Wednesday, March 21, 2012

Renungan 21 Maret 2012

Rabu Pekan Prapaskah IV/B
Yes 49:8-15 
Mzm 145:8-9.14.15.17-18
Yoh 5:17-30

Tuhan tidak pernah lupa!

Seorang anak muda merasa kesepian. Dia berasal dari Indonesia Timur dan baru pertama kali tinggal di Jakarta. Ia sudah berhasil mengikuti ujian saringan masuk universitas dan menunggu hari perkuliahan. Namun hampir setiap hari ia mengelamun memikirkan keluarga dan para sahabatnya di kampung. Baginya, mereka adalah segalanya. Ia menulis surat kepada ibunya dan mengatakan bahwa dirinya kesepian di tengah keramaian Jakarta. Ibunya menjawab suratnya, “Anakku, mengapa engkau kesepian? Meskipun jauh dan kami dapat melupakanmu tetapi Tuhan tidak melupakanmu.” Dia merasa kuat ketika ibunya mengatakan bahwa “Tuhan tidak melupakannya.”

Nabi Yesaya hari ini menguatkan kita semua dengan menggambarkan Allah sebagai Bapa yang baik. Dalam pengalaman sebagai manusia boleh dikatakan Allah sebagai Bapa yang baik dengan jiwa yang mirip dengan jiwa seorang ibu manusiawi kita. Relasi yang menunjukkan bahwa kita membutuhkanNya dan ketergantungan hidup kita padaNya. Relasi dengan Tuhan bukanlah relasi juridis tetapi relasi kasih sayang yang mencipta dan mencipta kembali. Tepat sekali ketika Ia berfirman kepada Sion: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia…”. (Yes 49: 8). Jiwa keibuan muncul ketika Ia berkata: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya sehingga Ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” ( Yes 49:15). Kasih Tuhan melampaui segalanya!

Allah yang digambarkan oleh Yeremia bukan hanya sebagai Bapa yang baik dengan jiwa yang meyerupai seorang ibu tetapi bagi Yeremia Allah juga murah hati, panjang sabar dan besar kasih setiaNya. Ia memperhatikan semua manusia laksana biji mataNya (Mzm 17:18). Pemazmur mempertegas sifat khas Tuhan ini: "Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya. Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya" (Mzm 145:8-9). 

Pengalaman kebapaan Allah juga dialami Yesus sendiri. Dia membuktikan bahwa diriNya sebagai Anak dan Allah Bapa adalah satu (Yoh 10:30). Semua pekerjaan yang dilakukan Bapa, pekerjaan yang sama juga dilakukan oleh Anak. Misalnya inilah kesaksian Yesus: “Sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya” (Yoh 5:21). Ini berarti Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus sungguh-sungguh membuat kita menjadi baru dan kita masuk dan membentuk sebuah relasi sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa kita. Yesus menjadi saudara dan sahabat kita.

Apakah kita sadar bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kita? Apakah kita percaya bahwa karena penyertaan Yesus Kristus maka kita memiliki relasi istimewa dengan Tuhan Allah dimana Dia menjadi Bapa dan kita menjadi anak-anakNya? Hari ini kita mendapat penghiburan yang mendalam. Sebuah berita sukacita. Meskipun sesama manusia boleh melupakan kita tetapi Tuhan tidak pernah melupakan kita. Dia tetaplah Bapa yang baik yang memberi hidup baru kepada kita sebagai anak-anakNya. Andaikan semua menyadarinya maka dunia kita menjadi baru. Semua orang merasa sebagai saudara!

Doa: Ingatlah kami ya Tuhan dalam kasih setiaMu.

