Saturday, July 21, 2012

Renungan 21 Juli 2012


Hari Sabtu, Pekan Biasa XV
Mi 2:1-5
Mzm 10:1-2.3-4.7-8.14
Mat 12: 14-21

Kepadanyalah semua bangsa berharap

Seorang ketua lingkungan datang padaku untuk sharing pengalamannya. Ia terpilih sebagai ketua lingkungan melewati proses yang rumit. Tidak ada seorang pun yang mau melayani di lingkungan tersebut. Setelah lama memikirkan bentuk pelayanan ini maka ia setuju dicalonkan dan terpilihlah dia sebagai pelayan. Pada mulanya semua orang  merasa puas dengan kinerjanya. Berbagai gerakan untuk pemberdayaan komunitas-komunitas basisnya dijalankan dengan baik. Lingkungan yang tadinya dianggap tidak menjanjikan dalam pelayanan di Gereja berubah menjadi lingkungan yang siap untuk melayani. Namun demikian ia juga belajar dikecam, dicaci maki, digosip, dianggap tidak adil dan jujur. Dia bertanya kepadaku, mengapa melayani Tuhan di dalam Gereja itu selalu dihiasi dosa-dosa seperti ini? Saya mengatakan kepadanya bahwa Tuhan Yesus sendiri sudah mengalaminya.

Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat melainkan menggenapinya (Mat 5:17) dengan hukum kasih (Mat 22:37.39). Namun demikian orang-orang Farisi, para imam kepala dan tua-tua Yahudi tidak memahami rencana Allah yang sedang dikerjakan oleh Yesus. Mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus namun Yesus mengetahui persekongkolan mereka. Ia pun menjauhi orang-orang Farisi namun banyak orang masih mencari dan membutuhkan keselamatan. Dia adalah hamba sejati yang selalu siap untuk melayani bukan untuk dilayani.

Hari ini, Penginjil Matius berusaha memperkenalkan identitas Yesus dengan menggunakan figur dalam nubuat nabi Yesaya tentang hamba Yahwe: “Lihatlah, itu hambaKu yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepadanya jiwa-Ku berkenan. RohKu akan Kucurahkan atas Dia dan Ia akan memaklumkan hukum kepada segala bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suaranya tidak terdengar di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya sampai Ia menjadikan hukum itu menang. KepadaNyalah semua bangsa akan berharap” (Yes 42:1-4). Nubuat Yesaya di atas menerangkan identitas Yesus sebagai Hamba yang dipilih dan dikasihi Bapa (Mat 3:7; 17:5) dan Ia adalah pembawa Roh Kudus. Dia adalah Utusan untuk mewartakan kehendak Bapa. Ia menghadirkan wajah Bapa yang lembut hati.

Hal yang kiranya menarik perhatian kita adalah Yesus berbuat baik dengan pengajaran dan tanda-tanda heran namun orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat serta para pemimpin Yahudi tidak menerimaNya. Ia ditolak, diancam untuk dibunuh bukan karena kejahatan tetapi karena kebaikan. Sama dengan hamba Yahwe dalam Kitab nabi Yesaya yang dikutip di atas, Yesus menyingkir, menjauh dari mereka tetapi tetap menunjukkan kelembutan hati-Nya untuk melayani. Ia masih menyembuhkan banyak orang sakit yang mencari-Nya. Ia tidak berhenti berbuat baik. Ini yang membuat semua bangsa berharap kepadaNya.

Ya, selagi kejahatan masih menguasai manusia maka Tuhan akan tetap menunjukkan karya keselamatan-Nya bagi manusia. Tuhan tidak pernah tidur! Kejahatan manusia bisa berupa penyalahgunaan wewenang dan kuasa. Mikha dalam bacaan pertama mengisahkan tentang rencana untuk berbuat jahat ketika orang sedang berada di atas ranjang. Rencana berbuat jahat dengan menyalahgunakan kuasa sendiri terwujud dalam aksi merampas dan menindas hak milik serta hidup orang lain. Orang-orang jahat seperti ini akan mendapat ganjaran dari Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan selalu memihak orang-orang kecil terutama mereka yang miskin dan menjadi korban ketidakadilan sosial. Orang-orang kaya dan berkuasa yang congkak hatinya akan diturunkannya dari takhta atau kuasa mereka. Inilah keadilan Tuhan. Hukum kasihlah yang harus ditegakkan bukan kuasa manusiawi yang penuh dengan kejahatan.

Sabda Tuhan hari ini memiliki makna yang mendalam terutama dalam mengoreksi perilaku hidup kita. Dalam hal apa?

