Sunday, March 1, 2020

Homili Hari Minggu Prapaskah I/A -2020

Minggu Prapaskah I/A
Kej 2:7-9.3:1-7
MT Mzm 51:3-4.5-6a. 12-13.14.17
Rom 5:12-19
Mat 4:1-11

Mentaati Kehendak Tuhan

Saya pernah diundang untuk menghadiri perayaan syukuran dari seorang biarawati yang merayakan 40 tahun hidup membiara (panca windu). Ia memilih moto perayaan yang ditulisnya pada sebuah spanduk besar, buku panduan dan kartu kenangan: “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku” (Mzm 40:8). Setelah perayaan Ekaristi, sang jubilaris ini membagikan pengalaman hidup membiaranya sambil menjelaskan moto perayaannya. Ia mengatakan bahwa selama 40 tahun hidup membiara, ia sungguh merasakan pengalaman Yesus sendiri. Ada saat di mana ia berada di zona nyaman di mana ia boleh tertawa dan bahagia, ada juga saat di mana ia mengalami tantangan berupa godaan-godaan tertentu yang dapat membuatnya menangis dan tertekan. Namun demikian ia tetap mengandalkan Tuhan dan berprinsip untuk setia melakukan kehendak Tuhan di dalam hidupnya. Ini menjadi kekuatan baginya untuk memenangkan segala godaan di dalam hidupnya dan berusaha untuk tetap setia kepada Tuhan Allah.

Saya mendengar dan menyimak pengalaman rohani sang jubilaris ini. Pikiran saya sempat tertuju kepada sosok raja Daud. Beliau mengalami banyak berkat dari Tuhan sehingga menjadi raja yang kuat, namun sempat mengalami banyak cobaan dan tantangan hidup. Ia juga lemah dan jatuh berkali-kali ke dalam dosa namun satu kelebihannya adalah ia tetap mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Sebab itu raja Daud merasa bahwa kehendak Tuhan adalah penting dan harus dilakukan dengan setia. Ia berusaha untuk memenangkan dan menyenangkan hati Tuhan. Ia berdoa kepada Tuhan: “Ajarilah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata” (Mzm 143:10). Dalam kelemahan Daud, terdapat kekuatan yang luar biasa dari Tuhan yang dapat mengubah hidupnya dari saat ke saat. Bagi kita saat ini, hal yang terpenting adalah selalu berusaha untuk mentaati dan melakukan kehendak Tuhan bukan kehendak dan kemauan kita sendiri.

Pada hari ini kita memasuki Hari Minggu pertama Prapaskah. Masa Prapaskah merupakan sebuah retret agung. Kita semua memandang Yesus yang mengalami dan menang dalam mengatasi godaan atau cobaan iblis di padang gurun. Penginjil Matius mengisahkan bahwa setelah Tuhan Yesus dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis, Ia dituntun ke padang gurun oleh Roh supaya dicobai iblis. Kita semua percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Meskipun sebagai Anak Allah, Ia masuk dalam pengalaman manusiawi kita dengan merasakan godaan-godaan dari iblis. Ia merasakan sendiri ujian kesetiaan kepada Bapa di surga. Ia mengalami godaan dari iblis dan memenangkannya supaya membantu manusia yang lemah agar tidak mudah jatuh ke tangan iblis ketika mengalami godaan-godaanya melainkan berani untuk memenangkannya. Kita pasti mengingat janji baptis supaya berani melawan dan mengalahkan iblis dan godaan-godaannya.

Selanjutnya, dalam suasana lapar karena berpuasa selama 40 hari, iblis menunjukkan dirinya untuk menggoda Yesus. Ada tiga jenis godaan yang dialami Yesus dalam perkataan-perkataan berikut ini: pencobaan pertama, Yesus yang sedang lapar digoda iblis untuk mengubah batu menjadi roti tetapi Yesus mengatasinya dengan kuasa Sabda Allah. Kita senantiasa mengalami kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Rasul Yohanes mengatakan: “Sebab semua yang ada di dunia, yaitu keinginan daging, dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia.” (1Yoh 2:16). Kita semua akan memiliki kecenderungan yang sama dan dapat menjatuhkan kita dalam hal keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Pencobaan pertama ini lebih berkaitan dengan keinginan-keinginan daging yang selalu menggoda hidup kita. Kita memiliki tubuh dan jiwa, kebutuhan jasamani dan rohani. Haruslah kita ingat bahwa kebutuhan jiwa itu lebih luhur karena sifatnya abadi dibandingkan dengan kebutuhan jasmani. Iblis menggoda kita akan hal-hal jasmani seperti rasa lapar. Maka kekuatan kita adalah Sabda Tuhan. Sabda Tuhan mengenyangkan kita. Sabda Tuhan adalah pelita bagi langkah kaki kita.

