Thursday, June 18, 2020

Homili 18 Juni 2020

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XI
Sir. 48:1-14
Mzm. 97:1-2,3-4,5-6,7
Mat. 6:7-15

Bapa sudah tahu semuanya!

Orang tua itu hebat dan memang sungguh hebat. Mereka tidak pernah kuliah jurusan parentologi di Perguruan Tinggi. Mereka hanya belajar dari pengalaman hidup, yang kadang masih kelihatan masih minim. Namun dari pengalaman yang minim itu mereka berusaha untuk menjadi super maksimal. Bagi mereka yang sudah menjadi orang tua pasti mengalaminya sendiri ketika mulai hidup bersama sebagai suami dan istri di dalam satu keluarga. Masing-masing pribadi belajar untuk beradaptasi satu sama lain bahkan ada yang beradaptasi sepanjang hidupnya. Ketika pasangan suami dan istri sudah memiliki anak pertama, mereka belajar merawat dan membesarkan mulai dari dalam kandungan hingga kelahiran dan pertumbuhan. Pelajaran yang diperoleh melalui pengalaman ini lalu menjadikan orang tua menjadi profesor atau ahli dalam mendidik anak. Mereka mengenal secara mendalam kehidupan anaknya. Itu sebabnya ketika anaknya memiliki masalah tertentu, dengan hanya mengobservasi anaknya yang menangis kalau masih bayi atau melihat sosok mata, kerutan dahi dan cara berjalannya saja orang tua sudah bisa mengetahui masalah yang sedang dihadapi anaknya. Itulah kehebatan orang tua. Mereka belajar dari pengalaman, belajar dari hidup yang nyata. Tuhan memang sungguh baik bisa memberi kepada kita orang tua-orang tua yang hebat.

Tuhan Bapa di surga mengetahui hidup kita. Dalam Kitab Mazmur kita membaca: “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” (Mzm 139:2). Tuhan menciptakan kita maka Dia mengetahui seluk beluk kehidupan kita. Ketika kita berdiri bahkan pikiran kita juga Dia mengetahuinya. Nabi Yeremia memiliki pengalaman peribadi ketika Tuhan berkata kepadanya: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim  ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yer 1:5). Maka ketika kita merenungkan  hidup kita di hadapan Tuhan, kita perlu sadar diri bahwa Dia sungguh menciptakan, mengenal dan menguduskan kita bagi diri-Nya. 

Nabi Elia dan nabi Elisa membuktikan itu dalam kesaksian hidup mereka ketika melakukan tugas kenabiannya. Tuhan sudah mengetahui hidup mereka maka Ia memanggil dan menjadikan mereka sebagai nabi-Nya. Selama sepuluh hari terakhir ini kita mendengar kisa-kisah hidup yang menarik dari nabi Elia dan Elisa dan ringkasannya kita temukan dalam Kitab Putra Sirakh. Kitab ini mencatat keunggulan-keunggulan Allah di dalam diri nabi Elia dan Elisa. 

Nabi Elia itu bagaikan api, sabdanya membakar laksana obor. Maka ia dipuji sepanjang masa: “Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa ia sama dengan dikau?” (Sir 48:4). Elia dalam nama Tuhan mengunci langit sehingga selama tiga tahun enam bulan tidak turun hujan. Akibatnya banyak orang lapar dan haus. Dengan bantuan Tuhan, ia dapat membangkitkan orang mati, mengurapi dan menurunkan para raja yang berkuasa. Nabi pun diurapi olehnya. Pada akhirnya dia diangkat ke surga dalam olak angin berapi dan kereta dengan kuda berapi. 

Bagaimana dengan Elisa? Tuhan juga mengetahui dirinya sehingga memilihnya sebagai nabi. Dia penuh dengan roh Elia. Elisa adalah seorang pemberani, tak pernah mundur ketika mengalami persoalan hidup. Para penguasa mana pun tak mampu menguasainya. Dikuburpun jenazahnya masih bernubuat. Sepanjang hidupnya ia membuat mujizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan (Sir 48:14). 

Tuhan Yesus melanjutkan penjelasan-Nya tentang Kotbah di bukit. Kali ini Yesus mengajarkan doa Bapa kami. Namun sebelumnya Ia mengingatkan para murid-Nya supaya jangan belaku seperti orang yang tidak nengenal Allah saat berdoa. Banyaknya kata-kata dan bertele-tele bukanlah jaminan bahwa itu doa yang baik di hadapan Tuhan. Alasan utama kita memiliki habitus baru dalam doa adalah ‘Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.’ (Mat 6:8). Kalau saja kita memiliki pemahaman bahwa Bapa mengetahui apa yang kita perlukan sebelum kita meminta kepada-Nya maka kita tidak akan berlaku seperti orang yang tidak mengenal-Nya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak kali kita justru memiliki habitus lama yakni berdoa seperti orang yang tidak mengenal Allah.

