Saturday, August 22, 2020

Homili 22 Agustus 2020

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XX
PW. Santa Perawan Maria Ratu
Yeh. 43:1-7a
Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14
Mat. 23:1-12

Belajar terus untuk menjadi panutan

Hari ini kita mengenang sebuah peristiwa penting dalam kehidupan Bunda Maria yakni ia sudah diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya karena jasa Yesus Kristus Puteranya. Tradisi Suci Gereja Katolik mengatakan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa sehingga Ia dipilih Tuhan Allah menjadi ibu Yesus, Putera Allah. Maria adalah satu-satunya manusia yang paling akrab dan paling menyatu dengan Yesus karena posisinya sebagai ibu. Yesus berada di dalam rahimnya maka ia begitu dekat dengan Yesus. Karena Maria dikandung tanpa noda dosa maka tentu tubuhnya tidak menjadi debu melainkan diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Kita tahu bahwa akibat dosa adalah kematian, dan ketika mati, manusia itu berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Nah, karena Maria dikandung tanpa noda dosa maka Gereja percaya bahwa Tuhan Yesus ‘memindahkan’ ibu-Nya ke tempat di mana Ia sebagai Anak berada. Sebab itu Gereja Katolik memberi gelar kepada Maria setelah diangkat ke surga menjadi Ratu Surga bersama Puteranya Yesus Kristus sebagai Raja dari segala Raja. Kita selalu mengenang Bunda Maria dalam peristiwa Rosario Suci bahwa Bunda Maria ditahktakan di Surga, dan tentu menjadi Ratu Surga, Ratu para Malaikat dan semua orang kudus.

Paus Pius ke-XII dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, menulis: “…. dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (MD 44). Di sini sangatlah jelas Magisterium dari Bapa Suci bawah Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa. Perawan yang tetap perawan. Ini merupakan kekudusan hidup Bunda Maria yang menjadi inspirasi dan panutan bagi kita semua untuk mengikuti dan meniru kekudusannya. Pada Maria kita belajar iman, kepatuhan, kekudusan, kesetiaan dan kebajikan lain yang dia miliki sebagai anugerah dari Tuhan. Dari hidupnya ini kita belajar menyerupai dia supaya bertumbuh menjadi kudus.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini juga sangat menginspirasi kita semua untuk belajar menjadi panutan bagi sesama yang lain. Dalam bacaan pertama kita melihat sosok Yehezkiel yang menjadi panutan bagi kita sebagai seorang nabi. Tuhan menyapanya sebagai Anak manusia yang mendapat perutusan tertentu untuk mengubah hidup kaum pemberontak yakni Bani Israel. Kali ini Yehezkiel mengungkapkan sebuah pengalaman dari penglihatannya bahwa ia dapat menyaksikan kemuliaan Tuhan yang masuk kembali ke dalam Bait Allah. Bagi orang Israel, Bait Allah adalah shekina atau tempat Tuhan bersemayam. Bait Allah menjadi pemersatu semua orang. Mereka berbeda tetapi Tuhan menyatukan menereka supaya mengenal-Nya sebagai Yahwe, mereka mendengar Sabda Tuhan yang satu dan sama.

Yehezkiel bersaksi bahwa kemuliaan Tuhan Allah Israel berasal dari Timur dalam fenomena alam yang dahsyat. Ada suara menyerupai air terjun yang menderu, bumi juga bersinar menampakkan kemuliaan Tuhan. Pengalaman Yehezkiel sangatlah mirip dengan pengalaman lainnya ketika ia menyaksikan Tuhan datang untuk menghancurkan Yerusalem dan yang dilihatnya di tepi sungai Kebar. Pengalaman ini menuat nabi Yehezkiel sadar diri untuk bersujud dan menyembah Tuhan. Pengalaman baru di dalam Bait Allah kali ini juga penuh dengan kemuliaan Tuhan. Yehezkiel mendengar sendiri perkataan Tuhan ini: "Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus, baik mereka maupun raja-raja mereka, dengan persundalan mereka atau dengan mayat raja-raja mereka yang sudah mati.” (Yeh 43:7). 

Yehezkiel adalah sosok panutan yang tepat untuk mengubah Israel yang dilabel ‘kaum pemberontak’. Ia mewartakan kerahiman Allah bagi kaum pemberontak. Allah yang mereka Imani itu panjang sabar dan berlimpah kasih karunia. Dia menjelaskan kepada Bani Israel, pengalaman rohani dan penglihatannya bahwa Bait Allah adalah tempat bersemayam atau shekina Tuhan. Di tempat inilah kekudusn Tuhan terpancar ke mana-mana sebab Bait Allah adalah ‘tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya.’ (Yeh 43:7). Semangat kepemimpinan nabi Yehezkiel juga menjadi panutan bagi kita. 

