Friday, November 29, 2019

Food For Thought: Belajar untuk melepaskan

Semuanya akan berlalu...

Adalah Ajahn Chah (1917-1993). Beliau dikenal sebagai Sosok Biksu Budha yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Budhisme di Thailand. Kepada anggota komunitasnya ia pernah berkata: "Jika anda membiarkan hal kecil berlalu, anda akan menemukan kedamaian kecil juga. Jika anda lebih banyak hal berlalu, anda akan meraih lebih banyak kedamaian. Jika anda benar-benar membiarkan seluruhnya berlalu, maka anda akan mendapatkan seluruh kedamaian." Saya sepakat dengan perkataan sang Biksu ini. Alasan saya adalah bahwa hidup kita ini bermakna ketika kita berani untuk melepaskan hal yang terlalu mengikat hati dan hidup kita sehingga kita memang kelihatan manusia yang merdeka padahal nyatanya kita belum merdeka. Kita masih dibelenggu oleh hal-hal yang sebenarnya bersifat sementara saja. Sebab itu kita perlu memiliki kemampuan untuk melepaskan hal-hal kecil hingga hal-hal yang besar supaya kita bertumbuh menjadi lebih manusia lagi.

Semua akan berlalu di dalam hidup kita. Perhatikanlah seorang yang meninggal dunia. Ketika masih hidup, ia memiliki segalanya. Ketika meninggal dunia ia tidak memiliki apa-apa selain peti jenasah dan kuburan yang sempit. Saya pernah memperhatikan seorang romo misionaris meninggal Dunia. Di dalam peti jenasah ia hanya mengenakan kasula dan stola yang sudah lama dipakainya, sudah usang dan kotor. Dia tidak membawa sesuatu yang lain. Barang-barang di kantor dan di kamar adalah milik kongregasi. Begitulah hidup kita yang bersifat sementara. Benar sekali perkataan Ayub ini: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayb 1:21).

Semua akan berlalu dan kita harus berani untuk melepaskan segalanya demi kemuliaan Tuhan. Benarlah perkataan Tuhan Yesus ini: "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Ku takkan berlalu" (Luk 21:33). Segala yang fana akan berlalu di hadapan Tuhan. Hanya Sabda-Nya tetap selamanya. Yesus adalah Sabda, Logos yang mengatasi dan menguasai segalanya. Dialah Allah Putera yang menyelamatkan dan menebus dunia dengan darah-Nya yang Mulia. Ia tidak mengasihi diri-Nya sebagai Anak Allah tetapi mengurbankannya untuk keselamatan manusia. Dia memberikan keabadian kepada manusia. Perkataan Yesus adalah perkataan hidup kekal. Simon Petrus dengan jujur mengatakan: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal" (Luk 6:68). Benar Sabda Yesus Kekal abadi.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Mulailah sikap lepas bebas di dalam hidup kita. Seandainya hari ini adalah hari terakhir bagiku, apakah saya masih harus sibuk dengan hal duniawi? Apakah saya masih berkeras hati untuk tidah membiarkan semuanya berlalu di dalam hidup ini? Don Bosco mengajarkan para Salesian: 'Da mihi animas coetera tolle' (Berilah daku jiwa-jiwa, yang lain ambilah). Maru kita membudayakan kemampuan untuk melepaskan...Coetera tolle! 

Tuhan memberkati kita semua,


P. John Laba, SDB

Homili 29 November 2019

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXXIV
Dan 7:2-14
MT. TDan 3: 75-81
Luk 21:29-33

Belajar membaca tanda-tanda zaman

Perubahan iklim dan cuaca saat ini memang benar-benar dirasakan oleh kita semua. Secara teoritis musim hujan itu terjadi pada bulan Oktober hingga April dan musim kemarau dari bulan April hingga Oktober. Namun belakangan ini terjadi perubahan yang besar. Pada bulan-bulan yang disebutkan ini tidak ada tanda-tanda perubahan musim dan cuaca. Pada tahun ini misalnya, di kota Dili di mana saya tinggal saat ini, hingga tanggal 29 November 2019, baru turun hujan sebanayak dua kali dengan volumen hujan yang kecil, sedang ditempat-tempat yang lain sudah ada hujan dan banjir. Banyak orang di Dili mengeluh bahwa cuaca sangat panas sedangkan di tempat lain segar bahkan kedinginan. Perubahan iklim dan cuaca tidak hanya diselidiki oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan peralatan yang serba canggih saat ini tetapi orang-orang yang tidak memiliki keahlian juga mampu membaca tanda-tanda perubahan iklim dan cuaca melalui pengalaman empiris mereka. Mereka pandai membaca tanda-tanda zaman melalui pergerakan arah angin, bentuk dan warna awan di langit, kehadiran burung-burung tertentu, keadaan pohon-pohon tertentu, ada yang merasa kepalanya sakit dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman ini merupakan bagian dari tanda-tanda zaman yang terbukti dalam hidup mereka.

