Tuesday, June 30, 2020

Homili 1 Juli 2020 - Injil untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu Pekan Biasa ke-XIII/A
Am. 5:14-15,21-24
Mzm. 50:7,8-9,10-11,12-13,16bc-17
Mat. 8:28-34

Lectio:

Pada suatu hari Yesus menyeberang Danau Genesaret dan tiba di daerah orang Gadara. Maka datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus

Renungan:

Tak ada tempat bagi setan

Ada berbagai media masa, baik di dalam maupun luar negeri tengah mengumumkan ke public selama beberapa minggu terakhir ini bahwa sudah sedang terjadi Covid-19 gelombang kedua. Akibatnya negara-negara seperti China melock down kota Beijing dan Singapore melakukan lock down seluruh negerinya. Tentu saja berita-berita sekitar covid-19 menjadi berita yang hangat dan menakutkan bagi umat manusia. Harapan hidup di dunia dan di hadirat Tuhan menjadi tantangan tersendiri. Dari pihak manusia, ada protes kepada Tuhan, seolah-olah Tuhan menghendaki adanya covid-19 yang sudah menelan banyak korban jiwa. Ada yang mempertanyakan  kuasa Tuhan atas covid-19: “Kalau Tuhan itu Mahakuasa, mengapa Ia mengijinkan berkembangnya  virus mematikan ini?” Pertanyaan yang kita dengar dalam bacaan Injil hari ini: “Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” dapat juga menjadi pertanyaan banyak orang saat ini kepada Tuhan. Mungkin kita secara pribadi mempertanyakan kuasa Tuhan ketika kita mengalami penderitaan dan kemalangan. Dan semua ini terjadi karena kita adalah generasi pelupa. Kita lupa bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang dapat melepaskan dan membebaskan kita dari kuasa apapun di dunia ini. Tidak ada lagi tempat bagi setan di dunia karena kuasa Yesus.

Pada hari ini kita mendengar kisah Yesus dalam Injil Matius, bahwa Ia bersama para murid-Nya menyeberang Danau Genesaret atau Danau Galilea dan tiba di daerah orang Gadara. Gadara merupakan sebuah daerah yang terletak sekitar 10 Km di sebelah tenggara Danau Genesaret. Di tempat ini terdapat sebuah pekuburan, di mana Yesus seorang diri berhadapan dengan dua orang yang kerasukan setan. Kedua orang yang kerasukan ini dinilai sangat berbahaya maka tak seorang pun berani menaklukan mereka. Kini hanya seorang Yesus saja yang berhadapan dengan mereka. Dan apa yang terjadi? Kedua orang yang kerasukan setan ini menunjukkan ketakutan setan dan kuasanya di hadapan Yesus. Inilah perkataan mereka: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya? Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Lihatlah bahwa setan-setan saja mengenal Yesus sebagai Anak Allah yang ‘menyiksa’ atau ‘mengalahkan kuasa setan’ sebelum waktunya. Yesus yang satu dan sama mengusir setan-setan dan kuasanya lalu membebaskan atau melepaskan kedua orang yang kerasukan menjadi orang yang lahir baru di hadapan Yesus.

Apa reaksi dari Tuhan Yesus? Dalam perikop yang barusan kita dengar, Yesus hanya mengatakan satu kata saja: “Pergilah”. Perkataan Yesus ini singkat namun memiliki kuasa yang luar biasa. Perkataan yang penuh kuasa dari satu orang mampu mengalahkan kuasa setan yang sangat ditakuti semua orang di Gadara. Setan-setan itu memilih untuk merasuki babi, hewan najis dalam budaya Yahudi. Menjadi jelaslah bahwa yang kotor akan merasa nyaman di tempat yang kotor. Penjaga babi tidak menuntut Yesus karena kawanan babi yang terjun bebas ke dalam danau karena mereka juga sebenarnya tidak boleh beternak hewan yang dianggap najis ini. Yesus hanya di minta untuk meninggalkan daerah Gadara saja. Tentu saja rasa takjub akan kuasa Yesus adalah ingatan yang sangat kuat bagi orang-orang Gadara.

Apa yang menjadi kekuatan Sabda bagi kita hari ini?

Pertama, Dari Injil kita semua merasa bangga karena memiliki seorang Yesus yang luar biasa. Tidak ada suatu kuasa apapun di dunia ini yang dapat mengalahkan kuasa Tuhan. Kesan seperti ini sungguh terjadi pada setan-setan yang menguasai dua orang di Gadara. Orang-orang Gadara tidak mampu mengalahkan setan-setan dan kuasanya. Hanya Yesus seorang diri yang mampu mengalahkan kuasa setan. St. Paulus benar ketika mengatakan: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8: 35-39). Kita lebih dari pemenang karena Yesus membebaskan kita.

Kedua, Tuhan Yesus sedang melawati kita yang tinggal dalam ‘Gadara’ hidup kita karena kuasa setan. Roh-roh jahat atau kuasa setan yang merasuki kedua orang itu memilih merasuki babi, hewan najis. Demikian orang-orang terbiasa hidup dalam dosa akan tetap nyaman dalam dosa-dosanya. Berapa orang yang berani mengakui bahwa kebiasaannya berbuat dosa yang sama adalah dosa? Ada yang sudah berpikir bahwa itu bukan lagi dosa. Kita mengenal korupsi berjamaah sebab orang-orang itu tidak merasa bahwa korupsi adalah dosa. Injil hari ini mengoreksi kita supaya kebiasaan untuk jatuh ke dalam dosa yang sama haruslah ditinggalkan. Kita butuh Yesus, mengandalkan-Nya untuk membebaskan dan melepaskan kita dari kuasa dosa supaya tidak jatuh ke dalam dosa yang satu dan sama.

Ketiga, Hari ini kita harus berani berkata: “Tidak ada lagi tempat bagi setan dan kuasa-kuasanya.” Mengapa? Karena kita memilih tinggal bersama Yesus bukan bersama setan. Oleh sebab itu butuh kebiasaan baik yaitu berdoa dan kembali ke sakramen tobat. Kita berusaha supaya berdoa lebih baik lagi. Kita jujur di hadirat Tuhan dengan mengakui dosa-dosa dan salah kita. Setan hanya akan takut dan mengalah karena kuasa Tuhan melingkupi kita semua.

Marilah Berdoa: Tuhan Yesus Kristus, sertailah dan lindungilah kami dari kuasa-kuasa setan yang selalu menjerumuskan kami untuk jatuh dalam dosa-dosa yang sama. Semoga kami dapat bertobat dan kembali kepada-Mu. Amen.

PJ-SDB

Wednesday, June 24, 2020

Homili Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis - 2020

HARI RAYA KELAHIRAN St. YOHANES PEMBAPTIS
Yes. 49:1-6
Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15
Kis. 13:22-26
Luk. 1:57-66,80

Berani Bersaksi

Media sosial memiliki satu kekuatan untuk menggiring opini public tentang suatu fenomena tertentu di dalam masyarakat. Kadang-kadang orang tidak sempat menggunakan akal sehat dan hati nuraninya untuk mencerna informasi-informasi tertentu secara bijak. Misalnya fenomena seseorang berpindah agama. Si A adalah seorang aktifis Gereja berpindah agama menjadi seorang mualaf. Beritanya menggegerkan atau menjadi trending topic dan pribadi tersebut dimanfaatkan seolah-olah menjadi lahan bisnis baru. Media sosial belakangan ini sedang memanasi dunia maya akibat masuknya seorang wanita dari Serambi Mekah menjadi Kristen. Sebenarnya setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk beragama. Bahwa dia berpindah-pindah agama itu urusannya dia dengan Tuhan yang menyelamatkannya di akhir zaman. Apakah sikap orang-orang yang keluar masuk agama itu dapat mempengaruhi orang lain? Bagi saya tidak ada pengaruhnya sebab urusan beragama itu sangat pribadi. Dia boleh keluar dari agamanya, tetapi agama sebelumnya itu tidak akan bubar dan merasa rugi karena kekurangan umat. Sebenarnya, satu hal yang paling penting adalah apakah orang itu benar-benar menjadi sesama manusia atau tidak, terlepas dari agama apa yang sedang dianutnya. Dalai Lama pernah berkata: “Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah kebaikan.”