Dalam bacaan Injil Tuhan Yesus menasihati kita supaya tidak mudah tergoda pada sosok-sosok manusia yang hanya dilihat dari luarnya saja. Kita harus mengenalnya sebagai pribadi yang utuh. Dia memberi contoh para Ahli Taurat dan kaum Farisi itu berambisi untuk menjadi serupa dengan Musa. Yesus mengatakan mereka mau menduduki kursi Musa sebab itu mereka mengajarkan hukum-hukum (613 hukum). Sayang sekali karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukan di dalam hidup pribadinya. Mereka menampakan tampilan agamis, religious tetapi hanya sebuah kemunafikan semata supaya bisa dijempol oleh semua orang. Yesus mengatakan bahwa semua ajaran mereka itu boleh dituruti tetapi perbuatan mereka yang penuh kemunafikan itu tidak perlu diikuti. Perbuatan mereka menunjukkan sinyal kemunafikan. 

Apa yang harus kita lakukan? 

Kita menemukan sosok panutan yang sempurna di samping Bunda Maria dan nabi Yehezkiel yakni Tuhan Yesus Kristus. Ia menunjukkan diri-Nya sebagai Rabi yang benar dan kitalah saudara. Dialah yang memperkenalkan Bapa yang satu dan sama yaitu Allah yang bersemayam di surga. Dialah Kristus, sang pemimpin sejati dan panutan kita. Sebab itu kita memandang sosok Yesus Kristus yang diperkenalkan penginjil Matius sebagai pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Perkataan Yesus ini menggambarkan diri-Nya juga Maria Ibu-Nya: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:11-12). Bunda Maria  Ratu Surga, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB  

Friday, August 21, 2020

Food For Thought: Belajar pada Pada St. Pius ke-X

Belajar Pada St. Pius ke-X

Saya mengingat William Shakespeare yang pernah berkata begini: "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet." (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Jadi apalah arti sebuah nama? 

Pada hari ini kita mengenangkan kembali Paus Pius ke-X. Beliau terlahir dengan nama lengkap Giuseppe Melchior Sarto. Mata saya tertuju pada nama keluarganya (cognome) yakni Sarto. Tentu ini bukan nama orang Jawa tetapi nama orang Italia. Sarto itu berarti ‘penjahit’. Dari namanya ini benar-benar menunjukkan sosok beliau sebagai gembala yang bukan hanya merajut tetapi menjahit gereja menjadi sebuah gaun yang indah bagi Tuhan. Ada beberapa hal yang selalu dikenang dari sosok kekudusan beliau:

Pertama, Paus Pius ke-X merupakan sosok yang sederhana. Dia mengaku berasal dari keluarga sederhana maka semangat ini menghiasi dan mengubah seluruh hidupnya. Hingga saat-saat terakhir sebelum menghembuskan namanya, ia tetap berprinsip: “Aku lahir miskin; aku pun hidup miskin; dan aku ingin mati sebagai orang miskin.” Prinsip ini membuka jalan baginya untuk berpasrah kepada Tuhan dan mengharapkan penyelenggaraan ilahi. 

Kedua, Paus Pius ke-X adalah sosok pembaru gereja. Untuk membarui gereja, dia membarui dirinya lebih dahulu. Sejak menjadi Imam dan Uskup hingga sebagai Kardinal, Sarto sudah menunjukkan prioritas pengembalaannya yang tepat sasaran, dalam hal ini ia secara khusus memperhatikan bidang pendidikan, karya amal Gereja dan liturgi. Ketika menjadi penerus Takhta Petrus, beliau sebagai sosok Paus pembaru dalam bidang liturgi, memberi contoh homili secara ringkas, jelas dan sederhana, menggalakkan lagu Gregorian, serta mendirikan Institut Kepausan untuk Musik Liturgi dan Kitab Suci. Ia juga merevisi Brevir (Ibadat Harian) dan Katekismus. Selain itu beliau dikenal sebagai Paus Ekaristis.

Ketiga, Paus Pius ke-X melawan modernism terutama memisahkan kekuasaan sipil dan gereja. Di Prancis benar-benar terasa ketika banyak harta gereja diambil oleh negara. Tentu saja ia melawan arus, tetapi Gereja berdiri sendiri untuk menata pertumbuhan iman umat tanpa intervensi sipil. Di dalam Gereja Katolik sendiri, beliau mereformasi Kuria Romana. Maka perubahan itu bukan berasal dari luar. Perubahan berasal dari dalam diri baru ke luar. St. Pius ke-X melakukannya dengan tepat.

Bagi saya ini tiga hal yang inspiratif bagi Gereja Katolik dan masih sangat aktual. Gereja benar-benar membutuhkan sosok orang suci yang transformatif dan kreatif. Luar biasa dan terima kasih St. Pius ke-X. Dia telah menjadi Sarto atau penjahit gereja yang benar sehingga menghasulkan gereja sebagai gaun yang indah bagi Tuhan. Jadilah perantara doa kami kepada Tuhan Yesus, Anak Allah. Amen.

Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

Homili 21 Agustus 2020


Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XX
Peringatan Wajib St. Pius X
Yeh. 37:1-14
Mzm. 107:2-3,4-5,6-7,8-9
Mat. 22:34-40

Kasih hingga keabadian

Pada hari ini kita mengenang kembali St. Pius ke-X. Beliau terlahir dengan nama Giuseppe Melchiorre Sarto, kelahiran Riese, Italia tanggal 2 Juni 1835. Ia berasal dari keluarga yang sederhana namun orang tuanya menghendaki agar mereka memperoleh pendidikan yang baik. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi imam maka ia mulai belajar Filsafat dan Teologi di Seminari Padua dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 18 September 1858. Tahun 1884 diangkat menjadi uskup Mantua oleh Paus Leo-XIII. Pada tanggal 12 Juni 1893 diangkat menjadi Kardinal, sekaligus menjadi Patriark di Venezia, Italia. Pada tahun 1903 diangkat menjadi Paus ke-257, menggantikan Paus Leo-XIII dengan nama kepausannya Paus Pius ke-X.