Tuhan Allah menciptakan kita dan menganugerahi kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman. Ada kalanya sangat tepat sesuai pengalaman empiris, ada kalanya meleset dari pengalaman. Namun demikian pengalaman ketika membaca tanda-tanda zaman selalu mengajarkan orang dari zaman ke zaman dan juga secara turun temurun. Memang, pengalaman adalah guru kehidupan. Semua ini adalah bagian yang penting dari rencana dan kehendak Tuhan bagi kita semua. Kita semua diarahkan oleh sabda-Nya untuk memahami tanda-tanda zaman sehingga mampu menerima Kerajaan-Nya.

Tuhan Yesus menyiapkan para murid untuk menerima Kerajaan Allah. Ia menggunakan perumpamaan-perumpamaan supaya membuat mereka lebih mengerti dengan kapasitas mereka sebagai manusia biasa. Menurut Lukas dalam Injilnya, Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan singkat ini dengan berkata: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat." (Luk 21:29-31). Tuhan Yesus mengambil contoh tanda alam pada pohon ara, sejenis pohon yang sangat terkenal di dalam Kitab Suci. Mungkin kita bertanya, mengapa pohon ara itu begitu penting di mata Tuhan Yesus? Pohon ara dapat berbuah dua kali dalam setahun. Pohon ara ini melambangkan bangsa Israel. Mereka kelihatan religius, tapi itu hanya secara lahiriah karena mereka tidak menghasilkan buah-buah rohani dalam kehidupannya (Mat 21:19-21; Mrk 11:13, 20, 21; Luk 13:6, 7; 21:29). Tuhan Yesus sering mengunakan perumpamaan ini untuk mengedukasi bangsa Israel, Hanya Saja mereka sulit untuk memahaminya. Pohon ara juga melambangkan kehidupan yang baik. Orang yang hidup di bawah naungan pohon ara menggambarkan kehidupan yang penuh damai sejahtera, sukacita dan kemakmuran (1 Raj 4:25; 2 Raj 18:31; Yes 36:16; Mi 4:4; Za 3:10). 

Dengan memandang pohon ara yang sudah mulai bertunas orang dapat membaca salah satu tanda zaman yakni musim panas sudah dekat. Ini adalah sebuah pengalaman empiris yang tidak dapat dihindari. Semua orang dari generasi ke generasi mengakuinya sebagai sebuah kebenaran empiris. Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk memperkaya pengalaman empiris yang lain berupa chaos atau suasana kacau balau yang sedang terjadi seperti nubuat tentang hancurnya kota Yerusalem, banyaknya perang yang terjadi di mana-mana dan memakan banyak korban, tanda-tanda alam pada matahari, bulan dan bintang, ada goncangan kuasa-kuasa langit sehingga menimbulkan kecemasan, ketakutan dan berujung kematian. Semua ini adalah tanda-tandah alami sebelum Anak Manusia datang dalam kemuliaan dan kekuasaan-Nya dalam awan. Dan Tuhan Yesus mengingatkan supaya kita tahu dan mawas diri bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus bahkan menegaskan: "Sungguh angkatan ini takkan berlalu, sebelum semuanya terjadi." (Luk 21:32). 

Sikap mawas diri ini dapat berakar kuat hanya melalui Sabda Tuhan. Untuk itu Tuhan Yesus mengatakan: "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Luk 21:33). Mengapa Tuhan Yesus mengatakan demikian kepada para murid-Nya? Sebab Yesus sendiri adalah Sabda atau Logos. Dialah Tuhan dan Raja semesta alam. Maka tepatlah ketika Ia mengatakan bahwa langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataan-Nya tidak akan berlalu. Kita diingatkan supaya setia kepada Yesus, sang Sabda hidup.

Pada Hari Ini Tuhan mengingatkan kita supaya mengusahakan buah-buah yang berlimpah dari Kerajaan Allah. Buah-buah yang berlimpah dari Kerajaan Allah berasal dari Sabda Tuhan. Sebab itu kita perlu dan harus membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan Sabda kekal di dalam hidup kita. Sabda yang satu dan sama ini membantu kita untuk pandai membaca tanda-tanda zaman.


P. John Laba, SDB

Thursday, November 28, 2019

Homili 28 November 2019

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXXIV
Dan 6:12-28
MT T.Dan 3:68-74
Luk 21:20-28

Bangkitlah, angkatlah mukamu!

