Friday, September 4, 2020

Homili 4 September 2020

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXII
1Kor 4:1-5
Mzm 37:3-4.5-6.27-28.39-40
Luk 5:33-39

Bahagia sebagai sahabat Yesus

Pagi ini saya mendapat sebuah pesan singkat dari seorang sahabat, berupa kutipan kata dari Albert Einstein: “Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia.” Saya senang dengan kutipan perkataan sang jenius ini.Persahabatan itu indah sebab kita selalu memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman bahkan sampai hal-hal yang bersifat rahasia pribadi kepadanya. Kunci persahabatan adalah kesetiaan. Sahabat akan tertawa saat kita tertawa dan menangis saat kita menangis. Bagi saya persahabat itu seperti laut dan pasir. Laut dan pasir itu selalu siap untuk menghadapi pecahan ombak dan keduanya bersama-sama merasakan teriknya sang surya. Bahwa laut dan pasir berbeda memang sebuah realitas tetapi keduanya sama-sama berbagi pengalaman menghadapi pecahan ombak. Saya teringat pada Ralph Waldo Emerson, seorang Filsuf berkebangsaan Amerika Serikat pernah berkata: “Kemuliaan persahabatan bukanlah uluran tangan, bukan senyuman ramah, maupun sukacita persahabatan, itu adalah inspirasi spiritual yang datang ketika kamu menemukan orang lain yang percaya padamu dan bersedia untuk mempercayaimu dalam persahabatan.”

Tuhan Yesus di dalam Injil menunjukkan sesuatu yang sangat luhur bagi kita. Dia adalah Anak Allah tetapi memanggil manusia yang berdosa sebagai sahabat-sahabat-Nya. Ia berkata: “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:14). Tuhan Yesus sendiri tidak menyebut kita sebagai hamba tetapi sahabat (Yoh 15:15), seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Perkataan Yesus ini sungguh luar biasa. Kita hanya manusia yang berdosa tetapi Tuhan masih menyapa dan menganggap kita sebagai sahabat-sahabat-Nya. Sapaan Yesus membuat kita yang masih memiliki rasa malu harus merasa malu karena banyak kali kita tidak berlaku sebagai sahabat dan saudara. Kalau saja suami dan istri bukanlah sahabat maka relasi mereka juga dangkal, tidak berakar sama sekali. Relasi persaudaraan yang ada di antara para saudara dan saudari juga sifatnya dangkal, penuh perhitungan untung dan rugi. Tuhan saja menjadi sahabat yang tulus, mengapa manusia begitu sulit menjadi sahabat yang tulus?

Tuhan Yesus menyapa kita sebagai sahabat bukan hamba, kita juga disebutnya sebagai sahabat-sahabat mempelai yang hidupnya penuh dengan sukacita bukan kesedihan. Penginjil Lukas melaporkan bahwa pada suatu kesempatan, ada orang farisi dan ahli-ahli Taurat yang mengatakan kepada Yesus tentang hal berpuasa. Bahwa murid-murid Yohanes berpuasa, murid-murid orang Farisi juga berpuasa sedangkan murid-murid Yesus tidak berpuasa melainkan tetap makan dan minum seperti biasa. Yesus menyimak semua perkataan lawan-lawan-Nya ini. Dia menjawab mereka: “Dapatkah sahabat mempelai disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang saatnya mempelai diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”Perkataan Yesus ini sangatlah jelas. Dia tidak hanya menyapa kita sebagai sahabat saja, tetapi kita benar-benar sahabat sejati Yesus sang mempelai sejati. Tinggal bersama Yesus sebagai sahabat selalu diwarnai sukacita sama dengan sukacita perkawinan. Namun ketika Yesus memasuki paskah-Nya, dalam hal ini menderita, sengsara dan wafat maka saat itu para sahabat mempelai bersedih. Ini saat untuk berpuasa.

Banyak kali orang-orang bersifat legalis. Mereka hanya mengobservasi hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan Tuhan tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka hanya pandai menilai orang lain tetapi hidup mereka sendiri jauh dari yang diharapkan. Itu sebabnya Yesus menghimbau para murid-Nya untuk melakukan apa yang diajarkan bukan apa yang dilakukan para pemimpin Yahudi (Mat. 23:3). Demikian juga dalam hidup kita sehari-hari, kita selalu menemukan orang yang berdandan agamis tetapi hidup mereka jauh dari Tuhan. Trend masa kini adalah munculnya nabi-nabi palsu yang suka membual untuk mendapat sesuap nasih dan seteguk air. Di media sosial seperti Youtube kita menemukan para mualaf yang membual di mana-mana, mengumpulkan banyak orang untuk menghina kekristenan. Memang aneh tapi nyata.

