Wednesday, July 29, 2020

Food For Thought: Jangan berhenti dalam berjuang

Jangan berhenti dalam berjuang

 

Ada seorang pemuda yang mengirim pesan kepadaku supaya menyediakan waktu sejenak baginya. Ia lalu menelpon saya seraya meminta pendapat tentang persoalan yang sedang di hadapinya di tempat kerja di masa pandemic covid-19 ini. Ia sedang merasa khawatir karena perusahaannya sedang memangkas jumlah karyawan dengan alasan efisiensi. Dia merasa bahwa dia bukan menjadi target karena perusahaan masih membutuhkannya. Namun perasaan takut, cemas selalu menghantuinya hingga dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk istirahat malam. Dia berdoa memohon kekuatan dari Tuhan, hanya belum memperoleh pemulihan secara menyeluruh.

Saya mendengar dan menyimak semua perkataannya. Saya merasa yakin bahwa dia tidak sendirian, tetapi masih banyak orang yang sedang tertekan secara psikologis. Mungkin anda juga salah satunya. Pada saat ini kita semua tidak dapat mengelak dengan suasana seperti ini. Banyak orang kehilangan nyawa, pekerjaan dan aneka kebutuhan hidupnya. Apakah dalam suasana seperti ini orang harus berhenti dalam berjuang? Jawabannya tentu tidak! Setiap orang harus tetap berjuang untuk menjadi bagi dirinya sendiri. Hidup tanpa perjuangan tidak akan membuat kita meniadi manusia. Maka setiap orang harus berjuang untuk hidupnya dan hidup sesama.

 

Saya mengingat Paulo Coelho. Ia pernah berkata: “Berjuanglah untuk apa yang kita yakini, tanpa berusaha membuktikan apa pun kepada siapa pun; tetaplah tenang dan tidak banyak berbicara, sebagaimana orang yang telah memiliki keberanian untuk menentukan takdirnya sendiri.” Saya merasa bahwa perkataan ini sangat menguatkan kita semua di saat mengalami kesulitan, bertambahnya beban hidup dan saat kita harus membuat discernment untuk kebaikan pribadi dan demi semua orang. Teruslah berjuang sesuai keyakinanmu, bukan keyakinan orang lain.

 

Mari kita terus berjuang untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Kemalasan diolah menjadi kerajinan yang berkualitas. Ketika kemalasan mematikan perjuangan hidup maka kita gagal menjadi manusia yang berakal budi. Tuhan memberkati kita semua.

 

PJ-SDB 

Tuesday, July 28, 2020

Food For Thought: Belajar dari nabi Yeremia


Belajar dari nabi Yeremia

Belakangan ini media sosial menampilkan sosok-sosok pemuka agama yang tidak membawa kesejukan dalam masyarakat kita. Ada pemuka agama yang mengharamkan go food, jersey ‘setan merah’, kue klepon yang tidak islami, larangan mengunjungi candi Borobudur karena itu menyembah berhala, larangan memanggil Bunda karena berhubungan dengan ‘Bunda Maria’, larangan menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung, larangan menonton drama Korea dan masih banyak lainnya. Memang aneh tapi nyata dalam masyarakat kita. Pemuka agama mencari legitimasi dengan komunikasi yang aneh. Di samping itu fenomena para mualaf yang belum mengerti betul ajaran agama barunya tetapi mencari ‘penggemar’ dengan membenci agama asalnya, yang juga tidak dipahaminya dengan baik. Para pemuka agama ini memang tidak membawa kesejukan, lebih menjadikan agama sebagai bahan dagangan. Saya merasa yakin bahwa kita semua mendapatkan informasi-informasi seperti ini dari media sosial. Sangat meresakan banyak orang yang berakal sehat.

Pada hari ini saya terpesona dengan sosok nabi Yeremia. Ketika itu orang-orang Yehuda jatuh ke dalam dosa. Mereka tegar tengkuk, tidak mendengar suara Tuhan, mereka menyembah berhala. Situasi seperti ini memang memanggil Yeremia untuk menyuarakan kebenaran. Apa yang dilakukannya? Ia tidak mengandalkan dirinya tetapi mengandalkan Tuhan yang mengutusnya. Sebagai utusan Tuhan ia berdoa supaya Tuhan memberikan kerahimannya kepada orang-orang Yehuda. Inilah doanya: “Ya Tuhan, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya Tuhan Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?” (Yer 14:20-22).

Nabi Yeremia mengajar kita semua untuk sadar diri sebagai orang berdosa, dan rendah hati untuk memohon pengampunan berlimpah dari Tuhan. Hal penting bagi kita adalah tahu diri bahwa kita ini orang berdosa sehingga dapat memohon ampun. Kerahiman Tuhan akan mengalir, menguduskan orang berdosa yang mau bertobat. Andaikan semua pemuka agama berlaku seperti Yeremia maka dunia ini tentu akan berbeda. Kebencian dikalahkan oleh kebaikan. Kedamaian mencapai kejayaannya. Mari belajar dari Yeremia.

Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

Homili 28 Juli 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XVII
Yer. 14:17-22
Mzm. 79:8,9,11,13
Mat. 13:36-43

Saatnya untuk bertobat

Adalah Joseph Joubert (1754-1824). Beliau adalah salah seorang penulis kenamaan berkebangsaan Prancis. Ia pernah berkata: “Penyesalan adalah hukuman atas kejahatan; pertobatan adalah penebusan. Seseorang menjadi bagian dari hati nurani yang tersiksa; yang lain menjadi jiwa yang berubah dengan lebih baik.” Saya merasa yakin bahwa hampir semua orang pernah melakukan kejahatan dalam hidupnya. Apakah orang itu selamanya tinggal dan menikmati kejahatannya? Saya kira tidak akan terjadi. Orang itu pasti merasa hati nuraninya tersiksa dan ia akan menyesali segala kejahatannya. Orang itu akan bertobat, mengalami penebusan sebab jiwanya berubah lebih baik. Maka saya selalu yakin akan perubahan. Manusia bisa berubah menjadi lebih baik lagi dalam hidupnya. Maka ada satu saat yang penting dalam hidup manusia yakni saat untuk bertobat sehingga dapat memperoleh penebusan berlimpah dari Tuhan. Pertobatan membuat orang bercahaya seperti matahari.

Tuhan pernah merasa kecewa dengan bangsa Israel. Memang Ia telah memilih mereka menjadi bangsa pilihan, umat kesayangan-Nya. Ia memiliki inisiatif untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, mendampingi mereka dalam perjalanan di padang gurun menuju ke tanah Kanaan, melenyapkan setiap musuh yang menghalangi mereka dalam perjalanan di padang gurun. Ketika ketiadaan makanan dan minuman, Tuhan menyediakannya bagi mereka. Namun balasan mereka kepada Tuhan adalah sedikit bersyukur dan lebih banyak mengeluh, mengeraskan hatinya, bertegar tengkuk dan mencobai Tuhan Allah. Ini benar-benar merupakan periode kegelapan dalam hidup manusia di hadirat Tuhan. Hingga saat ini kita masih menemukan banyak orang bahkan diri kita sendiri yang belum tahu bersyukur, sebaliknya lebih banyak menuntut kepada Tuhan. Ada orang yang kelihatan lebih memprioritaskan dosa dan salah dari pada kasih dan kebaikan. Butuh penyesalan dan pertobatan yang radikal.

Nabi Yeremia dalam bacaan pertama menunjukkan wajah manusia yang sebenarnya. Manusia yang tadinya menikmati dosa dan nyaman dalam dosa, kini sudah mulai sadar diri untuk menyesal dan bertobat. Perubahan radikal itu terjadi karena kasih dan kebaikan Tuhan tidak pernah berubah. Sikap bathin yang tepat adalah sebagaimana dikatakan dalam Kitab Mazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mzm 118:29). Allah begitu setia dan sabar kepada manusia yang berdosa. Ketika itu nabi Yeremia berkata kepada Tuhan tentang situasi ‘musim kering’ yang sedang dialaminya di tengah umat yang berdosa. Situasi umum digambarkan Yeremia seperti ini: Orang-orang yang tidak mau bertobat itu laksana orang yang luka parah, atau yang mati terbunuh di padang akibat pedang. Di dalam kota sendiri ada kelaparan yang menguasainya. Para nabi seakan menjelajahi negeri yang tidak dikenalnya. Gambaran ini memang menandakan kegelapan akibat dosa. Yehuda ibarat ikat pinggang lapuk yang tidak menyatu dengan Tuhan.