Adalah Khalil Gibran. Pada suatu kesempatan ia berkata: "Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya." Perkataan ini memang sangat sederhana tetapi mendalam. Banyak kali kita menjadi serupa dengan orang-orang yang selalu optimis dan memiliki harapan yang besar. Orang-orang seperti ini selalu melihat bunga mawar bukan durinya yang tajam. Bunga mawar itu begitu unik dan indah. Bunga-bunganya berwarna, ada yang merah, ungu, putih dan lain sebagainya, yang turut memperindah kelopak bunga mawar. Inilah orang-orang optimis yang melihat secara keseluruhan  bunga mawar mulai dari pohon hingga bunganya yang Indah. Bagaimana dengan orang-orang pesimis? Orang-orang pesimis hanya melihat durinya saja dan mengabaikan bunga mawar yang begitu indah secara keseluruhan. Mereka hanya mengenal mawar sebagai bunga yang menakutkan karena berduri. Sebab itu mereka selalu berhati-hati mendekati bunga ini. Memang kelihatan lucu, tetapi itulah manusia. Bunga yang indah tetapi hanya dikenal sebagai bunga berduri tajam. 

Apakah anda termasuk orang yang optimis atau pesimis? Apakah anda melihat mawar sebagai bunga yang indah atau hanya melihat mawar sebagai bunga yang duri-durinya menakutkan. Jawaban atas pertanyaan ini akan tepat berdasarkan refleksi dan pengalaman pribadi kita masing-masing. Anda seorang yang penuh optimis dan harapan untuk menjadi yang terbaik karena melihat mawar sebagai bunga. Anda seorang yang penuh pesimis karena hanya terpaku pada duri-duri mawar. Dalam pengalaman praktis, kita sering menjadi optimis karena melihat sesama sebagai manusia yang memiliki kekhasan sebagai individu dan berusaha untuk menerimanya apa adanya. Setiap pengalaman penderitaan, kemalangan dan kegagalan adalah peluang untuk menjadi yang terbaik. Tidak ada ketakutan dalam ensiklopedi hidupnya. Hal ini berbeda dengan orang pesimis. Mereka akan berhenti pada penderitaan, kemalangan dan kegagalan. Bagi mereka sekali menderita tetap menderita, sebuah takdir, tidak akan ada perubahan yang signifikan dalam hidup ini.

Selama hari-hari terakhir masa liturgi kita ini, Tuhan membimbing kita untuk memilih apakah kita mampu menjadi pribadi yang optimis atau pesimis. Penginjil Lukas menggambarkan situasi chaos yang akan terjadi pada saat menjelang hari Tuhan. Tanda-tanda situasi chaos yang dimaksud adalah: Pertama, Yerusalem akan dikepung oleh tentara hingga mereka meruntuhkannya. Hal ini sungguh terjadi pada tahun 70M. Kedua, karena situasi chaos di Yerusalem maka sepertinya terjadi sebuah goncangan yang dahsyat di Israel. Orang-orang Yudea berlarian ke pegunungan, orang-orang di kota mengungsi, orang-orang kampung dilarang berurbanisasi. Mengapa ada larangan ini? Yesus mengatakan bahwa ini adalah masa pembalasan dalam pengadilan terakhir.  Ketiga, Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa asing yang tidak mengenal Allah. Hal ini berdampak pada penderitaan yang akan dialami kaum ibu, masyarakat akan Tewas oleh mata pedang dan menjadi tawanan bangsa asing itu. Keempat, ada fenomena alam khususnya tanda-tanda yang akan terjadi pada matahari, bulan dan bintang. Di bumi sendiri ada deru dan gelora laut. Kuasa-kuasa langit bergoncang. Akibatnya adalah rasa takut dan cemas menguasai manusia di bumi ini sehingga berujung pada kematian.

Semua situasi yang menakutkan ini menjadi awal untuk menyambut kedatangan Anak Manusia. Dalam suasana chaos yang menakutkan ini, orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Tentu saja orang-orang yang menyaksikannya diliputi rasa takut yang mencekam. Namun demikian kita harus percaya bahwa ini adalah tanda Tuhan Yesus datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Maka yang harus kita miliki bukanlah rasa takut melainkan perasaan optimis. Ciri khas orang optimis di hadirat Tuhan adalah: "Bangkitlah dan angkatlah mukamu sebab penyelamatanmu sudah dekat".   Perkataan Tuhan Yesus ini menjadi nyata ketika para murid Yesus menyaksikan sendiri kenaikan-Nya ke surga di mana mereka 'menatap ke langit'  (Kis 1:10). Menatap ke langit adalah optimisme sebagai pengikut Kristus, meskipun penderitaan dan kemalangan akan menimpa para murid Yesus di masa depan.

