Monday, April 20, 2020

Food For Thought: Saya seorang imam


Seorang imam…

Pada pagi hari ini saya menemukan sebuah kutipan perkataan dari St. Polikarpus tentang kehidupan pribadi seorang imam. Hari ini bukan HUT tahbisan imamatku tetapi saya tertarik untuk membaginya kepada anda juga. Inilah kutipan perkataan St. Polikarpus:

“Imam seharusnya cenderung untuk bersimpati, untuk berbelas kasih kepada semua orang, untuk membawa kembali yang tersesat, untuk mengunjungi semua orang sakit. Imam tidak boleh mengabaikan janda, yatim piatu, dan orang miskin. Imam harus selalu peduli berbuat baik, di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Imam harus selalu menahan diri dalam kemurkaan, dari diskriminasi dan dari keputusannya yang tidak adil. Imam tidak boleh loba atau rakus. Imam harus lambat percaya akan berita negatif tentang seseorang. Imam tidak boleh terlalu keras dalam mengadili. Imam seharusnya tahu bahwa kita semua adalah orang berdosa.”

Saya memperhatikan satu persatu kalimat yang diucapkan Santu Polikarpus. Dan selama 19 tahun mengabdi Tuhan sebagai imam, saya harus jujur dan berani berkata: “Tuhan Yesus Kristus kasihanilah aku orang berdosa ini. Semoga saya bisa berusaha untuk menjadi imam yang semakin serupa dengan Engkau sendiri bukan sesuai dengan pikiran saya saat ini.”

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuhan yang selalu menguatkanku di saat kulemah. Saya mengucapkan terima kasih kepada sanak keluarga, para konfrater dan sudari saudara yang setia mendoakanku sebagai seorang imam. Semoga semakin hari saya setia dalam hal-hal kecil hingga hal-hal yang besar. Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

homili 20 April 2020


Hari Senin, Pekan II Paskah
Kis. 4:23-31
Mzm. 2:1-3,4-6,7-9
Yoh. 3:1-8

Dilahirkan kembali

Pada pagi hari ini saya merayakan misa harian bersama komunitasku. Saya mendoakan Prefasi Paskah II tentang hidup baru dalam Kristus. Ada kalimat-kalimat yang sangat inspiratif dari prefasi Paskah II ini yakni seperti ini: “Karena wafat-Nya, kami dibebaskan dari kematian kekal, dan dalam kebangkitan-Nya kehidupan semua orang dibangun kembali dan dipugar dengan semangat dan harapan baru. Sebab berkat wafat dan kebangkitan Kristus suatu angkatan baru putra dan putri cahaya dilahirkan untuk kehidupan abadi, dan bagi para beriman dibukakan kembali pintu gerbang kerajaan surga”. Kata-kata dalam doa prefasi ini sangat mendalam maknanya bagi kita semua untuk memahami makna Paskah Kristus yang benar. Tuhan Yesus telah wafat bagi kita supaya kita dibebaskan dari kematian kekal akibat dosa. Ini patut kita syukuri karena jasa Yesus Kristus. Kita semua dibangun kembali dan dipugar dengan semangat dan harapan baru melalui kebangkitan Kristus. Artinya hidup kita dihancurkan oleh iblis dan kini iblis dikalahkan sehingga hidup baru menjadi milik kita. Wafat dan kebangkitan Kristus melahiran suatu angkatan manusia baru dan gerbang Kerajaan Surga dibukakan Tuhan. Maka kita menyadari bahwa Paskah Kristus membawa sebuah kebaruan dalam hidup di hadirat Tuhan.

Paskah Kristus membawa kebaruan dalam hidup. Saya teringat pada seorang pemuda yang pernah berbicara dengan saya sesaat setelah ia mengaku dosa. Ia merasa begitu bahagia karena mengalami pengampunan berlimpah dari Tuhan. Dia merasa seperti sesuatu yang baru, ia lahir baru karena dosa yang sudah lama disembunyikannya dan ia malu untuk mengakuinya, akhirnya ia berani mengakuinya di hadapan Bapa Pengakuan. Pengalaman orang muda ini tepat seperti doa raja Daud dalam Mazmur ini: “Selama kusembunyikan dosaku, batinku tertekan dan aku mengeluh sepanjang hari. Aku mengakui dosaku di hadapan-Mu, Tuhan dan kesalahanku tidak kusembunyikan”. (Mzm 32:5). Hal yang menarik perhatian dari sharing pemuda ini adalah sukacita pengampunan sehingga ia merasa seperti dilahirkan kembali.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok Nikodemus dalam Injil Yohanes. Nikodemus adalah seorang Farisi dan dikenal sebagai seorang pemimpin agama Yahudi. Perhatikanlah bahwa nama Nikodemus adalah nama Yunani yakni νικοδημος (nikodêmos). Nama ini terbagi dalam dua kata yakni kata: νικος (nikos) berarti kemenangan dan kata δημος (demos) yang berarti bangsa, masyarakat Sebab itu makna nama Nikodêmos adalah Yang menang bersama bangsa itu atau penakluk bangsa-bangsa. Dari namanya dan juga pekerjaannya maka kita dapat memahami jati dirinya saat ia berkunjung kepada Yesus pada suatu malam yang indah. Mengapa ia mesti datang malam-malam kepada Yesus? Pertama, karena jabatan dan partainya maka ia harus berusaha supaya orang lain terutama kaum Farisi jangan mengetahuinya. Dia bisa dianggap pengkhianat bagi jabatan dan agamanya. Kedua, sebagai seorang pemimpin agama Yahudi ia tahu bahwa pada malam hari selalu menjadi kesempatan untuk belajar Taurat dan kebijaksanaan. Ketiga, malam hari merupakan simbol kegelapan, hidup lama dan ketidatahuannya dan berjumpa dengan Yesus sehingga ia menjadi baru.