Pencobaan kedua, Yesus digoda iblis supaya menjatuhkan diri-Nya dari atas Bait Suci tetapi Yesus menghardiknya supaya tidak mencobai Tuhan Allah. Kita mengingat kisah Adam dan Hawa dalam bacaan pertama,  mereka jatuh ke dalam dosa asal karena mereka memiliki satu sikap yakni keangkuhan hidup. Mereka menyalahgunakan kebebasan mereka di hadapan Tuhan sang Pencipta. Keangkuhan hidup atau kesombongan ini menjadi awal kehancuran hidup kita di hadapan Tuhan dan sesama. Iblis menggoda Yesus supaya menjadi sombong di hadapan Allah Bapa, tetapi dengan tegas Yesus mengatakan kepadanya supaya tidak boleh mencobai Tuhan Allah. Berapa kali kita menjadi angkuh, sombong di hadapan Tuhan sehingga jatuh ke dalam dosa. Kita jatuh ke dalam dosa karena kita sedang mencobai Tuhan Allah sendiri. Kita butuh Yesus untuk mengubah hidup kita supaya setia dan kuat dalam mengatasi keangkuhan atau kesombongan diri. Angkuh dan sombong adalah godaan besar di depan pintu kehidupan kita.

Pencobaan ketiga, Yesus digoda iblis supaya sujud menyembahnya namun bagi Yesus justru Allahlah yang harus disembah. Godaan ketiga ini berkaitan dengan keinginan mata yakni kekuasaan, uang dan kerajaan duniawi. Dari mata akan muncul keinginan-keinginan terhadap apa yang sedang kita lihat. Banyak kali manusia mengabdi kepada dua tuan terutama mamon dan lupa mengabdi Tuhan. Tetapi Yesus dengan tegas mengatakan kepada iblis: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti” (Mat 4:10). Untuk kita renungkan bahwa hanya karena harta, kuasa dan uang maka orang menjadi serigala bagi sesamanya.

Apa yang harus kita lakukan untuk dapat mengatasi godaan-godaan iblis dalam hidup kita saat ini?

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita untuk sadar diri sebagai orang berdosa dan bertobat. Banyak kali orang menikmati dosa dan lupa untuk cepat sadar bahwa dirinya orang berdosa. Bagi Paulus, akibat dari dosa asal yang dilakukan oleh satu orang yakni Adam (dan Hawa) maka semua orang menjadi berdosa dan mengalami maut. Namun kasih karunia Allah jauh lebih besar dari pada dosa Adam. Kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Dia telah taat kepada Bapa sehingga semua orang memperoleh keselamatan. Paulus mengatakan bahwa seperti ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Menjadi orang taat itu butuh hati yang bersih dan mulia sebab orang yang mampu mentaati dengan sendirinya akan mampu mengasihi. Kita mentaati dengan melakukan kehendak Allah sebagai tanda bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Kalau kita mengasihi Allah maka dengan sendirinya kita akan mengasihi sesama kita dengan tulus. Apakah anda adalah sosok yang taat kepada Tuhan? Apakah anda setia melakukan kehendak Tuhan?

Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk mengandalkan Yesus dalam mengatasi godaan-godaan hidup kita. Kuncinya adalah menjadi pribadi yang taat dan setia dalam melakukan kehendak Tuhan.Orang benar akan dibenarkan Allah karena ketaatannya untuk melakukan kehendak Tuhan Allah.


PJ-SDB

Saturday, February 29, 2020

Food For Thought: Perjumpaan mengubah hidup

Perjumpaan yang bermakna

Apakah anda pernah merasa wasting time? Saya merasa bahwa anda, saya, kita semua pernah merasa wasting time. Apa saja yang sudah kita rencanakan mendadak berubah. Akibatnya, banyak orang yang sudah masuk ke dalam zona wasting time tetap menikmatinya, nyaman dan tak mau keluar dari sana. Mereka yang lain merasa begitu menyesal karena waktu dan kesempatan berlalu tanpa ada hasil apapun. Perasaan wasting time dapat terjadi dalam pertemuan antar pribadi. Orang merasa boring, apalagi topik pembicaraan tidak sesuai dengan selera. Begitulah keadaan umum di mana-mana. Ketika ada sambutan dari pemerintah, homili pastor selalu ada perkataan boring, tidak nyambung dan lain sebagainya. Padahal salah satu hal yang penting dalam setiap perjumpaan adalah menguatkan relasi antar pribadi. Ada rasa bosan dan membuang waktu namun relasi antar pribadi itu jauh lebih luhur. Ini adalah kesempatan emas yang tidak akan diulangi lagi.

