Friday, October 19, 2012

Renungan 19 Oktober 2012

Hari Jumat, Pekan Biasa XXVIII
Ef 1:11-14
Mzm 33:1-2.4-5.12-13
Luk 12:1-7

Tuhan tidak pernah lupa!

Ada seorang pemuda yang datang mengeluh kepada saya. Dia merasa hidupnya tidak berarti lagi. Berkali-kali ia mencari pasangan tetapi tidak pernah ada yang cocok. Dia selalu berdoa dan beramal. Ia berharap Tuhan akan memperhatikan segala kebajikannya ini. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginannya belum dikabulkan Tuhan. Ia lalu berpikir bahwa Tuhan sudah tuli, tidak mau mendengarnya lagi. Dia kecewa dengan Tuhan. Pengalaman orang muda ini tentu menjadi pengalaman banyak orang. Ketika mengalami pergumulan hidup tertentu, masalah demi masalah datang silih berganti, orang mudah menjadi putus asa dan langsung mempertanyakan keberadaan Tuhan. Orang membuat perhitungan tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan tetapi seolah-olah tidak diperhitungkan Tuhan.

Yesus menurut penginjil Lukas, melanjutkan kontroversi langsungnya dengan kaum Farisi. Kepada banyak orang Yesus berkata, “Waspadalah terhadap ragi yaitu kemunafikan orang Yahudi.” Farisi adalah sebuah partai yang berusaha untuk mempertahankan kemurnian Taurat. Itu sebabnya mereka berusaha mewujudkannya secara legal tetapi lupa akan hal-hal yang lebih esensial yaitu cinta kasih dan keadilan. Legalitas dijunjung tinggi tetapi cinta kasih kepada Tuhan dan sesama diabaikan. Ini yang tidak dikehendaki Yesus karena sebetulnya inti Taurat adalah kasih.

Yesus juga mengatakan kepada banyak orang untuk takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan bukan karena Tuhan menakutkan tetapi karena Tuhan itu mahakasih. Oleh karena itu seorang anak yang baik di hadirat Tuhan akan menunjukkan seluruh cinta kasihnya, ketaatannya, sembah sujudnya hanya bagi Tuhan. Tuhanlah yang menciptakan dan Tuhanlah yang mengatur segala-galanya. Itu sebabnya Yesus berkata, “Janganlah kalian takut akan mereka yang dapat membunuh tetapi kemudian mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sungguh, Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!”

Pada akhirnya Yesus mengingatkan banyak orang itu alasan mengapa mereka takut akan Tuhan.Tuhanlah yang punya kuasa atas segala ciptaanNya, “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguh pun demikian, tidak seekor pun dilupakan Allah. Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu janganlah kalian takut karena kalian lebih berharga dari pada banyaknya burung pipit”.

Apakah Tuhan lupa dengan manusia? Ternyata manusia boleh lupa Tuhan, tetapi Tuhan sendiri tidak pernah lupa manusia. Manusia lebih berharga dari segalanya karena ia diciptakan sewajah dengan Tuhan sendiri. Manusia adalah citra Allah, biji mata Allah. Maka manusia lebih berharga. Bahwa adanya penderitaan dan kemalangan bahkan kematian, adanya bencana di mana-mana bukanlah mau mengingkari adanya Tuhan yang mahabaik. Tuhan tetaplah Tuhan yang mahabaik, tetapi manusialah yang lupa diri di hadiratNya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyadari kehadiran Tuhan, penyertaan dan kasihNya tiada batas. Kita tentu harus merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama kepada sesama. Sesama manusia juga bergharga pada dirinya sendiri. Hargailah martabat sesama dan perjuangkanlah nilai-nilai kehidupannya.

