Monday, December 24, 2012

Homili Misa Malam Natal Tahun A-B-C

Misa Malam Natal
Yes 9:1-6
Mzm 96:1-3.11-13.
Tit 2:11-14
Luk 2:1-14

Berjumpa dengan sang Bayi Yesus!

Sebuah keluarga merindukan kelahiran anak pertama. Siang dan malam ibunya mengelus perutnya sambil berkata, “Aku sayang engkau anakku”. Kadang-kadang kontak bathin ibunya membuat anak di dalam rahimnya melonjak kegirangan. Ia menghitung hari kehamilannya dengan sukacita. Oleh karena sangat mengasihi anak di dalam rahimnya maka ibu itu harus menjaga dirinya baik-baik, makanan yang dimakan juga istimewa, konsumsi obat-obatan juga selalu dengan kontrol dokter. Ibu menjaga anak dalam rahim seperti ia menjaga dirinya sendiri. Ini sebuah model kasih yang benar: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Ketika anak itu dilahirkan, ibunya memperhatikan perbedaan dan kesamaan dengan dirinya. Ada sukacita terpancar dari matanya. Semua orang berdatangan dan menyalaminya. Bayi yang lahir mempersatukan semua orang. Ia laksana terang yang menerangi seluruh keluarga dan kerabat.

Pada malam hari ini saat yang dinanti-nantikan akhirnya tiba juga. Kalau dalam dunia Perjanjian Lama, orang menanti kedatangan Mesias berabad-abad. Tuhan berulang kali berbicara dengan manusia dengan perantaraan para nabiNya. Pada akhirnya janji Tuhan itu terlaksana sempurna dalam diri Yesus Kristus. Pada saat ini di dalam liturgi Gereja kita memiliki masa adventus yang lamanya hanya empat minggu. Dalam masa adventus kita mengisinya dengan pertemuan untuk mendalami iman katolik di lingkungan-lingkungan, melakukan perbuatan amal kasih dan pertobatan pribadi. Terkadang hanya dalam waktu empat minggu umat katolik protes atau lelah menunggu. Tidak aktif dalam pertemuan untuk mendalami iman dengan seribu dua alasan. Padahal permenungan untuk mendalami iman katolik itu berfungsi untuk menyiapkan kita secara pribadi merayakan natal dengan sukacita. Sukacita dalam arti memiliki hati yang bersih.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan bagaimana situasi umat terpilih yang masih diliputi suasana dosa. Mereka dipimpin oleh raja yang tidak beriman kepada Tuhan. Yesaya menyamakan mereka dengan sebuah bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Dalam situasi yang tidak menentu ini maka Tuhan menjanjikan keselamatan dengan kelahiran seorang Putra. Kelahirannya ini laksana terang yang menerangi mereka semua. Yesaya menulis: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar; terang telah bersinar atas mereka yang berdiam di negeri kekelaman”. Berita tentang terang membuat semua orang bersukacita di hadapan Tuhan. Tuhan menjadi Mesias yang membebaskan bangsa terpilih ini dari aneka belenggu.

Berita sukacita yang lebih besar lagi, bukan hanya sekedar terang adalah kelahiran seorang anak, seorang Putera yang diberikan Tuhan kepada umat kesayanganNya. Ia memiliki kekuasaan istimewa dan akan disebut: Penasihat Allah, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai. Kuasanya akan besar dan tanpa akhir. Memang Tuhan adalah penguasa segalanya. Dialah Alfa dan Omega bagi segala ciptaan.

Nubuat Tuhan melalui nabi Yesaya bukan hanya sekedar kata-kata kosong. Nubuat itu terpenuhi dan menjadi nyata di dalam diri Yesus Kristus. Paulus dalam suratnya kepada Titus menulis, “Saudaraku terkasih, sudah nyatalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia. Kasih karunia itu mendidik kita agar meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan agar kita hidup bijaksana adil dan beribadat sambil menantikan penggenapannya dalam diri Yesus Kristus.” Bagi Paulus, Yesus sendiri menunjukkan teladan dengan menyerahkan diriNya bagi manusia. Dia menguduskan semua orang berdosa untuk layak di hadirat Tuhan. Pokok pikiran yang mau ditegaskan Paulus di sini adalah bahwa kasih karunia Allah sudah nyata bagi semua orang!

Betul, kasih karunia Allah nyata di dalam diri Yesus Kristus, Putra Allah. Rencana Allah untuk menyelamatkan manusia menjadi nyata dalam sejarah. Penginjil Lukas menulis warta kelahiran Yesus sesuai keadaan sosial politik yang terjadi saat itu. Artinya bahwa Allah sungguh masuk dalam sejarah kehidupan manusia. Dia berinkarnasi, menjadi manusia yang miskin supaya manusia menjadi kaya di hadirat Bapa. Situasi penuh kesederhanaan digambarkan sebagai warta sukacita hingga kita semua pada zaman ini. Para saksi kelahiran hanya Bunda Maria, seorang wanita sederhana, Yusuf sang tukang kayu yang nantinya menjadi Bapa pemelihara, para gembala dan ternak mereka.