Doa Bapa kami merupakan doa yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan kepada kita. Doa ini juga merupakan ringkasan dari seluruh Injil. Doa ini diawali dengan menyapa Allah sebagai "Bapa". Selanjutnya kita menyampaikan tujuh permohonan. Ada tiga permohonan dimaksudkan bagi "kepentingan Allah" dan empat permohonan dimaksudkan bagi "keperluan manusia". Untuk kepentingan Allah, dimohonkan agar nama-Nya dikuduskan, kerajaanNya datang, dan kehendak-Nya terjadi (Mat 6: 9-10). Sedangkan untuk keperluan manusia, dimohonkan agar diberi makanan secukup-nya, diampuni kesalahannya, jangan masukan manusia ke dalam pencobaan dan dilepaskan dari yang jahat (Mat 6: 11-13). Ketujuh permohonan ini menandakan bahwa Allah mengetahui segala yang kita mohonkan kepada-Nya.

Habitus baru dalam doa memungkinkan kita untuk tetap bersatu dengan Tuhan. Bukan banyaknya kata-kata yang kita sampaikan tetapi hati dan pikiran kita benar-benar tertuju kepada Tuhan. Doa adalah kasih karena kita melebur di dalam kasih Allah sendiri. 

PJ-SDB

Wednesday, June 17, 2020

Food For Thought: Hidup yang tersembunyi...

Hidup yang tersembunyi

Saya pernah hadir dalam sebuah perayaan syukur. Semua orang memiliki kesan bahwa perayaan itu benar-benar sebuah perayaan syukur, mulai dari perayaan Ekaristi hingga acara santap bersama. Pembawa acara pada akhir katanya mengatakan bahwa perayaan tersebut benar-benar sebuah perayaan syukur sebab ada seorang sosok yang berada di belakang layar. Dia adalah ibu di dalam keluarga yang mengadakan syukuran ulang tahun suaminya yang ke-70. Semua mata tertuju pada sosok ibu yang sederhana ini dan selalu dipanggil oma. Ada tamu yang tidak sempat berpikir bahwa dialah yang memikirkan semua proses syukuran itu sebab penampilannya sederhana sekali, lagi pula usianya bukan lagi muda. Semangatnya memang luar biasa! Hidupnya benar-benar tersembunyi dalam usianya yang sudah senja.

Hidup yang tersembunyi selalu kita temukan di dalam hidup kita. Dari pengalaman saya: banyak orang selalu bermurah hati dan siap membantu karya-karya pelayanan kami di dalam komunitas. Setiap kali memberi mereka selalu berkata: “Romo, semua ini dari Tuhan bukan dari kami sekeluarga. Kami hanya menyalurkan titipan dari Tuhan untuk orang lain melalui karya dan pelayanan Romo.” Hidup mereka tersembunyi tetapi mengubah hidup orang lain supaya menjadi lebih baik. Hidup yang tersembunyi ada di dalam diri umat yang selalu memberi kolekte di Gereja. Berapa orang miskin yang dibantu, berapa anak-anak yang terbantu karena ‘ayo sekolah’ dan ‘ayo kuliah’ dapat menjadi manusia karena ada uluran tangan dari orang-orang yang hidupnya tersembunyi. Hidup yang tersembunyi ada di dalam keluarga. Orang tua selalu berada di belakang layer ketika keluarga itu baik adanya, anak-anak hidup penuh kesuksesan.

Pada hari ini saya merasa sangat diteguhkan oleh banyak orang yang hidupnya tersembunyi seperti Bapa di Surga yang berada di tempat yang tersembunyi. Saya bersyukur karena Tuhan mengingatkan saya dan saya yakin anda juga pada hari ini mengalami yang sama: "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Mat 6:1). Maka, layanilah bukan untuk dilihat orang tetapi supaya orang lain merasa dikasihi. Hidup yang tersembunyi itu sebuah transformasi.

Tuhan memberkatimu.

PJ-SDB

Homili 17 Juni 2020

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XI
2Raj. 2:1,6-14
Mzm. 31:20,21,24
Mat. 6:1-6,16-18

Anda Follower yang setia?