Saya sepakat dengan pendapat dan pikiran Dalai Lama ini. Setiap orang yang mengakui beragama, seharusnya memiliki kemampuan untuk mengubah dunia dengan kasih dan kebaikan yang diajarkan di dalam agamanya. Kalau seorang berpindah agama dan hidupnya menjadi lebih baik karena melakukan kasih dan kebaikan kepada sesama manusia maka saya akan mendukungnya. Namun kalau seorang berpindah agama untuk mencari popularitas di dunia maya dan nyata, atau demi uang maka saya tidak mendukung orang seperti itu. Karena seorang beragama itu bertujuan untuk membuat suatu kebaikan sehingga dunia menjadi baru, penuh dengan kasih, damai dan kebaikan bukan kebencian dan permusuhan. Sebab itu butuh sebuah kesaksian yang besar sehingga dapat mengubah hidup orang di hadirat Tuhan supaya menjadi lebih baik lagi.

Pada hari ini kita mengenang sosok Yohanes Pembaptis. Kita semua mengenal sosok nabi yang terakhir ini, dengan Zakharias sebagai ayahnya dan Elizabeth ibunya. Ia terlahir di saat orang tuanya sudah memasuki usia senja, dan ini adalah mukjizat kehidupan baginya dari Tuhan. Artinya Tuhan memberi kejutan kepada Zakharias imam-Nya di masa senja, dan Elizabeth yang sudah divonis mandul. Kelahiran Yohanes merupakan sebuah sukacita yang besar di dalam keluarga sebab aib yang dilabel orang pada Elizabeth dan Zakharias mulai terhapus. Lagi pula nama anaknya ‘Yohanes’ dalam Bahasa Yahudi, Yohanan (יוֹחָנָן) berarti kelimpahan atau Yehohanan (יְהוֹחָנָן) yang berarti Yahwe adalah kelimpahan. Yohanes adalah tanda kelimpahan atau anugerah Allah bagi keluarga Elizabeth dan Zakharias.

Kelahiran Yohanes juga boleh dibilang unik, selain kedua orang tuanya yang sudah memasuki usia senja. Ayahanya bernama Zakharias ini melakukan tugas sebagai imam di rumah Tuhan dan mengalami sebuah penampakan dari Malaikat. Satu tanda yang diberikan kepadanya adalah ia menjadi bisu selama proses kehamilan Elizabeth hingga masa melahirkan. Pada saat penentuan nama inilah, dan nama Yohanes ditulis maka mulut Zakharias terbuka, lidahnya terlepas dan saat itu juga Zakharias memuji Allah. Ini juga menjadi sebuah sukacit tersendiri di dalam diri Zakharias dan keluarganya.

Yohanes adalah anak yang penuh rahmat dan sukacita. Kelahirannya yang ajaib ini membuka hati dan pikiran banyak orang untuk semakin percaya kepada Tuhan. Tangan Tuhan selalu menyertai Yohanes. Ia bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun, hidup penuh kesederhanaan sampai tiba harinya ia menampakkan dirinya kepada Israel dan bersaksi tentang Mesias. Dialah yang menjadi terang dan menyiapkan kedatangan Yesus dengan seruan-seruan tobatnya. Penginjil Yohanes dan Lukas bersaksi: “Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang untuk bersaksi tentang terang, dan ia menyiapkan suatu umat yang layak bagi Tuhan” (Yoh 1:6-7; Luk 1:17). 

Yohanes menyiapkan orang-orang pada zamannya untuk menyambut Yesus sang Mesias sebagai terang. Nabi Yesaya menyampaikan nubuat ini berabad-abad sebelumnya dalam madah kedua hamba Yahwe: "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi." (Yes 49:6). Tuhan Allah memilih dan mengutus nabinya untuk tugas-tugas yang ditentukan Allah baginya. Dia menjadi hamba yang setia untuk membimbing setiap orang, dari segala suku dan bangsa dengan bersaksi dalam hidupnya tentang Allah yang benar. Hanya dengan demikian orang akan sungguh-sungguh melihat terang yang datang dari Allah. Apa yang diungkapkan nabi Yesaya ini menjadi nyata dalam semangat penghambaan Yohanes Pembaptis. Dia menyiapkan jalan bagi Tuhan dengan seruan-seruan tobatnya.

St. Lukas di dalam Kisah para rasul mengakui bahwa kedatangan Yesus itu dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Pengakuan Lukas ini berdasarkan kotbah dan pengajaran yang disampaikan Paulus di dalam rumah ibadat di Antiokhia. Ketika itu Saulus menceritakan sejarah keselamatan mulai dari Saul hingga kedatangan Yohanes untuk menyiapkan kedatangan Yesus. Ia menyiapkan orang di sekitar sungai Yordan untuk bertobat dan memberi diri dibaptis. Yohanes menunjukkan banyak aspek hidup yang menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh bersaksi: “Dan ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nyapun aku tidak layak.” (Kis 13:25).

Pada hari ini kita bergembira bersama Elizabeth dan Zakharias. Mereka memiliki penderitaan tersendiri ketika belum mendapatkan anugerah kehadiran Yohanes anak mereka. Pengalaman penderitaan ini masih dialami oleh keluarga-keluarga yang hingga saat ini belum dikarunia anak atau keturunan. Anak adalah pemberian dan tanda kasih dari Tuhan. Tuhan yang punya kehendak bukan kita sebagai manusia yang bekehendak untuk mengatur Tuhan. Kalau tidak mendapat karunia supaya mempunyai anak maka lanjutkan hidupmu sebagai suami dan istri karena tujuan menikah itu untuk saling membahagiakan sebagai pasangan hidup. Pilihan lain adalah mengadopsi anak. Jadi bercerai, berselingkuh atau mencari yang lain bukan solusinya di dalam berkeluarga. Kelahiran Yohanes meneguhkan semua keluarga di dunia ini. Kelahiran Yohanes juga membuka wawasan kita untuk berani bersaksi tentang iman kita. Kita percaya kepada Allah yang benar maka bertobat dan senantiasa membaharui janji baptis kita di hadirat Tuhan. Kita semua bisa menjadi Yohanes Pembaptis bagi keluarga dan saudara-saudari yang ada di sekitar kita. St. Yohaes Pembaptis, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB

Tuesday, June 23, 2020

Food For Thought: Habitus baru dalam kasih

Habitus baru dalam kasih

Kita mengakhiri hari ini dengan membawa sebuah aturan emas (golden rule) yang disampaikan Tuhan Yesus Kristus dan menjadi habitus baru kita: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7: 12). Coba renungkan baik-baik perkataan Tuhan Yesus ini. Ingatlah kembali semua tindakanmu dalam pikiran, perkataan dan perbuatanmu yang nyata.  

Banyak kali mungkin anda menghendaki banyak hal yang diberikan keluarga dan sesama kepadamu, misalnya kasih persaudaraan. Anda menghendaki kasih dan persaudaraan tetapi apakah anda sendiri juga sudah mengasihi atau menciptakan kondisi di mana orang lain sungguh menjadi saudara? Cinta kasih yang benar bukanlah sebuah ungkapan belaka dari mulut saja tetapi sebuah pengurbanan diri yang nyata. Maka kalau kita mengasihi maka kasihilah dengan tulus dan biarlah orang merasa di kasihi. 

Ada habitus baru dalam kasih. Ini terjadi ketika kita mengasihi dengan mengurbankan  diri seperti Kristus sendiri mengurbankan diri. Kita mengasihi tanpa memandang harta kekayaan yang dapat menjerumuskan kita dalam ketamakan. Kita mengasihi dengan menerima semua orang apa adanya bukan ada apanya. Kasih adalah segalanya. Helen Keller pernah berkata: “Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih, selalu ada hati yang menerima.”

