Friday, May 24, 2013

Renungan 24 Mei 2013

Hari Jumat, Pekan Biasa VII
Sir 6:5-17
Mzm 119:12.16.18.27.34.35
Mrk 10:1-12

Bersatu  dan Setia Selamanya

Saya ingat sebuah lagu yang dipopulerkan Dewi Sandra dengan judul “Satu untuk selamanya”. Liriknya bagus dan tentu menarik perhatian kita semua: “Kalau kau ingin tahu perasaanku, sekarang saatnya kukatakan semua. Bagaimana kuatnya kumencintaimu, kuserahkan jiwaku, seluruh hati milikmu. Kalau kau ingin tahu isi hatiku, hanya ada dirimu yang terbaik untukku. Aku siap terima kekuranganmu. Ku berjanji  padamu, satu untuk selamanya. Tuhan, hari  ini aku bersumpah padaMu, sekarang sampai nanti dialah yang kucinta sampai selamanya. Takkan kuingkari janji setiaku. Sekarang sampai mati, kamulah yang kucinta”. Lirik lagu yang menarik ini pernah dinyanyikan sepasang pasutri ketika saya memberkati pernikahan mereka. Mereka berdua menyanyikan dengan bagus dan kami semua yang hadir dalam perayaan itu sangat takjub dengan merdunya suara mereka. Pasutri ini sudah tiga tahun menikah, dikarunia seorang anak laki-laki. Setiap kali bertemu dengan saya, saya melihat mereka selalu kompak. Mereka mengatakan kepada saya: “Romo, kami mau tetap satu untuk selamanya”.

Tuhan Yesus hari ini didatangi oleh orang-orang Farisi untuk mencobai Dia. Mereka 
bertanya, apakah diperbolehkan seorang suami menceraikan istrinya. Bagi mereka, Musa saja memberi ijin dengan membuat surat cerai. Tetapi Yesus mengatakan bahwa Musa dapat menyuruh membuat surat cerai karena ketegaran hati manusia, ketegaran hati mereka sendiri. Padahal Tuhan sejak awal penciptaan dunia telah memiliki rencana istimewa bagi manusia pria dan wanita. Seorang pria yang hebat akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Dengan demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu. Oleh karena itu apa yang dipersatukan oleh Tuhan Allah, manusia tidak punya kuasa untuk menceraikannya. Yesus masih menambahkan pengajaran kepada para muridNya: “Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan wanita lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu dan jika istrinya menceraikan suaminya lalu kawin dengan pria lain, ia juga berbuat zinah”

Meskipun orang-orang Farisi hanya mau mencobai Yesus namun penjelasan Yesus tentang sakramen perkawinan sangat mendalam. Yesus tahu bahwa relasi perkawinan para suami istri tidak beres dan terancam bubar atau bercerai karena ketegaran hati manusia. Meskipun janji perkawinan diucapkan di depan umum untuk setia dalam untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit sampai maut memisahkan namun manusia tetaplah rapuh sehingga dewa ketidaksetiaan pun hadir tanpa perlu diundang. Ketika orang tidak setia dalam hidup perkawinan maka hatinya juga tegar. Orang ini tidak pernah merasa bersalah tetapi lebih suka mempersalahkan pasangannya. Selama mendampingi pasutri tertentu yang bermasalah, saya tidak pernah mendengar satu pasangan mengaku bersalah. Saling bertukar kesalahan itu yang paling banyak.

Para suami dan istri selalu lupa satu hal yang penting ini: Tuhan dalam rencana penciptaanNya menciptakan manusia sebagai pria dan wanita. Sang Pria yang diciptakan sebagai manusia pertama harus meninggalkan orang tuanya, pergi dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya bukan lagi dua melainkan satu pribadi saja. Kata-kata Yesus ini sangat luhur. Memang yang Yesus maksudkan adalah relasi intim antara diriNya sebagai Tuhan dan Gereja yang Ia dirikan. Namun relasi ini menjadi dasar bagi relasi suami dan istri. Pria meninggalkan orang tuanya, bersatu dengan istrinya dan menjadi orang tua baru. Dua pribadi menjadi satu pribadi! Ini relasi yang intim dan luhur sesuai rencana Tuhan. Itu sebabnya dalam perkawinann selalu ditegaskan bahwa hanya maut yang dapat memisahkan suami dan istri yang sudah menjadi satu daging.

Jadi di sini ada dua hal yang penting: Pertama, ketegaran hati suami dan istri dapat membuat suami dan istri bercerai. Kedua, pria meninggalkan orang tua dan bersatu dengan istri menjadi satu daging. Kedua hal ini sangatlah penting dan harus disadari oleh setiap pribadi sebelum hidup bersama sebagai suami dan istri. Apakah mereka dapat memiliki komitmen untuk bersatu sebagai suami dan istri yang tidak dapat dipisahkan selamanya? Ingatlah bahwa Tuhan telah mempersatukan suami dan istri maka tak seorang manusia pun yang berhak memisahkan mereka. Maka berdosalah bagi seorang pria yang merebut istri orang atau seorang wanita yang merebut suami orang! Hanya orang yang sudah mati rasa berdosanya yang dapat merebut pasangan orang.

Perkawinan dalam paham Gereja Katolik adalah persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita yang terjadi karena persetujuan pribadi yang tidak dapat ditarik kembali dan harus diarahkan kepada saling mencintai sebagai suami dan istri dan kepada pembangunan keluarga. Oleh karena itu diperlukan kesetiaan yang sempurna dan tidak mungkin dibatalkan lagi oleh siapapun kecuali maut atau kematian. Nah Tuhan Allah sendiri memberikan pria dan wanita persekutuan yang tidak dapat dipisahkan, “bukan lagi dua melainkan satu”. Suami dan istri menjadi tanda cinta kasih Allah yang meluap. Di dalam perkawinan katolik, ada tiga unsur penting yang harus dipegang teguh pasangan: persetujuan bebas, penegasan kesatuan eksklusif seumur hidup dan keterbukaan terhadap hadirnya anak-anak.