Kelahiran Yesus merupakan suatu kesukaan besar. Tanda yang nyata sebagai kesukaan besar adalah diri Yesus sebagai bayi yang dibungkus dengan lampin dan dibaring di dalam palungan. Kelahiran Yesus menjadi kesukaan besar juga karena dengan demikian Allah dimuliakan di tempataNya yang mahatinggi, Damai sejahtera di bumi juga menjadi milik orang-orang yang berkenan padaNya.

Pertanyaan bagi kita saat ini adalah apa makna Natal bagi kita?

Pertama, Natal bukan hanya sekedar sebuah pesta yang sudah bercampur dengan nilai-nilai komersil. Barang-barang di toko diselimuti warna-warni tertentu bertuliskan Merry Christmas akan berubah nilai jualnya. Apalagi kalau ada gambar Santa Klaus maka nilai jualnya semakin berubah. Natal seperti ini sangat duniawi dan tidak kristiani. Natal adalah peristiwa keberpihakan Allah bagi manusia yang berdosa. Manusia yang oleh Yesaya, hidup dalam kegelapan akan melihat terang yang datang dari Tuhan sendiri (Bacaan I). Manusia menyadari kasih karunia yang nyata  bagi semua orang (Bacaan II). Manusia sederhana yang terbuka, yang memiliki damai yang tidak berkesudahan dari Tuhan (Injil).

Kedua, Natal adalah peristiwa manusia yang merasakan kasih karunia Tuhan berbela rasa dengan sesama yang menderita. Paulus dalam bacaan kedua mengatakan kepada Titus supaya setiap orang percaya meninggalkan kefasikan, keinginan-keinginan duniawi, hidup bijaksana, adil serta beribadat. Natal memiliki daya mengubah secara radikal pola pikir dan pola tindak manusia. Apakah ada rasa empati bagi orang yang mengalami natal dengan sesama yang saat ini sakit, mengalami musibah banjir, yang mengalami ketidakadilan sosial dalam masyarakat?

Ketiga, Natal membawa damai dari Tuhan bagi semua orang percaya. Tuhan berjanji dalam bacaan pertama akan memberi seorang anak dengan gelar: Penasihat Allah, Allah Yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai. Yesus adalah Raja damai, kesukaan besar bagi umat manusia. Damai bagi orang yang berkenan mengalami damai Tuhan.

Kiranya natal tahun ini membawa kita ke jalan yang benar. Kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak mengkomersilkan Tuhan tetapi menjadi pribadi yang sederhana sebagaimana diteladani Yesus sendiri. Natal juga membuat kita lebih solder lagi dengan sesama kita. Celakalah kalau dalam masa natal ini kita tertawa di atas penderitaan orang lain! Mari kita mewartakan kesukaan besar kelahiran Yesus bagi umat manusia.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau lahir bagiku. Amen

PJSDB

Renungan 24 Desember 2012

24 Desember
IISam 7:1-5.8b-12.14a-16
Mzm 89:2-3.4-5.27.29
Luk 1:67-79

Allah menyertai kita!

Kita berada di hari terakhir masa adventus. Selama masa adventus ini Tuhan menyapa dan membimbing kita hari demi hari menuju kepadaNya. Melalui figur tertentu di dalam Kitab Suci, kita merasakan penyertaan Tuhan. Sebagai contoh, nabi Yesaya tidak henti-hentinya berseru dan mengendalikan pikiran kita supaya selalu terarah hanya kepada Tuhan. Hidup setiap manusia ibarat bangsa Israel yang berada di Babel dan dipanggil untuk kembali kepada Tuhan. Ya, setiap pribadi memiliki babel-babel tertentu. Babel itu bisa menjadi pergumulan yang terus menerus yang akhirnya membangkitkan kesadaran bahwa Tuhan adalah asal dan tujuan segalanya.

Bunda Maria juga menjadi figur yang penting dalam persiapan kita untuk merayakan kelahiran Kristus. Maria adalah perawan yang dikandung tanpa noda dosa. Dia adalah wanita sederhana yang dipilih Tuhan menjadi ibu Yesus. Ada dua hal yang menarik dari kehidupan Maria dalam peristiwa Inkarnasi. Anak yang dilahirkan Maria akan dinamai Yesus maka konsekuensi logisnya adalah Yesus, Sabda yang menjelma menjadi manusia adalah Anak Maria. Elisabeth yang penuh dengan Roh Kudus berseru, “Siapakah aku sampai ibu Tuhanku mengunjungi aku?” Para majus dari Timur, ketika tiba di Bethlehem, masuk ke dalam rumah dan menemukan bayi itu bersama ibuNya. Maria punya peran istimewa seperti para wanita lain di dalam Kitab Suci: Istrinya Manoah yang memperanakkan Simson atau Hanna, ibunya Samuel, Elizabeth ibunya Yohanes Pembaptis. Mereka-mereka ini adalah wanita terpandang di dalam Kitab Suci.

Yohanes pembaptis adalah pribadi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Yesus. Dia mendapat kunjungan Yesus dan menunjukkan sukacitanya dengan melonjak kegirangan. Tugas terpenting dari Yohanes adalah menyiapkan jalan bagi Tuhan dengan seruan tobat. Ia membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan. Ia membentuk para muridnya dan nantinya memberikan kepada Yesus sang Anak Domba Allah. Ia rendah hati di hadapan Yesus, meskipun ia membaptis Yesus tetapi ia juga mengatakan, “Menunduk dan membuka tali sepatuNya pun aku tidak layak”.

