Monday, April 22, 2013

Renungan 22 April 2013

Hari Senin, Paskah IV
Kis 11:1-18
Mzm 42:2-3;43:3.4
Yoh 10:1-10

Keselamatan bagi semua orang

Komunitas gereja perdana merasa bangga bisa mengikuti Yesus dari Nazaret. Setelah menerima Roh Kudus pada hari Pentekosta, para pengikut Tuhan semakin berani untuk mewartakan injil, menata komunitas dengan semangat sehati dan sejiwa dan melakukan ekspansi ke daerah-daerah lain sesuai pesan Yesus: “Karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:19-20). Masalah yang muncul adalah di antara para pengikut Tuhan masih banyak yang sifat nasionalismenya tinggi dan merasa diri sebagai status quo keselamatan. Mereka berpikir bahwa Yesus orang Yahudi maka FirmanNya hanya diperuntukkan bagi orang Yahudi saja.

Lukas dalam Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana keadaan nyata Gereja Perdana.
Para Rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima Firman Allah. Orang-orang bersunat di Yerusalem melayangkan protes kerasnya kepada Petrus karena ia juga masuk ke rumah orang-orang tak bersunat dan makan bersama-sama mereka. Tetapi Petrus menjelaskan bahwa semua ini bukan kehendaknya melainkan kehendak Tuhan untuk menyelamatkan semua orang. Oleh karena itu tindakannya terhadap Kornelius seorang perwira Romawi dan keluarganya adalah kehendak Tuhan. Tuhanlah yang mau menyelamatkan mereka. Petrus hanyalah seorang utusan Tuhan. Petrus juga mengingatkan saudara-saudara akan pengalaman Pentekosta terutama bahwa mereka semua dibaptis dengan Roh Kudus maka setiap tindakan atau karya Roh, tidak dapat dicegah.

Pengalaman Petrus ini menarik dalam konteks kehidupan menggereja. Orang-orang kristiani di Yerusalem adalah orang-orang Yahudi yang menjadi pengikut Yesus dari Nazaret. Mereka memiliki latar belakang pendidikan, prasangka-prasangka sosial dan perasaan-perasaan tertentu. Mereka saat itu belum mengerti bagaimana seseorang menjadi anggota keluarga Yesus. Apakah hanya orang Yahudi atau kaum bersunat atau orang-orang bukan Yahudi atau tak bersunat juga memiliki hak untuk menjadi pengikut Kristus dan diselamatkan oleh Yesus. Apakah orang bukan Yahudi dapat menjadi saudara tanpa melalui sunat? Situasi gereja yang majemuk sekarang ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak takut seperti Petrus. Pemimpin yang berani menjadi pintu masuk bagi dialog kehidupan, bagi persaudaraan sejati baik di dalam gereja sendiri maupun di luar gereja.

Menjadi pintu masuk? Penginjil Yohanes hari ini memperkenalkan diskursus Yesus tentang Gembala Baik. Kepada orang-orang Farisi Yesus berkata: “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba tidak melalui pintu, tetapi memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan perampok, tetapi siapa yang masuk melalui pintu, dialah gembala domba”. Perkataan Yesus ini menunjuk pada pengalaman konkret para gembala di Israel. Ada kandang domba yang berisi banyak domba. Kandang itu tentu memiliki penjaga dan pelindung bagi domba-domba. Penjaga dan pelindung domba berinteraksi dengan domba melalui pintu yang benar. kalau orang yang bukan penjaga dan pelindung domba disebut pencuri dan perampok karena mereka masuk ke dalam kandang tanpa melalui pintu.

Gembala domba memiliki kredibilitas yang tinggi. Kehadiriannya di kandang domba
membuat para pembantu bersedia membuka pintu kandang, domba-domba mendengar suaranya, ia memanggil domba-domba sesuai namanya dan menuntun keluar. ia akan berjalan di depan domba-domba dan domba-domba mengikutinya karena mereka mengenal suaranya. Sang gembala memang sangat kredibel. Ia bersahabat dengan domba-dombanya. Ia hebat karena memberi nama kepada semua domba, dan memanggil mereka sesuai dengan nama yang telah ia berikan. Ketika nama disebut, mereka mendengar suara dan mengikutinya. Kita boleh bertanya, bagaimana kemampuan kita untuk memperhatikan saudara-saudari dan anak-anak atau anggota keluarga? Apakah anda memberi dan memanggil nama anak-anak, saudara  saudari sesuai dengan namanya? Anda tidak akan menjadi pemimpin yang berhasil kalau tidak bisa mengingat nama orang-orang disekitarmu.

Saya teringat pada kisah opa dan oma yang kemesraannya tiada batasnya. Ketika oma merayakan hari ulang tahunnya yang ke 95, semua keluarga besar hadir untuk merayakannya. Pada saat itu semua anak dan cucu kaget karena sampai usia 95 tahun, opa masih memanggil nama oma dengan sapaan “Sayangku”. Seorang cucu berani bertanya kepadanya mengapa ia memanggil oma seperti itu. Opa berbisik kepada cucu, “Ssst ini rahasia opa dan cucu ya. Opa sudah lama lupa nama oma maka lebih mudah menyapanya sayangku”. Apakah sapaan kita harus berubah? Yesus memanggil kita dengan nama masing-masing.

Rupa-rupanya perumpamaan Yesus kepada kaum Farisi juga belum dimengerti. Oleh karena itu Yesus berkata lagi: “Sesungguhnya Akulah pintu kepada domba-domba. Semua yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu, dan barangsiapa masuk melalui pintu akan selamat. Ia akan masuk keluar dan menemukan padang rumput.” Benar, Yesus adalah pintu dimana semua orang dapat memiliki kelimpahan hidup.

Sabda Tuhan hari ini membuka wawasan kita untuk mengerti bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang. Orang-orang dari berbagai suku, bangsa dan bahasa memiliki hak yang sama untuk diselamatkan oleh Yesus. Yesus adalah gembala yang mengenal domba-domba dan domba-domba juga mengenal suaraNya. Yesus juga menjadi pintu untuk mempersatukan Allah Bapa dan manusia. Apakah anda sungguh percaya bahwa Yesus adalah Pintu masuk kepada keselamatan abadi?