Doa: Tuhan, kasih dan penyertaanMu tiada batasnya. Amen

PJSDB

Thursday, October 18, 2012

Renungan 18 Oktober 2012

St. Lukas, Pengarang Injil
2Tim 4:10-17b
Mzm 145:10-13ab.17-18
Luk 10:1-9

Hanya Lukaslah yang tinggal dengan aku

Hari ini seluruh gereja katolik merayakan Pesta St. Lukas. Ia dikenal sebagai pelukis hidup Yesus. Ia lahir di Antiokhia dari sebuah keluarga kafir. Antiokhia adalah salah satu kota yang termashyur dalam Kerajaan Romawi karena luas dan makmur. Pada saat ini dikenal dengan nama Antakya di Turki. Kota ini didirikan  sekitar abad ke-4 SM oleh Seleukos I Nicator salah satu jenderal Alexander Agung. Ketika terjadi penganiayaan terhadap jemaat Kristiani di Yerusalem, banyak di antara mereka yang melarikan diri ke Antiokhia. Di sana Kristus dan InjilNya diwartakan. Banyak orang kafir bertobat, termasuk Lukanos atau Lukas. Di sinilah murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kali disebut kristen atau Kristus Kecil (Kis 11:26). Lukas sendiri adalah seorang tabib terkemuka di Antiokia. Pendidikannya memadai sehingga pengalaman bersama Yesus dan Paulus nantinya ditulis di dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. 

Setelah bertobat Lukas bergabung dengan Paulus yang sedang melakukan perjalanan misioner ke Makedonia, Yerusalem dan Roma. Paulus sempat ditahan dan dipenjara dua tahun lamanya. Lukas mengunjungi Paulus dengan setia dan melayani serta meneguhkannya. Dengan membaca Injil dan Kisah Para Rasul kita dibantu oleh Lukas untuk mengerti bahwa keselamatan dari Allah diperuntukkan bagi semua bangsa. Lukas punya pilihan istimewa yaitu kaum papa dan miskin. Bagi Lukas, Injil ditujukan kepada orang-orang lemah, dan hina dina kepada kaum fakir dan miskin serta kaum pendosa. Injil Lukas dikenal dengan nama Injil kerahiman Allah atau Injil cinta kasih Allah. Lambangnya sebagai pengarang Injil adalah lembu karena lembu adalah binatang untuk persembahan dan Lukas juga memulai Injilnya dengan kisah imam Zakharia yang membawa kurban persembahan di Bait Allah Yerusalem. Lukas meninggal dunia dalam usia 84 tahun sebagai martir.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari pesta St. Lukas ini mengundang kita untuk memahami tugas dan perutusan  masing-masing. Ketika Paulus merasa sendirian karena ditinggalkan orang-orang dekat maka Ia mengakui bahwa hanya Lukaslah yang setia mendampinginya. Ia mengatakan bahwa pada saat pembelaannya yang pertama, tak ada saudara yang membantunya. Ia memiliki harapan besar bahwa Tuhan akan mendampingi dan menguatkannya sehingga dalam mewartakan Injil semua orang dapat mendengarnya. Paulus setia kepada Kristus dan kesetiaannya ini berpengaruh terhadap hidup pribadinya dan rekan-rekannya yang lain. Lukas adalah salah seorang yang mengalami sendiri pengaruh kehidupan Paulus. 

Di dalam bacaan Injil hari ini Lukas mengambil kisah tentang perutusan para murid. Sebelumnya Lukas telah mengutus keduabelas rasul (Luk 9:1-6) dengan tugas khusus dalam pelayanan Gereja. Dengan kuasa Yesus, para rasul menjalani perutusannya dengan sempurna. Dalam konteks Gereja, para rasul adalah hirarki Gereja, dalam hal ini para gembala di dalam Gereja. Mereka diberi kuasa oleh Tuhan Yesus dengan RohNya yang kudus untuk mengusir setan an menyembuhkan orang sakit. Kali ini Yesus mengutus tujuh puluh dua murid. Mereka masuk dan keluar kampung untuk mewartakan kasih dan damai Tuhan. Dalam konteks gereja, ketujuhpuluh dua murid ini adalah lambang umat Allah. Jadi Gereja tidak hanya berjalan karena hirarki atau para gembala saja tetapi Gereja juga hidup dari pelayanan-pelayanan seluruh umat beriman (awam).