Apa yang harus kita lakukan?

Kita sebagai Gereja perlu membuat revolusi mental. Sebuah revolusi yang menunjukkan tranformasi radikal dalam hidup setiap pribadi. Sebab itu yang dibutuhkan adalah pertobatan radikal, sebuah perubahan untuk menjadi manusia baru dalam Kristus. St. Paulus meminta jemaat di Korintus untuk memiliki semangat sebagai hamba atau abdi Kristus dan pengurus rahasia Allah. Sebab itu ia mengharapkan supaya kita juga berusaha untuk mengimani-Nya. Mengapa? Karena hanya Tuhan saja yang mampu menerangi juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan. Dialah pula yang memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati.

Pada hari ini marilah kita berusaha untuk menjadi manusia baru, yang bersahabat dengan Yesus. Apakah Anda menyadari diri sebagai seorang sahabat Yesus? Menjadi sahabat Yesus berarti menjadi serupa dengan Dia dalam segala hal. Semoga Ia menguatkan kita semua.

PJ-SDB

Thursday, September 3, 2020

Food For Thought: Kepemilikan

Kepemilikan

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pemuda. Perbincangan kami makin lama semakin menarik tentang usaha pribadi untuk merawat diri. Rasanya memang lucu, karena perbincangan dengan seorang romo lalu berfokus pada usaha merawat diri. Dia mengatakan bahwa para romo itu harus merawat diri dengan baik, menjaga penampilan supaya pelayanan para romo itu bisa berkenan di hati Tuhan dan hati umat. Saya tersenyum karena pemuda ini tidak sungkan memberi nasihatnya kepada para romo bukan untuk tebar pesona tetapi menebarkan kasih dan kebaikan Tuhan kepada sesama. Ia membalas senyuman saya, mungkin dia mengerti apa yang saya pikirkan, dengan berakata: “Romo lihat saya, jelek-jelek begini milik Tuhan maka saya berusaha untuk menjaga dan merawatnya. Hanya dengan demikian saya dapat melayani orang lain, apalagi para romo.” Perbincangan kami ini sederhana, tidak formal, hanya sekedar mengisi quality time kami tetapi ternyata membawa pesan tersendiri.

Ada dua hal yang saya pikirkan setelah perbincangan dengan pemuda ini. Pertama, Para Romo adalah milik Tuhan. Sebagai umat sang pemuda mengharapkan supaya para romo menjaga dan merawat dirinya supaya melayani Tuhan dan sesama dengan baik. Para romo adalah milik Tuhan. Tuhan yang punya pekerja, dan Gereja selalu berdoa supaya Tuhan mengirim pekerja-Nya supaya melayani di ladang yang tuaiannya berlimpah. Sebab itu wajarlah kalau para romo yang sudah meninggalkan segalanya untuk melayani Tuhan ini menjaga dan merawat dirinya dengan baik. Merawat diri bukan hanya sekedar merawat tubuh tetapi merawat jiwa juga. Tubuh sehat, jiwa juga sehat karena setia dalam pangakuan dosanya, Paus Fransiskus mengharapkan supaya para romo yang menjaga dan merawat diri dengan baik ini dapat berbau domba.

Kedua, Karena para romo adalah milik Tuhan makah tidak ada yang mengklaim bahwa para romo itu milik ini dan itu. Sama seperti Santu Paulus mengatakan bahwa ada trend di Korintus di mana orang memegahkan diri atas manusia. Ada yang mengklaim menjadi bagian dari Paulus, Apolos dan Kerfas. Paulus mengatakan: “Semua itu milik kalian, tetapi kalian milik Kristus dan Kristus milik Allah” (1Kor 3:23). Yang terjadi adalah banyak umat yang suka memilih romo in dan romo itu, sehingga ketika romo itu pindah tugas, mereka juga tidak datang lagi ke Gereja. Apakah mereka mengikuti Yesus atau mengikuti romo tertentu ya? Ketika romo tertentu konon memiliki ‘indera ke enam’ maka dia menjadi langganan tetap, hingga romo itu lupa bahwa kuasa itu dari Tuhan bukan dari dirinya sendiri. Memang sangat manusiawi dan romonya juga masih manusia. 