Hidup orang kudus dengan nama sapaan Sarto ini penuh keunikan. Keluarganya sederhana, tetapi sejak kecil kesepuluh bersaudara itu dibentuk dalam suasana keagamaan yang baik. Sebab itu ia memiliki habitus berdoa di depan patung Bunda Maria “Madonna delle Cendrole” di gereja parokinya. Ia mengaku, kenangan terindah masa kecilnya ialah kebersamaan dengan Bunda Maria dalam doa selama berjam-jam. Baginya, Bunda Maria ialah figur teladan penyerahan diri total pada kehendak Allah. Maka ia pun bertekad menyerahkan hidupnya demi kemuliaan Tuhan seperti Bunda Maria. Ia pernah berkata: “Sungguh kita sedang melalui masa-masa yang rawan bencana, ketika kita menjadikan ratapan para nabi milik kita: “Tidak ada kebenaran, dan tidak ada kerahiman, dan tidak ada pengetahuan akan Allah di tanah ini”(Hosea 4:1). Namun di tengah-tengah arus kejahatan ini, Sang Perawan yang Maha Rahim muncul dihadapan kita seperti pelangi, sebagai penengah antara Allah dan manusia.”

Di dalam Gereja Katolik, Paus Pius ke-X dikenal sebagai Paus pembaru bidang liturgi, memberi contoh homili yang ringkas, jelas dan sederhana, menggalakkan lagu Gregorian, serta mendirikan Institut Kepausan untuk Musik Liturgi dan Kitab Suci. Ia juga merevisi Brevir (Ibadat Harian) dan Katekismus Gereja Katolik. Umat dianjurkan untuk bisa menerima komuni dan membaca Kitab Suci setiap hari. Ia merupakan Paus Ekaristi sebab mempromulgasikan Dekrit tentang Penerimaan Komuni Pertama sejak usia 7 tahun yang sebelumnya pada usia 12 tahun. Beliau juga merupakan Paus yang melawan arus modernisme, terutama yang ingin mempertentangkan negara dan Gereja. Ia mereformasi Kuria Roma dan mendorong karya misi yang dilakukan oleh berbagai tarekat. Ia juga mengkodifikasi Hukum Gereja yang sudah ada secara sistematis. Sebuah perkataannya yang selalu dikenang adalah: “Aku lahir miskin; aku pun hidup miskin; dan aku ingin mati sebagai orang miskin.” Ia meninggal dunia pada tanggal 20 Agustus 1914 dan dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII (1939-1958) pada tanggal 29 Mei 1954.

Sosok Paus Pius ke-X sangat menginspirasi kita untuk memahami bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini. Dalam bacaan pertama kita semua dikuatkan oleh Tuhan melalui nabi Yehezkiel akan iman dan kepercayaan kita kepada kebangkitan badan dan kehidupan kekal sebagai wujud nyata kasih Allah bagi kita sebagai manusia lemah. Dikisahkan bahwa nabi Yehezkiel dibimbing Tuhan untuk melihat kenyataan di sebuah lembah di mana terdapat banyak tulang belulang yang sudah kering. Tulang belulang yang sudah kering ini dapat dihidupkan kembali oleh Tuhan. Tuhan memberikan nafas-Nya kepada tulang-tulang itu, urat-urat untuk meliliti tulang dan bertumbuh menjadi daging. Daging akan ditutupi oleh kulit dan nafas hidup sehingga tulang-tulang itu benar-benar menjadi makhluk hidup. Ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan sendiri. Siapakah tulang-tulang kering yang kini menjadi makhluk hidup? Tulang-tulang itu adalah seluruh kaum Israel.

Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada mereka melalui nabi Yehezkiel ketika berkata: “Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman Tuhan.” (Yeh 37:12-14). Tuhan benar-benar menunjukkan kasih setia-Nya yang abadi kepada manusia sehingga memberikan anugerah hidup baru. Hidup lama sudah menjadi serupa dengan tulang-tulang yang sudah kering di lembah maut, tetapi kuasa Tuhan mengubah segala sesuatu. Kasih-Nya memberi hidup abadi. Kasih setia-Nya hingga keabadian.

Apa yang harus kita lakukan?

Kasih itu bukanlah sebuah perkataan tetapi sebuah pengalaman yang nyata. St. Yohanes dalam suratnya mengatakan: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1Yoh 3:18). Tuhan mengasihi manusia dalam perbuatan dan kebenaran sebagaimana dinubuatkan Yehezkiel dalam bacaan pertama ini. Sebagai jawaban kepada kasih Tuhan maka kita juga membalasnya dengan kasih. Dia lebih dahulu mengasihi kita maka kitapun diharapkan untuk mengasihi-Nya sampai tuntas.

