Saturday, May 19, 2012

Renungan 19 Mei 2012

Hari Sabtu Pekan Paskah VI
Kis 18:23-28
Mzm 47: 2-3.8-9
Yoh 16:23b-28

Mintalah kepada Bapa dalam namaKU

Pada suatu kesempatan, saya dijemput salah satu umat di Paroki untuk memberikan Sakramen Perminyakan kepada seorang ibu yang sekarat. Setelah selesai ibadat, masuklah umat yang menjemput dan membisi pada telinga si sakit itu, “Sebutlah nama Yesus, sebut sekarang juga supaya engkau selamat. Mintalah kesembuhan dari Bapa dalam nama Yesus…” Berulang kali ia berkata, “Sebut nama Yesus..Yesus...Yesus dan perlahan-lahan hanya ada bunyi ssss”. Saya pun ikut masuk dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar. Si sakit perlahan berubah situasinya, dari wajah yang tegang dan gelisah menjadi wajah penuh kegembiraan dan seolah-olah pasrah pada Tuhan. Orang sakit itu bertahan hidup selama tiga bulan dan akhirnya meninggal dunia dengan tenang.

Menyebut nama Yesus sebagai nama yang menyelamatkan. Nama Jeshua atau Jehosua berarti Allah menyelamatkan. Dalam amanat perpisahan dengan para muridNya, Yesus berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Pada hari ini kamu akan berdoa dalam namaKu”. Yesus mengingatkan para muridNya bahwa penyertaanNya tidak berhenti pada penghibur yang dijanjikan tetapi diriNya juga tetap menjadi Jalan untuk bersatu dengan Bapa. Dialah satu-satunya pengantara kepada Bapa. Ini adalah tanda cinta kasih. Yesus berkata, “Bapa mengasihi kamu karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya”.

Nama Yesus yang menyelamatkan ini mendorong Apolos orang Alexandria ke Efesus untuk  mewartakan serta membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. Sikap positif dalam evangeliasi kita temukan dalam diri Paulus, Priskila, dan Akwila. Setelah mereka mendengar sendiri pengajaran Apolos maka mereka menerimanya, menjelaskan dengan teliti jalan Tuhan. Apolos hanya mengenal baptisan Yohanes dan pemahamannya perlu ditambah. Apolos menerima penjelasan tentang iman dan jalan Tuhan dan misi di Akaia pun dipercayakan kepadanya.

Sabda Tuhan mengundang kita untuk dua hal ini. Pertama, Yesus adalah satu-satunya pengantara kita kepada Bapa di Surga. Semua doa permohonan, syukur, pertobatan kepada Bapa di Surga selalu dalam nama Yesus sebagai Pengantara. Kita sudah akrab mengakhiri doa-doa kepada Bapa dengan berkata, “Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami”. Ketika mengalami pergumulan hidup dalam bentuk apa pun, berdoalah kepada Bapa dalam nama Yesus. Kedua, Sikap menerima orang lain apa adanya dapat menjadi mitra yang baik dalam bekerja bersama. Sikap keterbukaan Paulus, Priskila dan Akwila patut menjadi contoh dalam hidup menggereja. Tidak ada kata “persaingan” dalam evangelisasi, yang ada hanya persekutuan sebagai saudara untuk evangeliasi.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, Terima kasih kami haturkan kepadaMu karena Engkau adalah satu-satunya pengantara kami kepada Bapa di Surga. Bantulah kami untuk bersatu dalam mewartakan InjilMu kepada segenap makhluk. Amen

PJSDB 

Friday, May 18, 2012

Renungan 18 Mei 2012

Hari Jumat Pekan Paskah VI
Kis 18:9-18
Mzm 47: 2-3.4-5.6-7
Yoh 16:20-23

Jangan takut untuk mewartakan Firman!

Yesus telah naik ke Surga. Para murid mengingat kembali wejangan Yesus, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mt 28:19-20). Perintah Yesus ini dipegang teguh oleh para Rasul. Ketika menerima Roh Kudus pada hari raya Pentekosta, mereka semakin berani untuk mewartakan Injil.