Para pengguna media sosial pasti mengingat dan mengetahui istilah follower dalam setiap akun media sosialnya. Para follower akan menunjukkan kualitas mereka sebagai follower yang aktif dan follower yang pasif. Para follower aktif akan setia melihat, menyukai (like), mengomentari dan membagikan (share) setiap postingan. Para follower pasif hanya akan mengintip bahkan tidak pernah mengomentari apapun setiap postingan pemilik akun media sosial. Maka para pengguna media sosial kadang-kadang memiliki kecenderungan untuk mencari sensasi dengan cara apa saja untuk mendapatkan follower sebanyak mungkin. Apabila para follower masih sedikit akan berdampak pada rendahnya kepercayaan diri sang pemilik akun media sosial sedangkan memiliki follower yang banyak akan menyebabkan kepercayaan dirinya tinggi. Pertanyaannya adalah apakah para follower itu setia sampai selamanya dalam dunia nyata atau hanya dunia maya saja. Para follower yang hebat akan terus menerus menunjukkan kesetiaan kepada sahabatnya dalam dunia maya dan dunia nyata.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan tentang nabi Elia dan Elisa. Perjumpaan mereka terjadi dikebun, saat Elisa sedang membajak. Perjumpaan ini memang dimotori oleh Tuhan sendiri yang sudah mengingatkan Elia bahwa Elisa adalah penggantinya di masa depan. Elisa sendiri menyadari bahwa jubah yang dilempar Elia itu merupakan sebuah anugerah untuk panggilannya menjadi nabi. Sebab itu ia rela melepaskan segalanya untuk mengikuti Elia. Sekali mengikuti Elia berarti selamanya bersama Elia. Elisa benar-benar seorang follower sejati. Pada suatu kesempatan Elia dan Elisa berjalan dari Gilgal menuju kota Yeriko. Ketika tiba di kota ini Elia berkata kepada Elisa: "Baiklah tinggal di sini, sebab Tuhan menyuruh aku ke sungai Yordan." Elisa adalah follower Elia yang aktif dan setia sehingga ia menjawab: "Demi Tuhan yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." (2Raj 2:6). Elia pun sepakat lalu berjalanlah ia bersama Elisa. Ada juga follower yang pasif dari nabi Elia sebanyak 50 orang, tetapi mereka hanya melihat dari jauh saat Elia dan Elisa sudah berada di sungai Yordan.

Bagaimana melewati sungai Yordan yang saat itu cukup dalam? Kali ini nabi Elia menunjukkan kuasa Tuhan. Ia menggunakan jubahnya, menggulung dan memukul air sehingga air sungai terbelah dua sehingga mereka melewati tanah yang kering. Selanjutnya Elia mengatakan kepada Elisa untuk meminta apa saja yang dia mau Elia lakukan baginya sebelum berpisah. Elisa meminta supaya Elia mewarisi dua bagian dari rohnya kepadanya. Reaksi Elia atas permintaan Elisa adalah: "Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi." (2Raj 2:10). Elia sangat hati-hati untuk memberi janji kepada Elisa. Namun kehendak Tuhan juga terjadi pada Elia. Sebab sambal bercakap-cakap datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya. Elia naik ke surga dalam badai. Elia benar-benar אליהו Eliyahu, yang berarti "Yahweh adalah Allah" sehingga ia diangkat ke surga.

Reaksi Elisa adalah merasa kehilangan sang bapak dan panutan. Ia berteriak memanggil nama Elia tetapi sudah menghilang ke surga. Sehingga ia merengut pakaiannya dan mengoyakannya menjadi dua. Ia juga memungut juba Elia yang telah terjatuh. Ia menggunakan jubah Elia untuk memukul air sungai Yordan dan seperti sebelumnya air sungai terbelah dua. Ia sempat berseru: “Di manakah Tuhan, Allah Elia?” Elisa menyeberang dan memulai tugas kenabiannya mengganti Elia.

Kisah Elia dan Elisa memang sangat inspiratif. Kesetiaan adalah segalanya bagi Elia dan Elisa. Elisa mengikuti dan melayani Elia sampai tuntas dan tidak setengah hati dalam melayani. Ini merupakan sebuah tantangan dalam hidup besama, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Apakah kita adalah follower yang aktif dan setia atau hanya follower yang pasif dan menjadi penonton saja? Apakah kita puas dengan sekedar mengikuti tanpa terlibat atau mengikuti dan terlibat dalam kehidupan. Elisa adalah inspirator kehidupan kita karena dia setia melayani Elia sampai tuntas.

Bagaimana kesetiaan kita sebagai follower Yesus Kristus? 

Pada hari ini, Tuhan Yesus menasihati kita untuk mewujudnyatakan kehidupan kristiani yang benar dalam kehidupan setiap hari. Ada tiga jalan yang perlu kita lakukan sebagaimana Yesus sendiri mengajar dan melakukannya: Pertama, Melakukan perbuatan amal kasih dengan memberi sedakah. Perbuatan amal kasih harus dilakukan dengan sukarela dan tulus hati. Perbuatan amal kasih bukanlah ajang unjuk kehebatan dalam memberi karena toh apa yang kita miliki adalah milik Tuhan. Kita hanya berbagi saja apa yang Tuhan berikan kepada kita sebagai anugerah. Kedua, berdoa. Kadang kita merasa puas dengan doa-doa kita dan berhenti. Doa itu penuh dengan ketekunan. Doa itu sebuah kebutuhan bukan kewajiban. Kita berdoa karena kita membutuhkan Tuhan sebab terlepas dari-Nya kita tidak mampu berbuat apa-apa. Ketiga, berpuasa. Kita berusaha untuk bermatiraga dalam diri kita, mengosongkan diri dan membiarkan Tuhan merajai hidup kita. Ketiga hal ini kita lakukan sebagai follower yang setia sebab ‘Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya’. Ini janji Tuhan dan pasti akan terjadi.