PJSDB

Tuesday, March 20, 2012

Harga sebuah nostalgia


Harga sebuah nostalgia

Semalam saya chating fb-an dengan seorang mantan siswa SMPK St. Aloysius Weetebula, Sumba Barat Daya tahun 2004. Selama chating dia berpikir bahwa saya adalah teman kelasnya doeloe yang namanya juga John. Jadi dialognya yah menggunakan bahasa setingkat dia sebagai anak muda. Saya juga menduga bahwa dia belum tahu dengan siapa ia chating. Pertanyaan dia yang terakhir kepada saya adalah: “Apakah kamu udah kerja?” “Sudah dong, sudah lama” jawabku. “Kerja di mana?” dia bertanya. “Masa, Tanya saya kerja di mana. Kamu sendiri udah merasakan pekerjaan saya.” jawabku. “Mungkin dia penasaran dan dia mengecek identiasku. Kemudian dia menulis, “ Pater John, maaf. Dari tadi saya pikir teman saya yang namanya John. Maaf kan saya Pater! Saya tetap mengingat saat-saat kita belajar Fisika dan praktikumnya. Pater, Guruku yang baik!” Wah, aku tertawa dan menulis, “Tidak apa-apa. Setiap orang dapat membuat kekeliruan untuk menjadi dewasa.”

Sebuah pengalamanku yang sederhana. Saya lalu mengingat kembali suka dan duka mengajar mata pelajaran Fisika kepada mereka. Pagi dan sore mendampingi mereka dan menikmati Fisika sebagai mata pelajaran yang asyik. Pertemanan yang dibangun di atas dasar pelajaran Fisika ternyata mujarab. Beberapa di antara para siswa asuhanku yang akhirnya menjadi guru Fisika juga berkomentar bahwa menjadi pastor ternyata bukan hanya tahu membuat misa dan homily tetapi harus mengetahui juga ilmu-ilmu yang lain.

Memang relasi antar pribadi tidak hanya terletak pada berapa banyak hal yang diajarkan atau disampaikan, berapa banyak perbuatan yang dilakukan. Semuanya itu akan dilupakan.  Yang tetap mereka ingat adalah bagaimana membuat mereka merasa bertumbuh sebagai manusia. Saya teringat kata-kata Maya Angelou ini:

“I've learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”

Jangan berhenti berbuat baik. Jangan lelah berjuang untuk membuat setiap pribadi bertumbuh sebagai pribadi yang tahu bersyukur. Tugas kita adalah MPH alias “to Make People Happy!” Ternyata nostalgia itu berharga.

PJSDB

Renungan 20 Maret 2012

Selasa Pekan IVB Prapaskah
Yeh 47: 1-9.12
Mzm 46:2-3.5-6.8-9 
Yoh 5:1-6
Nilai Rohani Air

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Orang-orang yang berada di daerah yang curah hujannya rendah selalu mengalami kekurangan air bersih. Mereka harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh untuk mencari air. 


Air juga memiliki nilai rohani dalam pandangan agama-agama. Air merupakan lambang kemurnian (purity) dan kesuburan (fertility). Air merupakan sumber kehidupan karena mitos-mitos kuno menunjukkan bahwa kehidupan muncul pertama dari air. Dalam pandangan Taoisme, air merupakan salah satu aspek kebijaksanaan. Orang-orang Mesir kuno memahami air sebagai lambang metamorphosis karena air dapat berubah wujudnya. Orang Amerika utara marasa bahwa air merupakan lambang kehidupan. Agama-agama monotheis menggunakan air sebagai sarana untuk membersihkan dan menyucikan. Orang menggunakan air untuk membersihkan diri sebelum beribadah. Orang-orang Yahudi merenungkan air tidak hanya sebagai simbol kehidupan tetapi juga kehancuran. Pengalaman air bah pada zaman Nuh masih membayangi mereka. Orang kristiani  mengingat air sebagai lambang sakramen pembaptisan dan secara khusus umat katolik memahami air dan darah Kristus sebagai lambang sakramen-sakramen di dalam Gereja.

Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini berbicara tentang air sebagai anugerah Tuhan yang menghidupkan. Yehezkiel bernubuat tentang air yang muncul dari ambang pintu Bait suci. Pada mulanya air yang mengalir itu sedikit, lama kelamaan menjadi sebuah sungai yang dapat memberi kehidupan bagi ikan-ikan dan tumbuh-tumbuhan di pinggirnya. Pepohonan dan aneka tumbuhan itu selalu rindang sepanjang tahun. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Yehezkiel memahami air sebagai anugerah cuma-cuma dari Tuhan. Setiap rahmat yang diberikan Allah senantiasa mengalir seperti sungai yang memberi kehidupan baru. Artinya bahwa air itu berasal dari Tuhan dan kehendakNya bukan berasal dari hati manusia. Air dapat melambangkan Roh Kudus yang senantiasa mengalir dan menghidupkan manusia.

Penginjil Yohanes menangkap ide tentang manfaat air secara rohani yakni menyembuhkan dan menyelamatkan. Perhatikanlah proses penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap orang sakit di kolam Betezda. Pertama, ada keinginan untuk menjadi sembuh dari orang sakit atau orang berdosa menginginkan keselamatannya. Kedua, perlu Sabda Yesus: “Maukah engkau sembuh? Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”. Ini selalu dirasakan secara rohani dalam pelayanan-pelayanan sakramen. Ketiga, transformasi hidup artinya hiduplah dalam rahmat Tuhan: “Jangan berbuat dosa lagi”. Penginjil Yohanes lalu memahami air tidak semata-mata sebagai sarana untuk menyucikan dan dan menyembuhkan tetapi air juga merupakan lambang Roh Kudus (Yoh 7:39). Roh Allah yang senantiasa hadir dan menjadi daya hidup baru bagi manusia.

Air memberi hidup baru bagi manusia. Inilah inti pewartaan Nabi Yehezkiel dan penginjil Yohanes. Dengan air ada kebangkitan rohani dalam diri manusia. Air juga menjadi tanda penyertaan Allah yang tiada hentinya bagi umat manusia. Betapa agungnya manusia sehingga mendapat perlakuan yang istimewa dari Tuhan. Marilah kita menggunakan kesempatan di dalam masa prapaskah ini untuk mendengar Sabda dan merasakan persaudaraan sejati lewat perjamuan bersama.

Hidup kita menjadi semakin sempurna ketika kita terbuka terhadap semua anugerah yang Tuhan berikan. Ibarat tanah yang gersang menerima air hujan dari langit dan menumbuhkan aneka tumbuhan baru demikianlah jiwa yang terbuka pada Allah atau jiwa yang senantiasa haus akan Allah akan mendapat anugerah yang berlimpah dariNya tiada batasnya. Anugerah-anugerah itu hendaknya memiliki daya menumbuhkan dan mengembangkan hidup pribadi dan dan disalurkan kepada sesama yang lain. Kita lalu menjadi saluran berkat Tuhan. Tuhan pasti memampukan kita.


PJSDB

Monday, March 19, 2012

Bangga sebagai sahabat


Bangga sebagai sahabat


Joseph Kiibler. Ini nama sahabatku dari Amerika Serikat. Usianya saat ini 65 tahun. Saya mengenalnya pertama kali di Yerusalem pada tahun 1999. Ketika itu dia berziarah ke tanah suci dalam rangka tahun Yubileum. Pertemuan kami singkat saja di Kalvary di mana saat itu saya sedang berdoa Rosario. Dia mendekati saya dan meminta sebuah bantuan sederhana. Setelah mengetahui bahwa saya orang Indonesia dan sebagai calon imam dia semakin akrab. Dalam pikirannya Indonesia identik Negara Islam dan menjadi imam di Negara seperti Indonesia adalah sebuah mujizat yang besar. Di hari pentahbisanku, ia menulis sebuah pesan singkat: “Rev. Fr. John, Be a holy priest!” Pesannya singkat, jelas dan tepat. Hingga saat ini dia tetap menulis kepadaku dan menyatakan kebanggaannya kepadaku dan orang tua serta kakak dan adikku.