Yesus memohon kepada para utusannya untuk berdoa, memohon Dia yang empunya pekerja untuk mengirim pekerja-pekerjanya ke kebun anggur. Kata Yesus, “Tuaian banyak tetapi pekerjanya sedikit”. Yesus juga mengingatkan mereka untuk menjadi pewarta yang sukses: hidup sederhana, membawa damai dan kasih Tuhan dan mengingatkan semua orang bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Hal yang harus dihindari adalah kekhawatiran. Kalau ada Yesus, mengapa harus khawatir dalam hidupmu?

Kita bersyukur kepada Tuhan hari ini karena boleh mengenal lebih dalam lagi kehidupan St. Lukas. Dia tabib yang sukses dan pelayan yang setia. Dialah yang menggambarkan secara nyata bagaimana Gereja Kristus lahir dan bagaimana perkembangannya hingga mencapai negeri-negeri yang jauh dari Yerusalem. Sebuah gereja misioner yang membutuhkan pekerja-pekerja dari Tuhan. Apakah anda juga siap diutus?

Doa: Tuhan, semoga kami setia melayani Engkau. Amen

PJSDB

Wednesday, October 17, 2012

Salam Maria

Doakanlah kami

Ketika mendoakan doa Salam Maria, kita selalu mengucapkan kata “doakanlah kami”. Kita berharap agar Bunda Maria mendoakan kita di hadapan Bapa di Surga. Pengalaman menunjukkan bahwa rahmat Tuhan tercurah melalui perantaraan para kudus terutama melalui Bunda Maria. Banyak umat Kristiani yang mengucap syukur kepada Tuhan karena doa novena tiga kali Salam Maria didengar oleh Tuhan dan dikabulkan. Tentu Marialah yang membisikannya kepada Bapa surgawi dan Bapa mengabulkannya.

Doa Bunda Maria memiliki satu aspek istimewa: doa untuk memuji dan memuliakan Allah  karena segala kebaikan yang Ia berikan kepada umat manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kehidupan doa pribadi dan komunitas? Apakah kita memiliki kesempatan untuk memuji dan memuliakan Tuhan karena segala yang Ia limpahkan bagi kita dan ciptaan lainnya? Kita harus tahu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Kita melihat dalam diri Bunda Maria. Ia bukan hanya memuji dan menyembah Tuhan, Ia juga menjadi perantara doa-doa dari manusia kepada Tuhan.

Pada masa ini banyak orang mulai kehilangan rasa berdosa dan bersalah. Dosa berarti melawan kasih Tuhan. Semakin kita berusaha untuk mencintai Tuhan, kita juga semakin berusaha untuk membenci dosa-dosa. Semakin kita percaya kepada Tuhan, kita seharusnya makin hidup dalam kemurnian dan kejujuran di hadiratNya. Semakin sedikit kita mengasihi Tuhan, kita juga semakin tidak memiliki rasa bersalah dan berdosa di dalam hidup.

Sekiranya kita mengasihi Tuhan, kita akan merasa betapa rapuhnya hidup ini. Iblis senantiasa mencari kesempatan untuk mencoba, menggoda dan menghancurkan. Dalam kelemahan kita sebagai manusia, kita sungguh membutuhkan seorang ibu yang setia mendoakan kita sebagai orang berdosa. Itu sebabnya kita selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati”. Dia mendoakan segala kebutuhan kita.  Dia juga menghendaki agar hidup kita benar-benar layak di hadirat Tuhan sebagai orang kudus menyerupainya. Doa-doa Bunda Maria sangatlah mujarab karena langsung ke hati Bapa.

Refleksi: belajar dari peran Maria sebagai pendoa, apakah anda seorang pendoa ulung bagi sesama?

PJSDB

Renungan 17 Oktober 2012

St. Ignasius dari Antiokhia
Hari Rabu, Pekan  Biasa XXVIII
Fil 3:17-4:1 
Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9.10-11
Yoh 12:24-26

Akulah Ignasius pengikut Dia yang tersalib!