Doa: Tuhan, Kami mengucapkan sukur dan terima kasih kepadaMu karena Engkau senantiasa bersedia untuk menjadi gembala dan pintu masuk bagi kami. Bantulah kami agar menjadi gembala yang baik dan pintu masuk bagi banyak orang. Amen

PJSDB

Sunday, April 21, 2013

Pengalaman insipiratif

Orang buta juga manusia


Hari Minggu Panggilan. Sahabatku dokter gigi Elisabeth dari Persekutuan doa RS Premier Jatinegara, Jakarta Timur mengundangku untuk membawakan renungan bagi anak-anak buta yang sedang diasuh di Yayasan Elsafan. Sesuai jadwal pelayanan, hari ini persekutuan doa melakukan kunjungan Panti asuhan dan beramal kasih. Saya sendiri diminta untuk membawakan renungan sederhana bagi anak-anak Panti asuhan Elsafan. Permintaan ini mengagetkan sekaligus tantangan bagi saya karena untuk pertama kali saya membawakan renungan bagi anak-anak yang buta. Mereka tidak melihat saya tetapi mendengar suaraku.

Kami tiba di panti asuhan sekitar jam 10.45 dan
pada jam 11 mulai ibadat ekumene dengan aneka pujian. Pada kesempatan ini anak-anak panti asuhan menunjukkan kebolehan mereka dalam bidang musik dan tarik suara. Melan, seorang gadis berdarah Batak menyanyikan lagu-lagu rohani yang luar biasa indahnya. Miguel juga membawakan lagu dengan tema kasih ibu dan sebuah puisi buat ibu. Puisi itu sederhana tetapi menggambarkan bagaimana anak yang buta mengasihi ibunya. Secara singkat puisi itu mengatakan hal ini: ‘Ibu terima kasih karena engkau telah mengandung dan melahirkan aku. Sembilan bulan aku berada di dalam rahimmu dan engkau menanti dengan sabar. Ketika aku lahir, engkau berpikir aku adalah anakmu yang normal, tetapi ternyata aku buta. Aku tidak melihatmu, wajah dan senyummu yang manis pun tidak kulihat. tetapi engkau tidak pernah berhenti tersenyum padaku anakmu yang buta. Aku merasakannya dan aku juga mengatakan love you mom. Hug and kisses.” Sebuah puisi sederhana namun penuh makna. Kelihatan sahabatku dokter Elisabeth dan beberapa rekannya tidak kuat menahan air mata.

Saya sendiri membawakan Firman Tuhan dari Injil Yoh 10:27-30. Pada waktu itu Yesus berkata:
“Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku, dan Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu”. Mereka semua mendengar dengan penuh perhatian.

Dalam renungan sederhana itu saya mengingatkan mereka bahwa Tuhan Yesus juga sangat mengasihi mereka. Selama hidupNya di dunia, orang-orang buta adalah sahabat-sahabat Yesus. Kita ingat kisah dua orang buta dalam Injil Matius yang mengikutiNya sambil berseru: “Kasihanilah kami hai Anak Daud”. Setelah menyatakan iman kepada Yesus, mereka akhirnya disembuhkan (Mat 9:27-29). Kisah ini juga mirip dengan kisah dua orang buta lainnya dalam Injil Matius 20:30-34. Kisah orang buta lain yang juga terkenal adalah Bartimeus (Mrk 10:46-52). Yesus juga menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (Yoh 9:1). Orang-orang yang cacat dikasihi Tuhan. Hal ini kiranya tepat dengan apa yang dikatakan Yesus kepada para utusan Yohanes Pembaptis: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:5). Singkatnya orang-orang cacat adalah opsi pelayanan Yesus selama ada di dunia. Tentu saja satu alasan yang tidak bisa kita kesampingkan adalah karena Yesus adalah terang dunia.

Saya yakin bahwa kata-kata Tuhan Yesus dalam kutipan Injil ini digenapi di dalam diri mereka. Anak-anak tuna netra dengan segala keterbatasan mereka selalu mendengar Tuhan dan Tuhan sendiri mengenal mereka satu persatu. Mereka boleh memiliki keterbatasan tetapi Tuhan melihat mereka sebagai makhluk yang sempurna. Itu sebabnya Tuhan juga memberikan hidup kekal kepada mereka. Itu sebabnya saya meyakinkan mereka bahwa mereka juga dikasihi oleh Tuhan.

Saya teringat akan figur Helen Keller. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia membuat revolusi besar bagi dunia. Saya ingat kata-kata yang indah dari Helen Keller yang saya bagikan kepada anak-anak di yayasan Elsafan. Helen Keller pernah berkata: “Apabila kau senantiasa menghadap ke matahari, kau takkan pernah melihat bayangan. Hadapilah kekurangan anda dan akuilah semua itu, tetapi jangan membiarkannya menguasai anda. Biarkanlah kekuranganmu itu mengajarkanmu kesabaran dan pengertian. Ingatlah bahwa ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka, tetapi seringkali kita hanya terlalu lama melihat pintu yang tertutup saja sehingga kita tidak menyadari bahwa sudah ada pintu lain yang terbuka bagi kita. Memang, rasa mengasihani diri adalah musuh kita yang paling buruk dan jika kita takluk kepadanya, kita tidak akan pernah melakukan sesuatu yang terbaik dan bijaksana di bumi ini.”

Melihat anak-anak yang buta, sebagian besar memiliki
perasaan optimis meskipun ada kekurangan yang mereka miliki. Salah seorang anak yang saya kenal dengan baik bernama Dennis Griffin (15 thn). Dia adalah anak ajaib yang serba bisa dalam dunia musik. Dennis juga selalu optimis dan tidak pernah mengeluh tentang mengapa dirinya seperti itu. Dia hanya bersyukur, pasrah dan tetap semangat di dalam hidupnya. Saya ingat juga tokoh-tokoh dunia yang mengalami keterbatasan tetapi dikenal di seluruh dunia seperti Andrea Bocelli dan Stevie Wonder memiliki suara emas dan mengubah dunia ini. Di dalam dunia ini orang yang dianggap kecil dan terbatas, Tuhan berkenan menjadi besar di dalam diri mereka.

Tuhan memang ajaib dan mengadakan karya besar di antara kita. Mari kita memandang saudara-saudara kaum tuna netra sebagai manusia yang memiliki bakat dan kemampuan terpendam. Tuhan berkarya di dalam diri mereka. Mereka lebih berharga dari emas!

Tuhan terima kasih untuk pengalaman yang indah pada hari ini. Engkau mengajarkanku bahwa Engkau adalah terang sejati, gembala yang baik bagi semua orang. Berkatilah anak-anak tuna netra untuk memandangMu dalam iman dengan sukacita. Amen.