Dia mengirim sebuah puisi yang bagus karya Jennifer Wilson kepadaku. Saya share dalam blog ini untuk kita renungkan bersama:

Proud of you

Keep on trying, you can do it!
Just keep at it, push on through it!
I’m your biggest fan, you know!
You can do it, go, go, go!

You might feel like giving up,
You might feel like a tired pup,
But I am here to cheer you on,
Keep it up, you know you are strong!

I believe in you so much,
All your dreams and goals and such,
I have only spoken true,
Because, my friend, I’m proud of you!

Refleksi kita: 

Pernakah anda bangga dengan sahabat atau teman yang sukses dalam hidupnya? Atau yang terjadi adalah rasa cemburu, iri hati dan dendam. Seorang sahabat yang baik selalu hadir di dalam hidup kita bukan hanya saat senang saja tetapi dalam saat duka ia pun hadir. Bersahabat bukan karena dia ada apanya tetapi dia apa adanya.

PJSDB

Homili Pesta St. Yusuf, Suami Bunda Maria

2Sam 7:4-5a.12-14a.16 
Mzm 89:2-3.4-5.27.29 
Rm 4:13.16-18.22 
Mat 1:16.18-21.24a



Cermin ketulusan hati, kesetiaan dan kejujuran

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Yusuf, Suami Bunda Maria dan Bapa Pemelihara Yesus. Dia memperoleh hak istimewa untuk merawat Putra Allah sendiri, Yesus, serta BundaNya, Maria. Ia bekerja keras sebagail tukang kayu. Ia terkenal sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, lemah lembut serta bijaksana.

Kehidupan St. Yusuf hanya di ketahui dari Injil. Dia adalah keturunan Raja Daud dan hidup sederhana sebagai tukang kayu di desa Nazaret. Ketika tahu Maria telah mengandung sebelum berhubungan dengannya, Yusuf tidak mau mencemarkan nama baiknya di masyarakat. Diam-diam dia bermaksud menceraikan Maria. Dia sempat mencari jalan keluar yang baik, namun niatnya itu dibatalkannya, karena mendapat perintah Malaikat di dalam mimpinya. Berkali kali malaikat mengunjungi dia dalam mimpi dan Yusuf melaksanakan segala yang dipesankan padanya.

Sesudah Yesus lahir Malaikat Tuhan mengunjunginya lagi dalam mimpi dan memerintahkannya supaya menyingkir ke Mesir bersama Maria dan bayi Yesus karena Herodes berniat jahat untuk membunuh kanak-kanak Yesus dengan jalan menghabisi nyawa semua anak lelaki Betlehem di bawah usia 2 tahun. Yusuf diberitahu dan langsung membawa Yesus beserta IbuNya ke Mesir. Setelah kematian Herodes, Malaikat memerintahkan agar kembali ke Israel. Ia bertindak bijaksana dan hati-hati, sehingga tidak kembali ke Betlehem, melainkan ke Nazaret di Galilea.

Dalam kitab suci tercermin kesetiaan Yusuf sebagai suami dan Bapa pemelihara, ketika Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nazaret setelah merayakan Paskah di Yerusalem. Tiga hari penuh ia bersama Maria mencari Yesus. Ketika bertemu, ternyata Yesus belum meninggalkan Yerusalem dan sedang berdiskusi dengan para ahli Alkitab. Namun Yesus kemudian mengikuti mereka ke Nazaret dan patuh kepada orang tuaNya. Sesudah peristiwa itu, Injil tidak menyebut-nyebut lagi perihal Yusuf. Agaknya dia telah meninggal sebelum pesta perkawinan di Kana, yang merupakan awal kegiatan Yesus. Pastilah ia meninggal dengan bahagia, di dampingi Yesus dan Bunda Maria yang berdoa, membantu dan menghiburnya pada saat saat terakhir hidupnya.