Paulus juga melakukan perjalan missioner untuk mewartakan Injil. Kita mengingat pengalamanNya bersama Silas. Mereka mengalami penolakan bahkan dipenjarakan. Ketika berada di Athena, Paulus juga tidak diterima dengan baik terutama ketika ia menjelaskan tentang kebangkitan orang mati. Banyak orang memilih mundur daripada membuang waktu untuk mendengarnya.

Apakah pengalaman "ditolak" ini membuat Paulus mundur dari tugas pewartaan? Tidak! Paulus memiliki prinsip, “Celakalah Aku juga tidak mewartakan Injil” (1Kor 9;16). Ketika berada di Korintus, Paulus  mendapat suatu penglihatan, “Jangan takut! Teruslah memberitakan Firman dan janganlah diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini” (Kis 18:9-10). Penglihatan ini mendorong Paulus untuk tinggal di Korintus selama satu tahun enam bulan dan Ia mengajar Firman Allah bagi mereka. Paulus  pun tetap mendapat kesulitan dengan orang-orang Yahudi dalam hal ini Galio Gubernur di Akhaya.

Pengalaman penderitaan Paulus ini kiranya cocok dengan ucapan Yesus dalam wejangan sebelum berpisah dengan para muridNya. Yesus berkata, “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira, kamu akan berdukacita tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraan itu dari padamu” (Yoh 16: 20.22). Nada optimisme diberikan Yesus sebagai penyertaanNya di kala para rasulNya mengalami penderitaan. Siapa yang bertahan dalam derita bersama Yesus akan memiliki sukacita kekal.

Hari ini kita dikuatkan untuk memahami kembali seruan Yesus bagi kita, “Barangsiapa mau mengikuti Aku hendaknya Ia menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Aku” (Mt 16:24). Salib adalah segala pengalaman duka dan derita yang kita alami sehingga membuat orang lain merasa bahagia. Yesus menderita dengan salib supaya manusia memperoleh penebusan berlimpah. Paulus menderita supaya Injil Allah dapat disebarkan ke mana-mana dan banyak orang semakin mengenal Yesus. Banyak pengikut Kristus yang menjadi martir supaya Gereja dapat bertumbuh subur.

Menjadi pengikut Kristus berarti menjadi murid dalam sekolah penderitaanNya. Dalam sejarah Gereja, banyak orang menumpahkan darahNya karena mencintai Yesus. Kita pun mengalami dalam situasi social tindakan diskriminasi, larangan untuk beribadat, atau membangun tempat ibadat dan devosional. Secara manusiawi memang menimbulkan rasa kesal dan benci tetapi sebagai orang beriman kita harus tegar karena iman itu anugerah Allah. Iman itu sebuah panggilan istimewa yang tidak akan hilang! Tidak ada kuasa apa pun yang dapat melenyapkan iman. Yesus sendiri berkata, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya” (Mt 10:30). Maka tepat apa yang Tuhan katakan kepada Paulus, “Jangan takut!”

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menderita bagi kami. Semoga penderitaanMu menguatkan kami juga untuk membahagiakan saudara-saudari kami. Amen

PJSDB

Thursday, May 17, 2012

Homili HR Kenaikan Tuhan Yesus

Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus
Kis 1:1-11
Mzm 47:2-3.6-7.8-9
Ef 1:17-23
Mrk 16:15-20



“Dia terangkat ke Surga”


Hari ini kita merayakan Pesta kenaikan Tuhan Yesus Surga. Kita mengenang Tuhan Yesus naik ke Surga dengan kekuatanNya sendiri di hadapan para Rasul setelah Ia bangkit dengan mulia. Para Rasul adalah saksi mata kebangkitanNya. Mereka telah dipanggil dan dipilih oleh untuk menyertai Dia selama kehadiranNya di depan umum dalam menghadirkan Kerajaan Allah.