Penulis Kitab Putra Sirakh di dalam bacaan pertama memberikan kiat bagi para pasutri
untuk tetap bersatu. Mereka harus menjadi sahabat yang setia satu sama lain. Sahabat setia itu bagaikan obat kehidupan. Dalam situasi apa pun sahabat itu tetap setia. Apakah ini dapat menjadi dorongan istimewa bagi para pasutri? Setialah selamanya karena Tuhan juga setia kepada kalian! Para imam, biarawan dan biarawati juga berjanji untuk setia dalam hidup sebagai pribadi yang taat, miskin dan murni untuk Tuhan dan KerajaanNya. Kita semua berjalan menuju kepada persatuan dengan Tuhan atau kekudusan. Mari kita belajar menjadi setia seperti Yesus sendiri setia kepada Bapa di Surga.

Sabda Tuhan pada hari ini menekankan relasi yang intim antara Kristus dan Gereja yang tercermin di dalam relasi suami dan istri. Tuhan Yesus Kristus setia kepada Gereja maka hendaknya para pasutri juga setia selamanya dalam untung dan malang. Suami istri menjadi Gereja yang kelihatan, kudus dan satu karena dipersatukan oleh Allah sendiri.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, berkatilah keluarga-keluarga supaya mereka menjadi Gereja yang hidup karena persatuan kasih yang Engkau limpahkan kepada mereka. Amen

PJSDB 

Thursday, May 23, 2013

Renungan 23 Mei 2013

Hari Kamis, Pekan Biasa VII
Sir 5:1-8
Mzm 1:1-2.3.4.6
Mrk 9:41-50

Jangan menunda pertobatanmu!

Menjadi guru yang hebat itu tidak mudah. Kehebatannya terletak pada kesabarannya untuk membina para muridnya menjadi baik. Tuhan Yesus memiliki pengalaman yang sangat mendidik. Sudah lebih kurang tiga tahun, Ia membentuk para muridNya di dalam komunitas untuk mengenal dan memahami Kerajaan Allah yang suda ada, nyata di dalam diri Yesus sendiri, tetapi hati para murid masih keras dan tertutup. Pikirkan saja, Yesus sedang menjelaskan perutusanNya: “Anak manusia  akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Tetapi para muridNya saat itu sedang memperbincangkan keegoisan mereka yakni siapa yang terbesar di antara mereka. Maka Yesus membina mereka dengan pengajaran yang sederhana tetapi mendalam: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). 

Yohanes sebagai murid yang dikasihi berbicara kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang
yang bukan pengikut kita mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu karena dia bukan pengikut kita”. (Mrk 9: 38). Mungkin Yohanes berharap akan mendapat jempol, tenyata ia disadarkan oleh Yesus untuk menjadi sesama bagi orang lain. Yesus mengajarkan sikap toleran kepada sesama manusia. Menjadi saudara bagi orang lain itu tidaklah gampang, tetapi Tuhan menghendaki kita menghayatinya di dalam hidup setiap hari. Lihatlah betapa rapuhnya para murid Yesus, tetapi Yesus selalu menunjukkan keilahianNya, kesabaranNya kepada mereka.

Hari ini Yesus berbicara tentang penyesatan-penyesatan yang dapat dilakukan oleh pribadi tertentu terhadap sesama. Biasanya penyesatan-penyesatan itu dilakukan oleh orang-orang yang lebih kuat dan dewasa. Mereka yang punya power akan memanfaatkan orang-orang yang lemah untuk kepentingannya. Orang-orang yang punya power menjadi batu sandungan bagi sesama manusia yang lemah. Kadang-kadang kesadaraan bahwa dimanfaatkan oleh orang tertentu muncul kemudian. Para murid diingatkan untuk menunjukkan wibawa yang terbaik sebagai rasul Yesus Kristus. Mereka harus berusaha untuk menjauhkan semua perbuatan salah dan dosa. Para murid hendaknya menjadi garam yang memberi rasa tersendiri kepada dunia.

Yesus juga mengingatkan kita semua bahwa segala perbuatan baik yang dilakukan bagi sesama yang paling kecil atau paling hina kita melakukan bagiNya. Perbuatan baik itu dilakukan dengan penuh kasih. Yesus memberi contoh dengan memberi segelas air kepada seorang pengikut Yesus sebanding dengan memberinya kepada diriNya sendiri. Namun demikian kalau ada seseorang yang berbuat jahat terhadap sesama sebanding juga dengan berbuat jahat kepada Yesus Kristus sendiri. Jadi apabila kita membuat batu sandungan bagi sesama atau menjerumuskan sesama ke dalam dosa maka sandungan itu harus dihilangkan meskipun harus mengurbankan mata dan tangan. 

Yesus dengan tegas berkata: “Barangsiapa menyesatkan salah seorang dari anak-anak
 kecil yang percaya ini lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu dibuang ke dalam laut”. (Mrk 9:42). Menyesatkan anak-anak atau orang-orang yang lemah dan tak berdaya misanya melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan tertentu. Kalau seorang yang lebih dewasa melakukan kekerasan fisik dan verbal di hadapan anak-anak yang masih polos maka anak-anak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Kadang-kadang tidak disadari orang dewasa membicarakan kehidupan mereka bahkan hal-hal privacy di hadapan anak-anak yang masih belum seimbang kejiwaannya. Pelecehan-pelecehan fisik dan verbal juga sering terjadi dan menyesatkan sesama. Ini adalah perbuatan salah dan dosa. 