Yusuf digambarkan sebagai pribadi yang tulus, jujur dan setia. Dia adalah keturunan Daud. Ia memiliki rencana untuk menceraikan diam-diam Maria karena Maria hamil sebelum mereka bersatu sebagai suami dan isteri. Tetapi malaikat Tuhan menyampaikan Yusuf untuk menerima Maria sebagai isterinya karena Anak yang dikandungnya berasal dari Roh Kudus yang menaunginya dan bahwa Anak Maria itu akan dinamai Yesus. Yusuf menerima semua rencana Tuhan dan menyimpannya di dalam hatinya.

Figur-figur ini menyiapkan kita secara rohani selama masa adventus ini. Bacaan-bacaan suci hari ini semakin nyata menyampaikan rencana Tuhan. Tuhan memilih Daud hambaNya menjadi raja dan Ia berjanji untuk tetap menyertainya. Daud sedang berada di rumahnya dengan nyaman, lagi pula Tuhan melindunginya dari serbuan para musuh. Oleh karena itu Daud mau membalas kebaikan Tuhan dengan keinginan untuk membangun rumah yang lebih layak untuk Tuhan. Namun Tuhan melalui nabi Nathan mengingatkan Daud bahwa Tuhan sendiri adalah asal dan tujuan segalanya. Tuhan akan mengokohkan kerajaan ilahinya dalam keluarga Daud. Tuhan punya alasan logis: Tuhanlah yang mengambil Daud dari padang, di mana saat itu dia adalah gembala yang terlupakan di dalam keluarganya, Tuhan juga yang menyertai Daud sebagai raja Israel, semua musuh ditaklukan dan nama Daud menjadi besar.

Samuel dalam bacaan pertama ini mau menegaskan bahwa Allah sungguh-sungguh Immanuel. Dalam pikiran Daud, Bait Allah adalah bangunan dari batu di mana Tuhan bersemayam. Ternyata Tuhan memiliki keinginan yang berbeda. Tuhan justru menghendaki agar Anak yang lahir dari keturunan Daud akan diangkat oleh Tuhan menjadi AnakNya. Tuhan sendiri akan mengokohkan kerajaannya selama-lamanya, takhta kerajaan juga akan kokoh selamanya. Bait Allah adalah manusia yang hidup sebagai tanda penyertaan Tuhan. 

Pengalaman Daud menjadi sempurna dalam pengalaman keluarga Zakaria. Dengan hadirnya Yohanes Pembaptis sebagai hadiah dari Tuhan maka Zakaria merasakan ini sebagai kunjungan dari Tuhan. Tuhan sendiri menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan di dalam keturunan Daud hambaNya sebagaimana sudah lama dinubuatkan para nabi.  Dalam kidung ini, Yesus diumpamakan sebagai “Surya Pagi” yang berada di tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam di dalam kegelapan dan naungan maut”.

Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita akan penyertaan Tuhan yang tiada habis-habisnya. Ia mengasihi kita maka Ia juga mengunjungi dan tinggal bersama kita. Dialah Immanuel, yang menyertai kita selamanya. Dialah yang mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera. Sambutlah kelahiranNya dengan sukacita!

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau menjadi Immanuel bagi kami. Amen

PJSDB

Sunday, December 23, 2012

Homili Hari Minggu Adven IV/C

Hari Minggu, Pekan Adven IV/C
Mi 5:2-5a
Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19
Ibr 10:5-10
Luk 1:39-45

Bahagiakah anda sebagai orang beriman?

Kita memasuki pekan terakhir dalam persiapan untuk merayakan natal. Bacaan-bacaan Kitab Suci perlahan-lahan namun pasti mengarahkan kita untuk masuk dalam peristiwa Natal. Pada pekan Adven III yang barusan dilewati, kita semua diajak untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan karena kasih dan kesetiaan Tuhan yang tiada batasnya bagi kita semua. Kita sebagai manusia tidak setia tetapi Tuhan setia adanya. Pertanyaan bagi kita menjelang perayaan natal ini adalah: Apakah ada sukacita di dalam hatimu untuk menyambut Tuhan Yesus?

Nabi Mikha adalah salah seorang nabi yang bernubuat hampir bersamaan dengan nabi Yesaya. Nabi Yesaya bernubuat: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Nubuat Yesaya berhubungan dengan kelahiran Puteranya Hizkia yang akan menjadi raja yang baik di masa depan. Nubuat Yesaya ini disamakan dengan nubuat bagi Bunda Maria di masa depan sebagai gadis yang melahirkan Yesus, sang Imanuel. Hizkia merupakan tanda kasih dari Tuhan bagi keluarga Ahaz, sedangkan Yesus merupakan tanda Tuhan kasih bagi umat manusia. Yesus sendiri dalam Injil Yohanes mengatakan diriNya sebagai tanda kasih Allah bagi dunia (Yoh 3:16).