PJSDB

Homili Hari Minggu Paskah IV/C

Hari Minggu Paskah IV
Kis 13:14.43-52
Mzm 100:2.3.5
Why 7:9.14b-17
Yoh 10:27-30

Aku memberi hidup kekal kepada domba-dombaKu!

Dalam suatu pertemuan saya mendengar sharing seorang sahabat yang sederhana tetapi memiliki makna yang mendalam. Baginya, salah seorang yang sangat dia kagumi adalah guru Sekolah Dasarnya. Mengapa ia kagumi? Karena gurunya itu setiap masuk kelas selalu membaca nama siswa dan siswi dan menyapa mereka dengan nama panggilan yang akrab. Oleh karena kebiasaan baiknya ini maka ia mengenal semua siswa dan siswi yang pernah melewati kelasnya. Setelah dua puluh tahun ia kembali dan menjumpai gurunya itu. Dari jauh gurunya sudah memanggil namanya dan memberi senyum khas kepadanya. Ia spontan mengatakan dalam hatinya bahwa hal seperti ini belum dialaminya di dalam keluarga sendiri. Saling menyapa memiliki power yang luar biasa. Orang merasa dikasihi apa adanya dan dengan demikian orang itu juga dapat mengasihi tanpa memilih siapa yang ada di hadapannya.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Panggilan ke-50, dimana fokus kita adalah mendoakan
panggilan. Paus Emeritus Benediktus XVI, pada tanggal 6 Oktober 2012 yang lalu menulis pesannya pada hari minggu panggilan tahun 2013 dengan tema: Panggilan  sebagai suatu tanda harapan berdasarkan iman. Tema ini kiranya cocok dengan tahun iman yang sedang kita hayati dan bertepatan dengan 50 tahun Konsili Vatikan II. Banyak umat menggunakan kesempatan ini untuk mendoakan panggilan-panggilan baru di dalam Gereja. Tuhan yang punya orang atau pekerja dan Dialah yang punya hak untuk mengirim pekerjaNya. Kita sebagai manusia berdoa dan meminta dengan sungguh-sungguh para pekerja. Dengan merayakan hari Minggu Panggilan ini menunjukkan suatu komitmen Gereja bahwa panggilan imamat dan hidup bakti itu sangatlah penting. Bagi Paus Benediktus, panggilan hidup bakti lahir dari perjumpaan pribadi dengan Kristus. Perjumpaan pribadi ditandai dengan dialog yang terus menerus dalam doa. Dampak doa yang mendalam dari dalam hati para imam memberikan dampak positif bagi umat yang dilayaninya.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini berlaku sebagai gembala yang baik. Kekhasannya adalah Yesus sungguh-sungguh menjadi gembala dan domba-domba mengenal suaraNya. Sang Gembala yang Baik mengenal mereka satu persatu dan mereka juga mengikutiNya. Konsekuensi mendengar Yesus adalah memperoleh anugerah hidup abadi sesuai yang telah dijanjikanNya. Yesus sebagai gembala baik melindungi domba-domba dari musuh-musuh. Pada umumnya para musuh adalah pribadi-pribadi yang ada di sekitar domba-domba. Bapa di surga berperan memberikan anak-anak manusia kepada Yesus untuk dianugerahi hidup kekal. Ketika anak-anak manusia ada di dalam tangan Bapa maka tidak ada kuasa apapun yang memisahkan mereka dari kasih Bapa di Surga. Mengapa? Karena Yesus  dan Bapa adalah satu. Yesus dengan tegas mengatakan: “Aku dan Bapa adalah satu”.

Gembala atau pemimpin yang baik memang memiliki tugas mulia. Ia selalu hadir di tengah-tengah orang kepunyaanNya. Dampak kehadiranNya adalah orang merasakan pembaharuan hidup. KehadiranNya membuat banyak orang mau mendengar dan berubah di dalam hidupnya. Yesus sendiri sebagai gembala baik bahkan memilih titik yang ekstrim yakni wafat di kayu salib sebagai tanda persembahan diriNya bagi keselamatan umat manusia. Satu hal lain yang kiranya tidak bisa kita lupakan adalah Yesus tidak melakukan tindakan sebagai gembala sendirian. Ia sendiri mengakui bahwa diriNya melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa dan Bapa sendiri menarik semua orang kepada Yesus untuk diselamatkan.

Apa yang harus kita lakukan? Sikap gembala baik dari Yesus merupakan ungkapan
kepedulian Allah bagi setiap pribadi. Yesus sudah diutus Bapa maka setiap pribadi harus menerima dan percaya kepadaNya. Bagi orang yang mengalami panggilan istimewa juga diajak untuk pertama-tama percaya kepada Yesus sehingga dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Diharapkan agar orang-orang terpanggil itu setia dalam panggilannya. Domba yang setia akan memiliki hidup kekal.

Yohanes dalam bacaan kedua mengisahkan penglihatannya. Ia melihat suatu kumpulan orang banyak yang tidak terhitung banyaknya dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa. Mereka semua berdiri di hadapan takhta dan Anak Domba dengan mengenakan jubah putih dan daun-daun palem ada di tangan mereka. Mereka adalah para kudus yang telah menyerahkan dirinya secara total bahkan melalui kemartiran. Mereka layak untuk masuk surga dan melayani Tuhan siang dan malam. Yohanes pada akhirnya mengatakan bahwa orang-orang itu tidak akan menderita lagi. Anak Domba akan menjadi gembala dan menuntun mereka kepada air kehidupan.

Visi Yohanes ini mau mengatakan juga bahwa untuk melakukan pekerjaan Tuhan sebagai
gembala saat ini bukanlah hal yang muda. Para Rasul sendiri mengalami penolakan dan penganiayaan. Adalah sukacita besar di surga ketika seorang utusan tetap setia bahkan sampai menjadi martir. Paulus dan Barnabas mengalami penolakan ketika mereka mewartakan injil dari Antiokhia ke Pisidia. Namun Paulus dan Barnabas tetap berani mewartakan kasih Kristus bukan lagi kepada mereka tetapi kepada bangsa-bangsa lain. Dengan mengebaskan debu di kaki di daerah itu mereka lalu pergi mewartakan Injil di Ikonium. Roh Kudus tetap bekerja dan memberi sukacita kepada orang-orang yang percaya di Antiokhia. Hal yang kiranya penting untuk kita refleksikan adalah Tuhan menghendaki agar semua orang diselamatkan, bukan hanya satu bangsa khusus.