Dalam situasi seperti ini, nabi Yeremia memohon kerahiman Allah bagi manusia. Yeremia percaya bahwa Tuhan itu sabar, ia telah membiarkan orang baik dan orang jahat hidup berdampingan ibarat gandum dan lalang di kebun. Nabi Yeremia bertanya kepada Tuhan, apakah Tuhan benar-benar menolak Yehuda? Apakah Tuhan benar-benar muak dengan kota Sion? Yeremia melihat begitu banyak penderitaan yang dialami manusia: mereka yang terluka, meninggal dengan menumpahkan darah dan yang mengalami kelaparan. Ini rasanya seperti pukulan yang tidak menyembuhkan bagi Yehuda. Yeremia lalu membuka hatinya kepada Tuhan bahwa yang dibutuhkan manusia adalah damai sejahtera, dan kesembuhan. 

Inilah doa Yeremia untuk memohon kerahiman Allah bagi Yehuda: “Ya Tuhan, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya Tuhan Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?” (Yer 14:20-22). Orang yang sadar diri bahwa ia orang berdosa akan melakukan pertobatan dan mengalami kembali kasih dan kerahiman Allah. 

Dari nabi Yeremia kita belajar bahwa sebagai seorang Utusan Tuhan, ia harus membawa kesejukan bagi orang berdosa supaya mereka bertobat bukan untuk menambah dosa. Ia menerangkan tentang Allah Yang Maharahim bukan tentang hukuman dan neraka yang menakutkan. Allah yang sabar terhadap manusia yang jahat dan mengampuni dengan kasih setia-Nya. Seandainya para pemimpin agama masa kini bersikap seperti nabi Yeremia maka dunia tentu akan berbeda. Para pemimpin agama membawa semua orang kepada Tuhan. Pemimpin agama bukan untuk mengeruhkan suasana masyarakat akibat perkataan dan pengajarannya.

Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, kita semua memiliki tugas mulia untuk membangun dunia yang harmonis sesuai kehendak Allah. Bahwa ada kejahatan, penderitaan dan kemalangan yang menimpa kita semua seperti covid-19 ini, tidak harus membuat kita tetap tinggal dalam kegelapan. Kita harus berusaha untuk keluar dari situasi ini untuk melihat terang. Kerja sama untuk melawan kejahatan, radikalisme dan hal-hal yang melawan hak-hak hidup manusia harus menjadi prioritas kita.

Kedua, kita semua dipanggil dan diutus Tuhan untuk membawa kesejukan kepada sesama. Tugas kita bukan memperkeruh suasana, menjadikan agama sebagai bahan dagangan, menyebarkan berita hoax dan aneka label yang tidak manusiawi. Kita memperjuangkan sebuah dunia yang baru, penuh kedamaian.

Ketiga, Membangun semangat tobat. Bertobat itu adalah sebuah kebutuhan bukan keterpaksaan. Kita bertobat karena kita adalah bagian dari Tuhan bukan dari dunia. Orientasi hidup kita ke depan adalah kebaikan dan kekudusan hidup. Maka dalam pengadilan terakhir Tuhan akan memperhatikan kasih dan kebaikan yang kita lakukan. Dengan demikian ‘orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Sorga’. Ini adalah saatnya untuk bertobat!

PJ-SDB

Monday, July 27, 2020

Food For Thought: Ikat Pinggang Lapuk


Ikat Pinggang Lapuk

Saya memiliki ikat pinggang dan suspender yang dipakai secara bergantian. Saya menyadari bahwa ini adalah kebutuhan pribadi, mengingat bentuk tubuh dan pakaian-pakaian yang saya kenakan. Saya merasa yakin bahwa banyak di antara kita membutuhkan ikat pinggang. Ikat pinggang sering disebut sabuk adalah pita fleksibel, biasanya terbuat dari kulit atau pakaian keras, dan dikenakan di sekitar pinggang. Fungsinya adalah mengikat celana atau bahan pakaian lain supaya jangan meorot, juga berguna sebagai gaya atau mode. Menurut sejarahnya ikat pinggang ini sudah dipakai oleh kaum pria dan wanita sejak Zaman Perunggu. Pada tahub 1920-an orang mulai terbiasa menggunakan ikat pinggang agar celana panjang yang dikenakannya tidak melorot. Sebelumnya, ikat pinggang hanya dikenakan sebagai hiasan atau berkaitan dengan pakaian militer.

Dalam Bahasa Ibrani ikat pinggang biasa disebut 'avnet atau ‘ezor. Ikat Pinggang biasanya dibuat dari bahan kulit kasar, seperti yang melingkar di pinggang nabi Elia (2Raj. 1:8), dan bermanfaat untuk menahan jubah ketika sedang bekerja di ladang. Yohanes Pembaptis memakai ikat pinggang sama seperti Elia (Mrk. 1:6), yang menguatkan seruannya agar bertobat, seperti Elia (Mal. 4:5-6). Ikat pinggang biasa dipakai dalam upacara tertentu. Para imam besardan sejawatnya menggunakan ikat pinggang dalam upacara resmi. Banyak ikat pinggang terbuat dari kain linen yg disulam, berwarna biru, ungu dan merah tua (Kel 28:4, 39,40; 29:9; 39:29; Im 8:7, 13; 16:4), tapi dipakai juga oleh para pemuka lainnya (Yes 22:21).

Pada hari ini kita mendengar kisah di mana Allah menyuruh nabi Yeremia (13:1-11) untuk memakai ikat pinggang linen yg sudah lapuk. Ikat pinggang lapuk ini melambangkan Yehuda yg sudah 'lapuk' tidak berguna lagi untuk apa pun. Mengapa Yehuda diibaratkan dengan ikat pinggang yang lapuk? Ada alasan-alasan tertentu: pertama, Yehuda berkeras kepala dan tidak mau mendengar suara Tuhan. Tuhan mengutus para nabi untuk mengubah kiblat hidup mereka namun mereka tetap menyenangi dosa-dosa mereka. Kedua, Yehuda tidak setia kepada Yahwe. Mereka menyembah berhala. Maka Tuhan berkata: “Bangsa yang jahat ini, yang enggan mendengarkan perkataan-perkataan-Ku, yang mengikuti kedegilan hatinya dan mengikuti allah lain untuk beribadah dan sujud menyembah kepada mereka, akan menjadi seperti ikat pinggang ini yang tidak berguna untuk apapun. Sebab seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan segenap kaum Yehuda Kulekatkan kepada-Ku, demikianlah firman Tuhan, supaya mereka itu menjadi umat, menjadi ternama, terpuji dan terhormat bagi-Ku. Tetapi mereka itu tidak mau mendengar." (Yer 13:10-11).

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga termasuk ikat pinggang linen yang lapuk? Mari kita memeriksa bathin dan mengakui kesalahan kita dari hidup kita yang lapuk.

PJ-SDB

Homili 27 Juli 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XVII
Yer. 13:1-11
MT Ul. 32:18-19,20,21
Mat. 13:31-35

Berani Melawan Lupa

Ada seorang pemuda yang pernah bertanya kepada saya: “Romo, apakah anda juga seorang pelupa?” Saya hanya tersenyum karena pertanyaannya ini memang sederhana namun mendalam maknanya. Saya mengatakan kepadanya: “Selagi saya masih hidup maka saya sudah, sedang dan akan lupa pada seseorang atau sesuatu.” Saya merasa yakin bahwa hampir semua orang pernah, sedang dan akan lupa sesuatu atau seseorang. Pikirkanlah bahwa kita bisa saja lupa akan semua hal baik yang berasal dari Tuhan dan hanya mengingat segala penderitaan dan kemalangan yang dalam kategori pemikiran kita, semuanya adalah hukuman dari Tuhan. Ada berapa orang yang sedang mengeluh dan memberontak kepada Tuhan karena dampak pandemi Covid-19 ini. Kita lebih sering hanya mengingat hal-hal yang jahat dalam diri sesama dan melupakan kebaikan-kebaikan mereka. Semua ini adalah bagian yang penting dalam diri dan menemani sepanjang hidup kita.