Pertama, Banyak kali kita tidak melihat perbuatan baik dalam diri sesama  dan mensyukurinya tetapi yang ada adalah iri hati, dengki dan nafsu untuk memusihinya. Kita lupa bahwa semua itu berasal dari Tuhan bukan dari diri orang tersebut. Bukankah semuanya itu adalah talenta titipan Tuhan?

Kedua, Kita belajar dari Yesus yang ditolak di mana-mana. Ia diancam untuk dibunuh namun tetap tegar, berani untuk tetap mewartakan karya cinta kasih Allah. Ia tetap berbuat baik dengan menyembuhkan orang-orang yang mencari-Nya. Janganlah anda berhenti berbuat baik meskipun anda sedang dalam kesulitan atau bahaya.

Ketiga, Kita diingatkan untuk jangan menyalahgunakan kuasa dan wewenang secara tidak adil. Tuhan tidak pernah menginginkan manusia yang diciptakan “sewajah” dengan “wajahNya” sendiri atau yang menjadi “biji mata-Nya” sendiri berlaku tidak adil. Tuhan itu adil, penuh belaskasih maka hendaknya perilaku kita menyerupai Tuhan. Dia adalah harapan semua orang, segala bangsa!

Doa: Tuhan, betapa rapuhnya hidup kami. Mohon ampunMu. Amen

PJSDB

Friday, July 20, 2012

Renungan 20 Juli 2012

Hari Jumat, Pekan Biasa XV
Yes 38: 1-6.21-22. 7-8
Mzm (Yes) 38: 10.11.12abcd.16
Mat 12:1-8
Hukum yang baik dan benar adalah...
Di dalam sebuah perusahan, seringkali terjadi pertentangan antara orang lama dan orang baru. Ada kecenderungan orang yang sudah lama bekerja untuk bertahan dalam ritme kerja yang sudah ada, sudah merasa nyaman dan tidak mudah tanggap terhadap gagasan baru untuk berkembangnya perusahan. Ketika ada orang baru, dengan semangat baru, dan mengusulkan hal baru, mereka ini mudah dianggap membangkang atau revolusioner dan membahayakan kinerja perusahan. Dampaknya adalah munculnya relasi yang tidak sehat antara orang lama dan orang baru sehingga perusahan mengalami kemunduran.
Situasi sosial semacam ini dialami oleh orang-orang Farisi yang hidup pada zaman Yesus. Kaum Farisi dan para pemimpin agama Yahudi berpegang teguh pada hukum Taurat Musa. Hukum Taurat Musa tidak mengijinkan orang-orang Yahudi untuk bekerja pada hari Sabath. Mereka harus menggunakan hari Sabath untuk memuliakan Tuhan sang Pencipta (Kel 20:8-11). Mereka juga mengenang pembebasan dari perbudakan di Mesir (Ul 5:12-15). Karena  itu ada Ada 39 daftar pekerjaan tertentu yang dilarang untuk dilakukan pada hari Sabath, termasuk di dalamnya adalah memetik bulir gandum atau hasil pertanian lainnya.
Penginjil Matius, mengisahkan bahwa Yesus berjalan bersama para muridNya di sebuah ladang gandum pada hari Sabat. Karena lapar maka para murid memetik bulir gandum dan memakannya. Orang-orang Farisi langsung menegur Yesus karena perbuatan para muridNya pada hari Sabath ini. Untuk menyadarkan mereka Yesus menggunakan pengalaman Daud dan para pengikutnya yang masuk ke dalam rumah Tuhan dan memakan roti sajian (1Sam 21:1-6). Atau para imam di dalam bait Allah juga sering melakukan kesalahan pada hari Sabat (Bil 28:9-19). Maka dengan tegas dan wibawa Yesus berkata: “Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”
Sikap dan pernyataan Yesus ini mengingatkan kita ketika Ia mengatakan, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Untuk melawan orang-orang Farisi, Yesus mengutip nubuat Nabi Hosea, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hos 6:6). Sebuah hukum dikatakan bernilai apabila menunjukkan belas kasih Allah dan menolong manusia bertumbuh sebagai manusia yang baik. Sebaliknya hukum dikatakan tidak bernilai apabila tidak menunjukkan wajah Allah yang berbelas kasih, hanya untuk menguasai manusia secara kaku dan tidak memanusiakan manusia. Ya, tujuan dari semua hukum adalah menunjukkan wajah Allah yang benar kepada manusia. Yesus melakukannya secara baru karena Dia menggenapi hukum Taurat dengan kasih dan Dia juga adalah Tuhan atas Hari Sabath. Yesus sungguh menghadirkan Allah yang berbelaskasih kepada manusia. 