Salam dan berkat Tuhan untuk kita semua,

P. John Laba, SDB

Homili 3 September 2020


Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXII
PW. St. Gregorius Agung
1Kor. 3:18-23
Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
Luk. 5:1-11

Mengenal Yesus lebih dalam lagi

Pada hari ini kita mengenang St. Gregorius Agung. Dari banyak hal yang dilakukan dan diajarkannya, saya mengingat satu perkataannya yang sangat inspiratif. Ia berkata: “Belas kasih Tuhan melakukan keajaiban, sebab ketika Tomas menyentuh tubuh Gurunya yang terluka, Ia menyembuhkan luka kita, orang yang tidak percaya.” Kita percaya bahwa Tuhan Yesus memperkenalkan Allah kita sebagai Bapa yang Maharahim. Ia senantiasa menunujukkan belaskasih-Nya kepada kita semua, tanpa memandang diri pribadi kita, apakah kita layak atau tidak layak di hadirat-Nya. Belas kasih atau kerahiman Allah ini sangatlah kita butuhkan di dalam hidup ini karena dapat menjadi mukjizat yang mengubah kehidupan kita. Thomas adalah sosok inspiratif yang kritis dan mengatakan kebenaran bahwa ia kurang percaya. Namun Tuhan Yesus menyapanya, membiarkan dia memasukkan jarinya ke dalam tubuh-Nya yang terluka. Thomas menjadi sembuh dan pada saat yang sama Tuhan Yesus juga menyembuhkan luka-luka kita sebab kita adalah orang yang tidak percaya.  Tuhan Yesus memanggil para murid, dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan kisah Yesus. Setelah melakukan banyak mukjizat penyembuhan, kali ini penginjil Lukas mengisahkan Yesus yang mengajar dengan kuasa dan wibawa, dan menghendaki para rekan kerja yang dapat menjadi penjala manusia. Dikisahkan bahwa Tuhan Yesus sedang berdiri di pantau Danau Genesaret dan dikerumuni oleh orang banyak yang mengalami mukjizat-mukjizat penyembuhan. Ia tetap menunjukkan belas kasihan-Nya kepada banyak orang yang mengerumuni-Nya sehingga Ia naik ke atas perahu Simon, sang nelayan sederhana untuk mengajar dari atas perahu. Perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak membutuhkan pengeras suara sebab ketika dia berbicara, suaranya itu dipantulkan sehingga sangat jelas didengar oleh orang-orang saat itu. Yesus benar-benar menunjukkan diri-Nya sebagai seorang misionaris sejati, yang mewartakan sabda melalui pengajaran-pengajaran-Nya.Tentu saja pengajaran-pengajaran Yesus memiliki daya transformatif yang luar biasa.

Selanjutnya Yesus meminta Simon untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam supaya dapat menebarkan jala supaya menangkap ikan. Tentu saja Simon yang memiliki pengalaman sebagai nelayan menertawakan Yesus, sebab semalam-malaman mereka tidak menangkap apa-apa. Orang professional seperti Simon, sudah mengetahui suasana danau Genesaret. Namun Simon menunjukkan ketaatannya kepada Yesus, sehingga ia berkata kepada Yesus, “Tetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5: 5). Pengalaman manusiawi tidak akan dapat dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Simon menyadarinya ketika ia tahu bahwa mereka berhasil menangkap ikan dalam jumlah yang banyak sehingga jala mulai koyak. Simon dan teman-temannya sebagai nelayan professional merasa takjub kepada Yesus dan menyatakan pertobatan kepada-Nya sebab mereka merasa diri sebagai orang berdosa. Tuhan mengubah mereka dari profesi sebagai penjala ikan menjadi penjala manusia. Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes berani meningglkan  segala sesuatu dan mengikuti Yesus.

Kisah injil ini memang menarik perhatian kita dalam konteks panggilan pemuridan dan kesiapan untuk mengalami perutusan tertentu dari Yesus sendiri. Tuhan Yesus sedang menghadirkan Kerajaan Allah dengan tanda dan sabda. Tanda-tanda heran sudah sedang dialami oleh banyak orang yang sakit di mana mereka sembuh total. Yesus juga bersabda melalui pengajaran-pengajaran-Nya. Semua ini tentu bertujuan untuk menggenapi visi dan misi-Nya yang kita dengar sebelumnya yakni: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Luk 4:18-19).

Dengan demikian, Tuhan Yesus membutuhkan manusia untuk menjadi rekan-rekan kerja yang ikut terlibat aktif dalam melakukan dan meneruskan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Mereka adalah para murid yang siap diutus (Rasul). Di sini juga sangatlah jelas pengajaran Yesus: Ia mengajar dengan kuasa dan wibawa di atas perahu. Kiranya perahu itu adalah simbol Gereja sendiri. Pemilik perahu adalah Simon yang nantinya menjadi kefas, batu wadas dan ketua para rasul Yesus. Simon mewakili Hirarki Gereja. Ikan adalah simbol Gereja sebagai umat Allah pada masa penganiayaan. Perlu kita ketahui bahwa kata 'ikan' dalam Bahasa Yunani (ΙΧΘΥΣ). Kata ini merupakan singkatan dari Iesous KHristos, Theou Uios, Soter, artinya Yesus Kristus, Putra Allah, Sang Penyelamat. Dia menyelamatkan semua orang, mirip dengan ikan-ikan yang ditangkap para rasul dalam jumlah yang banyak. Mukjizat itu terjadi ketika Tuhan Yesus hadir dan menampingi mereka. Maka tepatlah perkataan Yesus ini: “Terlepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:5).