Gereja dalam sejarahnya sudah membuktikan semua ini. Pengalaman penderitaan, kemalangan dan kegagalan tidak menjadi alasan untuk menjadi manusia yang pesimis. Tuhan Yesus sendiri mengalaminya dan memenangkannya sengan gemilang. Kita mengikuti-Nya dari dekat dan bersamanya kita akan menjadi 'lebih dari pemenang'. Santu Paulus mengatakan: "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" (Rom 8:37). Ya, kita memang lebih dari pemenang! 


PJ-SDB 

Wednesday, November 27, 2019

Homili 27 November 2019


Hari Rabu Pekan Biasa ke-XXXIV
Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28
MT Dan. 3:62,63,64,65,66,67
Luk. 21:12-19

Orang Kristen Sejati

Ada seorang pemuda yang yang menulis statusnya di media sosial: ‘OKS’. Semua followernya bertanya-tanya dan meminta penjelasan atas statusnya ini. Ia hanya menjawabnya: ‘OKS kepanjangannya adalah Orang Kristen Sejati’. Banyak orang hanya berkomentar: ‘O…’ Saya tertarik dengan status OKS ini karena menurut saya, kita semua yang dibaptis justru harus menunjukkan diri sebagai Orang Kristen Sejati. Orang Kristen sejati tanpa kepalsuan. Orang Kristen sejati yang berani bersaksi tentang imannya kepada Tuhan Yesus Kristus. Orang Kristen sejati yang nyata dalam kata dan tindakannya. Orang Kristen sejati yang aktif dalam hidup menggereja. Orang Kristen sejati yang tidak masuk kategori Kristen NaPas alias Natal dan Paskah. Banyak orang mengakui diri sebagai orang Kristen namun hidupnya jauh dari kehidupan Kristus sendiri.

Pada hari-hari berakhirnya tahun liturgi Gereja, kita semua senantiasa dibantu oleh Tuhan melalui sabda-Nya supaya menyiapkan diri pribadi menyongsong datangnya hari Tuhan. Berkaitan dengan hal ini, para penginjil seperti Santu Lukas mengisahkan bagaimana para murid Yesus begitu mengagumi Bait Allah. Rumah Tuhan di Yerusalem ini dibangun dengan menggunakan batu-batu yang indah dan berbagai macam barang persembahan. Rasa kagum yang berlebihan ini berhasil dibantahkan oleh Yesus ketika Ia berkata: “Akan tiba harinya segala yang kalian lihat disitu diruntuhkan, dan tidak ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain.” (Luk 21:6). Perkataan Yesus ini terbukti, ketika pada tahun 70M, orang-orang Romawi menghancurkan Bait Allah di Yerusalem. Para murid Yesus sadar dan mengingat kembali bahwa sesungguhnya Yesus sendiri sudah mengatakannya 40 tahun sebelumnya.

Apa yang para murid pikirkan setelah mendengar perkataan Yesus ini? Mereka semua berpikir bahwa Tuhan Yesus berbicara tentang akhir zaman atau hari di mana Tuhan datang. Kita sering menyebutnya hari kiamat. Sebab itu mereka lalu bertanya kepada-Nya tentang kapan dan saatnya yang tepat hari Tuhan tiba. Tuhan Yesus tidak menjawabnya dalam kurun waktu yang tepat, tetapi Ia justru membantu mereka untuk pandai membaca tanda-tanda zaman. Tanda-tanda zaman yang dimaksudkan Yesus berkaitan dengan kehidupan sebagai orang Kristen sejati. Dalam hal ini, orang Kristen sejati yang hidupnya dihiasi oleh kemartiran atau pertumpahan darah. Tertulianus, seorang Bapa Gereja pernah berkata: “O sangue dos mártires é a semente dos cristãos” (Darah para martir adalah benih hidup Kristiani). Perkataan Tertulianus ini benar-benar terbukti. Gereja pada awal-awal perkembangannya disirami darah para martir sehingga menjadi subur dan berkembang sampai saat ini. Darah para martir benar-benar menjadi benih yang berlipat ganda bagi Gereja.

Penginjil Lukas melanjutkan kisah Yesus di Yerusalem. Ia menasihati para murid-Nya dan kita semua yang membaca Injil hari ini agar benar-benar bertumbuh menjadi pengikut-Nya yang sejati. Nah, kesejatian orang Kristen terletak di mana?