Kisah di atas menggambarkan rencana Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Dia memilih pribadi-pribadi tertentu menjadi mitraNya untuk menyelamatkan manusia. Di samping para nabi yang bernubuat, dalam peristiwa inkarnasi, Tuhan juga memakai pribadi-pribadi seperti Bunda Maria sebagai Ibu Yesus dan St. Yusuf sebagai Bapa pemelihara Yesus. Itu sebabnya di dalam Injil disebutkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud karena Yusuf Bapa pemeliharaNya adalah keturunan Daud. Dalam Kitab kedua Samuel dikatakan bahwa Tuhan Allah sendiri akan membangkitkan keturunan Daud seorang Anak laki-laki yang akan mengokohkan Kerajaan. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi Allah dan yang akan diberi Takhta Daud BapaNya. Semua ini digenapi dalam diri Yesus sendiri. Janji Tuhan dipenuhi.

Santu Yusuf tetaplah menjadi inspirasi bagi semua keluarga kristiani di zaman modern ini. Kebajikan-kebajikan yang dia tunjukkan seperti ketulusan hati, kejujuran, kesetiaan, bekerja keras dalam keheningan tetaplah memiliki nilai positif dalam kehidupan setiap keluarga. Dunia tentu akan berubah, keluarga-keluarga tentu akan memiliki warna yang berbeda apabila kebajikan-kebajikan santu Yusuf ini diterima dan dihayati. Mungkin tidak ada lagi suara-suara yang mengatakan bahwa keluarga ini dan itu berada di ambang kehancuran. Keluarga justru menjadi sebuah sekolah persekutuan.

Doa kepada Santu Yusuf: Ya St Yusuf, yang pertolongannya begitu nyata, begitu kuat, begitu segera di hadapan tahta Allah, aku menempatkan ke dalam tangan-tanganmu yang kudus segala hasrat dan kerinduanku. Ya St Yusuf, tolonglah aku dengan perantaraanmu yang penuh daya kuasa dan perolehkanlah bagiku segala rahmat dan berkat rohani melalui Putra asuhmu, Yesus Kristus, Tuhan kami, sehingga dengan bertaut di dunia ini pada kuasa surgawimu, aku dapat menyampaikan segala puji syukur dan sembah sujudku kepada Allah. Ya St Yusuf, tak pernah bosan aku merenungkan engkau dengan Kanak-Kanak Yesus tertidur pulas dalam pelukanmu. Tak berani aku mendekat, sementara Ia beristirahat begitu lelap di dadamu. Dekaplah Ia untukku, kecuplah kepala-Nya yang kudus untukku, dan mohonkanlah kepada-Nya untuk membalas kecupanku kelak saat aku menghembuskan napas terakhirku. St Yusuf, pelindung jiwa-jiwa yang berpulang, doakanlah aku. Amin.

Selamat Pesta Santu Yusuf! Dialah cermin ketulusan hati, kesetiaan dan kejujuran dalam setiap keluarga.

PJSDB

Sunday, March 18, 2012

Homili Hari Minggu Prapaskah IV/B

Hari Minggu Prapaskah Sukacita


2Taw 36:14-16.19-23
Mzm 137:1-2.3.4-5.6
Ef 2:4-10 
Yoh 3:14-21

Kasih dan sukacita yang sempurna

Seorang sahabat pernah berkata kepadaku bahwa hidupnya adalah sebuah anugerah. Sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Beginilah kisah hidupnya. Dia adalah anak tunggal dalam keluarga. Ketika berusia 3 tahun, ia jatuh sakit. Setelah didiagnosa oleh dokter, ternyata ia memiliki kelainan ginjal. Ginjal sebelah kirinya harus segera diangkat. Tidak ada pilihan medis yang lain. Dokter meminta pendapat orang tuanya tentang jalan keluar terbaik yang dapat membantu anak mereka untuk tetap hidup. Ibunya berkata: “Demi anakku, aku bersedia memberikan ginjalku untuknya. Biarkan dia hidup lebih lama daripadaku” Ibunya menyumbang ginjalnya untuk anak tunggalnya. Anaknya hidup sampai sekarang, ibunya hidup sampai usia 75 tahun dan meninggal dunia. Pada saat penguburan sang ibu, anak itu berkata kepada semua hadirin: “Kasih itu tidak hanya diucapkan tetapi dialami. Mami membagi kasihnya sampai tuntas buatku. Terima kasih mami atas kasihmu bagiku”. Sebuah sharing yang sederhana tetapi sangat mendalam maknanya. Cinta kasih itu tidak hanya diucapkan tetapi dilakukan dalam hidup yang nyata.