Setelah bangkit dari kematianNya, Yesus menggunakan empat puluh hari untuk menampakan diri, menginstruksikan dan memberanikan mereka bagi tugas perutusan yang akan dipercayakan kepada mereka satu persatu. Dengan kenaikanNya ke Surga berarti seluruh karya penebusan Bapa di dunia ini telah sempurna di dalam diri Yesus. Melalui peristiwa kebangkitan, penampakan diri dan kenaikanNya ke Surga, Yesus juga berhasil membuktikan diriNya bahwa Ia sungguh-sungguh Mesias yang benar. Dia juga mampu membuktikan bahwa kematian dapat diatasi dengan kebangkitan yang mulia. Konsekuensinya adalah bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup kekal dan menjadi ahliwaris Kerajaan Allah.

Lukas dalam bacaan pertama memberi kesaksian bahwa setelah kebangkitanNya, Yesus menyiapkan para muridNya untuk mewartakan Injil. Pesan pewartaan para murid akan didengar sampai ke ujung dunia dan berlangsung  hingga akhir zaman. Dua orang asing berpakaian putih datang kepada mereka dan berkata bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti mereka lihat Ia naik ke Surga. Dalam bacaan kedua, kita semua diingatkan oleh Paulus akan anugerah yakni Roh Kudus yang akan diberikan oleh Yesus bagi GerejaNya. Paulus juga mengingatkan jemaat di Efesus tentang tugas istimewa untuk mengikat tali persekutuan dan perdamaian di antara mereka. Mereka harus menyadari bahwa jemaat adalah Tubuh Yesus yakni kepenuhan  DiriNya yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Dalam bacaan Injil Markus, Yesus memerintahkan para rasulNya untuk pergi keseluruh dunia dan mewartakan Injil. Ia memberikan kepada mereka kuasa untuk mengajar, mewartakan, dan menyembuhkan orang-orang sakit dalam namaNya. Ia juga memerintahkan mereka untuk mewartakan KerajaanNya kepada segala bangsa.


Dengan kenaikan Yesus ke Surga, Gereja memulai sebuah era baru. Era di mana para murid Yesus melakukan tugas perutusan yang dipercayakan Yesus yakni pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil. Dengan demikian keselamatan menjadi milik segala makhluk terutama bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Untuk melakukan tugas perutusan ini, Yesus menyertai mereka dengan Roh Kudus yang dijanjikan Bapa.Hingga saat ini, Roh Kudus tetap menghidupkan Gereja. Maka tugas Gereja sebagai jemaat atau Tubuh Kristus adalah mewartakan Injil atau khabar sukacita tanpa henti. Biarlah semua makhluk merasakan sukacita Tuhan.


Sabda Tuhan membuka pikiran kita untuk memahami kasih Tuhan yang tak berkesudahan. Boleh dikatakan bahwa KasihNya selalu baru tercurah bagi kita smua. Dengan iman kita  mengakui bahwa Ia telah wafat, bangkit dan naik ke Surga. Ia akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Ia juga akan datang menjemput kita ke tempatNya (Yoh 14:3). Satu hal yang Dia minta adalah menjadi utusan untuk mewartakan InjilNya. Di dalam InjilNya ini semua makhluk akan merasa dikasihi oleh Tuhan sang Pencipta hingga akhir zaman.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih. Engkau telah naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Bapa. Semoga kami juga mendapat tempat yang istimewa bersamaMu. Ingatlah janjiMu bagi kami ya Tuhan, yakni RohMu sebagai Roh Kebenaran yang menguduskan dan menguatkan kami. Amen

PJSDB

Wednesday, May 16, 2012

Renungan 16 Mei 2012

Rabu Pekan Paskah VI
Kis 17: 15.22-18:1 
Mzm 149 
Yoh 16:12-15
Bersahabat dengan "Roh Kebenaran"

Saat-saat perpisahan Yesus dengan para muridNya semakin dekat. Ia berusaha menerangkan kepada semua MuridNya bahwa Ia tetap mengasihi mereka selamanya. Ia tidak mau meninggalkan mereka sendirian, tetapi Roh yang dicurahkan oleh Bapa dalam diriNya akan tinggal dan mendampingi mereka.  Roh Kudus menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Para murid sendiri belum memahami banyak hal  yang dilakukan Yesus. Artinya Sabda dan Karya Yesus belum sepenuhnya dipahami sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah di tengah-tengah mereka. Para murid membutuhkan Roh Kudus yang dapat menerangi akal budi mereka. 