Pada hari ini kita mendengar kisah perjumpaan antara Tuhan dan manusia. Di dalam Kitab Perjanjian Lama, terjadi perjumpaan antara Tuhan dan nabi Yesaya. Perjumpaan dua pribadi ini sangatlah bermakna karena dengan kuasa sabda-Nya, Yesaya berubah dan mengubah hidup orang banyak sepanjang zaman. Buah dari perjumpaan ini adalah nabi Yesaya berubah dan ia juga mengubah hidup banyak orang dengan kuasa sabda Tuhan. Seruan tobat membantu banyak orang menjadi terang bagi sesama manusia. Di samping itu ada pertemuan kedua sosok yakni Tuhan Yesus dan Lewi sang Pemungut Cukai. Lewi sedang bekerja, mengaktualisasikan profesinya sebagai penagih pajak.  Yesus mengenalnya dan berniat untuk mengubah hidup Lewi. Tuhan Yesus mengejahwantahkan  pengalaman ini dalam relasi antar pribadi diri-Nya dengan Lewi. Sikap Lewi yang menakjubkan setelah mendapat panggilan Tuhan adalah: Mengangkat kepala, berdiri dengan tegap, meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Perjumpaan ini sangat bermakna karena ada transformasi radikal dalam hidup ini.

Apakah anda sudah berjumpa dengan Tuhan? Tuhan Allah tidak kelihatan namun selalu hadir dalam hidup ini. Kita semua selalu menjumpai-Nya di dalam saat-saat kita membaca dan mendengar Kitab Suci di Gereja. Melalui Kitab Suci, Tuhan mengekspresikan cinta-Nya tanpa batas kepada manusia. Tuhan Yesus hadir melalui sakramen-sakramen yang kita terima. Setiap kali merayakan Ekarisiti kita berjumpa dengan Kristus yang tidak hanya berbicara tetapi memberi tubuh dan darah-Nya sebagai santapan di dunia dan menolong kita untuk melihat ke depan tentang ekaristi abadi di surga. Ekaristi sebagai sebuah sakramen merupakan perjumpaan yang menguatkan dan menyelamatkan. Ekaristi sungguh mengubah dan membaharui kehidupan kita. 

Mari kita merenung tentang setiap perjumpaan kita. Setiap perjumpaan antar pribadi selalu merupakan saat bermakna untuk berubah dalam hidup. Kita saling mengubah hidup kita untuk menjadi lebih baik lagi. Fokus perhatian kita kepada kebaikan sesama dan kemuliaan nama Tuhan.

Tuhan memberkati kita dan menganugerahi sukacita abadi.

P. John Laba, SDB

Homili 29 Februari 2020

Hari Sabtu sesudah Rabu Abu
Yes. 58:9b-14
Mzm. 86:1-2,3-4,5-6
Luk. 5:27-32

Belas kasih Allah begitu kaya

Saya selalu mengingat sharing dari sebuah keluarga dalam rekoleksi bersama. Keluarga ini sangat bersyukur kepada Tuhan karena merasakan belas kasih dan kebaikan-Nya. Keluarga ini konon memiliki masa lalu yang gelap dan orang-orang lain beranggapan bahwa tidak ada lagi masa depan bagi mereka. Ada anggapan bahwa anak-anak di dalam keluarga ini tidak akan memiliki masa depan yang cerah, pokoknya tak ada kebahagiaan di dalam keluarga itu selamanya. Namun anggapan orang-orang lain sangat berbeda dengan pengalaman nyata yang mereka alami. Sebagaimana St. Paulus katakan bahwa di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Rm 5:20) demikian keluarga ini mendapat berkat dan rahmat berlimpah dari Tuhan. Ketika keluarga ini sadar diri, menerima diri apa adanya dan bertekad untuk menjadi baru maka Tuhan memberi rahmat dan berkat yang berlimpah. Kini mereka selalu bersyukur kepada Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan sungguh baik dan belas kasih-Nya begitu kaya bagi mereka. 

Pengalaman sebuah keluarga ini merupakan pengalaman semua keluarga kita. Keluarga-keluarga itu umumnya tidak sempurna dan hanya Tuhan saja yang dapat menyempurnakan dan menguduskannya. Tidak ada sebuah keluarga yang dapat mengklaim diri sebagai keluarga kudus selain keluarga kudus dari Nazaret. Keluarga-keluarga kita hanya berusaha untuk menyerupainya meskipun tingkat keserupaan itu tidak mencapai seratus persen. Mengapa demikian? Karena kita semua adalah kumpulan orang-orang berdosa. Kita butuh Tuhan untuk menyelamatkan. Hanya Tuhan yang menganugerahkan penebusan berlimpah kepada orang-orang yang benar-benar membuka dirinya bagi keselamatan yang datang dari pada-Nya.