Hari ini seluruh Gereja merayakan Peringatan St.Ignasius dari Antiokhia. Ignasius adalah murid St. Yohanes Rasul dan Penginjil. Ia adalah murid Yohanes yang mengesankan karena ia pandai, saleh, dan bijaksana. Karena ia memiliki banyak kebajikan sehingga diangkat menjadi uskup di Antiokhia. Pada waktu itu umat Kristiani dianiaya oleh Kaisar Trajanus. Ignasius juga ikut dikejar oleh kaisar ini. Gereja yakni umat Allah saat itu dihadapkan pada pilihan: murtad atau mati. Bagi mereka yang murtad akan menyangkal iman kepada Yesus dan tetap hidup tetapi mereka yang memilih mati akan mendapat hukuman sampai mati.

Ignasius ditangkap dan dihadapkan pada Kaisar. Kaisar bertanya kepada Ignasius, “Siapakah engkau, hai orang jahat yang tidak mentaati perintahku?” Ignasius menjawabnya, “Jangan menyebut jahat orang yang membawa Tuhan  dalam dirinya. Akulah Ignasius, pemimpin orang-orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Kami semua adalah pengikut Kristus yang telah disalibkan bagi keselamatan umat manusia.Kristus itulah Tuhan kami, dan Ia tetap tinggal dalam hati kami dan menyertai kami”. Setelah mengatakan demikian, ia ditangkap dan dibawa ke Roma untuk dihukum mati. Di Roma ia di lemparkan ke dalam kandang singa yang lapar dan langsung dilahap. Meskipun demikian, dalam perjalanan menuju kematian, Ia masih menghibur jemaatnya Antiokhia dan memohon doa mereka.

Ignasius adalah contoh pribadi yang menyerahkan segala-galanya untuk Tuhan. Ia tidak takut, tidak merasa dirinya rugi menjadi martir tetapi menjadi martir adalah panggilannya yang luhur sebagai tanda cinta kasihnya kepada Yesus. Ignasius memohon kepada umatnya: “Doakanlah aku agar aku mendapat kekuatan lahir dan bathin, menjadi seorang yang tabah dalam iman dan supaya aku menjadi benar-benar orang kristen bukan saja dengan nama tetapi lebih-lebih dengan perbuatan yang nyata. Aku menuliskan surat ini kepadamu selagi aku masih hidup. Kekasihku sudah disalibkan maka aku pun tidak merindukan sesuatu yang duniawi. Aku merindukan persatuan dengan Dia”

Doa Ignasius ini sangat inspiratif karena dapat membantu kita untuk memahami Injil pada hari ini. Yesus berkata, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Hal yang ditonjolkan oleh Yohanes adalah pentingnya kematianNya untuk menghasilkan buah keselamatan bagi umat manusia. Yesus itu laksana biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati sehingga menghasilkan banyak buah. Untuk mempertegas pernyataan ini, Yesus mengundang para murid untuk mengikutiNya. Tentang hal ini Yesus berkata, ”Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Yesus tentu mengundang para muridNya untuk mengikuti jejakNya. Jadi perlu keberanian dan siap menderita demi Kristus. Yesus pada akhirnya mengajak semua muridNya untuk melayani Dia dan mengikutiNya. Orang-orang seperti ini akan dihormati oleh Bapa.

Paulus dalam bacaan pertama mengajak jemaat di Filipi untuk mengikuti teladannya. Paulus menunjukkan teladan kesetiaannya pada Kristus. Ia sedih karena banyak orang mengaku memusuhi salib Kristus. Mereka hidup jauh dari Yesus. Itu sebabnya Paulus mengatakan bahwa kesudahan mereka adalah kebinasaan, Tuhan mereka adalah perut, kemuliaan mereka adalah hal-hal aib, pikiran mereka hanya pada hal-hal duniawi. Paulus juga mengingatkan jemaat di Filipi bahwa mereka adalah warga Kerajaan Allah. Kristus sendiri akan mengubah tubuh kita sehingga menjadi serupa dengan tubuhNya yang mulia. Karena itu hendaklah mereka berdiri dengan teguh di hadapan Allah.