Yesaya dalam bacaan pertama menghadirkan sosok Allah yang berbelaskasih terhadap orang sakit yang membutuhkan jamahan tanganNya untuk sembuh. Dikisahkan bahwa Raja Hizkia di Yehuda sedang sakit dan hampir mati. Hizkia diingatkan oleh Tuhan melalui nabi Yesaya bahwa ia akan mati karena sakit penyakitnya. Maka Hizkia menangis sambil memohon kepada Tuhan untuk mengingat segala perbuatan baik yang sudah dilakukannya di hadapan Tuhan. Tuhan pun mendengar permohonan Hizkia sehingga memberinya hidup lima belas tahun lagi dan membebaskan dia dan Yehuda dari kekuasaan raja Asyur. Allah berbelas kasih kepada orang yang berharap padaNya.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tidak kaku terhadap berbagai hukum dan peraturan yang dibuat manusia. Semua hukum dan peraturan itu dikatakan baik kalau bertujuan untuk kebaikan manusia dan bukan untuk mengekang hidup manusia. Orang-orang Farisi hanya berbangga dengan 613 artikel dalam hukum Taurat dan berpikir bahwa hanya mereka sendiri yang layak di hadirat Tuhan. Mereka begitu kaku dan tidak menghargai martabat manusia. Yesus datang untuk menunjukkan wajah Bapa yang maharahim dan berbelaskasih. Ia tidak peduli dengan hukum atau adat kebiasaan Yahudi, yang penting bagiNya adalah manusia merasa bernilai dan bermartabat. Maka meski hari Sabat memiliki aturan, tetapi nilai manusia jauh lebih tinggi. Mereka yang lapar harus makan supaya kenyang bukan mati kelaparan. Mari kita mematikan pikiran negatif ala orang Farisi dan mengambil pikiran positif Yesus untuk memperhatikan sesama yang menderita dan membutuhkan belas kasih. 
Sabda Tuhan juga membantu kita untuk bertahan dalam setiap penderitaan, berpasrah kepada Tuhan dalam doa dan pujian. Hizkia, Raja Yehuda menunjukkan teladan yang baik. Dia bukan saja hidup layak di hadirat Tuhan tetapi ketika dalam keadaan sakit atau disampaikan bahwa ia akan mati karena penyakitnya, Ia tetap berdoa dan berharap pada Tuhan. Tuhan pun menaruh belas kasihNya kepada Hizkia. Bagaimana dengan anda dan saya yang selalu memiliki persoalan hidup? Apakah tetap setia seperti Hizkia atau “muntaber” alias mundur tanpa berita dari hadirat Tuhan?
Doa: Tuhan semoga kami dapat menghargai nilai hidup manusia. Amen
PJSDB

Thursday, July 19, 2012

Kuk


“Pikullah kuk yang Kupasang karena enak!” 
(Mt 11:29-30)


Hari ini Penginjil Matius mengisahkan Yesus yang berbagi dengan manusia. Yesus mengajak: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu. Pikulah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu...Kuk yang Kupasang itu enak” Kalimat-kalimat ini sudah dihafal banyak orang tetapi makna kata kuk belum banyak yang mengerti.  Ketika merayakan misa saya bertanya kepada umat, apakah kalian mengerti kata kuk? Ada seorang guru bahasa Indonesia menjawab, “Kuk adalah kayu lengkung yg dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak.” Umat lain lagi mengatakan kuk adalah cara membenamkan atau menekan ke atas tepi pelat atau profil baja sepanjang sambungan keling dengan suatu alat agar sambungan tersebut kedap air. Yah, jawaban persis di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Di dalam Alkitab, Kuk memiliki banyak makna. Kuk adalah perkakas yang dikenal sebagai alat yang menghubungkan dua (atau lebih) lembu menjadi satu. Kuk menjadi kiasan atau metafora bagi perbudakan atau pekerjaan yang sangat berat. Mungkin ini merupakan akibat hukuman Allah atas orang berdosa. Allah memakai kuk sebagai gambaran bagi orang yang terjerat dalam perbudakan salah dan dosa. Dan hanya dengan iman kepada Kristus-lah pribadi itu dapat terlepas dari kuk ini. Bacalah: Im 26:13; Ul 28:48; Yes 9:3; 10:27; 14:25; 47:6; 58:6, 9; Yer 2:20; 27:2-12; 28:2-14; 30:8; Rat 1:14; 3:27; Yeh 34:27; Hos 11:4; Kis 15:10; Gal 5:1.