Hari ini kita semua dikagetkan oleh perkataan Yesus tentang bagian-bagian tubuh tertentu yang menjadi sarana untuk menyesatkan yakni tangan, kaki dan mata. Tangan biasa dipakai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, kaki membantu kita untuk berjalan menuju ke tempat tertentu untuk bekerja, mata untuk melihat dan memandang. Tangan dan kaki bisa melecehkan diri sendiri dan sesama. Mata dapat digunakan untuk melihat dan memandang apa yang seharusnya tidak perlu dilihat dan dipandang. Maka Yesus menghendaki supaya semua hal ini harus dikontrol bahkan dimatikan. Lebih ekstrim Yesus mengatakan supaya dipotong dan dicungkil, kemudian buanglah jauh-jauh supaya bisa menjadi orang yang sempurna.

Penulis Kitab Putra Sirakh memberikan kiat-kiat tertentu dalam bacaan pertama terutama upaya untuk membangun sikap tobat. Dikatakan bahwa orang harus menyadari kelemahan-kelemahan di dalam hidup sehingga patut mengontrol diri dan memulai lagi hidup baru hari demi hari. Kadang-kadang yang namanya mencari alasan untuk membenarkan diri demi menutup kelemahan itu mudah dilakukan. Lebih jelas Penulis Putra Sirakh menulis: “Jangan mengandalkan kekayaanmu dan jangan berkata ini cukup bagiku. Hati dan kekuatanmu jangan kau turuti untuk berlaku sesuai dengan hawa nafsumu”. Dikatakan juga bahwa Tuhan memang maharahim tetapi kita perlu sadar untuk tidak menunda pertobatan diri kita.

Sabda Tuhan pada hari ini menyadarkan kita bahwa ada banyak kerapuhan di dalam hidup ini. Kita adalah orang yang tidak sempurna. Hampir setiap hari tangan, kaki dan mata  kita menjadi batu sandungan bagi diri kita dan orang lain. Artinya, melalui perbuatan-perbuatan dan penglihatan, kita telah menyesatkan diri kita dan banyak orang dengan jatuh ke dalam dosa. Melalui tangan, kaki dan mata, kita memanfaatkan orang lain untuk memuaskan diri. Mungkin pada saat itu kita sadar tetapi sengaja meniadakan kesadaran dan terus menikmati dosa. Hari ini jangan menunda pertobatanmu!

Doa: Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami untuk benar-benar memiliki semangat pertobatan di dalam hidup setiap hari. Amen

PJSDB

Wednesday, May 22, 2013

Renungan 22 Mei 2013

Hari Rabu, Pekan Biasa VII
Sir 4:11-19
Mzm 119:171.172.174.175
Mrk 9:38-40

Yesus juga mengajar toleransi

Inilah deretan nama-nama sahabat yang saya kenal: Nana, Akbar dan Enjang. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah sebagai karyawan di Gereja St. Yohanes Bosco, Sunter. Mereka membersihkan bagian dalam dan luar gereja, merapikan sakristi, mengatur sound system, membersihkan gua Maria dan masih banyak pekerjaan lain yang mereka lakukan untuk melayani Gereja katolik St. Yohanes Bosco Sunter. Ada momen-momen yang selalu saya ingat dalam hubungan dengan mereka. Pada suatu kesempatan Nana meminta ijin kepada saya: “Pastor John, saya mau memperbaiki lampu di gua Bunda Maria”. Saya menyetujuinya, kemudian saya ingat kembali peristiwa ini. Mas Nana menyapa
Maria dengan rasa hormatnya: Bunda Maria. Ketika mereka membersihkan bagian dalam Gereja, mereka begitu hormat ketika lewat di depan tabernakel. Ini adalah pemandangan yang menarik, karena banyak orang katolik yang kurang memiliki rasa hormat kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Dan satu acara harian yang tetap ada sampai sekarang adalah kami selalu memulai kegiatan harian dengan doa pagi bersama di depan patung Bunda Maria. Semua karyawan katolik dan Muslim berkumpul bersama, doa pagi secara umum dipimpin pastor kemudian ada nasihat tertentu untuk semua karyawan. Semua ini adalah pengalaman-pengalaman positif bersama beberapa saudara yang bukan katolik tetapi bekerja bersama kami.

Pengalaman-pengalaman ini saya angkat untuk mengatakan bahwa banyak orang yang tidak seiman dengan kita juga memiliki rasa hormat yang besar atau devosi kepada Bunda Maria, dan Yesus dalam sakramen Mahakudus. Mereka tidak mengungkapkan secara terbuka tetapi melakukannya dengan hormat dan penuh kasih ketika mereka membersihkan atau menghias Gereja dan tempat devosional lainnya. Ada juga yang mengungkapkan dengan kata-kata “Bunda Maria” atau “Tuhan Yesus”. Mungkin rasanya tentu berbeda dengan kita yang dibaptis tetapi yang penting mereka mengungkapkan dengan rasa hormat. Boleh dikatakan bahwa mereka memberi teladan yang baik kepada banyak umat katolik yang sedang kehilangan rasa devosinya kepada para kudus bahkan Yesus dalam sakramen Mahakudus.

Hari ini Yesus menunjukkan satu sikap yang amat positif yakni sikap toleran terhadap sesama yang tidak segolongan. Markus mengisahkan bahwa pada suatu kesempatan, Yohanes melihat seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan dalam nama Yesus lalu ia dan teman-temannya mencegahnya karena ia bukan pengikut Yesus Kristus. Mungkin saja Yohanes berpikir akan mendapat jempol dari Yesus. Tetapi ternyata Yesus justru membuka dan memperluas wawasan Yohanes dan teman-temannya untuk lebih terbuka lagi kepada sesama yang berbeda pandangan hidup dan keyakinan mereka. Yesus mengatakan kepada Yohanes supaya jangan mencegah mereka karena orang itu tidak mengumpat Yesus. Orang itu tidak melawan Yesus maka ia juga berada di pihak Yesus bersama komunitas para rasulNya.