Untuk melengkapi rencana dan kehendak Bapa maka Yesus menjanjikan Roh Kudus sebagai Roh kebenaran. Roh kebenaran ini akan memimpin para murid ke dalam seluruh kebenaran. Roh itu tidak berkata-kata dari diriNya, tetapi segala sesuatu yang didengarNya akan dikatakanNya termasuk hal-hal yang eskatologis (akhir zaman). Di samping membuka pikiran para murid, Roh Kudus juga akan memuliakan Yesus sebagai Sabda yang menjelma. Ia menerima segala sesuatu dari Yesus karena Yesus adalah Sabda Bapa. Segala sesuatu yang dimiliki Yesus adalah milik Bapa. Ini adalah sebuah relasi kasih dalam diri Allah Tritunggal Mahakudus. Jadi pemahaman para murid akan dibuka dan disempurnakan oleh kehadiran Roh Kudus. Tidak ada hal baru yang mau diberikan Roh Kudus, tetapi Ia menerangi dan membuka pikiran manusia untuk mengimani Allah dalam pribadiNya sebagai Tritunggal Mahakudus.

Roh Kudus yang sama yang memberi kekuatan dan membuka pikiran Paulus untuk berbicara di atas Areopagus kepada orang-orang Athena. Orang-orang di sana menyembah Allah yang tidak mereka kenal. Paulus mengatakan Allah seperti inilah yang hendak diwartakannya kepada mereka. Dialah Allah kita yang menciptakan langit dan bumi  beserta isinya dan Tuhan atas langit dan bumi. Dialah yang memberikan hidup, nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dia juga akan menghakimi dunia dan membangkitkan orang mati. Pengajaran Paulus ini membuat beberapa orang mundur dan tidak percaya tetapi banyak juga yang tetap percaya kepadanya. Hanya Dionisus, Damaris dan beberapa orang lainnya  menerima Yesus.

Para rasul dipanggil Tuhan untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus. Ini bukan sebuah panggilan yang mudah. Mereka mempertaruhkan segalanya untuk Tuhan. Dalam karya evangeliasi, satu hal yang penting untuk tetap diingat adalah mereka harus percaya bahwa Yesus sungguh ada dan telah bangkit dari antara orang mati. Paulus diejek dan tidak diterima dengan baik karena mewartakan kebangkitan Kristus namun ia tetap teguh untuk mewartakannya. Menjadi penginjil butuh kekuatan dan keuletan.

Kita membutuhkan Roh Kudus, Roh Kebenaran dalam perjalanan hidup ini. Roh kebenaran itu yang membuka pikiran untuk mengatakan yang benar tentang Yesus. Apa pun kesulitannya kita harus tetap teguh karena Roh Allah menyertai kita. Ingatlah bahwa Tubuhmu adalah bait Roh Kudus (1Kor 6:19).

Doa: Ya Allah Roh Kudus, ubah hidupku menjadi baru. Biarlah aku memiliki hidup baru dalam kebenaran. Amen


PJSDB

Tuesday, May 15, 2012

Renungan 15 Mei 2012

Selasa Pekan paskah VI
Kis 16:22-34
Mzm 138:1-2a.2b-3.7c-8 
Yoh 16:5-11

"Siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?"

Berpisah atau menjauh dari orang yang dikasihi itu tidak mudah.  Ada seorang prajurit yang harus melakukan tugas militernya di sebuah daerah konflik. Ia memberikan selembar fotonya kepada sang isteri dan berkata, “Simpanlah fotoku ini. Pandanglah foto ini ketika merindukanku dan ketahuilah aku memang jauh tetapi dekat denganmu”. Sebagai isteri, tentu ia menderita karena ditinggal suami selama beberapa waktu lamanya. Namun setiap kali kalau merindukan suaminya, ia selalu mengambil foto itu dari dompet, memandang dan tersenyum kepadanya. Dia merasakan kehadiran suaminya.