Pengajaran Yesus dan himbauan Paulus membuat kita menjadi sadar diri sebagai pengikut Kristus. Kita semua adalah warga sekolahnya Yesus yakni Sekolah Memikul Salib (SMS). Menjadi pengikut Kristus sama dengan Ignasius yang wafat demi iman dan cintanya kepada Kristus. Atau sama dengan Paulus yang rela menderita karena Kristus yang ia kasihi. Apakah kita juga berani untuk memberi segalanya untuk Tuhan? Atau kita justru selalu membuat perhitungan untung dan rugi dengan Tuhan?

Doa: Tuhan, kuatkanlah kami untuk menjadi saksiMu. Amen

PJSDB

Tuesday, October 16, 2012

Salam Maria

Bunda Allah


Pada suatu kesempatan saya ditanya oleh seorang anak muda: "Mengapa Tuhan Yesus Kristus itu sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia?"

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya teringat di dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa Yesus secara tak terpisahkan sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia dalam kesatuan Pribadi ilahiNya. Yesus adalah Putera Allah yang diahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa. Jadi Yesus sungguh-sungguh manusia, Dia menjadi saudara kita, sebagai Allah, Dia menjadi Tuhan kita.

Konsili Kalsedon 451, mengajarkan: “Putera yang satu dan sama, Tuhan Yesus Kristus, sempurna dalam keilahianNya, dan sempurna dalam kemanusiaanNya. Dia sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, terdiri dari jiwa yang rasional dan badan. Dia sehakikat denga Bapa karena keilahianNya, sehakikat dengan kita karena kemanusiaanNya, kecuali dalam hal dosa. Ia dilahirkan oleh Maria Perawan dan Bunda Allah, menurut kemanusiaan".

Maria adalah Bunda Allah! Allah yang mana?

Bapa di surga memiliki rencana istimewa bagi setiap orang. Ia memilih Maria dari para wanita menjadi Bunda Yesus PuteraNya. Dialah Allah yang berkarya sejak masa Perjanjian Lama sampai sekarang ini. Dia membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir dan mengantar mereka ke Tanah terjanji. Allah yang mereka dengar suaraNya di padang gurun tetapi mereka tidak melihatNya. Hanya Musa yang dapat melihat dan berbicara denganNya. Dia berjalan dengan manusia dan menjadi pembimbing yang setia. Yesus adalah pemenuhan janji Allah untuk mendampingi manusia. Dialah Emanuel, Allah besrta kita.

Tanda penyertaan Tuhan sempurna di dalam Yesus, Putera Allah. Ia dilahirkan oleh Bunda Maria. Karena jasa Yesus Kristus Putera Allah maka Maria juga menjadi Bunda Allah. Maria Santissima adalah Bunda Yesus, sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Maria menjawabi kasih Tuhan dan bersedia menjadi ibunda Yesus Putera Allah. 

Saya teringat St. Gegorius Naziansa (390) yang mengatakan: “Barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia)”.

Doktrin Maria sebagai Bunda Allah atau “Theotokos” dinyatakan Gereja melalui Konsili Efesus (431) dan Konsili Kalsedon (451). Namun sebenarnya, jauh sebelum konsili ini umat Kristiani sudah terbiasa menyapa Maria sebagai Bunda Allah. Perlu diketahu bahwa Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia.

Jelaslah bahwa doktrin Maria Bunda Allah bukan untuk semata-mata menghormati Maria, tetapi terutama untuk menghormati Yesus, “Sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah”. Gereja selalu mengimani Pribadi Yesus yang tunggal, yang merupakan persatuan sempurna antara keilahian dan kemanusiaan-Nya. Dengan demikian wajarlah kalau Maria disebut Bunda Allah.

Refleksi: Apa artinya Bunda Allah di dalam hidupmu?

PJSDB

Renungan 16 Oktober 2012

Hari Selasa, Pekan Biasa XXVIII
Gal 4:31b-5:6
Mzm 119: 41.43-45.47.48
Luk 11: 37-41

Bersih di luar, bersih di dalam!