Apa yang harus kita hindari dalam hidup kita sebagai follower? 

Pertama, kita perlu behati-hati dalam melakukan kewajiban hidup beragama kita. Mudah sekali orang memamerkan diri sebagai pendoa karena merupakan bagian dari persekutuan ini dan itu tetapi kehidupan pribadinya jauh dari  label pendoa. Kalau pendoa itu dekat dengan Tuhan dan hidupnya tidak jauh dari Tuhan. Kedua, jangan mencari pujian. Hal terpenting adalah melayani tanpa hitung-hitungan. Itulah kekristenan kita serupa dengan Yesus sendiri. Ketiga, jangan menjadi orang munafik. Sangatlah mudah menjadi orang munafik. Inilah sebuah kecenderungan alamiah dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak mengajarkan kita untuk hidup seperti ini. Dia mengajar kita untuk rendah hati dan berbakti kepada Tuhan dan sesama.

Mari kita bermetanoia sebagai follower yang aktif dan setia. Tidaklah cukup kita like, love dan share saja tetapi sungguh memberi diri secara total dan mengasihi sampai tuntas. Semoga teladan nabi Elisa dan Tuhan Yesus sendiri menginspirasi kita untuk menjadi ‘the real follower’. Bersama Tuhan kita pasti mampu.

PJ-SDB

Tuesday, June 16, 2020

Homili 16 Juni 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XI
1Raj. 21:17-29
Mzm. 51:3-4,5-6a,11,16
Mat. 5:43-48

Kasih yang sempurna

Nabi Elia menjalani tugas kenabiannya di tengah krisis moral dan kepemimpinan raja Ahab. Sebagaimana kita ketahui bahwa raja Ahab merupakan raja kedelapan dari Kerajaan Israel yakni di Samaria. Beliau menggantikan ayahnya bernama Omri. Ia menikah dengan Izebel, puteri Etbaal, raja orang Sidon. Ini merupakan pertemuan dua kultur dan religi yang berbeda. Ahab diharapkan untuk menyembah Allah yang benar, sedangkan Izebel datang dengan Baal sembahannya. Ahab memang sangat dipengaruhi dan dikuasai oleh Izebel istrinya. Maka ciri khas Ahab adalah ia sangat patuh mendengarkan perkataan Nabi Elia untuk berbakti kepada Tuhan, tetapi ia sangat lemah dalam melawan Izebel. Kerajaan Israel di Samaria bahkan semakin jatuh di bawah pemerintahannya karena penyembahan berhala yang dilakukannya bersama dengan istrinya. Oleh karena kehancuran moral ini, Tuhan mengutus Elia untuk menantang Ahab. Salah satu contohnya adalah ketika ia melakukan kejahatan dengan merebut kebun anggur milik Nabot. Hanya karena nafsu sang raja untuk memiliki banyak harta maka orang kecil seperti Nabot menjadi korban. Ahab juga menjadi korban kelicikan Izebel.

Pada hari ini kita mendengar bagaimana Tuhan mengutus Elia untuk melakukan tugas kenabian yang membuahkan sebuah pertobatan yang radikal. Elia diminta oleh Tuhan supaya menemui raja Ahab yang barusan merebut kebun anggur Nabot dengan cara licik dan membunuh Nabot secara keji sang pemilik kebun anggur itu. Pesan Tuhan kepada Ahab melalui nabi Elia: “Engkau telah membunuh serta merampas juga! Maka di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu." (1Raj 21:19). Ahab melihat kehadiran nabi Elia sebagai ancaman, apalagi dia sadar bahwa Elia sudah mengetahui dosanya terhadap Nabot. Ia berkata kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" (1Raj 21:20). Ketika seorang yang hidup dalam kejahatan dan berhadapan dengan orang baik maka ia akan menganggap orang itu musuhnya. Hal ini akan berbeda kalau yang datang menemuinya adalah orang jahat. Ia akan menerimanya sebagai sahabat. Saya teringat pada filsuf Yunani kuno bernama Empedokles (495-435 SM) yang mengatakan bahwa 'yang sama mengenal yang sama.'

Nabi Elia yang menjalankan tugas kenabian dari Tuhan menjawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa.” (1Raj 21:20-22). Seorang nabi harus berprinsip yang jelas: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5:37). Perkataan yang diucapkan nabi Elia ini adalah perkataan Tuhan sendiri, laksana pedang bermata dua (Ibr 4:12).