Sabda Tuhan melalui bacaan-bacaan suci pada hari ini membantu kita untuk bersukacita dan merefleksikan cinta kasih Allah yang sempurna bagi manusia. Setelah Yesus membersihkan Bait Allah (Pekan Prapaskah III/B), kini Yesus mengajak kita untuk memandang Dia sebagai sebagai yang tersalib, sumber keselamatan. Pandangan kita terarah pada Dia di Salib karena dengan salib suciNya, Ia telah menguduskan dunia yang penuh kegelapan. Untuk menjelaskan makna salib, Ia mengambil contoh dalam dunia Perjanjian Lama. Ketika orang-orang Israel dalam perjalanan di padang gurun dan mengalami hukuman dari Tuhan dengan gigitan ular tedung, Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga (nekhasy harekhosyet) dan memasangkan pada sebuah tiang yang tinggi. Barang siapa yang digigit ular tetapi memandang kepada ular itu ia akan tetap hidup.

Di dalam dunia Perjanjian Baru, kita percaya bahwa ada kehidupan baru yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap orang yang memandang dan percaya kepada Putera Manusia yang ditinggikan di Salib. Kalau umat Israel memandang ular tembaga yang diangkat dari bawah ke tiang yang lebih tinggi dan tetap hidup maka misteri Salib jauh melebihi segalanya. Yesus ditinggikan berarti diangkat tinggi-tinggi dan dimuliakan. Pada salib, Dia dimuliakan  dan masuk dalam kemuliaanNya. Dia berasal dari atas. Dia adalah Putera Allah yang diutus untuk menyelamatkan dunia. Penginjil Yohanes bersaksi: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengutus PuteraNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dia adalah Terang yang menerangi dunia yang penuh dengan kegelapan. Terang yang tidak dikenal oleh para pendosa.

Penyataan kasih Allah sebenarnya dialami terlebih dahulu oleh Bangsa Israel. Mereka jatuh dalam dosa misalnya dengan menyembah berhala atau menajiskan Bait Allah. Berkali-kali Tuhan memperingatkan mereka melalui para nabi tetapi mereka juga tidak berubah. Itu sebabnya kota kediaman Yeursalem dan Bait Suci dihancurkan oleh orang-orang Kasdim dan penduduknya diangkut ke Babel. Pengalaman Babel merupakan pengalaman pahit bagi  mereka. Selama hampir 70 tahun berada di Babel, mereka kehilangan harapan, seakan Tuhan tidak memperhatikan mereka. Namun kerahiman Tuhan tetap menguasai mereka. Allah menunjukkan kasihNya dengan memenuhi janjiNya untuk membebaskan mereka. Koresh, Raja Persia dipakai Tuhan untuk membebaskan mereka dan mereka pun kembali ke Yerusalem. Allah sungguh mengasihi mereka. JanjiNya ditepati. Tetapi umatNya sendiri tetap mengkhianatiNya.

Peristiwa pembebasan Bangsa Israel dari Babel merupakan simbol yang dipakai untuk memahami pembebasan yang Tuhan kehendaki bagi setiap orang. Tuhan memiliki inisiatif untuk membebaskan manusia yang berdosa melalui wafat dan kebangkitan PuteraNya. Keselamatan bukanlah usaha manusia tetapi bagi Paulus keselamatan adalah pemberian Allah secara cuma-cuma dalam diri Yesus PuteraNya. Oleh karena itu setiap orang harus merendahkan dirinya di hadirat Tuhan. Paulus berkata, “Sesungguhnya kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.” (Ef 4:10).