Mari kita mendoakan panggilan-panggilan khususnya kaum muda untuk melayani  dan menjadi Gembala bagi Gereja. Gereja membutuhkannya banyak orang muda untuk mempersembahkan diriNya dalam pelayanan-pelayanan dan dalam usaha melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Kita berdoa bagi keluarga-keluarga muda untuk membaktikan diri, mendidik anak-anak dan memperkenalkan panggilan Tuhan bagi mereka.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menjadi gembala baik bagi kami. Amen

PJSDB

Pesan Paus Pada Hari Minggu Panggilan 21 April 2013

PESAN BAPA SUCI PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PANGGILAN KE 50

Hari Minggu Paskah IV - 21 April 2013


Tema: Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman


Saudara-saudari yang terkasih.

Pada kesempatan Hari Doa Sedunia Untuk Panggilan Ke-50, yang dirayakan pada tanggal 21 April 2013, Hari Minggu IV Paskah, saya ingin mengajak Anda semua untuk merenungkan tema: “Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman”, yang kebetulan terjadi pada Tahun Iman, yang menandai tahun ke-50 dimulainya Konsili Vatikan II. Ketika Konsili Vatikan II sedang berlangsung, Hamba Allah, Paus Paulus VI, menyatakan hari itu sebagai hari doa seluruh dunia kepada Allah Bapa, memohon kepada-Nya agar selalu mengutus para pelayan bagi Gereja-Nya(bdk. Mat.9:38). “Hal memiliki jumlah imam yang cukup”, demikian pernyataan Paus pada waktu itu, “berdampak langsung pada seluruh umat beriman: bukan semata-mata karena mereka bergantung pada jumlah imam tersebut terkait dengan masalah rohani umat Kristen di masa depan, melainkan karena persoalan ini menjadi indikator yang tepat dan tak dapat dihindari tentang dinamika kehidupan iman dan kasih dari setiap jemaat  paroki dan keuskupan, sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati Injil dengan tulus” (Paus Paulus VI, Pesan Radio, 11 April 1964).

Selama beberapa dekade, berbagai jemaat Kristen di seluruh dunia berkumpul setiap tahunnya pada Hari Minggu IV Paskah, mereka bersatu dalam doa, memohon kepada Tuhan anugerah panggilan suci dan minta  sekali lagi, sebagai bahan renungan bagi semua orang, betapa mendesak kebutuhan untuk menanggapi panggilan Illahi tersebut. Sungguh, peristiwa tahunan ini begitu penting dan meneguhkan suatu komitmen yang kuat untuk menempatkan betapa semakin pentingnya panggilan imam dan hidup bakti di tengah spiritualitas, doa dan karya pastoral umat beriman.

Harapan adalah penantian terhadap sesuatu yang positif di masa yang akan datang, namun
pada saat yang sama harus dapat menopang  keberadaan kita saat ini, yang sering kali ditandai oleh aneka ketidak-puasan dan kegagalan. Lantas didasarkan pada apakah harapan tersebut? Kalau menengok sejarah umat Israel, sebagaimana dikisahkan dalam Perjanjian Lama, kita melihat suatu hal yang selalu muncul secara konstan, khususnya pada masa-masa sulit seperti pada Masa Pembuangan, khususnya suatu hal yang ditemukan dalam tulisan-tulisan para Nabi, yaitu kenangan akan janji-janji Allah kepada para bapa bangsa: suatu kenangan yang mengajak kita untuk mengikuti teladan sikap Abraham, sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “percaya, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, bahwa dia akan menjadi ‘bapa banyak bangsa’, menurut apa yang telah dikatakan, ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu’” (Rom.4:18). Suatu kebenaran yang menghibur dan menerangi, yang muncul dalam seluruh sejarah keselamatan, tidak lain adalah kesetiaan Allah terhadap perjanjian yang telah Dia buat, membaharuinya bila manusia melanggarnya melalui ketidak-setiaan dan dosa mereka, sejak jaman Air Bah (bdk. Kej. 8: 21-22)hingga jaman Keluaran dan perjalanan melalui padang gurun (bdk. Bil. 9:7). Kesetiaan yang sama tersebut telah membawa Allah kepada meterai perjanjian baru dan kekal dengan manusia, melalui darah Putera-Nya, yang telah wafat dan bangkit kembali demi keselamatan kita.

Setiap saat, khususnya pada saat-saat yang paling sulit, kesetiaan Tuhan selalu menjadi kekuatan pengendali yang sejati sejarah keselamatan, yang membangkitkan hati pria dan wanita dan meneguhkan mereka dalam harapan bahwa pada suatu hari nanti akan mencapai “tanah terjanji”. Di sinilah kita menemukan dasar yang pasti dari setiap harapan: Allah tidak pernah meninggalkan kita dan Dia selalu benar terhadap Sabda-Nya. Karena alasan inilah, maka dalam setiap situasi, baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan, kita dapat menghidupi suatu harapan yang teguh dan bersama dengan pemazmur berdoa: “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang; sebab dari pada-Nyalah harapanku” (Mzm. 62:6). Oleh karena itu, memiliki harapan berarti sama dengan percaya kepada Tuhan yang adalah setia, yang selalu memelihara perjanjian-Nya. Dengan demikian, iman dan harapan berkaitan erat. “Harapan” adalah sebuah kata kunci dalam iman alkitabiah, sehingga dalam perikop-perikop tertentu, kata “iman” dan “harapan” nampak jelas digunakan secara bergantian. Dengan cara ini pula, maka Surat Ibrani menampilkan hubungan yang langsung antara “pengakuan akan harapan yang teguh” (10:23) dengan “kepenuhan iman” (10:22).Hal yang sama, ketika Surat Pertama Rasul Petrus mendesak orang-orang Kristen agar selalu siap untuk menyambut “logos” – arti dan alasan – harapan mereka (bdk. 3:15), “harapan” adalah sama dengan “iman” (Spe Salvi, 2).