Buah dari tugas kenabian Elia pada raja Ahab adalah sang raja yang jahat ini bertobat. Wujud pertobatannya adalah segera sesudah mendengar perkataan nabi Elia, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. (1Raj 21:27). Sejahat-jahatnya manusia, ketika Tuhan yang punya rencana untuk mengubahnya maka ia dapat berubah secara radikal. Pengalaman akan Allah itu ditandai dengan pertobatan yang radikal dalam hidup orang berdosa. Maka Tuhan pun menunjukkan kesabaran dan pengampunan berlimpah kepada raja Ahab. Ia berkata kepada Elia: "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya." (1Raj 21:29). Buah pertobatan adalah pengampunan berlimpah.

Apa yang terjadi dengan Izebel, istri raja Ahab? Dia datang dengan Baalnya dan sangat mempengaruhi Ahab untuk menyembah berhala. Salah satu kelicikan Izebel adalah membuat surat bermeterai atas nama raja Ahab dan rencana jahatnya untuk menghabisi Nabot sehingga kebun anggurnya dapat direbut bagi suaminya. Karena itu Tuhan berpesan melalui nabi Elia: “Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel. Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara." (1Raj 21:23-24). Orang jahat yang tidak menyesal dan bertobat maka akan mendapatkan hukuman setimpal. 

Kisah yang kita dengar ini sangat menarik perhatian kita. Banyak kali terjadi persekongkolan untuk melakukan tindakan kejahatan secara terang-terangan di dalam keluarga dan komunitas. Ketika mata orang ditutupi oleh nafsu untuk mendapatkan banyak harta maka orang itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Pengalaman seperti ini terjadi juga dalam diri kita yang menimbulkan permusuhan antar sesama manusia. Dalam situasi seperti ini kita ditantang untuk menunjukkan kualitas hidup sebagai pengikut Kristus. Apakah kita mampu mengampuni dan mengasihi musuh-musuh kita?

Tuhan Yesus dalam kotbah dibukit meminta kita untuk mewujudkan hukum kasih secara ekstrim di dalam hidup kita. Ia mengubah mindset kita untuk melakukan hukum kasih secara baru dan berkualitas. Misalnya kepada para musuh. Pada zaman dahulu musuh itu dibenci, sesama itu dikasihi. Tuhan Yesus mengubahnya dengan berkata: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5: 44). Ini memang sangat berat tetapi kekeristenan kita berkualitas seperti ini: musuh dikasihi dan para penganiaya didoakan. Apakah kita berani? Ya kita harus berani karena Tuhan Yesus juga melakukannya dalam hidup-Nya. Tuhan mengampuni orang berdosa dan tidak menghitung-hitung kesalahan orang. Kasih Tuhan sempurna dilimpahkan bagi orang baik dan jahat. Maka harapan Yesus bagi kita adalah: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48).

Pada hari ini kita semua dipanggil untuk mewujudkan sebuah kasih yang sempurna seperti kasih Tuhan sendiri. Kasih yang sempurna tidak akan bersekongkol untuk berbuat jahat dalam diri dan untuk orang lain. Kasih yang sempurna ditandai dengan pertobatan yang radikal. Kasih yang sempurna ditandai dengan semangat untuk mengampuni tanpa batas. Kasih yang sempurna dilakukan bagi musuh-musuh kita. Kasih yang sempurna menjadi nyata dalam doa bagi mereka yang menganiaya kita secara fisik dan dengan lidahnya yang tidak bertulang. Mari kita mewujudkan kasih yang sempurna di dalam hidup kita.

PJ-SDB

Monday, June 15, 2020

Homili 15 Juni 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XI
1Raj. 21:1-16
Mzm. 5:2-3,5-6,7
Mat. 5:38-42

Jangan melawan, tapi bertahanlah!

Kejahatan ada di mana-mana. Seorang pemimpin bisa saja menjadi jahat untuk memperkaya dirinya sendiri padahal ketika bersumpah ia sudah mengatakan ‘Demi Allah’. Dalam praktiknya Allah disingkirkan dan nafsu untuk memiliki harta dikedepankan. Dalam masa covid-19 ini, banyak rakyat merintih karena kekurangan ini dan itu. Pemerintah tergerak hati untuk menolong namun dana untuk orang miskin itu masih dikorupsi lagi. Setiap keluarga miskin mendapat bantuan langsung tunai sebesar Rp. 600.000 tetapi tiba di tangan rakyat miskin hanya Rp.500.000. Rp. 100.000 sudah dipotong kepala desa atau siapa saja yang berniat memakan nasi rakyat miskin ini dengan dalil uang transportasinya. Sebab itu dari dahulu hingga saat ini rakyat miskin selalu menjadi korban ketidakadilan sosial. 