Pertama, Kesiapan untuk menderita demi iman kepada-Nya. Prinsip umumnya adalah sekali percaya kepada Yesus Kristus maka tetaplah percaya hingga keabadian. Para pengikut Yesus Kristus akan ditangkap dan dianiaya karena iman kepada Yesus Kristus. Nama-Nya Yesus itu kudus dan menyelamatkan. Para murid Yesus akan dimasukkan ke dalam penjara, dihadapkan kepada para raja dan penguasa. Yesus menegaskan bahwa dalam suasana menderita ini menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk bersaksi.

Kedua, Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya penyelamat kita. Sebab itu ketika mengalami kesulitan, penderitaan dan kemalangan, janganlah cepat berputus asa. Hati kita harus tetap teguh kepada-Nya. Tuhan Yesus berjanji bahwa Ia sendirilah yang akan memberikan kata-kata hikmat, sehingga para murid atau Gereja-Nya masa kini tidak dapa ditentang atau dibantah oleh para lawan. Ini adalah perkataan Yesus yang menjanjikan keselamatan bagi semua orang.

Ketiga, Ada ketidakharmonisan di dalam keluarga. Tuhan Yesus berkata: “Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh.” Nama Yesus juga menjadi sumber kebencian. Dalam suasana yang sulit ini, Tuhan Yesus mengatakan, “Tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu." (Luk 21:18-19).

Ini adalah tiga hal penting yang Tuhan Yesus ajarkan dari Injil. Semoga ketiga hal ini membantu kita semua untuk bertumbuh menjadi Orang Kristen Sejati. Semua penderitaan dan penghinaan yang kita alami membuat kita semakin menyerupai Tuhan Yesus Kristus. Dia yang menjadikan kita sebagai pengikut-Nya yang sejati karena kita melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

PJ-SDB

Monday, November 25, 2019

Food For Thought: Memberi dengan sukacita

Berilah dengan sukacita!

Pada pagi hari ini saya mendapat broadcast berupa pesan Indah dari seorang sahabat. Ia mengutip perkataan Santu Paulus berikut ini: "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2Kor 9:7). Saya tersenyum sambil mengingat pesan injil hari ini. Namun saya coba kembali kepada pesan santu Paulus ini. Hidup bersama ditandai dengan kebiasaan baik untuk saling berbagi satu sama lain. Dalam kebiasaan saling berbagi ini, hendaklah kerelaan hati itu menjadi nomor satu. Kalau hati kita berkata berilah maka jangan pernah menjadi pelit. Sikap rendah hati dan murah hati sangatlah penting bagi kita untuk berbagi dengan sesama. Di samping kerelaan hati, kita diharapkan untuk tidak bersedih hati atau terpaksa untuk memberi sesuatu kepada sesama.  Sikap-sikap ini muncul karena kita takut menjadi orang miskin dan takut hidup berkekurangan. Padahal sebagai orang beriman kita percaya bahwa Tuhan akan mencukupkan segala kebutuhan kita. Tuhan mengasihi orang yang murah hati karena memberi dengan sukacita.

Tuhan Yesus mengetahui kehidupan kita. Sebab itu Ia memberi perumpamaan tentang orang kaya dan janda miskin. Orang kaya memberi dari kelimpahannya, sisa-sisa yang dia miliki dia kasih kepada Tuhan. Janda miskin tidak memberi dari sisa yang dimiliki tetapi memberi segala yang ia miliki untuk Tuhan. Nah, tepat sekali Santu Paulus yang mengatakan: "Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita".

Bagaimana dengan kita saat ini? Ternyata kita memang beda. Lalu apa bedanya? 

Pertama, kita suka memberi yang sudah kotor dan sisa yang tidak terpakai kepada Tuhan. Contoh: ketika memberi kolekte. Banyak di antara kita yang mengambil sisa uang belanja untuk memberinya kepada Tuhan. Ada yang mempunyai kebiasaan untuk menukar uang kecil supaya bisa dijadikan kolekte. Uang besar juga bisa jadi kolekte kog. Ada yang memberi uang 'kodi' alias kotor dan dilipat, bau sebagai uang kolekte. Untuk Tuhan saja kita masih membedakan dan membuat perhitungan apalagi untuk sesama manusia. Ada yang mempersembahkan buah yang sudah busuk, bunga yang sudah layu dan bunga plastik. Pokoknya sadar atau tidak sadar Tuhan menjadi nomor dua dalam setiap persembahan kita. Orang murah hati memberi dengan sukacita dan dikasihi Tuhan.