Saudara-saudari yang terkasih, apa sebenarnya kesetiaan Tuhan itu dan kepada siapakah kita meletakkan harapan yang kokoh tak tergoyahkan itu? Tidak lain adalah Kasih-Nya. Dia, Bapa, mencurahkan Kasih-Nya ke dalam lubuk hati kita yang terdalam melalui Roh Kudus (bdk. Rom. 5:5).Dan Kasih Allah tersebut dinyatakan secara penuh dalam diri Yesus Kristus, yang terlibat dalam keberadaan kita dan menuntut suatu jawaban dalam arti apa yang dapat dilakukan oleh setiap individu dalam hidupnya sebagai pria maupun wanita dan apa yang dapat dia persembahkan untuk menghayati Kasih Allah tersebut secara penuh. Kasih Allah kadang-kadang hadir melalui cara-cara yang tidak pernah dibayangkan oleh seseorang sebelumnya, tetapi selalu dapat menjangkau orang-orang yang memang mau dijumpai oleh Kasih Allah tersebut. Harapan semacam itu dipelihara dengan kepastian ini, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan Kasih Allah kepada kita” (1 Yoh. 4:16). Kasih Allah yang begitu dalam dan menuntut ini, Kasih Allah yang meresap secara sempurna di bawah permukaan, memberi kita keberanian. Kasih Allah ini memberi kita harapan dalam peziarahan hidup kita dan di masa yang akan datang. Kasih Allah yang membuat kita percaya dalam diri kita, dalam sejarah dan dalam diri orang-orang lain. Saya ingin berbicara secara khusus kepada kaum muda dan saya katakan sekali lagi kepadamu: “Akan menjadi apakah hidupmu kalau tanpa Kasih Allah? Allah memelihara pria dan wanita sejak penciptaan hingga akhir zaman, ketika Dia akan membawa rencana keselamatan sampai kepada kepenuhannya. Di dalam Tuhan yang bangkit, kita memiliki harapan yang pasti” (Sambutan kepada kaum muda Keuskupan San Marino, Montefeltro, 19 Juni 2011).

Sebagaimana telah Dia lakukan selama hidup-Nya di dunia, demikian juga saat ini Yesus yang telah bangkit berjalan menyusuri lorong-lorong kehidupan kita dan melihat kita yang tenggelam dalam berbagai aktivitas dengan segala keinginan dan kebutuhan kita. Di tengah situasi lingkungan kehidupan kita, Dia terus berbicara kepada kita: Dia memanggil kita agar kita menghayati kehidupan bersama dengan Dia, karena hanya Dia-lah yang mampu memuaskan dahaga akan harapan tersebut. Dia tinggal di tengah komunitas para murid, yaitu Gereja, dan hingga hari ini Dia masih memanggil orang-orang untuk mengikuti Diri-Nya. Panggilan dapat muncul setiap saat. Hari ini juga Yesus terus-menerus berkata: “Datanglah ke mari, ikutilah Aku” (Mrk. 10:21). Menerima undangan-Nya berarti tidak lagi memilih jalan kita sendiri. Mengikuti Dia berarti membenamkan kehendak kita ke dalam kehendak Yesus, sungguh-sungguh mengistiwekan Dia, membanggakan Dia dalam setiap bidang kehidupan: dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kepentingan-kepentingan pribadi dan dalam diri kita sendiri. Ini berarti menyerahkan hidup kita kepada-Nya, hidup dalam kemesraan bersama dengan Dia dan melalui Dia, kita memasuki persekutuan dengan Bapa dalam Roh Kudus, dan dengan demikian juga – konsekuensinya – bersama dengan saudara dan saudari sekalian. Persekutuan hidup bersama Yesus adalah suatu “pengaturan” (setting) istimewa di mana dalam persekutuan tersebut, kita boleh mengalami harapan dan dalam harapan tersebut, hidup kita menjadi penuh dan bebas.

Panggilan imamat dan hidup bakti lahir dari pengalaman personal perjumpaan dengan
Kristus, berkat dialog dengan Dia secara rahasia dan tulus, yang berarti memasuki ke dalam kehendak-Nya. Oleh karena itu sangatlah perlu tumbuh dalam pengalaman iman, mengenal suatu relasi yang mendalam dengan Yesus, memberi perhatian secara rohani terhadap suara-Nya yang hanya bisa diperdengarkan dalam lubuk hati kita. Proses ini, yang memungkinkan kita dapat menaggapi panggilan Allah secara positif, sangat mungkin terjadi dalam jemaat-jemaat Kristen di mana iman dihayati secara intens, di mana kesaksian yang baik diberikan oleh mereka yang menyandarkan diri kepada Injil, di sanalah hadir makna perutusan yang kuat, yang menghantar orang untuk mempersembahkan diri secara total demi Kerajaan Allah, yang dihidupi dengan penerimaan sakramen-sakramen, khususnya Sakramen Ekaristi dan hidup doa yang kuat. Poin yang terakhir ini, “di satu sisi harus menjadi sesuatu yang sangat personal, suatu perjumpaan yang mesra antara diriku dengan Allah. Tetapi di sisi lain, harus secara terus-menerus dibimbing dan diterangi oleh doa-doa Gereja dan oleh doa-doa para kudus, dan oleh doa liturgis sebagaimana telah berulang kali Tuhan Yesus ajarkan bagaimana kita harus berdoa secara benar” (Spe Salvi, 34).

Doa yang mendalam dan terus-menerus akan menghasilkan pertumbuhan iman jemaat Kristiani, menghasilkan suatu kepastian yang secara terus-menerus diperbaharui bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, sebaliknya Dia sanantiasa meneguhkan umat-Nya  dengan membangkitkan aneka panggilan khusus – panggilan imamat dan hidup bakti – agar mereka menjadi tanda harapan bagi dunia. Sesungguhnya, para imam dan kaum religius dipanggil untuk menyerahkan dirinya secara total tanpa syarat bagi umat Allah, dalam pelayanan kasih demi Injil dan Gereja, suatu pelayanan yang dapat meneguhkan harapan yang berasal hanya dari keterbukaan diri kepada Yang Illahi. Oleh karena itu, dengan bantuan para saksi iman dan semangat kerasulan mereka, mereka dapat memeneruskan, khususnya kepada gererasi muda, suatu keinginan yang kuat untuk menanggapi Kristus yang memanggil mereka secara tulus dan tanpa halangan untuk mengikuti Dia secara lebih erat. Kapan saja seorang murid Yesus menerima panggilan Illahi untuk membaktikan dirinya bagi pelayanan imamat atau hidup bakti, itu berarti dia memberi suatu kesaksian tentang salah satu hasil buah yang paling masak dari jemaat Kristen, yang membantu kita untuk melihat dengan iman dan harapan secara istimewa masa depan Gereja dan komitmennya terhadap tugas pengijilan. Tugas ini memerlukan para pekerja yang baru untuk mewartakan Injil, untuk merayakan Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi. Jadi, semoga ada banyak imam yang komit, yang mengerti bagaimana harus mendampingi anak-anak muda sebagai “sahabat dalam perjalanan”, membantu mereka dalam hidup yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran, membantu mereka mengenal Kristus sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup (bdk. Yoh. 14:6), sembari mengatakan kepada mereka bahwa dengan kekuatan Injil, sungguh betapa indahnya melayani Allah, jemaat Kristiani, dan melayani saudara-saudari. Semoga ada imam-imam yang menghasilkan buah secara melimpah berkat komitmen mereka yang penuh antusias, yang berarti menujukkan kematangan hidup mereka, karena didasarkan pada iman akan Kristus yang lebih dahulu telah mengasihi kita (bdk. 1 Yoh. 4:19).