Tuhan Yesus melakukan banyak pekerjaan Allah di sekitar daerah Galilea dan Yudea bersama para muridNya. Ia menghadirkan Kerajaan Allah dalam Karya dan Sabda. Karya-karya Allah diwujudkan dalam tanda-tanda heran dan Sabda berupa pengajaran dan wejangan untuk hidup layak di hadiratNya. Yesus juga mengetahui bahwa Ia akan menderita, wafat, bangkit dan naik ke Surga. Ia akan berpisah dengan mereka yang Ia kasihi atau yang tinggal di dalam kasihNya.


Dalam amanat perpisahanNya Ia berkata, "Sekarang Aku pergi kepada Dia yang mengutus Aku...hatimu berdukacita. Namun benar, lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi." Kata-kata Yesus ini tentu mengherankan para muridNya, apalagi ini terjadi sebelum Ia masuk dalam misteri PaskahNya. Namun alasan yang penting di sini adalah Allah Tritunggal Mahakudus mau menunjukkan keberadaan dan penyertaanNya bagi manusia. Bapa memiliki rencana dan kehendak untuk menyelamatkan, Putera adalah Sabda yang menyelamatkan. Sebagai Sabda atau Logos, Ia akan kembali kepada sumber Sabda yaitu Bapa. Maka RohNya yang akan bertugas sebagai pendamping atau yang menghibur bagi anak-anak yang percaya kepadaNya.


Itu sebabNya Yesus menjanjikan penghibur (Paraclitus) yang akan menyertai para muridNya. Tugas penghibur adalah menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran, penghakiman. Menginsyafkan dunia akan dosa karena banyak yang tidak percaya padaNya, kebenaran karena Yesus sebagai Sabda masuk kembali dalam diri Bapa di Surga dan bersatu denganNya, penghakiman karena penguasa dunia telah dihukum.

Penyertaan Tuhan tetap dirasakan dalam berbagai situasi hidup. Tuhan Yesus sendiri telah mengatakan bahwa Ia akan menyertai para muridNya hingga akhir zaman dan bahwa banyak penderitaan akan mereka alami. Pengalaman Paulus dan Silas di Filipi menunjukkan penyertaan Tuhan yang dashyat. Dalam situasi menderita, Tuhan hadir untuk menyertai dan membebaskan mereka. Bertahan dalam derita inilah yang menjadi kesaksian nyata para pengikut Tuhan dan  dapat membuat banyak orang percaya akan adanya Tuhan.


Orang-orang Filipi sudah menerima Kristus dan InjilNya lewat pewartaan Paulus dan Silas. Namun para pemimpin yakni para pembesar di Filipi menyuruh orang-orangnya untuk menganiaya kedua rasul bahkan memenjarakan mereka. Dalam situasi yang sulit, Paulus dan Silas berdoa dan memohon bantuan Tuhan. Tanda-tanda alam seperti gempa bumi menunjukkan hadirnya Tuhan di tempat itu. Paulus dan Silas dan juga para narapidana lain menyaksikan karya Tuhan dengan terbukanya pintu dan jendela serta belenggu di dalam penjara itu. Karya yang lebih jelas adalah ketika banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan karena iman dan ketabahan para rasul.


Rasul yang baik harus menderita. Tuhan sendiri mengatakannya, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku, kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahmu besar di Surga." (Mt 5:10-12). Paulus sendiri bertanya, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan dan bahaya, atau pedang? Tidak ada satu apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Yesus Kristus Tuhan kita" (Rm 8: 35.39)

Sabda Tuhan menguatkan kita semua karena Ia sendiri berjanji untuk senantiasa menyertai dan mendampingi hingga akhir zaman. Roh Kudus sebagai Penghibur akan menguduskan kita supaya layak menjadi anak-anak Allah. Roh yang sama akan membebaskan dari belenggu penindasan. Mari membuka diri kita pada Roh Kudus yang menjadi penghibur kita. Biarkan dirimu dibimbing oleh Roh Kudus.