Tuhan memberkati kita semua,

PJ-SDB

Food For Thought: Hidup adalah pilihan

Hanya sedikit orang yang mendapatinya!

Apakah anda pernah menggunakan aplikasi Google Maps dalam perjalananmu? Apa yang anda alami saat itu? Google Maps (GM) merupakan sebuah layanan pemetaan web yang dikembangkan oleh Google. Sebagaimana diketahui bahwa layanan ini dapat membantu para pengendara atau pejalan kaki untuk memberikan citra satelit, peta jalan, panorama 360°, kondisi lalu lintas, dan perencanaan rute untuk bepergian dengan berjalan kaki, mobil, sepeda (versi beta), atau angkutan umum. Meskipun memiliki sinkronisasi data dari satelit dengan gadget yang kita miliki, namun banyak kali hal ini tidak memuaskan. Pengguna dapat di arahkan ke jalan yang bagus, tidak padat sehingga menyenangkan hati. Namun kadang-kadang GM mengarahkan kita ke jalan baru yang ternyata sempit dan padat sehingga mengecewakan. Ada perasaan senang, bahagia dan kecewa akibat terlalu percaya pada GM.

Hidup kita juga selalu dihadapkan dengan pengalaman-pengalaman Google Maps. Hati dan akal budi kita menjadi Google Maps yang dapat mengarahkan fisik kita untuk bergerak dan berlaku baik dan membahagiakan, atau buruk dan mengecewakan serta melukai diri dan orang lain. Orang yang berhati baik akan berperilaku baik dan nyata dalam hidup. Orang berhati jahat akan nampak dalam kata dan tindakannya. 

Ada dua jalan dalam hidup kita, jalan baik dan jalan yang jahat selalu kita hadapi dan alami dalam hidup ini. Jalan yang jahat selalu terbuka dan banyak orang beramai-ramai mengikutinya. Jalan yang baik itu sebenarnya jalan yang sempit dan tidak enak untuk dilalui orang. Orang jahat yang melewati jalan yang terbuka dan selalu disanjung, orang baik melewati jalan yang sempit dan pasti dibenci. Jalan lebar itu sama dengan pintu yang lebar, jalan yang sempit itu sama dengan pintu yang sempit. Di sini kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang paling tepat, misalnya jalan kehidupan dan jalan kematian (Yer 21:8); Jalan dusta dan jalan kebenaran (Mzm 119:29-30); Jalan kebenaran di mana ada hidup atau jalan kemurtadan yang menuju maut (Ams 12:28). Kita juga dihadapkan pada pilihan-pilihan jalan hidup dalam hubungan dengan Tuhan (Ul 30:15-20).

Albert Camus (1913-1960) adalah Penulis berkebangsaan Perancis. Ia pernah berkata: “La vie est la somme de tous vos choix” (Hidup adalah jumlah dari semua pilihan Anda). Pikiran Camus ini sejalan dengan penulis Amerika Serikat yakni Wayne Dyer yang mengatakan: “Hidup kita adalah jumlah total dari pilihan yang kita buat.” Setiap saat kita berada dalam pilihan untuk memilih jalan atau pintu yang lebar yang membinasakan atau pintu dan jalan yang sempit yang membahagiakan. Hidup bermakna kalau ada penderitaan dan pengorbanan diri sebab itu butuh semangat untuk keluar dari Comfort Zone ke Courage Zone! Hanya sedikit orang, limited edition yang dapat melewati jalan ini. Apakah anda dan saya bisa melewati jalan yang sempit sehingga terbukalah pintu keselamatan abadi?

Tuhan memberkatimu selalu.

PJ-SDB

Homili 23 Juni 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XII
2Raj. 19:9b-11,14-21,31-35a,36
Mzm. 48:2-3a,3b-4,10-11
Mat. 7:6,12-14

Allah turut bekerja

Covid-19 masih sangat menakutkan kita semua. Setiap hari berita-berita nasional dan internasional masih menginformasikan hal-hal penting seputar covid-19, dan memang sangat menakutkan banyak orang. Kegiatan-kegiatan peribadatan di gereja-gereja baru dimulai pada tahap uji coba dengan tetap mengikuti semua protokol kesehatan yang diberikan pemerintah. Saya lalu mengingat bahwa di saat-saat seperti ini, Tuhan selalu membuka pikiran kita untuk menghormati para pemimpin kita. Penulis surat kepada umat Ibrani menulis begini: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibr 13:17). Kadang-kadang orang yang tidak banyak mengerti hanya bersuara keras melawan para pemimpin tetapi mereka sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. John F. Kennedy pernah berkata: “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! Benar atau salah itu negara saya. Janganlah pernah berunding karena ketakutan, tetapi jangan takut untuk berunding.”

Kebiasaan mempersalahkan pemerintah, bukanlah sebuah tindakan kritis. Orang yang kritis akan menunjukkan kecerdasannya dengan menunjukkan masalah dan mencari jalan keluar yang tepat bagi permasalahan yang sedang terjadi di dalam negeri. Banyak orang memang hanya bisa beretorika saja tetapi tidak bisa bekerja. Untuk itu butuh Tuhan di dalam hidup manusia supaya semua persoalan hidup dapat diselesaikan bukan dengan otot  melainkan dengan otak. Maka hal yang penting adalah selalu mengandalkan Tuhan. St. Paulus mengatakan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rm 8:28). Manusia tidak dapat mengandalkan dirinya untuk menyelesaikan segala persoalan hidupnya. Ia membutuhkan Allah dan membiarkan-Nya  turut bekerja dalam mengatasi segala persoalan hidupnya.

Pada hari ini kita mendengar dalam Kitab Kedua Raja-Raja tentang bagaimana Allah sendiri turut bekerja di dalam hidup manusia. Dikisahkan bawa setelah Samaria dikuasai bangsa-bangsa Asyur, kini giliran Yehuda akan dikuasai juga oleh bangsa Asyur. Sanherib sang raja Asyur berusaha untuk mengirim utusan kepada raja Yehuda bernama Hizkia. Inilah pesan si raja Yehuda: “Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur. Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan?” (2Raj 19:9-10).

Hizkia sangat tanggap dengan surat Sanherib. Ia pergi ke rumah Tuhan dan membentangkan surat Sanherib ini di hadirat Tuhan. Hizkia lalu berdoa untuk memohon pertolongan Tuhan: “Ya Tuhan, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi. Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya Tuhan, dan lihatlah; dengarlah perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mengaibkan Allah yang hidup. Ya Tuhan , memang raja-raja Asyur telah memusnahkan bangsa-bangsa dan negeri-negeri mereka dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang. Maka sekarang, ya Tuhan, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya Tuhan.” (2Raj 19:15-19).

Dari doa Hizkia kita melihat bahwa Allah turut bekerja dalam menata pikiran dan hati orang-orang Yehuda umumnya. Allah bagi orang Yehuda telah menjadi harapan banyak orang untuk bersikap kritis terhadap kehidupan sosial saat ini serta mencari kuasa yang tepat di mana hanya Tuhanlah yang dapat diandalkan. Tuhan sendiri mendengar dan mengabulkan doa-doa Hizkia. Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu. Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput; giat cemburu Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini. Tuhan turut bekerja bahkan secara terang-terangan. Ia berkata: “Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku.”