Kuk juga merupakan pelayanan kepada Tuhan oleh orang yang sungguh-sungguh percaya. Pelayanan itu membuahkan sukacita karena kasih mereka kepada Tuhan, tapi merupakan beban bagi orang munafik (Yer 5:5; Mat 11:29, 30). Secara kiasan, kuk itu berarti kesukaran atau ketaatan paksa. Dalam gaya kenabian, Yeremia memakai kuk pada lehernya sebagai lambang beritanya bahwa Yehuda akan tunduk paksa kepada Babel (Yer. 27:2). Yesus berkata-kata tentang kuk yang ringan (Mat. 11:29-30) yang tidak melukai. Para Rabi Yahudi berbicara tentang memakai Kerajaan Surga, yang maksudnya ialah tunduk pada kedaulatan kehendak Allah. Para imam menggunakan stola sebagai lambang pelayanan dan kepatuhan kepada Tuhan.

Ada juga terjemahan dari beberapa kata Ibrani dan Yunani, dipakai baik secara harfiah untuk kerangka kayu yang menghubungkan dua ekor binatang (biasanya lembu jantan), maupun secara metaforis untuk melukiskan takluknya seorang pribadi kepada orang lain. Kata-kata itu ialah mot (Nah 1:13) dan mota (Yes 58:6; Yet 27:2, dst), 'balok'; 'ol (Kej 27:40; Rat 1:14, dst), 'kuk'; tsemed (1 Sam 11:7; Ayb 1:3, dst), 'pasangan lembu'; zeugos (Luk 14:19), 'pasangan'; zygos (Mat 11:29; 1 Tim 6:1, dst), 'kuk', 'beban'. Dalam 2 Kor 6:14 Paulus menggunakan heterozygeo, 'berpasangan dengan lawan jenis'. Untuk 'teman sekerja' dalam Flp 4:3.
Jadi kuk berarti saat berbaginya Tuhan dengan manusia. Dia mengajak kita untuk datang kepadaNya dan Dia akan tunduk dan ikut memikul beban kita. Kita berjalan bersama Dia! Kita tidak sendirian. Kuk bukan saja lambang penindasan tetap lambang  kepatuhan kepada kehendak Allah. Pikulah kuk Yesus dalam hidupmu.
PJSDB 

Renungan 19 Juli 2012

Hari Kamis, Pekan Biasa XV
Yes 26:7-9.12.16-19
Mzm 102:13-21
Mt 11:28-30
Jadilah Lemah lembut dan rendah hati!

Ketika masih sebagai siswa SD, guru agama katolik di sekolahku mengajarkan doa ini: “Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hatiMU”. Doa ini harus didoakan setiap hari setelah selesai pelajaran di sekolah dan ia berpesan: “Kalian harus memeriksa bathin dan bertanya dalam bathinmu masing-masing, apakah sudah lemah lembut dan rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama?” Saya ingat pesan ini diulang terus menerus baik di sekolah maupun pada saat ibadat di Gereja pada hari Minggu. Maka rata-rata teman-teman sebaya saat itu mengetahui doa ini meskipun lambat memahaminya. Ketika sudah menjadi dewasa dan wawasan semakin luas baru memahami doa ini secara lebih mendalam.

Santo Matius dalam Injil menggunakan kata lemah lembut dan rendah hati secara bergantian. Kelemahlembutan dan kerendahan hati Yesus menjadi nyata dalam diriNya sebagai Hamba Allah yang menggenapi kehendak Allah tanpa kekuatan dan kekerasan (Mt 12:18-21), sebagai Raja dan Mesias yang memasuki kota Yerusalem bukan sebagai seorang pahlawan yang dieluh-eluhkan setelah memenangi sebuah pertempuran tetapi sebagai orang biasa yang memikul beban (Mt 28:1-8).

Setelah Yesus mengatakan: “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan mengatakannya” (Mt 11:27) maka Ia mengajak “Orang-orang yang kepadanya Ia berkenan mengatakan rahasia Bapa” untuk datang kepadaNya. Ia berkata, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”. Orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat adalah mereka yang miskin, menderita dan kaum pendosa. Mereka-mereka ini lebih mudah menggantungkan harapan mereka kepada Tuhan atau lebih terbuka pada rencana keselamatan Allah. Ketika Yesus menyapa orang-orang seperti ini, mereka kelihatan lebih mudah bersahabat dengan Yesus dibandingkan dengan orang yang pandai dan bijak.