Dalam Kitab Mikha kita menemukan informasi yang jelas tentang sang Mesias. Tempat kelahirannya jelas yaitu di Bethlehem. Anak itu dilahirkan oleh seorang perempuan yang sedang mengandung. Bethlehem adalah kota Daud maka Mesias berasal dai keturunan Daud. Ia akan memiliki power dari Allah dalam menggembalakan umatNya. Karena kelahirannya maka saudara-saudarannya akan kembali kepada orang Israel. Nama Tuhan juga akan dimegahkan dan dia sendiri akan menjadi damai sejahtera. Semua yang digambarkan Mikha dalam nubuat ini sungguh terlaksana dalam diri Yesus.

Bethlehem saat ini letaknya sekitar 8 km dari Yerusalem, penduduknya berjumlah sekitar 15000 jiwa. Bethlehem dalam bahasa Yahudi disebut “beth lehem” berarti “rumah roti” sedangkan dalam bahasa Arab disebut “bet lahm” artinya “rumah daging”. Dari makna kata Bethlehem jelaslah bagi kita rencana Tuhan bahwa Yesus sang Mesias lahir di rumah roti atau rumah daging bagi kita. Yesus nantinya menjadi roti kehidupan, Dialah Sabda yang menjadi daging dan tinggal di antara kita. Ini bukan faktor kebetulan bagi Bethlehem tetapi sudah direncanakan Tuhan. Kota Daud yang tidak punya nama besar menjadi besar namanya karena menjadi tempat lahirnya Yesus Kristus.

Kalau nabi Mikha bernubuat tentang tempat dan peran sang Mesias, Penulis kepada jemaat di Ibrani menjelaskan tentang Yesus sebagai Imam Agung yang sempurna. Ketika ia masuk ke dunia, Ia berkata, “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki! Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa, Engkau juga tidak berkenan.” Semua kurban dalam Perjanjian Lama belum sempurna. Para imam mempersembahkan kurban bakaran ini sebagai bagian dari ritus mereka. Tetapi ini adalah saat yang tepat dimana Yesus mempersembahkan diriNya sampai tuntas. Itu sebabnya ia berkata, “Lihatlah, Aku datang untuk melakukan kehendakMu.” Kehendak Tuhan bagi Yesus adalah mengurbankan diriNya sebagai Penebus umat manusia. Yesus sebagai Imam Agung, tidak lagi mempersembahkan kurban bakaran tetapi mempersembahkan dirinya sampai tuntas bagi keselamatan kita semua. Ia menghapus yang lama dan menegakkan yang baru. Itu sebabnya Penulis surat kepada jemaat Ibrani menulis: “Dan karena kehendak Allah inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan Tubuh Yesus Kristus.”

Penginjil Lukas mengisahkan kunjungan Maria yang sedang hamil muda kepada Elisabeth yang sanaknya yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Ketika tiba di rumah Zakaria, Maria menyalami Elisabeth dan Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan dalam rahim Elisabeth ibundanya. Pengalaman sukacita Yohanes ini bersama Roh Kudus yang memenuhinya membuat Maria mengidungkan madah ini: “Diberkatilah Engkau di antara para perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang telah percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana.” (Luk 1:42-45).

Kisah kunjungan Bunda Maria ke rumah Zakaria ini memiliki makna yang sangat mendalam. Dikatakan demikian karena Penginjil Lukas menghendaki agar kita mengenal secara lebih mendalam Yesus sebagai anak Maria yang disambut dengan suka cita dan diperkenalkan kepada Yohanes Pembaptis. Elisabeth mengakui Yesus di dalam rahim Maria sebagai Mesias dengan berkata, “Ibu Tuhanku”.  Bukan hanya Elisabeth sekeluarga yang mengakui Yesus sebagai Anak Maria tetapi kita semua saat ini juga percaya dan menerima Yesus sebagai Anak Bunda Maria.

Bunda Maria merupakan perempuan yang terberkati. Ia memainkan peranan yang sangat penting di dalam sejarah keselamatan. Ia melahiran Yesus, ibu Tuhan! Maria menjadi besar bukan karena dirinya sendiri tetapi karena jasa Yesus Kristus Puteranya.  Dalam Bacaan pertama Mikha menganggap Yerusalem sebagai kota yang tidak dikenal tetapi akan muncul seorang pemimpin yang kuat, demikian Bunda Maria juga seorang wanita sederhana akan melahirkan Yesus, sang Penyelamat dunia.

Namun demikian perlu kita sadari bahwa devosi kepada Bunda Maria sebagai Ibu Yesus bukanlah hal yang terpenting bagi Lukas. Mengapa? Karena menjadi Ibu Yesus itu sudah sah ketika Maria berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Hal terpenting dalam diri Maria dan menjadi segala-galanya  adalah bahwa dia percaya! Maria adalah orang percaya. Elisabeth menyapa Maria sebagai “Bahagia” bukan karena Maria adalah ibu Yesus,  tetapi karena Maria percaya pada Sabda Allah. Elisabeth penuh dengan Roh Kudus maka ia juga tidak mengatakan berbagialah “engkau” (hanya Maria) yang telah percaya melainkan “berbahagialah ia (saat ini kita semua) yang telah percaya”. Berbahagialah semua orang, anda dan saya yang percaya kepada Tuhan dan SabdaNya.

