Friday, October 2, 2020

Homili 2 Oktober 2020

Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung
Kel. 23:20-23a
Mzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11
Mat. 18:1-5,10.

Kita masih membutuhkan pendampingan

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang bapa. Ia sempat membagikan pengalaman sebagai sosok ayah yang membesarkan kedua anaknya sendiri karena sang istri sudah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. Ia mengaku harus melakukan tugas sebagai ayah dan ibu sekaligus. Masa yang sulit adalah merawat anak bungsu yang ditinggal ibunya saat baru masih berusia 9 bulan. Ia belajar memasak, menyiapkan susu untuk bayi, mencuci, menggosok, membersihkan rumah dan bekerja. Baginya, pengalaman masa lalu adalah guru kehidupan. Pengalaman itu mendewasakannya sebagai ayah yang terbaik. Kedua anaknya pun bertumbuh sehat, menjadi dewasa, kuliah dan kerja. Ia selalu mengingat masa-masa yang sulit itu dengan penuh syukur. Ia merasakan pendampingan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Kini ia tetap mendampingi kedua anaknya supaya mencapai masa depan yang lebih baik. Ia sempat mengatakan bahwa ayah yang baik adalah malaikat bagi anak-anaknya. Pengalaman sosok seorang ayah yang saya ceritakan ini masih ada dalam hidup kita. Mungkin saja anda yang sedang membaca tulisan ini mengalami hal yang mirip. Setelah menunaikan tugas, anda akan merasa diri serupa dengan seorang malaikat pelindung bagi orang lain.

Pada hari ini kita merayakan Pesta Para Malaikat Pelindung. Siapakah malaikat itu? Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Malaikat-malaikat adalah makhluk rohani yang memuliakan Allah tanpa henti-hentinya dan melayani rencana keselamatan-Nya untuk makhluk lain. “Dalam segala pekerjaan baik, para malaikat bekerja sama dengan kita” (Tomas Aqu., s.th. 1, 114,3, ad 3). (KGK, 350). Berkaitan dengan para malaikat pelindung, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan” dan doa permohonan. “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Basilius, Eun. 3,1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristen mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah.” (KGK, 336). Dari Katekismus Gereja Katolik ini, kita semakin mengerti bahwa Tuhan Allah sendiri menugaskan para malaikat untuk mendampingi, melindungi, menggembalakan dan menghantarkan manusia kepada Tuhan.

Kita semua memiliki Malaikat pelindung sebab Tuhan juga mempunya rencana dan maksud yang istimewa bagi kita masing-masing. Perannya sudah jelas sebagaimana diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik bahwa malaikat itu mendampingi, melindungi, menggembalakan dan mengantar manusia kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan sabda yang kita dengar dalam bacaan pertama: "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.” (Kel 23:20). Artinya kita tidak hanya sekedar berjalan bersama Malaikat Tuhan, tetapi juga bersama Tuhan sendiri yang sudah mengutus malaikat kepada kita. Malaikat sebagai pendamping itu berjalan di depan untuk menjaga dan melindungi kita hingga ke tempat tujuan.

Apa yang harus kita lakukan sepanjang hidup ini? 

Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga diri dan mendengar setiap perkataan-Nya. Kita patuh kepada kehendak Tuhan yang ada di dalam diri para malaikat, menjauh dari perbuatan durhaka melawannya. Tuhan sendiri berjanji untuk menjaga dan melindungi kita laksana seorang Gembala yang memperhatikan domba-dombanya. Tuhan mengingatkan kita untuk bertobat dan rendah hati seperti seorang anak kecil supaya layak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa kita perlu menghormati anak-anak kecil? Yesus sendiri mengatakan: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 18:10). 

Kita patut bersyukur kepada Tuhan sebab Ia juga menjadikan kita sebagai malaikat pelindung bagi sesama yang lain. Selagi masih hidup, kita dapat memiliki peran yang baik bagi sesama kita yakni untuk mendampingi, melindungi, menggembalakan dan menghantarkan manusia kepada Tuhan. Tuhan telah melakukannya bagi kita melalui malaikat pelindung, kita pun melakukan hal yang sama bagi semua orang. Itu tanda cinta kasih dan kebaikan bagi sesama.

PJ-SDB

Monday, September 28, 2020

Food For Thought: Saudara kematian terkasih

Saudara kematian yang terkasih 



Selama beberapa hari terakhir ini saya merayakan Ekaristi secara online untuk mengenang umat yang sudah dipanggil Tuhan. Tiga di antara mereka yang saya doakan meninggal dunia karena covid-19. Tentu saja seluruh keluarga merasa kehilangan dan ada perasaan marah kepada Tuhan. Ini memang pengalaman yang sangat manusiawi dan Tuhan tentu mengerti dan peduli dengan situasi dan pengalaman hidup kita masing-masing. Tuhan kita Maharahim dan suka mengampuni orang-orang berdosa. Dia juga akan memberikan Roh-Nya untuk memberi hidup kekal kepada kita. St. Paulus menulis: “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” (Rom 8:11). 

Tentu saja di saat-saat seperti ini keluarga besar yang ditinggalkan butuh penghiburan dan doa dari kita semua yang mengenal atau tidak mengenal mereka. Doa benar-benar menjadi hadiah yang istimewa bagi yang berpulang dan keluarganya yang masih hidup. Doa akan mengubah seluruh hidup kita untuk mengatakan dengan lapang dada bahwa kematian adalah saudara, sebagaimana dikatakan St. Fransiskus dari Asisi. Kita semua dengan lapang dada mengatakan hal yang sama: “Saudara kematian yang terkasih”. Kematian sebagai saudara tidak akan menakutkan karena merupakan saat ‘hidup kita diubah’ menjadi hidup yang baru dan bermakna bagi Tuhan. 

Pada hari ini kita belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati di hadirat Tuhan dan sesama. Kita perlu memiliki semangat anak kecil yang polos, tulus, jujur dalam hidupnya. Dengan hati sebagai anak kecil, kita akan menjadi lebih pantas dalam Tuhan. Kadang-kadang penderitaan dan kemalangan menguasai hidup kita sebagaimana dialami oleh Ayub. Beliau adalah orang kaya dan saleh di hadapan Tuhan. Pada akhirnya dia kehilangan segalanya. Ia digoda untuk meninggalkan Tuhan namun ia tetap setia kepada-Nya. Kata-kata Ayub ini sangat meneguhkan dan menguatkan kita semua di saat yang sulit ini: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21). Kata-kata Ayub ini penuh dengan kebijaksanaan bagi kita. Ketika meninggal dunia, kita tidak membawa apa-apa dari dunia ini. Kita membawa diri kita dan membiarkan Tuhan menguatkan dan mematangkan hidup kita. 

Pada hari ini saya mengulangi kalimat-kalimat ini berkali-kali: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" Ayub adalah pribadi yang kuat. Dalam situasi yang keras ia tetap setia kepada Tuhan dan tidak jatuh ke dalam dosa. 

Tuhan memberkati kita semua, 

PJ-SDB

Homili 28 September 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXVI 

Ayb. 1:6-22 

Mzm. 17:1,2-3,6-7 

Luk. 9:46-50 


Belajar berpasrah kepada Tuhan 

Saya mengenal sebuah keluarga. Hidup mereka sederhana tetapi kelihatan sangat bahagia. Dalam kekurangan, mereka masih terus berderma kepada sesama yang lain. Saya sendiri sampai bingung dengan keluarga ini sebab mereka juga berkekurangan tetapi masih tetap berbagi dengan sesama. Di masa pandemi ini, saya menyaksikan sendiri, mereka menerima bantuan sembako. Setelah menerimanya, mereka masih menyisihkan bantuan itu untuk tetangganya yakni seorang ibu lansia yang tinggal sendirian. Saya bertanya kepada mereka tentang kebiasaan berbagi ini dalam kunjungan keluarga. Inilah jawaban kepala keluarga itu: “Kami memang orang sederhana, tetapi kami sadar bahwa masih ada orang lain yang lebih sederhana dari pada kami. Maka tugas kami adalah menabur sukacita kepada mereka yang lebih membutuhkan daripada kami. Dan Tuhan memang sungguh baik, sebab selama masa pandemi ini, kami tidak mengalami kekurangan apapun. Bantuan tetap ada dan selalu tepat pada waktunya. Bebrbagi itu indah, penting dan harus.” Luar biasa kesaksian keluarga ini dan saya boleh mengatakan keluarga katolik hendaknya seperti ini, tidak takut manjadi miskin. 

Hidup penuh dengan kepasrahan kepada penyelenggaraan ilahi apapun situasinya itu baik adanya. Satu nilai penting yang harus selalu kita miliki adalah kebajikan kerendahan hati. St. Agustinus mengatakan bahwa kerendahan hati adalah kerendahan hati. Kerendahan hati itu menjadi segalanya bagi orang yang berharap kepada Tuhan. Dalam bacaan Injil Lukas hari ini, kita mendengar dua kisah yang membuka pikiran kita untuk mawas diri supaya berpasrah kepada Tuhan dan selalu rendah hati. Para murid Yesus, yang setiap hari tinggal bersama Yesus masih bertengkar di antara mereka tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tuhan Yesus hebat, Dia mengambil sosok anak kecil untuk mengedukasi orang-orang dewasa supaya menjadi seperti anak kecil yang polos, tulus dan jujur. Anak kecil itu duduk di samping Yesus dan menunjukkan kerendahan hatinya yang besar di hadapan para murid yang sudah dewasa. Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Luk 9:48). 