Saya mengingat sebuah perkataan Tuhan Allah kepada Bangsa Israel di dalam Kitab Ulangan, seperti ini: “Hai umat, engkau telah melalaikan Gunung Batu yang memperanakkan dikau, dan melupakan Allah yang melahirkan dikau. Ketika Tuhan melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan.” (Ul 32:18-19). Fokus perhatian saya adalah pada perkataan ini: “Engkau melupakan Allah yang telah melahirkanmu.” Perilaku melupakan Tuhan dalam hidup manusia itu telah berlangsung turun temurun bahkan hingga saat ini. Contoh: Bangsa Israel mengalami kasih dan kebaikan Tuhan Allah. Ia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, mendampingi mereka dalam pengembaraan di padang gurun menuju tanah terjanji di bawah pimpinan Musa. Semua musuh mereka dalam perjalanan ditaklukan karena kuasa Tuhan sang Gunung Batu. Ketika mereka kekurangan pasokan makanan dan minuman, Tuhan menyediakan bagi mereka. Namun bangsa Israel ini tegar tengkuk. Mereka mudah lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan sehingga yang ada pada mereka adalah bersungut-sungut melawan Tuhan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mambantu kita untuk melawan lupa, terutama lupa akan Tuhan sang Gunung Batu yang sudah melahirkan kita. Dia menciptakan kita sesuai dengan gambar dan rupa-Nya, tetapi kita lebih memilih menjauh dari sang Pencipta, dari wajah-Nya yang kudus. Ini adalah pengalaman kita semua ketika jatuh ke dalam dosa. Dalam bacaan pertama, kita mendengar Tuhan mengibaratkanbangsa Isarel sebagai ikat pinggang yang lapuk, akibat dosa dan salah yang mereka lakukan di hadirat-Nya Yang Mahakudus. Sebagaimana dikisahkan sendiri oleh nabi Yeremia bahwa Tuhan memintanya untuk membeli ikat pinggang lenan, lalu mengikatnya pada pinggangnya. Hanya saja saat itu ia jangan mencelupkannya ke dalam air. Selanjutnya, Tuhan menyuruh nabi Yeremia untuk melepaskan ikat pinggangnya itu dan menyembunyikannya di cela-cela bukit batu di dekat sungai Efrat. Setelah cukup lama, Tuhan menyuruhnya untuk mengambil kembali ikat pinggang itu. Dia menemukan ikat pinggangnya itu sudah lapuk, tidak berguna lagi untuk apapun.

Pengalaman nabi Yeremia ini sangatlah mendidik. Tuhan mengingatkannya bahwa bangsa Israel juga lapuk seperti ikat pinggang lapuk. Inilah perkataan Tuhan: “Beginilah firman Tuhan: Demikianlah Aku akan menghapuskan kecongkakbongakan Yehuda dan Yerusalem. Bangsa yang jahat ini, yang enggan mendengarkan perkataan-perkataan-Ku, yang mengikuti kedegilan hatinya dan mengikuti allah lain untuk beribadah dan sujud menyembah kepada mereka, akan menjadi seperti ikat pinggang ini yang tidak berguna untuk apapun. Sebab seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan segenap kaum Yehuda Kulekatkan kepada-Ku, demikianlah firman Tuhan, supaya mereka itu menjadi umat, menjadi ternama, terpuji dan terhormat bagi-Ku. Tetapi mereka itu tidak mau mendengar.” (Yer 13:9-11).

Bangsa Israel adalah bangsa pelupa. Semua kasih dan kebaikan Tuhan tidak dihargai maka mereka melakukan dosa-dosa di hadapan Tuhan. Sebab itu mereka ibarat ikat pinggang lenan yang lapuk dan tak berguna. Wajah orang-orang Israel sebagai ikat pinggang yang lapuk adalah: Mereka tidak mendengar perkataan-perkataan Tuhan dan tidak melakukannya. Mereka menyembah berhala. Mereka bertegar tengkuk dan suka bersungut-sungut melawan Tuhan. Semua yang dilakukan bangsa Israel masih tetap aktual hingga saat ini. Anda dan saya juga tidak lebih dari ikat pinggang lenan yang lapuk karena mudah sekali kita melupakan kasih dan kebaikan Tuhan. Setiap hari kita selalu jatuh dalam dosa, bahkan dosa yang sama. Memang ada usaha untuk bertobat tetapi selalu sia-sia karena pertobatan itu tidak serius, tidak radikal dalam hati kita. Tuhan ampunilah kami orang lemah, pelupa dan pendosa ini.

Apa yang harus kita lakukan untuk melawan lupa?

Pertama, kita harus bertekad untuk memulai dari hal-hal yang kecil, sebab hal-hal yang besar akan menyusul hal-hal yang kecil ini. Tuhan Yesus dalam bacaan Injil memberi perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi untuk menjelaskan tentang Kerajaan Sorga. Biji sesawi itu kecil, ragi itu sedikit tetapi bisa bertumbuh dan berkembang menjadi besar. Sesawi menjadi pohon dan burung saja bisa bersarang di atasnya. Ragi yang sedikit tetapi membuat adonan menjadi besar. Kita melakukan pertobatan radikal mulai dari hal-hal yang kecil, kebiasaan-kebiasaan dosa kita yang kecil dan lama kelamaan akan bertobat dalam hal-hal yang besar.

Kedua, Tuhan Yesus membuka pikiran kita bahwa Ia memulai Kerajaan Sorga dengan sekelompok kecil orang yang penuh dengan kelemahan, mereka juga seperti ikat pinggang lenan yang lapuk. Mereka adalah para murid yang jumlahnya sedikit, penuh kelemahan, namun akhirnya menjadi kuat, besar dan bertahan hingga saat ini yang disebut sebagai Gereja. Pewartaan Injil dalam Gereja di mulai dari kelompok kecil ini menjadi kelompok besar karena kuasa Tuhan menyertai mereka hingga akhir zaman.

Ketiga, Kita berbangga sebagai Gereja. Memang Gereja itu penuh kelemahan dan dosa tetapi Tuhan Yesus tetap hadir dan menguatkannya. Gereja tidak akan lenyap dari muka bumi, karena Tuhan Yesus yang mendirikan dan memberikan orang-orang pilihan untuk menguatkan Gereja hingga akhir zaman. Maka kita harus berbangga, bukan menjadi penakut atau bermental bekicot. Kita lebih dari pemenang! Biji sesawi sangat kecil saja bisa jadi pohon besar, ragi yang jumlahnhya sedikit dapat membuat adonan menjadi besar. Tuhan tetap menghadirkan Kerajaan Sorga dengan jaya di dunia ini, di dalam Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan Apostolik. Apapun situasinya kita harus tetap optimis dan maju terus bersama Yesus. Mari kita berusaha melawan lupa supaya menjadi ikat pinggang yang kuat bersama Tuhan, bukan ikat pinggang yang lapuk bersama dunia.

PJ-SDB

Friday, July 24, 2020

Food For Thought: Imam itu milik Tuhan

Gembala itu milik Tuhan!

Ada banyak keluhan terhadap para gembala. Ada litani serba salah dan skandal-skandal yang dilakukan para gembala. Semua ini memang kenyataan yang sedang ada di dalam Gereja Katolik. Namun demikian panggilan untuk menjadi gembala umat atau panggilan imamat itu tetaplah unik sebab berasal dari Tuhan sendiri bukan dari kemauan pribadi semata. Tuhan yang memanggil bukan manusia memanggil dirinya sendiri. Maka tidak semua orang dapat menjadi imam, meskipun banyak yang mencoba dan mencoba tetapi gagal.  Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Luk 10:2). Para imam adalah milik Tuhan. Gerejalah yang memohon supaya ‘yang empunya tuaian’ yakni Tuhan sendiri mengirim para pekerja untuk tuaian.

Kita tidak dapat menutup mata terhadap berbagai hal terbaik yang dilakukan para gembala. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk melayani Tuhan di dalam Gereja Katolik. Ada yang dianiaya, dipenjarakan bahkan menjadi martir karena melayani Tuhan dengan hati yang tidak terbagi. Namun ada juga para gembala yang lemah dan harus dikuatkan supaya melayani dengan baik. Paus Fransiskus menghendaki supaya para gembala itu berbau domba. Gembala tidak berjalan sendiri, tetapi ditakdirkan untuk melayani dengan sukacita, tinggal di tengah umat dan membawa mereka kepada Tuhan. Namun selalu menjadi tantangan besar dalam pelayanan para gembala di tengah umat. Memang setiap pekerja patut mendapat upahnya (Luk 10:7), namun itu bukan berarti para gembala itu bermata duitan, pasang tarif, melayani kalau ada apanya bukan apa adanya. Gembala melayani suka-suka dia, otoriter dengan dalil dialah yang belajar teologi dan ditahbiskan. Menyedihkan! Gembala juga manusia lemah yang melakukan skandal-skandal seperti korupsi, pedofilia, perselingkuhan dan lain sebagainya. Ini benar-benar tantangan besar yang menghalangi para gembala untuk berbau domba.