Demikian juga, saya berharap bahwa anak-nak muda, yang telah dipenuhi oleh pelbagai
pilihan remeh dan tidak penting, akan mampu menggali suatu keinginan terhadap apa yang sungguh-sungguh berharga, demi tujuan-tujuan yang mulia, pilihan-pilihan yang radikal, pelayanan demi banyak orang dalam mengikuti Yesus. Yang terkasih anak-anak muda, janganlah takut mengikuti Dia dan berjalan menyusuri jalan-jalan kasih yang menuntut suatu keberanian dan komitmen yang tulus. Dengan cara tersebut, kamu akan senang melayani, kamu akan menjadi saksi suatu suka-cita yang tidak bisa diberikan oleh dunia, kamu akan menjadi nyala yang hidup dari kasih yang kekal-abadi dan tak terpermanai, kamu akan belajar “memberi suatu pengharapan yang ada padamu” (1 Pet. 3:15)!


Dari Vatikan, 6 Oktober 2012
Paus Benediktus XVI

Saturday, April 20, 2013

Renungan 20 April 2013

Hari Sabtu Paskah III
Kis 9:31-42
Mzm 116:12-13.14-15.16-17
Yoh 6:60-69

Tuhan, Kepada Siapakah Kami Akan Pergi?

Pada suatu kesempatan ada seorang frater selaku pimpinan asrama di sebuah kolese sekolah katolik mengalami emosi tingkat dewa. Perilaku sebagian anak asrama mengecewakan karena peraturan-peraturan asrama sering dilanggar. Misalnya, asrama adalah daerah bebas rokok tetapi selalu saja ada anak asrama yang merokok sembunyi-sembunyi pada tengah malam. Anak-anak asrama dilarang menggunakan gadget, tetapi ada anak-anak yang memiliki sim card dan meminjam HP karyawan untuk menelpon atau facebook meriah. Anak-anak asrama dilarang keluar kompleks asrama kalau tidak diijinkan oleh frater, tetapi ada anak-anak yang pergi tanpa meminta ijin. Masih banyak perilaku anak asrama yang membuat frater emosi tingkat dewa dan dengan suara keras berkata: “Kalau saudara-saudara tidak betah lagi di asrama, tidak mematuhi peraturan asrama, saya persilakan saat ini juga keluar dari asrama”. Beberapa anak asrama tanpa refleksi langsung mengangkat barang-barangnya dan meninggalkan asrama. Kepada anak-anak yang masih tinggal di asrama frater bertanya, “Kalian tidak mau ikut teman-teman yang pulang ke rumah?” Salah seorang anak asrama berkata, “Frater, disini kami mau menjadi manusia!” Frater mengangguk dan masuk ke kantornya.

Kadang-kadang di dalam keluarga atau tempat kerja kita juga mengalami krisis tertentu karena teguran yang keras, karena tidak cocok dengan kebijakan perusahaan, karena orang tua terlalu autoriter dalam parenting. Semua hal itu sangat wajar di dalam kehidupan namun ada orang tertentu yang merasa sebagai halangan besar untuk masa depan. Itu sebabnya mereka protes, putus asa bahkan meninggalkan rumah atau tempat kerja.

Penginjil Yohanes hari ini melaporkan bagian terakhir diskursus Yesus tentang Roti
Hidup. Yesus sudah tegas dan terang-terangan berkata bahwa untuk memperoleh hidup kekal, dibangkitkan pada akhir zaman dan tinggal selamanya bersamaNya maka orang harus makan daging yaitu tubuhNya dan minum darahNya. Mengapa? Karena Ia adalah satu-satunya Roti Hidup. Makanan yang memberi hidup yang tentu saja berbeda dengan mana di padang gurun yang pernah dimakan oleh nenek moyang mereka. Perkataan-perkataan Yesus ini dinilai sangat keras sehingga membuat mereka tidak sanggup mendengarnya. Yesus tahu keadaan hati mereka dan berusaha menjelaskan bahwa semua perkataanNya adalah Roh dan Hidup. Namun demikian masih banyak juga yang tidak percaya kepada Yesus. Mereka yang bertahan adalah mereka yang sungguh percaya kepadaNya, karena anugerah Bapa kepada mereka.

Dalam situasi seperti ini para murid mengalami krisis yang bisa disebut krisis Galilea. Apakah mereka juga mau pergi atau mundur dari hadapan Yesus? Petrus sebagai pemimpin mereka berkata: “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” Pengakuan iman Petrus ini diwariskan turun temurun di dalam Gereja. Yesus adalah pokok kehidupan. Dialah pokok anggur yang benar dan kitalah ranting-rantingnya. Terlepas dari Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).

Apa artinya pengakuan iman Petrus bagi kita? Masing-masing kita juga mengalami krisis Galilea. Ada saja persoalan-persoalan dan pergumulan hidup yang kita hadapi. Apakah kita harus menyerah pada situasi seperti ini? Apakah kita juga harus mundur, meninggalkan Tuhan? Kalau kita sungguh-sungguh mengimani Yesus maka tidak ada kata mundur karena Dia juga berkata kepada kita: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut” (Yoh 6:20).

Setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi kita menyaksikan dan mengalami “makan tubuh” dan “minum darah” Yesus. Kita hanya bisa menerima misteri ini dengan iman kita. Santo Leo Agung pernah berkata: “Saat kita menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita akan diubah menjadi seperti yang kita terima”. St. Ignasius Antiokhia berkata, “Kami memecahkan roti yang memberi obat keabadian, dan makanan yang membuat kita hidup selamanya di dalam Kristus”.

Hari ini kita belajar dari komunitas para rasul yang tidak mau mundur dari hadapan
Yesus. Di masa depan dengan bantuan Roh Kudus, mereka akan berani mewartakan Injil, meskipun banyak penganiayaan dan penderitaan. Lukas dalam bacaan pertama hari ini, mengisahkan situasi komunitas Gereja perdana di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam situasi damai. Hal ini terjadi setelah badai penganiayaan yang dilakukan Saulus, tetapi kini Saulus sudah menjadi Paulus. Dampak penganiayaan ternyata tidak mematikan gereja, justru menghidupkan dan menyuburkan Gereja. Petrus misalnya dikisahkan berkeliling dan berbuat baik dengan menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati dalam nama Yesus Kristus. Eneas dan Dorkas adalah orang-orang yang disembuhkan dan dibangkitkan dalam nama Yesus.

Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk
tetap tinggal bersama Yesus Kristus, apa pun situasinya. Kita tidak perlu takut akan bahaya, penganiayaan dan kekerasan yang mengancam iman kita. Orang yang bertahan akan selamat jiwanya. Mengapa harus takut? Bukankah Dia selalu menyertai kita hingga akhir zaman? Di mana ada penganiayaan terhadap Gereja, di situ rahmat Tuhan akan semakin berlimpah. Gereja perdana sudah mengalaminya dan terbukti tetap bertahan karena Yesus sungguh-sungguh hadir. Mari dengan iman, bersama Petrus kita berkata: “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? SabdaMu adalah hidup kekal! Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah”.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, semoga kami semakin percaya dan mencintai Engkau sebagai sabda hidup kekal. Amen

PJSDB

Friday, April 19, 2013

Saulus menjadi Paulus

Ketika Tuhan menghendaki pertobatan


Pada hari ini kita mendengar bacaan liturgi, bacaaan pertama dari Kisah Para Rasul tentang pertobatan Paulus. Nama Saulus yang nantinya menjadi Paulus mula-mula ditunjukan oleh Lukas dalam hubungannya dengan jubah para saksi kemartiran Stefanus (Kis 7:58). Saulus juga setuju bahwa Stefaus dibunuh dan sejak saat itu Gereja mulai mengalami penganiayaan yang besar di bawa pimpinan Saulus (Kis 8: 1-3; 9:1-2.13; 22:3-5). Lukas menggambarkan Saulus berperilaku liar dan tidak berperikemanusiaan. Niatnya hanya satu: menganiaya dan menghancurkan jemaat gereja perdana yang saat itu terang-terangan mengakui diri sebagai pengikut Yesus dari Nazaret.

Namun demikian kalau kita membaca dan memahami kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus, kita akan memahami betapa besar kuasa Allah bagi manusia. Manusia boleh mengandalkan kekuatananya tetapi di hadirat Tuhan ia akan bertekuk lutut. Kisah pertobatan Paulus dapat dibaca di Kis 9:1-18; 22:6-21; 26:12-19. Tiga kali Paulus tanpa malu menceritakan masa lalunya dan bagaimana ia ditangkap Tuhan.

Sekarang mari kita memperhatikan kisah pertobatan Saulus dalam Kisah Para Rasul 9: 1-18. Setelah Stefanus dibunuh maka Saulus berencana untuk menghabiskan semua pengikut Yesus dari Nazaret. Hatinya berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh. Untuk mewujudkan niatnya maka ia meminta surat kuasa dari Imam Besar dan membawa surat itu kepada majelis agama Yahudi di Damsyik. Tujuannya adalah kalau ada murid-murid Tuhan, ia bisa punya kuasa menangkap, menganiaya dan membunuh mereka. Ini benar-benar niat yang jahat sekali.

Apa yang terjadi dalam perjalanannya ini? Ketika mendekati kota Damsyik, tiba-tiba ada
cahaya dari langit yang memancar dengan kuat dan mengelilinginya. Akibatnya ia rebah ke tanah dan tidak mampu melihat cahaya tersebut. Dalam situasi yang menegangkan ini ia mendengar suara memanggilnya dan muncul juga dialog menarik ini: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Adalah sangat menarik karena Saulus bertanya sambil menyebut kata Tuhan. Ini hanya berlaku bagi orang yang mengakui kebangkitann Kristus. Saulus menjawab: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Suara yang tadi berkata: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu! Tetapi bangunlah dan pergilah ke kota. Di sana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kauperbuat.”

Pengalaman disapa oleh Tuhan dan cahaya yang mengelilingi Paulus merupakan pengalaman akan Allah. Ia tadinya hidup dalam kegelapan, kini mengalami pembaharuan hidup dengan sebuah tanda yaitu menjadi buta. Sama seperti Yesus mengalami kegelapan di dalam liang kubur selama tiga hari demikian Paulus mengalami kegelapan selama tiga hari dan akan melihat terang. Ananias diutus Tuhan untuk membawa terang kepadanya, tetapi Ananias juga meragukan karena Saulus memang memiliki surat kuasa. Tuhan memberanikan Ananias dengan mengatakan tugas baru yang akan diemban Saulus: “Pergilah sebab orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitahukan namaKu kepada bangsa-bangsa lain, kepada raja-raja dan orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaanyang harus ia tanggung oleh namaKu”. Ananias pun pergi dan menyampaikan Saulus tugas perutusannya yakni bahwa Saulus akan melihat dan penuh dengann Roh Kudus. Saulus pulih, ia dibaptis dengan nama baru Paulus. Dengan kuasa Roh Kudus, Saulus atau Paulus memiliki keberanian untuk mewartakan Injil.

Dari Saulus menjadi Paulus. Kita bersyukur karena Tuhan telah memanggil serta memilihnya menjadi rasul agung untuk mewartakan Injil di tanah-tanah misi. Sambil memandang Paulus, mari kita merenungkan panggilan kita masing-masing. Tuhan memilih kita apa adanya  dan menetapkan kita sebagai alatNya. Kita dapat menjadi tanda dan  pembawa kasih Allah kepada sesama manusia. Kita juga dipanggil untuk bertobat seperti Paulus. Sekarang pikirkanlah pertobatanmu. Apakah anda sungguh-sungguh mengalami Allah dalam hidupmu?

PJSDB

Renungan 19 April 2013

Hari Jumat Paskah III
Kis 9:1-20
Mzm 117:1.2
Yoh 6: 52-59

Bersatu dengan Yesus Selamanya!