Marilah kita memikirkan diri kita sendiri. Berapa kali dalam sehari kita menjadi pribadi yang congkak hati, memiliki nafsu berkuasa sehingga menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginan pribadi. Misalnya, dalam masa menjelang ‘pilkada serentak’ ini, kita menemukan gerakan-gerakan orang atau kelompok untuk memenangkan pilkada. Untuk memenangkan calon kebanggaan mereka, selalu dilakukan kecurangan-kecurangan, misalnya, mengintimidasi para lawan politik, menyebarkan hoaks dan lain sebagainya. Contoh loinnya, kita sedang berada di akhir bulan September maka media sosial dipenuhi kembali oleh kampanye tentang PKI yang sebenarnya tidak ada lagi. Semua ini karena ada nafsu besar untuk berkuasa. Orang mudah menjadi sombong dan lupa diri bahwa pemimpin adalah pelayan bukan penguasa. Mari kita memandang Yesus. Ia adalah Tuhan, namun Ia masih berlutut di depan manusia pendosa yakni para murid-Nya untuk membasuh kaki mereka. Kapan anda dan saya bisa melakukannya kepada sesama lain? Butuh kerendahan hati bukan nafsu untuk berkuasa. 

Pada bagian kedua dari Injil, Lukas mengisahkan tentang Yohanes yang datang kepada Yesus dan mengatakan tentang orang lain mengusir setan dalam nama Yesus padahal bukan pengikut Yesus sehingga ia melarang mereka. Yesus mengoreksi murid-murid-Nya dengan berkata: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." (Luk 9:50). Yohanes dan para murid lain ternyata tidak jauh berbeda dengan kita. Pikirkanlah perkataan dan perbuatan kita terhadap orang-orang yang tidak seiman. Banyak di antara kita yang cukup sombong mengatakan tentang agama kita sebagai yang terbaik dibandingkan dengan agama lain. Bagi saya lebih terhormat ketika kita betul-betul toleran terhadap sesama. Prinsip yang penting adalah agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Orang boleh beda agama tetapi mereka masih mampu menghayati nilai-nilai universal keagamaan seperti kasih, pengampunan dan lainnya. 

Hidup dengan berpasrah kepada Tuhan memiliki makna yang sangat indah. Ketika kita bisa rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama, ketika kita bisa menghargai charisma sesama yang berbeda maka dunia kita akan penuh dengan keindahan dan kedamaian. Bahwa ada penderitaan dan kemalangan bukan menjadi halangan bagi kita untuk selalu berbagi sukacita dengan sesama manusia. Sosok inspirator bagi kita hari ini adalah Ayub. Ayub adalah orang saleh dan tahan banting ketika imannya diuji. Ia kehilangan segalanya tetapi tetap tabah kepada Tuhan dan tidak membuat dosa melawan Tuhan. Kata-kata Ayub yang menunjukkan kerendahan hati dan kepasrahannya kepada Tuhan adalah: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayb 1:21). Ayub memang sosok yang luar biasa. 

Kapan kita bisa menjadi serupa dengan Ayub? Kelihatannya sulit bagi orang-orang tertentu karena tidak mudah berpasrah kepada Tuhan. Orang mudah mengeluh dan jatuh ke dalam dosa. Kita butuh Ayub untuk menginspirasi dan menguatkan kita semua supaya layak bagi Tuhan.Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan. 

PJ-SDB

Sunday, September 27, 2020

Homili Hari Minggu Biasa ke-XXVI/A - 2020

Hari Minggu Biasa ke-XXVI/A
Yeh. 18:25-28 
Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9 
Flp. 2:1-11 
Mat. 21:28-32 

Saya percaya kepada perubahan 

Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku Let’s Change!, karya Prof. Rhenald Kasali. Pendidik dan pendiri Rumah Perubahan ini menulis dalam buku karyanya ini, sebuah kalimat inspiratif, bunyinya: “Manusia ingin berubah, tetapi tidak mau diubah”. Saya sepakat dengan perkataan beliau ini. Banyak kali orang bercita-cita setinggi langit untuk berubah tetapi tidak membuka diri kepada perubahan. Saya teringat ketika masih menjadi kepada sekolah di sebuah sekolah milik Yayasan kami. Para guru di sekolah itu meminta kepada saya untuk belajar Bahasa Inggris. Saya menemukan seorang sukarelawan dari Australia, native speaker yang hebat. Saya mengingatkan kepadanya untuk memberi test tertulis dan lisan supaya dapat menentukan level mereka sebelum memulai kursus. Ia pun memberi test tertulis dan lisan kepada mereka semua dan hasilnya adalah hampir semuanya mengikuti kelas pemula. Sebagai kelas pemula mereka harus mulai belajar mengucapkan alfabet dari A-Z. Setelah seminggu mengikuti kursus, sudah ada guru yang bolos dan akhirnya ‘muntaber’ alias mundur tanpa berita dan hanya tiga minggu saja kursus saya tutup karena tidak ada guru yang mau melanjutkannya. 

Dalam pertemuan dewan guru, saya bertanya tentang hal ini. Salah seorang mewakili para guru mengatakan: “Pater, kami ini sudah menjadi guru bertahun-tahun. Kami mau berbicara Bahasa Inggris bukan melatih diri untuk melafal Alfabet A-Z seperti anak-anak TKK”. Saya hanya tersenyum mendengar perkataan guru ini, dan memberi komentar singkat: “Bapa dan ibu guru sekalian, untuk Bahasa Inggris, kalian semua memang seperti anak-anak TKK. Hasil test menunjukkan bahwa kalian semua berada di level pemula atau level dasar.” Semuanya diam dan tidak melanjutkan kursus mereka. Orang mau berbicara Bahasa Inggris tetapi tidak mau memulai dari Alfabet, kosa kata dan belajar tata bahasanya. Aneh tetapi nyata. Ada keinginan untuk berubah tetapi tidak mau diubah. 

Kisah singkat di atas menggambarkan hidup banyak di antara kita yang mau berubah tetapi tidak mau diubah di hadapan Tuhan dan sesama. Niat untuk berubah itu tidak cukup, kita harus terbuka untuk berubah dan diubah oleh lingkungan di mana kita berubah. Ketika kita tidak mampu membuka diri untuk diubah maka akan menjadi sulit bagi kita semua supaya menjadi pribadi yang matang. Kita semua harus menjadi agen perubahan yang lebih baik dari saat ke saat. Let’s change! Mari kita berubah. Ini adalah perkataan yang tepat untuk mengubah hidup dan komiten kita kepada perubahan. 

Sabda Tuhan pada Hari Minggu Biasa ke-XXVI/A ini mengarahkan kita untuk membangun komitmen peribadi kita kepada perubahan yang lebih baik. Dalam kacamata kristiani, kita menyebutnya sebagai komitmen kepada pertobatan pribadi yang radikal. Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama, menulis begini: “Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.” (Yeh 18: 26). Ada kalanya kita menjumpai pribadi-pribadi tertentu yang memiliki keperibadian seperti ini. Mulanya dia boleh masuk kategori orang benar dan lurus. Namun perlahan-lahan dia berubah dengan membuat kecurangan sehingga membuat banyak orang merasa heran karena perubahannya ini. Orang seperti ini layak untuk mati karena kecurangannya ini. Nabi Yehezkiel juga mengatakan: “Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” (Yeh 18:27-28). Kalau orang berdosa sadar bahwa dia melakukan perbuatan dosa maka ada kehidupan bukan kematian baginya. Perkataan nabi Yehezkiel mengandung nuansa pertobatan yang radikal atau metanoia. Ada nuansa perubahan yang lebih positif bagi kehidupan kita di hadapan Tuhan dan sesama. 

Nuansa pertobatan juga merupakan nuansa perubahan. Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus berbicara kepada para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi melalui perumpamaan. Ada seorang yang mempunya dua anak laki-laki. Pekerjaannya adalah sebagai petani. Pada suatu hari ia meminta kepada anak yang sulung dan memintanya untuk pergi dan bekerja di kebun anggurnya hari ini juga. Anak sulung ini mengatakan ‘Ya, baik Bapa’ namun dia tidak pergi bekerja. Sang ayah mengatakan kepada anak yang kedua sama dengan perkataan sebelumnya, dan hasilnya adalah ‘anak kedua tidak mau pergi bekerja’ namun setelah merenung sikapnya ini, dia merasa malu, menyesal dan pergi bekerja di kebun anggur tuannya. Dua sikap yang berbeda ini selalu ada di dalam hidup kita. Kadang-kadang kita mengatakan ‘Ya’ tetapi tidak melakukan kehendak Tuhan. Kita juga sering mengatakan ‘tidak’ kepada Tuhan, sering jatuh ke dalam dosa yang sama tetapi mampu berubah dalam hidup karena ada pertobatan bathin. 

Hal lain yang menarik perhatian kita kepada Tuhan adalah pengalaman akan Allah yang tentu berjalan bersama dengan waktu. Pengalaman akan Allah ini menjadi nyata dalam usaha untuk membangun pertobatan yang radikal. Dalam kisah injil ini, Anak kedua tampil beda dari anak pertama. Ia memiliki penyesalan terhadap kesalahan yang sudah dilakukannya dan berniat untuk menjadi baru dengan melakukan kehendak ayahnya. Bagi kita saat ini, ada sebuah persoalan yakni apakah penyesalan dalam diri kita itu bersifat sementara atau berlanjut selamanya. Penyesalan dan pertobatan adalah jalan perubahan dalam hidup manusia. 

Apa yang harus kita lakukan? 

