Thursday, October 31, 2019

Homili 31 Oktober 2019


Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXX
Rm. 8:31b-39
Mzm. 109:21-22,26-27,30-31
Luk. 13:31-35

Kita lebih dari para pemenang!

Ada seorang pemuka umat yang mengisahkan suka dan duka hidup stasinya untuk membangun Gereja. Hal yang paling sulit bagi stasi itu bukan soal dana, karena dananya sudah lama dikumpulkan oleh umat, melainkan proses untuk mendapatkan ijin membangun Gereja. Setelah beberapa tahun berjuang akhirnya keluar juga ijin untuk membangun (IMB) Gereja. Semua orang merasa legah karena rintangan terbesar sudah dilalui. Tinggal saja bagaimana mengatasi para preman yang selalu nongkrong di sekitar lokasi Gereja dan oknum-oknum yang selalu mengadakan demo untuk menolak pembangunan Gereja di lokasi yang sudah disiapkan. Meskipun kelihatan masih banyak kesulitan yang akan mereka hadapi namun pemuka umat itu mengatakan bahwa dalam nama Tuhan Yesus, mereka akan menang bahkan mereka akan lebih dari para pemenang. Dan benarlah perkataan ini. Umat stasi ini berhasil membangun Gerejanya dan mampu mengatasi segala halangan. Kini  mereka aman dan nyaman beribadah di dalam Gereja stasi mereka.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan pengajaran Santu Paulus kepada jemaat di Roma. Mula-mula ia meyakinkan jemaat di Roma tentang situasi hidup mereka yang nyata yakni adanya penganiayaan besar-besaran terhadap jemaat Kristen di kota Roma. Sebab itu Paulus berkata: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Ia bahkan menegaskan: “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm 8:32). Di sini, Paulus menghadirkan Allah dalam diri Yesus Kristus yang penuh dengan kerahiman. Allah yang menyertai manusia yang diciptakan sewajah dengan-Nya, Dia bahkan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Kristus untuk keselamatan manusia. Pengurbanan Yesus Kristus adalah menderita, wafat dan bangkit dengan mulia sebagai tanda kemenangan akan maut dan dosa.

Selanjutnya, Paulus melontarkan sebuah pertanyaan reflektif dan mendalam: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rm 8: 35). Saya merasa yakin bahwa jemaat di Roma yang mendengar perkataan Paulus ini berani mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Beberapa contoh pengalaman yang menganggu relasi dengan kasih Kristus seperti penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang atau kemartiran. Semua pengalaman keras dan menakutkan ini tidak akan memisahkan jemaat atau Gereja dari kasih Kristus. Paulus menegaskan: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 38-39). Mengapa demikian? Jawaban yang pasti adalah ‘dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.’ (Rm 8:37).

Santu Paulus sedang mengungkapkan wajah Gereja yang nyata di tengah dunia saat ini. Ada berbagai macam tantangan besar yang menerpa Gereja dari dalam dan luar. Dari bagian dalamnya, kehidupan menggereja kelihatan melemah. Hidup Kristiani sepertinya hanya sedalam kulit saja. Rasa berdosa sudah semakin menipis maka tidak ada lagi kesadaran umat untuk mau mengaku dosa. Kesadaran untuk berdoa juga semakin lemah. Berapa orang yang benar-benar mengikuti perayaan Ekaristi dan Ekaristi benar-benar mengubah hidupnya? Berapa orang yang benar-benar membaca dan menghayati Sabda Tuhan? Ada para selibater tertentu yang tidak menghayati hidup selibatnya di hadapan Tuhan. Masalah pedofilia yang menerpa para gembala dan siapa saja di dalam Gereja. Ini adalah hal-hal yang berada di dalam Gereja, mengguncang dan boleh dikatakan menghancurkan Gereja dari dalam. Dari luar gereja muncul penganiayaan-penganiayaan dan larangan-larangan tertentu yang melawan eksistensi Gereja. Semua ini sedang dialami Gereja saat ini.