Kita mendengar kisah Yesus dari Injil Lukas hari ini. Ia melihat seorang pemungut cukai bernama Lewi yang nantinya disapa Matius sedang duduk di rumah cukai. Ia bekerja di lahan yang basah sehingga mereka selalu menjadi musuh sesama anak bangsanya. Alasannya adalah mereka mudah memperkaya diri sendiri dan mereka juga mendukung para penjajah Romawi karena bekerja bagi orang-orang Romawi. Mereka menjadi sasaran kebencian karena dianggap sebagai pengkhianat yang levelnya sama dengan kaum pendosa. Orang-orang seperti ini menjadi sahabat-sahabat Yesus.

Tuhan Yesus mengenal Lewi dengan masa lalunya ini dan Ia tahu bahwa Lewi membutuhkan-Nya. Tuhan Yesus lalu memanggil Lewi dengan namanya sendiri dan mengajak dia untuk mengikuti-Nya dari dekat. Sikap Lewi terhadap panggilan Yesus, “Ikutlah Aku” adalah ia berdiri, meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Lewi bahkan bersyukur kepada Tuhan atas perubahan radikal di dalam hidupnya ini sehingga mengadakan perjamuan syukur bagi Yesus di rumahnya. Ia juga mengundang rekan-rekannya untuk makan bersama Yesus.

Reaksi atas perubahan radikal Lewi atau pertobatannya datang dari kaum Farisi. Mereka tidak bersyukur karena perubahan radikal dari kehidupan Lewi ini. Mereka masih melihat Lewi sebagai manusia lama bukan manusia baru. Sikap kaum Farisi ini dikritik oleh Yesus begini: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Luk 5:31-32). Di sini Yesus menunjukkan diri sebagai gembala baik dan menghadirkan wajah kerahiman Allah Bapa kepada orang-orang berdosa seperti Lewi dan kita semua saat ini.

Banyak kali kita belum mampu menunjukkan wajah Allah yang berbelas kasih kepada sesama. Kita masih menghitung-hitung kesalahan orang lain dan lupa diri bahwa kita juga orang berdosa. Sebenarnya kita tidak memiliki hak untuk menilai orang lain dan hidup pribadinya karena kita juga orang yang tidak sempurna. Titik kelemahan kita adalah lupa bahwa kita orang berdosa dan menganggap orang lain sebagai pendosa. Kita butuh sikap positif seperti Lewi. Orang boleh menilainya sebagai pendosa tetapi ia berani mengangkat kepalanya, berdiri tegak dan meninggalkan segala sesuatu, yakni pekerjaan dan masa lalunya untuk mengikuti Yesus dari dekat. Ia membutuhkan Yesus sebagai satu-satunya Penyelamat. Ia membutuhkan Yesus untuk menganugerahkan hidup baru  baginya.

Apa yang dapat kita lakukan supaya layak di hadirat Tuhan?

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan kita untuk hidup selaras dengan kehendak Tuhan. Misalnya tidak lagi mengenakan kuk kepada sesama manusia, tidak menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah. Sebaliknya kita harus menyerahkan kepada orang lapar apa yang kita inginkan sendiri dan memuaskan hati kaum tertindas sehingga terang hidup kita akan terbit dalam kegelapan dan kegelapan kita seperti rembang tengah hari. Sikap positif ini membuka jalan keselamatan bagi kita semua. Dan Tuhan sendiri berjanji untuk menuntun dan memuaskan hati kita serta membaharui kekuatan kita. Tuhan akan menjadikan kita seperti taman yang diairi dengan mata air yang tidak akan mengecewakan kita. Memang orang-orang yang bertobat dan hidupnya selaras dengan kehendak Tuhan akan memperoleh penebusan berlimpah dari Tuhan. Tuhan Allah tidak berkenan akan kematian orang fasik, melainkan akan pertobatannya supaya hidup (Yeh 33:11). Mari kita bertobat dan mengalami belas kasih Tuhan yang berlimpah ruah.

Doa syukur kita pada hari ini adalah: “Ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni; kasih setia-Mu berlimpah bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah permohonanku.” (Mzm 86: 5-6). Amen.

PJ-SDB

Friday, February 28, 2020

Food For Thought: Berpuasa berarti mengasihi

Berpuasa berarti mengasihi

Umat katolik memasuki masa prapaskah sejak Hari Rabu. Hari Rabu sebagai pintu masuk ke masa prapaskah disebuh hari Rabu Abu. Hari Rabu karena perhitungan secara matematis akan menjadi 40 hari masa puasa, sedangkan hari Minggu bukanlah masa prapaskah. Hari Minggu selalu menjadi hari paskah kecil atau hari paskah mingguan. Abu karena setiap orang mau menunjukkan kerendahan hati dan pertobatan. Tuhan sendiri mengatakan kepada Adam: “Ingatlah bahwa engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu”. (Kej 3:19). Raja Daud di kemudian hari akan berkata: “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” (Mzm 103:14). Kita hanyalah debu di alas kaki Tuhan! Hari ini adalah hari Jumat pertama dalam masa prapaskah maka kita juga akan memulai devosi dan doa Jalan Salib untuk merenung kisa sengsara Tuhan kita Yesus Kristus.