Situasi yang terjadi saat itu adalah, banyak orang memiliki kebiasaan mengusir setan dan roh-roh jahat.  Ada di antara mereka mengusir setan dalam nama Yesus (Mrk 9:37.38.39). Ini berarti Yesus memang sangat terkenal sebagai eksorsis. Dalam Kisah para rasul juga terjadi demikian, ada beberapa tukang jampi yang menggunakan nama Tuhan Yesus untuk mengusir setan (Kis 19:13-20). Praksis untuk mengusir setan dalam nama Yesus di kemudian hari menjadi hal biasa di dalam Gereja (Mrk 16:17; Luk 10:17; Kis 16:18). Yesus menunjukkan sikap toleransiNya terhadap orang-orang yang menggunakan namaNya untuk mengusir roh-roh jahat. Yesus bersikap demikian karena namaNya Yehosua berarti Allah yang menyelamatkan. Allah menyelamatkan semua orang!

Sikap Yesus seperti ini patut kita ikuti. Sikapnya yang toleran terhadap sesama karena memang namaNya memiliki daya menyelamatkan. Sikap Yesus ini juga membuka cakrawala berpikir kita untuk menerima semua orang sebagai saudara. Kita tidak harus menjadi orang yang sombong karena merasa memiliki Yesus. Injil dan cara hidupNya banyak diikuti orang yang tidak seiman dengan kita meskipun mereka mungkin tidak mengenal dan mengimaniNya. Dengan demikian orang-orang tertentu memiliki permandian kerinduan akan Yesus Kristus. Kita boleh bangga memiliki Yesus. Namanya menyelamatkan semua orang. Janganlah memandang sesama yang bukan katolik sebagai orang lain. Mereka ternyata menjadi saudara yang diberikan Tuhan kepada kita untuk dikasihi.

Penulis Kitab Putra Sirak melanjutkan permenungan tentang Kebijaksanaan. Kebijaksanaan sejati berasal dari Tuhan Allah dan diturunkan bagi semua orang yang melayaniNya dengan sukacita. Dikatakan bahwa barangsiapa mencintai kebijaksanaan akan mencintai kehidupan dan bersukacita apabila pagi-pagi sudah menghadapinya. Kebijaksanaan juga menguji hati manusia dan akan terus menerus berusaha untuk memenuhi hati manusia dengan kebijaksanaan. Orang yang menyimpang dari kebijaksanaan akan mengalami kebinasaan.

Kembali kepada tema permenungan tentang sikap toleran dari Tuhan Yesus. Kebijaksanaan dalam kacamata Kristiani adalah Yesus dengan RohNya yang kudus selalu mencari dan menyertai setiap orang yang percaya kepadaNya. Tuhan bertindak sebagai pendidik yang menjadikan manusia menjadi memiliki kebijaksanaan dalam hidup. Itu sebabnya setiap orang percaya perlu mencari, mendengar dan yakin pada kebijaksanaan. 

Sabda Tuhan hari ini membuka wawasan kita untuk bersikap inklusif terhadap
sesama. Sikap eksklusif tidaklah patut kita miliki sebagai pengikut Kristus. Sikap toleran Yesus menjadi dasar bagi hidup kita di tengah masyarakat yang majemuk. Kita harus membuka diri kita terhadap sesama yang mungkin tidak segolongan dengan kita tetapi mereka menghayati nilai-nilai injili. Kita ingat episode Paulus di Athena, di mana ia menemukan tulisan: "Kepada Allah yang tidak dikenal" (Kis 17:23). Mereka tidak mengenal Yesus dan mengimaniNya tetapi menghayati nilai-nilai Injil dan hidup Yesus sendiri. Mari kita menghilangkan persepsi kita yang jelek tentang sesama yang tidak seiman. Surga bukan status quo bagi kita, itu urusan Tuhan untuk memilih mereka yang layak tinggal bersamaNya. Kita sekarang adalah manusia yang seharusnya menjadi saudara, meskipun jalan dan cara hidup berbeda, tetapi tujuannya tetap satu yaitu bersatu dengan Tuhan Allah, pencipta segala sesuatu.

Doa. Tuhan, namaMu menyelamatkan kami  semua. Terpujilah namaMu kini dan sepanjang masa. Amen

PJSDB

Tuesday, May 21, 2013

Renungan 21 Mei 2013

Hari Selasa Pekan Biasa VII
Sir 2:1-11
Mzm 37:3-4.18-19.27-28.39-40
Mrk 9:30-37

Nilai rohani sebuah pelayanan

Kita semua mengenal lagu dengan lirik: “Melayani-melayani lebih sungguh. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku. Melayani, melayani lebih sungguh”. Lagu ini memang hanya mengulangi kata "melayani" tetapi sebenarnya dapat membangkitkan semangat yang benar dan sungguh-sungguh untuk melayani Tuhan dan sesama. Tantangan dalam pelayanan adalah ketidakmampuan pribadi untuk melupakan apa yang kita lakukan dalam melayani Tuhan dan sesama. Seringkali orang melayani tetapi penuh perhitungan: menceritakan apa yang sudah sedang dikerjakan, berapa jumlah uang yang keluar dari dompet sendiri, berapa lama waktu melayani dan lain sebagainya. Memang sangat manusiawi cerita-cerita seperti ini karena orang hanya mau menunjukkan bahwa dirinya ada. Tetapi coba kita memandang kepada Tuhan. Tuhan Yesus melayani para muridNya sampai tuntas dan hanya mengatakan kepada mereka: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu.” (Yoh 13:14).

Penginjil Markus hari ini melaporkan kisah pelayanan Yesus bersama para muridNya.
Ketika suatu saat melintasi daerah Galilea, Ia mengajar para muridNya: “Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia. Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Pelayanan Yesus yang paling luhur adalah pengorbanan diriNya, bahkan Ia rela dibunuh demi keselamatan umat manusia. Ia sendiri berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Melayani lebih sungguh karena Tuhanlah yang lebih dahulu melayani dengan menyerahkan nyawaNya sampai tuntas. Yesus juga tidak membuat perhitungan apa pun terkait pengorbanan diriNya itu. Dia mengurbankan diriNya karena cintaNya kepada manusia.