Pertanyaan refleksinya adalah, “Apakah anda sudah menyiapkan diri dengan baik untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan juru selamat kita?” Apakah anda bahagia merayakan natal? Sambutlah Tuhan dengan sukacita. Dia lahir di rumah roti dan rumah daging karena Dialah Roti surga, Roti Ekaristi. Dia juga lahir di rumah daging karena Dia mempersembahkan Tubuh dan darahNya untuk kita semua.

Doa: Tuhan, semoga saya menyambut kedatanganMu dengan hati yang bersih. Amen

PJSDB

Renungan 23 November 2012

23 Desember
Mal 3:1-4
Mzm 25: 4-5b. 8-9.10.14
Luk 1:57-66

Namanya adalah Yohanes!

Mengatakan “Apalah arti sebuah nama” mengingatkan kita pada figur Shakespeare. Nama itu menunjukkan totalitas kehidupan manusia. Nama diberikan oleh orang tua atau mereka yang lahir lebih dahulu sebagai sebuah doa dan harapan bagi mereka yang baru lahir. Di dalam gereja Katolik diberikan nama Baptis dengan tujuan, pribadi itu mengambil kebajikan dan keteladanan dari santo dan santa dan membantunya untuk masuk surga. Misalnya kalau ia menggunakan nama Irene. Irene berarti damai maka orang yang menggunakan nama Irene menyadari panggilannya untuk membawa damai kepada sesama. Nama selalu punya arti yang mendalam.

Kisah kelahiran Yohanes Pembaptis memang sangat unik. Setelah Elizabeth dan Zakaria yang sudah berumur, mendapat berita sukacita dari Malaikat bahwa mereka akan dikaruniai seorang anak laki-laki dan akan diberi nama Yohanes. Kelahiran Yohanes merupakan sukacita tersendiri bagi keluarga dan kerabat dekat Zakaria. Suasana keluarga terharu dan bahagia ketika pada hari kedelapan bayi itu disunat dan diberi nama. Banyak orang berpikir namanya adalah Zakaria seperti bapanya tetapi Elizabeth mengatakan namanya adalah Yohanes. Bapanya ditanya dan ia juga menulis nama bayi itu adalah Yohanes. Yohanes berarti Tuhan Allah berbelas kasih. Belas kasih Tuhan sedang dirasakan oleh setiap pribadi dalam keluarga Zakaria dan semua kerabat yang berkumpul saat itu.  Semua orang takjub dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Tangan Tuhan memang menyertai Yohanes. Ia amat populer di dalam kitab suci ketika mempersiapkan umat Allah untuk menyambut kedatangan Tuhan. Memang Yohanes nantinya menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Dia kelak akan membaptis banyak orang dengan air sebagai tanda pertobatan. Dialah yang membawa murid-muridnya untuk mengikuti Yesus sang Anak Domba Allah.

Maleakhi dalam bacaan pertama bernubuat, “Lihat, Aku menyuruh utusanku supaya ia mempersiapkan  jalan bagi Tuhan.” Pribadi yang dimaksudkan nabi Elia. Nabi Elia adalah pribadi yang datang terlebih dahulu sebelum hari Tuhan. Dalam kacamata kristiani utusan yang dimaksud oleh nabi adalah Yohanes Pembaptis. Dialah utusan Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya dengan seruan tobat. Ia bermatiraga dan hidup sederhana. Ia memperjuangkan kebenaran dan keadilan, meski harus melawan arus dan akhirnya gugur sebagai martir. Utusan Tuhan memang bernasib seperti sang Maestro Yesus sendiri. Mereka mendapat penganiayaan bahkan kematian seperti yang pernah dialami Yesus sendiri.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk meluhurkan nama setiap pribadi karena nama itu kudus dari Allah. Apalah arti sebuah nama? Nama menunjuk jati diri pribadi! Bagaimana anda menghargai nama orang-orang di sekitarmu?

Doa: Tuhan, aku bersyukur kepadaMu atas nama yang Engkau berikan kepadaku. Amen

PJSDB

Saturday, December 22, 2012

Renungan 22 Desember 2012

22 Desember
1Sam 1:24-28
Mzm (1Sam) 2: 1.4-5.6-7.8abcd
Luk 1:46-56

Segala keturunan menyebut aku bahagia!

Ada sebuah benih kecil yang tercecer dan tidak dipedulikan orang. Keadaan ini membuat benih juga merasa rendah diri dan kehilangan rasa percaya diri. Pada suatu hari ada angin kencang di daerah itu maka benih pun diterbangkan angin ke suatu tempat yang baru. Kini ia berada di sebuah lahan terbuka dan mengalami panasnya matahari, dan dinginnya hujan. Setelah dua puluh tahun, pada suatu hari benih yang sudah menjadi sebatang pohon besar itu mendengar ucapan seorang pria di dekatnya: “Tuhan, saya mengucap syukur kepadamu di siang hari ini. Engkau telah memberikannya sebagai pelindung bagiku”. Pohon itu mendengar dan bertanya kepadanya: “Apa yang anda katakan?”  Benih yang sudah menjadi pohon itu berpikir bahwa sang pria itu sedang mengolok-oloknya. Ia berkata, “Saya ini hanya sebutir benih kecil, bagaimana mungkin anda mengatakan bahwa saya telah melindungimu untuk beristirahat?” Pria itu bertanya, “Benih? Apakah anda  sedang bercanda? Anda bukan lagi sebutir benih tetapi sudah menjadi sebatang pohon besar. Anda bukan lagi sebutir benih kecil dan tidak diperhatikan, tetapi sudah menjadi sebatang pohon yang diperhatikan banyak orang”

