahagiaan. Orang ketiga menerima satu talenta, Dia sembunyikan talenta itu dan mengembalikan kepada tuannya tanpa ada laba apa-apa. Bahkan ia masih mengatakan, “Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia yang kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan yang memungut di tempat di mana Tuan tidak menanam.” Dia juga dengan polos mengatakan, “Aku takut dan menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah.” Dia dikecam oleh Tuannya, talentanya diambil dan diberikan kepada orang lain yang dapat mengembangkannya. Dia sendiri dicampakan di tempat yang gelap, di mana ada ratap dan kertak gigi.

Tiga orang yang ditampilkan di dalam Injil cukup mewakili setiap pribadi kita. Orang pertama dan kedua mewakili pribadi yang memiliki kemampuan tekun dan ulet sehingga dapat berhasil dalam hidup. Mereka tidak hanya bahagia di dalam hidupnya tetapi membuat orang lain juga turut bahagia dan selamat. Mereka setia dan jujur di hadirat Tuan mereka. Orang ketiga itu orang yang pintar dan mengerti kehidupan sosial. Mengapa dia harus bekerja keras untuk memberikan hasilnya kepada boss yang tidak bekerja? Bukankah ini berlawanan dengan prinsip keadilan dan hak-hak hidup manusia? Maka dia memiliki alasan untuk tidak mengembangkan modal, meski ia tahu Tuannya kejam!

Perumpamaan ini juga sangat menarik perhatian kita karena dari orang ketiga di atas, banyak orang berpikir bahwa Tuhan Allah hanya tahu menuntut. Dia tidak berbuat apa-apa tetapi tuntutannya berat. Kerajaan Allah juga penuh dengan larangan: jangan ini dan jangan itu. Ini tentu membuat manusia hidup dalam dunia ketakutan.

Sebetulnya Kerajaan Surga itu bukan Kerajaan perintah dan larangan tetapi Kerajaan yang berisi orang yang memiliki jati diri untuk bertumbuh dan berkembang. Kerajaan yang berisi orang yang memiliki otak dagang: mengembangkan Injil Kerajaan Allah supaya keselamatan dapat berlipat ganda bukan menyembunyikan Injil Kerajaan Allah sehingga keselamatan tidak mencapai banyak orang. Tuhan datang untuk menyelamatkan semua orang dan kita adalah agen-agen yang bertugas meneruskan karya keselamatan supaya banyak orang merasakan keselamatan atau cinta kasih Tuhan. Keselamatan, iman itu mahal bahkan melebihi uang karena Yesus sendiri membayarnya dengan Tubuh dan DarahNya yang mulia.

Apa yang harus kita lakukan?

Supaya kita tidak ikut dibuang ke tempat yang paling gelap maka kita perlu siap sedia. Paulus dalam Bacaan kedua mengingatkan kita akan hari di mana setiap orang mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan. Bahwa Hari Tuhan itu seperti pencuri di waktu malam. Oleh karena itu sebagai anak-anak terang harus selalu siap sedia untuk menanti dengan setia. Bagaimanapun juga setiap pribadi terpanggil untuk mengembangkan Injil Kerajaan Allah sesuai kemampuannya dan nantinya dapat mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan pada hariNya.

Bacaan-bacaan hari ini sungguh menyiapkan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Kita harus memiliki jiwa dagang dalam mengembangakan Injil Kerajaan Allah. Sikap siap sedia dituntut oleh Tuhan dalam bentuk ketekunan untuk mengembangkan Injil Kerajaan Allah supaya banyak orang memperoleh keselamatan. Tentu perlu kesetiaan dalam bekerja bukan ketakutan. Semoga Tuhan tetap mendampingi kita dengan SabdaNya yang kita dengar dan membawa kita kepada diriNya sendiri.
Doa: Tuhan, mampukan aku untuk melayaniMu dengan sepenuh hati. Amen
PJSDB

Saturday, November 12, 2011

Renungan 12 Nopember 2011


St. Yosafat,Martir.
Keb 18:14-16;19:6-9; Mzm 105: 2-3.36-37.42-43; Luk 18: 1-8



Jangan pernah berhenti berharap PadaNya



Tuhan Yesus menyiapkan para muridNya untuk menyambut parusia dengan sebuah perumpamaan tentang ketekunan dalam doa dan kemampuan untuk mendengar dengan baik.

Ketekunan. Yesus menegaskan kepada para muridNya untuk menanti kedatangan Tuhan dengan tekun berdoa dalam setiap waktu kehidupannya. Untuk lebih jelas maka Yesus mengambil contoh seorang janda sederhana yang selalu datang kepada hakim untuk membelah haknya. Hakim yang mengakui diri tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun pada akhirnya membenarkan perkara janda tersebut. Untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan maka perlu ketekunan dalam hidup. Apalagi dalam hal doa dimana kita berbicara dari hati ke hati dengan Tuhan. Jangan berhenti berdoa, pasrahkan, serahkanlah dirimu kepada Tuhan.