Terlepas dari semua ini, gembala tetaplah milik Tuhan. Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk menguduskan dan menyempurnakannya. Dalam kelemahannya, Tuhan sendiri yang akan menguatkan. Betapa menguatkan bagi para imam hari ini ketika Tuhan berkata kepada nabi Elia: “Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.” (Yer 3:15). Tuhan yang memilih, Tuhan yang mengangkat sebagai gembala, Tuhanlah yang memberikan pengetahuan dan pengertian. Sebab itu, percayalah kepada Tuhan bahwa di balik kelemahan seorang imam selaku gembala, ada kekuatan Tuhan yang luar biasa, yang tersembunyi dan pasti terpancar keluar dari dalam dirinya. Imam adalah milik Tuhan dan Tuhan memberikannya kepada manusia sebagai abdi, gembala berbau domba.

Tuhan memberkati kita semua dan doakanlah kami para imammu, gembalamu.

PJ-SDB

Homili 24 Juli 2020

Hari Jumat Pekan Biasa ke-XVI
Yer. 3:14-17
MT Yer. 31:10,11-12ab,13
Mat. 13:18-23

Panggilan untuk bertobat

Saya teringat pada Marie Von Ebner-Eschenbach (1830-1916). Penulis berkebangsaan Austria ini pernah berkata tentang pertobatan: “Apakah pertobatan itu? Kesedihan mendalam atas kenyataan bahwa kita adalah kita sebagaimana adanya.” Pertobatan sejati itu kiranya seperti ini. Ada perasaan sedih secara mendalam karena kenyataan bahwa kita memang orang berdosa. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan bahwa dalam diri setiap orang, perasaan bersalah menghasilkan kerinduan untuk menjadi lebih baik; inilah yang disebut penyesalan. Kita mengalami penyesalan ketika melihat pertentangan antara cinta Allah dan dosa-dosa kita. Kita mengalami kepedihan hati oleh ingatan akan dosa-dosa yang telah kita lakukan; lalu kita berniat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik dan menaruh harapan kita kepada pertolongan Allah. (KGK, 1430-1433, 1490). Pertobatan sejati itu selalu berhubungan dengan perasaan dalam hati bahwa kita ini benar-benar orang berdosa dan mau merasakan kerahiman Tuhan.

Nabi Yeremia tampil dengan menghadirkan wajah Allah Yang Maharahim kepada orang-orang berdosa. Kerahiman Tuhan ditunjukkan dengan mengingatkan umat Israel di tanah asing supaya mereka bertobat, sebab Tuhan sendiri yang akan mengembalikan mereka ke Yerusalem. Melalui Yeremia Tuhan bersabda: “Bertobatlah, hai anak-anak yang murtad, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.” (Yer 3:14) Bangsa Israel mengalami pengasingan di Babilonia karena perbuatan dosa mereka. Pertobatan menjadi pintu masuk bagi keselamatan, dalam hal ini mereka siap untuk diantar kembali ke Yerusalem.

Tuhan tidak hanya meminta mereka untuk bertobat. Ia siap untuk mengangkat para gembala sesuai dengan hati Tuhan. Para gembala mampu mengasihi dengan kasih Tuhan, siap untuk menaburkan benih-benih sabda yang terbaik di lahan yang baik pula sebab mereka itu menggembalakan dengan pengetahuan dan pengertian. Situasi ini akan mengubah wajah Yerusalem yang suram menjadi ceriah dan penuh kemuliaan. Tuhan berkata: “Pada waktu itu Yerusalem akan disebut takhta Tuhan, dan segala bangsa akan berkumpul ke sana, demi nama Tuhan ke Yerusalem, dan mereka tidak lagi akan bertingkah langkah menurut kedegilan hatinya yang jahat.” (Yer 3:17).

Panggilan kepada pertobatan membuka wawasan kita akan tujuan akhir hidup kita. Pada saat ini kita semua adalah orang berdosa yang sedang berziarah di dunia menuju ke rumah Bapa. Tuhan memberi kepada kita begitu banyak kesempatan untuk bertobat. Kita memiliki sakramen tobat sebagai sakramen penyembuhan hanya kesadaran orang untuk mengaku dosa semakin rendah. Tidak ada lagi perasaan sebagai orang berdosa. Kebiasaan mengulangi dosa yang sama dirasa biasa-biasa saja. Menyedihkan! Ada keengganan untuk mendekati seorang gembala yang berpengetahuan dan pengertian untuk mengakui dosa. Ada kecenderungan untuk mau mengakui dosa secara langsung kepada Tuhan, bukan melalui seorang imam. Mungkin orang-orang ini lupa akan perkataan Yesus yang bangkit mulia kepada para murid-Nya: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23) Para imam dengan tahbisan imamatnya menerima Roh Kudus untuk melayani sakramen sebagai tanda keselamatan, salah satunya adalah sakramen tobat. Mengapa anda malu atau enggan mengakui dosa-dosamu? Bukankah Tuhan kita Maharahim?

Apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan pertobatan sejati?

Pertama, Butuh keterbukaan hati kita kepada Tuhan untuk mendengar, merenung dan melakukan Sabda-Nya. Sabda Tuhan adalah pelita bagi Langkah kaki kita (Mzm 119:105). Sabda Tuhan mengubah totalitas hidup kita. Sebab itu kita berusaha untuk menjadi lahan yang baik bagi pertumbuhan benih sabda sehingga berbuah melimpah.

Kedua, sikap mawas diri. Tuhan selalu menasihati kita untuk berjaga-jaga dalam hidup kita. Kita berjaga-jaga sebab musuh yakni iblis seperti singa yang mengaum. St. Petrus berkata: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1Ptr 5:8-9).

Ketiga, Yang paling penting adalah hati yang bersih. Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8). Supaya benih Sabda Tuhan jangan jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu dan di antara semak duri maka butuh hati yang tembus pandang, suci dan murni supaya dapat melihat Allah sebagai kasih.

Pada hari ini kita boleh bertanya dalam diri kita masing-masing: Apakah kita sungguh mau bertobat? Kalau mau bertobat, maka silakan bertobatlah dan baharuilah dirimu. St. Theresia dari Kalkuta pernah berkata: “Beberapa orang kudus menggambarkan diri mereka sebagai penjahat yang mengerikan karena mereka melihat Tuhan, mereka melihat diri mereka sendiri dan mereka melihat betapa berbedanya mereka dengan Tuhan.” Bagaimana dengan anda? Anda juga dipanggil untuk bertobat!

PJ-SDB

Thursday, July 23, 2020

Di manakah Tuhan?

Di manakah Tuhan?

Kita mengakhiri hari ini dengan FFT berjudul ‘Di manakah Tuhan?’ Pertanyaan ini kita temukan dalam tulisan nabi Yeremia begini: “Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah Tuhan?” (Yer. 2:8). Ketika membaca tulisan ini saya tersenyum sendiri. Saya merasa bahwa sepertinya Tuhan sedang menegur para imam yang sedang lelap dalam ‘liburan panjang’ pelayanan imamat akibat Pandemi Covid-19. Banyak pekerjaan yang dilakukan dari kamar atau kantor saja. Saya lalu teringat pada seorang sahabat yang barusan mengirim kepada saya sebuah foto bergambar dengan tulisan yang rada lucu tapi memiliki nilai edukasi: “Ke Gereja, kagak. Doa, kagak. Memberi, kagak. Cita-cita pingin masuk surga. Situ punya kenalan orang dalam?” Kata-kata sederhana ini kiranya menegur dan menampar seseorang di antara kita.

Di manakah Tuhan? Mungkin konteksnya berbeda dengan para imam yang dimaksudkan nabi Yeremia. Namun pertanyaan ini boleh dikatakan menjadi ‘trending question’ di masa pandemi ini. Hampir semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda sedang mengucapkan pertanyaan yang sama: “Di manakah Tuhan?” Sekiranya Tuhan ada mengapa pandemi covid-19 ini ada dan membunuh banyak orang tak bersalah? Sekiranya Tuhan ada mengapa Dia tidak prihatin dengan perubahan perilaku manusia yang menjadi setengah gila akibat ‘di rumah saja’? Begitulah kira-kira pertanyaan yang diucapkan okeh banyak di antara kita.