Hal yang penting di sini adalah para murid itu harus berani untuk meninggalkan segala sesuatu dan hidup hanya bagi Tuhan. Penjala manusia harus melakukan hal ini dengan tulus hati. Dengan meninggalkan segala sesuatu maka mereka akan semakin bebas untuk mengekspresikan diri, lebih fokus pada karya dan pelayanan bersama Yesus. Kemampuan untuk meninggalkan segala sesuatu atau sikap lepas bebas adalah cara Tuhan mengedukasi kita untuk menjadi murid sejati. Kita merasa sebagai orang merdeka dan siap untuk memberikan segalanya bagi Tuhan. Untuk itulah kita secara pribadi harus mengenal Tuhan secara pribadi dan tetap berusaha untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi.

Apa yang harus kita lakukan?

St. Paulus dalam bacaan pertama mengingatkan kita supaya jangan menipu diri sendiri. Kadang kita berpikir bahwa kita berhikmat, dalam hal ini mengetahui segala sesuatu. Kalau saja hikmat kita berasal dari dunia, yang penuh hira-hura ini maka merupakan sebuah kebodohan bagi Allah. Kita tak perlu harus memegahkan diri atas sesama manusia yang lain, sebab Tuhan sendiri mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat yang semuanya hanyalah sia-sia belaka. Kita mestinya menyadari bahwa semuanya adalah milik kita, namun kita adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah. Sebab itu kita butuh kebajikan kerendahan hati.

Pada hari ini marilah kita bertolak lebih dalam lagi dalam iman kita. Kita berusaha untuk mengenal Yesus lebih dalam lagi dalam doa dan rajin membaca Kitab Suci. St.Hironimus mengatakan: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus sendiri”.  Kita mentaati perintah Tuhan dan siap menjadi penjala manusia. Bersama Yesus, kita pasti bisa.

PJ-SDB

Wednesday, September 2, 2020

Food For Thought: Keluhuran Manusia


Manusia itu sangat bernilai!

Saya pernah mengunjungi sebuah keluarga yang memiliki seorang anak cacat. Seorang anak berusia dua setengah tahun lumpuh total sehingga menjadi perhatian ekstra dari keluarga. Saya memperhatikan kedua orang tua dan anaku sulung yang sudah berusia sekitar tujuh tahun itu bergantian menjaganya. Orang tuanya bercerita bahwa mereka selalu membawaanya ke Gereja dan tidak merasa sungkan untuk meminta berkat dari Romo yang mereka jumpai. Mereka juga memperkenalkan anaknya yang murah senyum itu kepada sesama umat dan memohon doa untuk penyembuhannya. Saya pernah mendengar perkataan orang tua anak ini kepada saya: “Romo, anak kami lumpuh dan kami baru mengetahuinya setelah berkonsultasi dengan dokter. Pada mulanya kami protes kepada Tuhan dan saling mempersalahkan satu sama lain sebagai suami dan istri. Namun kami berdoa dan berpasrah kepada Tuhan, hingga akhirnya kami menyadari bahwa kami sendiri tidak pernah menghendaki supaya memiliki anak yang lahir seperti ini, demikian juga anak kami ini tidak pernah menghendaki supaya ia lahir demikian. Dia adalah hadiah, dia adalah berkat bagi kami dan Tuhan tidak pernah menutup saluran berkat-Nya bagi kami. Tuhan memberikan masalah dan tidak pernah lupa solusinya. Dia adalah manusia sangat bernilai bagi kami.” Saya selalu mengingat perkataan sekaligus kesaksian kedua orang tua anak ini.

Banyak kali orang yang tidak pernah mengalami keadaan anak-anak seperti ini merasa biasa-biasa atau lebih jelek adalah ketika mereka menertawakan keluarga yang memiliki anak cacat atau autis. Padahal para orang tua harus mengambil keputusan yang tepat apakah mau memiliki anak lagi atau cukup satu anak yang ada dan memperhatikannya seumur hidup, dengan seribu satu risiko yang mereka hadapi. Kita butuh persaaan empati kepada keluarga-keluarga yang memiliki pengalaman serupa. Tentu harus dikatakan bahwa bukan musibah tetap berkat yang membahagiakan. Mengapa demikian? Sebab anak adalah berkat, apapun dan siapapun dia tetaplah berkat dan buah cinta. Maka nilai hidupnya harus tetap diperhatikan. Bahwa dia manusia maka tetaplah mencintainya sampai tuntas.