Setelah mengajak untuk datang kepadaNya, Ia berpesan, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan.”  Misi Yesus di dunia ini adalah menganugerahi damai sejahtera bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat, membebaskan mereka dari berbagai beban kehidupan, membina para muridNya untuk memiliki rasa solidaritas satu sama lain dan menghancurkan berbagai kekerasan yang menimbulkan beban kehidupan manusia.

Apa artinya kuk bagi kita? Secara harafiah kuk adalah palang kayu jepitan vertikal yang memisahkan dua hewan yang sama-sama memikul beban berat. Kuk adalah kesukaran hidup dari seorang pribadi atau suatu bangsa (Yer 27:2). Kuk adalah sikap patuh kepada Allah. Ketiga pengertian tentang kuk ini membantu kita menyadari misi Yesus di dunia ini, di hadapan umat manusia. Ia datang untuk memikul beban hidup dan dosa-dosa kita. Ia berjalan bersama kita untuk ikut memikul beban kita karena kita sudah letih dan lesuh. Ia membuat kita sadar diri untuk patuh kepada setiap rencana Bapa bagi kita. Karena Yesus menyertai perjalanan hidup kita maka kuknya pas dan enak, beban jadi lebih ringan.

Umat Perjanjian Lama juga memiliki berbagai beban kehidupan. Yesaya menggambarkan bagaimana umat Perjanjian Lama jatuh dalam dosa secara terus menerus. Namun pada akhirnya mereka juga sadar diri dan mau berubah dan berbalik kepada Allah. Amarah Tuhan tidak untuk selamanya. Di sini Tuhan kelihatan berbagi dengan manusia. Ia meringankan beban kehidupan manusia karena cinta dan penyertaanNya tanpa batas kepada mereka yang memohon kepadaNya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk sadar diri dan datang memenuhi ajakan Yesus. Kita semua memiliki beban, persoalan hidup yang semuanya ini tidak mungkin kita selesaikan sendiri. Kita butuh Tuhan untuk memasang kuknya yang enak sehingga beban kita ini dapat menjadi ringan. Biarkan Ia berjalan bersama dan memikul setiap beban, persoalan dan pergumulan hidup kita. Maka berharaplah selalu pada Tuhan. Datanglah kepadaNya dan mintalah maka Ia akan memberikan yang terbaik bagimu, yang melegahkanmu.

Kita juga diingatkan untuk berbagi dengan sesama. Ketika melihat sesama yang berbeban berat datanglah kepadanya dan ajaklah untuk datang kepada Yesus. Jangan pernah menjauh atau membiarkan dia memikul bebannya sendiri. Ulurkanlah tanganmu, pikullah bersama-sama bebannya, dan biarkan ia merasa bahwa Tuhan ada, dan bahwa Tuhan mengasihinya. Apakah ada yang berani melakukan perbuatan baik ini?

Doa: Tuhan, ringankanlah beban hidupku. Amen

PJSDB

Wednesday, July 18, 2012

Renungan 18 Juli 2012


Hari Rabu, Pekan Biasa XV 
Yes 10:5-7.13-16 
Mzm 94: 5-6.7-8.9-10.14-15 
Mat 11:25-27 

Orang bijak dan pandai atau Orang kecil 

Pada suatu kesempatan, saya menghadiri sebuah upacara adat. Hadir dalam acara tersebut beberapa orang yang disapa sebagai pemangku adat. Mereka adalah orang-orang kampung yang rata-rata pendidikan akademisnya hanya SD bahkan tidak tamat SD. Mereka menerjemahkan bahasa atau pantun tertentu tentang adat perkawinan. Bapak dari anak perempuan yang menikah adalah seorang dosen. Ketika ditanya apakah dia juga mengerti bahasa adat, dia menjawab: "Tuhan itu adil. Dia memberikan kepintaran kepada orang tertentu dan kebijaksanaan kepada orang yang lain. Jadi Tuhan memberi kepada mereka kebijaksanaan untuk mengerti bahasa adat, kepintaran kepada saya untuk memahami hal-hal lain." 

Saya merenungkan pengalaman ini dengan penuh syukur kepada Tuhan karena Ia memberikan anugerah-anugerah istimewa kepada setiap pribadi. Tuhan Yesus mengucap syukur kepada Bapa di Surga karena segala sesuatu dinyatakan bukan kepada orang bijak dan pandai melainkan kepada orang-orang kecil. Yesus berkat, "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa Tuhan langit dan bumi karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak da pandai tetap Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa itulah yang berkenan kepadaMu". Ini juga yang dikehendaki oleh Yesus. Yesus mengatakan syukurNya ini karena pengalamanNya sendiri. Ia meskipun Allah, rela menjadi manusia, merendahkan diri bahkan wafat di kayu salib untuk keselamatan kita. Dia adalah pelayan sejati yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Dia adalah seorang gembala yang baik.