Saya merasakan peneguhan luar biasa ketika berhadapan dengan pertanyaan ini: “Di manakah Tuhan?” Sekurang-kurangnya Tuhan mengingatkan saya melalui santu Paulus yang berkata begini: “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:8). Kata-kata Santu Paulus ini sangat meneguhkan. Ada nuansa optimisme yang luar biasa. Baik hidup atau mati kita adalah milik Tuhan. Kalau demikian, lalu mengapa mesti mempertanyakan Tuhan? Hidup dan mati ada di tangan-Nya. Dialah yang mengasihi kita karena Dialah kasih itu sendiri. 

Kata peneguhan kedua dari St. Paulus adalah bahwa kita lebih dari para pemenang. St. Paulus berkata: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi i kita. Tidak, dalam semuanya ini, kita lebih daripada para pemenang melalui Dia yang mengasihi kita. Tetapi di dalam segala perkara itu kita sangat menang oleh sebab Dia yang mengasihi kita.” (Rm 8:37). Kita lebih dari para pemenang, lalu mengapa mesti mempertanyakan Tuhan: “Di manakah Tuhan?” Mungkin baik kalau kita tinggalkan pertanyaan seperti ini dan kita optimis bahwa Tuhan kita sungguh baik. Badai pasti berlalu, matahari akan tetap terbit. Hidup kita akan berubah menjadi lebih baik.

Tuhan memberkati kita semua.

PJ-SDB

Homili 23 Juli 2020


Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XVI
Yer. 2:1-3,7-8,12-13
Mzm. 36:6-7ab,8-9,10-11
Mat. 13:10-17

Keterbukaan hati kepada Tuhan

Saya pernah berbicara dengan Pater Direktur Spiritualku tentang perkembangan kehidupan rohaniku. Setelah selesai berbicara, beliau mengatakan kepada saya begini: “Kita akan semakin bertumbuh dalam kehidupan rohani kalau kita terbuka dan membukan hati kepada Tuhan serta membiarkan Dia membimbing kita sesuai dengan kehendak ilahi-Nya”. Hanya ini saja nasihatnya kepadaku. Saya merasa heran karena saya membutuhkan nasihatnya yang lebih banyak bukan hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik ini. Pada saat kembali ke rumah saya merenungkan semua perkataan Pater Direktur Spiritual ini. Dia sudah mengenal saya secara rohani dan saya merasa yakin bahwa dia mengetahui kehidupan rohaniku. Sebab itu apa yang dikatakannya kepadaku patutlah saya merenungkan dan melakukannya di dalam hidupku sebagai seorang gembala umat. Saya duduk dan memikirkan kualitas keterbukaan saya kepada Tuhan dalam hidup doa pribadi dan komunitas, dalam karya pelayanan saya sebagai gembala, dan dalam hidup saya di dalam komunitas. Dan saya sampai pada kata sepakat dengan Pater Direktur Spiritual yang mengingatkan saya untuk dapat terbuka kepada Tuhan.

Mengapa keterbukaan hati kepada Tuhan itu perlu? Saya menemukan bahwa dalam dialog bersama Tuhan saya masih belum terbuka seratus persen. Memang Tuhan sudah mengetahui segala sesuatu tentang diri saya tetapi saya harus rendah hati untuk mengatakannya dengan jujur kepada Tuhan. Doa yang menuntunku adalah dari Kitab Mazmur: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” (Mzm 139:23). Keterbukaan kepada Tuhan merupakan sikap batin di mana Tuhan hadir dan membimbing serta mendampingi kita. Kita membiarkan Tuhan menyelidiki batin kita karena Dia sendiri yang mengenal hati kita secara mendalam dan juga segala pikiran kita hanya Dia sendirilah yang tahu. Keterbukaan kepada Tuhan membantu kita untuk mengalami Allah secara nyata dalam hidup kita.

Pada hari ini kita mendengar dialog penuh kasih antara Yesus dan para murid-Nya. Ketika itu oara murid begitu heran sebab mereka mengalami sendiri bagaimana Yesus mengajar banyak orang dengan memakai perumpamaan tertentu. Misalanya Yesus barusan mengatakan perumpamaan tentang penabur dan menjelaskannya kepada mereka. Ternyata penjelasan Yesus tentang perumpamaan sang Penabur ini belum memuaskan hati mereka. Sebab itu mereka bertanya kepada Yesus: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” (Mat 13:10). Yesus memandang mereka dengan penuh kasih dan mengajarkan mereka dengan perkataan ini: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.”(Mat 13:11). Para murid adalah orang-orang kecil yang dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menjadi mitra kerja-Nya.

Sebelumnya Yesus berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.”(Mat 11:25-26). Mereka menerima karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga sebab mereka adalah pilihan Tuhan, orang-orang kecil yang akan menjadi besar. Para murid Yesus sudah terbuka kepada Allah maka layaklah mereka untuk mendengar perkataan Yesus seadanya saja. Mereka sudah mempunyai pengenalan akan Sabda Yesus sehingga ditambahkan atau diberi lagi oleh Yesus. Hal ini menjadi berbeda dengan banyak orang lain yang tidak mempunyai sehingga apapun yang ada pada mereka diambil juga. Orang-orang yang tidak terbuka pada Allah memiliki ciri khas ini: “Sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (Mat 13:13).

Tuhan Yesus memberi peneguhan kepada para murid-Nya, mereka adalah orang kecil yang layak hidupnya di hadirat Tuhan dengan berkata: “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Mat 13:16-17). Para murid mendengar semua perkataan Yesus dan melihat semua tanda-tanda yang tidak semua orang mengalaminya, bahkan banyak nabi dan orang benar pun tidak berkesempatan untuk mendengar dan melihat Tuhan.

Dalam bacaan pertama, kita berjumpa dengan Yerusalem yang benar-benar menutup dirinya terhadap kasih dan kebaikan Tuhan. Sebab itu Tuhan mengutus nabi Yeremia untuk mengingatkannya akan ketertutupan hati penduduknya. Tuhan sudah berbuat baik kepada mereka tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka sebenarnya istimewa sekali di mata Tuhan tetapi mereka masa bodoh dengan kasih dan kebaikan Tuhan. Diumpamakan seperti ketika Israel masih muda masih bisa mengasihi, mengikuti Tuhan di padang gurun. Yerusalem benar-benar kota damai dan kudus bagi Tuhan. Tuhan membawa mereka ke tanah yang subur dan kudus tetapi mereka mencemarkan, menajiskannya. Mereka memiliki banyak berhala. Para imam bahkan lupa akan Tuhan dan tidak lagi bertanya ‘di manakah Tuhan?’ Para ahli hukum tidak mengenal Tuhan, para gembala bersifat durhaka. Para nabi berdosa karena bernubuat demi Baal. Nabi Yeremia bersaksi: “Tertegunlah atas hal itu, hai langit, menggigil dan gemetarlah dengan sangat, demikianlah firman Tuhan. Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” (Yer 2:12-13).

Gambaran Yerusalem dalam bacaan ini adalah gambaran kita saat ini juga. Kita mudah lupa pada kasih dan kebaikan Tuhan sehingga menutup diri. Kita berpikir dapat mengatasi persoalan hidup dengan diri kita sendiri. Padahal bukanlah seperti itu. Kita tetap membutuhkan pertolongan dari Tuhan. Apa untungnya kita berdosa dengan melakukan kejahatan kepada Tuhan? Mengapa kita menutup diri dan meninggalkan Tuhan begitu saja? Di saat baik kita lupa Tuhan, di saat ada masalah kehidupan kita baru dekat dengan Tuhan.

Pada hari ini Tuhan membuka pikiran kita supaya bersyukur selalu atas rahmat pembaptisan. Ini adalah saat pertama kita mengalami pengudusan. Kita perlu menyadari bahwa Sakramen Pembaptisan membarui hidup kita dan memampukan kita untuk semakin terbuka kepada Allah, setia mendengar perkataan dan melakukannya di dalam hidup kita. Apakah anda mau membuka hatimu kepada Tuhan dalam doa dan ucapan syukurmu?

PJ-SDB

Wednesday, July 22, 2020

Food For Thought: Maria Magdalena setia kepada Kristus

Kesetiaan kepada Kristus

Apakah anda setia kepada Kristus di masa pandemi covid-19 ini? Ini adalah sebuah pertanyaan umum bagi kita semua saat ini. Tentu saja ada yang menyatakan tetap setia kepada Kristus. Ada kerinduan untuk terlibat dalam perayaan Ekaristi di Gereja bersama sesama umat yang lain. Ada yang setia mengikuti misa live streaming dengan menyiapkan altar, salib, lilin dan bunga juga buku-buku liturgi di depan televisi atau laptop dan HP. Memang mengharukan melihat umat yang memiliki kerinduan besar untuk berekaristi. Terlepas dari pro dan kontra, layak tidaknya misa live streaming, saya melihat sebuah kesetiaan iman yang besar kepada Tuhan Yesus. Ada juga yang tidak setia dan merasa covid-19 ini baik karena bisa libur misa, doa dan berdevosi. Ini memang menyedihkan karena ternyata ada banyak sekali di dalam Gereja.