St. Paulus dalam bacaan kedua menghendaki kita semua untuk berubah. Let’s change! Saya mengingat Lao-Zu. Filsuf dari Tiongkok yang hidupnya sekitar tahun 600 SM, pernah berkata: “Kehidupan adalah perubahan yang alami dan spontan. Jangan menolaknya, karena akan menimbulkan kesedihan. Biarlah sesuai dengan kenyataan. Biarkan mengalir secara natural, berjalan seperti apa adanya.” Kita memang harus berubah. Berkaitan dengan perubahan pribadi yang radikal, St. Paulus menulis: “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Flp 2:2-4). Kalau kita menghendaki perubahan maka mari kita berubah menjadi lebih baik lagi. 

Saya menutup homili ini dengan mengutip Mahatma Gandhi, ketika mengatakan: “Jika kamu ingin dunia berubah, jadilah perubahan itu sendiri.” Kita mengubah dunia karena kita berubah bukan karena dunia berubah. Maka arah hidup kita harusnya dari hidup lama ‘tidak’ menjadi hidup baru ‘menyesal dan ya’. Kalau kita hanya tinggal dalam ‘ya’ tetapi ‘tidak’ melakukan kehendak Tuhan maka kita menipu diri kita sendiri. Maka, mari kita berubah! 

PJ-SDB

Saturday, September 26, 2020

Homili 26 September 2020

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXV 

Pkh 11:9-12:8 

Mzm 90: 3-4.5-6.12-13.14.17 

Luk 9: 43b-45 

Mesias yang menderita 

Selama masa pandemi covid-19 ini, banyak umat Katolik yang tidak bisa ke Gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi dan menerima pelayanan sakramen-sakramen lainnya. Untuk perayaan Ekaristi, ada livestreaming sehingga ada kesempatan untuk menerima komuni bathin. Tetapi bagaimana dengan sakramen tobat? Hingga saat ini tidak ada pengakuan dosa online, harus langsung kepada Romo sebagai Bapak pengakuan. Namun belum ada romo manapun yang bersedia menerima pelayanan sakramen tobat, sebab Romo-Romo juga mengikuti peraturan Gereja lokal. Dalam keadaan seperti ini, seorang sahabat mengatakan: “Kita semua merasa dan boleh mengakui bahwa kita sedang menderita karena tidak mendapat pelayanan yang maksimum dari Gereja sebagai akibat dari covid-19. Namun demikian kita juga lupa bahwa Tuhan Yesus lebih menderita akibat dosa-dosa kita. Penderitaan-Nya sebagai Mesias tidak dapat kita pahami dengan akal budi kita.” 

Saya sepakat dengan beliau. Banyak kali kita lupa bahwa karena situasi pandemi covid-19, Gereja melupakan kita, Tuhan juga melupakan kita. Padahal justru Gereja peduli dan berusaha melayani dengan cara-cara yang tepat dan pasti. Misalnya Gereja selalu patuh pada protokol kesehatan yang berlaku. Ini merupakan bukti ketaatan kita sebagai Gereja kepada para pemimpin. Penulis surat kepada umat Ibrani menulis dengan jelas begini: “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibr 13:7.17). 

Pada hari ini kita mendengar kisah Injil yang indah tentang Tuhan Yesus yang sebelumnya diakui sebagai Mesias Anak Allah. Yesus bukanlah sebagai Mesias yang jaya melainkan Mesias yang menderita. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus melakukan banyak tanda heran. Dia juga mengajar dengan kuasa dan wibawa melebih para nabi. Hal ini membuat semua orang merasa heran akan semua karya dan tanda yang dilakukan Yesus di depan mata mereka. Tentu saja semua yang dilakukan Yesus sangat berarti bagi mereka. Namun Ia juga berkata kepada mereka: “Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tanga manusia.” Para murid masih bereuforia karena pengakuan iman bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah. Maka ketika Yesus mengatakan berita tentang penderitaan-Nya, tidak ada di antara mereka yang mengerti dengan perkataan-Nya sebab masih tersembunyi bagi mereka. Roh Kudus belum membuka pikiran mereka untuk memahami perkataan Yesus, terutama rencana keselamatan dari Allah Bapa. Para murid juga tidak berani menanyakan makna perkataan-Nya karena pikiran mereka tetap berpatok pada tanda-tanda yang dilakukan Yesus, sangat nyata dan meyakinkan, lagi pula Dia sudah dikenal sebagai Mesias. 

Suasana komunitas Yesus ini juga merupakan suasana bathin kita semua. Kalau seandainya kita hidup pada masa Yesus, pasti situasinya juga sama. Tuhan Yesus boleh berkata tentang penderitaan-Nya, tetapi kita masih bereuforia dengan diri-Nya sebagai Mesias Anak Allah. Kita lupa bahwa Mesias harus menderita untuk keselamatan kita. Mesias kita itu menderita bukan Mesias yang jaya. Dia harus menderita karena diserahkan ke dalam tangan manusia yang berdosa. Tuhan Allah Bapa sendiri tidak menghentikannya. Dia tetap menyerahkan Anak-Nya yang tunggal karena kasih (Yoh 3:16). Penebusan berlimpah yang kita alami berasal dari kasih Bapa melalui Yesus Kristus. Semua ini kita dapat memahaminya melalui karya Roh Kudus di dalam hidup kita. 

Apa yang harus kita lakukan? 

Kita semua mengikuti Yesus Kristus. Dia menderita akibat perbuatan tangan manusia yang berdosa. Dia wafat dan bangkit dengan mulai untuk menebus dosa-dosa kita. Ini adalah sebuah warta yang penuh sukacita dan penuh dengan nuansa optimisme. Nada-nada optimisme harus kita miliki, bukan berarti kita tertawa di atas penderitaan Yesus, tetapi bahwa kita begitu bernilai di mata Tuhan sehingga Ia mau menderita dan menebus kita. 

Dalam bacaan pertama kita mendengar ungkapan-ungkapan bernada optimisme dari Kitab Pengkhotbah. Kaum muda dinasihati untuk memiliki jiwa yang penuh sukacita selagi masih muda. Kaum muda diharapkan untuk membuang kesedihan dari hatinya, menjauhkan penderitaan dari tubuhnya karena masa muda dan fajar hidup adalah kesia-siaan. Hal terpenting adalah kaum muda selalu mengingat Allah sang Pencipta pada masa mudanya, sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah. 

Pesan pewartaan dari Kitab Pengkhotbah adalah tentang pertobatan. Mudah sekali kita bergembira hingga lupa diri dan melupakan Tuhan. Di saat-saat bahagia, siapa yang masih bersyukur kepada Tuhan? Ternyata tidak semuanya bersyukur kepada Tuhan. Ketika ada kesulitan barulah orang mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah hidup manusia tertentu di hadirat Tuhan. Mari kita berubah. Mari kita berusaha untuk mengikuti dan bersatu dengan Mesias yang menderita yaitu Yesus Kristus Tuhan kita. 

PJ-SDB

Friday, September 25, 2020

Homili 25 September 2020

Hari Jumat Pekan Biasa ke-XXV
Pkh. 3:1-11 
Mzm. 144:1a,2abc,3-4 
Luk. 9:19-22 

Ada waktu untuk mengakui iman kita 

Saya pernah bertemu dengan seorang mantan pimpinan perusahaan terkenal. Bertahun-tahun ia memiliki jabatan penting di dalam perusahaan dan banyak orang mangakui bahwa perusahaan itu pernah mencapai titik keemasan pada masa kepemimpinannya. Kini ia sudah pensiun dan menghabiskan masa tuanya sebagai ketua lingkungan dan prodiakon. Karakter kepemimpinannya tetap nampak dalam pelayanannya. Maka lingkungannya dan kelompok prodiakon juga mengalami pembaruan dalam semangat pelayanannya. Pokoknya maju dan teamwork merupakan andalannya. Saya sempat bertanya kepadanya mengapa sekarang ia begitu focus dalam pelayanan di dalam Gereja? Ia menjawabku: “Romo, bertahun-tahun saya sibuk mencari uang dan pingin menjadi orang kaya. Sayang sekali, tidak kesampaian menjadi orang kaya. Namun sekarang saya menemukan wajah Yesus dalam diri orang-orang miskin dan terlantar. Saya memaknai pengalaman ini sebagai bagian dari rencana Tuhan yang indah pada waktunya. Sayapun berprinsip untuk menjadi kaya dalam iman dengan melayani Tuhan tanpa pamri.” Saya merasa begitu terkesan dengan perkataan beliau. 

Saya merasa yakin bahwa kita selalu menemukan sosok-sosok orang biasa yang menjadi luar biasa dalam pelayanannya. Ia melayani bukan karena ia hebat dan kuat tetapi semata-mata karena mau membalas kasih dan kebaikan Tuhan. Ada pelayan-pelayan Tuhan yang mengalami mukjizat dan sebagai tanda syukurnya, mereka menyediakan waktu untuk Tuhan. Ada yang memiliki waktu atau saat teduh, ada yang menggunakan waktu untuk membaca dan merenungkan Sabda, ada yang terlibat dalam karya sosial karitatif. Semua dilakukan dengan sukarela, penuh dengan sikap lepas bebas. Benarlah perkataan Tuhan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, untuk apa pun di bawah langit ada masanya (Pkh 3:1). Waktu yang ada tidak dapat disia-siakan tetapi digunakan untuk kebaikan yang indah. 