Tuhan hadir dan menunjukkan sikapnya ini. Dia turut bekerja dalam hidup kita yang nyata. Kalau Tuhan sungguh-sungguh turut bekerja di dalam hidup ini maka masing-masing kita haruslah menunjukkan wajah Allah kepada sesama. Kita melakukan hukum emas yang berlaku umum: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Mat 7:12). Kebiasaan membalas dendam, membenci, berlaku tidak adil dan tidak jujur menghalangi kita untuk bertemu dengan Tuhan dan tidak dapat menghayati hukum emas ini. Ini adalah isi dari hukum Taurat dan Kitab para nabi. Inilah hukum kasih yang diajarkan Yesus sendiri yakni mengasihi Tuhan dengan totalitas hidup, dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Daya juang harus selalu ditunjukkan oleh anak-anak Allah. Tuhan Allah memberi potensi kepada setiap pribadi sebab itu kembangkanlah potensi itu dalam hidup ini untuk meraih masa depan yang lebih baik. Tuhan Yesus berkata: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:13-14). Perjuangan bahkan sejalan dengan penderitaan dalam hidup ini. Orang harus berani menderita karena Tuhan turut bekerja untuk memberikan hidup abadi baginya. Penderitaan adalah gambaran pintu sempit yang dilewati dan hanya sedikit orang yang menemukannya dan akan selamat. Apakah anda juga termasuk bilangan sedikit orang yang menemukan pintu yang sempit dan akan menerima keselamatan abadi? Tuhan turut bekerja dan Dia pasti akan mewujudkannya menjadi nyata.

PJ-SDB

Monday, June 22, 2020

Food For Thought: Berpikir Positif

Berpikir positif

Pada sore ini saya menemukan sebuah kutipan perkataan dari Zig Ziglar. Penulis berkebangsaan Amerikan ini pernah berkata: “Berpikir positif akan membiarkan Anda melakukan segala sesuatu lebih baik daripada berpikir negatif.” Saya merasa yakin bahwa anda dan saya pasti sepakat dengan perkataan ini. Memang terkadang kita lupa bahwa ketika kita selalu berpikir negatif justru akan mencelakakan kita sendiri. Misalnya, anda sedang mengendarai kendaraan sambil berpikir negatif terhadap seseorang, maka cepat atau lambat anda akan melakukan suatu perbuatan yang fatal bagi dirimu atau bagi orang lain. Akan sangat berbeda kalau sambil mengendarai kendaraanmu, anda berpikir positif tentang dirimu dan orang lain. Semuanya pasti membahagiakan, aman dan lancar.

Tuhan Yesus tahu siapakah anda dan saya. Dia tidak sungkan untuk menegur kita hari ini: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Mat 7:21). Pikirkanlah sepanjang hari ini. Anda mungkin masih di rumah saja atau sudah mulai beraktifitas, berapa kali anda berpikiran negatif dengan menghakimi sesamamu? Apakah anda menghakimi orang tua, anak, pasangan hidup atau sesamamu? Betapa memalukan kalau masih sempat menghakiminya. Semua ini karena sifat egois yang masih melekat kuat di dalam diri kita.

Tuhan Yesus juga berkata: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:23). Ini juga ekspresi pikiran negatif kita terhadap sesama. Saking berpikir negatif sampai lupa bahwa kita juga punya kelemahan. Hanya orang yang tidak mengenal diri yang tidak mengenal rasa malu untuk menilai dirinya di hadapan Tuhan dan sesama. Ayo mulailah memiliki habitus baru yakni berpikir positif terhadap diri dan sesamamu.

Salam pikiran positif!

P. John Laba, SDB

Homili 22 Juni 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XII
2Raj. 17:5-8,13-15a,18
Mzm. 60:3,4-5,12-13
Mat. 7:1-5

Sadar diri sebagai orang berdosa

Saya pernah berbincang-bincang dengan umat di sebuah lingkungan. Kebetulan pada saat itu kita berada dalam masa prapaskah. Saya memberi berkesempatan untuk memberikan pengajaran singkat tentang sakramen tobat. Umat yang hadir juga memiliki kesempatan untuk mengekspresikan pikirannya tentang sakramen tobat. Ada seorang bapa yang mengatakan begini: “Romo, pada zaman ini terjadi perubahan besar dalam diri orang-orang katolik. Banyak orang katolik yang tidak malu untuk berbuat dosa. Mereka melakukan dosa secara terang-terangan. Mereka sudah mati rasa sehingga berbuat dosa semaunya saja. Anehnya mereka juga justru malu untuk mengakui dosa-dosanya. Mereka ini perlu pencerahan supaya sadar diri sebagai orang berdosa.” Sebuah sharing yang sederhana tetapi mau mengatakan sebuah tantangan zaman ini. Orang tahu berbuat dosa tetapi tidak tahu mengakui diri sebagai otang berdosa. Dengan demikian sulit untuk mengalami pengampunan dari Tuhan. St. Domikus Savio mengatakan: “Lebih baik mati daripada berbuat dosa.” Tetapi orang zaman now punya prinsip: ‘Lebih baik berdosa daripada mati’.

Gereja menyadari dosa-dosanya di hadapan Tuhan dan dunia. St. Yohanes Paulus II, semasa kepemimpinannya memohon ampun karena dosa-dosa Gereja di masa lalu. Sikap positif ini dilanjutkan Paus Emeritus Benediktus ke-XVI dan Paus Fransiskus saat ini. Dalam sebuah kunjungannya ke Dublin, Irlandia misalnya, Paus Fransiskus mengatakan: "Saya tidak dapat tidak mengakui skandal besar di Irlandia, pelecehan bocah-bocah belia oleh anggota (para rohaniawan) Gereja yang seharusnya bertanggung-jawab atas perlindungan dan pendidikan mereka. Kegagalan otoritas gereja yakni para uskup, pemimpin agama, imam, dan lain-lain dalam menangani secara sepatutnya kejahatan menjijikan ini menimbulkan kemarahan, dan terus menjadi sumber rasa sakit dan aib bagi komunitas Katolik.” Paus tidak merasa malu untuk mengungkapkan dosa-dosa Gereja yang bukan dosa buatannya. Seorang pemimpin memang seharusnya demikian. Ia menjadi sasaran kritikan dari orang-orang di dalam dan di luar gereja. Saya mengingat santu Paulus yang mengatakan: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal  dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 6:23). Tuhan yang kudus senantiasa mengasihi gereja-Nya yang berdosa.

Pada hari ini kita mendengar kisah-kisah di dalam Kitab Suci yang memanggil kita untuk menyadari kasih Tuhan dan keberdosaan kita di hadiratnya. Dikisahkan di dalam Kitab kedua Raja-Raja bahwa Raja Asyur bernama Salmaneser menjelajah seluruh negeri Israel setelah ia sukses memenjarakan Raja Hosea. Daerah Samaria atau Kerajaan Israel ditaklukan raja Asyur. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur, sebuah tempat pembuangan bagi mereka. Mengapa orang-orang Israel mengalami masa pembuangan di Asyur dan harus tinggal di tepi sungai Habor, sebuah sungai di negeri Gozan dan kota-kota Madai? Satu jawaban pasti adalah orang-orang Israel sudah lupa diri sehingga mereka tahu berbuat dosa melawan Tuhan tetapi lalai memohon pengampunan dari Tuhan sendiri. Padahal Tuhan sendiri yang telah menuntun mereka untuk keluar dari tanah Mesir yang saat itu dipimpin Firaun. Mereka juga menyembah allah lain. 
Dosa-dosa yang dilakukan bangsa Israel di hadapan Tuhan adalah mereka hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa asing. Tuhan melalui para nabi mengajak mereka untuk bertobat tetapi seruan dan ajakan untuk bertobat itu tidak dihiraukan mereka. Tuhan berkata: "Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi." (2Raj 17:13). Dosa lainnya adalah mereka tidak mendengar suara Tuhan melalui para nabi, hati mereka tegar seperti nenek moyang mereka di Masa dan Meriba, mereka menolak perjanjian dan ketetapan Tuhan, mereka membuang peraturan-peraturan Tuhan. Sikap tidak sadar diri sebagai orang berdosa ini menimbulkan murka Tuhan dan menjauhkan mereka semua dari hadapan-Nya.