Ada seorang anak namanya Paulus. Dia terlahir sebagai anak yang memiliki kelainan ginjal sehingga harus di operasi. Padahal keluarga itu sangat merindukan kehadiran seorang anak. Setelah lebih dari sepuluh tahun menikah, pasutri Miki dan Nunuk berusaha mencari jalan untuk bisa memiliki anak. Ketika berita kehamilan tiba, pasutri Miki dan Nunuk sangat bergembira. Tetapi keduanya menjadi sedih ketika dokter mengatakan bahwa Paulus anak mereka memiliki kelainan ginjal dan harus di operasi. Ini berarti apabila ginjal Paulus diangkat, harus ada orang lain yang menyumbang ginjalnya untuk Paulus. Miki dan Nunuk berada pada pilihan yang sulit. Dengan air mata berlinang, Nunuk berkata: “Paulus berasal dari kandunganku dan aku akan memberikan hidup dan umur panjang baginya”. Nunuk pun memberikan satu ginjalnya untuk anaknya. Miki juga berkata: “Dia adalah darah dagingku maka aku pun mau membuat Paulus berumur panjang”. Miki sang ayah juga menyumbang satu ginjalnya untuk Paulus. Ketiga-tiganya sama-sama di operasi dan semuanya berhasil. Paulus hidup, sehat dan bahagia karena ginjal kedua orang tuanya. Tepat sekali kata-kata Yesus ini: “Tidak ada kasih yang paling agung selain kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13)

Penginjil Yohanes melanjutkan laporannya menyangkut diskursus Yesus tentang Roti Hidup.
Kali ini diskursus semakin alot karena Yesus berbicara tentang hal yang sulit diterima oleh akal manusia dan pengalaman hidup praktis. Yesus berkata dalam kalimat negatif: “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”. Tetapi Dia langsung menjelaskannya dalam kalimat positif: “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman. Sebab dagingKu benar-benar makanan dan darahKu benar-benar minuman.” Kata-kata Yesus ini secara manusiawi memang sulit dipahami. Pada saat itu orang-orang berpikir secara harafiah bahwa Yesus menganggap mereka seperti kanibal karena mereka berpikir makan daging manusia dan minum darah manusia. 

Selanjutnya Yesus berkata lagi dalam kalimat positif: “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku, dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa  memakan Aku, akan hidup oleh Aku”. Yesus melanjutkan perkataanNya yang semakin sulit diterima oleh akal manusia. Meskipun Ia mengambil contoh diriNya yang bersekutu dengan Allah dan sebagai utusan Allah dan mengatakan relasi antara manusia dengan diriNya ketika memakan tubuhNya dan meminum darahNya namun tetaplah sulit dipahami oleh para pendengarNya saat itu.

Pada akhirnya Ia berkata: “Akulah roti yang telah turun dari surga, bukan roti yang telah dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya”. Yesus membimbing mereka dari titik ekstrim yang membuat orang-orang tersebut krisis iman sampai ke penjelasan sederhana bahwa Dia memang Roti Hidup yang telah turun dari Surga. Oleh karena itu kalau mereka makan maka mereka akan hidup. Apa artinya makan tubuh dan darahNya? Artinya orang harus percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya utusan Bapa untuk menyelamatkan manusia. Percaya berarti mencintai Dia dan bahwa Dia hendaklah menjadi segalanya bagi setiap orang percaya.

Oleh karena itu diskursus Yesus tentang Roti Hidup pada bagian ini memang hanya bisa diterima dengan iman. Yesus memulai dengan kalimat negatif “kamu tidak makan dan minum...kamu tidak mempunyai hidup”. Penegasannya adalah pada kalimat positif: “makan daging dan minum darah, mempunyai hidup kekal”. Konsekuensi dari makan daging atau tubuh dan minum darah Yesus adalah: "hidup kekal dalam arti tinggal selamanya dengan Tuhan".

Setiap kali merayakan Ekaristi, kita mengalami transubstansi dalam arti perubahan substansi yakni hosti berubah menjadi Tubuh Kristus dan Anggur menjadi Darah Kristus oleh kuasa atau daya Roh Kudus. Transubstansi berarti Yesus hadir dalam rupa roti dan anggur. Roti dan anggur berubah oleh karya Roh Kudus pada kata-kata konsekrasi menjadi Tubuh dan Darah Kristus meskipun yang tampak oleh mata tetap roti dan anggur. Sungguh Yesus sendirilah yang hadir dalam hosti dan anggur itu. 

Transubstansi menjadi sebuah perubahan radikal kehidupan kita. St. Agustinus pernah berkata, “Seolah-olah aku pernah mendengar suara dari tempat tinggi: “Akulah santapan dari Yang Kuasa, makanlah dan bertumbuhlah. Tetapi engkau tidak akan mengubah Aku menjadi dirimu seperti makanan bagi tubuh, namun engkaulah yang akan diubah ke dalam diriKu”. Pertanyaan kita adalah apakah anda dan saya sungguh berubah juga karena Ekaristi?

Perubahan yang radikal dialami oleh Saulus menjadi Paulus. Seorang yang tadinya hanya Saulus yang menganiaya para pengikut Kristus berubah menjadi Paulus rasul agung yang menyerahkan diri seutuhnya bagi Kristus. Hidup dan karya serta panggilan Paulus sangat membantu pertumbuhan Gereja perdana. Ia mengalami Allah di dalam hidup. Ia diubah ke dalam hidup Tuhan sendiri.

Ekaristi adalah saat yang indah di mana manusia datang dan bersatu dengan Tuhan. Saya teringat kata-kata Theresia dari Kalkuta: “Mestinya kita jangan memisahkan hidup kita dari Ekaristi. Saat kita memisahkan hidup dari Ekaristi, sesuatu dalam hidup kita akan hancur. Pada suatu kesempatan orang bertanya kepada kami: “Dari manakah para suster di biara anda memperoleh kegembiraan dan kekuatan untuk melakukan pelayanan pada kaum miskin?” Ekaristi berisi sesuatu yang lebih dari sekedar sikap menerima.Ekaristi juga  berisi kepuasan untuk kelaparan Kristus. Dia berkata, “Datanglah padaKu”. Dia lapar akan jiwa-jiwa”

Di bagian lain Theresia dari Kalkuta juga berkata: "Hidupmu harus ditenun di sekeliling Ekaristi. Arahkan matamu padaNya. Dialah cahaya. bawalah hatimu sedekat-dekatNya pada hati ilahiNya, mintalah dariNya rahmat untuk mengenalNya, kasih untuk mencintaiNya, keberanian untuk melayaniNya. Carilah Dia dengan kerinduan"

Sabda Tuhan pada hari ini sangat indah. Kita diajak untuk tinggal dan bersatu dengan Tuhan Yesus, sang Roti Hidup. Segalanya telah Ia berikan kepada kita maka patutlah kita juga menyerahkan diri kita kepadaNya. Kita juga diubah untuk hidup di dalam Tuhan.

Doa: Tuhan, terima kasih akan Ekaristi yang kami rayakan, karena Engkau mengubah kami untuk tinggal di dalam hidupMu. Amen

PJSDB