Himne tentang waktu dalam bacaan ini sangat menguatkan karena masuk dalam pengalaman-pengalaman hidup kita yang nyata. Ada waktu untuk lahir dan meninggal, ada waktu untuk menanam dan menuai, ada waktu untuk membunuh dan menyembuhkan, ada waktu untuk memrombak dan membangun. Ada waktu untuk menangis dan tertawa, ada waktu untuk meratap dan menari. Ada waktu untuk membuang batu dan mengumpulkannya kembali. Ada waktu untuk memeluk dan menahan diri untuk tidak memeluk. Ada waktu untuk mencari dan ada waktu untuk menderita rugi. Ada waktu untuk menyimpan dan ada waktu untuk membuang. Ada waktu untuk merobek dan ada waktu untuk menjahit. Ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara. Ada waktu untuk mengasihi dan ada waktu untuk membenci. Ada waktu untuk perang dan ada waktu untuk damai. Lihatlah bahwa segala sesuatu itu memang ada waktunya. Kita membaca: “Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Hanya manusia yang tidak mampu memahami dan menyelami rencana Tuhan. 

Mengapa kita masih kesulitan untuk memahami dan menyelami rencana Tuhan? Karena kita yang mengaku percaya kepada-Nya belum mengenal-Nya secara pribadi. Dalam bacaan Injil kita mendengar bagaimana Tuhan Yesus sedang berdoa seorang diri lalu berdialog dengan para murid mengenai identitas diri-Nya sebagai Mesias yang menderita. Hal pertama yang patut kita renungkan adalah Yesus meskipun Anak Allah namun Ia tetap bersatu dengan Bapa dalam doa. Ia memiliki waktu-waktu tertentu untuk berdoa kepada Bapa. Dia berdoa seorang diri. Apakah kita juga memiliki waktu yang cukup untuk berdoa seorang diri seperti yang Tuhan Yesus lakukan? Untuk segala sesuatu ada waktunya, hanya saja banyak kali kita lalai untuk berdoa secara pribadi. Kalau berdoa seorang diri saja kita lalai, bagaimana kita dapat berdoa bersama-sama dengan orang lain? Selalu saja ada alasan untuk membenarkan diri kita supaya lalai dalam doa secara pribadi dan doa bersama. 

Hal kedua yang penting dalam bacaan Injil adalah ada waktu untuk mengakui iman kita kepada Tuhan Yesus. Kita perlu mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan lebih dalam lagi. Orang lain menyangka bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, Elia atau seorang nabi tempo doeloe dan bangkit kembali. Mengapa mereka senang menyebut Yohanes Pembaptis? Karena Yohaneslah yang menyiapkan kedatangan Yesus sang Mesias, lagi pula banyak di antara mereka adalah murid-murid Yohanes. Nama Elia disebut karena mereka masih memiliki harapan bahwa Elia adalah Mesias yang akan datang kembali. Demikian juga nabi-nabi yang tidak disebut namanya dengan jelas karena keterpesonaan mereka terhadap nabi-nabi masa lalu. Ketika Yesus bertanya kepada mereka tentang siapakah Yesus bagi mereka maka Simon Petrus menjawab: "Mesias dari Allah." Yesus adalah Yang Diurapi dari Allah. Jawaban Petrus sebagai juru bicara para murid bukan dari dirinya melainkan dari Bapa di Surga. Apakah kita memiliki waktu untuk mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya Mesias bagi kita? 

Hal ketiga, Tuhan Yesus adalah sosok Mesias yang menderita. Dia bukan Mesias yang jaya sebagaimana dipikirkan secara manusiawi. Ia berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." (Luk 9:22). Sang Mesias sendiri merasakan ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal dunia. Hal yang sama akan kita alami juga maka kita tidak memiliki hak untuk menolak rencana Tuhan yang terjadi dalam waktu dan terjadi dalam hidup kita. 

Pada hari ini Tuhan menyapa kita supaya selalu menyadari semua waktu sepanjang hidup ini dan mensyukurinya. Semakin kita bersyukur semakin kita menyapa Tuhan dalam doa-doa kita. Semakin kita berdoa kita juga mengenal-Nya lebih dalam lagi. Siapakah Kristus bagimu saat ini? 

PJ-SDB

Friday, September 18, 2020

Homili 18 September 2020

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIV
1Kor 15:12-20 
Mzm 17:6-7.8b.15 
Luk 8:1-3 

Menyertai dan melayani Yesus 

Saya pernah mengikuti perayaan syukur 40 tahun hidup membiara dari seorang suster dari sebuah tarekat. Perayaan Ekaristi berjalan dengan meriah. Semua umat yang hadir merasakan kemeriahannya karena benar-benar dipersiapkan dengan baik. Beliau memberikan sebuah sambutan yang inspiratif dengan mengatakan kepada kami semua yang hadir, sebuah kesaksian hidup pribadinya yang sangat meneguhkan. Inilah kesaksiannya: “Saya senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena selama empat puluh tahun hidup membiara ini, Tuhan Yesus selalu menyertai dan melayani saya. Dia tidak pernah mengeluh karena lelah dalam melayani dan menyertai saya. Justru saya sendiri yang selalu mengeluh dalam menyertai dan melayani Dia dalam kerasulan, padahal tidak seberapa penyertaan dan pelayananku dibandingkan dengan-Nya. Namun pada hari ini saya membaharui diri saya untuk kesekian kalinya supaya saya tetap setia menyertai dan melayani Dia lagi sebab Dia juga tidak pernah berhenti menyertai dan melayani saya. Saya akan memberikan diri untuk selama-lamanya bagi Dia.” Bagi saya ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang juga dirasakan oleh semua orang yang mengabdikan diri seutuhnya bagi Tuhan. 

Banyak kali para pelayan atau abdi Tuhan berpikir bahwa mereka lebih menyertai dan melayani Tuhan. Sebenarnya ketika kita baru berpikir untuk menyertai dan melayani Tuhan, Dia ternyata sudah lebih dahulu melakukannya dalam hidup kita. Kita sebenarnya selalu terlambat dalam melayani dan menyertai-Nya, hanya kita yang tidak menyadarinya. Kita tidak hanya terlambat tetapi kita juga selalu membuat perhitungan tentang berapa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan di dalam Gereja. Ada yang suka menghitung berapa kolekte yang sudah disumbangkan ke Gereja, ada yang menghitung berapa mater lain yang sudah diberikannya kepada Gereja. Begitulah hidup kita di hadirat Tuhan. Kita memang menyertai dan melayani-Nya namun selalu disertai dengan kelemahan-kelemahan yang kita miliki. 

Pada hari ini saya merasa sangat diteguhkan oleh Tuhan Yesus. Ia berkeliling dan berbuat baik dari kota ke kota dan dari desa ke desa untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Tuhan Yesus tidak melakukannya seorang diri. Ia membutuhkan manusia untuk menjadi rekan kerja dan rekan seperjalanan. Maka ada keduabelas murid yang menyertai perjalanan-Nya dan ada juga para wanita yang mengikuti Dia dari dekat untuk melayani-Nya sebagai tanda syukur yang mendalam karena kasih dan kebaikan yang sudah mereka alami dari Tuhan Yesus sendiri. Para wanita itu pernah sakit dan dikuasai oleh roh-roh jahat namun Tuhan menjamah dan menyembuhkan mereka. Penginjil Lukas mencatat nama-nama mereka yakni: Maria yang berasal dari kampung Magdala di Galilea. Tuhan Yesus pernah mengusir tujuh setan yang merasukinya. Para wanita lain adalah Yohan, Istri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi yang menyertai dan melayani Yesus dan para murid-Nya dengan harta kekayaan yang mereka miliki. Mereka tidak membuat perhitungan apapun dengan Yesus. 

Menyertai dan melayani Yesus dalam hidup kita memang benar-benar membutuhkan ketulusan hati. Supaya kita dapat menyertai dan melayani Tuhan dengan sukacita maka harus memiliki semangat rela berkorban, tidak merasa takut untuk menjadi miskin, siap untuk menderita demi iman kepada Kristus. Gereja sepanjang sejara sudah melakukannya sehingga sesulit apapun situasinya, Tuhan tetap memulihkannya. Tuhan sudah menyertai dan melayani kita maka kita tak perlu pelit dalam menyertai dan melayani Tuhan melalui sesama kita. 

Di masa pandemi covid-19 ini, kita selalu menemukan Yesus yang hadir dalam diri saudara-saudari yang sangat membutuhkan. Pada saat ini saya menjadi moderator Pelayanan Belas kasih Allah santu Leopold. Kami selalu mengadakan pertemuan rutin setiap hari Selasa untuk komunitas Lippo Utara dan Hari Rabu untuk Komunitas Citra garden. Para anggota persekutuan adalah orang-orang sederhana, namun mereka memiliki semangat yang tinggi untuk berbagi lima potong roti dan dua ekor ikan kepada sesama yang sangat membutuhkan di masa pandemi ini. Prinsipnya sederhana, kita sebagai orang miskin harus berani untuk melayani sesama yang miskin. Kita berusaha untuk melupakan diri kita dan memajukan pelayanan belas kasih Allah kepada mereka yang lemah dan miskin. Gerakan lima potong roti dan dua ekor ikan ini memang menarik perhatian karena menjadi tanda empati kepada sesama yang menderita. 

Santu Paulus dalam bacaan pertama selalu memberi insipirasi yang bagus. Ia tidak hanya memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus, Ia juga menggambarkan situasi iman kita apabila pewartaannya tentang kebangkitan Kristus tidak terbukti. Pada saat itu masih banyak orang yang meragukan kebangkitan Kristus sesuai pewartaan Paulus. Paulus dengan tegas mengatakan bahwa kalau tidak ada kebangkitan orang mati maka Kristus juga tidak dibangkitkan.Kalau memang demikian maka semua pewartaan Paulus dan rekan-rekannya menjadi sia-sia saja dan sia-sia juga apa yang sudah mereka percaya sebagai jawaban pasti akan pewartaan Paulus. Kalau demikian maka orang-orang Korintus juga masih hidup dalam dosa mereka. Namun Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Kristus telah bangkit dan menjadi sulung dari anatara orag-orang yang sudah meninggal dunia. 