Seorang pemuda datang berbicara dengan saya. Dia membuat janji-janji setelah mengikuti sebuah retret dan meminta saya untuk membantunya memilih janji yang dapat ia lakukan dalam waktu dekat. Ada satu janjinya berbunyi demikian, “Setelah retret ini saya mau berubah. Saya akan belajar melihat hal-hal terbaik dalam diri sesama dan berusaha melupakan kejelekan dan kejahatan mereka. Selama ini saya hanya melihat cashing sesama dan menilai mereka sesuai seleraku. Saya belum mampu mengasihi dengan segenap hati” Masih ada beberapa janji lainnya tetapi saya mengarahkan dia untuk memilih yang pertama ini dan cukup satu janji supaya bisa lebih konkret dalam menjalankannya. Dia berkomentar, “Romo kelihatan sangat berat”. Saya mengatakan kepadanya, “Anda harus berani mencoba, Tuhan akan membuka jalan bagimu” 

Setelah Yesus mengatakan dengan keras “generasi yang jahat” kepada banyak orang karena mereka meminta sebuah tanda, sekarang Yesus langsung berhadapan dengan kaum Farisi,. Salah satu kehebatan Tuhan Yesus adalah, Ia tidak menolak undangan orang  untuk makan bersama. Kali ini Ia diundang untuk makan siang di rumah seorang Farisi. Ini adalah kesempatan yang baik bagi orang Farisi untuk mengamati dari dekat perilaku Yesus. Yesus mengetahui hati kaum Farisi yang benar-benar mau menghayati hukum Taurat. Tetapi hal yang lebih penting bagi Yesus adalah Ia datang bukan untuk mencari orang benar melainkan orang berdosa untuk bertobat (Mat 9:13; Mrk 2:17; Luk 5:32). Itu sebabnya Ia tahu pasti ada masalah dengan kaum Farisi, tetapi Ia tetap masuk ke rumah orang Farisi untuk makan. Orang Farisi itu heran karena Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Tentu hal ini kurang bagus bagi orang Yahudi karena mereka harus membasuh diri sebelum makan.

Sambil memandang orang Farisi yang mengundang Dia untuk makan bersama, Ia berkata, “Hai orang-orang Farisi, kalian membersihkan cawan dan pinggan bagian luar, tetapi bagian dalam dirimu penuh dengan rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam? Maka berikanlah isinya sebagai sedekah dan semuanya akan bersih bagimu”. Teguran keras Yesus ini tidak hanya bagi kaum Farisi tetapi juga kepada para pemuka agama dan para ahli Taurat. Mereka-mereka ini memiliki kebiasaan melihat kelemahan orang lain dan membenarkan diri sebagai orang yang paling sempurna menghayati Taurat.

Yesus menegur mereka dengan kuasa dan wibawa. Orang-orang Farisi hanya memperhatikan hal-hal yang sifatnya eksternal. Mencuci cawan dan pinggan bagian luar adalah teguran Yesus kepada orang-orang Farisi yang hanya memandang hal-hal lahiriah saja. Mereka boleh menegur dan mengajar orang lain tetapi di dalam hati mereka terdapat timbunan kotoran berupa dosa dan salah. Hati mereka justru penuh dengan rampasan, dan kejahatan. Jadi Yesus justru melihat pada orang Farisi yang tidak memiliki sinkronisasi antara perkataan dan hidup mereka yang nyata. Tidak ada faedah membersihkan cawan bagian luar kalau di dalam cawan itu sendiri kotor! Tidak ada faedah melihat hal lahiriah padahal di dalam hati penuh dengan dosa.

Yesus dengan pertanyaan retoris “Bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam?” mau mengatakan bahwa religiositas yang benar nampak dengan jelas dalam jati diri setiap orang. Sikap bathin yang mambantu untuk bertumbuh dalam kasih dan damai jauh lebih berharga daripada hal-hal lahiriah belaka. Cinta kasih kepada sesama manusia harus mencakup totalitas hidupnya bukan hanya hal eksternal saja. Orang-orang Farisi lebih suka melihat cashing atau label luarnya dan lupa bahwa jati diri manusia itu jauh lebih bernilai. 