Dosa-dosa pada zaman sekarang juga kiranya mirip. Bukan hanya soal menyembah berhala dan tidak setia kepada Tuhan yang Maharahim, manusia juga tidak mengasihi sesama sebagaimana dikehendaki Tuhan. Apa yang dilakukan manusia saat ini? Kebiasaannya untuk menghakimi sesamanya, suka berpikiran negatif terhadap sesama, sikap munafik yang selalu ditunjukkan dalam hidup bersama. Semua kebiasaan dosa ini selalu ada dan mandarah daging dalam hidup kita. Hanya saja kita belum sadar bahwa itu adalah dosa. Pikirkanlah, berapa kali sehari kita menghakimi sesama dan membenarkan diri sendiri? Berapa kali dalam sehari kita berpikiran negatif terhadap sesama, sedangkan dia atau mereka tidak berpikiran negatif kepada kita? Berapa kali kita bersikap munafik kepada Tuhan dan sesama? Apa untungya kita munafik, berpikiran negatif dan suka menghakimi sesama kita?

Tuhan mengingatkan kita supaya jangan main hakim sendiri, jangan menghakimi orang lain. Jangan berpikiran negatif terhadap sesamamu. Jangan munafik dalam hidupmu. Mari kita belajar untuk mengeluarkan balok di dalam mata kita masih-masing dan melihat sesama dengan mata Tuhan. Kita mengasihi dengan kasih Tuhan.

Apakah anda orang berdosa? Ya, anda, dia, saya, kita adalah orang yang berdosa dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Karena kita orang berdosa maka kita butuhkan pengampunan berlimpah dari Tuhan. Akuliah dosa-dosamu di hadapan Tuhan. Dan saya mengakhiri homili ini dengan mengutip mazmur berikut ini: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,"dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” (Mzm 32: 1-5)

PJ-SDB

Sunday, June 21, 2020

Buat direnung: Mengenang Ayah

Mengenang Ayah

Pagi ini saya menjadi penumpang sebuah grab car. Ketika barusan membuka pintu, ia menyapa saya dengan ramah. Saya mulai duduk dan ia memperkenalkan dirinya, sambil perlahan-lahan mengantar saya ke tempat tujuan. Saya bertanya kepadanya apakah ia menyapa penumpang karena merupakan kebiasaan menyapa istri dan anak-anaknya di rumah. Ia mengaku memiliki kebiasaan yang baik untuk bangun lebih cepat, membangunkan istri dan anaknya, serta menyapa mereka dengan ramah. Dia menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan atau habitus yang baik. 

Saya senang mendengar sharing sederhanannya ini. Saya merasa yakin bahwa dia seorang professional sebagai seorang driver yang tabah maka dia juga professional sebagai ayah yang terbaik di dalam keluarganya. Bahwa setiap kali mengawali hari baru dengan menyapa setiap pribadi di dalam keluarga adalah hal yang baik dan indah. Bagi saya, seharusnya setiap keluarga menjadikannya sebagai kultur di dalam keluarga. Saling menyapa menjadi kultur di mana orang merasa yakin tentang rasa hormat dan saling menghargai. Seorang ayah sepatutnya demikian dalam keluarga dan masyarakat.

Adalah Lydia M. Child. Beliau adalah seorang Penulis dari Amerika Serikat yang hidup pada tahun 1802-1880. Ia pernah berkata: “Tidak ada suara yang membahagiakan dan menenangkan telinga saya sebagaimana suara dan kata-kata ayah.” Setiap anak memiliki pengalaman dan kedekatan dengan sosok sang ayah. Suara ayah selalu mengubah segalanya terutama membahagiakan hati, menenangkan telinga. Banyak yang memiliki pengalaman yang berbeda, misalnya suara ayah selalu menakutkan, ayah itu represif dan lain sebagainya. Mereka yang lain mungkin mengalami hal yang berbeda ketika merenung tentang sosok ayah. Tetapi dari semua kesan, sosok ayah selalu menjadi orang nomor satu yang mengedukasi dan mengubah hidup  kita. Memang, tepat sekali perkataan ini: “Cinta ayah laksana air yang mengalir tanpa henti dan tidak kering didera musim. Inilah salah satu hal yang susah dibalas oleh seorang anak.”

Ebiet G. Ade dalam lirik lagu tentang ayah mengatakan: “Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu. Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras. Namun kau tetap tabah hm. Meski nafasmu kadang tersengal. Memikul beban yang makin sarat. Kau tetap bertahan.”

Betapa berdosanya banyak orang yang tidak menghormati ayahnya, memukul dan mencaci maki. Betapa banyak anak yang menghargai ayahnya hanya karena alasan harta semata. Perintah Tuhan: “Hormatilah ayah dan ibumu” (Ul 5:16; Kel 20:12). Hari ini gunakanlah waktumu sejenak untuk mendoakan ayahmu yang masih hidup maupun yang sudah tidak ada lagi. Ayah tetaplah ayah yang hebat dan terbaik. 

PJ-SDB

Food For Thought: Engkau begitu berharga

Engkau sangat berharga!

Pada suatu siang di bulan Juni tahun 1998 saya berada di stasiun kereta api kota Milano. Saya menunggu kereta api yang akan mengantar saya ke kota Bologna di Italia tengah. Saya memperhatikan banyak orang yang menunggu kereta api ke semua jurusan, semua dari suku, Bahasa dan Bangsa yang berbeda-beda. Hal menarik yang saya masih ingat adalah pertemuan antara seorang pria Italia dengan seorang wanita Afrika. Mungkin mereka sudah pernah bertemu dan saya mendengar pria Italia itu mengatakan: “Tu sei belissima” (anda begitu cantik), sambil memeluk dan mencium wanita Afrika itu. Saya duduk sambal tersenyum melihat pemandangan itu. Wanita berkulit gelap, berambut kribo itu mendapat kepercayaan diri yang tinggi karena dinilai begitu cantik oleh seorang pria ganteng dan berkulit putih. Kecantikan dan kegantingan atau tampilan fisik memang relatif untuk setiap orang. Tapi satu hal yang penting di sini, setiap orang itu bernilai, mempunyai harga diri.

Banyak kali kita menilai orang berdasarkan tampilan fisik semata. Masing-masing orang memiliki kriterianya tersendiri tentang siapa yang berkenan di hatinya. Tuhan sendiri melihat hati manusia, sedangkan manusia selalu melihat tampilan fisik atau tampilan luarnya (1Sam 16:7). Kita semua memiliki kebiasaan yang selalu menilai buku dari sampulnya semata. Akibatnya tanpa disadari kita memiliki bawaan yakni sikap antipati dan stereotip terhadap orang atau kelompok tertentu.  Padahal sebenarnya kita tidak memiliki hak atau kuasa apapun untuk berpikir negatif terhadap siapapun. Setiap orang itu bernilai, mahal karena miliki martabat.

Kesadaraan untuk menghargai sesama manusia yang bermartabat ini berdasar pada pandangan Kitab Suci bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan rupa Allah sendiri. Anda adalah pribadi yang sempurna karena Tuhan menyempurnakanmu bukan saya, dia dan mereka menyempurnakanmu. Maka mindset kita harus berubah di hadapan sesama. Kita semua itu bernilai sehingga Tuhan mengasihi kita sempurna adanya. Tuhan Yesus saja mengungkapkannya begini: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Mat 10:29-31). Betapa kita jauh lebih berharga dari pada burung pipit. Rambut kepala saja terhitung semua meski orang itu boli (botak licin) atau agus (agak gundul sedikit). 

Tuhan begitu menghargai martabat manusia, mengapa kita sulit menghargai martabat manusia? Mengapa kita selalu membedakan manusia berdasarkan klasifikasi suku, agama, ras dan antar golongan? Mengapa bendera agama menjadi factor pemisah bukan pemersatu? Padahal bunga itu indah bukan karena hanya ada satu jenis bunga di taman, tetapi berjenis-jenis bunga di taman. Mari kita belajar menghargai nilai hidup manusia. 