Nikodemus ‘yang menang atas bangsa-bangsa’ datang kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." (Yoh 3:2). Nikodemus tidak berbicara atas nama dirinya tetapi menggunakan kata ‘kami’ untuk mewakili kaum farisi dan para rekan pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Ini merupakan ungkapan iman Nikodemus kepada Yesus sebagai Rabi utusan Allah, pembuat mukjizat dan penyertaan Allah kepada-Nya. Tuhan Yesus memandang sang pemenang ini dan berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yoh 3:3). Nikodemus tentu bingung dengan jawaban atas pengakuannya kepada Yesus. Orang setua Nikodemus sendiri masa harus masuk ke dalam Rahim ibunya dan dilahirkan kembali? Nah di sini kita melihat bahwa jabatan sebagai pemimpin agama bukanlah jaminan akan kebijaksanaan di hadirat Tuhan. Nikodemus masih membutuhkan Tuhan untuk membimbingnya supaya dia sungguh dilahirkan kembali. Dengan dilahirkan kembali maka ia dapat melihat Kerajaan Allah sebaliknya tanpa kelahiran kembali maka ia juga tidak akan melihat Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus lalu membuka mata dan pikiran Nikodemus untuk memahami makna dilahirkan kembali. Pikiran Nikodemus adalah lahir secara daging atau secara manusiawi, sebab itu ia berpikir tentang Rahim ibu. Tuhan justru mengundangnya sebagai pemimpin agama Yahudi supaya di hadapan-Nya sebagai Terang dunia, dan sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup, ia dapat lahir kembali dalam air dan Roh. Yesus bangkit dari alam maut dan memberikan Roh-Nya kepada para rasul untuk mengampuni dosa, artinya memberi hidup baru kepada semua orang. Kini Nikodemus sebagai pemenang bangsa-bangsa dilahirkan kembali dalam Roh dan air supaya memperoleh keselamatan abadi. Kini Nikodemus sang pemimpin agama Yahudi, pemenang bangsa-bangsa belajar untuk rendah hati di hadapan sang Rabi sejati yaitu Yesus Kristus. Dia sungguh dilahirkan kembali karena anugerah pertobatan.

Hidup baru atau kelahiran kembali juga di alami Petrus dan Yohanes.Mereka sempat menjadi tawanan dan diadili oleh Mahkama Agama Yahudi sebab mewartakan secara terang-terangan kebangkitan Kristus. Pengalaman menjadi tawanan ini diceritakan dalam komunitas sebagai sebuah penghiburan. Komunitas bersyukur dalam doa ini: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus." (Kis 4: 24-30). Doa ini disampaikan kepada Tuhan dengan iman sehingga mereka semua dilahirkan kembali dalam Roh Kudus. Ada Pentekosta baru sebab mereka semua penuh dengan Roh Kudus dan berani untuk mewartakan Sabda kepada semua orang.

Apakah kita juga membutuhkan kelahiran kembali? Jawabannya adalah ya dan harus. Kita butuh Roh Kudus untuk membaharui hidup kita. Pada saat ini kita semua memiliki beban covid-19 dan dampaknya yang begitu luas dalam ekonomi, sosial dan politik. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk membaharui seluruh muka bumi supaya yang ada bukan lagi konflik tetapi kedamaian dan kasih sesuai kehendak Tuhan sendiri.

PJ-SDB

Sunday, April 19, 2020

Food For Thought: Jangan menyalahkan nasib

Berhentilah menyalahkan nasib!