Pada hari ini kita mendengar kisah yang menarik tentang keserakahan keluarga raja Ahab. Dikisahkan bahwa seorang Yizreel bernama Nabot memiliki kebun anggur di Yizreel, tepatnya di samping istana raja Ahab. Pada suatu saat raja Ahab memanggil Nabot untuk meminta kebun anggurnya supaya dipakai sebagai kebun sayur. Inilah perkataan raja Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang." (1Raj 21:2). Nabot keberatan sehingga menolak permintaan raja Ahab karena tanah itu adalah milik pusaka leluhurnya. Sikap Nabot ini mengecewakan raja Ahab sehingga hatinya kesal dan gusar.

Kekesalan raja Ahab berkepanjangan. Ia berlaku kekanak-kanakan sebab ia berbaring di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. Izebel istrinya bertanya dan Ahab menjelaskan rasa kesalnya tentang Abot. Izebel mengatakan kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu." (1Raj 21:7). Sejak saat itu Izebel mencari jalan untuk mendapatkan tanah miliki Nabot. Ia menyiapkan surat bermetrai atas nama raja Ahab, dan meminta saksi palsu untuk berdusta melawan Nabot bahwa ia mengutuk Allah dan raja. Hukumannya adalah dilempari batu sampai mati. Nabot rakyat kecil itu mati, tanahnya dirampas oleh sang raja melalui istrinya yang licik. Tanah menjadi milik raja Ahab. 

Kisah Nabot masih terjadi dalam msyarakat kita. Sebagaimana saya memberi contoh korupsi BLT untuk rakyat miskin selama covid-19 ini, banyak tanah rakyat dirampas oleh oknum tertentu dengan para preman sebagai andalannya. Penggusuran dilakukan demi kepentingan kalangan tertentu. Banyak Nabot yang masih ada bersama kita. Mungkin anda adalah Nabotnya saat ini. Tuhan tidak pernah tidur ketika hak-hakmu dirampas atau diinjak orang lain. Masih banyak keluarga yang berlaku seperti Ahab dan Izebel. Suami dan istri sama-sama menjadi orang jahat dan licik. Suami dan istri sama-sama gila harta sehingga menginjak, merampas dan memeras orang lain. Keluarga-keluarga ini masih ada di sekitar kita. Bisa saja anda adalah salah satunya yang berlaku tidak adil terhadap sesama. Mungkin prinsip Zakeus ini patut diikuti oleh pasutri yang sudah melakukan kejahatan untuk orang-orang kecil: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Luk 19:18). Ini benar-benar sebuah pertobatan yang benar.

Apa yang kita pelajari dari Nabot? Dia adalah orang kecil, tak berdaya dan tidak melawan. Dia tidak membalas dendam seperti hukum lama yang mengatakan ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’. Yang terjadi pada Nabot justru wujud nyata perkataan Yesus ini: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Mat 5:39). Sikap Nabot ini mirip dengan Yesus sendiri. Ia tidak melawan ketika mengalami Paskah-Nya. Hasil alkhrinya adalah keselamatan bagi semua orang. Sikap membalas dendam bukan menyelesaikan masalah tetapi menambah rentetan masalah sampai tujuh turunan.

Pada hari ini Tuhan meminta kita supaya jangan melawan tetapi bertahan dalam kasih dan kebaikan. Ia berkata: “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Mat 5:40-42). Kasih dan kebaikan dapat mengalahkan kejahatan dalam diri orang lain. Bertahan dalam kasih dan kebaikan itu akan mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Ini bukan sebuah kekalahan tetapi kemenangan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berharga di mata Tuhan. 

PJ-SDB

Sunday, June 14, 2020

Homili Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus - 2020

HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Ul. 8:2-3,14b-16a
Mzm. 147:12-13,14-15,19-20
1Kor. 10:16-17
Yoh. 6:51-58

Adoro te devote, latens Deitas

Adalah Santu Thomas Aquinas. Beliaulah yang menulis lirik lagu ‘Adoro te devote’ ini untuk menghormati Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Lirik lagu ini berdasar pada permintaan Paus Urbanus IV, menjelang perayaan hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 1264. Saya hanya mengutip bait pertama dari lagu ini: “Adoro te devote, latens Deitas, Quæ sub his figuris vere latitas; Tibi se cor meum totum subjicit, Quia te contemplans totum deficit.” (Allah yang tersamar, Dikau kusembah, sungguh tersembunyi, roti wujudnya. S’luruh hati hamba tunduk berserah. ‘Ku memandang Dikau, hampa lainnya). Perhatikan lirik lagu ini, kelihatan sederhana namun sangat mendalam. Hanya orang yang beriman kepada Kristus dan mencintai Yesus dalam Sakramen Mahakudus dapat menghidupinya secara nyata.