Pada hari ini saya sangat terkesan dengan sosok Tuhan Yesus. Dia menunjukkan perhatian-Nya kepada nilai luhur manusia. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa setelah Yesus keluar dari Sinagoga di Kapernaun, Ia diminta untuk singgah di rumah Simon supaya menolong ibu mertuanya yang sedang sakit demam. Pada waktu itu Yesus masuk ke dalam rumah, berdiri di sisinya, lalu menghardik demamnya. Penyakit demam itu meninggalkan wanita itu. Tuhan Yesus memiliki kekuatan untuk mengalahkan, melumpuhkan sakit penyakit. Demam yang ganas saja menyerah dan meninggalkan ibu mertua Petrus. Pikirkanlah saat kita sakit demam, bukan hanya suhu tubuh tetap semua makanan tidak enak. Tuhan menghardik, marah besar kepada demam dan demam hingga meninggalkan dan membebaskan wanita itu. Tuhan Yesus melihat keluhuran hidup manusia, ibu mertua yang mungkin sudah memasuki usia senja. Tuhan Yesus melayani tanpa memilih-milih usia orang yang dilayani-Nya.

Sikap Tuhan Yesus ini merupakan koreksi besar kepada kita semua. Banyak kali kita melayani dengan memilihi mana yang kita sukai dan tidak. Kita melayani karena terpaksa melayani. Banyak orang tua, opa dan oma yang tidak dilayani dengan baik. Kalau Yesus menghardik demam dan demam hilang, anak-anak dan cucu zaman now menghardik orang tua, opa dan oma supaya cepat lewat. Emosi karena perilaku orang tua, opa dan oma adalah manusiawi tetap menghardik dan membentak itu seharusnya tidak perlu. Pandanglah Yesus yang melihat keluhuran hidup manusia sebagai manusia.

Mari kita peduli kepada sesama yang menderita karena mereka manusia. Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

Homili 2 Septe,mber 2020 - Injil untuk Daily Fresh Juice


Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXII/A
1Kor 3:1-9
Mzm 33:12-13.14-15. 20-21
Luk 4:38-44

Lectio:

Setelah meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia mewartakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.
Demikianlah Injil Tuhan kita
Terpujilah Kristus

Renungan:

Mewartakan Injil di Era Pandemi

Kita berada di hari kedua dalam bulan September, bulan yang dikenal dengan nama Bulan Kitab Suci Nasional. Adapun tema Bulan Kitab Suci Nasional pada tahun 2020, yang ditawarkan oleh Lembaga Biblika Indonesia (LBI) adalah “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Iman dan Identitas.” Saya merasa bahwa tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini memang sangatlah aktual dan sesuai dengan situasi kita yang nyata saat ini. Kita sebagai Gereja memiliki tugas untuk mewartakan Injil sebagaimana diteladani sendiri oleh Tuhan Yesus Kristus, yang dalam bacaan Injil hari ini mengatakan: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Namun demikian keteladanan Yesus ini benar-benar menantang kita karena kita sedang berada dalam masa pandemi covid-19 sehingga benar-benar menimbulkan krisis iman dan identitas. Kita tidak dapat menutup mata untuk mengakui bahwa pada saat ini memang banyak orang Kristiani yang sedang mengalami krisis iman dan identitas sehingga sangatlah sulit untuk mewartakan Kabar Gembira atau Injil. Mungkin saja anda adalah salah seorang yang tidak sedang mengalami krisis iman dan identitas, namun sekurang-kurangnya anda harus siap untuk menolong sesama yang sedang mengalami krisis iman dan identitas.

Pandemi covid-19 semakin hari semakin mengancam nyawa manusia. Tidak hanya kematian yang menakutkan namun sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita. Aspek ekonomi di mana situasi resesi sedang berada di depan pintu, gejolak sosial dan politik identitas yang datang silih berganti dalam masyarakat. Semua ini ikut membawa krisis iman dan identitas kita sebagai pengikut Kristus sehingga menimbulkan kesulitan dalam mewartakan Injil. Namun demikian saya teringat pada St. Paulus yang dapat memotivasi kita selama masa pandemi covid-19 ini: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1Kor 9:16). Sebab itu masa pandemi covid-19 ini sebenarnya bukan menjadi penghalang bagi kita semua sebagai Gereja untuk tetap mewartakan Injil melalui kehidupan dan perbuatan-perbuatan yang nyata. Banyak aksi karitatif yang dilakukan untuk menolong sesama yang sangat membutuhkan lintas suku, agama, ras dan antar golongan. Dalam situasi seperti ini, semua orang dapatlah menjadi saudara sebab memiliki satu musuh yang sama sehingga dapat memeranginya secara bersama-sama. Maka sesibuk apapun, kita harus tetap fokus.