Kalau masuk dalam pengalaman hidup setiap hari, kita juga pernah menjadi benih kecil yang tidak diperhatikan. Saya sendiri dapat membandingkan diri saya sendiri sebelum masuk seminari hingga menjadi imam. Sebelumnya orang juga tidak mengenal, ada yang mengenal tetapi dengan ragu-ragu mengatakan, “Apakah dia bisa?” dan ada yang mengenal dan percaya bahwa Tuhan betul-betul memanggil saya menjadi imam. Ini adalah pengalaman benih yang terlupakan dan sekarang sudah menjadi pohon yang melindungi. Anda juga pernah menjadi benih, pernah mengalami panas teriknya matahari kehidupan, hujan dan badai tetapi kini menjadi pohon yang melindungi bahkan memberi makan banyak orang.

Bacaan-bacaan suci pada hari ini menghadirkan figur dua ibu yang melahirkan anak-anak yang istimewa. Di bacaan pertama,  Samuel menceritakan masa lalunya. Hana, ibunya pernah merasa memiliki beban sebelum Samuel dilahirkan. Ia berdoa dan bernazar di rumah Tuhan di Silo bahwa kiranya Tuhan memperhatikan doanya dan berjanji akan membaktikan anak itu kepada Tuhan. Maka beberapa saat setelah Samuel, anaknya lahir, ibunya membawanya ke rumah Tuhan di Silo, untuk mewujudkan janjinya kepada Tuhan. Anak itu akan tinggal dengan imam Eli dan ia akan  melayani Tuhan.  Persembahan seperti lembu  berusia 3 tahun, satu tepung efa dan sebuyung anggur. Luar biasa Hanna, ibunda Samuel. Dia sungguh-sungguh mewujudkan kaulnya di hadirat Tuhan. Samuel artinya “dia yang berasal dari Allah” Tindakan orang tua Samuel membuat kita semakin berpasrah dan memberi diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya.

Dalam bacaan Injil Figur Bunda Maria ditampilkan. Setelah berdialog dengan Elizabeth maka Maria mengagungkan Tuhan dengan Magnificatnya. Dalam Magnificat ini Bunda Mara melihat masa lalunya ibarat benih di atas. Dia hanya wanita sederhana di Nazareth, tidak terkenal tetapi Tuhan berkenan memanggilnya menjadi ibu Yesus sang penebus. Maria berkata, “Sesungguhnya mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia? Mengapa Maria akan disebut berbahagia? Maria patuh kepada Tuhan maka secara turun temurun orang mengenal dan mencintainya. Kita pun dalam sapaan doa Salam Maria kita mau mengatakan bahwa Bunda Maria berbahagia. Kebahagiaan terbesar adalah karena dia rela menjadi Bunda bagi Yesus sang Penebus.

Mari kita mengikuti teladan Hanna dan Bunda Maria. Mereka telah membuktikan bahwa iman itu penting sebagaimana dikatakan Yesus di dalam Injil bahwa iman sebesar biji sesawi pun dapat memindahkan gunung (Mat 17:20). Biji sesawi sekecil apa pun benihnya akan menjadi pohon besar. Demikian iman kita hendaknya bertumbuh menjadi semakin besar, hari demi hari. Sabda Tuhan juga membantu menyadari bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya. Dialah Allah kita dan kita umat yang disayangiNya.

Kita juga patut bersyukur kepada Tuhan karena pengalaman kita hari ini berbeda dengan pengalaman kemarin. Kemarin kita hanya benih kecil, sekarang sudah menjadi pohon besar, yang melindungi dan memberi diri untuk kebahagiaan orang lain. Apakah anda bahagia dalam melayani sesama? Ingat, jadilah pribadi terbaik sehingga semua orang dapat menyapamu "berbahagia". 

Doa: Tuhan, semoga hari ini menjadi hari bahagia bagi kami. Amen

PJSDB

Friday, December 21, 2012

Renungan 21 Desember 2012

21 Desember
Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a
Mzm 33: 2-3.11-12.20-21
Luk 1: 39-45

Berbahagialah dia yang telah percaya!

Hari tahbisan imamat tiba. Keluarga imam baru berkumpul bersama untuk bersyukur kepada Tuhan atas rahmat panggilan dan pilihan menjadi imam.  Tentu saja ini adalah hari penuh sukacita baik bagi sang imam baru dan keluarganya. Dalam suasana sukacita itu, salah seorang frater bertanya kepada ibu sang imam baru: “Bagaimana perasaan hati ibu saat ini?” “Saya sangat berbahagia” Jawab ibu itu. “Apakah ibu yakin anak ibu akan menjadi imam yang baik?” “Tentu saja saya yakin karena saya percaya Tuhan akan membantunya” Jawab ibu itu. “Apakah ibu menyesal kalau anakmu menjadi imam?” tanya frater lagi. “Saya akan menyesal kalau ia meninggalkan imamat, tetapi menjadi seorang imam saat ini adalah sebuah syukur”, Jawab ibu  sang imam baru sambil tersenyum.