Bacaan Injil hari ini menginspirasi kita memahami perintah utama dari Tuhan. Tuhan Yesus ditanya tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat. Yesus menjawabnya dengan tepat: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-39). Kasih sejati dari pihak manusia kepada Tuhan dengan total. Kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. Hal yang sama juga kita lakukan bagi saudara-saudari kita, mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tuhan Yesus mengakhirinya dengan mengatakan: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:40).

Kasih hingga keabadian adalah kasih yang total dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kepada Tuhan. Dia mengasihi kita lebih dahulu. Dia mengasihi kita dengan setia. Kasih semacam ini kita alami secara pribadi hari demi hari. Maka kita juga perlu melakukan kasih yang sama kepada Tuhan sumber kasih. Tuhan menghendaki agar kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita. Kualitas kasih kepada diri kita haruslah sama dengan kasih kepada sesama. Benarlah perkataan Yohanes ini: “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20). St. Pius ke-X, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB

Thursday, August 20, 2020

Homili 20 Agustus 2020

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XX
Peringatan Wajib St. Bernardus
Yeh. 36:23-28Mzm. 51:12-13,14-15,18-19
Mat. 22:1-14

Inilah wajah Kerajaan Allah

Pada hari ini bersama seluruh Gereja Katolik, kita mengenang St. Bernardus dari Clairvaux (=lembah Hening). Bernardus adalah putera dari Tescelin Sorrel dan Aleth Montbard, dilahirkan pada tahun 1090, di dekat kota Dijon, Perancis. Beliau dikenal luas sebagai seorang pewarta, pembawa damai dan penegak kebenaran. Ia dengan gigih membela hak Paus Innosensius II (1130-1143) melawan rongrongan Paus tandingan Anakletus pada 1130, dan berani menentang pandangan-pandangan salah dari Petrus Abelard III (1145-1153), seorang mantan asuhannya di pertapaan Clairvaux. Beliau diutus ke Jerman dan Prancis untuk berkhotbah menentang ajaran sesat Albigensia. Khotbah-khotbahnya sangat berpengaruh dan tulisan-tulisannya mengilhami mistisisme Abad Pertengahan. Beliau meninggal dunia pada tahun 1153 dan dinyatakan ‘kudus’ pada tahun 1174 dan diakui sebagai Pujangga Gereja, bahkan Bapa Gereja terakhir pada tahun 1830. Saya mengingat sebuah pandangan yang menunjukkan kedekatannya dengan Bunda Maria berikut ini: “Bunda Maria membuka jurang belas kasihan Tuhan untuk siapa saja yang dia inginkan, kapan pun yang dia inginkan, dan sebagaimana yang dia inginkan, sehingga tidak ada pendosa betapa pun bejatnya yang binasa jika Maria melindunginya … Semua orang: masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, patut memandang Maria sebagai sarana dan negosiator keselamatan dari segala masa.”

Sambil mengenang Bapak Gereja yang terakhir ini, Tuhan Yesus menyapa kita dan mengingatkan kita dalam bacaan Injil tentang sisi dan wajah indah Kerajaan Allah. Keindahan Kerajaan Allah itu disimbolkan dengan sebuah pesta pernikahan di mana dalam pesta pernikahan itu ada sisi kegembiraan, kebersamaan, keakraban, dan damai sejahtera. Tentu saja harapannya adalah kita melakukan dan mengalamainya di dunia saat ini hingga kelak di tempat di mana kita berada bersama dengan-Nya. Penginjil Matius dalam perikop Injil hari ini melaporkan bahwa ketika itu, Tuhan Yesus berbicara dengan para imam kepala dan orang-orang Farisi bahwa hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang Raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Bisa dibayangkan bahwa ini adalah sebuah perkawinan yang meriah. Maka apa yang dilakukan untuk memeriahkan perayaan perkawinan ini? Pesta besar seperti pernikahan seorang putera raja ini harus menyediakan banyak makanan dan minuman, dan jumlah tamu undangan juga harus signifikan. Pokoknya harga diri tetaplah menjadi sebuah ukuran sejalan dengan status sosial dalam masyarakat. Keadaan dahulu kiranya tidak jauh berbeda dengan saat ini.

Untuk itulah sang Raja tanpa nama ini menyuruh para hamba untuk memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang yang telah diundang ini tidak mau datang. Tentu saja undangan inti ini mengecewakan sang raja. Ia merasa tidak dihormati baik sebagai raja maupun sebagai manusia. Untuk kedua kalinya sang Raja menyuruh para hamba lain untuk memanggil orang-orang yang sudah diundang dengan pesan ini: “Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” (Mat 22:4). Sayang sekali karena orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya. Mereka memiliki banyak alasan pribadi sehingga tidak menerima undangan sang Raja. Lebih tragis lagi para hamba yang lain ini ditangkap, dianiaya dan dibunuh. Sang Raja murka dan membasmi orang-orang jahat serta membakar kota mereka. Maka Raja tidak kehilangan akal. Ia menyuru para hambanya dengan berkata: “Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” (Mat 22:8-9). Para hamba pun melakukan perintah sang Raja dengan mengundang semua orang yang dijumpai di setiap pelosok jalan, dalam hal ini orang baik dan orang jahat. Ruangan perjamuan yang sudah siap itu penuh karena diisi oleh para tamu yang datang kemudian. Raja pun masuk terakhir ke dalam ruangan untuk menemui para undangan tetapi ia menemukan seorang undangan yang tidak mengenakan pakaian pesta. Akhir hidup orang ini menyedihkan, namun semua ini sudah direncanakan sang Raja sehingga semuanya terlaksana sebagaimana adanya.