Saya barusan berdiskusi dengan seorang sahabat. Ia menceritakan pengalamannya selama covid-19 melanda bumi ini dan dampak langsung yang dialaminya. Ia mulai merasa bahwa  pendapatannya secara finansial perlahan namun pasti mulai menurun sementara kebutuhan keluarganya bertambah karena ‘di rumah saja’. Ia memutar otak bersama keluarganya untuk bertahan hidup sekurang-kurangnya untuk sisa tahun 2020 ini. 

Sambil mendengar sharing pengalamannya ini, saya mengingat banyak di antara kita yang memiliki pengalaman yang sama, dan mungkin ada yang lebih menderita akibat dampak covid-19. Mereka kehilangan sanak keluarga, di jauhi, dibuli bahkan ditolak saat hendak dikuburkan. Semua pengalaman ini sudah sedang kita alami di tanah kita berpijak saat ini. Ada orang yang gelap mata dan telinga lalu mempersalahkan pemerintah pusat bahwa mereka lamban dalam usaha memutuskan mata rantai penyebaran covid-19. Memang, penonton itu selalu lebih pintar dari pada pemain di lapangan, padahal kenyataan lapangan memang sangat berbeda dengan pengalaman pribadi. 

Saya teringat pada pengalaman Simon Petrus dan teman-temannya di hadapan Yesus. Mereka terlalu percaya diri untuk mencari ikan berdasarkan pengalaman empirisnya sebelum mengikuti Yesus. Namun apa yang terjadi, setelah semalam suntuk mereka tidak mendapatkan apa-apa. Ketika Tuhan Yesus memerintahkan mereka untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam maka mereka akhirnya mendapatkan ikan yang berlimpah rua. Dalam kisah yang lain, ketika Tuhan Yesus yang bangkit mulia memerintahkan Simon Petrus dan keenam temannya untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu maka mereka berhasil menangkap 153 ekor ikan. Bersama Yesus mereka mengalami hidup baru.

Hal tersembunyi dalam pengalaman setiap pribadi adalah lebih mengandalkan pengalaman pribadi dan lupa untuk percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya. Memang lebih mudah menuduh dan mempersalahkan orang tertentu dalam hidup kita, dan sulit untuk menerima diri dan siap untuk ditegur dan dipersalahkan. Ini adalah warna dan warni kehidupan. 

Kiranya ini menjadi sebuah pesan emas bagi kita: “Berhentilah menyalahkan nasib. Berhentilah menyalahkan orang lain. Berhentilah menuding pengaruh atau situasi luar”. Pikirkanlah pribadimu jangan peribadi orang lain: selama masa covid-19 ini anda selalu menyalahkan nasib hingga ujungnya adalah menyalahkan Tuhan Allah. Anda mungkin memiliki kebiasaan untuk menyalahkan orang lain dan anda berpikir dirimu tidak pernah bersalah. Berhentilah saat ini juga untuk mengadili orang lain. Berhentilah menuding orang lain atau pengaruh dari situasi luar. Kita berhenti sejenak dan melihat ke depan. Masih ada masa depan yang cerah karena Tuhan mendampingi kita. Kita tidak sendirian karena ada Imanuel.

PJ-SDB

Thursday, April 16, 2020

Homili Hari Kamis Oktaf Paskah 2020

HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH
Kis. 3:11-26
Mzm. 8:2a,5,6-7,8-9
Luk. 24:35-48

Berjalan bersama sang Pendamai

Mengawali homili hari, saya terinspirasi oleh perkataan Santa Theresia dari Kalkuta. Ia pernah berkata begini: “Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta. Buah cinta adalah pelayanan. Buah pelayanan adalah damai.” Saya terinspirasi karena dalam masa Paskah kita tidak hanya bergembira karena telah melewati masa prapaskah. Kita masih mengalami wabah covid-19 sehingga wajarlah untuk  hening dan bertekun dalam doa sehingga badai ini cepat berlalu. Ini tentu butuh iman, cinta dan pelayanan yang baik. Dan kalau setiap orang benar-benar hidup dalam keheningan, doa, iman, kasih dan setia dalam pelayanan maka dengan sendirinya ada damai dalam hati. Damai adalah sebuah anugerah dari Tuhan secara cuma (Yoh 14:27) sehingga kita memiliki tugas untuk membawa dan membagikannya kepada sesama (Mat 5: 9). Dengan menjalani tugas perutusan ini kita akan menunjukkan diri kita sebagai anak-anak Allah yang benar. Satu hal yang perlu kita lakukan juga sebagai wujudnyata semangat paskah kita adalah membiarkan diri kita di damaikan bersama Bapa oleh Yesus Kristus yang bangkit dengan mulia, sebab Kristus adalah damai kita.