Saya mengingat kata-kata menarik dari masa prefasi masa prapaskah ini: “Sebab kami yang sering berdosa karena hanya memperhatikan kepentingan sendiri, kini Engkau kehendaki supaya bersyukur kepada-Mu, dengan berpantang, sehingga dengan hidup lebih sederhana dan memberi makan kepada saudara dan saudari yang berkekurangan, kami dapat meniru kemurahan hati-Mu” (Prefasi Prapaskah III). Berpuasa menjadi saat untuk berbuat baik dan selalu siap untuk berbagi dengan sesama manusia. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini berkata: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58: 6-7).

Tuhan Yesus dalam Injil mengatakan bahwa berpuasa adalah kesempatan untuk bersukacita. Dia adalah sang mempelai sejati dan kita adalah sahabat-sahabat mempelai. Di saat berada bersama-Nya maka sukacita itu mengalir dengan sendirinya di dalam hidup kita. Dengan demikian keadilan juga akan mendapat pijakannya dalam sukacita bersama Tuhan. Prinsip yang perlu kita bangun bersama hari ini adalah: “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu” (Amos 5:14). Berpuasa sesungguhnya berarti mengasihi dan bersikap adil terhadap Tuhan dan sesama.

P. John Laba, SDB

Homili 28 Februari 2020

Hari Jumat sesudah Rabu Abu
Yes. 58:1-9a
Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19
Mat. 9:14-15

Memaknai masa puasa kita

Kita barusan memulai masa Retreat Agung selama 40 hari sejak Hari Rabu Abu yang lalu. Ada tiga hal penting yang Tuhan Yesus harapkan dari kita supaya mengejawantahkannya di dalam hidup kita setiap hari selama masa Retreat Agung ini yakni melakukan perbuatan amal kasih, meningkatkan kualitas doa dan berpuasa. Selama masa pra paskah ini kita berusaha untuk melakukan karya dan pelayanan amal kasih. Hal ini kita lakukan dengan sadar tanpa memamerkannya kepada siapapun apa yang sudah sedang kita lakukan.Mengapa demikian? Sebab Tuhan sudah lebih dahulu melakukannya bagi kita. Ia menciptakan segala sesuatu dan menyerahkan ke dalam tangan sebagai administrator segala ciptaan untuk kebaikan semua orang. Selama masa prapaskah diharapkan supaya hidup doa kita menjadi semakin baik. Kalau tadinya kita hanya sekedar berdoa karena sebuah rutinitas maka sekarang doa haruslah menjadi sebuah kebutuhan. Artinya kita berdoa lebih baik lagi. Selama masa prapaskah kita juga melakukan puasa dan pantang. Ini adalah sebuah cara kita mengekang hidup kita dari hawa nafsu, makanan dan minuman juga semua kebutuhan yang sangat mengikat hati kita sehingga tidak mampu berbagi dengan sesama dan berdoa kepada Tuhan.

Pada hari ini pikiran kita kembali menjadi dibuka karena perkataan Tuhan melalui nabi Yesaya tentang puasa yang benar. Mula-mula Tuhan mengingatkan Yesaya supaya menunjukkan kuasa Tuhan dalam tugas kenabiannya, dengan berani mengatakan kesalahan dan dosa umat Allah. Jadi Yesaya harus berani menunjukkan dirinya sebagai nabi dengan membuka mulut dan mengatakan apa adanya tentang umat Allah bukan menutupi borok-borok mereka. Kalau mereka berdosa maka dia harus mengatakan bahwa mereka adalah orang berdosa. Tuhan mengingatkan Yesaya bahwa umat-Nya memiliki potensi untuk selalu mencari-Nya. Mereka tidak segan-segan bertanya: "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" (Yes 58:3). Bangsa Israel memahami puasa secara harafiah dalam kaitannya dengan usaha mengontrol diri terhadap makanan dan minuman. Pada masa kini orang memahami puasa dalam arti yuridis yakni makan kenyang hanya sekali sehari. Selain puasa ada pantang. Pantang dalam arti yuridis adalah setiap pribadi memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya. Berpuasa adalah wajib bagi orang katolik berusia 18-60 tahun, sedangkan berpantang mengikat orang katolik berusia 14 tahun ke atas. Ini adalah hal yang legal dan sudah lumrah, hanya masih sulit untuk dilakukan di dalam hidup kita.