Kisah Injil ini memang menarik perhatian kita karena berbicara tentang hidup kita yang nyata di hadirat Tuhan. Tujuan hidup kita sebagai manusia adalah supaya mencapai kebahagiaan sejati dan mengalami kehidupan kekal di masa depan yakni di dalam Kerajaan Allah. Sebab itu kita harus berusaha supaya mengalami suasana hidup yang penuh kegembiraan, kebersamaan, keakraban dan damai sejahtera mulai saat ini. Semua pengalaman ini turut menunjukkan wajah Kerajaan Allah dalam dunia dan hidup kita yang nyata. Hal lain yang penting di sini kita semua diundang karena kita tamu yang istimewa. Ada yang diundang lebih dahulu tetapi menolak undangan dengan berbagai alasan termasuk membuat kejahatan tertentu. Para undangan terakhir adalah orang-orang jalanan, ada yang baik dan jahat. Meskipun demikian para tamu tetaplah diperlakukan sebagai tamu dan undangan yang penting. Namun sayang sekali karena ada di antara para tamu ini yang masih tidak menyadari kelemahan dan dosa mereka. Salah satunya tidak mengenakan pakaian pesta, dia lalai mencari kebenaran dan tidak melakukan kehendak Allah. Ia juga tidak membutuhkan pertobatan sehingga mendapat hukuman setimpal yang diserukan Raja yakni: “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Kisah Injil ditutup dengan perkataan Yesus yang sangat bermakna yaitu: "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Mat 22:13-14).

Sosok Raja dalam kisah Injil ini memang luar biasa. Ia tidak memandang statusnya tetapi menjalankan tugasnya dengan mengontrol seluruh peristiwa yakni mengundang, memanggil tamu dan undangan berulang kali, menjalankan hukuman, mengalihkan undangan ke orang lain, mengunjungi para tamu dan mengeluarkan tamu yang tidak layak. Siapakah sosok raja ini? Kiranya sosok Raja adalah Tuhan Allah sendiri yang menjalankan kuasa untuk mengisi Kerajaan-Nya. Para hamba adalah para nabi sebagai utusan Tuhan untuk mewartakan keselamatan, bahkan ada yang beresiko untuk dianiaya dan dibunuh, para rasul Yesus sendiri dan para pewarta atau misionaris yang melakukan tugas perutusan Gereja saat ini. Bagaimana dengan posisi kita saat ini? Apakah kita adalah undangan pertama atau undangan terakhir yang bercampur dengan orang yang baik dan jahat? 

Apa yang harus kita lakukan untuk memperindah wajah Kerajaan Allah?

Bacaan pertama sangatlah inspiratif. Tuhan menghendaki adanya sebuah perjanjian baru dengan manusia yang berdosa supaya ada keselamatan. Sebab itu Tuhan berkata: "Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, demikianlah firman Tuhan Allah, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.” (Yeh 36:23). Di sini, Tuhan sendiri menujukkan wajah Kerahiman yang turut memperindah Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah lalu menjadi sebuah Kerajaan yang tenang, penuh kegembiraan laksana pernikahan yang menggembirakan semua orang. Dia bebas memilih dan memangil manusia sebagai tamu dan undangan untuk supaya menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya. Tuhan juga menunjukkan inisiatifnya supaya semua orang menjadi kudus sebagai akibat dari kekudusan-Nya sendiri. Suasana sukacita karena Yehuda yang tegar tengkuk akan kembali ke tempat yang ditentukan Tuhan sendiri

Tuhan menunjukkan wajah kerahiman-Nya sebagai Allah ketika Ia mengumpulkan semua orang untuk diselamatkan. Tuhan mengumpulkan dan menguduskan. Tuhan senidiri memberi hati yang baru yang bisa mengasihi dengan kasih-Nya dan Roh yang baru di dalam tubuh umat-Nya. Hati yang keras membatu akan diambil Tuhan, Dia sendiri akan memberi hati yang baru, yang penuh ketaatan dan kelembutan. Semua ini turut menggambarkan indahnya wajah Kerajaan Allah yang patut kita alami secara nyata di dunia ini. Kita tetap membutuhkan Tuhan untuk membarui kita hari demi hari supaya layak mengalami Kerajaan Allah yang penuh kedamaian, sukacita, kebersamaan dan keakraban sebagai saudara. Maka tidak eloklah kalau kita masih hidup dalam permusuhan dan saling membedakan satu sama lain.