Banyak di antara kita mungkin masih mengingat sebuah kalimat dalam Madah Paskah yakni “Christus innocens Patri reconciliavit peccatores” (artinya: Kristus yang tak berdosa mendamaikan kita dengan Bapa). Tuhan Yesus tidak berdosa namun menjadikan diri-Nya sebagai pendamai antara kita sebagai manusia berdosa dengan Bapa di surga. St. Paulus pernah berkata: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan  Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” (2Kor 5:20). Tuhan Yesus Kristus adalah damai kita (Ef 2:14). Dia memberikan damai-Nya kepada kita dan itu ternyata belum cukup. Ia sendiri menjadikan diri-Nya sebagai damai antara kita dengan Bapa di Surga. Sungguh bermartabatlah kita sebagai orang berdosa di hadapan Bapa.

Bacaan-bacaan Kitab Suci selama Oktaf Paskah ini membuka hati dan pikiran kita untuk menjalakan sebuah tugas perutusan sebagai murid sejati yakni menjadi saksi kebangkitan Kristus. St. Lukas melanjutkan kesaksiannya tentang kebangkitan Kristus di dalam Injil dan Kisah Para Rasul. Setelah Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya kepada Kleopas dan temannya dalam pemecahan roti di Emaus, kedua murid ini langsung kembali ke Yerusalem untuk bersaksi. Pokok kesaksian mereka adalah bahwa Yesus berjalan bersama mereka, bertukar pikiran bersama-Nya hingga hati mereka berkobar-kobar. Ada damai yang tidak dapat dilukiskan dengan Bahasa manusia kepada teman-teman yang lain. Jadi masing-masing murid menceritakan pengalaman perjumpaan mereka dengan Tuhan Yesus yang sudah bangkit dari antara orang mati. Mereka tidak hanya mengenang tetapi merasakan kebangkitan Kristus. Dalam suasana sharing pengalaman tentang perjumpaan mereka dengan Yesus yang bangkit, secara tiba-tiba Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan memberikan damai sejahtera-Nya kepada mereka. Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu”.

Kita dapat membayangkan betapa susahnya mempercayai sesuatu yang tidak dapat dipahami dengan akal budi. Pada saat itu pintu dan rumah tempat mereka berkumpul itu terkunci. Rasa takut dan trauma karena kematian Yesus Kristus masih menguasai mereka. Tiba-tiba Dia muncul dan berbicara dengan mereka. Ini menakutkan dan merupakan sebuah kejutan dan keraguan besar di mata para murid-Nya. Tuhan Yesus berusaha menenangkan mereka dengan cara-cara yang masuk akal pada level manusiawi. Ia mula-mula menunjukkan bagian-bagian tubuh seperti tangan dan kaki-Nya. Dia bahkan memakan sepotong ikan goren di depan mata mereka. Sekali lagi hati mereka girang dan berkobar-kobar sehingga tidak mampu mengungkapkan pengalaman rohani ini dengan bahasa manusiawi. Yesus juga mengulangi kembali semua hal menyangkut penggenapan isi Kitab Suci tentang diri-Nya. Ia berkata: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” (Luk 24:26-27).  

Hal yang mirip juga dilakukan Petrus dan Yohanes. Mereka tampil di depan publik Yerusalem untuk bersaksi tentang kebangkitan Yesus Kristus. Hal yang sudah mereka lakukan adalah dalam nama Yesus mereka menyembuhkan seorang yang lumpuh. Ini memang mengherankan sebab si lumpuh yang juga berprofesi sebagai pengemis itu sudah menjadi orang normal. Petrus menggunakan kesempatan berharga ini untuk menjelaskan peristiwa Yesus. Dalil utamanya adalah peristiwa penyembuhan orang lumpuh bukan karena kuasa Petrus dan Yohanes melainkan kuasa Yesus yang sudah dimuliakan Allah nenek moyang mereka. Kepercayaan kepada nama Yesus menyelamatkan manusia yang berdosa. Yesus adalah Pemimpin kepada hidup. Ia telah dibunuh namun Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Petrus dengan tegas mengatakan bahwa dirinya dan teman-temannya adalah saksi.

Petrus sangat bijaksana dalam memberi kesaksian dan mewartakan kebangkitan Kristus. Ia memilih kata-kata yang tidak banyak menyinggung perasaan orang-orang di Yerusalem. Sebab itu ia mengatakan: “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.” (Kis 3:17-18). Perkataan Petrus ini membangkitan sebuah semangat baru yaitu pertobatan. Mereka sadar diri sebagai orang berdosa dan kembali mencintai Yesus Kristus. Ini benar-benar merupakan jalan yang benar menuju kepada Tuhan.