Tuhan Allah mengajar umat-Nya untuk memahami makna yang lebih luas dari berpuasa. Ternyata puasa yang sudah sedang dijalankan oleh umat Israel tidaklah sesuai dengan kehendak Tuhan Allah. Mereka masih mengurusi urusan pribadi dan melupakan sesamanya, mereka mendesak-desak kaum buruh untuk bekerja bahkan sampai melewati batas waktu kerjanya, mereka berbantah-bantah, berkelahi, saling memukul dengan tinju secara tidak semena-mena. Dan Tuhan mengatakan bahwa cara puasa seperti ini tidak layak bagi-Nya. Suara mereka pun tidak akan didengar oleh Tuhan. Berpuasa itu bukan melakukan apa yang kita sukai sebagai manusia tetapi melakukan apa yang Tuhan kehendaki supaya kita melakukannya dalam hidup kita.

Tuhan Allah dengan tegas menjelaskan makna puasa yang konkret dan nyata bagi umat-Nya yakni: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Makna puasa yang Tuhan kehendaki ini juga menjadi visi dan misi dari Tuhan Yesus sendiri (Luk 4:19). Maka puasa yang sebenarnya adalah kasih dan sukacita yang kita miliki dan kita bagikan kepada sesama. Hanya dengan demikian kita akan memancarkan terang dan luka kita akan pulih dengan segera. Kebenaran akan berada di depan dan kemuliaan Tuhan barisan belakang kita. Tuhan akan menjawabi doa dan seruan kita bahkan Ia mewahyukan diri-Nya secara nyata di dalam hidup kita.

Nubuat Tuhan dalam Kitab nabi Yesaya menjadi nyata di dalam hidup kita. Tuhan Yesus sendiri menjelaskan secara baru makna puasa kepada para murid dan orang banyak yang mengikuti-Nya dari dekat. Dikisahkan dalam Injil Matius bahwa para murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus bahwa mereka dan kaum Farisi berpuasa sedangkan para murid-Nya tidak berpuasa. Yesus bertanya kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:15). Berpuasa bagi Yesus adalah supaya kita sebagai para sahabat mempelai selalu bersukacita di dalam hidup, dan berduka cita manakala sang Mempelai memulai penderitaan-Nya.

Apa yang harus kita lakukan?

Tuhan mengharapkan kita untuk berubah dan siap untuk melayani seperti Ia sendiri telah melayani kita. Gereja di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) membuka wawasan umat beriman untuk mewujudkan puasanya dengan benar, dengan membangun keadilan sosial. Semboyan yang kita usung bersama adalah: “Amalkan Pancasila: Kita Adil, Bangsa Sejahtera”. Dalam tahun keadilan ini, umat beriman diharapakan menjadi saksi Kristus. Satu hal sebagai wujud nyata puasa kita adalah gerakan celengan untuk kaum miskin, mereka yang lapar, haus, tak memiliki pakaian dan tuna wisma. Semua ini juga menjadi pekerjaan belas kasih Allah di dalam hidup kita. Celengan merupakan tanda pertobatan kita. Kita berbagi dengan orang-orang yang sangat membutuhkan, dan ini juga menjadi tanda keadilan yang kita perjuangkan bagi semua orang.

Kita juga membawa sukacita bagi semua orang, khususnya bagi saudari-saudara di banyak tempat yang sedang menjadi korban banjir dan bencana alam lainnya. Semua ‘celengan’ dan aneka donasi lain merupakan ungkapan kasih kita dari Tuhan kepada mereka semua. Mari kita belajar untuk berbagi. Bagi saya ini merupakan wujud nyata puasa kita, bukan hanya sekedar soal makan dan minum tetapi keberpihakan kepada sesama manusia dan usaha kita untuk mengoyakan hati dan melakukan pertobatan pribadi. Selamat menjalankan jalan salib pertama di masa prapaskah ini.

PJ-SDB

Wednesday, February 26, 2020

Homili 25 Februari 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-VII
Yak. 4:1-10
Mzm. 55:7-8,9-10a,10b-11a,10b-11a,23
Mrk. 9:30-37

Tidak mengerti Perkataan Yesus!

Saya pernah mendengar sharing para guru dalam sebuah acara rekoleksi para guru dari sebuah sekolah Katolik. Salah seorang guru senior di sekolah itu mengatakan: “Romo, saya sudah bertahun-tahun mengajar di sekolah ini. Setiap angkatan memiliki keunikan masing-masing. Ada angkatan yang kelihatan mengerti tetapi sebenarnya tidak semuanya mengerti. Ada angkatan yang kelihatan mampu menyimak tetapi ternyata tidaklah demikian. Namun dengan pengalaman ini kami semakin tekun untuk melakukan tugas dan tanggung jawab kami sebagai pendidik.” Saya senang mendengar sharing ini. Para guru sebagai pendidik selalu memiliki harapan yang terbaik bagi setiap muridnya, meskipun kadang-kadang mereka juga merasa kecewa dengan para murid karena mereka tidak mengerti, tidak menyimak dan lain sebagainya. Saya yakin bahwa banyak di antara kita memiliki pengalaman yang mirip.