Kita menyertai dan melayani Tuhan untuk memberi diri kita seutuhnya seperti para rasul. Mereka tidak menyesal karena meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus sampai tuntas. Semua karena kasih dari Tuhan yang mereka alami. Kita juga mengalami kasih Tuhan, penyertaan dan pelayanan Tuhan dalam hidup kita. Mari kita menyertai dan melayani Tuhan dengan sukacita. 

PJ-SDB

Thursday, September 17, 2020

Homili 17 September 2020

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIV
1Kor 15:1-11
Mzm 118: 1-2.16ab-17. 28
Luk 7:36-50

Sadar diri sebagai pendosa

Apakah Anda pernah merasa diri sebagai orang berdosa? Apakah Anda pernah merasa diri terusik dengan kebiasaanmu untuk jatuh lagi dan mengulangi dosa yang sama? Kalau Anda merasakan seperti ini berarti Anda masih waras dan berakal sehat. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena pada masa ini banyak orang sudah tidak sadar lagi sebagai orang berdosa. Bagi mereka, soal dosa itu ‘barang’ biasa saja. Maka setiapkali mereka melakukan dosa dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian, mereka tidak menyadarinya atau sengaja tidak menyadarinya. Kalau saja mereka tidak menyadarinya maka mereka juga tidak dapat menyesal dan bertobat. Kita semua pasti mengetahui kisah Kain dalam Kitab Suci. Ia sudah terang-terangan melakukan dosa besar yaitu membunuh Abel adiknya. Namun ketika Tuhan bertanya di mana adiknya, ia menjawab: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4:9). Ini adalah sikap yang turun temurun ada bersama kita, yakini tidak sadar diri sebagai orang berdosa.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok seorang wanita pendosa yang rendah hati. Penginjil Lukas menyebutnya: “Seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa di dalam kota itu”. Kita bisa membayangkan bahwa wanita seperti ini pasti dibully, dilabel sebagai wanita murahan, hanya menjadi pemuas nafsu laki-laki sehingga martabatnya pasti sangat direndahkan masyarakat saat itu. Ketika dia mendengar tentang Yesus, ia datang dengan membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Ia menangis, berdiri di belakang Yesus dekat kakinya, membasuh kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya. Ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Apa yang mau ditunjukkan oleh wanita pendosa yang terkenal di kota itu? Ia adalah wanita yang lebih mulia di hadapan Tuhan dibandingkan dengan orang-orang lain bahkan kita yang membaca dan mendengar Injil ini sebab ia tahu diri, sadar diri dan tidak malu-malu untuk merendahkan dirinya di hadapan Tuhan sebagai orang berdosa. Dia tidak sombong dan bangga sebagai wanita pendosa number one di dalam kota itu tetapi di hadirat Tuhan dia takluk, tunduk, menyesal dan mau bertobat.

Kisah wanita pendosa yang rendah hati ini membuat kita merenung tentang hidup kita sendiri. Sebagaimana saya katakan sebelumnya bahwa semakin dosa orang bertambah maka mudah sekali orang lupa bahwa dirinya adalah orang berdosa, bahkan dosa itu sepertinya biasa-biasa saja. Hilangnya kesadaran diri sebagai orang berdosa ini sedang subur di dalam Gereja. Sakramen tobat sepertinya tidak banyak bermanfaat lagi. Ada romo-romo yang sudah jarang mengaku dosa apalagi umatnya. Ketika umat meminta kesempatan untuk mengakui dosanya, romo selalu memiliki alasan tertentu. Inilah wajah gereja kita saat ini. Mengapa kita takut untuk mengakui diri sebagai orang berdosa? Saya ingat Paus Fransiskus pernah berkata: “Ketika Tuhan mengampuni dosa, Ia langsung melupakannya. Dia melupakan dosa-dosa kita karena Tuhan memang sungguh baik bagi kita. Melalui sakramen tobat, Tuhan sepenuhnya menghapus segala dosa kita. Kita seakan lahir baru dan menjadi ciptaan baru.” Kalau demikian mengapa kita masih malu untuk mengakui dosa-dosa kita? Wanita pendosa di dalam injil itu terkenal di seluruh kota, kita tidak terkenal tetapi malu untuk mengakui dosa-dosa kita.

Tuhan Yesus memang hebat. Ia memberi perumpamaan tentang kualitas pengampunan berdasarkan kuantitas dosa. Ada dua orang yang memiliki utang kepada sang pelepas uang. Orang pertama memiliki utang 500 dinar dan yang satunya 50 dinar. Karena mereka masih kesulitan maka sang tuan menghapus utang mereka. Dari kedua orang ini, orang yang utangnya lebih besar yakni 500 dinar akan lebih banyak mengasihi tuannya daripada yang berutang 50 dinar. Demikian juga semua orang berdosa, orang yang banyak berbuat dosa, ketika mendapat pengampunan maka ia merasa beban yang berat menjadi lebih ringan. Hal ini terjadi dan nyata dalam diri wanita pendosa di kota itu: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih.” Tuhan Yesus melakukan hal yang sama, ketika berkata: “Dosamu telah diampuni”. Dia mengatakan kepada wanita pendosa, kepada Anda dan saya.

Tuhan Yesus adalah pengampun sejati. St. Paulus mengatakan bahwa Kristus wafat karena dosa kita sesuai dengan Kitab Suci. Dia lalu memberikan bukti-bukti autentik tentang kebangkitan Yesus Kristus. Ini adalah bukti-bukti tertua: “Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;  bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” (1Kor 15:4-9).

Santu Paulus membagikan pengalamannya bagaimana ia juga seorang pendosa ibarat seorang anak yang lahir sebelum waktunya. Dia mengakui dirinya sebagai yang paling hina dari semua rasul bahkan tidak layak disebut sebagai rasul. Dia pernah berdosa dan jujur mengakuinya sebagai penganiaya jemaat. Hanya kasih karunia Allah yang dapat mengubah kehidupannya sehingga ia berubah dari Saulus menjadi Paulus. Kasih karunia membaharui hidup Paulus sehingga menjadi rasul agung.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok wanita pendosa dalam Injil dan Paulus yang membagikan pengalaman masa lalu mereka. Mari kita belajar dari kedua sosok ini untuk berubah menjadi lebih baik lagi sebagai anak-anak Tuhan. Berani sadar sebagai orang berdosa, berani rendah hati dan bersujud untuk memohon pengampunan berlimpah dari Tuhan.

PJ-SDB

Wednesday, September 16, 2020

Food For Thought: Keluarga sulit diprediksi


Keluarga tidak dapat diprediksi!

Pada malam hari ini saya melanjutkan bacaan malam saya dari buku ‘The Storm-Tossed Family’ karya Russel Moore. Pada bagian awal buku tentang Salib Sebagai Krisis Keluarga, beliau mengatakan bahwa keluarga itu sulit sebab keluarga tidak dapat diprediksi. Perkataan ini memang hanya bisa dijelaskan oleh Anda sekalian yang menghayatinya dalam keluarga masing-masing. Saya juga dapat memahaminya sendiri dalam konteks kehidupan komunitas saya sebagai soerang Rohaniwan.

Apa yang membuat Moore mengatakan bahwa keluarga itu sulit diprediksi? Ia mengatakan bahwa di dalam setiap keluarga, setiap orang secara pribadi tidak dapat menetapkan kehidupannya sendiri. Ia memberi beberapa contoh, misalnya, kita semua tidak dapat memilih orang tua, gen dan lingkungan di mana kita dibesarkan. Kita lahir dan besar di dalam keluarga dan menemukan model-model yang membentuk kehidupan dan kepribadian kita. Moore juga  memberi contoh yang lain, misalnya orang tidak dapat mengetahui segala sesuatu tentang calon pasangan hidupnya. Orang akan sungguh-sungguh jatuh cinta saat mereka mulai hidup bersama. Keaslian mereka akan nampak dengan sendirian. Para orang tua tidak dapat memaksakan anaknya untuk masuk ke dalam rencana mereka yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Saya merasa bahwa perkataan sekaligus kritikan Moore ini cukup realistis dengan kehidupan keluarga juga pribadi-pribadi masa kini.

Moore juga mengatakan bahwa keluarga  berarti kerentanan. Ada saat-saat di mana kita merasa terluka akibat perlakuan-perlakuan tertentu di dalam keluarga. Anak-anak yang sering dipersalahkan akan mengalami kesulitan-kesulitan bahkan keengganan untuk bersoalisasi dengan sesamanya. Ada trauma psikis yang perlu disembuhkan. Ketika seorang terluka dan kronis, lalu orang tinggal diam saja maka sungguh menakutkan karena dia akan melukai hidup orang lain yang tidak disukainya. Hal yang penting dan menarik perhatian kita adalah pengalaman terluka itu butuh proses pemulihannya. Sehingga bagi Moore, kita perlu belajar untuk mencintai yang lain sehingga kita berharap bisa menjadi pelindung yang baik. Masih banyak orang yang dibully, tunangan yang memutuskan pertunangannya. Dalam keluarga dapat juga dikenal pribadi-pribadi yang menunjukkan kepura-puraan, memiliki topeng monyet. Keaslian kita sungguh nampak dalam hidup bersama di dalam keluarga.