Semua ungkapan ini menambah wawasan kita untuk mengerti cara Tuhan menyapa orang kecil melalui Yesus. Di samping itu pengalaman manusiawi juga menunjukkan betapa banyak orang merasa bijak dan pandai dengan mudah melupakan Tuhan. Mereka bahkan terang-terangan mengatakan bahwa Allah mereka adalah sains. Itulah berhala modern kaum bijak dan pandai. Sementara orang kecil, para pendosa atau kaum anawim selalu mengandalkan Tuhan. Yesus berkata, "Terlepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:5). 

Kita tentu bertanya, apakah hanya kepada orang kecil Tuhan berkenan? Bagaimana dengan mereka yang lain, yang mengklaim dirinya orang bijak dan pandai? Sebagaimana dikatakan di atas, selalu ada kecenderungan manusiawi yang mengandalkan kepandaian dan kebijaksanaannya. Mereka selalu berpikir dapat mengatasi seluruh hidupnya dengan dirinya sendiri.Orang-orang kecil adalah orang yang miskin, kaum pendosa, penjahat, yang selalu menjadi kaum pinggiran. Mereka-mereka ini akan berharap kepada Tuhan. Nah, tentu tidak semua orang pandai dan bijak mengandalkan dirinya. Kata-kata Yesus ini hanya merupakan peringatan bagi kesombongan manusiawi kita.

Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan kecaman Allah atas kesombongan orang-orang Asyur: "Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu!" Tuhan menggunakan Asyur untuk menghancurkan Israel yang berdosa melawan Tuhan (murtad).  Akibatnya mereka akan dihancurkan, mereka akan diinjak seperti lumpur di jalan. Namun demikian, akan tiba saatnya Tuhan juga menghancurkan Asyur dan memberi kehidupan baru kepada sisa-sisa Israel. Itulah cara Tuhan menyadarkan manusia: menegur dengan keras karena perbuatan dosa dan memberi hidup dan harapan baru kepada mereka.

Yesus juga merupakan tanda kehadiran Bapa surgawi. Dia adalah utusan Bapa untuk menyelamatkan manusia. Itu sebabnya Ia mengatakan bahwa semua sudah diserahkan Bapa kepadaNya. Artinya kita sudah diserahkan oleh Bapa kepada Yesus dan kita milikNya. Hanya Bapa yang mengenal Yesus sang Putera dan semua orang yang berkenan di hadirat Yesus. Ini suatu kebanggaan bagi kita sebagai orang yang dibaptis karena kita adalah milik Yesus. Apakah kita menyadarinya di dalam hidup kita?   

Sabda Tuhan menyadarkan kita untuk rendah hati di hadapan Tuhan. Tuhan yang melebihi segala-galanya bukan diri kita. Kerendahan hati adalah sebuah kebajikan. Humiltas dalam bahasa Latin, atau kita kenal humus merupakan zat yang tidak kelihatan tetapi dapat menyuburkan tanaman. Demikian kerendahan hati itu kebajikan yang tidak kelihatan tetapi memberi kekuatan dan kehidupan kepada sesama yang lain. Maka mari kita mengandalkan Tuhan dan membuang kesombongan pribadi. 

Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu. 

PJSDB

Tuesday, July 17, 2012

Renungan 17 Juli 2012

Hari Selasa, Pekan Biasa XV
Yes 7:1-9
Mzm 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8
Mat 11 20-24
Celakalah engkau...

Ada seorang bapa yang dikenal sangat ramah. Hampir semua orang yang mengenalnya memiliki kesan yang sama bahwa dia orang yang ramah dan baik hati. Dengan demikian banyak orang akrab bersahabat dan sangat menghormatinya. Namun demikian ada di antara mereka yang memanfaatkan kebaikan dari bapa tanpa nama ini. Lama kelamaan ia semakin mengerti bahwa orang menjadi dekat dengan dia karena ada kepentingan-kepentingan tertentu yang menguntungkan mereka, dan sedangkan nasib –orang-orang kecil tidak diperhatikan.  Amarah dan kekesalan juga keluar dari mulutnya.