Berbicara tentang kesetiaan, saya mengingat sosok Maria Magdalena yang pestanya kita rayakan pada hari ini. Ada dua Paus yang melihat sosok Maria Magdalena begitu istimewa. Pertama, Paus Gregorius Agung.  Dalam kotbahnya pada tanggal 14 September 591, beliau mengidentifikasi Maria Magdalena sebagai sosok wanita pendosa yang ‘tertangkap basa’ karena berzinah (Yoh 8:3). Para Bapa Gereja seperti Agustinus, Ambrosius, Efren juga mengatakan hal yang sama. Meskipun para penginjil Sinoptik seperti Lukas mengatakan bahwa Tuhan Yesus mengusir tujuh roh jahat yang merasuki Maria Magdalena (Luk 8:2). Terlepas dari masa lalunya, Maria Magdalena adalah sosok yang setia kepada Kristus. Dia mengikuti Yesus sebagai ungkapan kasih dan syukur dengan memberi segala yang dia miliki (Luk 8:3), mengikuti Yesus dalam jalan salib (Yoh 19:25) dan menjadi orang pertama yang menyaksikan kebangkitan Kristus (Yoh 20:1-2.18). Maria sungguh menjadi model kesetiaan kepada Kristus karena ia mengikuti Yesus sampai tuntas bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. St. Thomas Aquinas menyebut St. Maria Magdalena sebagai “Rasul dari para Rasul”, karena dialah yang pertama mewartakan kebangkitan Yesus kepada para rasul dan kemudian para rasul mewartakan kepada dunia. 

Kedua, Paus Fransiskus. Dalam semangat tahun kerahiman Allah maka pada tanggal 3 Juni 2016, beliau mengumumkan bahwa perayaan liturgi bagi St. Maria Magdalena berubah dari peringatan menjadi pesta.Dalam Dekrit yang dikeluarkan Kongregasi Vatikan untuk Ibadat Ilahi dan Tata Upacara Sakramen dikatakan bahwa dengan menaikkan tingkat perayaan liturgis St. Maria Magdalena dengan menyamakan tingkat perayaan St. Maria Magdalena dengan Para rasul laki-laki. Paus Fransiskus mengatakan bahwa St. Maria Magdalena adalah sosok teladan bagi Evangelisasi sejati dan otentik; dia adalah penginjil yang mewartakan pesan sentral dari Paskah.” Sekali lagi Maria Magdalena menunjukkan dirinya sebagai sosok yang setia, mengasihi Yesus sampai tuntas. Ini memang luar biasa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita setia kepada Kristus sampai tuntas?

Santa Maria Magdalena, doakanlah kami. Amen.

P. John Laba, SDB

Homili Pesta St. Maria Magdalena - 2020

Pesta St. Maria Magdalena
Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Yoh. 20:1-2,11-18

Mewartakan Kristus dengan sukacita

Masa pandemic covid-19 sedang terjadi di seluruh dunia. Salah satu dampak dari banyak dampak covid-19 adalah bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang harus dibatasi supaya mencegah penularan virus corona. Salah satu contohnya adalah pada peribadatan bersama di tempat-tempat ibadah. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa selama masa new normal ini, belum ada misa akbar sebagaimana biasanya di setiap gereja. Memang ada gereja-gereja tertentu yang sudah memulai peribadatan mereka namun dengan membatasi kehadiran jumlah umat. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kebaikan bersama kita. Dalam situasi seperti ini, banyak umat dengan sadar menyatakan kerinduan mereka pada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Mereka menyadari bahwa melalui misa streaming, mereka menerima komuni kudus secara rohani tetapi rasanya masih belum seutuhnya penuh. Mereka percaya bahwa Allah yang tersamar itu hadir secara nyata dalam Ekaristi, namun akan menjadi lengkap ketika dapat diterima secara utuh sebagai santapan jiwa kita dalam komuni kudus. Perasaan rindu akan Ekaristi bersama dan menerima Yesus dalam Sakramen Mahakudus ini menandakan cinta kasih yang besar kepada Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus. 

Pada hari ini kita merayakan Pesta St. Maria Magdalena. Penginjil Yohanes mengisahkan tentang sosok wanita kudus ini yang begitu merindukan Yesus. Dia mengikuti Yesus sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Yesus secara pribadi karena Yesus mengusir tujuh roh jahat yang pernah merasuki dirinya (Luk 8:2). Penginjil Lukas mengisahakan bahwa Maria Magdalena bersama Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan  mereka (Luk 8:3). Jadi Maria Magdalena tidak hanya mengikuti Yesus saja sebagai tanda memberi dirinya kepada Tuhan tetapi melayani dan memberi dari segala yang dimilikinya untuk keperluan bersama dalam komunitas Yesus. Sebab itu wajar saja kalau penginjil Yohanes menampilkan sosok Maria Magdalena ini begitu penting, khususnya sebagai saksi dan pewartaan tentang kebangkitan Yesus.

Kerinduan penuh kasih kepada Yesus ditunjukkan oleh Maria Magdalena ketika pada pagi-pagi buta ia pergi melihat kubur Yesus. Ia melihat batu penutup kubur sudah tidak ada di tempat. Ia merasa sedih, menangis karena kerinduan untuk melihat jenazah Yesus tidak terpenuhi. Ia sempat melihat ke dalam kubur Yesus dan hanya melihat dua malaikat berpakaian putih yang duduk di dekat posisi kepala dan kaki tempat mayat Yesus dibaringkan. Ia bahkan mengungkapkan isi hatinya kepada para malaikat ketika ditanya alasan mengapa dia menangis. Inilah perkataan Maria Magdalena: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." (Yoh 20: 13). Dia juga melihat Yesus yang belum dikenalnya dan pertanyaan Yesus yang sama disampaikan kepadanya ‘ mengapa menangis’ dan ‘siapa yang sedang dicarinya’. Sekali lagi Maria menunjukkan kerinduan dan kasihnya kepada Yesus dan berkata: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." (Yoh 20:15). 
Tuhan Yesus peduli dan tidak mau membiarkan Maria larut dalam kesedihannya. Ia yang bangkit dengan mulia memanggil Maria dengan namanya sendiri: “Maria!”. Maria pun berpaling kepada Yesus dan menyapa: “Rabuni!” yang berti Guruku.  Maria ingin lebih dekat lagi dengan Yesus tetapi Yesus mengingatkannya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." (Yoh 20: 17). Memang sangatlah manusiawi. Maria mau mengungkapkan kasih dan kerinduannya kepada Yesus, tetapi Yesus mengatakan kepadanya bahwa masih ada hal yang terbaik yang bukan hanya semata-mata menjadi kerinduan manusiawi, yakni kesiapan dan ketulusan untuk menjadi saksi dan mewartakan kebangkitan. Maka Yesus berkata demikian kepadanya. Maria menyadari tugas perutusannya maka ia bekata kepada para murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.” (Yoh 20:18).

Kita semua memiliki kasih dan kerinduan kepada Yesus seperti yang terjadi pada masa pandemic coivid-19 ini. Namun kasih dan kerinduan itu janganlah semata-mata bersifat manusiawi. Kebanggaan kita kepada Yesus jangan hanya pada level manusiawi semata. Kita mengasihi, merindukan dan mengagumi-Nya sehingga kita mengikuti-Nya dari dekat. Namun semuanya itu harus menjadi nyata dalam hidup kita. Artinya kita harus berani bersaksi bahwa kita adalah pengikut Yesus Kristus, sehingga setiap hari berusaha untuk menyerupai-Nya. Setiap orang berusaha untuk hidup di dalam Kristus sebagai manusia baru. Mengikuti santu Paulus: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor 5:17). Mari kita mewartakan Kristus dengan sukacita karena kita juga menjadi manusia baru dalam Kristus.