Pada hari terakhir sebelum kita memasuki masa prapaskah ini, Tuhan Yesus kembali menyapa kita melalui Injil Markus. Dikisahkah bahwa ketika itu Yesus dan para murid-Nya melintasi Galilea. Ia menggunakan kesempatan untuk mengajar para murid-Nya sehingga Ia berusaha supaya perjalanan-Nya ini tidak diketahui oleh banyak orang. Apa yang hendak Tuhan Yesus ajarkan kepada para murid-Nya saat itu? Ia mengajar tentang rahasia paskah-Nya. Hal ini terungkap dalam perkataan-Nya ini: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." (Mrk 9:31). Tentu saja perkataan Yesus ini mengagetkan para murid-Nya. Mereka kaget karena tidaklah mungkin Yesus akan wafat secara tragis di salib. Ini sungguh menjadi sebuah tragedi besar di dalam pikiran mereka.

Lalu apa reaksi para murid-Nya saat itu? Para murid Yesus menunjukkan kerapuhan hidup mereka sebagai manusia. Hal ini mereka tunjukkan dengan tidak mengerti perkataan Yesus dan segan untuk bertanya kepada-Nya. Kita mungkin menertawakan para murid yang sudah sedang berjalan bersama Yesus. Mereka sudah berjalan bersama-Nya selama lebih kurang tiga tahun, namun mereka masih belum juga mengenal jati diri Yesus yang sebenarnya. Mereka belum mengenal Yesus karena segan untuk bertanya kepada-Nya. Banyak kali sikap para murid ini menjadi sikap kita. Kita sudah menerima sakramen pembaptisan dan berpikir bahwa sudah cukuplah demikian. Kita berdevosi kepada para kudus, aktif dalam hidup menggereja, namun semua ini belumlah menjadi jaminan bagi keselamatan kita. Kita harus berusaha untuk mengerti setiap perkataan Yesus dan berani ‘bertanya’ kepada Tuhan Yesus dalam doa-doa kita. Mengapa kita masih segan terhadap Yesus dan malu bertanya atau berdoa kepada-Nya?

Hal lain yang menjadi pembicaraan di kalangan para murid saat itu adalah tentang siapakah yang terbesar di antara mereka sebagai murid di hadapan Yesus. Memang rasanya pertanyaan ini aneh tapi selalu menjadi kenyataan. Yesus sempat bertanya kepada mereka:  "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" (Mt 9:33). Mereka sangat manusiawi dan menunjukkan titik lemah mereka. Mereka sempat terdiam karena dalam perjalanan yang barusan dilewati, mereka memperbincangkan siapa kiranya yang terbesar di antara mereka. Yesus mendengar dan menyimak lalu mengajarkan sebagai berikut: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."

Tuhan Yesus membuka pikiran dan hati para murid-Nya bukan untuk selamanya tidak mengerti perkataan Yesus. Mereka harus memiliki kemampuan untuk mengerti setiap perkataan Tuhan Yesus. Untuk itu mereka harus memiliki kebajikan kerendahan hati. Yesus berkata: "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Mrk 9:37). 

Pada hari ini kita semua dikuatkan oleh Tuhan supaya beruasaha memahami perkataan Tuhan. Kita tidak harus merasa malu untuk bertanya kepada Tuhan apa yang menjadi rencana-Nya bagi kita. Tuhan sendiri berkata: “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan , maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mzm 55:23).

PJ-SDB

Thursday, February 20, 2020

Homili 20 Februari 2020

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-VI
Yak. 2:1-9
Mzm. 34:2-3,4-5,6-7
Mrk. 8:27-33