Pada hari ini St. Lukas melukiskan sosok kehidupan Yesus yang sangat sibuk dalam karya pelayanan-Nya namun tetap fokus dalam mewartakan Injil. Dikisahkan bahwa Tuhan Yesus meninggalkan rumah ibadah di Kapernaum menuju ke rumah Simon. Rumah Simon anak Yohanes ini menjadi markas besar bagi Yesus dan para murid-Nya. Pada saat bersamaan diketahui bahwa ibu mertua Simon sakit demam keras sehingga mereka meminta Yesus untuk menolongnya. Tuhan Yesus berdiri di sampingnya, menghardik demam dan saat itu demam meninggalkan ibu itu. Ibu mertua Simon menunjukkan syukurnya dengan melayani Yesus dan para murid-Nya. Hal yang menarik perhatian kita adalah Yesus mewartakan Injil dengan perbuatan baik. Dia melihat keluhuran hidup manusia, maka Dia menghardik demam sehingga demam itu pergi. Sesibuk apapun Yesus, Ia tetap fokus sehingga dapat menyembuhkan mertua Simon. Yesus menghardik penyakit bukan menghardik manusia. Yesus memang beda dengan kita yang lebih suka menghardik manusia dari pada sakit dan kelemahannya.

Selanjutnya, pada sore harinya Yesus semakin sibuk. Penginjil Lukas melaporkan bahwa semua orang membawa kerabatnya yang sakit supaya Yesus meletakkan tangan atas mereka sehingga memperoleh kesembuhan. Setan-setan yang merasuki orang-orang saat itu juga ketakutan sehingga mereka berteriak-teriak, “Engkau adalah Anak Allah.” Tuhan Yesus tetap menunjukkan jati diri-Nya sebagai Mesias, Anak Allah yang memiliki kuasa dan wibawa sehingga melarang mereka untuk tidak berbicara. Yesus semakin dikenal sehingga semua orang mencari Dia. Dalam suasana yang sibuk ini, dan banyak tawaran kepada-Nya untuk tinggal bertahan bersama mereka, namun Tuhan Yesus tetap fokus pada tugas perutusan-Nya untuk mewartakan Injil. Ia berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Yesus tetap fokus mewartakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Pada hari ini Tuhan Yesus menunjukkan sebuah contoh yang terbaik kepada kita supaya tetap konsisten mewartakan Injil di Era Pandemi. Tentu saja dengan protokol kesehatan yang ada, dengan tetap menggunakan masker dan memperhatikan social distancing, kita dapat mewartakan Injil dengan melakukan tindakan karitatif, misalnya menolong orang-orang yang sangat membutuhkan sembako dan aneka pangan, membantu air bersih, mengajarkan pola hidup sehat dan perlindungan diri terhadap bahaya covid-19, memberi motivasi supaya bertahan hidup. Dalam hal rohani kita dapat mewartakan Injil dengan doa dan devosi untuk memohon kesembuhan para pasien, dan para dokter yang merawat mereka. Semua tindakan karitatif ini merupakan sebuah bentuk pewartaan Injil di tengah krisis iman dan krisis identitas kekatolikan kita saat ini. Pewartaan Injil melalui tindakan karitatif ini dilakukan untuk semua orang tanpa memandang siapakah orang yang hendak dibantu. Tugas kita saat ini adalah membawa sukacita Injil bagi sesama terutama mereka yang sangat membutuhkan.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, di era pandemi covid-19 ini, bantulah kami agar tetap setia mewartakan Injil dalam masa krisisi iman dan identitas kekatolikan kami. Semoga karya karitatif sebagai wujud nyata pewartaan Injil saat ini mampu menunjukkan wajah-Mu yang penuh belas kasih kepada sesama kami. Amen.

P. John Laba, SDB

Tuesday, September 1, 2020

Food For Thought: Tetap Mengagumi Yesus


Tetap mengagumi Yesus!