PJ-SDB

Tuesday, July 21, 2020

Food For Thought: Bunda Kerahiman

Maria Bunda Kerahiman

Saya mengingat sebuah doa kepada Bunda Maria dari St. Bernardus dengan judul: “Ingatlah, oh Perawan Maria”. Inilah doa lengkapnya:

Ingatlah, o Perawan Maria

Ingatlah, o Perawan Maria yang amat murah hati, bahwa belum pernah terdengar, seorang pun yang mencari perlindunganmu, yang mohon pertolonganmu, atau mengharapkan bantuanmu, terlantar. Tergerak oleh keyakinan ini, aku berlari kepadamu, Perawan segala perawan, bundaku! Kepadamulah aku datang, aku pendosa, seraya mengaduh, menghadap hadiratmu. Bunda Sang Sabda, Jangan menolak permohonanku, melainkan karena kemurahan hatimu, dengarkan dan kabulkanlah. Amin.

Isi doa ini melukiskan Bunda Maria sebagai Bunda Kerahiman. Dialah yang menjadi tempat perlindungan bagi orang yang memohon rahmat Tuhan. Dialah harapan orang-orang kecil sebab dia murah hati. Maria disapa sebagai bunda kerahiman sebab ia mengandung dan melahirkan Yesus, Putera Bapa yang menunjukkan wajah kerahiman Allah. Paus Fransiskus dalam Bulla Misericorida Vultus mengatakan bahwa Yesus Kristus menunjukkan wajah kerahiman Allah (MV.1). Dengan demikian Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus layak disebut Bunda Kerahiman.

Saya mengingat St. Yohanes Paulus II. Beliau disebut Paus Kerahiman. Ia pernah menulis ensikliknya bernama Dives In Misericordia. Ada satu bagian khusus yang membanrtu kita untuk melihat sosok Bunda Maria sebagai Bunda Kerahiman. Baginya, Bunda Maria memiliki pemahaman paling mendalam akan kerahiman ilahi, dialah yang, lebih dari segala manusia lainnya, layak dan pantas menerima Kerahiman Ilahi. Maria dipanggil dengan cara yang istimewa untuk ikut ambil bagian dalam misi Puteranya dalam menyatakan kasih-Nya. Ia tak kunjung henti mewartakan kerahiman-Nya "dari generasi ke generasi".

Satu tanda kerahiman Maria yang dirtunjukan Yesus adalah bahwa Maria itu benar-benar menjadi ibu yang hebat dan terbaik karena melakukan kehendak Allah Bapa. Dia melakukannya dengan sangat sempurna, dengan cinta kasih yang total kepada Tuhan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Kita dipanggil untuk menyerupai Maria sehingga dapat menjadi keluarga rohani Yesus sendiri dengan jalan melakukan kehendak Allah dalam hidup setiap hari. Maria Bunda kerahiman, doakanlah kami selalu. Amen.

Tuhan memberkati, Bunda kerahiman mendoakan kita semua. Amen.

P. John Laba, SDB 

Homili 21 Juli 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XVI
Mi. 7:14-15,18-20
Mzm. 85:2-4,5-6,7-8
Mat. 12:46-50

Ikut mengalami kerahiman Tuhan

Saya suka membaca tulisan-tulisan tentang Paus Fransiskus. Pada hari ini saya membaca kembali homilinya pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi tanggal 19 April 2020 di Gereja Roh Kudus di Sassia, Roma. Ketika itu Paus Fransiskus memandang Gereja sebagai sebuah  “rumah sakit lapangan” yang secara khusus menjangkau mereka yang paling kecil, yang terhilang dan yang terakhir. Perkataan Paus Fransiskus ini memang menunjukkan ciri khasnya. Menjelang pemilihannya sebagai Paus, beliau mengatakan: “Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri dan pergi ke daerah pinggiran, tidak hanya secara geografis, tetapi juga daerah pinggiran yang eksistensial: misteri dosa, rasa sakit, ketidakadilan, ketidaktahuan dan ketidakpedulian terhadap agama, arus intelektual, dan segala bentuk kesengsaraan.“ Paus hendak menekankan bahwa kerahiman Allah itu universal, semua orang patut untuk mengalaminya, apapun status hidupnya.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok Tuhan yang luar biasa. Ia menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia yang lemah dan tak berdaya. Nabi Mikha merasakannya dan mewartakannya dalam bacaan pertama, yang membuat kita semakin mengenal dan mencintai Tuhan Yang Maharahim. Mula-mula Mikha memperkenalkan Tuhan sebagai Gembala yang baik: “Ya Tuhan, gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!” (Mi 7:14-15). Tuhan diminta untuk menggembalakan domba-domba yang terpencil, yang tidak dijangkau oleh kebanyakan manusia sebagai sesama. Ini sebuah pilihan yang tepat bagi gembala masa kini. Paus Fransiskus menghendaki supaya para gembala itu ‘berbau’ domba. Artinya mereka ikut merasakan kehidupan nyata mereka yang digembalakan. 

Selanjutnya, Mikha memperkenalkan Tuhan sebagai Pengampun dan Rahim. Mikha berkata: “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?” (Mi 7:18). Tuhan Allah yang kita kenal adalah Dia yang Maharahim karena hanya Dialah yang mengampuni dosa, memaafkan pelanggaran. Dia tidak murka tetapi menunjukkan kasih setia kepada manusia yang berdosa. Tuhan yang seperti ini yang kita miliki dan kita Imani. Dia mengajar kita untuk hidup serupa dengan-Nya. Dalam hal ini, kita berusaha untuk menunjukkan wajah kerahiman-Nya kepada sesama yang terpencil secara geografis dan eksistensial sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus. Apakah kita mampu mengampuni dengan tidak menghitung-hitung dosa sesama kita? Apakah kita cepat memaafkan sesama yang bersalah atau sangat sulit untuk memaafkan mereka?

Ingatlah bahwa Tuhan yang kita Imani tetaplah Maharahim.  Menurut nabi Mikha: “Biarlah Tuhan kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mi 7:19). Kita perlu sadar diri bahwa kita ini orang berdosa. Sangatlah sulit bagi orang untuk sadar bahwa dia berdosa dan memohon ampun kepada Tuhan supaya bisa merasakan kerahiman Allah. Orang yang mudah tahu diri bahwa dia berdosa akan mudah memohon pengampunan dari Tuhan. Kita merasakan kerahiman Tuhan berarti kita mengalami bahwa Tuhan menyayangi kita apa adanya. Hanya Dia saja yang mengampuni segala dosa dan membuangnya ke tuber-tubir laut yang dalam. Kita harus bersyukur kepada Tuhan atas rahmat kasih dan pengampunan-Nya.

Apa yang harus kita lakukan supaya tetap merasakan dan mengalami kerahiman Allah?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengajarkan banyak hal yang patut kita lakukan untuk merasakan kerahiman Allah: 

Pertama, Kita patuh dalam melakukan kehendak Allah. Kehendak Allah itu mutlak, kita sebagai ciptaan patut untuk melakukannya dalam hidup kita. Kehendak Allah itu seperti komando, perintah yang harus kita lakukan supaya menjadi kudus dan berkenan kepada-Nya. Tuhan Yesus Kristus adalah panutan kita. Dia datang ke dunia untuk melakukan kehendak Bapa. Bunda Maria dan para kudus adalah panutan kita untuk setia melakukan kehendak Allah. Bunda Maria ketika menerima khabar sukacita, ia mengatakan Fiat, dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Maria adalah sosok pertama yang merasakan kerahiman Allah dan sikapnya ini menjadi kekuatan bagi kita untuk merasakan kerahiman Allah.

Kedua, Tuhan Yesus menunjuk kita kepada ibunya yang lebih dahulu melakukan kehendak Allah. Maria siap menanggung resiko ketika menerima tawaran Allah dalam khabar sukacita untuk menjadi Ibu Yesus, Penyelamat kita. Maka Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk berbuat seperti contoh yang sudah dilakukan ibu-Nya. Ibunda-Nyha sudah melakukan kehendak Allah maka kita pun melakukan yang sama supaya menjadi keluarga Yesus: ibu, saudara dan saudari-Nya. Betapa bahagianya ketika kita mengalami kerahiman Allah karena melakukan kehendak Allah seperti Bunda Maria.

Ketiga, Maria adalah sosok manusia yang paling sempurna dalam melakukan kehendak Allah. St. Ambrosius pernah berkata: “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan? ((St. Ambrose, On Virginity, 2:15)) Marialah yang meminta para pelayan untuk melakukan apa yang diperintahkan Yesus kepada mereka dalam kisah mukjizat Yesus yang pertama di Kana. Maria sudah melakukan kehendak Allah maka kini yang lain diajarkan untuk melakukannya juga. Maria kita memandang Maria supaya mengalami kerahiman Allah dengan sempurna.