St. Bernardus, doakanlah kami. Amen

PJ-SDB

Wednesday, August 19, 2020

Food For Thought: Tuhan sungguh murah hati

Tuhan sungguh murah hati

Dalam suatu acara rekoleksi bersama, saya mengundang para konfrater supaya masuk kembali ke kamarnya masing-masing. Mereka di harapkan mengamati segala sesuatu di depan pintu, saat membuka pintu dan melihat isi kamarnya, membuka lemari pakaian dan melihat semuanya, kemudian menghitung manakah barang yang mereka bawa dari rumah sendiri dan mana yang mereka terima ketika sudah menjadi anggota Kongregasi. Setelah itu kami berkumpul bersama dan membagi pengalaman unik SKP alias ‘Survey Kamar Pribadi’. Semua konfrater mengakui dengan jujur bahwa semua yang ada di kamar diterima di dalam kongregasi. Ada seorang konfrater yang mangatakan: “Saya menerima dari keluarga saya yang terbaik yaitu diri saya, dan barang-barang yang saya bawa karena saya biarawan. Kalau bukan biarawan mereka tidak akan memberi yang terbaik. Saya menerima barang dari orang-orang lain karena saya biarawan. Sampai saat ini saya tidak mengalami kekurangan apapun karena Tuhan menggerakan hati orang untuk melengkapinya. Tuhan sungguh murah hati dan saya juga harus bermurah hati.” Semua anggota komunitas mengangguk-angguk tanda setuju.

Saya mengingat pengalaman sederhana ini lima belas tahun silam tetapi sangat mendidik. Saya membagikannya kembali kepada para konfrater saya saat ini. Kali ini dengan orang-orang yang berbeda. Dan saya mengingatkan mereka semua: “Di masa covid-19 ini banyak orang di luar tembok biara itu menderita, serba kekurangan ini dan itu. Mereka harus berpikir apakah mereka bisa makan atau tidak, bisa membeli ini dan itu atau tidak. Kita sudah meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus maka Dia sungguh bermurah hati dengan kita melalui para penderma, orang-orang yang bermurah hati untuk menolong kita. Itu sebabnya ketika masuk ke ruang makan, ada air bersih untuk diminum, ada sesuap nasi untuk disantap. Tugas kita adalah bersyukur atas kemurahan hati Tuhan melalui sesama yang membanting tulang untuk ikut membahagiakan kita.”

Dalam semangat Sabda Tuhan pada hari ini, saya secara istimewa berterima kasih kepadamu, juga seluruh keluargamu yang dengan caranya sendiri menunjukkan kemurahan hati Tuhan melalui bala bantuan untuk karya dan pelayanan komunitas. Anda tentu sudah lupa aka napa yang sudah anda berikan dalam bentuk materi, dalam bentuk doa dan nasihat serta kritik yang mendewasakan. Anda lupa tetapi kami tidak lupa dan selalu bersyukur dan mendoakanmu kepada Tuhan. Kemurahan hatimu menjadi doa syukur kami kepada Tuhan bagimu untuk selalu bermurah hati selamanya. Selama Tuhan masih terus bermurah hati maka janganlah berhenti untuk bermurah hati.

Doa: Tuhan, saya mengucapkan terima kasih kepada-Mu karena Engkau sungguh murah hati. Semoga hari ini saya belajar untuk bermurah hati kepada sesama saya, terutama memperhatikan mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Semoga saya menjadi perpanjangan tangan-Mu sendiri. Amen.

Tuhan memberkati, Bunda Maria mendoakan.

P. John Laba, SDB

 

Homili 19 Agustus 2020

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XX
Yeh. 34:1-11
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6
Mat. 20:1-16a

Tuhan begitu murah hati bagiku

Masa covid-19 ini membuat banyak orang menjadi terbuka untuk menolong sesama yang sangat membutuhkan dan mendorong orang yang menerima bantuan untuk memiliki rasa syukur di dalam hidupnya. Perasaan empati atau berbela rasa menunjukkan kebajikan kemurahan hati yang lintas batas, artinya perasaan empati itu tidak memandang siapa yang memberi bantuan dan siapa yang menerima bantuan kemanusiaan. Bahwa dia adalah manusia sudah cukup menjadi alasan untuk menolongnya dalam kesulitan. Prinsip semacam ini sangat kristiani. Tuhan Yesus mengajarkannya kepada kita untuk selalu bermurah hati kepada semua orang. Bapa Suci Paus Fransiskus saat ini meminta Gereja untuk berempati terhadap semua korban covid-19, kepada kaum buruh dan migran. Semua gereja dan biara diharapkan membuka pintunya bagi pelayanan kaum papa miskin, kaum buruh dan migran, dan para korban covid-19. Gereja diharapkan mewujudkan cinta kasih Kristus kepada semua orang. Ini juga merupakan kesaksian Gereja di tengah dunia saat ini. 

Tuhan Yesus sendiri mengajar kita sebuah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37). Orang Samaria itu lawan dari orang-orang Yahudi. Tetapi ketika ada seorang Yahudi yang dirampok habis-habisan, bukan seorang imam atau seorang Lewi yang menaruh belas kasih kepada sesama Yahudi. Mereka hanya melihat dari jauh karena masih terpaku pada adat istiadat Yahudi yang melihat darah yang mengalir sebagai sebuah kenajisan. Hanya orang Samaria yang menunjukkan kemurahan hatinya kepada orang Yahudi ini. Inilah bentuk kemurahan hati orang Samaria: “Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” (Luk 10: 33-35). Orang Samaria adalah Yesus sendiri yang bermurah hati kepada semua orang berdosa. 