Pada hari ini Tuhan menyapa dan mengajak kita supaya bersedia menjadi saksi kebangkitan-Nya. Ia berkata: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” (Luk 24:48). Kita menjadi saksi kebangkitan Kristus masa kini butuh keberanian dan ketulusan hati. Ada orang katolik yang mau bersaksi tetapi ada mau-maunya di belakang. Ada orang  katolik yang bermental bekicot sehingga sulit bersaksi. Sekali lagi butuh keberanian untuk bersaksi. Tuhan juga menyapa kita dan mengajak kita untuk membawa damai. Damai adalah anugerah maka gratis. Damai itu indah dan harus tetap diperjuangkan. Damai paskah itu melebihi segalanya sebab Tuhan Yesus telah menebus kita dengan darah-Nya. St. Petrus berkata: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Ptr 1:18-19). Bawalah damai Paskah kepada saudari dan saudaramu di masa covid-19 yang mencekam ini.

PJ-SDB

Wednesday, April 15, 2020

Homili Hari Rabu Oktaf Paskah 2020


HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH
Kis. 3:1-10
Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9
Luk. 24:13-35

Yesus mengubah hidup kita

Saya pernah menghadiri sebuah ibadat Oikumene. Hamba Tuhan yang membawakan Firman mengajak kami semua yang hadir untuk menutup mata sebentar sambil hening sejenak, mencoba membayangkan kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah kami dan dengan tangan-Nya yang kudus menjamah sekaligus mengubah hidup kami masing-masing. Banyak umat yang hadir mungkin merasa biasa-biasa saja, tetapi banyak orang yang merasa bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh menjamah dan mengubah hidupnya. Saya sendiri berusaha untuk mengikutinya dengan baik. Dan saya merasa bahwa banyak kali Tuhan menyapa diri kita melalui momen-momen tertentu seperti ini. Kadang-kadang hal yang dianggap sepeleh tetapi memiliki bobot yang tinggi dan transformatif. Namun ada sebuah harapan yang penting yakni supaya Tuhan Yesus dapat mengubah hidup kita. Apalagi dalam masa paskah ini, kita sungguh-sungguh membutuhkan Yesus untuk mentransformasi hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Pada hari ini kita mendengar bacaan-bacaan Kitab Suci yang menunjuk sosok Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mulia dan mengubah hidup manusia. Penginjil Lukas menghadirkan sosok Yesus yang hadir dan aktif mendampingi Kleopas dan temannya dalam perjalanan ke Emaus. Kleopas dan temannya mewakili rekan-rekannya yang merasa kecewa sebab harapan mereka tentang Yesus  tidak sesuai dengan kenyataan manusiawi. Bagi mereka, Yesus adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa (Luk 24:19). Harapan mereka adalah bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel (Luk 24:21). Pandangan dan harapan ini tidak sesuai dengan kenyataan sebab imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya (Luk 24:20). Ini adalah realitas yang membuat mereka kehilangan harapan dan memutuskan untuk Kembali ke Emaus dan menjalani hidup setiap hari.

Dalam situasi seperti ini, Tuhan Yesus hadir untuk mengubah hidup mereka. Caranya adalah Dia hadir aktif dengan berjalan bersama mereka, masuk ke dalam hidup pribadi mereka sambil menjelaskan Kitab Suci yang sudah melukiskan hidup-Nya sebagai Mesias. Kleopas dan temannya merasakan hati yang berkobar-kobar ketika mendengar penjelasan tentang Mesias dalam Kitab Taurat dan para nabi. Padahal Yesus juga sempat menyindiri mereka sebagai orang bodoh dan lamban hati. Klepoas dan temannya menerima diri di hadapan Tuhan Yesus. Mereka akhirnya tiba di Emaus dan Yesus berpura-pura untuk melanjutkan perjalanan-Nya tetapi mereka menahan Dia dengan berkata: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." (Luk 24:29). Yesus masuk bersama mereka ke dalam rumah, tinggal bersama mereka. Mereka mengenal-Nya ketika Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecahkan dan membagi-bagikan kepada mereka. Kedua murid ini sadar diri ketika mengenal-Nya, mereka pun kembali ke Yerusalem untuk bersaksi tentang kebangkitan Yesus.

Transformasi apa yang terjadi di sini? Tuhan Yesus mengenal Kleopas dan temannya. Mereka sedang menunjukkan ketidakpuasannya terhadap peristiwa Yesus. Mereka meninggalkan Yerusalem sebagai kota damai, tempat Tuhan menunjukkan keselamatan umat manusia. Dalam situasi seperti ini Tuhan tidak membiarkan mereka tenggelam dalam kesedihan. Ia hadir, aktif berbicara dengan mereka dan mengubah hati mereka sehingga berubah dari hati yang sedih dan tak terarah menjadi hati yang berkobar-kobar. Hati yang terbuka kepada Yesus ditunjukkan dengan kerinduan untuk tinggal bersama Yesus. Yesus mengubah hidup mereka dari hidup dengan kesedihan menjadi hidup dengan bahagia karen hati mereka berkobar-kobar.