Ada seorang sahabat yang bukan pengikut Kristus selalu mengajak saya untuk berdiskusi tentang nilai-nilai universal keagamaan. Banyak kali ia merasa kagum dengan cara hidup saya sebagai seorang gembala yang berani meninggalkan segalanya supaya lebih bebas melayani Tuhan dan sesama. Dan dia mengatakan kepadaku, “Romo memang limited edition” sebab tidak semua orang bisa hidup seperti ini, hanya orang-orang pilihan Tuhan yang bisa hidup demikian. Saya juga melihat keterbukaan dan kerendahan hatinya dalam perbincangan-perbincangan kami. Secara mengagetkan, pada suatu kesempatan ia melihat gambar Yesus. Ia spontan mengatakan: “Orang yang di dalam foto ini pasti orang baik, lihat sorot mata-Nya penuh dengan sukacita.” Saya mengerti bahwa diam-diam dia mengagumi Yesus. Mungkin dia mengetahuinya tetapi belum berani menyebut secara terang-terangan “Tuhan Yesus Kristus”.

Saya mengingat Mahatma Gandhi. Pada suatu kesempatan ia didatangi seorang misinaris. Setelah bervincang-bincang, sang misionaris bertanya kepada Gandhi: “Tuan Gandhi, Anda selalu mengutip Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus dalam perjuanganmu. Mengapa Anda tidak memilih untuk mengikuti-Nya saja?” Gandhi memandang sang misionaris dan berkata: “Saya memang mengagumi Yesus dan menyenangi perkataan-perkataan-Nya, tetapi saya tidak mengagumi para pengikut-Nya sebab mereka hanya berbicara tentang Yesus tetapi tidak melakukan perintah-perintah-Nya di dalam hidupnya.” Saya kira perkataan Gandhi adalah tamparan bagi kita yang berpikir bahwa kita sudah mengikuti-Nya, menjadi orang katolik dari dalam rahim ibu, tetapi hidup kita, pikiran, perkataan dan perbuatan kita bukanlah cerminan hidup Yesus sendiri. Hidup pribadi orang katolik ternyata masih berada di luar jangkauan. Belum ada kesaksian hidup yang matang sebagai orang Katolik. Ada orang yang mengaku mengagumi Yesus tetapi hanya ucapan bibir semata.

Tetapi… tetapi kita harus berani untuk tetap mengagumi Yesus kapan dan di mana saja kita berada. Teman sya bukan orang Katolik tetapi diam-diam dia mengagumi Yesus. Gandhi adalah seorang hindu tetapi mengangumi sosok Yesus dan sabda-Nya dalam perjuangan hidupnya. Setan yang merasuki seorang di dalam Sinagoga di Kapernaum sangat mengenal Yesus sebagai Mesias. Dengan demikian, kita harus berusaha supaya tidak mengalah dalam hidup ini dengan mereka yang bukan pengikut Tuhan Yesus. Sekali lagi, jangan mengalah dengan orang yang tidak seiman tetapi lebih mengenal dan mengagumi Yesus. Sebab itu kita perlu berusaha untuk mengenal lebih dalam lagi, dengan membaca Kitab Suci dan berdoa. Semakin kita setia membaca dan mendengar Sabda, semakin Dia yang adalah Sabda hidup mengubah hidup kita. Maka tetaplah berusaha untuk mengagumi Yesus.

Tuhan memberkati kita semua.

PJ-SDB

Homili 1 September 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXII
1Kor 2:10b-16
Mzm 145: 8-9.10-11. 12-13.ab.13bc-14
Luk 4:31-37

Tetap mengagumi Tuhan

Pada hari ini kita mengawali Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2020. Lembaga Biblika Indonesia memberikan tema yang menjadi pedoman bagi setiap keuskupan di Indonesia: “Mewartakan Kabar Baik di tengah Krisis iman dan identitas”. Tema ini memang menarik perhatian kita karena sangat cocok dengan keadaan kita saat ini. Covid-19 telah menimbulkan krisis iman dan identitas banyak orang kristiani. Di dalam Kitab Suci wabah apapun dipakai sebagai sarana oleh Tuhan, misalnya wabah adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk menghukum manusia yang berdosa, wabah itu dipakai Tuhan untuk mengajar manusia, wabah adalah cara Tuhan untuk menunjukkan kuasa dan kedaulatan Tuhan atas manusia, wabah juga dijadikan tanda bahwa akhir zaman semakin mendekat. Pandemi ini memang menimbulkan krisis iman dan identitas bagi setiap orang katolik. Meskipun demikian, pikiran kita mestinya tetap terarah pada sosok Allah yang Mahabaik. Dia menciptakan segala sesuatu dengan tujuan kebaikan bukan kejahatan dann kehancuran. Maka dalam situasi yang sulit ini kita mestinya tetap mengangumi Tuhan.