Saya sebagai seorang imam, sebelumnya juga tidak mengerti tentang rahasia besar Ekaristi ini. Tetapi ketika sudah menjadi imam dan merayakannya setiap hari maka saya percaya bahwa Tuhan membuka pikiran saya untuk memahami dan mencintai Ekaristi yang saya rayakan di dalam Gereja Katolik. Pada saat membaca, merenungkan dan membagikan Sabda kepada umat, saya mengerti bahwa setiap perkataan Tuhan ini memberi hidup kepada saya secara pribadi dan siapa saja yang mendengarkannya. Sabda adalah perkataan yang berisi kasih Allah yang tiada bandingnya bagi manusia. Tetapi bagian kedua yang juga sangat luhur adalah Ekaristi. Setiap kali mengulurkan tangan untuk memberkati, mengucap syukur, mengangkatnya tinggi-tinggi, memecah-mecahkan dan membagi-bagikan saya menjadi sadar bahwa saya berada di hadirat Yesus. Saya yang tidak sempurna ini ikut memandang Allah yang tersamar, Dialah satu-satunya yang kusembah, berserah kepada-Nya. Ekaristi merupakan kesempatan di mana saya merayakan Tubuh dan Darah Kristus sambil memandang Allah yang tersamar dalam roti wujudnya. Saya selalu bersyukur atau berekaristi sebab Tuhan menghendaki saya untuk merayakannya. 

Saya teringat pada St. Yohanes Paulus II. Orang kudus modern ini pernah berkata: “Ekaristi adalah rahasia hariku. Ia memberikan kekuatan dan makna bagi semua aktivitas pelayananku demi Gereja dan seluruh dunia….Biarkan Yesus dalam Sakramen Mahakudus berbicara ke dalam hatimu. Ialah yang merupakan jawaban kehidupan yang sebenarnya, yang sedang kamu cari. Ia tinggal disini bersama kita: Ia adalah Allah beserta kita. Carilah Ia tanpa lelah, sambutlah Ia tanpa keraguan, cintailah Ia tanpa henti: sekarang, besok, dan selamanya. ” Perkataan yang sangat inspiratif. Benar sekali, Ekaristi adalah rahasia hariku karena memberi kekuatan kepadaku yang lemah untuk melayani Gereja dan seluruh dunia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini sangat menguatkan kita semua. Kita merayakan Ekaristi sebagai tanda syukur kepada Tuhan. Ini adalah perayaan Tubuh dan Darah Kristus harian kita. Ekaristi adalah perayaan yang membantu kita untuk merasakan kerahiman Allah melalui Sabda dan Komuni kudus. Bacaan pertama, kita mendengar pengalaman kerahiman Allah bagi umat Israel di padang gurun. Musa mengingatkan bangsa Israel untuk mengingat belas kasih dan kerahiman Tuhan selama perjalanan mereka di padang gurun selama empat puluh tahun. Tuhan yang menghendaki semua ini dengan maksud supaya bangsa Israel benar-benar merendahkan hati mereka di hadirat Tuhan. Tuhan juga mencobai mereka apakah mereka tetap setia kepada-Nya atau tidak, terutama dalam mematuhi perintah-perintah-Nya. Dengan cara ini Tuhan mau mengatakan kepada bangsa Israel bahwa manusia itu hidup bukan dari roti saja tetapi dari segala yang diucapkan oleh Tuhan. 

Pengalaman bangsa Israel adalah pengalaman kita sendiri. Banyak kali kita hanya berhenti pada soal jasmani semata: apa yang dapat kita makan, minum dan pakai untuk memuaskan kebutuhan jasmani kita. Kita juga selalu lupa bahwa sebenarnya kita bukan hidup dari makanan saja, tetapi lebih dari itu kita hidup dari setiap perkataan Tuhan. Ini adalah nilai rohani yang sangat luhur yang hanya diterima oleh orang beriman. Setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah adalah menghadirkan wajah Allah yang tersamar yang kita sembah dan muliakan dalam hidup. Sebab itu kita harus mengetahui segala perbuatan ajaib yang sudah Tuhan lakukan bagi kita semua. 

Bukti nyata manusia hidup dari setiap perkataan Yesus adalah diri Yesus sendiri yang menjadi santapan rohani kita dalam Ekaristi. Yesus adalah Sabda yang hidup. Dialah Sabda atau Logos yang menjadi daging dan tinggal bersama kita. Dialah Imanuel atau Allah beserta kita. Sebab itu Yesus menunjukkan diri sebagai Sabda hidup dan Santapan keselamatan kita. Dalam Injil Yohanes kita mendengar Yesus berkata: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh 6:51). Yesus adalah sabda hidup dan kita hidup dari-Nya. Kita hidup dari Yesus karena Dia juga menjadi Roti hidup. Orang menyantap roti hidup akan memiliki hidup abadi. Yesus berkata: “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:55-56). Yesus tidak hanya bersabda tetapi memberi tubuh-Nya sendiri sebagai santapan dan darah-Nya sendiri sebagai minuman.

Apa yang harus kita lakukan?