Sabda Tuhan juga memperteguh iman kita seperti iman Paulus dan Silas. Mereka dianiaya tetapi masih mau berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan. Tuhan pun melakukan segala-galanya bagi mereka dan banyak orang menjadi percaya. Kita sebagai pengikut Kristus mengalami hal yang sama terutama ketika mengalami kesulitan dan tantangan tertentu. Gedung gereja dibakar, atau dihambat dalam proses pembangunannya, gua-gua Maria mau dihancurkan dan tindakan-tindakan diskriminatif lainnya. Apakah ini lalu membuat kita membalas dengan kejahatan juga? Tidak! Kita harus terus berbuat baik. Karena semuanya tidak menjadi penghalang bagi kita untuk mengimani Kristus. Tidak ada satu apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Doa: Allah Roh Kudus, sertailah kami dan hiburlah kami di saat kami mengalami penderitaan. Amen

PJSDB 

Monday, May 14, 2012

Renungan 14 Mei 2012


St.Mathias
Kis 1:15-17.20-26
Mzm 113: 1-8
Yoh 15:9-17
"Dipanggil, dipilih dan ditetapkan menjadi Saksi"

Tuhan membangun GerejaNya di atas duabelas Rasul laksana duabelas tiang yang kokoh. Maka untuk mengganti posisi Yudas Iskariot, para Rasul memilih Mathias sebagai penggantinya. Mathias sudah mengikuti Yesus sebagai seorang murid, sejak pembaptisan yang dilakukan Yohanes sampai saat kenaikan Tuhan (Kis 1:15-17). Namun menurut kesaksian sejarahwan Eusebio dari Kaisarea, ada kemungkinan Mathias adalah salah satu dari 70 murid yang diutus Tuhan Yesus.  

Apa pentingnya menjadi seorang rasul atau utusan? Para Rasul memiliki tugas perutusan yang mulia yakni sebagai saksi kebangkitan Yesus.  Dengan ditambahkannya Mathias maka para Rasul tetap berjumlah duabelas orang. Mereka menjadi “Israel baru” dan memiliki tugas sebagai saksi kebangkitan Kristus dan dapat pergi keseluruh dunia untuk mewartakan Injil kepada segala makhluk.

“Kamu adalah SahabatKu”, demikian sapaan Yesus bagi para RasulNya. Mereka menjadi sahabat karena Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan segala sesuatu yang didengarNya dari Bapa kepada mereka. Para rasul diharapkan mendengar serta melakukan Firman dan perintah-perintah Yesus. Hal ini juga yang membuat mereka tinggal di dalam kasih Yesus.

Tentang relasi persahabatan ini, Yesus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah.” Ya, Tuhan yang memilih dan menetapkan para rasul sebagai utusanNya untuk menghasilkan buah cinta kasih, iman dan harapan bagi segala makhluk.

Sabda Tuhan pada hari ini menguatkan kita semua untuk percaya pada rencana Tuhan. Tuhan memilih dan menetapkan para rasulNya untuk mewartakan cinta kasih kepada segala makhluk. Hari ini bertepatan dengan Pesta St. Mathias, kita juga mengalami perutusan yang sama sebagai orang yang dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan. Mengapa? Karena kita telah dikuduskan dalam pembaptisan dan tugas mewartakan dan memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus adalah tugas kita sekarang sebagai Gereja. Apakah anda menyadari dirimu sebagai utusan Tuhan?

PJSDB

Sunday, May 13, 2012

Homili Hari Minggu Pekan Paskah VIB

Hari Minggu Paskah VI/B
Kis 10:25-26.34-35.44-48
Mzm 98: 1.2-3ab.3cd-4
1Yoh 4:7-10
Yoh 15:9-17

Kasih Allah itu sempurna!