Tuhan memberkatimu,

P. John Laba, SDB

Homili Hari Minggu Biasa ke-XII/A - 2020

Hari Minggu Biasa XII/A
Yer. 20:10-13
Mzm. 69:8-10,14,7,33-35
Rm. 5:12-15
Mat. 10:26-33

Berani karena benar!

Santu Lukas dalam karyanya Kisah Para Rasul sempat menceritakan tentang pengadilan terhadap Santu Paulus. Ketika itu para pemimpin agama Yahudi tetap pada pendiriannya bahwa Paulus bersalah karena mengganggu stabilitas nasional dengan ajarannya bahwa Yesus yang sudah terang-terangan wafat di depan mata mereka ternyata dinyatakan sudah bangkit dan hidup kembali. Paulus bahkan sempat dipindahkan dari Yerusalem ke Kaisarea. Lalu pada suatu kesempatan raja Herodes Agripa dan Bernike mengunjungi Festus di Kaisarea. Ketika itu Festus menceritakan kepada raja bahwa ada seorang tahanan bernama Paulus yang ditinggalkan oleh Felix sebelum meninggalkan Kaisarea. Konon para imam kepala dan ahli-ahli Taurat di Yerusalem meminta supaya ia diadili tetapi tidak ditemukan kesalahan apapun. Mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka dan tentang seorang bernama Yesus Kristus, yang sudah mati tetapi Paulus katakan dengan pasti bahwa Ia hidup (Kis 25:19). Kesaksian Lukas ini menunjukkan betapa gigihnya Paulus untuk mempertahankan imannya bahwa Yesus pernah hidup, wafat dan bangkit dengan mulia. Dia berani bersaksi karena merupakan sebuah kebenaran. Sejarah Gereja menunjukkan bahwa banyak orang yang mengikuti Kristus menyerahkan nyawa, menjadi martir dengan menumpahkan darahnya karena kesaksian iman bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup, wafat dan bangkit kembali. Sebab itu Tertulianus, seorang Bapa Gereja mengatakan: “Il sangue dei martiri è seme dei cristiani” (Darah para martir adalah benih iman Kristiani).

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu Biasa ke-XII/A mengundang kita untuk memiliki keberanian hati supaya bersaksi tentang kebenaran yang kita Imani. Dalam bacaan pertama kita mendengar pengalaman nabi Yeremia. Ia diutus Tuhan sebagai nabi dan salah satu ciri khasnya adalah membongkar, menunjuk dan mengutuk sarang kejahatan pada masanya. Dengan demikian ia sangat dimusuhi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia bersaksi bahwa telah ada bisikan  banyak orang bahwa kegentaran datang dari segala jurusan. Diharapkan supaya semua orang bersatu padu untuk mengadukan dia. Bahkan semua sahabat karibnya selalu mengintainya, dan berusaha untuk menemukan kesalahan-kesalahan Yeremia yang nantinya sekaligus menjadi sandungan baginya. Dalam situasi yang sulit itu Yeremia tetap berani karena benar.

Mengapa Yeremia berani karena benar? Sebab ia sedang melakukan tugas kenabiannya supaya meluruskan umat, mengarahkan kiblat hidup mereka kepada Tuhan. Sehingga dalam situasi yang sulit sekalipun Yeremia tidak takut dan gentar sebab Tuhan menyertainya. Tuhan menyertai Yeremia seperti pahlawan yang gagah sehingga orang-orang yang mengejarnya tersandung, jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka bahkan menanggung malu di hadapan Yeremia. Ia bersyukur kepada Tuhan dengan berkata: “Ya Tuhan semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” (Yer 20:12). Yeremia yakin bahwa Tuhan selalu memihak orang kecil yang berkenan di hadirat Tuhan.

Keberanian Yeremia haruslah menjadi keberanian Gereja masa kini. Gereja juga mengalami banyak kesulitan, penganiayaan, penderitaan dan kemalangan. Di banyak tempat masih ada kesulitan bagi umat Kristiani untuk membangun tempat ibadahnya. Ada banyak imam, biarawan dan biarawati yang ditangkap, dipenjara dan dibunuh sebagai martir. Hal ini terjadi karena mereka berani mewartakan Injil dalam hidup mereka. Banyak orang awam juga yang mengalami penderitaan karena mengimani Kristus. Semua pengalaman ini sangat sesuai dengan perkataan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:11-12).

Tuhan Yesus terus menerus mendorong para murid-Nya supaya tidak merasa takut dalam melakukan tugas pewartaannya. Ia berkata: “Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” (Mat 10:26-27). Seorang murid sejati harus bersikap seperti Paulus yang tetap pada pendirian bahwa Yesus hidup, wafat dan bangkit. Tidak ada suatu apapun yang mengubah pikirannya. Demikian juga Gereja harus tetap berani untuk mewartakan Injil, apapun kesulitan yang dihadapinya. Yesus sudah berjanji bahwa barang siapa setia maka upahnya besar di surga. Keberanian untuk mewartakan Injil dalam situasi apa saja, baik menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Tuhan Yesus juga menguatkan para murid-Nya supaya tidak merasa takut untuk bersaksi bahkan menumpahkan darahnya. Mengapa demikian? Sebab setiap pengikut Kristus harus memiliki semangat takut akan Allah bukan takut akan manusia. Tuhan sendiri mengasihi manusia begitu sempurna maka tidak ada suatu apapun yang harus ditakuti. Yesus mengatakan dalam perumpamaan: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Mat 10:29-31). Kita harus bersyukur di hadirat Tuhan karena kita begitu berharga. Tuhan memelihara kita maka kita pun harus berani memelihara diri kita dan sesama manusia.

Apa yang harus kita lakukan?

Ada kesadaran bahwa dosa itu sedang menguasai dunia. St. Paulus mengakui dan mewartakannya kepada jemaat di Roma. Ia berkata: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Rm 5:12). Dosa itu seperti tangan gurita yang merambat ke mana-mana. Namun demikian manusia harus tetap berani karena ada satu kebenaran yakni ada Yesus Kristus. Paulus mengakuinya dengan berkata: “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” (Rm 5:15). Paulus bersaksi tentang Kristus karena kasih karunia yang berlimpah dari Tuhan.

Pada hari ini kita semua dipanggil untuk memiliki sebuah keberanian dalam menunjukkan jati diri sebagai pengikut Kristus. Kita berani karena bersaksi tentang kebenaran yakni Yesus sendiri. Terinspirasi oleh nabi Yeremia yang berani di tengah penderitaan karena imannya kepada Tuhan demikian juga kita semua harus berani membela dan mempertahankan iman kepada Kristus. Kemartiran adalah panggilan untuk bersaksi tentang Kristus. Kita juga bersyukur karena Yesus menebus kita. Rasa syukur ini menandakan bahwa kita begitu berharga di mata Tuhan. Ini adalah kasih sempurna dari Tuhan bagi kita. Bersyukurlah karena anda dan saya berharga di mata Tuhan dan berusahalah untuk menghargai sesama manusia.

PJ-SDB

Saturday, June 20, 2020

Food For Thought: Hati tersuci sang Bunda

Memandang Maria

Pada hari ini pikiran saya tertuju kepada Bunda Maria dengan hatinya yang tersuci. Hati yang tersuci itu merupakan wujud nyata cinta kasihnya yang penuh dengan pengorbanan sebagai Bunda Yesus, Anak Allah. Dia menyimpan segala perkara di dalam hatinya, tanpa bersungut-sungut atau mengeluh kepada Yusuf atau kepada Tuhan sendiri. Bunda Maria senantiasa berbeda dan teladannya ini mengubah mindset kita terhadap diri kita dan terhadap sesama. Cinta kasih yang sejati itu benar-benar tanpa pamrih bahkan menuntut pengorbanan diri kita.