Para murid tidak bereaksi atas pernyataan Yesus ini. Dikatakan bahwa mereka tidak mengerti namun tidak berani bertanya kepada Yesus alasan mengapa mengatakan masa depanNya demikian kepada mereka. Mengapa demikian? Karena hati para murid masih tertutup. Mereka memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar. Hati mereka masih penuh dengan ambisi-ambisi tertentu. Hal ini ditunjukkan dengan perdebatan di
antara mereka tentang siapa yang terbesar sekaligus menjadi pemimpin di antara mereka. Mereka sungguh-sungguh lupa bahwa ketika dipilih menjadi murid, Yesus mau menjadikan mereka sebagai pelayan dalam arti menjadi penjala manusia (Mat 4:19; Mrk 1:17).

Yesus tidak terpancing emosi karena kerapuhan hati para murid. Ia berusaha untuk membina mereka supaya mereka tahu diri dengan berkata: “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaknya ia menjadi yang terakhir dari semuanya, dan menjadi pelayan semuanya” (Mrk 9:35). Tetapi supaya para murid dapat lebih memahami maksud Yesus, Ia memanggil seorang anak kecil, memeluknya dan berkata: “Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini demi namaKu, dia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, sebenarnya bukan Aku yang mereka terima, melainkan Dia yang mengutus Aku” (Mrk 9: 37). Menjadi pemimpin atau orang terkemuka berarti siap untuk melayani. Untuk menjadi pelayan yang baik, orang harus rela menjadi kecil, tidak terkenal tetapi membuat orang lain menjadi bahagia dan terkenal.

Sekarang mari kita teliti semua pelayanan yang sedang kita lakukan. Apakah kita pernah
sadar dan merasa bahwa pelayanan kita akan sukses dan menyenangkan kalau kita juga boleh mengalami disakiti, dianggap tidak berarti apa-apa tetapi kita sendiri tidak putus asa, dan tetap setia melayani? Ataukan yang terjadi adalah rasa putus asa yang membara, kurang percaya diri dan benci yang berkobar-kobar kepada seseorang? Melayani seperti Yesus berarti menderita, memikul salib dan membuat orang lain bahagia.

Kitab Putra Sirak dalam bacaan pertama membantu kita untuk bertahan dalam penderitaan. Ada aneka pencobaan yang akan dialami sepanjang hidup namun hal terpenting adalah kesabaran dan kepercayaan kepada Allah. Mengabdi dengan setia Tuhan berarti siap menghadapi dan mengalami pencobaan. Kita juga diharapkan untuk selalu bersatu dengan Tuhan dan tidak berpaling dariNya. Mencintai
Tuhan berarti siap dihina, dianiaya. Barangsiapa bertahan maka ia akan memperoleh sukacita kekal di surga. Tuhan memang pengasih dan penyayang, Ia mengampuni dosa dan menyelamatkann di waktu kemalangan.

Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk setia melayani seperti Yesus sang pelayan sejati. Ia melayani sampai tuntas dengan mengorbankan diriNya hingga sengsara, wafat dan bangkit pada hari ketiga. Menjadi pelayan berarti siap untuk dihina, dianiaya dan kalau bertahan dalam situasi yang sulit maka ia sendiri menyelamatkan nyawanya (Mat 16:25). Yesus sendiri sebagai Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa (Mat 20:28). Dalam situasi yang sulit karena penganiayaan, jangan pernah takut untuk tetap siap melayani Tuhan dan sesama.

Doa: Tuhan Yesus, bantulah kami agar memiliki kemampuan melayani lebih sungguh lagi di dalam hidup dan karya kami. Amen

PJSDB

Monday, May 20, 2013

Renungan 20 Mei 2013

Senin Pekan, Pekan Biasa VII
Sir 1:1-10
Mzm 93: 1ab.1c-2.5
Mrk 9:14-29

Beriman dengan bijaksana


Kita sudah mengakhiri masa paskah yang berlangsung selama tujuh Minggu. Hari ini kita memulai liturgi masa Biasa, Pekan yang ketujuh.

Pada hari Senin ini kita dibantu oleh Sabda Tuhan untuk memahami makna iman dan kebijaksanaan. Pertanyaan bagi kita adalah apa yang dimaksudkan dengan iman? Teolog Jerman, Karls Rahner (1904-1984) mengartikan iman sebagai upaya menempatkan diri dengan hal yang tidak bias dimengerti atas Tuhan seumur hidup. Paus Emeritus Benediktus ke XVII mengartikan iman sebagai segala sesuatu yang kita harapkan  dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ensiklik Spe salvi, 7).

Katekismus Gereja Katolik (153-165.179-180-183-184) memberikan 7 ciri iman:
* Iman adalah suatu rahmat cuma-Cuma yang kita terima saat kita dengan sungguh-sungguh memohonkannya.
* Iman merupakan kekuatan adikodrati yang mutlah diperlukan jika kita ingin mencapai keselamatan.
* Iman menuntut kehendak bebas dan pemahaman yang bebas dari seorang ketika menerima undangan ilahi.
* Iman merupakan kepastian yang mutlak karena Yesus menjaminnya.
* Iman tidaklah sempurna kecuali jika mengarah pada cinta kasih yang aktif.
* Iman bertumbuh saat kita semakin cermat mendengarkan Sabda Tuhan dan memasuki hubungan yang khusyuk dengan Dia dalam doa.
* Iman memberi kita kesempatan untuk mencicipi kegembiraan surgawi.