Kasih Allah itu universal dan menggapai semua orang. Kalau kita membuka Alkitab dan membacanya, dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu sama-sama mengatakan sifat hakiki Allah yakni Allah adalah kasih (Yoh 4:8.16) dan bahwa kasihNya itu selalu mengalir dan menggapai setiap pribadi. Di dalam Kitab Kejadian misalnya, sifat hakiki Allah adalah kasih dapat ditemukan pada saat Ia menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri (Kej 1:27). Atau setelah mencipta, “Allah melihat segala sesuatu yang dijadikanNyaitu sungguh baik” (Kej 1:31). Pengalaman Allah sebagai kasih juga dialami oleh para bapa bangsa dan seluruh bangsa Isarel. Allah hadir dan menyertai mereka dan mereka sungguh-sungguh merasakan kasihNya.

Untuk mengalami Allah sebagai kasih, masing-masing pribadi harus berpartisipasi dalam kehidupan ilahi Allah dan merasakan secara pribadi kasih Allah itu sendiri. Ini tentu butuh hati yang sederhana, hati yang transparan (Mt 5:8), hati yang senantiasa terbuka kepada Tuhan. Hati manusia yang terbuka dan membiarkan Allah mengisinya dengan kasihNya ini dapat menciptakan satu bentuk relasi yang intim antara Allah yang mengasihi dan manusia yang dikasihi. Gambaran-gambaran tentang kasih Allah terhadap manusia ini diringkas dalam bacaan-bacaan pada hari Minggu Paskah VI ini. Dalam bacaan pertama, Petrus berbicara tentang kasih Allah yang hanya dapat dipahami ketika orang menerima karunia Roh Kudus. Yohanes, dalam bacaan kedua mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Kasih yang dialami dari Allah harus menjadi nyata dalam tindakan mengasihi sesama. “Barangsiapa tidak mengasihi, dia juga tidak mengenal Allah” (1Yoh 4:8). Dalam bacaan Injil, Yesus mengatakan relasi intimNya dengan  Bapa di Surga dan dengan para muridNya. Oleh karena itu para murid diharapkan dapat saling mengasihi karena Yesus sendiri lebih dahulu mengasihi mereka. Dia sendiri yang memilih dan menentukkan para muridNya untuk pergi dan menghasilkan buah yang banyak.

Dengan melihat kembali bacaan pertama dari Kisah Para Rasul: Petrus melakukan sebuah perbuatan agung terutama dalam usahanya untuk mewartakan Injil baik bagi bangsa Yahudi maupun dengan bangsa bukan Yahudi. Ketika berada di Kaisarea, Petrus masuk ke rumah Kornelius (orang Romawi) dan disambut dengan meriah. Kornelius menyembah Petrus tetapi dengan rendah hati Petrus berkata bahwa ia juga hanya manusia biasa. Petrus juga berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Allah dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.” Roh Kudus pun turun kepada orang-orang bukan Yahudi dan mereka mampu berbicara dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah. Ini tentu membuat bingung orang-orang Yahudi yang menyertai Petrus karena ternyata Roh Kudus juga turun bagi bangsa lain. Orang-orang ini tidak hanya menerima Roh Kudus tetapi mereka juga dibaptis dalam nama Yesus.

Pewartaan Petrus ini penting kita pahami dalam konteks evangeliasasi. Injil bukan lagi diperuntukan bagi golongan tertentu tetapi semua orang dipanggil untuk menerima Injil dan bahwa keselamatan di dalam nama Yesus adalah hak semua orang. Injil diwartakan ke kantong-kantong orang bukan Yahudi dan boleh dikatakan ini sebuah petualangan baru bagi gereja dalam memahami dan mewartakan Injil kepada segala makhluk. Petrus sebagai pemimpin Gereja memulainya dan selanjutnya Paulus dalam perjalanan misionernya mewartakan Injil dengan sukacita. Nah, semua yang dilakukan Petrus di rumah Kornelius “orang bukan Yahudi” lebih merupakan bukti kasih Allah yang melimpah kepada semua orang. Dia menciptakan semua orang setara jiwa dan badan. Tidak ada perbedaan suku, ras, agama, jenis kelamin dan usia. Ini semua hanya pemikiran manusiawi. Pemikiran ilahinya adalah, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengutus PuteraNya yang tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16).