Ini sebuah dialog singkat seorang frater dan ibu seorang imam baru. Jawaban ibu sang imam baru memang sederhana tetapi mengungkapkan suasana bathin dirinya sebagai seorang ibu. Tentu ibu ini berani mengungkapkan perasaan hatinya karena dia percaya pada rencana Tuhan bagi dirinya dan anak yang dilahirkan dan kini menjadi seorang imam. 

Kita berada di pekan ketiga adven atau pekan sukacita. Bacaan-bacaan dari Kitab Suci dalam liturgi kita juga menunjukkan suasana penuh sukacita. Bacaan pertama dari Kitab Kidung Agung mengungkapkan betapa besar cinta kasih Allah kepada manusia. Cinta kasih Allah itu melebihi cinta kasih suami dan isteri. Suami isteri bisa tidak setia dalam cinta kasih mereka, tetapi Tuhan tetap setia dalam kasih. Memang tepatlah kata Pemazmur: “Tuhan itu adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setianya” (Mzm 103:8). Cinta kasih nyata dalam perbuatan bukan hanya sekedar kata-kata kosong: “Dengarlah! Itulah kekasihku! Lihatlah, ia datang, ia datang, melompat-lompat di atas gunung, meloncat-loncat di atas perbukitan. Kekasihku itu laksana kijang atau anak rusa” Orang yang mengasihi tidak akan tinggal diam, ia akan bergerak untuk melayani dengan kelincahan dan keterampilannya.

Tidak berhenti pada kelincahan dalam melayani. Tuhan juga menyapa dengan lembut setiap pribadi tatkala mereka terlelap dalam kenyamanan musim dingin: “Bangunlah, Manisku! Jelitaku, marilah! Lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah berlalu.” Di samping sapaan yang manis ini, keharmonisan alam juga digambarkan dengan keindahan bunga-bungaan. Ini sebenarnya menunjukkan gambaran keindahan Tuhan yang mengasihi umat kesayanganNya. Ia menyiapkan sebuah dunia dengan tatanan yang harmonis supaya setiap orang boleh menikmati kasih setiaNya.

Di samping Kitab Kidung Agung, kita juga mendapat warta sukacita dalam nubuat Zefanya. Bagi Zefanya, Tuhan adalah raja kita. Dialah pahlawan yang memberi kemenangan. Ia menjadi immanuel, tinggal di tengah-tengah kita maka kita seharusnya bersyukur kepadaNya. Mengapa kita patut bersyukur kepada Tuhan? Karena Tuhan tidak memperhitungkan dosa-dosa kita. Ia telah menghapus dosa-dosa kita. Tuhan juga rela tinggal bersama kita. Ia berada di tengah-tengah kita maka kita jangan takut. Pertanyaan bagi kita adalah, kalau Tuhan menunjukkan kash setiaNya dan rela tinggal di tengah-tengah kita, mengapa masih takut dengan kehidupan?

Penginjil Lukas melukiskan suasana bathin Bunda Maria. Ia mengalami sukacita besar karena dipilih Tuhan menjadi ibu bagi Yesus PuteraNya. Suka cita dan kesukaan besar ini tidak hanya menjadi milik Bunda Maria, tetapi ia membawanya kepada sesama lain. Peristiwa Bunda Maria mengunjungi Elisabeth saudaranya merupakan peristiwa sukacita karena ibu sang Penebus berjumpa dengan ibu sang perintis. Elisabeth yang penuh  dengan Roh Kudus berkata, “Siapakah aku sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sukacita tidak hanya dirasakan oleh kedua ibu tetapi anak yang di dalam rahim pun ikut bergembira. Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan ketika berjumpa dengan Yesus. Suka cita Maria menjadi nyata dalam semangat melayani saudaranya. Mengapa? Karena Maria beriman. Itu sebabnya Elisabeth berkata, “Sungguh berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang telah dikatakan kepadanya akan terlaksana”

Sabda Tuhan hari ini menguatkan kita untuk senantiasa bersukacita. Kita bersukacita karena cinta kasih Allah yang begitu agung kepada kita semua. Ia tidak memperhitungkan dosa dan salah kita, tetapi memperhatikan iman dan kepercayaan kita kepadaNya. Hari ini kita juga mendapat tugas baru dalam perutusan kita: menjadi tanda dan pembawa kasih kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan dan pelayanan kita. Bunda Maria adalah model yang tepat bagi kita pada hari ini: mengasihi berarti melayani.

Doa: Tuhan bantulah kami untuk menjadi tanda dan pembawa kasihMu bagi sesama manusia. Amen

PJSDB

Thursday, December 20, 2012

Renungan 20 Desember 2012

20 Desember
Yes 7:10-14
Mzm 24:1-2.3-4b.5-6
Luk 1:26-38

Tuhan menyertai engkau!