Kedua, Suka pamer ketika berbagi dengan sesama. Tuhan Yesus mengatakan: "Tetapi engkau ini, apabila memberi sedekah, janganlah diketahui oleh tangan kirimu akan barang yang diperbuat oleh tangan kananmu." (Mat 6:3). Pada zaman ini sudah berubah. Perubahannya adalah apa yang diberikan tangan kiri, tangan kanan akan selfie atau wefie supaya orang lain tahu bahwa kita sedang berbagi.  Buktinya kalau si A menyumbang maka semua orang akan tahu karena mudah dibroadcast dengan foto atau secara tertulis. Betapa lemahnya kita di hadapan Tuhan dan sesama.

Mari kita berubah menjadi lebih murah hati, tidak takut berkekurangan atau miskin. Tuhan yang mencukupkan segalanya. Ingat nasihat Tuhan Yesus ini: "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" (Mat 6:25-26).

Tuhan memberkati kita semua,


PJ-SDB

Homili 25 November 2019

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXXIV
Dan. 1:1-6,8-20
MT Dan. 3:52,53,54,55,56
Luk. 21:1-4

Memberi segalanya bagi Tuhan

Banyak di antara kita mungkin mengingat sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Sari Simorangkir beberapa tahun yang lalu. Judul lagunya adalah: 'Kuserahkan segalanya'. Ada bagian liriknya yang bunyinya begini: "Kus’rahkan segalanya, di tangan-Mu ya Tuhan. Kau berdaulat, Kau berkuasa, pembela hidupku. Kerinduan jiwaku tinggal di hadirat-Mu. Pengagunganku hanya bagi-Mu, sampai pada kekekalan." Kalau anda mau mendengarnya silakan klik link ini: https://www.youtube.com/watch?v=noTzF4-ukzQ. Bagi saya, lirik lagunya memang sederhana tetapi sangat bermakna. Tuhan memanggil saya untuk menjadi gembala di dalam Gereja Katolik. Ini adalah sebuah panggilan khusus, 'limited edition'. Tidak semua orang mampu menghayati panggilan hidup seperti ini, sebab memang banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Salah satu kekhasan panggilan khusus adalah persembahan diri secara utuh kepada Tuhan. Prinsipnya adalah 'segalanya bagi Tuhan'. Ini merupakan komitmen pribadi yang harus dilakukan secara sempurna. Persembahan diri secara utuh berarti mempersembahkan jiwa dan raga hanya bagi Tuhan, pikiran dan kehendak hanya tertuju kepada Tuhan. Model yang tepat untuk mempersembahkan diri secara utuh kepada Tuhan adalah Tuhan Yesus sendiri. Ia datang ke dunia bukan untuk melakukan kehendak-Nya melainkan kehendak Bapa di surga. Ia memberikan segalanya kepada Bapa.

Penginjl Lukas  hari ini membantu kita untuk belajar mempersembahkan diri secara utuh kepada Tuhan. Ia mengisahkan sebuah perumpamaan yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Ketika itu Tuhan Yesus dan para murid-Nya berada di dalam Bait Allah. Ia memperhatikan bagaimana orang-orang yang datang ke dalam Bait Allah memasukkan derma mereka ke dalam kotak-kotak yang sudah disiapkan. Ada dua tipe manusia yang memasukkan dermanya ke dalam kotak-kotak yang disiapkan. Tipe manusia pertama adalah orang kaya. Orang-orang kaya itu memberi dari segala kelimpahan yang mereka miliki. Kadang-kadang mereka memiliki patokan tertentu. Misalnya ada yang kelihatan memberi sejumlah sekian maka mereka akan berusaha memberi lebih dari itu. Tipe manusia kedua adalah orang miskin. Sosok yang ditampilkan adalah seorang janda yang dalam kultur Yahudi merupakan golongan orang lemah dan perlu dibantu orang lain. Ia memberikan dua peser ke dalam kotak derma tanpa merasa berkekurangan atau memikirkan dirinya sendiri. 

Siapakah yang mendapat apresiasi dari Tuhan Yesus? Tuhan Yesus mengapresiasi kedua-duanya karena mereka sama-sama memberi atau berbagi dengan memasukkan persembahan mereka. Hanya Tuhan Yesus memberi catatan khusus: orang kaya memberi dari kelebihannya atau kelimpahannya. Kiranya yang mau Tuhan Yesus katakan adalah bahwa orang kaya memberi sisa-sisanya kepada Tuhan setelah ia memanfaatkan bagi dirinya. Mungkin saja ia memberi dengan menghitung-hitung berapa yang mau diberikan karena takut kekurangan. Orang kaya bisa juga menceritakan berapa yang sudah diberikannya di dalam kotak yang disiapkan. Janda miskin mendapat apresiasi karena memberi segala yang dimilikinya bagi Tuhan dan sesama. Ia tidak merasa takut atau berkekurangan karena dia percaya bahwa Tuhan akan memberi lebih dari yang ia berikan di dalam kotak. Ia sudah tahu bahwa  dari semua kotak itu ada persembahan yang akan diberikan kepada para janda dan kaum miskin lainnya. Maka dia memberi segalanya dan akan menerima lebih dari yang ia telah berikan.