Beberapa hari yang lalu saya memesan sebuah Grab car. Saya mendapat seorang sopir yang sopan dan ramah, mobilnya juga bersih dan harum. Saya bertanya kepadanya tentang aktivitas hariannya dan penghasilannya dari pekerjaannya ini. Dia mengakui selama masa covid ini penghasilannya sangat menurun. Banyak kali dia kehilangan arah hidup karena tidak focus ketika memperhatikan keluarganya, terutama anak-anaknya yang masih bersekolah. Namun di saat-saat yang sulit itu ia merasa heran karena selalu saja ada orang yang murah hati dan mau berbagi dengannya. Ada yang menjadi penumpangnya, ada yang memberi sembako dan aneka sumbangan lainnya. Semua ini bukan dari keluarga atau kerabat dekatnya tetapi dari orang yang tidak ada relasi apapun dengannya, bukan keluarga, bukan sedaerah dan bukan seiman. Pada akhirnya ia mengakui bahwa Tuhan itu memang ada dan masih bermurah hati kepadanya. Saya merasa bangga dengan sopir Grab car ini. Dia tentu tidak jauh dari Kerajaan Allah.

Pada hari ini kita mendengar sebuah kisah Injil yang sangat menarik perhatian kita semua. Tuhan Yesus memberi sebuah perumpamaan yang mau menerangkan tentang sifat dari Tuhan sendiri yakni murah hati. Penginjil Lukas menulis perkataan dan harapan Yesus ini: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Luk 6:36). Tuhan memang murah hati kepada semua orang, memperlakukan semua orang sama rata. Tuhan Yesus mengumpamakan Kerajaan Surga laksana seorang tuan rumah yang mencari pekerja pada jam-jam tertentu, mengikat kesepakatan kerja dengan mereka dan memberikan upah pada akhir hari. Dia bebas mencari siapa saja untuk bekerja di kebun anggurnya, dan pada akhir hari ia memberikan upah sesuai kesepakatan bersama yaitu satu dinar. Saya sekali karena para pekerja terutama yang bekerja lebih lama pada hari itu melakukan protes kepada tuan rumah itu karena memberi upah yang sama kepada mereka semua. Tuan rumah itu dengan tegas mengatakan bahwa pemberian upah itu sesuai dengan kesepakatan maka tidak perlu jahat mata atau iri hati.

Bacaan Injil ini saya katakan sangat menarik perhatian kita sebab Tuhan Yesus mau membuka mata kita untuk melihat-Nya sebagai sosok yang murah hati dan di pihak kita sebagai sosok yang penuh perhitungan dan bersungut-sungut kepada-Nya. Tuhan Allah kita memang hebat dan luar biasa. Ia memiliki komitmen untuk terus menerus mencari manusia untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Dalam semua waktu kehidupan, bahkan sampai saat terakhir pun, Tuhan tetap memanggil, mengajak untuk bekerja di kebun anggurnya. Ia tidak merasa rugi karena semuanya sesuai kesepakatan bersama. Kehebatan tuan rumah ditunjukkannya dengan memberi upah yang sama rata, tanpa memandang waktu kerja dari para pekerja yang dipanggilnya itu. Hal yang sama terjadi pada Tuhan. Ia menunjukkan kemurahan hati-Nya untuk menyelamatkan semua orang. Orang berdosa dianugerahi pertobatan supaya selamat. 

Namun sayang sekali karena manusia ciptaan Tuhan yang paling mulia ini selalu memiliki perhitungan-perhitungan tertentu. Manusia saling menghitung satu sama lain dan saling menghitung dengan Tuhan sendiri. Mereka yang kerja dari pagi hari di kebun anggur merasa lebih berhak dibandingkan dengan mereka yang baru bergabung. Orang yang sudah lama dibaptis berpikir bahwa merekalah status quo keselamatan dibandingkan dengan para baptisan baru. Pikiran seperti ini membuat banyak warga Gereja yang kecewa karena merasa lebih berjasa terhadap gereja dibandingkan dengan para pendatang baru. Tuhan dengan tegas mengatakan: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” (Mat 20:16). 

Apa yang gereja butuhkan saat ini?

Tuhan melalui nabi Yehezkiel menunjukkan keperihatinan-Nya terhadap kawanan domba yang tercerai berai dan tersesat karena para gembala tidak menunjukkan sifat kegembalaannya yang baik. Tuhan berjanji untuk melepaskan kawanan domba-Nya dari mulut para gembala yang tidak becus dan Dia sendiri saja yang bertindak sebagai gembala atas kawanan domba-Nya. Tuhan tidak membuat perhitungan dengan domba-domba-Nya. Dia malah bermurah hati kepada kawanan domba dengan berkata: “Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya.” (Yeh 34:11).