Saya merasa yakin bahwa perkataan Moore juga masuk dalam pengalaman keseharian di dalam rumah tangga masing-masing. Susah diprediksi! Pada saat prewedding, semua begitu bagus serasa surga hanya milik mereka. Ketika menikah semua acara begitu meriah, semua orang mengatakan kata cantik dan genteng, namun setelah beberapa tahun ada perceraian atau salh satunya diam-diam meninggalkan rumah dengan alasan-alasan yang sesuai dengan pribadinya yang tidak masuk akal. Mengapa demikian? Karena sifat egois masing-masing pribadi.  Orang tua terlalu egois sehingga anak-anak menjadi korban. Itulah keluarga yang sulit untuk diprediksi.

Pada hari ini kita diteguhkan dalam keluarga masing-masing. Memang keluarga tidak dapat diprediksi. Namun manusia memiliki akal budi dan hati nurani untuk membentuk keluarganya yang indah dan membahagiakan. Tuhan memberkati dan melindungi keluarga-keluarga kita semua.

P. John Laba, SDB

Food For Thought: Super omnia caritas


Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain

Beberapa hari yang lalu saya diundang untuk merayakan Hari Ulang Tahun pernikahan  ke-24 sahabat-sahabat yang untuk sementara waktu berada di Australia akibat covid-19. Dalam perayaan Ekaristi melalui zoom itu saya mengingatkan mereka akan sebuah kesaksian dari pasangan oma dan opa yang merayakan Hari Ulang Tahun Pernikahan mereka ke-50. Oma dan opa yang meraih emas itu mengatakan bahwa sejak awal mereka sudah berjanji supaya dalam peziarahan bersama sebagai pasutri, mereka berusaha bersama untuk saling memaafkan satu sama lain, berani melupakan kesalahan-kesalahan yang dilakukan masing-masing dan selalu melihat hal-hal terbaik dalam diri pasangannya. Mereka mengakui bahwa ini adalah sebuah perjuangan dan pengurbanan sepanjang hidup mereka. Saya menggunakan contoh pengalaman opa dan oma ini untuk meneguhkan keluarga yang merayakan hari bahagia mereka bersama ketiga anak mereka.

Kasih itu indah ketika diamini dan dialami. St. Paulus memberikan sebuah himne yang indah tentang kasih. Kita membaca dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:  “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” (1Kor 13:4-8). Semua kata yang menghiasi himne tentang kasih ini sangat indah membuat kita semakin mengamini dan mau tetap mengalaminya. Kasih itu bukan perkataan tetapi pengalaman nyata sebab kasih adalah Allah sendiri. Kita sendiri hidup karena kasih.

Saya tertarik dengan perkataan Paulus ini: “Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain”. Orang benar-benar saling mengasihi kalau ia berani melupakan kesalahan orang lain yang berada di sekitarnya. Dia tidak menyimpan kesalahan orang lain. Selagi ia menyimpan kesalahan orang lain maka ia akan tetap mengingat dan mengingat kesalahan itu. Akibatnya adalah muncul rasa benci, dendam dan pikiran jahat lain yang berlawanan dengan kasih. Hati orang itu pun tidak ada damai karena kesalahan orang tetap membayangi pikiran dan kehidupannya.

Mari kita belajar untuk memiliki rasa malu. Kita merasa malu karena kita adalah pengikut Kristus tetapi hidup kita ternyata jauh dari Kristus sendiri. Hidup kita ternyata tidak sinkron dengan perkataan Tuhan Yesus sendiri. Hidup kita tidak jauh berbeda dengan apa yang Tuhan Yesus umpamakan dalam Injil: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.” (Luk 7:31-32). Anak-anak itu tidak saling mendengar musik kehidupan mereka. Mereka tidak membuka hati untuk mendengar dan mengalami Yesus, sang kasih Bapa  dalam hidup mereka. Maka kita belajar untuk malu karena sebagai pengikut Kristus ternyata kualitasnya begitu saja.

Kita bersyukur kepada Tuhan sebab Ia mengingatkan kita akan kasih yang tak berkesudahan. Ia mengingatkan kita akan jati diri-Nya sendiri. Kasih adalah segalanya. Prinsip kita adalah ‘super omnia caritas’ (di atas segalanya adalah kasih). Hanya dengan demikian kita sungguh berada di dalam Tuhan dan Tuhan berada di dalam kita.

PJ-SDB

Tuesday, September 15, 2020

Food For Thought: Memandang wajah sang ibu

Memandang wajah sang ibu

Ave Maria!

Ada seorang anak yang baru sadar ketika ia memandang wajah ibunya, sambil memandang ke sebuah cermin. Ia melihat berbagai macam kemiripan yang ada di wajah ibunya dan di wajahnya sendiri. Semakin lama memandangwajah ibunya, dan semakin sering mengarahkan wajahnya ke cermin, ia merasakan aliran kasih yang begitu besar dari ibu baginya. Ia menangis terseduh-seduh sehingga membuat ibunya kaget. Ibunya bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Ia berdiri dan memeluk ibunya sambil mengucapkan kata maaf sebab ia selalu mengecewakan ibunya dalam hal-hal kecil dan hal-hal besar. Ibunya membisikkan tiga kata di telinganya: “I love You” dan “do not be afraid!” Saya teringat pada Khalil Ghibran. Dalam bukunya ‘The Broken Wings’ beliau menulis: “Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘ibu’ dan panggilan yang paling indah adalah ‘ibuku’. Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.” Bagi saya, kata-kata ini sangat super dan baik buat kita renung bersama.

Banyak di antara kita memiliki pengalaman seperti ini. Berapa kali dalam sehari, sebagai anak kita menyakiti hati orang tua terutama ibu kita? Ada yang hampir setiap saat menancapkan paku di tubuh ibunya dengan perkataan dan perbuatan yang menyakitkan dan mengecewakan hati ibu.  Memang anak-anak mudah lupa akan kasih dan kebaikan ibu sehingga mudah mengecewakan ibunya. Ibu menyayangi anak-anaknya dan bahagaia di rumah sendiri tetapi ketika memasuki usia senja dia menghuni panti jompo dan rumahnya dijual untuk kepentingan anak-anak, bahkan anak-anak masih berebutan warisan. Apakah anak-anak begitu tamak sampai melupakan pengurbanan sang ibu. Dia mengurbankan hidup dan matinya untuk anak-anaknya. Dia rela ‘mengandung’ selama sembilan bulan lebih dengan pengurbanan, kesakitan saat melahirkan dan tersenyum ketika melihat anaknya lahir dengan sehat. Lalu balasanmu sebagai anak? Tetapi sang ibu tidak menghitung-hitung pengurbanannya. Semuanya selalu gratis!

Pada hari ini kita mengenang sosok Bunda Maria berdukacita. Dia adalah Bunda Allah, bunda kita semua yang berdukacita. Ada tujuh duka bunda Maria yang kita kenal secara luas: Nubuat Simeon (Luk 2:34-35), Pelarian ke Mesir (Mat 2: 13-14), Yesus hilang di Bethlehem (Luk 2:43-45), Yesus bertemu dengan bunda-Nya di jalan Salib, Yesus wafat di kayu salib (Yoh 19:25-27), Yesus diturunkan dari Salib (Yoh 19:40), dan Yesus dimakamkan (Yoh 19: 38-42). Ketujuh duka bunda Maria ini menjadi duka kita semua sebagai Gereja. Namun hanya Bunda Maria saja yang mengalaminya secara langsung bersama Yesus Puteranya.

Sosok Bunda Maria adalah sosok yang sangat inspiratif. Kita semua perlu memandang Bunda Maria dan merasakan betapa dia adalah satu-satunya manusia yang mengenal lebih dalam pribadi Yesus, satu-satunya manusia yang sangat super mengasihi Yesus dibandingkan dengan Anda dan saya saat ini. Sebab itu mari kita memandang Yesus, mengikuti teladan hidupnya dalam suka dan duka untuk mengikuti dan mengimani Yesus Kristus.

Santa Perawan Maria yang berdukacita, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB

Saturday, September 12, 2020

Food For Thought: Transformasi Radikal


Butuh transformasi diri

Tuhan Yesus memang hebat. Dia mengajarkan kita banyak hal. Dalam bidang kedokteran dan kesehatan, Ia menjamah dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dalam bidang pertanian, Ia memberikan perumpamaan-perumpamaan yang berkaitan dalam bidang pertanian. Dalam bidang perikanan, dengan hanya bersabda maka para murid mendapat banyak ikan. Dalam bidang meteorologi dan geofisika, Ia membicarakan tentang angin dan perubahan musim. Dalam bidang psikologi, Ia mengajarkan bagaimana memberi koreksi yang baik sehingga relasi antar pribadi tetap baik. Dalam bidang teknik sipil, Ia membicarakan tentang bagaimana membangun rumah yang kokoh yakni dengan menggali fundasi yang dalam dan meletakkan batu sebagai dasar fundasi bukan pasir atau tanah kosong dan masih banyak lagi. Silakan rajin membaca Injil dalam Bulan Kitab Suci Nasional ini dan akan menemukan banyak hal tentang pengajaran Yesus sebagai bentuk pembinaan bagi manusia. Pokoknya, Yesus mengajarkan semua bidang kehidupan manusia supaya manusia benar-benar menjadi manusia di hadapan Tuhan dan sesamanya.