Apa yang terjadi saat ini? 
Gereja masih memelihara tradisi memberi persembahan termasuk kolekte pada saat ibadah bersama. Sesuai hukum Gereja, ada tiga bentuk persembahan yakni oblationes, stipendium dan Iura Stolae. Persembahan (oblationes) merupakan pemberiaan suka rela dari umat beriman kepada Allah dalam perayaan peribadatan ilahi dalam bentuk natura (roti, anggur, beras, makanan, hewan yang masih hidup dan lainnya) maupun dalam bentuk sejumlah uang tertentu. Pemberian dalam bentuk uang yang dikumpulkan di sebut kolekte. Maka kalau ada umat yang mengumpulkan sewaktu perayaan atau yang meletakkan uang dalam amplop di atas meja altar dengan tidak menyebut intensinya itu bukan iura stolae, atau stipendium melainkan kolekte persembahan yang harus dipakai untuk kepentingan Gereja atau paroki. Karena itu, imam tidak berhak mengambilnya untuk kepentingan pribadi. 

Umat katolik perlu memiliki prioritas yang terpenting dalam oblationes adalah Hosti dan Anggur untuk perayaan Ekaristi. Hal lain hanya tambahan saja. Kadang-kadang umat terlalu sibuk dengan hal lain dan lupa Hosti dan Anggur. Kolekte berupa sejumlah uang yang diberikan juga tidak memiliki patokan tertentu. Orang katolik memberi dengan tulus, tanpa paksaan apapun. Semangat janda miskin ini perlu dimiliki umat katolik. Uang yang menjadi kolekte dimasukkan dalam kotak kolekte yang disiapkan. Gereja katolik tidak memberlakukan perpuluhan sebagaimana saudara-saudara dari Gereja yang lain. Kolekte yang dikumpulkan secara sukarela, sesuai kemampuan umat itu digunakan untuk kebutuhan Gereja. Boleh dikatakan kolekte itu dari umat, oleh umat dan untuk umat. Kolekte nantinya dipakai untuk keperluan Gereja, misalnya untuk menolong kaum miskin, belanja-belanja kebutuhan Gereja setempat. Misalnya untuk membeli pakaian untuk imam berupa kasula dan stola dapat dialokasikan dari kolekte yang ada. Banyak kali umat berpikir bahwa kolekte itu dikumpulkan untuk para romo. Ini adalah pandangan yang keliru.

Para romo bisanya menerima stipendium. Stipendium adalah sumbangan suka rela umat beriman dalam bentuk uang kepada seorang imam dengan permintaan agar dirayakan satu atau sejumlah Misa untuk ujud/intensi dari penderma. Stipendium ini merupakan balas jasa dari penghargaan suka rela bagi sang imam yang telah melayani suatu kebutuhan umat beriman. Tapi bukan kewajiban umat dan imam pun tidak berhak menuntut. Satu hal lagi adalah Iura stolae. Iura Stolae adalah sumbangan umat beriman kepada seorang imam yang melaksanakan perayaan sakramen misalnya baptis, perkawinan atau melakukan suatu pelayanan pastoral lainnya seperti pemberkatan rumah. Perlu diketahui bahwa tujuan orang memberi derma dalam bentuk stipendium adalah bagi kesejahteraan Gereja dan penghidupan para pelayannya. Selain itu, umat diajak untuk bertanggungjawab secara ekonomis atas perkembangan hidup Gereja dan para pelayanannya. Dalam Kanon 946 dikatakan: “Umat beriman kristiani, dengan menghaturkan stipendium agar misa diaplikasikan bagi intensinya, membantu kesejahteraan Gereja dan dengan persembahan itu berpartisipasi dalam usaha Gereja mendukung para pelayan dan karyanya”.

Pada hari ini kita semua diingatkan untuk memberi secara total kepada Tuhan. Tantangan bagi kita saat ini adalah tangan kiri memberi sumbangan, tangan kanan mengambil foto (selfie) untuk membuktikan bahwa kita murah hati. Ini miris dan bukan memberi dengan sukarela. Berilah segalanya seperti janda miskin yang tidak menghitung-hitung atau takut tidak memiliki apa-apa. Belajarlah bermurah hati kepada Tuhan dan sesamamu. Satu hal yang nyata adalah jangan pelit untuk berderma. Tuhan akan mencukupkan hidup kita.