Pada awal penampilan Yesus di Galilea, banyak orang juga mengalami krisis iman dan krisis identitas. Krisis-krisis dapat terjadi karena berbagai sakit penyakit yang dialami oleh mereka. Ada yang buta, tuli, lumpuh, bisu, demam, pendarahan dan kusta disembuhkannya, bahkan yang sudah meninggal dibangkitanya. Bisa dibayangkan orang yang sakit dlam waktu yang lama tentu mengalami krisis iman dan identitas. Mereka juga mempertanyakan kasih, kebaikan dan keadilan Tuhan Allah. Namun kehadiran Yesus itu mengubah segala sesuatu. Ia membawa angin perubahan pada diri orang-orang zaman itu. Maka ada banyak orang yang takjub dan mengagumi Tuhan di tengah krisis dan gejolak hidup yang ada. Saya melihat bahwa situasi yang sama juga terjadi saat ini. Di era pandemi ini memang ada krisis tetapi masih ada orang yang tetap takjub kepada Tuhan.

Penginjil Lukas melukiskan kehidupan Yesus dengan indah. Ibarat emas kalau dibuang di lumpur sekalipun akan tetap emas yang tidak berubah. Tuhan Yesus sebelumnya mengalami penolakan di Nazareth, kampung halaman-Nya. Mereka mengenal Yesus sebagai Yesus adanya: ayah-Nya bernama Yusuf, ibu-Nya Maria dan pekerjaan-Nya tukang kayu. Sekarang Dia mendadak menjadi Rabi muda yang dikagumi banyak orang. Yesus ditolak bahkan nyaris dibunuh hanya saat-Nya belum tiba. Ia meninggalkan Nazareth menuju ke Galilea. Meskipun Dia tetap disapa Yesus dari Nazaret bukan dari Galilea.

Apa yang dilakukan Yesus di Galilea? 

Ia memilih markas-Nya bersama para murid di kota Kapernaum. Di kota ini terdapat Sinagoga sehingga pada hari-hari Sabat Ia mengajar di dalam-Nya. Banyak orang menjadi takjub kepada-Nya karena Ia mengajar dengan kuasa dan wibawa tidak seperti orang lain. Mereka memberi jempol kepada-Nya dengan berkata: “Alangkah hebatnya perkataan ini!”Di dalam Sinagoga in Yesus menunjukkan ke-Allahan-Nya dengan membuat mukjizat. Ada seorang yang sedang kerasukan setan. Ketika melihat Yesus, Ia berteriak-teriak, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau hendak membinasakan kami? Aku tahu siapakah Engkau: Engkaulah Yang Kudus dari Allah”. Setan saja masih mengenal Yesus dan menunjukkan ketakutan-Nya. Yesus menunjukkan kuasa-Nya dengan berkata: “Diam, keluarlah dari padanya!” Setan itu keluar dari orang yang dirasukinya. Mengherankan! Kuasa Tuhan memang luar biasa. Kebaikan mengalahkan kejahatan dan terbukti dengan takluknya roh-roh jahat dan takjubnya manusia-mansia yang lemah. 

Kita membayangkan bahwa orang yang mengalami kerasukan setan itu pasti mengalami krisis iman dan identitas. Ia menyakitkan tubuhnya, dijauhi orang dan pasti merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Tetapi nyatanya, Tuhan hadir dan menyembuhkannya. Banyak kali kita juga berpikiran demikian, manakala ada sakit penyakit dan aneka pergumulan hidup. Kalau kita tetapi berdiri tenang di atas masalah maka sia-sia saja iman kita. Ketika kita tunduk dan rendah hati kepada Tuhan maka apapun krisisnya kita dapat melewatinya dengan baik. Butuh iman dan kerendahan hati di hadirat Tuhan.

Apa yang harus kita lakukan?

Santu Paulus dalam bacaan pertama mengulangi pengajarannya tentang kuasa Roh. Roh itu dapat menyelidiki segala sesuatu bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Tidak ada seorang manusiapun yang mampu memahami pikiran Allah. Hanya Roh saja yang dapat mamahami-Nya. Maka kalau kita menerima Roh Allah maka dapat mahami karunia-karunia Allah. Ada manusia duniawi yang mengalami kebodohan karena tidak menerima Roh Allah melainkann roh dunia. Paulus dengan tegas mengatakan bahwa manusia dunia tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, manusia rohani dapat menilai segala sesuatu karena menerima Roh Allah dalam hidupnya. Kita mengikuti Kristus maka kita juga memiliki pikiran Kristus. 

Kita bersyukur kepada Tuhan sebab Ia senantiasa membukan pikiran kita, menyadarkan kita untuk mengenal diri lebih dalam lagi dan mengenal-Nya lebih dalam lagi dalam pengalaman-pengalaman kita. Kita butuh Roh Kudus untuk menunjukkan kekuatan Allah kepada kita. Dengan demikian kita tetap takjub akan kuasa Tuhan dan mengasihi-Nya lebih dari yang lain.

PJ-SDB