Pada hari ini Tuhan Yesus memberikan wejangan kepada para murid untuk memiliki hikmat yakni melakukan setiap perkataan Yesus. Tidak cukup kita hanya menyebut nama Tuhan yang Kudus, padahal semua perkataan-Nya tidak kita lakukan di dalam hidup ini. Orang yang mendengar Sabda dan melakukan-Nya sama dengan orang berhikmat di mana ia membangun rumahnya dengan menggali lubang yang dalam dan meletakkan batu keras sebagai alas fundasi rumahnya. Orang yang tidak berhikmat tidak mendengar dan melakukan sabda Tuhan. Dia sama dengan orang yang mendirikan rumah dengan alasnya adalah pasir. Rumah seperti ini mudah roboh dan rusak.

Dalam Bulan Kitab Suci Nasional ini, apa yang sudah kita lakukan? Mungkin ada orang membela diri dengan mengatakan sekarang masih pandemi sehingga tidak perlu berkumpul. Itu benar. Tetapi ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Sabda sebagai dasar hidup kita. Misalnya, kita rajin membaca Kitab Suci, kira rajin mendengar Sabda dan yang terpenting adalah kita merenungkan dan melakukannya di dalam hidup kita. St. Yakobus mengatakan: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan pendengar saja.” (Yak 1:22).

Ada juga orang yang mudah dan cepat puas ketika memanggil nama Tuhan, ketika berkumpul dalam persekutuan doanya, menutup mata, mengangkat tangan, berteriak dan memanggil nama Tuhan. Itu memang tidak dosa tetapi akan menjadi sebuah hikmat ketika benar-benar ada transformasi yang radikal dalam diri pribadinya. Ada orang yang senang dengan hal-hal seperti ini tetapi tidak sinkron dengan kehidupan pribadinya. Lebih tepat dikatakan sebagai ‘topeng-topeng rohani’ dalam hidupnya. Orang itu masuk dalam persekutuan doa, melakukan hal-hal bagus seperti ini, namun sisi gelapnya juga muncul dalam motivasinya yang salah: meminjam duit, berselingkuh, kekerasan verbal dan lain-lain di dalam persekutuan doanya. Orang dalam persekutuan doa kog begitu. Ada juga orang yang memiliki alasan ‘demi pelayanan’ tetapi apakah dia memiliki hikmat sehingga pelayanannya itu semakin mendekatkan dirinya dengan Tuhan? Apakah keluarganya semakin baik? Apakah relasi antar pribadinya benar-benar mencerminkan kedekatannya dengan Tuhan? Perkataan Tuhan Yesus ini benar: “Mengapa kalian berseru kepada-ku, ‘Tuhan, Tuhan! Padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan?” Hanya ada kemunafikan di atas kemunafikan.

Mari membangun diri kita di atas Sabda Tuhan. Kita berusaha membaca, mendengar, merenungkan dan menjadi pelaku firman yang handal bagi Gereja, mulai dari diri kita sendiri. Dengan membaca, mendengar, merenungkan dan menjadi pelaku Firman yang handal maka kita akan mengenal dan mencintai Yesus sang Sabda lebih dalam lagi. Kapan? Saat ini juga!

PJ-SDB

Monday, September 7, 2020

Food For Thought: Mengapresiasi kebaikan sesama

Bahagia dengan kebaikan sesama!

Apakah anda merasa bahagia karena orang lain berbuat baik? Atau anda lebih suka iri hati karena orang lain bisa berbuat baik? Banyak di antara kita mungkin pernah mengalami kedua-duanya, yang lain mungkin hanya salah satunya.Tetapi lebih banyak orang memiliki kecenderungan untuk iri hati karena sesama lain berbuat baik. Masih ada orang yang seperti ini, yang ada di sekitar kita dan mungkin juga diri kita sendiri. Persoalannya adalah siapa yang care dengan situasi ini? Siapakah yang berani mengoreksi orang-orang yang memiliki kekhususan seperti ini? Sepertinya sangat sulit bagi orang untuk berubah, ketika dia sudah terbiasa demikian.

Pada hari ini kita berjumpa dengan dua sosok yang luar biasa. Pertama, Tuhan Yesus dalam Injil membuat sebuah mukjizat pada hari Sabat dengan menyembuhkan seorang yang sakit mati sebelah tangan kanannya. Ia meminta kepada orang yang mati sebelah tangan untuk mengulurkan tangannya dan saat itu juga tangannya sembuh. Ini adalah sebuah perbuatan baik yang mestinya diapresiasi. Tetapi apa yang terjadi saat itu? Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi menunjukkan sikap-sikap mereka seperti ini: Legalis yang kaku dan lupa pada kasih dan keadilan, kebiasaan ‘mengamat-amati, kalau-kalau’, marah yang meluap-luap, berunding untuk melakukan sesuatu bagi Yesus. Sikap-sikap seperti ini selalu ada di dalam diri kita saat menyaksikan orang lain berbuat baik. Kita juga punya hobi untuk mengamat-amati kalau-kalau sesama kita berbuat baik. Kita dihadapkan pada dua pilihan yakni untuk tetap berbuat baik atau berhenti berbuat baik. Berbuat baik lalu diapresiasi atau dicemooh.

Kedua, St. Paulus. Kita butuh perubahan. Kita butuh orang yang siap untuk memberi koreksi persaudaraan mana kala kita jatuh ke dalam dosa. St. Paulus pernah menegur jemaat di Korintus karena perbuatan cabul yang terjadi, bahkan dengan orang tua sendiri. Ia dengan tegas mengecam sikap jahat ini sebab bagi dia, bahkan orang yang tidak mengenal Allah tidak melakukannya. Hanya sayang sekali karena orang-orang ini malah bangga karena berbuat dosa. Orang yang sudah terbiasa melakukan dosa yang sama maka mereka tidak merasa bersalah. Padahal terang-terangan mereka melakukannya. Bahkan orang di sekitar juga melindunginya.

Pada hari ini kita butuh perubahan radikal dengan mengapresiasi kebaikan sesama dan mawas diri untuk tidak mengulangi dosa yang sama.

Tuhan memberkatimu,

PJ-SDB

Homili 7 September 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXIII/A
1Kor 5:1-8
Mzm 5:5-6.7.12
Luk 6:6-11

Masih ada yang bangga karena berbuat dosa

Apakah Anda pernah mendengar seseorang yang bangga setelah berbuat dosa? Mungkin saja Anda menikmati cerita tentang perbuatan dosanya itu, padahal ceritanya itu juga menyesatkan atau menjatuhkanmu ke dalam dosa. Banyak kali kita memang tidak sadar untuk mengikuti saja alur-alur cerita dosa pribadi orang tersebut padahal saat itu kita juga jatuh dalam dosa melalui pikiran dan perkataan. Sebagai contoh: sebagai orang dewasa, kadang-kadang ketika bepergian bersama dalam kendaraan, para bapa bercerita tentang pengalamannya dengan pasangannya atau dengan wanita lain.Para ibu bercerita tentang pengalamannya bersama pasangannya atau dengan laki lain. Umumnya mereka semua tertawa seakan-akan sama-sama menikmati cerita-cerita tersebut. Orang yang berbuat dosa menjatuhkan sesamanya ke dalam dosa. Ada orang yang setelah merampok atau menjambret masih bercerita dengan bangga karena sudah melakukannyaa. Orang yang melakukan kekerasan fisik dan verbal masih berbangga dengan perbuatannya itu di hadapan orang lain. Masih banyak contoh-contoh lain yang selalu terjadi di antara kita. Ada orang yang menyesal setelah ikut terlibat dalam cerita-cerita ini, ada yang lain merasa semuanya biasa saja. Tak ada perasaan bersalah dalam dirinya.

Saya merasa yakin bahwa pengalaman-pengalaman ini selalu terjadi dalam hidup kita. Kita semua adalah manusia bukan robot dan tentu mengalaminya dalam hidup kita. Hal terpenting adalah memiliki kemampuan untuk sadar diri bahwa semua tindakan kita dalam pikiran, perkataan dan perbuatan serta kelalaian dalam hidup kita adalah dosa.Kalau ada kesadaran seperti ini maka kita juga akan berusaha untuk meminimalisir kejatuhan kita atas dosa yang kita lakukan bagi diri kita dan menjatuhkan orang lain ke dalam dosa.Kita mesti berusaha untuk menjauhi anggapan bahwa persahabatan itu menjadi akrab kalau ada bumbu-bumbu dosa yang membuat kita tertawa bersama teman-teman dan lain sebagainya.

Pada hari ini kita semua dicubit oleh Santu Paulus. Dalam bacaan pertama yang diambil dari suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus mengungkapkan perasaan kecewanya kepada jemaat yang melakukan dosa percabulan. Percabulan yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah tetapi masih dilakukan oleh orang-orang yang sudah mengenal Allah dan Injil Suci. Dosa percabulan yang dimaksudkan adalah ada orang yang hidup dengan istri ayahnya. Orang-orang yang hidupnya demikian masih sombong dan bangga karena hidup demikian. Paulus mengatakan, seharusnya berdukacita menyingkirkan atau menjauhi orang yang seperti itu. Memang ini adalah perbuatan yang aneh tetapi masih sering terjadi dalam masyarakat kita. Ada kalanya pelecehan seksual itu dilakukan oleh orang-orang terdekat, ibarat pagar makan tanaman. Misalnya, seorang ayah dengan anaknya atau ibu dengan anaknya. Sorang anak laki-laki dengan ibu kandung atau ibu tirinya seperti terjadi di Korintus. Bagi Paulus, hal-hal seperti ini harus disingkirkan, dijauhi bukan dibanggakan. Orang yang bangga dengan dosa-dosa seperti ini tidak memiliki hati nurani.