Berbahagialah orang miskin

Saya sering menonton cuplikan video singkat inspirasi kehidupan tentang perlakuan orang kaya terhadap orang miskin di Facebook. Sosok-sosok yang ditampilkan adalah kaum milenial yang memiliki segalanya yakni harta dan kuasa berhadapan dengan orang-orang miskin dan tak berdaya. Diksi yang dipakai dalam pembicaraan para milenial ini cenderung merendahkan sesama milenial yang miskin, ditambahi dengan kekerasan verbal dan kekerasan fisik. Settingan tempat biasanya di restoran dengan makanan yang mewah, kantor dengan isinya yang sangat modern, mobil-mobil produksi terbaru dan lain-lain yang kiranya mewakili gaya hidup orang kaya dalam pikiran para milenial masa kini. Kadang-kadang ada pemeran orang pertama perusahaan yang menyamar sebagai orang miskin untuk mengetahui keadaan sesungguhnya dari perusahaan yang dipimpinnya. Dari situ ia berhasil membongkar borok-borok orang yang sudah lama berkarya di perusahaan, misalnyanya yang suka menindas, tidak jujur, tidak adil dan lain sebagainya. Saya menangkap salah satu isyarat penting dari berbagai cuplikan video singkat ini bahwa orang miskin di mata manusia dianggap rendah tetapi tentu berbeda di mata Tuhan. Tuhan justru menyapa kaum miskin ‘sahabat bukan hamba’ dan ‘berbahagia’ sebagai sapaan yang sangat bermakna.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan pengajaran dari Rasul Yakobus. Ia mengingatkan komunitasnya supaya dalam menghayati iman kristiani, mereka jangan memandang muka. Mereka memandang semua orang sebagai saudara dan sahabat bukan sebagai hamba atau orang rendahan yang tidak berguna. Sikap memilih-milih dan memisahkan sesama berdasarkan harta kekayaannya sangat tidak kristiani karena di mata Tuhan kita semua sama. Mengapa? Sebab semua yang kita miliki adalah titipan Tuhan. Tugas kita adalah saling menolong supaya kebahagiaan itu menjadi milik kita semua bukan milik seseorang atau satu kelompok saja.

Tentang hal ini Rasul Yakobus memberi contoh ini: “Jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (Yak 2:2-4). Contoh yang dipakai Yakobus ini selalu terjadi di dalam kehidupan kita. Saya sebagai seorang Romo selalu merasakannya. Misalnya, Romo itu selalu menjadi prioritas: orang pertama yang mengambil makanan dan minuman di meja, dilayani secara khusus, duduk di tempat yang bagus, selalu ada orang yang menemani untuk berbicara dan aneka perlakuan khusus lainnya. Hal ini sangatlah berbeda dengan para umat yang miskin dan lemah. Mereka dibiarkan begitu saja, mendapat sapaan pun tidak. Perlakuan seperti ini sebenarnya keliru. Sebab siapa saja yang ada di dalam Gereja bersamaan kedudukannya di hadapan Tuhan.

Untuk mengatasi sikap hidup semacam ini, Rasul Yakobus mengoreksi komunitasnya dan kita semua saat ini supaya tidak memilih dan memilah-milah sesama kita. Kita semua sama di hadapan Tuhan. Di atas langit masih ada langit! Berkaitan dengan ini Rasul Yakobus berkata: “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” (Yak 2:5). Tuhan Allah mengarahkan mata-Nya, memilih orang-orang yang mengasihi-Nya yakni kaum miskin di dunia ini supaya menjadi kaya di dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan-Nya. Yakobus mengakhiri pengajarannya dengan mengingatkan hukum kasih yang harus dilakukan di dalam hidup ini. Ia berkata: “Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” (Yak 2:8-9).

Tuhan menunjukkan keberpihakan-Nya kepada kaum miskin ketika mengutus Yesus Putera-Nya ke dunia dengan mengambil rupa sebagai orang miskin sehingga membuat manusia yang miskin menjadi kaya di hadirat-Nya yang Mahakudus. St. Paulus menjelaskan model keberpihakan Tuhan Allah dalam perkataan ini: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:5-11). Yesus Kristus tetaplah model inspiratif bagi kita semua.

Tuhan Yesus Kristus menurut pengakuan iman St. Petrus, adalah Mesias atau Dia yang diurapi dan dikuduskan. Ini adalah sebuah hal yang istimewa bagi orang-orang zaman itu. Namun Yesus berusaha melarang mereka dengan keras supaya tidak boleh memberitahukan identitas-Nya kepada orang lain. Yesus bukanlah Mesias yang jaya sesuai kriteria manusia tetapi seorang Mesias yang menderita bahkan dibunuh dan pada hari ketiga bangkit dengan jaya. Tentu hal ini mengagetkan semua murid yang mendengar perkataan Yesus saat itu. Petrus yang barusan mengakui Yesus sebagai Mesias juga mendapat teguran keras dan disebut sebagai ‘iblis’ oleh Yesus karena memikirkan Yesus sebagai Mesias yang jaya bukan Mesias yang menderita. Pikiran Petrus memang sangat manusiawi tetapi itu juga yang menjadi pikiran banyak orang. Posisi atau kedudukan, harta dan kuasa selalu ada di dalam pikiran manusia dan lupa bahwa menderita juga dibutuhkan di dalam hidup untuk mendewasakan dan membahagiakan. Bekas luka selalu mengajar kita bagaimana kita menghargai hidup dan kehidupan sesama, orang miskin dan lemah sekalipun. Kita semua sama di mata Tuhan.

PJ-SDB