Bacaan Injil ini mempertegas Ekaristi sebagai perayaan yang sangat transformatif. Ada dua bagian penting dalam Ekaristi yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Di bagian Sabda, Yesus berbicara dari hati ke hati dengan mereka berdua. Sabda itu laksana pelita yang menerangi Langkah kaki mereka (Mzm 119:105). Sabda itu laksana pedang bermata dua. Penulis surat kepada umat Ibrani mengatakan: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibr 4:12). Maka meski Yesus mengatakan bahwa mereka bodoh dan berhati lamban, mereka menerima sebagai teguran yang mengubah hidup mereka. Di bagian Ekaristi, Kleopas dan temannya mengenal Yesus ketika memecahkan roti. Ekaristi menunjukkan kehadiran nyata Yesus Kristus. Dia bukan roti saja atau anggur saja tetapi sungguh-sungguh Yesus yang mengenalkan diri-Nya bagi mereka. Kita mengingat kembali St. Thomas Aquinas dalam lagu Adoro Te Devote, di mana terdapat kata-kata dalam syair lagu itu: “Allah yang tersamar, Dikau kusembah, sungguh tersembunyi, roti wujudnya. S'luruh hati hamba tunduk berserah. 'Ku memandang Dikau, hampa lainnya. Pandang, raba, rasa tidaklah benar, 'ku percaya hanya yang t'lah kudengar. S'luruh sabda dari Putera Allah sungguh tak bertara kebenarannya. Di salib tersamar keallahan-Mu, di sini tersamar keinsanan-Mu. Aku mengimani dua-duanya. Yang penyampun minta, 'ku memintanya…” Ekaristi benar-benar mengubah hidup manusia. Kedua murid ini langsung kembali ke Yerusalem untuk mewartakan kebangkitan Yesus.

Bacaan Injil ini merupakan gambaran hidup kita. Di satu pihak kita juga sedang mengalami tekanan karena situasi seperti covid-19. Banyak orang mau lari dari kenyataan dan sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Covid-19 telah mengubah perilaku manusia dalam segala hal termasuk relasi antar pribadi. Di saat seperti ini orang akhirnya sadar dan kembali kepada Tuhan. Dan saya percaya bahwa Tuhan Yesus mendampingi setiap kita, menunjukkan diri-Nya lewat Sabda dan kata yang membuat hati kita juga berkobar-kobar. Pengalaman Injil ini haruslah menjadi pengalaman keseharian kita. Kita juga memiliki persoalan hidup seperti Kleopas dan temannya. Kita butuh Tuhan, buta keluarga atau siapa saja yang berempati untuk mendampingi perjalanan hidup kita.

Dalam bacaan pertama kita merasakan hal yang sama. Tuhan Yesus yang diwartakan Petrus dan Yohanes berhasil mengubah hidup orang lumpuh. Orang lumpuh tanpa nama ini setiap hari berada di dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah (Kis 3:2). Petrus memandang si lumpuh yang meminta sedekah itu dan memberi hadia yang terbaik dalam perkataan ini: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kis 3:6). Kata-kata Petrus ini mengubah hidup si lumpuh. Dia sembuh secara fisik dan mental. Ini adalah sebuah transformasi karena Yesus yang diwartakan Petrus dan Yohanes. Transformasi juga dialami oleh semua orang yang menyaksikan peristiwa penyembuhan ini. Lukas bersaksi: “Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.” (Kis 3:9-10).

Pada hari ini kita semakin dikuatkan karena cinta kasih Kristus yang bangkit. Proses transformasi juga terjadi di dalam diri kita. Kita sendiri memiliki duka dan kecemasan karena covid-19 dan dampaknya dalam bidang kehidupan yang lain. Kita juga memiliki kelumpuhan tertentu dan butuh Yesus untuk mengubah kelumpuhan menjadi kekuatan baru. Tuhan Yesus pasti melakukan semua ini karena Ia mengasihi kita tanpa batas.

P. John Laba, SDB

Thursday, April 9, 2020

Refleksi Kamis Putih Pagi - 2020

Misa Krisma – Kamis Putih Pagi
Yes 61:1-3.6.8b-9
Mzm 89
Why 1:5-8
Luk 4:16-21

Ia telah mengurapiku

Hari Kamis Putih pagi. Sekurang-kurangnya ada dua kegiatan penting sebelum merayakan tiga hari suci ke depan. Kegiatan Pertama, ibadat pagi yang dikenal dengan sebutan lamentasi. Kata ‘lamentasi’ merupakan sebuah ungkapan kesakitan yang sangat mengganggu kehidupan manusia. Lamentasi itu merupakan sebuah tradisi tentang sejarah kejatuhan manusia dalam dosa, penyesalan, membangun tobat menuju keselamatan. Nabi Yeremia memiliki pengalaman penderitaan yang membuatnya meratap atau kita kenal dengan sebutan Ratapan Yeremia. 