Saya mengingat dua kutipan inspiratif tentang Bunda Maria. Kutipan pertama dari St. Theresia dari Kalkuta. Ia berkata: “Jika anda pernah merasa tertekan, panggilah Bunda Maria, ucapkan saja doa sederhana ini: ‘Maria, Bunda Yesus, tolong jadilah ibu bagi saya sekarang.’ Saya merasa yakin bahwa doa ini tidak pernah mengecewakan anda.” Doa sederhana yang berasal dari hati yang sederhana. Maka ketika ada beban jangan tinggal dan berhenti dalam bebanmu. Bagilah bersama Bunda Maria dan mintalah pertolongan dari Bunda Maria. Dialah Maria Auxilium Christianorum atau Maria Penolong Umat Kristiani.

Kutipan kedua dari Santa Theresa Lisieux. Dia pernah berkata: “Dalam cobaan atau kesulitan, saya selalu meminta bantuan kepada Bunda Maria, di mana hanya dengan memandangnya saja sudah cukup untuk menghilangkan rasa takut dalam diri saya.” Apakah anda merasa takut? Janganlah takut. Datanglah kepada Bunda Maria dan dengan hatinya yang suci akan menolongmu, menjagamu dengan mantelnya dan anda luput dari segala yang menakutkanmu. Pandanglah Bunda Maria, perhatikanlah wajahnya, sorot matanya yang penuh cinta. Dari sanalah mengalir semua rahmat dari Tuhan.

Ini semua permenunganku tentang Bunda Maria dan saya mengakhirinya dengan sebuah doa Rosario untuk mendoakan semua orang yang saya janji untuk mendoakannya, tentu termasuk anda yang membaca Food For Thought ini. Jangan lupa kunjungi website saya, baca dan bagilah selalu refleksi-refleksi saya di sini sebagai berkat untuk banyak orang:

Ave Maria…

P. John Laba, SDB

Homili Hati Tersuci Bunda Maria - 2020

PW. Hati Tersuci Santa Perawan Maria
Yes. 61:9-11
MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7.8abcd; R 1a
Luk. 2:41-51

Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya

Orang tua selalu memiliki keistimewaan tertentu yang dirasakan oleh setiap anaknya. Ketika orang tua itu sudah tidak ada, dan ada kesempatan anak-anak berkumpul bersama saat liburan, pasti ada cerita tentang masa kecil yang berhubungan dengan orang tua. Ada cerita pengalaman yang menggambarkan suasana bahagia, sedih, terharu dan lain sebagainya. Kita semua mengingat pepatah ini: “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Orang tua juga demikian, mereka meninggal dunia serta merta meninggalkan jasa baiknya bagi setiap anak mereka. Orang tua meninggalkan kesucian hidupnya yang terpancar dalam setiap kebaikan-kebaikan yang diwariskannya kepada anak-anaknya. Ada anak yang menyakiti bahkan merampas yang menjadi haknya orang tua tetapi mereka tetaplah sosok yang mengalah dan menerima anak apa adanya. Terkadang sebagai orang tua, mereka tetap menyimpan ‘perkara-perkara’ khususnya hubungan dengan anaknya di dalam hati mereka.

Pada hari ini bersama seluruh Gereja Katolik, kita mengenang Bunda Maria sebagai ibu Yesus. Setelah kita merayakan Hari Raya Hati Kudus Yesus dengan meriah, Gereja mengingatkan kita bahwa di balik kebesaran nama Yesus Tuhan kita yang memiliki Hati Kudus, ada sosok ibu yang pasti memiliki hati yang suci. Kesucian hati Maria terpancar dalam kebersamaan dengan Yusuf dan Yesus Anaknya. Kita mendapatkan kisah yang melukiskan kesucian hati Bunda Maria melalui kisah yang kita dengar bersama di dalam Injil Lukas. 

Di dalam Injil Lukas digambarkan bagaimana Bunda Maria dan suaminya Yusuf menunjukkan diri sebagai orang Yahudi tulen. Mereka berdoa dan melakukan kewajiban hidup beriman mereka di hadapan Yesus Anak mereka. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah dengan berziarah ke Yerusalem dan beribadah di dalam Rumah Tuhan di Yerusalem. Peziarahan ditempuh dengan berjalan kaki dari Nazareth ke Yerusalem dengan jarak tempuh sekitar 150 km. Perjalanan yang cukup jauh, dan butuh beberapa hari sambil membawa bekal perjalanan. Sungguh sebuah pengorbanan untuk mencari dan menemukan Tuhan secara bersama di dalam keluarga.

Dikisahkan bahwa setelah semua upacara peribadatan selesai maka keluarga kudus bersama para peziarah lain kembali ke Nazareth. Selama di Yerusalem, Maria dan Yusuf seakan memberi kepercayaan kepada Yesus yang berumur dua belas tahun untuk bersama-sama dengan teman-teman sebaya-Nya. Sebab itu pada saatnya kembali ke Nazareth mereka juga beramai-ramai kembali tanpa mencari apakah Yesus ada bersama teman-teman sebaya-Nya. Setelah sehari perjalanan baru Maria dan Yusuf mencari Yesus dan ternyata mereka tidak menemukan-Nya. Mereka pun segera kembali ke Yerusalem dan mencari-Nya selama tiga hari. Di hari yang ketiga mereka menemukan Yesus sedang duduk di antara para cendekiawan Yahudi sambil bersoal jawab. Penginjil Lukas berkisah: “Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.” (Luk 2:46-47).  Lihatlah nilai-nilai yang ditunjukkan oleh Maria dan Yusuf. Di satu pihak mereka memberikan rasa tanggung jawab pribadi kepada Yesus, tidak posesif dan super protektif. Mereka menunjukkan kasih kepada Yesus dengan kembali, mencari dan menemukan-Nya.

Selanjutnya, pada saat menemukan Yesus, Maria menunjukkan keibuan dan kesucian hatinya di hadapan Yesus. Ia berkata: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." (Luk 2:48). Maria tidak terpancing secara emosional dan serta merta memarahi Yesus karena sudah mencari-Nya selama tiga hari. Ia justru bertanya dengan pertanyaan yang sederhana tetapi mendalam bagi Yesus. Reaksi Yesus ketika mendapat pertanyaan dari ibunya seakaan-akan Dia tidak mengormatinya. Yesus memang mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan Maria adalah manusia. Maka Yesus berkata: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk 2:49). Sebagai manusia biasa, Maria dan Yusuf bahkan tidak mengerti perkataan yang Yesus ucapkan di hadapan mereka. Yesus sebagai Anak menunjukkan jati diri-Nya sebagai Anak dengan taat kepada Maria dan Yusuf. Mereka kembali ke Nazareth. Yesus bertumbuh menjadi dewasa, disayangi oleh Tuhan dan manusia. Maria sendiri dengan pengalaman ini menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Dari kisah Maria di dalam Injil Lukas ini, kita menemukan kesucian hati Maria yang terpancar dalam hidupnya sebagai ibunda yang baik. Hati tersuci Maria menjadi nyata dalam tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Dia adalah pendidik pertama dalam hal iman. Kebersamaan sebagai satu keluarga yang berziarah ke rumah Tuhan di Yerusalem merupakan tanda nyata kesucian hati Maria. Dia tetap mau bersatu dengan Tuhan Allah, bukan secara pribadi saja tetapi bersama di dalam keluarga. Hati tersuci Maria menjadi nyata dalam kesabaran untuk mencari dan menemukan Yesus. Dia juga menyimpan semua perkara di dalam hatinya. Tetapi dari semua ini, kesucian hati Maria adalah ungkapan kasihnya yang besar kepada Tuhan dan kepada kita. Hati tersuci adalah hati penuh cinta, hati penuh pengorbanan. Dan benar, cinta yang suci dan tulus itu penuh pengorbanan. Bunda Maria membuktikannya dalam hidupnya.