Yesus juga memiliki pengalaman yang mirip. Ia berkeliling dan berbuat baik dengan melakukan banyak tanda heran dan mengajar dengan penuh kuasa serta wibawa ilahi. Orang orang di kota-kota di sekitar danau Galilea merasakan hadirnya Kerajaan Allah. Kota-kota yang dimaksud adalah Khorazim yang letaknya  di atas bukit.  Dari Kaperaun kelihatan Khorazim sangat mempesona. Dari Kapernaum Yesus juga memandang ke arah dataran tinggi Golan. Di pinggir danau Gallea terdapat kota Betzaida. Yesus sendiri berada di Kapernaum sebagai kota  di mana  orang menyebutnya sebagai kotanya Yesus.  Di ketiga kota ini Tuhan Yesus melakukan banyak mukjizat tetapi hati orang-orang tidak terbuka  padaNya. Mereka hanya terpesona sebentar saja dan rasa terpesona itu cepat berlalu begitu saja. Sabda yang diucapkan Yesus juga  tidak mendapat tempat yang istimewa di dalam hati para penghuni kota ini. Mereka tetap pada hidup lama yang penuh dengan dosa.  

Tentu saja Yesus merasa kecewa karena usaha baikNya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di kedua kota ini tidak mendapat dampak yang positif yaitu perubahan hidup. Maka dengan keras Yesus mengecam kota-kota  ini dan mengangkat kota-kota orang kafir yang bertobat yaitu Tirus dan Sidon. Kedua kota ini dinilai sebagai kota-kota di luar komunitas orang-orang Yahudi. Yesus berkata, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betzaida! Engkau Kapernaum akan diturunkan sampai ke dunia orang mati” Yesus mengecam kota-kota ini karena mereka tidak mau bertobat dan percaya kepada pewartaanNya dan pewartaan para Rasul. Sedangkan kota Tirus, Sidon, Sodom dan Gomora merupakan kota-kota di luar komunitas Yahudi dan kota-kota yang pernah jatuh dalam dosa dipuji karena penduduknya mau berubah atau bertobat. Tanggungan atau hukuman  mereka pun lebih ringan.

Tentu kita dapat bertanya, mengapa Yesus yang setiap hari berada di kota-kota ini berani mengancam mereka? Satu alasan yang penting adalah karena Yesus mengenal mereka. Mereka mengalami mukjizat tetapi tidak mengimani pribadi yang membuat mujizat yaitu Tuhan sendiri. Keakraban pribadi dengan Yesus itu hal yang bagus tetapi akan lebih bagus lagi kalau orang mau bertobat dan percaya kepada Kristus.

Pengalaman Yesus ini juga pernah dialami nabi Yesaya. Dalam bacaan pertama Yesaya membagi pengalamannya terutama kesulitan-kesulitan dalam hidup sosialnya saat itu. Rezin, raja Aram dengan Pekah bin Remalya raja Israel maju ke Yerusalem untuk berperang melawan raja Ahas dan oang-orang Yehuda. Tuhan memanggil Yesaya dan mengutusnya pergi untuk menghimbau Ahas: “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang; Jangan takut dan jangan hatimu kecut. Jika kalian tidak percaya, nicaya kalian tidak teguh jaya.” Yesaya memang berhadapan dengan situasi dimana ada pertentangan satu sama lain tetapi ia juga percaya bahwa Tuhan akan terlibat dan membela orang-orang kecil. Yerusalem sebagai ibu kota Yehuda di lindungi oleh Tuhan. Semua orang baik masyarakat biasa maupun raja Ahas menjadi tenang karena Tuhan menyertai mereka.

Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita akan beberapa hal berikut:

Pertama, terkadang orang merasa sangat akrab dan bersahabat dengan Yesus dalam hidup doa atau mengalami karunia tertentu  dan lupa bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Kesombongan rohani dapat membuat orang menjadi atheis di dalam Gereja. Pertobatan juga tidak akan terjadi karena orang merasa bahwa sudah akrab dengan Tuhan dalam hidup doa dan kehidupan devosional. Seharusnya, semakin merasakan keakraban dengan Tuhan, orang semakin bertobat dan menjadi kudus, bukan semakin sombong dan menganggap rendah orang lain. Apakah anda juga merasa sombong secara rohani dan menganggap rendah sesama yang lain?

Kedua, Lebih baik bertobat dari pada mati di dalam dosa. Kota-kota yang disanjung Yesus yaitu Tirus, Sidon sebagai kota-kota di luar komunitas Yahudi, Sodom dan Gomora adalah kota-kota yang pernah jatuh dalam dosa. Orang berdosa ketika “tau diri” bahwa ia berdosa dan bertobat maka itu adalah sukacita besar di Sorga. Bagaimana dengan pertobatan pribadimu?