Penginjil Markus hari ini melaporkan bahwa Yesus turun dari gunung bersama para murid terpilih Petrus, Yakobus dan Yohanes, setelah menampakkan kemuliaanNya. Namun ada satu persoalan yang dihadapi adalah ketidakmampuan para murid untuk mengusir roh jahat yang membisukan seorang anak. Mendengar bahwa para muridNya tidak mampu mengusir roh jahat maka Yesus mengatakan kekesalanNya pada mereka: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?” Yesus mempertanyaan iman dan kepercayaan mereka kepada Yesus. Ternyata tinggal bersama Yesus belum menjadi jaminan bahwa mereka sungguh-sungguh percaya pada Yesus. Selanjutnya Yesus melihat iman ayah anak yang bisu dan menyembuhkan anaknya. Yesus mengatakan kepada para muridNya bahwa semua roh jahat dapat keluar atau diusir dengan doa. Doa yang terus menerus akan menghancurkan kejahatan. Bagaimana kehidupan doamu? Apakah doa-doa yang dipanjatkan dengan iman sudah mengubah sebagian hidupmu?

Pada hari Senin ini kita juga langsung berjumpa dengan penulis Kitab Putra Sirakh yang
dengan tegas menjelaskan tentang kebijaksanaan. Baginya,Tuhan adalah sumber kebijaksanaan. Kebijaksanaan juga hanya ada pada Tuhan. Oleh karena itu Ia memiliki hak dan otoritas penuh untuk memberikannya kepada semua makhluk yang Ia sudah ciptakan, termasuk memberinya kepada setiap pribadi menusia sebagai sebuah anugrah. Hidup manusia selalu terarah kepada Tuhan sang sumber kebijakasanaan.

Dalam ajaran kristiani kebijaksanaan termasuk salah satu kebajikan atau keutamaan pokok (kardinal) di samping keadilan, kebenaran dan penguasaan diri. Menurut Ketekismus Gereja Katolik, kebajikan atau keutamaan adalah suatu disposisi bathin yang positif, kebiasaan baik dan kecenderungan untuk melakukan hal yang baik (KGK 1803; 1833). Mengapa disebut kebajikan kardinal? Karena semua kebajikan yang lain berada di bawahnya atau tergantung padanya. Di dalam Kitab kebijaksanaan dikatakan: “Kebajikan adalah hasil jerih payah kebijaksanaan. Sebab ia mengajarkan menahan diri dan berhati-hati, keadilan dan kebenaran, dari pada semuanya itu tidak ada sesuatu pun di dalam kehidupan yang lebih berguna bagi manusia” (Keb 8:7).

Apa yang dimaksudkan dengan kebajikan kebijaksanaan? Kebijaksanaan merupakan induk dari semua kebajikan. Kebijaksanaan adalah kebajikan dengan mana seorang menyadari kewajiban moralnya dan hal-hal yang mendukung untuk melaksanakannya. Orang yang bijaksana adalah orang baik karena melihat realitas hidup secara objektif, jelas, jujur, dapat menerapkan kebenaran-kebenaran dan penilaian moral serta mewujudkannya dalam suatu tindakan konkret. Pada prinsipnya kebijaksanaan adalah pengukur keadilan, penguasaan diri dan keberanian. Orang yang tidak bijaksana dalam hidup akan berlaku sembrono, tidak konsisten, lalai, hilang visinya tentang hidup kekal. Banyak orang bertindak tanpa banyak berpikir tentang apakah nantinya tindakannya itu dapat membawanya ke surga atau tidak. Mengapa? Karena semua tindakan kita sebenarnya harus mengarahkan kita menuju kepada Tuhan sebagai sumber kebijaksaan.

Seseorang dikatakan menjadi bijaksana dengan belajar membedakan apa yang penting dari apa yang tidak penting.Untuk merencanakan tujuan yang baik dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. Kebijaksanaan dikatakan di atas sebagai induk dari semua kebajikan karena sifatnya mengarahkan semuanya kepada kebaikan. Pribadi
yang  bijaksana mengenali apa yang baik dan benar di dalam hidupnya sehingga dengan demikian dapat menerapkan kebajikan-kebajikan yang lainnya.

Sabda Tuhan hari ini mengatakan hal-hal yang sangat praktis. Kita dibimbing Tuhan untuk beriman secara bijaksana dalam arti iman yang berlandaskan pada doa tanpa henti. Dengan doa segala yang jahat pun dapat dikalahkan. Dengan doa orang semakin bijaksana dan selalu mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan, sumber kebijaksanaan. Apakah anda beriman? Apakah anda bijaksana? Apakah anda beriman dengan bijaksana?

Doa: Tuhan, bantulah kami supaya dapat beriman dengan bijaksana. Amen

PJSDB

Sunday, May 19, 2013

Homili Hari Raya Pentekoste/C

Hari Raya Pentekosta
Kis 2:1-11
Mzm 104:1ab+24ac-30.31-34
Rm 8:8-17
Yoh 14:15-16.23b-26

Allah Roh Kudus, Datanglah!

Hari ini adalah Hari Raya Pentekosta. Dalam bahasa Yunani disebut pentecoste atau hari kelima puluh setelah merayakan paskah. Di dalam Kitab Perjanjian Lama, pentecoste dihubungkan saat Bangsa Israel merayakan perjanjiannya dengan Allah di Gunung Sinai. Melalui peristiwa pentecoste di Yerusalem ini lalu dikenang di dalam gereja perdana dan diwariskan sampai saat ini. Roh Kudus atau paracletos dijanjikan Tuhan Yesus saat memberikan amanat perpisahannya. Allah Bapa dalam nama Yesus mengutus Roh KudusNya turun dari surga turun ke atas para muridNya. Roh Kudus mengubah murid yang tidak percaya menjadi rasul yang bersaksi bagi Kristus. Banyak orang memberi dibaptis dan ini juga menjadi saat lahirnya Gereja. Tuhan menyelamatkan semua orang.