PJ-SDB

Sunday, November 24, 2019

Food For Thought: Yesus Kristus Raja segala raja

Kerinduan itu terjawab juga

Saya pernah diundang untuk merayakan misa peringatan 1000 hari wafatanya seorang bapak. Saya tidak mengenalnya secara pribadi tetapi kesan saya adalah bapa itu pasti seorang yang baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya umat yang hadir, dan kelihatan mereka dari berbagai suku pula. Kesan saya ini terjawab ketika mendengar kesaksian-kesaksian dari umat yang hadir. Mereka mengingat jasa baiknya sebaga tokoh umat dan tokoh pendidikan di wilayah itu. Konon hingga akhir hidupnya ia menunjukkan pengabdian yang luar biasa. Satu hal yang tetap diingat Adalah orangnya disiplin, komitmen dan bersih. Dari banyak kesaksian hidup yang ada, saya tertarik dengan kesaksian puteranya sendiri. Inilah kesaksiannya: "Ayah saya memiliki sebuah kerinduan yakni setelah mengabdikan seluruh hidupnya di dunia ini, ia merindukan surga yang abadi. Ia selalu berdoa supaya kerinduannya ini terjawab. Hingga beberapa menit terakhir ia masih meminta kami supaya mendoakannya, kiranya kerinduannya akan surga terjawab. Saya yakin dan Percaya bahwa kerinduan ayahanda sudah terjawab yakni bersama sang Pencipta di Surga".

Masing-masing orang memiliki kerinduan. Sosok sang ayah hebat yang saya kisahkan ini, mengabdikan seluruh hidupnya sampai tuntas bagi Tuhan dan sesamanya. Pada akhirnya tinggal satu kerinduan yakni ia mau tinggal tetap bersama Tuhan. Kerinduannya merupakan gambaran harapannya kepada Tuhan. Ia percaya bahwa pada saat yang tepat ia juga akan ada bersama Tuhan dan menikmati kebahagiaan abadi. Kita semua pasti memiliki kerinduan yang sama. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Semua kebaikan yang kita lakukan di dunia ini, kita lakukan untuk Tuhan Yesus sendiri. Dialah yang membuka jalan keselamatan bagi kita. Dialah yang mendamaikan Allah Bapa dan kita sebagai manusia berdosa.

Tuhan Yesus yang satu dan sama adalah Raja semesta alam. Dia adalah sosok seorang raja yang senantiasa berbeda. Takhta kemuliaan-Nya adalah kayu yang kasar, mahkota kemuliaan-Nya sebagai raja adalah duri yang menembusi kepala-Nya yang mulia dan Dia seorang raja yang wafat tidak berbusana. Dia seorang raja yang senantiasa lain sebab, Ia mengalami penderitaan dan kemalangan hingga wafat di kayu salib. Ketika masih di atas kayu salib, ia masih diolok-olok dan dihina. Ia tidak membuka mulutnya untuk menepis semua olokan dan hinaan. Para prajurit yang menganiaya-Nya berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" (Luk 23:37). Seorang penjahat yang ikut disalibkan juga berkata: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" (Luk 23:39). Para prajurit dan penjahat adalah gambaran orang berhati keras yang tidak mengakui ke-Allah-an dan kekuasaan Yesus Kristus.

Apa yang harus kita lakukan? Satu hal penting yakni butuh pertobatan. Kita belajar untuk tahu diri bahwa kita juga orang berdosa. Mari kita saling menasihati sebagai sesama orang berdosa: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama. Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." (Luk 23:40-41). Dan Yesus akan memberi tempat yang dijanjikan-Nya: "Dan, jika Aku pergi dan menyediakan sebuah tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawamu kepada-Ku supaya di mana Aku berada, kamu pun berada." (Yoh 14:3). Dan betul sekali ketika Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43). Hal terpenting adalah kita berani memohon supaya Yesus memberi tempat kepada kita. Lihatlah, orang sejahat apapun mendapat tempat di surga sebab ia memohon kepada Yesus dengan semangat bertobat dan rendah hati: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23: 42). 

Yesus adalah Raja kita. Dialah Raja dari segala raja yang ada di atas muka bumi. Dialah Raja abadi, Tuhan atas segala-galanya. Terima kasih Tuhan Yesus dan Selamat Hari Raya Yesus Kristus Raja semesta alam. Yesus adalah kerinduan kita dan semoga kerinduan itu menjadi kenyataan ketika Ia datang sebagai Raja


PJ-SDB