Kemampuan untuk mendengar. Yesus tidak hanya mendorong para murid untuk berdoa dengan tekun tetapi Ia juga mengajar mereka untuk memiliki kemampuan mendengar dengan baik. Kisah hakim yang ada dalam bacaan Injil ini, terlepas dari kelicikannya, dia menunjukkan satu hal yang baik yaitu mampu mendengar. Kalau saja manusia yang licik bisa mendengar, apalagi Allah Bapa yang baik. Ia akan membenarkan para pilihanNya yang siang dan malam meminta tolong kepadaNya. Ia akan menolong mereka. Mengapa? Karena Ia mendengar mereka. Menanti kedatangan Tuhan tidak hanya dengan berteriak minta tolong tetapi mampu mendengar dengan baik suara dan kehendak Tuhan di dalam hidupnya.

Tentang janda. Dalam bahasa Yahudi janda disebut ‘almana yang merujuk pada seorang perempuan yang pernah menikah, suaminya meninggal dunia dan perempuan ini tetap tidak menikah lagi. Dalam bahasa Yunani, janda disebut chera artinya orang yang hening (the silent one) atau “tidak mampu berbicara”. Tentu ini sesuai dengan budaya patriarkal di Timur Tengah saat itu, dimana kaum wanita tidak boleh berbicara atas nama dirinya sendiri. Yang punya kuasa adalah suami atau anak laki-lakinya yang sedang bertumbuh menjadi dewasa. Perempuan yang kehilangan dukungan laki-laki menjadi simbol kelemahan dan kesedihan. Tangisan (Ayub 27:15), berkabung (2Sam 14:2), kesedihan (Ratapan 1:1), melukiskan kehidupan seorang perempuan ketika kehilangan pasangannya. Kemiskinan (Rut 1:21), utang piutang (2 Raja 4:1) merupakan gambaran kehidupan ekonominya. Dengan situasi seperti ini, para janda lalu mendapat jaminan keamanan sosial. Dia diijinkan untuk menyiapkan ladang dan kebun anggur hingga musim panen tiba. Mereka juga menjadi ukuran orang-orang yang tidak berdaya dalam masyarakat saat itu (Mazmur 73:4, 12-14; Yer 22:16).

Janda dalam injil hari ini ternyata berbeda dengan gambaran umum di dalam Kitab Suci di atas. Sebetulnya seorang janda Yahudi yang tidak banyak bicara ternyata dia banyak bicara. Dia selalu datang kepada hakim dan menakutkan hakim. Hakim sendiri tentu kaget dengan janda tersebut karena secara sosial memang tidak seperti janda yang lain. Hakim itu sendiri tidak takut akan Allah dan menghormati orang. Tetapi nyatanya apabila tidak ada dukungan dari sesama, ia tentu tidak akan menjadi hakim yang disegani. Figur hakim dan janda sama-sama membantu kita untuk mengerti tentang doa dengan tekun  dan kemampuan untuk mendengar.  

Tentang doa. Para tokoh mistik dalam Gereja mengajarkan tahapan-tahapan doa. Pada tahap pertama, berdoa “kepada” Tuhan. Tuhan dirasakan masih jauh sehingga berdoa “kepada”. Dari tahap ini orang perlu beralih ke tahap berikutnya yaitu berdoa “bersama” Tuhan. Para murid Yesus memohon  “Tuhan ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1) dan Yesus berdoa bersama mereka. Dari doa bersama Tuhan orang beralih ke tahap yang lebih tinggi yaitu “doa adalah kasih.” Allah adalah kasih maka baik manusia yang berdoa dan Tuhan yang mendengar saling melebur dalam kasih.

Dengan SabdaNya, Allah juga mau menata kehidupan manusia untuk menjadi lebih istimewa. Dengan iman, manusia pasti merasakan keterlibatan Allah di dalam hidupnya. Maka jawaban manusia adalah doa sebagai saat bersyukur dan berterima kasih karena Tuhan selamanya baik dan sungguh baik.