Permenungan kita kemarin 19 Desember adalah khabar sukacita tentang kelahiran Simson dan Yohanes Pebaptis. Inti khabar sukacitanya adalah Tuhan menggunakan orang-orang kecil dan lemah untuk menyatakan diri dan kemuliaanNya di dalam diri anak-anak yang lahir. Siapakah orang-orang kecil itu? Mereka adalah orang tua, sudah lanjut usia, tetapi Tuhan menunjukkan kasih setianya dengan berjanji untuk memberikan keturunan baru. Mengapa Tuhan berjanji? Karena Tuhan melihat iman orang tua Simson yaitu Manoha dan isterinya, dan Zakaria beserta Elisabeth isterinya. Mereka adalah orang tua saleh yang patut mendapat berkat dari Tuhan.

Saya teringat pada keluarga sederhana di sebuah kampung. Suami isteri itu memiliki kerinduan supaya anak mereka yang baru lahir itu memiliki masa depan yang bagus. Sebelum anak itu lahir dokter sudah memberikan vonis bahwa anak itu bakalan cacat seumur hidup. Orang tuanya tidak merasa resah dengan vonis dokter ini. Mereka mempercayakan semuanya kepada Tuhan. Lagi pula orang tuanya percaya bahwa proses kelahirannya sudah normal dan Tuhan pasti akan memberinya hidup normal. Mukjizat Tuhan sungguh terjadi. Anak itu bertumbuh sehat hingga sekarang ini. Ketika saya bertanya kepada ibu dan bapa tentang pengalaman ini, mereka hanya menjawab, “Karena Tuhan menyertai kami sekeluarga”.  

Pada hari ini Tuhan menunjukkan penyertaanNya bagi dua keluarga. Keluarga pertama adalah Raja Ahaz dalam Kitab nabi Yesaya. Raja Ahaz secara politis terisolasi. Para tentara Israel dan Damaskus sedang terdesak dan seakan melarikan diri. Dalam situasi seperti ini, Yesaya mengusulkan kepada raja untuk percaya kepada Tuhan. Tetapi raja justru berkeinginan untuk tetap bertempur. Namun Yesaya tetap menawarkan solusi yang  terbaik dari kuasa Tuhan. Tuhan melalui Yesaya berkata kepada Ahaz: “Mintalah suatu tanda dari Tuhan, Allahmu, entah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah, entah sesuatu dari tempat tertinggi yang diatas” (Yes 7:10). Tetapi Ahaz menjawab, “Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!” (Yes 7:12). 

Bagi nabi Yesaya, jawaban dari raja ini bukan menunjukkan ketulusan iman. Hal sesungguhnya terjadi adalah kemunafikan sang raja. Maka nabi Yesaya geram dan berkata, “Baiklah! Dengarlah, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu tanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Immanuel.” (Yes 7:13-14)

Siapakah Immanuel itu? Nabi Yesaya merujuk pada putera Ahas yang masih di dalam kandungan istrinya. Nama Putera Ahas adalah Hizkia. Nama Hizkia berarti Tuhan adalah kekuatanku. Hizkia nantinya terkenal sebagai raja yang saleh dan sebagai raja yang mantap secara politis. Pada masa pemerintahannya Samaria runtuh (2Raj 18:10) sekitar tahun 722sM. Penyerbuan atas Yehuda oleh Sanherib pada tahun 701sM dikatakan tahun ke-14 raja Hizkia (2Raj 8:13). Nah, Hizkia kemungkinan besar sebagai figur yang dijanjikan Allah di dalam keluarga ini. Dia menjadi prefigurasi sang Juru Selamat dunia oleh Tuhan sendiri. Kitab Perjanjian Baru, mengikuti terjemahan Septaquinta, dikatakan bahwa oracle nabi Yesaya ini berhubungan dengan Yesus sebagai Immanuel dan Maria ibunya. 

Penginjil Lukas membeberkan berita sukacita tentang kelahiran Yesus. Detail-detail tertentu yang kita dengar dalam Injil hari ini: Bulan ke enam, Tuhan mengutus Malaikat Gabriel kepada Maria. Terjadiah dialog antara Malaikat Gabriel dengan Maria. Malaikat berkata, "Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang Putera dan berilah nama Yesus". Maria mengatakan persetujuannya bersama dengan malaikat ketika menjawab, “Aku ini hamba, terjadilah padaku menurut perkataanMu”. Dengan mengatakan persetujuannya ini maka Maria menjadi segalanya bagi Tuhan dan manusia. Sikap Maria ini menjadi model dan panutan bagi kita untuk menjawabi kehendak Allah. Apa pun tantangan yang kita hadapi, hadapilah dengan sukacita karena Tuhan adalah Immanuel bagi kita.

Hari ini menjadi sangat istimewa karena janji Tuhan dipenuhi. Ia memperhatikan hamba yang hina dina. Dialah Yesus sendiri yang kita imani, sahabat orang-orang berdosa dan kaum pinggiran. Dialah satu-satunya penyelamat kita. Dia lahir untuk kita semua. Bagaimana anda dan saya menyambut kedatanganNya? Mari kita membangun semangat pertobatan. Apalah artinya memperoleh seluruh dunia, kalau kita sendiri tidak hidup baik sebagai orang percaya. Ingatlah, keselamatan hanya ada di dalam nama Yesus Tuhan kita. Tuhan menyertai engkau! Hari ini ulangi perlahan-lahan kalimat ini: "Tuhan menyertai saya".

Doa: Tuhan, sertailah kami semua, bimbinglah kami ke jalan yang benar. Amen

PJSDB