Yohanes dalam bacaan kedua, mengingatkan kita untuk saling mengasihi karena kasih berasal dari Allah. Allah memberi yang terbaik yang Ia miliki yaitu kasih sebagai hakikatNya bagi manusia. Kasih yang sempurna yang ada di dalam diri Yesus Kristus PuteraNya. Kita sebagai anak-anak Allah dipanggil untuk melakukan kasih yang sama sebagai jawaban akan kasihNya dan kasih kepada sesama manusia. Tepat apa yang dikatakan Yohanes, “Saudara-saudaraku, marilah kita saling mengasihi karena kasih berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah.” Kasih berasal dari Allah Bapa dan diberikanNya kepada Yesus PuteraNya dan diterima dengan penuh kebebasan. Yesus lalu mengajak kita untuk tinggal di dalam kasihNya dengan menuruti Firman dan perintah-perintahNya. Dan tugas kita selanjutnya adalah mengasihi sesama karena kasih itu berasal dari Allah yang adalah kasih itu sendiri.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengajak para murid untuk tinggal di dalam kasihNya. Tinggal di dalam kasih berarti menuruti Firman dan semua perintahNya. Yesus sendiri telah menuruti Perintah Bapa di Surga dan para muridNya harus mengikuti jejakNya. Sama seperti relasi kasih antara Bapa dan Putera, demikian Yesus sang Putera juga menghendaki relasi kasih antar pribadi manusia. Tujuan saling mengasihi dan tinggal dalam kasih adalah menghasilkan banyak buah. Jadi para murid tidak bersifat pasif tetapi aktif menyebarkan cinta kasih Tuhan. Tentu saja para murid dapat menghasilkan banyak buah kalau mereka tekun dan percaya pada Allah. Buah iman, harapan dan kasih sehingga membuat Gereja bertumbuh semakin subur.

Yesus memberi motivasi istimewa kepada para muridNya terutama dalam hubungan kasih. Ia menganggap para muridNya bukan hamba karena hamba tidak mengerti apa yang dilakukan tuannya. Yesus justru menganggap mereka sebagai sahabat. Yesus adalah seorang pribadi yang memiliki rasa empati yang besar kepada manusia yang lemah. Dialah yang menguatkan dengan pengorbananNya, “Tak ada kasih yang paling agung daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya”.

Hari ini Tuhan melalui SabdaNya membaharui kita untuk membangun habitus baru atau cara pandang baru kita terhadap sesama yang tidak seiman dengan kita. Petrus berbicara dengan keluarga Kornelius dan Roh Kudus turun atas mereka. Orang-orang yang menyertai Petrus tercengang karena Roh Kudus juga diperuntukan bagi bangsa lain. Nah, pikiran kita diarahkan pada cinta kasih Tuhan yang sifatnya universal. Artinya, kita bukanlah status quo tetapi tugas kita adalah membawa banyak orang kepada Tuhan sumber kasih. Bagaimana sikap kita terhadap sesama yang tidak seiman? Apakah mereka adalah orang lain yang tidak akan di selamatkan? Apakah cinta kasih Tuhan juga menggapai pribadi-pribadi ini? Tuhan mengasih manusia yang baik dan jahat! (Mt 5:45)

Tuhan juga membaharui kita untuk mengasihi lebih sungguh. Mengapa? Karena Allah sendiri adalah kasih. Dan cinta kasih yang benar ditandai dengan pengurbanan diri yang terus menerus. Ketika kita memandang Yesus tersalib, kita melihat pengurbanan diriNya. Dari salib, mengalir sungai kasih Allah yang tak berkesudahan. Tepat apa yang dikatakan Thomas A Kempis, “There is no living love without suffering”. Cinta kasih yang benar berakar dalam pengurbanan diri bahkan penderitaan pribadi. Bagaimana pengalaman kasihmu di dalam keluargamu? Bagaimana mewujudkan kasih sejati di dalam hidupmu?

Doa: Tuhan terima kasih karena Engkau adalah kasih. Hari ini Engkau menasihati kami untuk menerima semua orang apa adanya karena merasakan kasih yang sama dariMu. Semoga cinta kasihMu bertumbuh subur dan dunia tempat kami huni ini menjadi baru.

PJSDB