Lamentasi merupakan ungkapan hati, sebuah ratapan yang menyadarkan kita bahwa kita memang orang berdosa. Ada kalimat-kalimat yang benar-benar membuat kita seperti sedang memeriksa bathin sebelum mengaku dosa, misalnya: “Dosaku, dosaku, betapa kejinya, jiwa, pulanglah, pulanglah, pulang kepada Tuhanmu.” Ada juga syair lain seperti ini: “Jahatlah dosamu manusia, jahatlah dosamu manusia, pulanglah, pulanglah kau pada Tuhanmu.” Sambil syair ini dinyanyikan semua umat yang hadir dalam ibadat ini menyadari dirinya sebagai orang berdosa yang butuh penyesalan, butuh Tuhan untuk mengampuninya sehingga layak merayakan Paskah. Syair solo lain yang banyak dikenal dalam lagu Lamentasi misalnya: “Tercekik antara pedihnya luka-luka, pada tubuh dan jiwa. Dahagaku menjadi-jadi, Aku diberi minum empedu dan cuka. NyawaKu tiada disayangi, dengan pedih aku dibuang, dan dihitung, di antara penjahat.”

Banyak umat merindukan lamentasi sebagai ibadat paginya dalam tiga hari suci ini namun karena covid-19, lebih lagi dengan adanya pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) maka lamentasi tidak dapat dilakukan sebagai sebuah komunitas di dalam Gereja. Ada yang mengikuti ibadat lamentasi secara online, ada yang menggunakan toa yang besar di gereja sehingga semua umat menyediakan waktunya untuk mengikuti lamentasi dari rumah masing-masing. Lamentasi tahun 2020 benar-benar lamentasi asli tanpa ada kepalsuan.

Kegiatan kedua adalah Misa Krisma. Di banyak keuskupan yang mudah dijangkau dengan kendaraan biasanya diadakan Misa Krisma pada Hari Kamis Putih pagi. Fokus dalam Misa Krisma adalah pertama, Bapa Uskup berkenan memberkati minyak-minyak yang akan dipakai untuk pelayanan sakramen oleh para imam. Minyak-minyak yang dimaksudkan adalah, pertama Minyak Babtis (OC). Minyak OC atau Oleum Catechumenorum adalah minyak yang diberikan kepada para katekumen (calon babtis yang bukan babtis bayi). Minyak ini melambangkan penyembuhan para katekumen dari dosa asal serta memberi kekuatan untuk menjalani hidup sebagai orang Katolik. Kedua, minyak Krisma (SC). Minyak SC atau Sanctum Chrisma adalah minyak yang diberikan kepada orang-orang katolik yang  menerima Sakramen Krisma. Minyak ini melambangkan penyembuhan sang penerima dari segala dosa yang pernah dilakukan serta simbol penguatan dari Roh Kudus yang diberikan kepada penerima Krisma. Ketiga, Minyak Pengurapan (OI). Minyak OI atau Oleum Infirmorum adalah minyak yang diberikan kepada orang sakit atau pada saat orang sakit itu menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Minyak ini melambangkan penyembuhan manusia dari dosanya dan dari penyakitnya.

Selain upacara pemberkatan minyak-minyak ini, Bapa Uskup dan para imam membaharui janji imamatnya untuk kesetiaan hidup dan demi pelayanan-pelayanan yang berkualitas. Para imam menyadari diri sebagai pelayan sebagaimana diingatkan oleh Bapa Suci Fransiskus supaya menjadi gembala yang berbau domba. Pada saat ditahbiskan, para imam mendapat urapan Roh Kudus melalui pengurapan minyak yang diberikan oleh Tuhan melalui tangan Bapa Uskup. Maka dalam menjalankan tugas pelayananya, para imam haruslah mengingat kata-kata yang Tuhan Yesus sendiri ucapkan ini: “Roh Tuhan ada padaku, sebab Ia telah mengurapi aku”. Roh Kudus telah menahbiskan, menyucikan untuk tugas pelayanan tertentu. Tuhan Yesus sendiri diurapi atau ditahbiskan oleh Roh Kudus untuk tugas pelayanan ini: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Luk 4:18-19). Kadang-kadang Bapa Uskup juga mengajak para biarawan dan biarawati untuk membaharui janji hidup membiara mereka secara umum. Hal terpenting adalah pembaharuan diri untuk melayani seperti Tuhan sendiri melayani manusia yang berdosa. Sayang sekali karena covid-19 perayaan istimewa ini juga tidak dapat dilakukan secara bersama-sama sebagai sebuah kolegialitas. Mungkin ini cara Tuhan menyadarkan dan membaharui hidup kita, lebih lagi di masa prapaskah ini.