Di dalam Credo kita selalu mengulangi: “Aku percaya akan Roh Kudus”. Percaya kepada Roh Kudus berarti menyembahNya sebagai Allah sebagaimana Bapa dan Putra. Roh Kudus sungguh-sungguh masuk di dalam hidup kita dan menjadikan kita anak-anak Allah. Bacaan Injil hari ini mengisahkan bahwa sebelum kematianNya, yesus sudah berjanji kepada para muridNya bahwa Ia akan mengutus Paracletos atau seorang Penghibur yang lain (Yoh 14:16) saat Yesus sudah kembali kepada Bapa. Yesus memang mau tetap menyertai para muridNya supaya dimana Ia berada, para murid yang percaya kepadaNya juga berada. Para murid baru menyadari ketika mereka menerima pencurahan Roh pada hari pentecoste.

Roh kudus sebagai Paracletos menginspirasikan manusia melalui karunia-karunia istimewa. Nabi Yesaya dalam Kitab Perjanjian Lama (Yes 11:2-3) menggambarkan tujuh karunia Roh Kudus yaitu kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, kesalehan, pengenalan diri dan takut akan Allah. Tujuh karunia Roh Kudus diberikan kepada kita supaya dapat mencapai tujuan akhir kita yakni Surga. Di samping karunia-karunia ini, ada juga buah Roh Kudus yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23).

Pada hari terakhir masa Paskah ini, Yesus mengingatkan lagi janjiNya untu menganugerahkan Roh Kudus. Roh ini berasal dari Bapa dan diberikan melalui PuteraNya Yesus Kristus kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Orang-orang yang dikehendaki adalah mereka yang percaya kepada Yesus dengan mengasihi dan menuruti segala perintahNya. Penghibur itu dapat membuat setiap pribadi bersatu dengan Tuhan sendiri. Peran utama Roh Kudus adalah mengajarkan segala sesuatu kepada dan mengingatkan akan segala sesuatu yang telah difirmankan Yesus sendiri. Peran Roh Kudus ini baru akan dirasakan setelah Yesus naik ke Surga.

Pentekoste memang menggemparkan seluruh Yerusalem. Lukas dalam Bacaan Pertama mengisahkan bahwa ketika semua orang percaya sedang berkumpul yakni para murid dan Bunda Maria, turunlah Roh Kudus dari Surga yang dijanjikan Bapa melalui Yesus dalam wujud tertentu: lidah-lidah api yang  bertebaran di hinggap di atas kepala mereka. Pada saat itu keluar power dan strength yang luar biasa sehingga membuat orang-orang saat itu dapat berbicara dalam berbagai bahasa.  Orang Galilea berbicara bahasa daerah mereka tetapi dapat dimengerti oleh banyak orang yang bukan orang Galilea. Roh Kudus memenuhi hati setiap orang dan mereka dapat berbicara.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah. Orang yang hidup dalam daging tidak berkenan pada Allah. Orang yang hidup dalam Roh, Roh juga akan tinggal di dalamnya. Memiliki Roh Kudus berarti memiliki Kristus sendiri. Roh yang diterima adalah Roh Kebenaran yang memerdekakan para pengikut Kristus dari dosa-dosa. Paulus dengan tegas mengatakan: “Kamu menerima bukan roh perbudakan yang membuat ketakutan tertentu tetapi Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah. Dengan demikian bersama-sama akan menyebutnya Abba, ya Bapa!

Pada Hari Raya Pentekoste ini kita boleh berkata dengan jujur kepada Tuhan bahwa kitasangat membutuhkan Roh KudusNya. Tuhan Yesus berjanji dan janjiNya itu Ia tepati. Ia tidak mau membiarkan kita sendirian. RohNya akan ada bersama kita, ada bersama gereja. Dalam perutusan Gereja di dunia, Yesus menghendaki agar para muridNya tidak merasa sendirian. Roh Kudus adalah misionaris pertama yang menginspirasikan para murid untuk menjaid misionaris. Para murid, kita saat ini sebagai gereja adalah kolaborator dalam perutusan Yesus. Ketika bangkit Yesus menampakkan diriNya kepada para murid. Pada saat itu Ia mengucapkan damai sejahterah lalu menghebuskan RohNya kepada mereka (Yoh 20:23).

Kita semua juga menerima Roh Kudus pada hari pembaptisan dan sakramen penguatan. Kami para kaum tertahbis juga menerima Roh Kudus pada hari pentahbisan. Sakramen-sakramen istimewa ini menjadi saat pengudusan. Roh Kudus yang menguatkan dan memampukan setiap pribadi untuk melayani. Yesus mengharapkan agar kita memanifestasikan  kuasa dan kasih Roh Kudus. Roh itu ada dan hadir di dalam hidup kita. Apakah anda percaya Allah Roh Kudus?

Doa: Datanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umatMu dan nyalahkanlah di dalamnya api cintaMu dan baharuilah seluruh muka bumi. Amen

PJSDB

Saturday, May 18, 2013

Renungan 18 Mei 2013

Hari Sabtu Pekan Paskah VII
Kis 28:16-20.30-31
Mzm 11:4.5.7
Yoh 21:20-25

Tetapi engkau, Ikutlah Aku!

Kita semua berada di hari-hari terakhir masa Paskah. Besok kita merayakan Hari Raya Pentekosta. Selama masa novena Pentekosta ini, kita semua memiliki harapan yang sama yakni memperoleh karunia-karunia dan buah-buah Roh Kudus. Mengapa? Karena kita juga menyatakan diri sebagai orang-orang yang percaya kepada Allah Roh Kudus. Percaya kepada Allah Roh Kudus berarti menyembahNya sebagai Allah yang benar sebagaimana Bapa dan Putra. Artinya dengan percaya kepda Roh Kudus kita semua membiarkan Roh Kudus masuk ke dalam hati kita supaya kita menjadi anak-anak Allah dan dapat mengenalNya. Karena Roh Allah turut bekerja, kita dapat mengubah dunia. 