Pada hari ini keluarga-keluarga dan kita secara pribadi perlu belajar untuk menjadi seperti Bunda Maria. Dia menjadi model kekudusan kita. Kita berdoa dan memohon supaya Bunda Maria memberi hatinya kepada kita supaya hati kita juga suci seperti hatinya. Semoga cinta Bunda Maria kepada Yesus menjadi cinta kita kepada Yesus juga.

PJ-SDB

Friday, June 19, 2020

Homili Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus 2020

HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Ul. 7:6-11
Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,10
1Yoh. 4:7-16
Mat. 11:25-30

Tuhan memilih dan mengasihi

Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan  Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Devosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus ini mulanya merupakan devosi dari para mistis Katolik di Jerman. Para mistis yang dimaksud adalah Matilde Magdeburgo (1207-1282), Matilde Hackenborn (1241-1299), Gertrude Helfta (1256-1302) dan Enrico Suso (1295-1366). Para mistis ini merasakan kasih Allah dalam diri Yesus Kristus secara pribadi. Devosi ini lebih berkembang lagi pada masa hidup St.Yohanes Eudes (1601-1680) dan semakin popular dengan adanya penampakan Tuhan Yesus kepada St. Margherita Maria Alacoque. Selanjutnya Claude La Colombiere (1641-1682) menyebarkan devosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus secara lebih luas. Paus Leo ke-XIII pernah mengeluarkan Ensiklik Annum Sacrum dan mengajak seluruh Gereja untuk berdevosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus. Devosi ini sangat berhubungan dengan Pribadi Kristus sendiri. Secara liturgis, Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus berkembang di Prancis sekitar tahun 1672 dan menjadi popular dalam liturgi Gereja Katolik pada tahun 1856. Perayaannya terjadi pada hari Jumat setelah perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus seperti sekarang ini.

Hati dalam bahasa Yahudi disebut לֵב (lev) atau levav dan dalam Kitab Perjanjian Lama disebut sebanyak 860 kali. Dalam Kitab Suci berbahasa Yunani hati disebut καρδιά (kardiá) juga terdapat ribuan kali kata dan ekspresi tentang hati. Pada umumnya hati itu berhubungan dengan kehidupan afektif manusia. Maka ada ungkapan hati yang mencinta, murah hati dan baik hati. Apabila terjadi perubahan perilaku seseorang maka ia disebut sebagai pribadi yang keras hati, hatinya membatu, tidak punya hati, iri hati dan berhati emas. Jadi hati menjadi simbol hal-hal yang baik, dan bisa juga hal-hal yang buruk.  Kita mengetahui sebuah doa singkat populer: “Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati” Yesus menghendaki agar hati kita menyerupai hatiNya. Ia sendiri pernah berkata: “Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya karena dari hatimu timbullah segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat 15: 11. 19; Mrk  7:15).

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengingatkan kita tentang hati sebagai lambang kasih. Allah sangat mengasihi manusia dan menerima mereka apa adanya bukan ada apanya. Hal ini berbeda dengan manusia yang mengasihi dengan masih menghitung-hitung berapa yang sudah diberikan kepada Tuhan dan kepada sesamanya. Padahal Tuhan sendiri berkata: “Karena begitu besar kasih  Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya  kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Dia melakukannya bagi dunia sampai tuntas tanpa menghitung-hitung besarnya kasih kepada dunia. Mindset kita harus berubah untuk mengasihi dengan tulus hati, tanpa pamrih seperti Allah sendiri.

Umat Perjanjian Lama memiliki pengalaman kasih yang indah. Ketika mereka masih dalam perjalanan di padang gurun, Tuhan melalui Musa mengingatkan mereka: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” (Ul 7:6). Tuhan yang pertama-tama memiliki inisiatif untuk memilih dan menentukan pilihan-Nya. Tuhan bebas memilih bangsa Israel tanpa memandang apakah bangsa Israel besar atau kecil. Ia bebas memilih semata-mata karena kasih. Musa berkata: “Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.” (Ul 7:8). 

Siapakah Tuhan Allah bagi umat Israel? Musa berusaha untuk menerangkan jati diri Allah sendiri bagi bangsanya karena mereka memiliki kecenderungan yang besar untuk menyembah berhala. Sebab itu Musa berkata: “Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.” (Ul 7: 9). Kesetiaan Tuhan haruslah dibalas dengan kesetiaan bukan dengan kejahatan. Kasih setia Tuhan tidak boleh dibalas dengan kebencian kepada-Nya. Kalau bangsa Isarel tidak setia dan membenci Tuhan maka mereka akan mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatan jahat mereka. Maka hal yang penting dilakukan bangsa Israel adalah berpegang pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan dari Tuhan. Musa harus mengingatkan umat Israel berkali-kali karena mereka mudah melupakan kasih Tuhan yang berbelas kasih dan Maharahim.

Perkataan Musa dalam dunia Perjanjian Lama diperbaharui oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama. Yohanes menunjukkan jati diri Allah sebagai kasih (1Yoh 4:8.16). Sebab itu setiap orang dipanggil untuk saling mengasihi karena kasih itu berasal dari Allah sendiri. Setiap orang yang mampu mengasihi berarti dia berasal dari Allah dan mengenal Allah. Orang yang tidak mampu mengasihi berarti dia tidak mengenal Allah. Mengapa demikian? Yohanes memberi alasan yang tepat yakni Allah adalah kasih. Kasih Allah sendiri menjadi nyata di dalam diri Yesus Anak Tunggal-Nya. Tuhan Yesus sang Anak tunggal Bapa berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Maka apa yang harus kita lakukan? Yohanes berkata: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1Yoh 3:18). Kasih adalah segalanya karena kasih adalah Allah sendiri.

Tuhan Yesus adalah tanda kasih Allah Bapa. Sebab itu Dia datang ke dunia untuk mengasihi sampai tuntas (Yoh 13:1). Kasih sampai tuntas terjadi dalam peristiwa Salib. Sungguh tepat perkataan ini: “In Cruce Salus” artinya pada salib ada keselamatan. Dalam prefasi hati Yesus yang didoakan para imam terdapat kata-kata doa seperti ini: “Sebab berkat kasih-Nya yang tak terhingga, Ia telah menyerahkan diri bagi kami ketika Ia ditinggikan di kayu salib. Lambung-Nya ditikam sengan tombak dan mengalir darah serta air yang melambangkan sakramen-sakramen Gereja. Oleh hati Penebus yang terbuka itu semua orang ditarik dan diundang menimba kegembiraan dari sumber keselamatan.” Dalam Prefasi Hati Yesus yang kedua terdapat kata-kata ini: “Engkau menanam daya cinta di dalam hati manusia, dan di manapun orang saling mencintai, Engkau menampakkan diri-Mu dalam mereka. Engkau mengasihi kami, manusia, lebih dari seorang ibu menyayangi anak kandungnya. Kasih sayang-Mu terhadap kami itu telah Engkau nyatakan dalam diri Yesus, Hamba-Mu yang setia, Saudara kami. Ia rela menanggung maut yang mengerikan guna menghidupkan dan membahagiakan kami.”

Tuhan Yesus yang satu dan sama telah memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Dia sangat mengasihi kita dengan Hati-Nya yang Mahakudus karena kita semua letih dan lesu serta berbeban berat. Hanya kasih Yesuslah yang memberikan kelegaan kepada kita. Mengapa? Karena kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Dia sambal memikul kuk yang dipasang-Nya dan belajar selalu pada-Nya. Hanya Yesus saja yang lemah lembut dan rendah hati. Dengan demikian hati kita menjadi tenang dan tenteram. Sungguh, hati kita tenang ketika berada dekat dengan Yesus dalam doa. Milikilah hati Yesus yang penuh kasih, tinggalkanlah hatimu yang masih bernoda kebencian. Tuhan sendirilah yang memilih dan mengasihi kita maka marilah kita saling mengasihi dengan hati Tuhan sendiri. Hati-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Kita berdoa: “Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu sendiri. Amen.”

PJ-SDB