Keempat, Kita bersukacita karena menjadi saudara Yesus. Kita setia melakukan kehendak Tuhan dan mengalami kerahiman Allah maka sungguh bersukacitalah hidup kita di hadapan Tuhan. Apapun hidup kita, Tuhan mengasihi kita apa adanya. Dia tidak menghitung dosa-dosa kita, tetapi membuangnya ke tubir-tubir laut. Tuhan terima kasih atas kerahiman-Mu bagiku. Amen.

PJ-SDB 

Monday, July 20, 2020

Food For Thought: Mana buktinya?

Mana buktinya?

Saya mempunyai satu pengalaman ini: Mata saya terbelalak dan senyumku terasa kecut ketika mendengar seorang aktivis gereja mengatakan kekecewaaannya kepadaku. Dia merasa bahwa sepertinya Tuhan sedang tidak adil di masa pandemic covid-19 ini. Ia kehilangan beberapa anggota keluarga besar, sahabat dan kenalan terbaik. Dalam doa-doanya ia selalu bertanya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tetapi membisu sampai saat ini. Maka dia mengatur strategi untuk mengatakan kekecewaaannya kepada Tuhan dalam doanya, “Tuhan, saya merasa kecewa dengan-Mu karena kehilangan orang-orang penting dalam hidupku. Kalau Engkau itu Mahabaik, mengapa Engkau menghendaki semuanya ini? Mana buktinya bahwa Engkau Mahabaik? Ayo buktikan biar saya percaya kepada-Mu…”

Saya mengatakan mata saya terbelalak dan senyum kecut karena aktivis Gereja juga manusia yang paling lemah dari manusia yang lain. Padahal umat lainnya tak henti-henti memberi jempol kepadanya, tetapi secara pribadi dia ternyata lemah. Pada saat itu saya merasa yakin bahwa Tuhan sedang bekerja. Ia menghendaki supaya saya menguatkannya dalam doa. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya mau menguatkannya dengan doa dan berkat. Dan Tuhan turut bekerja. Tuhan menyadarkannya sehingga sekarang, dia justru menguatkan sesamanya yang lebih lemah.

Saya merasa yakin bahwa pertanyaan “Mana Buktinya?” adalah pertanyaan kita bersama di masa pandemic covid-19 ini. Kita juga mungkin sedang meminta tanda yang membuktikan apakah Tuhan itu sungguh-sungguh Mahabaik atau Tuhan itu biasa-biasa saja seperti yang dipikirkan oleh orang lain di dunia ini. Dari pengalaman yang berat, tidak henti-hentinya orang meminta tanda dan bukti tentang kuasa Tuhan di masa yang sulit ini. Nah, para gembala, orang tua atau siapa saja harus meyakinkan semua orang supaya berubah perilakunya menjadi lebih baik, bukan meminta bukti yang bisa jadi mengecewakan banyak orang.  

Bukan hanya manusia yang diminta untuk memberi bukti-bukti tentang kisah hidup pribadi dan komunitas serta keluarga. Tuhan lebih dari itu: Ia tidak meminta bukti cinta kita kepada-Nya sebab Dia tahu segala sesuatu. Tuhan juga pasti merasa kecewa dengan kedosaan kita. Namun Dia tetaplah setia selamanya bagi kita. Dia tidak meminta bukti, kitalah yang mencari bukti. Lalu mana buktinya? Semua hal yang saya maksudkan di sini kiranya membantu kita untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Dia merasa kaget saja!

Mari kita bertobat dan kembali jalan Tuhan. Hidup kita bermakna ketika kita mengalami Allah dalam hidup ini. 

Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

Homili 20 Juli 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XVI
Mi. 6:1-4,6-8
Mzm. 50:5-6,8-9,16bc-17,21,23
Mat. 12:38-42

Butuh Pertobatan Radikal

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pemuda. Ia mengatakan: “Saya mau bertobat dari dosa-dosa saya yang banyak ini Romo.” Selanjutnya ia menjelaskan semua pengalamannya, bagaimana ia berkali-kali jatuh dalam dosa yang sama, berjanji dalam dirinya untuk bertobat tetapi kemudian jatuh lagi dengan mengulangi dosa yang sama. Ia pernah merasa sampai ke tingkat jenuh karena melakukan dosa yang sama. Saya mendengar setiap perkataannya dengan penuh perhatian supaya bisa memberikan solusi yang tepat kepadanya. Setelah selesai menceritakan pergumulan hidupnya ini, saya mengingatkannya bahwa Tuhan turut bekerja dalam dirinya dan menghendaki sebuah pertobatan yang radikal di dalam dirinya. Maka yang perlu dilakukannya adalah terus menerus menyadari bahwa dia adalah orang berdosa dengan tekun memeriksa batinnya. Banyak orang sudah tidak merasa diri sebagai orang berdosa. Saya menyarankan dia untuk tekun berdoa dan bersembah sujud kepada Tuhan sambil memohon pengampunan yang berlimpah. Selalu focus pada sosok Tuhan Allah yang berbelas kasih. Pengalaman ini selalu saya ingat karena menjadi momen yang baik baginya untuk berbenah diri supaya harapan untuk pertobatannya sungguh terjadi.

Kita mendengar kelanjutan kisah Yesus dalam Injil. St. Matius melaporkan bahwa pada suatu ketika Yesus mendapat kunjungan beberapa ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka memiliki hidden agenda, sehingga tanpa malu-malu mereka meminta suatu tanda dari Yesus. Hidden agendanya hanya mau membuktikan kira-kira kuasa Yesus itu berasal dari mana. Dengan kuasa siapa Dia dapat mengusir setan? Mereka bertanya: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." (Mat 12: 38). Tuhan Yesus mengetahui pikiran mereka sehingga dengan keras Ia berkata: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Mat 12:39-40). Bertobat dengan tidak mencobai Tuhan dan meminta tanda apapun.

Sebuah pertobatan yang radikal mesti kita lakukan dengan tulus hati sebab Tuhan Yesus sendiri menunjukkan tanda yaitu pengurbanan diri-Nya. Dia mengambil contoh Yunus hanya sebagai jembatan untuk memahami peran Yesus sebagai satu-satunya Penyelamat dunia. Dia lebih dari Yunus yang mereka kenal dalam dunia perjanjian lama. Yunus pernah tinggal di dalam perut ikan yang kotor, bau sebagai simbol kedosaan setiap manusia. Pada akhirnya sesuai rencana Tuhan, Yunus keluar dari perut ikan yang kotor dan bau itu untuk melihat cahaya baru dalam hidupnya. Ini merupakan pengalaman pertobatan pribadi Yunus. Dia menjadi baru karena kuasa Tuhan. Tuhan Yesus lebih dari Yunus. Ia mempersembahkan diri-Nya secara total kepada Bapa untuk menyelamatkan manusia. Ia tinggal di dalam perut bumi, tiga hari dan tiga malam, penuh kedinginan dan kegelapan dan pada akhirnya mengalahkan kedinginan dan kegelapan dengan kabangkitan-Nya yang mulia. Kebangkitan Kristus menjadi kebangkitan kita semua dan kita hidup banyak bagi Tuhan.

Tuhan Yesus mengambil contoh-contoh lain dalan Kitab Perjanjian Lama misalnya pewartaan Yunus tentang pertobatan (Yun 3) dan Ratu dari selatan yang datang untuk menyaksikan kebijaksanaan Salomo (1Raj 10:1-10). Kisah-kisah ini ikut menbangkitkan semangat pertobatan yang radikal bukan hanya bagi orang-orang Yahudi tetapi juga orang-orang yang bukan Yahudi. Dan sungguh terjadi, sekitar tahun 80 setelah Kristus, banyak orang bertobat dan mengikuti Yesus dari Nazaret. Mereka menerima Yesus sebagai Penyelamat. 

Apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan pertobatan kita?

Nabi Mikha dalam bacaan pertama mengingatkan kita untuk bertobat, dengan kembali kepada Tuhan, berlaku baik, adil dan setia. Kita juga diingatkan untuk selalu rendah hati di hadapan Tuhan. Inilah perkataan Tuhan yang menguatkan kita: "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mi 6:8). Pada hari ini marilah kita mewujudkan pertobatan kita. Bertobatlah mulai dasri hal-hal kecil, dari kebiasaan-kebiasaan yang kadang kita merasa bukan dosa padahal itu dosa. Dengan demikian kita sungguh berkenan kepada Tuhan.

PJ-SDB