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita untuk menjadikan Ekaristis sebagai tanda persekutuan kita dengan Tuhan sendiri.  Kita tidak memandang hosti sebagai hosti saja, anggur sebagai anggur saja. Kita percaya akan transubstansi di mana hosti menjadi tubuh Kristus dan anggur menjadi darah Kristus. Maka Paulus menegaskan: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1Kor 10:16-17). Kita harus berbangga karena ternyata kita adalah bagian dari Tubuh Kristus. Kita sungguh mendapat bagian dalam roti yang satu. Kesadaran seperti ini hendaknya membangkitkan semangat kita untuk bertobat dan membaharui diri kita. Pada roti yang satu dan sama kita memandang dan menyembah Allah yang tersamar. Adoro te devote, latens deitas!

PJ-SDB

Saturday, June 13, 2020

Food For Thought: Dari Elisa Saya Belajar


Dari Elisa saya belajar

Pada hari ini saya tertarik untuk merenung sejenak tentang kehidupan nabi Elisa yang dipilih Tuhan untuk mengganti Nabi Elia. Nama Elisa (bahasa Ibrani: אֱלִישַׁע, Elišaʿ) berarti "Allah (Elohim)-ku adalah keselamatan". Allahku adalah keselamatan. Nama ini menunjukkan jati dirinya sebagai nabi yang nantinya mewartakan Allah sebagai keselamatan.

Menarik untuk merenung tentang panggilannya sebagai nabi untuk mengganti Elia. Pada saat itu dia sedang bekerja sebagai petani di ladang bersama ternak-ternaknya yang membantunya untuk membajak lahan yang akan ditanaminya. Elia lewat dan tanpa basa-basi melemparkan jubahnya kea rah Elisa. Elisa mengerti maksud Elia bahwa jubah yang dilempar ke arahnya menunjukkan sebuah ajakan, panggilan untuk menjadi serupa dengannya, tentu saja sebagai nabi. Elisa sadar diri bahwa dia berasal dari sebuah keluarga maka dia mau berpamintan dengan keluarganya, khususnya sang ayah sebagai kepala keluarga. Elisa tetap mengingat apa yang dilakukan oleh Elia. Elisa siap untuk menjalan petualangan baru. Untuk itu dia harus berani melepaskan diri dari semua yang dia miliki. Dia mengambil pasangan lembu dan menyembelihnya. Kayu bajaknya saja dia pakai untuk memasak. Dagingnya ia tidak makan sendiri tetapi membaginya kepada para pekerja dan mereka makan bersama. Setelah tidak memiliki apa-apa baru dia mengikuti Elia sebagai pelayan.

Kisah Elisa membuat kita mengenang seorang pemuda yang datang dan bertanya kepada Yesus, syarat untuk masuk surga. Tuhan Yesus berkata: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mat 19:21). Kalau mau ikut Tuhan maka harus berani melepaskan segalanya supaya bisa menyerahkan diri hanya bagi Tuhan. Ini yang sedang dialami oleh orang-orang yang mengikuti Yesus dari dekat dalam hidup bakti.

Pada hari ini saya melihat kembali perjalanan panggilan saya sebagai seorang Salesian dari 24 Juni 1989-13 Juni 2020 ini. Saya masuk dalam komunitas Salesian saat berusia 19 tahun. Usia ini masih tergolong muda saat itu. Saya merasa bahwa Tuhan memanggil saya untuk ikut melayaninya. Tentu saja panggilan ini bertumbuh di dalam rumah sendiri. Orang tua saya bukan orang yang rajin ke Gereja, mereka hanya orang katolik biasa-biasa saja. Tetapi dari situ saya belajar bagaimana menjadi orang katolik yang biasa-biasa menjadi luar biasa. Saya percaya diri bahwa Tuhan pasti memanggil saya untuk mengikuti jalan-Nya. Dan semuanya berjalan sampai hari ini.

Elisa mengajar saya beberapa hal: Pertama, Tuhan memanggil saya pada situasi saya yang nyata. Saya bukan sedang berdoa atau berdevosi. Saya sebagai seorang pemuda yang biasa-biasa saja seperti Elisa. Kedua, Elisa berani dan percaya akan rencana Tuhan. Mantel Elia menandakan kuasa Tuhan yang harus diikuti Elisa. Maka ketaatan hidup itu penting dan harus. Ketiga, Elisa berani meninggalkan segalanya dan dia tidak menyesal. Pikirkan, bahkan kayu yang dipakai sebagai alat bantu untuk membajak saja dia potong untuk menjadi kayu bakar, memasak dan membagi makanan kepada orang lain. Keempat, Elisa tidak menyesal menjadi miskin. Dia malah bahagia untuk melayani Tuhan sebagai nabi. Elisa benar-benar menunjukkan semangat untuk menyelamatkan sesama manusia.

Tuhan memberkati kita semua

P. John Laba, SDB