Hari ini Penginjil Yohanes melaporkan dialog kasih antara Yesus dan para muridNya khususnya dengan Petrus. Selama tiga tahun bersama-sama, banyak pengalaman menarik yang mereka rajut bersama. Para murid sendiri bergembira karena ada banyak perubahan di dalam diri mereka sejak awal mereka dijanjikan Yesus untuk menjadi penjala manusia. Ada pengalaman tidak enak dengan perilaku Yudas Iskariot yang menjual Yesus. Petrus sendiri punya pengalaman menyangkal Yesus tiga kali. Mereka juga menyaksikan penderitaan sampai wafat Yesus. Tetapi semua itu sudah berlalu. Kini mereka berada di hadapan Yesus yang sudah bangkit dengan mulia. Kalau kita boleh mengikuti refrain Mazmur antar bacaan, para murid adalah orang yang tulus sehingga dapat memandang wajah Tuhan yang mulia. Ia masih mau menyertai mereka, berekaristi bersama dan mengutus mereka hingga ujung dunia dengan segala penyertaanNya. Parakletos yang dijanjikan berasal dari Bapa dalam nama Yesus akan mengajar segala sesuatu kepada mereka dan mengingatkan segala sesuatu yang diajarkan Yesus sendiri. Ini adalah kekuatan mereka.

Petrus setelah berikrar di hadapan Yesus dan keenam teman lainnya bahwa ia mengasihi Yesus lebih dari segalanya, komitmen baru pun ia bentuk sesuai ajakan Yesus sendiri: “Ikutlah Aku”. Dua kali Yesus mengatakan hal ini kepada Petrus untuk mengikutiNya. Mengikuti Yesus berarti mata tertuju hanya kepadaNya, meniru seluruh hidupNya dan mengambil semua kebajikanNya untuk dihayati setiap hari. Dalam bahasa Inggris, orang Kristiani biasa di sebut Christian. Kalau kata CHRISTIAN ini dipenggal menjadi dua suku kata maka akan menjadi:  CHRIST-IAN. Ada kata CHRIST yaitu Kristus yang berarti diurapi atau ditahbiskan. Ada akronim IAN yang boleh dikatakan: I am nothing. Jadi Christian kalau kita  artikan: Christ, I am nothing! Benar kata Yesus di dalam Injil Yohanes  bahwa terlepas dari Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5). Yesus adalah segalanya, tanpa Yesus kita tidak memiliki hidup.

Hal menarik dalam kebersamaan di komunitas adalah para murid ini saling mengenal satu
sama lain. Petrus memandang Yohanes sebagai murid kesayangan Yesus. Ia terpesona dan merasa rendah diri di hadapan Yohanes. Itu sebabnya Ia berkata kepada Yesus tentang nasib Yohanes. Tetapi  Yesus  berkata bahwa hidup kekal itu anugerah istimewa dari Bapa dalam namaNya. Oleh karena itu yang paling penting bagi seorang murid adalah selalu terbuka kepada Tuhan dan mau diselamatkan. Pribadi itu mau mengikuti semua rencanaNya hari demi hari. Dengan demikian Tuhan akan lewat dan mengampuni dosa-dosanya.  Mengikuti Yesus berarti ingin memperoleh keselamatan.

Terlepas dari relasi antar pribadi di dalam komunitas, satu hal manusiawi yang ditonjolkan Petrus adalah ia membandingkan dirinya dengan Yohanes, murid kesayangan Yesus. Ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Yesus berkata: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tuinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikulah Aku" Memang ini hanya pengalaman manusiawi tetapi sering terjadi di dalam hidup kita. Kita menjadikan orang lain sebagai pembanding. Padahal Tuhan Yesus punya rencana-rencana istimewa bagi keduanya. Petrus dipanggil Tuhan untuk mengikuti Yesus sebagai martir. Ia juga akan dibunuh dengan cara yang sama dengan Yesus. Ini adalah wujud kesaksian imannya. Yohanes adalah satu-satunya murid yang tidak wafat sebagai martir. Usianya panjang dan digunakan untuk mewartakan Allah sebagai kasih. Ia memberi kesaksian tentang Yesus di dalam Injil dan surat-surat serta Wahyu. Jadi dua murid dengan panggilan yang sama tetapi cara mengasihi Yesus berbeda.

Pertanyaan yang muncul adalah apa jawaban pasti dari manusia terhadap kasih Kristus?
St.Paulus memberi teladan kekudusan bagi kita semua sebagai Gereja. Paulus tahu bahwa ia akan pergi ke luar negeri yaitu ke Roma dan di sana ia akan menderita sebagai tahanan dipenjarakan. Mengapa ia tidak memilih berlari, menjauh dari segala penderitaan tetapi justru dengan tangan terbuka menerimanya? Paulus hebat. Pernakah anda menyadari proses pembuatan anggur yang diminum? Supaya menghasilkan anggur yang berkualitas maka buah anggur itu harus diperas terus sampai tidak ada airnya. Demikian Paulus  dan para rasul menderita supaya Gereja dapat menjadi kuat, tegar selamanya.

Selama berada di Roma, Paulus menyewa rumah. Dan selama dua tahun ia menerima banyak orang yang datang kepadanya. Ia dengan terbuka mewartakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Yesus Kristus. Pengalaman Paulus ini memang sesuai dengan perkataannya kepada Timotius: "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala
kesabaran dan pengajaran" (2Tim 4:2). Di bagian lain Paulus berkata: "Karena jika aku memberitakan injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika tidak memberitakan injil" (1Kor 9:16).

Sabda Tuhan mengundang kita untuk menyadari ajakan Tuhan: “Ikutlah Aku”. Yesus ada di hadapan kita, terus mengajak untuk mengikutiNya. Mengikuti Yesus berarti menyadari keberadaanNya, meniru segala kebajikan dan menghayatinya hari demi hari. Mari kita belajar dari Petrus dan Paulus yang mengikuti Yesus sampai tuntas. Mereka bisa, kita juga pasti bisa.

Doa: Tuhan, semoga hari ini kami boleh menyadari makna panggilan untuk mengikutiMu. Amen

PJSDB