Untuk menjadi sempurna di hadirat Tuhan, orang tidak perlu banyak berbicara tentang cinta kasih tetapi melakukan perbuatan cinta kasih. Yesus berkata, “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan semuanya akan menjadi bersih bagimu”. Perhatian kepada kaum papa dan miskin, saling berbagi adalah hal yang luhur dan patut dilakukan di dalam hidup.

Banyak kali kita berlaku seperti orang-orang Farisi yang suka melihat kelemahan sesama, memperhatikan cashing orang lain dan langsung mengadilinya. Hal terpenting yang dituntut dari kita adalah kemurnian hati. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang murni hatinya karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). Ia juga mengajak kita semua, “Hendaklah kalian sempurna sama seperti Bapamu di Surga sempurna adanya.” (Mat 5:48).

Kebiasaan terlalu memperhatikan aspek legalitas dalam kehidupan beriman dapat menghalangi setiap pribadi untuk hidup berdampingan dan juga dalam berelasi dengan Tuhan sendiri. Paulus dengan tegas mengingatkan jemaat di Galatia untuk tidak hanya melihat hal-hal lahiriah seperti jemaat yang tidak bersunat dan yang bersunat. Bagi Paulus, Kristus telah memerdekakan jemaat melalui pembaptisan. Maka sebagai orang merdeka sunat itu tidak berarti sama sekali. Hal yang paling berarti adalah iman yang bekerja melalui cinta kasih.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bertumbuh dalam cinta kasih. Cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Setiap orang yang telah dikuduskan dalam pembaptisan terpanggil untuk memperhatikan sesama terutama yang miskin. Mereka adalah pilihan yang tepat untuk melayani mereka. Demikian juga orang-orang yang tidak sejalan dengan kita (sunat atau tidak bersunat), mereka tetaplah saudara yang dilayani dalam kasih. Tanda bahwa orang itu beriman kepada Kristus adalah kemampuannya untuk mengasihi. Kita terpanggil untuk bersih di luar dan bersih di dalam! 

Doa: Tuhan, jadikanlah kami menjadi tanda dan pembawa kasih kepada sesama. Amen

PJSDB

Monday, October 15, 2012

Salam Maria

Bunda oh Bundaku Maria

Maria Bunda Allah! Ini merupakan sebuah kebenaran sejati. Banyak teolog yang bertanya bagaimana mungkin seorang ciptaan  terbatas dan dapat wafat seperti Santa perawan Maria dapat memberi seluruh hidupnya kepada Dia yang tanpa batas dan abadi? Dalam sejarah gereja pernah sampai 400 tahun diskusi dan perdebatan, studi dan doa untuk mencari identitas yang jelas tentang Bunda Maria. Hasilnya adalah iman umat Allah tetap pada prinsip awal bahwa Maria adalah Bunda Allah. Ia mengandung Yesus Putera Allah, yang kita yakini sungguh-sungguh manusia, dan merupakan Pribadi ilahi yang kedua dalam Trinitas. Oleh karena Putera Allah adalah Allah sendiri maka Maria adalah Bunda Allah. Ini bukan hal yang sia-sia tetapi sebuah kebenaran.

Gregorius Taumaturgo menulis: “Maria memanifestasikan misteri Kristus Yesus. Dia seorang perawan berputerakan benar-benar Putera Allah. Menjadi seorang ibu, anaknya adalah benar-benar anak manusia. Di dalam dia, kita menemukan kebenaran tentang Pribadi Yesus”. Teolog Karl Rahner menegaskan, “Sekiranya Tuhan tidak memilih seorang ibu untuk melahirkan Anak Manusia di antara umat manusia, Ia tetap menjadi Allah, Dia, Allah, akan tetap menjadi sebuah ide abstrak yang menyelimuti kita. Namun Ia telah memilih seorang ibu, dan Dia menjadi seorang bayi yang lemah yang diterima dengan baik, dengan pelukan yang hangat. Seorang bayi yang lahir secara nyata di hadapan kita. Kita patut bersyukur kepada Bunda Maria yang menyatakan “Fiat” untuk mengikuti kehendak Tuhan.”  

Refleksi: Kita harus mengikuti rencana Allah di dalam diri kita masing-masing

PJSDB