Sabda Tuhan hari ini memberi rasa optimis kepada kita. Kita merupakan pribadi yang luhur di hadiratNya. Oleh karena itu Dia rela menyerahkan PuteraNya yang tunggal supaya kita yang percaya kepadaNya memiliki hidup kekal. Tentu saja kita harus bersyukur kepada Tuhan atas kasihNya yang sempurna ini.


Sejalan dengan masa prapaskah ini, Sabda Tuhan juga mengingatkan kita akan perjalanan rohani untuk merenungkan secara mendalam penderitaan Kristus. Sama seperti perjalanan kembali bangsa Israel dari  Babel ke Yerusalem, demikian pula dalam hidup keseharian, kita juga berjalan kembali kepada Tuhan lewat semangat pertobatan. Bangsa Israel bersukacita karena mereka kembali ke Yerusalem, kita juga bersukacita karena kembali kepada Tuhan. Kita diampuniNya dan merasakan kasih dan kerahimanNya yang sempurna. Kita juga dipanggil untuk mengalami terangNya karena pengalaman kegelapan berkepanjangan yang sering dialami setiap pribadi (berdosa).

Hari ini merupakan Hari Minggu sukacita. Kita bersukacita karena mengalami kasih dan pengampunan Tuhan. Hidup kita berubah dari kegelapan kepada terang. Dari hidup penuh dosa kepada pengampunan tanpa batas dari Tuhan. Dari hidup yang nyaris hancur kepada  keselamatan abadi. Dari Babel hidup keseharian kita kepada  hidup penuh damai sejahtera. 


Mengasihi berarti berkorban. Mampukah kita?Mari kita membenahi diri dan menyadari kasih dan kerahiman Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amen


PJSDB

Saturday, March 17, 2012

Renungan 17 Maret 2012

Sabtu Pekan III/B Prapaskah
Hos 6:1-6
Mzm 51:3-4, 18-21 
Luk 18:9-14

Jangan ada kesalehan palsu!


Seorang katekis datang kepada Romonya yang barusan bertugas di Paroki untuk curhat. Ia menceritakan segala sesuatu terutama pengalamannya selama mengajar agama dan jumlah baptisan baru di Paroki tersebut. Dia bangga dengan bertambahnya jumlah Umat Katolik di Parokinya. Setelah lama bercerita, Romo baru itu bertanya kepadanya, “Berapa orang yang masih setia sampai saat ini?” “Saya tidak tahu persis Mo” kata Katekis. “Kita akan berkatekese lagi setiap hari Minggu karena masih banyak umat belum memahami sakramen-sakramen. Rata-rata para bapa di sini beristeri tiga dan para ibu bersuami dua” Kata Romonya.

Menjadi orang Katolik bukan hanya berarti orang itu dibaptis, menyandang nama baptis dan menerima pelayanan-pelayanan gerejani lainnya. Hal lain yang penting dalam hidup kristiani adalah bagaimana orang menghayati hidup kristianinya secara benar. Bagaimana ia melakukan kebajikan-kebajikan kristiani kepada sesama lain. Bagaimana ia bertumbuh dalam rahmat Tuhan. Apakah orang yang dibaptis masih membutuhkan Tuhan? Seringkali orang hanya berbangga karena sudah dibaptis tetapi hidupnya jauh dari semangat Yesus Kristus.

Nabi Hosea hari ini tampil lagi dengan sebuah ajakan kepada umat Israel di Samaria untuk selalu berharap kepada Tuhan. Tuhan senantiasa menaruh perhatian dan kasih sayang kepada umat yang ingin mengalami kasihNya. Oleh karena itu mereka perlu berbalik kepadaNya. Tuhan menginginkan kasih setia bukan kurban bakaran. Dengan memperhatikan serta melakukan hukum-hukum serta ketetapan-ketetapan Tuhan maka mereka akan merasakan damai dan sukacita di dalam hati mereka. Maka yang penting di sini adalah keterbukaan hati kepada Tuhan untuk berubah dalam hidup dan menerima damai serta sukacitaNya. 