Hari ini Sabda mengingatkan kita untuk tekun berdoa dan mampu mendengar Tuhan dan sesama kita. Apakah anda orang yang tekun? Apakah anda orang yang setia mendengar?Jangan pernah berhenti dalam berharap. Doa kita: Tuhan buatlah aku mampu mendengar suaraMu. PJSDB

Friday, November 11, 2011

Renungan 11 Nopember 2011


St. Martinus dari Tours

Keb 13:1-9; Mzm 19:2-5; Luk 17:26-30

Siap menanti kedatanganNya

Menunggu seseorang atau barang tertentu adalah hal yang melelahkan. Orang perlu persiapan yang matang, dan memiliki angan-angan yang baik untuk memuaskan tamu yang ditunggu. Situasi akan berubah kalau ternyata tamu yang ditunggu itu terlambat atau bahkan membatalkan kedatangannya. Semangat menunggu menjadi kendor, muncul rasa putus asa dan tidak siap dengan sungguh-sungguh untuk menerima tamu tersebut pada kesempata berikutnya.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang kedatangan Yesus yang kedua kalinya atau kedatangannya yang mulia untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Kedatangan Yesus ini terjadi pada saat orang sedang sibuk dengan urusan hidupnya masing-masing: makan, minum, kawin, membeli, menjual, menanam, membangun. Untuk menyadarkan para muridNya, Yesus lalu mengambil contoh Nuh dan Lot sebagai pribadi-pribadi yang “siap menanti” dalam Perjanjian Lama. Orang-orang lain di luar Nuh dan Lot sibuk dengan urusan mereka sendiri, menikmati dosa-dosa. Mereka hancur bersama air bah pada zaman Nuh atau tewas bersamaan dengan hancurnya kota Sodom dan Gomora pada zaman Lot.

Dalam Kitab Kejadian, Kisah Nuh selalu dikaitkan dengan kisah air bah. Lamekh memperanakan Nuh  dan Nuh memperanakan Shem, Ham dan Yafet (Kej 5:32). Dan ketika manusia bertambah banyak dan semakin berdosa maka Tuhan berfirman untuk menghapus manusia dan ciptaan-ciptaan lainnya di atas dunia (Kej 6:7). Nuh sendiri adalah orang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Ia juga bergaul dengan Allah (Kej 6:9-10). Maka Allah berkehendak untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air bah. Ia lalu membuat bahtera sebagai tempat berlindung.

Nuh dalam Kitab Kejadian ini mirip dengan Yesus dalam Perjanjian Baru. Sama seperti Nuh yang menjadi penghubung dunia lama yang hancur karena dosa dan diperbaharui dengan air bah, demikian Yesus membaharui manusia lama akibat dosa dengan darahNya yang mulia dan air pembabtisan menjadi sakramen keselamatan bagi Gereja saat ini. Nuh berarti penghiburan atau peristirahatan (Kej 5:29). Yesus juga menjadi penghibur bagi mereka yang letih lesuh dan berbeban berat (Mat 11:28). Padanya Bapa surgawi membuat Perjanjian Baru, suatu generasi manusia baru. Nuh juga menjadi model orang percaya di antara orang-orang yang tidak percaya (Ibr 11:7).      

Sebagai pengikut Kristus, kita diharapkan untuk selalu siap kapan dan dimana saja kita berada. Apa yang harus kita lakukan? Pertama, Membangun sikap lepas bebas terhadap semua harta duniawi. Yesus berkata, “Di mana hartamu berada di situ hatimu juga berada.” Nah, Yesus menghendaki suatu komitmen pribadi di mana orang harus bijaksana terhadap semua yang dimiliki dan selalu mengucap syukur kepada Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu. Kadang orang hanya melihat ciptaan dan dipakai tanpa bersyukur kepada Tuhan yang menciptakannya. Kedua, metanoia atau sikap tobat yang radikal. Perlu diingat bahwa pada saat kedatangan Tuhan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki masa lalu kehidupan kita. Bagi mereka yang sudah memberi dirinya kepada Tuhan dan sesama, yang mampu mengasihi seperti Tuhan sendiri akan menyelamatkan dirinya. Pengadilan Tuhan pada saat itu laksana sebuah pedang yang memisahkan relasi-relasi menusiawi, perkawinan dan pekerjaan. Kapan dan di mana semuanya itu? Yesus dengan tegas mengatakan: “Dimana ada mayat, disitulah berkumpulah burung nazar.”

Hari ini kita semua juga disadarkan untuk mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan sang Pencipta segala sesuatu dan mengimaninya. Proses membenahi diri dari kesombongan pribadi karena memiliki banyak harta dan lupa bersyukur kepada Tuhan. Ciptaan di atas dunia ini menampilkan wajah sang Penciptanya. Kelemahan manusiawi justru pada sikap hanya berfokus pada ciptaan sehingga menjadikan ciptaan sebagai berhala sedangkan Penciptaanya dilupakan.

Sabda Tuhan menyapa kita hari ini supaya kita tidak boleh takut dengan gambaran apokaliptik (akhir zaman). Gambaran akhir zaman ini membuat kita seharusnya mawas diri dan aktif menyiapkan diri menanti kedatangan Tuhan, menanti kematian kita masing-masing. Apakah anda siap untuk mati saat ini dan bertemu dengan Tuhan? Kamu harus menjadi anak-anak terang! Doa kita: Langit menceritakan kemulianMu, ya Tuhan. PJSDB