Di sini dengan sangat jelas Gereja membutuhkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dia sebagai Gembala yang baik senantiasa menginspirasi Gereja untuk memperhatikan semua orang tanpa memandang siapakah orang itu. Tuhan sebagai Gembala yang baik menginspirasi Gereja untuk selalu bermurah hati kepada kawanan domba. Dalam konteks ini kita memahami maksud Tuhan untuk melayani sesama yang miskin dan menderita. Mereka adalah para korban covid-19, kaum buruh dan imigran dari segala suka dan bangsa, bahasa dan budaya yang tidak diperhatikan orang lain. Gereja berempati, terbuka dan peduli laksana gembala yang memperhatikan kawanan domba. Optio fundamental pelayanan kaum papa miskin atau kaum kecil ini benar-benar menunjukkan wajah Allah kita yang murah hati. Apakah anda juga murah hati?

PJ-SDB

Tuesday, August 18, 2020

Unta dan Lubang Jarum

Unta dan Lubang Jarum

Seorang sahabat menulis kepada saya setelah membaca Injil dan homili saya hari ini tentang unta dan lubang jarum. Pikirannya sangat harafiah seperti kebanyakan di antara kita. Ada yang belum punya konsep tentang unta dan hanya punya konsep tentang lubang jarum tangan yang dipakai untuk menjahit. Maka pikirannya tentang analogi ini diluar jangkauan. Dalam hal ini yang masuk bukan untanya, hanya satu lembar bulunya yang masuk lewat lubang jarum. Yah, haruslah dimaklumi karena tidak banyak orang yang memahami cara pikir dan analogi yang dibuat Yesus untuk menerangkan hikmat kepada para murid-Nya.

Penginjil Matius melaporkan bahwa Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya begini: “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat 19:24). Saya pernah studi di Yerusalem selama empat tahun dan saya jujur mengatakan bahwa saya tidak menemukan petunjuk yang tepat dan akurat di kota Yerusalem yang bernama lubang jarum sehingga bisa dilewati unta. Yerusalem zaman Yesus pernah dihancurkan tahun 70M oleh orang-orang Romawi dan bisa dibayangkan sampai hari ini 18 Agustus 2020 pasti bisa kita pikirkan sendiri, khusus berkaitan dengan seribu satu perubahan di kota damai alias Yerusalem ini. Pada saat ini ada sebutan untuk dua jenis gerbang yaitu gerbang besar dan gerbang kecil. Gerbang besar bisa dilewati kendaraan besar dan ada gerbang kecil yang sering disebut gerbang mata jarum oleh para pejalan kaki. Tetapi gerbang kecil ini merupakan sebutan modern yang kiranya dikaitkan dengan perkataan Yesus dalam Injil tentang lubang jarum.

Kalau begitu apa maksud Yesus menyebutkan unta dan lubang jarum ini? 

Kota Yerusalem dan juga kota-kota lain di Israel dan Palestina dikuasai oleh kerajaan Romawi. Ciri khas kota-kota itu adalah memiliki pagar tembok yang tinggi dan pintu-pintu gerbang. Pagar tembok adalah batas yang jelas kota dengan kota yang lain. Pagar tembok itu penting karena melindungi warga kota dari serangan musuh, juga banyak pencuri dan perampok. Maka sepanjang hari gerbang besar dibuka sebagai jalur pejalan kaki bagi manusia dan hewan juga kendaraan yang lazim sesuai zamannya. Pada saat ada musuh maka pintu gerbang besar ditutup dan warga kota hanya bisa mengakses jalan sempit yang berbentuk lubang jarum. Demikian juga pada sore menjelang malam hari, pintu gerbang besar ditutup rapat dan yang dibuka adalah pintu kecil, yang bentuknya seperti lubang jarum. 

Apa yang terjadi? 

Para warga yang lalu lalang masuk ke kota pada sore menjelang malam harus melewati pintu kecil berbentuk lubang jarum ini. Di depan pintu ada pejaganya, penuh disiplin dan ketat. Setiap orang yang lewat harus menurunkan barang-barang bawaan untuk diperiksa petugas, menunduk, kadang bisa berlutut untuk melewati pintu itu hingga ke dalamnya. Unta sendiri harus bebas dari barang bawaan, dipaksa untuk berlutut sambil merangkak pelan-pelan mewati lubang pintu itu hingga ke dalamnya. Unta adalah hewan jinak maka mudah untuk diatur. Kalau sudah berada di dalam maka barang bawaan akan dinaikan dan pemilik boleh menunggangnya lagi melewati lorong-lorong gelap kota itu.

Lalu pesannya apa bagi kita? 

Lubang jarum memang sebuah kiasan, namun Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa kalau kita ingin hidup abadi maka harus ada keberanian untuk melepaskan segala barang bawaan kita, dalam hal ini harta benda yang dapat menghalangi kita untuk bertemu dengan Tuhan. Sikap yang ditunjukkan orang-orang yang melewati lubang jarum adalah: tidak membawa barang, menunduk, berhati-hati supaya kepala tidak menyentuh tembok bagian atas kepala. Unta juga tidak membawa barang, merangkak, menunduk. Semua sikap ini menunjukkan kepada kita pelajaran hidup tentang: sikap lepas bebas, keberanian untuk meninggalkan harta benda, ketundukan kepada Allah, kerendahan hati, kepasrahan kepada Tuhan, ketergantungan penuh kepada Tuhan. Sikap-sikap ini yang mendekatkan kita kepada Tuhan.

PJ-SDB