Pada hari ini kita bersyukur sebagai satu Gereja yang memiliki gembala-gembala untuk melayaninya. Tugas kita adalah berdoa supaya Tuhan yang empunya pekerja dapat mengirim para pekerja untuk tetap berkarya di kebun anggur Tuhan yakni Gereja sendiri. Tuhan Yesus sendiri berkata: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Luk 10:2). Panggilan untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati bukan sebuah paksaan manusiawi, tetapi bahwa Tuhan sendiri sudah memiliki rencana untuk menjadikannya sebagai pekerja. Maka tugas gereja adalah memohon supaya Tuhan mengirim pekerja-Nya. Maka boleh dikatakan bahwa para imam, biarawan dan biarawati adalah orang-orang ‘limited edition’ dari Tuhan bagi Gereja. Maka Gereja dalam hal ini umat Allah harus mendukung dan menjaga panggilan suci ini.

Saya sendiri mau mengucapkan terima kasih kepada saudari dan saudara yang setia mendoakan panggilan saya. Sejak pertama kali masuk dalam komunitas Salesian Don Bosco (SDB) di Fatumaca, Timor Leste tahun 1989 hingga saat ini di Komunitas Salesian Don Bosco Tigaraksa (2020), anda sudah mengenal, mendoakan dan mendukung dengan caramu sendiri. Mungkin anda sudah lupa berapa kali mendoakan, berapa banyak dukunganmu tetapi Tuhan tidak pernah lupa untuk membalasnya. Terima kasih dan saya mendoakanmu pada hari istimewa ini.

PJ-SDB

Wednesday, April 8, 2020

Food For Thought: Melayani sampan tuntas

Melayani sampai tuntas!

Albert Schweitzer (1875-1965) adalah seorang dokter dan pemusik berkebangsaan Jerman. Ia pernah berkata: “Tujuan hidup manusia adalah untuk melayani, dan untuk menunjukkan belas kasih dan kemauan untuk membantu orang lain.”

Dari perkataannya ini kita mendapat tiga hal penting yang mesti kita lakukan untuk mengejawantah tujuan hidup kita di dunia ini: Pertama, melayani. Manusia menunjukkan dirinya sebagai manusia ketika ia mampu melayani. Sebuah keluarga terbentuk dalam semangat melayani satu sama lain. Maka dalam situasi apa saja, orang harus tetap berani melayani dengan tulus dan tanpa pamrih. Sebuah pelayanan yang rendah hati akan menghasilkan banyak buah di dalam hidup ini. Kedua, belas kasih. Tujuan hidup kita di dunia adalah untuk berbelas kasih kepada sesama sebab apa yang kita lakukan dalam karya pelayanan itu sama dengan kita melakukannya untuk Tuhan. Pada saat pengadilan terakhir, Tuhan akan mengadili kita berdasarkan perbuatan-perbuatan belas kasih kepada sesama yang lapar, haus, tidak memiliki pakaian secukupnya, tidak memiliki tempat tinggal, mengunjungi orang sakit, orang di dalam penjara dan menguburkan orang mati. Dan ketika melakukan ini, Tuhan akan tetap menunjukkan jalan keselamatan bagi kita. Ketiga, mau menolong sesama. Kita butuh sikap empati kepada sesama yang sangat membutuhkan. Sikap empati nyata dalam kerelaan untuk menolong manusia untuk manusia.

Apakah anda seorang pelayan sejati? Ya kita semua harus sadar bahwa kita bisa hidup di dunia karena sebuah pelayanan. Tuhan Allah melayani setiap pribadi di dalam keluarga dan setiap anggota keluarga saling melayani satu sama lain. Sebagai contoh: Kalau kita memiliki sense of belonging maka layaklah kalau kita saling melayani. Kalau tidak ada sense of belonging maka kita tidak tertarik untuk memperhatikan kebutuhan sesama maka kita juga tidak mampu melayani. Sebab itu pelayanan kita hendaknya menjadi sebuah pelayanan penuh bukan pelayanan setengah hati. Mengapa orang masih kesulitan memberi diri bagi sesama dalam sebuah karya pelayanan?

Krisis besar dalam pelayanan kita adalah melayani demi popularitas. Ada orang yang melayani supaya bisa eksis di layar kaca. Ada orang yang melayani supaya dipuji orang. Ada yang melayani supaya mengambil keuntungan tertentu dari pelayanan ini padahal dalilnya adalah melayani tanpa pamrih. Masa prapaskah menjadi kesempatan untuk merefleksi dan membenahi diri supaya semakin melayani dengan baik dan berkualitas. Model pelayan sejati adalar Tuhan Yesus Kristus.

Selamat menyiapkan diri untuk memasuki tri hari suci. Biarkanlah dirimu dilayani oleh Tuhan supaya anda juga melayani-Nya lebih baik lagi dan sampai tuntas. 


PJ-SDB