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus melanjutkan pengajaranNya tentang kasih kepada Allah dan sesama dengan mengambil contoh dua orang yang berbeda yakni orang Farisi dan pemungut cukai. Kaum Farisi adalah kelompok yang menyendiri dan berusaha untuk memahami dan melakukan semua hukum Tuhan di dalam Taurat. Karena mereka terpisah maka kecenderungan mereka adalah perasaan bahwa mereka orang yang sempurna. Ukuran kesempurnaan bagi mereka adalah mengetahui isi Hukum Taurat dan melakukan semua peraturan dan ketetapan seperti berpuasa dan melakukan perbuatan amal kasih. Pemungut cukai, dengan kerendahan hati berdoa memohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosa dan salah yang sudah diperbuatnya. Ia tidak berani mengangkat mukanya dan sambil menepuk dada ia berkata: "Tuhan kasihanilah aku orang berdosa". Orang berdosa yang mengenal dirinya dan rendah hati jauh lebih bermartabat di hadapan Tuhan dari pada orang yang mengklaim dirinya orang benar tetapi tidak mau berubah atau tidak membutuhkan Tuhan dalam hidupnya.


Gambaran orang Farisi dan pemungut cukai juga menyadarkan kita tentang kehidupan doa kita. Terkadang doa-doa yang dipanjatkan tidak lebih dari ungkapan kesombongan pribadi dan pembenaran diri di hadapan Tuhan bahwa kita orang yang tahu berdoa dan saleh. Sedangkan orang lain belum tahu berdoa. Ukuran kualitas doa bukan pada panjangnya kata-kata tetapi bagaimana kita menghayati doa itu sebagai saat bersatu dengan dengan Tuhan. Kesalehannya adalah kesalehan palsu. Pemungut cukai tidak hanya memberikan teladan kerendahan hati dan pertobatan tetapi juga doa yang menunjukkan dirinya yang nyata. Doa mohon pengampunan dan belas kasih. Bagi Yesus, pemungut cukai ini yang dibenarkan karena dia jujur kepada Tuhan. Kesalehannya adalah kesalehan seorang anak yang berdosa dan bertobat. 

Orang Farisi memang hebat karena mengetahui dan melaksanakan hukum-hukum Tuhan. tetapi kehebatannya menjadi tidak bernilai karena semua yang dilakukan adalah kesalehan palsu. Tidak ada perubahan hidup dari dalam. Hal yang dilakukan hanya untuk dipuji orang. Sangat manusiawi! Namanya semakin dikenal sedang nama Tuhan semakin dilupakan. Sifat kesombongan manusiawinya tetap melekat. Sebaliknya pemungut cukai adalah pribadi yang bertobat. Dia rendah hati dan sadar bahwa dirinya orang berdosa dan patut memohon pengampunan dari Tuhan. Suatu kesadaran sebagai anak Allah. Mereka-mereka inilah yang terakhir menjadi terdahulu karena metanoia.

Seringkali kita berpikir seperti orang Farisi bahwa kita adalah orang benar dan saleh karena mengenal dan melakukan hukum dan ketetapan-ketetapan dari Tuhan. Padahal semua itu supaya dilihat orang dan dipuji. Betapa manusiawinya hidup kita. Kesombongan dan sifat egois masih merajai hidup manusia. Sebaiknya mari kita rendah hati dan memohon pengampunan tanpa batas dari Tuhan. Semakin kita rendah hati, kita juga semakin layak dan mirip dengan Yesus yang meskipun Allah, rela merendahkan diriNya bahkan wafat di kayu salib (Flp 2:8). Apakah kita sadar dan mampu melakukannya dalam hidup ini?

PJSDB