Paulus adalah seorang pemimpin sejati. Meskipun ia merasa jauh secara fisik namun tetap dekat dan hadir secara rohani. Ia memiliki tanggung jawab moral terhadap jemaat yang sudah menerima pewartaan Injil melalui pewartaannya. Maka ia mengajak jemaat yang masih berhati nurani untuk berkumpul bersama-sama dalam Roh dan percaya kepada Tuhan Yesus untuk menjauhi orang yang melakukan dosa-dosa percabulan, bahkan tak tanggung-tanggung Paulus mengajak mereka untuk menyerahkan orang seperti itu kepada iblis dalam nama Tuhan Yesus supaya binasa secara fisik tetapi rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. 

St. Paulus menghendaki supaya orang jangan sombong ketika melakukan dosa-dosa tertentu. Hal terpenting adalah meningglkaan hidup lama yang penuh dosa dengan hidup baru di dalam Kristus. Hidup lama itu ibadat hidup dengan ragi yang lama, berupa keburukan dan kejahatan, artinya hidup penuh dosa yang merasuki hati dan jiwa kita. Seharusnya kita masing-masing berusaha untuk menjadi adonan baru karena kita tidak beragi. Tuhan Yesus sang Anak Domba sudah mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan kita semua. Sebab itu janganlah bangga kalau barusan berbuat dosa atau menjatuhkan orang lain ke dalam dosa.

Dalam bacaan Injil, kita mendengar kisah Yesus yang membuat sebuah mukjizat pada hari Sabat. Ia menyembuhkan seorang yang sakit sebelah tangannya. Ia menunjukkan belas kasihan kepada orang yang sangat menderita sehingga Ia meminta supaya orang sakit itu mengulurkan tangannya supaya disembuhkannya. Mukjizat pun terjadi, orang sakit tangan itu menjadi sembuh. Ini adalah sebuah perbuatan baik yang sebenarnya harus disyukuri. Namun ada lawan-lawan Yesus yakni para ahli Taurat dan orang-orang Faris yang bangga dalam zona nyaman mereka dan mencari kesalahan Yesus yang berbuat baik. Sikap-sikap mereka yang tidak harus kita ikuti karena menunjukkan kesombongan mereka adalah: ‘mengamat-amati Yesus kalau-kalau’. Ini selalu mereka lakukan padahal Yesus berbuat baik. Banyak kali kita juga mengamat-amati hidup sesama dengan pikiran yang bukan-bukan. Kita merasa lebih baik dari orang lain yang berbuat baik padahal tidaklah demikian. Tuhan Yesus mengenal dan mengetahui pikiran kita. Sikap lain adalah rencana busuk dan amarah mereka untuk membunuh Yesus karena Yesus berbuat baik.

Hidup kita selalu dihiasi oleh aneka macam sikap hidup. Banyak kali kita juga bangga karena melakukan perbuatan dosa. Mungkin kalimat ini bisa mengoreksi kita, “Buat dosa kog bangga, mana hati nuranimu?” Banyak kali kita juga tidak menysukuri orang lain yang berbuat baik. Kita malah mencari-cari kesalahannya dan mau menjatuhkan pamornya. Kita sering bangga karena menjatuhkan pamor orang yang berbuat baik. Seharusnya kita mengapresiasi perbuatan-perbuatan baik. Maka mari kita meninggalkan ragi yang lama supaya dapat menjadi adonan baru yang bagus, indah dan berkenan bagi Tuhan dan sesama.

PJ-SDB

Saturday, September 5, 2020

Homili 5 September 2020


Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXII
St. Theresia dari Kalkuta
1Kor. 4:6b-15
Mzm. 145:17-18,19-20,21
Luk. 6:1-5

Kasih dan kebaikan itu penting!

Pada hari ini Gereja Katolik mengenang Santa Theresia dari Kalkuta. Orang kudus modern ini sangatlah inspiratif, melalui hidup dan karyanya. Ia pernah berkata: “Kita perlu menemukan Tuhan, dan dia tidak dapat ditemukan dalam kebisingan dan kegelisahan. Tuhan adalah teman kesunyian. Lihatlah bagaimana alam – pohon, bunga, rumput tumbuh dalam keheningan; melihat bintang-bintang, bulan dan matahari, bagaimana mereka bergerak dalam keheningan … Kita perlu keheningan untuk dapat menyentuh jiwa.” Saya merasa yakin bahwa perkataannya ini bukanlah sebuah teori, tetapi sebuah kenyataan yang dialaminya sendiri selama menjadi rasul bagi kaum papa miskin di Kalkuta. Dalam suasana kebisingan dan kemiskinan kota Kalkuta, beliau mengalami sebuah kesunyian yang luar biasa, yang tidak dapat menghalanginya untuk melayani orang-orang miskin, hingga wafat bersama orang-orang miskin. Allah hadir dalam kesunyian, dalam angin sepoi yang menyejukkan dan mendamaikan. Perkataan kedua yang inspiratif bagi saya hari ini adalah: “Sebarkan cinta ke mana pun Anda pergi. Jangan biarkan ada yang datang kepadamu, dan pergi tanpa merasa lebih bahagia.” Kasih adalah segalanya dan kita harus berani membuka diri sehingga orang dapat mengakses kasih di dalam hidup kita. Orang yang datang harus merasa bahwa mereka di kasihi dan ketika pergi, mereka membawa kasih bagi hidup mereka.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan kisah Yesus dalam Injil. Hari sebelumnya, kaum Farisi mempertanyakan Yesus tentang kebiasaan berpuasa. Tuhan Yesus dengan tepat mengatakan bahwa para sahabat mempelai tidak harus berpuasa selagi sang mempelai masih ada. Puasa hanya akan terjadi ketika sang mempelai diambil dari tengah-tengah para sahabatnya. Sang mempelai adalah Yesus, sedangkan para sahabat adalah murid-murid-Nya atau Gereja saat ini. Tinggal bersama Yesus berarti mengalami sukacita abadi. Namun demikian setiap pribadi harus bersuaha untuk mengosongkan diri, menyangkal diri dan memikul salib dalam hidupnya setiap hari. Selanjutnya, perikop Injil kita hari ini mengisahkan tentang bagaimana orang harus berpegang teguh pada adat istiadat Yahudi, khususnya tentang Sabat dan puasa.

Dikisahkan oleh Penginjil Lukas bahwa Yesus dan para murid-Nya sedang berjalan-jalan pada hari Sabat. Ketika menjelang siang, mereka kelaparan sehingga mereka memetic bulir gandum, menggisarnya dengan tangan dan memakannya. Kaum Farisi merasa terganggu karena para murid Yesus melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Hal ini juga menjadi alasan bagi Yesus untuk menjelaskan makna Hari Sabat bagi mereka. Yesus mulai dengan mengutip Kitab Pertama Samuel yang mengisahkan tentang kedatangan Daud dan pasukannya ke rumah Allah dan memakan semua roti sajian yang hanya dapat disantap oleh para imam. Kitab baca dalam Kitab Pertama Samuel: “Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu sudah diangkat dari hadapan Tuhan, supaya bisa meletakkan roti segar sebagai gantinya pada hari roti itu diangkat.” (1Sam 21:6). Terhadap situasi ini Tuhan Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (Luk 6:5).

Santu Gregorius Agung menangkap ide ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’ dan mengatakan: “Bagi kita, Yesus adalah hari Sabat yang benar, Dialah penebus kita.” Tuhan Yesus sebagai tuan atas Hari Sabat memungkinkan kita untuk menguduskan hari istimewa itu bagi Tuhan. St. Yohanes Paulus II mengatakan: “Kita perlu mengungkapkan rasa sukacita kita karena Hari Sabat pertama diperuntukan bagi manusia, sekarang ini Hari Sabat diungkapkan dengan gembira karena Kristus sungguh bangkit dan menampakkan diri kepada para murid-Nya. Pada saat itu Ia menganugerakan damai-Nya dan karunia Roh Kudus (Yoh 20:23). Dalam cahaya misteri ini, perintah Perjanjian Lama mengenai Hari Sabat ditemukan ulang, disempurnakan, dan diwahyukan dalam kemuliaan, yang bersinar pada wajah Kristus (Dies Domini, 18).

Banyak kali kita menemukan sosok-sosok yang sangat legalis. Orang-orang Yahudi memiliki 613 hukum dan ketetapan (mitzvot) yang bernilai positif dan negatif, dan harus dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Ini adalah hukum dan ketetapan yang harus dilakukan oleh kaum Yahudi. Maka ketika melihat orang tidak berpuasa atau tidak membasuh diri, mereka akan marah dan membully sesama yang lain. Bagi saya hal terpenting adalah orang harus hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan.

Apa yang harus kita lakukan?

Supaya orang dapat hidup dalam kasih dan kebaikan maka sesuai nasihat santu Paulus (1Kor 4: 6b-15), tidak ada seorang pun berhak untuk memegahkan diri dan merasa penting dalam hidup bersama sebagai jemaat. Hal terpenting adalah mengutamakan sesama bukan mengutamakan diri sendiri sebagaimana diteladani Apolos dan Paulus. Kata-kata Paulus sangat mengesankan kita: “Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” (1Kor 4:10-13).

Pada hari ini mari kita belajar untuk mengasihi dengan kasih Tuhan sebagaimana diteladani santa Theresia dari Kalkuta. Kita membuang sikap Farisi yang selalu merasuki hidup kita, dengan hanya mengobservasi hukum dan ketatapan tetapi tidak melakukannya dalam hidup sehari-hari. Hidup kita bermakna ketika kita memperjuangkan kasih dan keadilan bagi semua orang.

PJ-SDB