2Yoh 4-9
Mzm 119:1.2.10.11.17.18
Luk 17: 26-27
Membangun Peradaban Kasih
Ada seorang anak datang kepadaku dan
bercerita. Ia merasa hingga saat usia dewasa ini, ia belum menerima kasih
sayang yang adil dari orang tuanya. Orang tuanya selalu membandingkan dirinya
dengan saudara-saudaranya. Ketika melakukan suatu pekerjaan, orang tuanya
selalu mengatakan “Kakakmu lebih baik dari kamu” atau “Adikmu lebih hebat
daripada kamu”. Pengalaman ini membuat dia menjadi tidak percaya diri. Ia
seakan mengalami penolakan di dalam keluarga. Ia pernah berpikir seandainya
kalau lahir dengan memilih orang tua maka ia tidak akan memilih kedua orang
tuanya yang dinilainya tidak adil dalam perhatian kepada anak-anak.
Memang banyak pengalaman dan kisah-kisah
yang mirip dengan orang muda ini. Mungkin bukan hanya anak-anak di rumah,
tetapi di sekolah pun bisa terjadi demikian. Para siswa mengalami perlakuan
yang tidak adil dari guru. Mereka dilecehkan dengan kekerasan fisik dan verbal.
Dalam hidup menggereja, banyak umat mengeluh karena para gembala memilih-milih
orang yang dilayani. Para gembala lebih tertarik melayani keluarga yang kaya
dari pada yang miskin.
Bagaimana menyikapi
pengalaman-pengalaman ini?
Yohanes dalam suratnya yang kedua
mengajak kita untuk menyadari makna kasih dan menghayatinya. Yohanes
mengharapkan agar di dalam gereja sebagai satu komunitas, kita saling mengasihi
sebagai saudara. Kasih itu berarti kita harus menuruti perintah-perintahNya dan
perintah itu adalah bahwa “kalian harus hidup dalam kasih" Hidup dalam
kasih karena Kristus yang lebih dahulu mengasihi kita.
Hidup dalam kasih memiliki dampak yang
sangat positif dalam kebersamaan. Kita menghendaki sebuah generasi manusia yang
baik, biarkanlah setiap pribadi bertumbuh dalam kasih. Biarkanlah anak-anak,
para siswa, generasi mudah merasa bahwa mereka di kasih dan bertumbuh dalam
kasih. Hidup dalam kasih juga membantu kita untuk menanti datangnya Tuhan. Kerajaan
Allah yang diwartakan Kristus hendaknya dirasakan dan dialami setiap orang.
Kerajaan Allah adalah kasih!
Dalam bacaan Injil, Lukas mengisahkan
Yesus yang mengulangi kisah-kisah dalam Perjanjian Lama seperti air bah,
musnahnya Sodom dan Gomora, dan hancurnya kota Yerusalem sebagai gambaran akhir
zaman. Kita diperingatkan untuk selalu siap sedia menanti datangnya Tuhan.
Semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara, dan yang harus kita cari adalah
hidup kekal di Surga.
Sabda Tuhan hari ini membuka wawasan
kita untuk berusaha dan bertumbuh dalam kasih. Mari kita membangun sebuah
generasi kasih, generasi dengan peradaban kasih. Dunia tentu akan berubah
menjadi lebih baik. Anda mau?
Doa: Tuhan semoga kami mampu mengasihi.
Amen
PJSDB
No comments:
Post a Comment