Ketiga, Setiap orang memiliki badai kehidupan. Selalu saja ada pertentangan, perselisihan bahkan peperangan. Orang harus berprinsip bahwa badai pasti berlalu. Biarkanlah pengalaman ini mendewasakan secara rohani. Tuhan akan tetap mengatakan: “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang; Jangan takut dan jangan hatimu kecut.”

Keempat, Sikap suka mengancam dan mengecam orang lain. Banyak kali kita mudah mengecam orang-orang tertentu. Yesus mengecam kota-kota ini karena Dia tahu bahwa mereka berdosa dan tidak mau bertobat. Kita mengecam orang lain karena kita irihati, dengki dan sombong. Mereka yang bertelinga hendaknya mendengar!

Doa: Tuhan, semoga kami dapat bertobat dan percaya kepadaMu. Amen

PJSDB

Monday, July 16, 2012

Renungan 16 Juli 2012

Hari  Senin, Pekan Biasa XV
Yes 1:11-17
Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23
Mat 10:34-11:1

Berapa harga sebuah perbuatan kasih?

seorang anak datang berbelanja di sebuah toko bernama Toko Sinar Kasih. Sudah lama ia mendengar dari para gurunya pengajaran tentang kasih. Gurunya selalu mengatakan cinta kasih itu nilainya mahal dan tidak dapat diperjualbelikan. Karena terus menerus mengulangi kalimat yang sama maka pada suatu ketika seorang anak membongkar kotak tabungannya. Di dalam kotak itu terdapat coin senilai Rp.75000. Ia membawa uangnya ini ke toko Sinar Kasih. Di sana ia bertanya kepada penjaga toko itu: “Apakah di sini dijual cinta kasih?”  “Maksudmu apa?” tanya penjaga Toko itu. “Saya selalu lewat di depan toko ini dan ditulis Toko Sinar Kasih maka saya yakin di sini pasti dijual cinta kasih, lagi pula cinta kasih bersinar. Boleh tahu, di sini dijual seharga berapa?” Penjaga toko itu mengantar anak yang mau membeli cinta kasih itu kepada pemilik toko. Anak itu bertanya kepada pemilik toko, “Pak, saya mau membeli cinta kasih yang bersinar. Berapa harganya? Pemilik toko itu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan parcel  istimewa  dengan pita bertuliskan: “Toko Sinar kasih selalu memberi cinta kasih  secara gratis”.

Penginjil Matius hari ini menghadirkan Tuhan Yesus yang  melanjutkan wejangannya kepada para rasulNya. Sebagai rasul-rasul yang baik, mereka diingatkan untuk menjadi rasul cinta kasih. Rasul cinta kasih dalam arti menjunjung tinggi cinta kasih kepada Tuhan di atas segalanya. Yesus berkata, “Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barang siapa mengasihi putera atau puterinya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu.” Memang Allah adalah kasih, maka cinta kasih kepada Tuhan menjadi segalanya dan sebanding dengan cinta kasih terhadap sesama. Cinta kasih itu nilainya tinggi tetapi gratis dari Tuhan.

Dalam hidup kristiani, cinta kasih Allah menjadi nyata di dalam misteri Salib. Tetang hal ini Yesus berkata, “Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagiku”. Cinta kasih semakin konkret dalam perbuatan kasih setiap hari yang membuat seorang layak bagi Yesus. Yesus berkata, “Barangsiapa memberi air sejuk  secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia adalah muridKu, sungguh ia tidak kehilangan upahnya”.

Tuhan melalui Nabi Yesaya juga menekankan aspek perbuatan kasih kepada sesama terutama saudara-saudara yang paling kecil. Melalui Yesaya Tuhan berfirman, “Bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mataKu. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, uahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda.”

Sabda Tuhan mengajak kita tetap bersemangat dalam pelayanan-pelayanan kasih. Cinta kasih itu sifatnya universal dan berasal dari Tuhan. Sebagai manusia kita menjawabi cinta Tuhan dan menjadi tanda serta pembawa cinta kasih yang sama kepada sesama kita terutama yang paling miskin. Kita telah menerima cuma-cuma dari Tuhan maka kita juga memberinya dengan cuma-cuma kepada sesama. Berapa harga sebuah perbuatan kasih?

Doa: Tuhan, semoga kami mampu mengasihi sebagaimana Engkau telah mengasihi kami.

PJSDB