Apakah semua hal yang disebutkan ini menyebabkan Gereja menjadi tidak kudus lagi? Gereja sesuai Credo yang kita hayati tetaplah kudus karena Tuhan sendiri yang mendirikan Gereja. Tuhan Yesus bersahabat dengan orang-orang berdosa tetapi Ia sendiri tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Tuhan Yesus justru menguduskan mereka. Hal yang sama terjadi di dalam Gereja. Gereja itu berdosa karena anggota-anggota Gereja adalah umat yang lemah namun Gereja tetaplah kudus karena Tuhan Yesus sendiri mendirikan Gereja dan menguduskannya. Bagi saya ini menunjukkan bahwa Gereja benar-benar lebih dari pemenang! Banyak kesulitan dari dalam dan dari luar tetapi Gereja tetap berdiri karena Tuhan yang mendirikannya di atas wadas perkas.

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai lebih dari pemenang. Ia juga mengalami kesulitan berhadapan dengan Herodes yang mengancam untuk membunuh-Nya. Ini bukan hanya terjadi saat Yesus masih bayi tetapi saat dewasa pun masih tetap mengalami ancaman. Yesus bereaksi terhadap ancaman Herodes dengan menyebutnya srigala. Yesus juga melihat ke depan bahwa Ia akan menderita, wafat dan bangkit pada hari ketiga di Yerusalem. Mengapa Yesus menderita? Satu alasan yang muncul dalam perikop Injil hari ini adalah sebab Yerusalem keras hatinya. Inilah perkataan Yesus tentang Yerusalem: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Luk 13:34-35).

Pada hari terakhir bulan Misi dan juga bulan Rosario ini, marilah kita memohon Bunda Maria sebagai Bunda Gereja untuk tetap mendoakan Gereja kepada Yesus Puteranya supaya tetap menjadi lebih dari pemenang. Apapun situasinya, penderitaan dan kemalangan, kebahagiaan dan sukacita Gereja tetaplah lebih dari pemenang.

PJ-SDB

Wednesday, October 30, 2019

Homili 30 Oktober 2019


Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXX
Rm. 8:26-30
Mzm. 13:4-5,6
Luk. 13:22-30

Aku percaya akan kasih-setia-Mu

Saya pernah berjumpa dengan seorang umat yang sedang bergumul dengan hidupnya. Ia merasa begitu berat hidupnya di dunia ini. Masalah datang silih berganti dalam kehidupan pribadi dan keluarganya. Ia merasa lelah dengan hidupnya. Di saat-saat yang sulit ini ia berniat untuk menjauh dari Tuhan. Kebiasaannya yang baik untuk berdoa dan berdevosi juga diabaikannya. Pada suatu hari ia diajak sahabatnya untuk mengikuti sebuah seminar di gereja dengan tema: “Kasih setia Tuhan membaharui diri kita” Seminar ini benar-benar membuka pikiran, mata dan hatinya untuk keluar dari pergumulan hidupnya ini. Ia baru sadar bahwa kasih setia Tuhan itu selalu ada dan Tuhan sendiri membaharuinya. Selama bergumul ia hanya berpikir bahwa Tuhan tidak setia kepadanya. Kali ini ia percaya bahwa Tuhan Allah setia kepadanya dan ia pun mengaku di hadirat Tuhan: “Aku percaya akan kasih setia-Mu, ya Tuhan”. Ia berubah menjadi baru di mata Tuhan dan sesamanya.

Saya mendengar kisah hidupnya dengan perhatian dan penuh hati sukacita. Bagi saya, sebuah proses pertobatan pribadi memang selalu indah. Orang yang benar-benar bertobat merasakan sebuah perubahan yang radikal dalam hidupnya di hadapan Tuhan dan sesamanya. Ia akan merasakan pengalaman Raja Daud yang sering jatuh ke dalam dosa tetap cepat sadar dan berubah menjadi lebih baik lagi. Raja Daud sendiri bersaksi begini: “Aku percaya akan kasih setia-Mu, hatiku bersorak sorai karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” (Mzm 13:6). Doa dari lubuk hati terdalam Raja Daud ini dapat juga menjadi doa kita ketika sadar diri sebagai orang berdosa, yang kurang percaya kepada kasih setia Tuhan dan berusaha untuk percaya dan setia kepada Tuhan.

Penginjil Lukas hari ini mengisahkan tentang kelanjutan perjalanan Yesus ke Yerusalem. Ia mengulangi sebuah kebiasaan yang baik yakni ‘berkeliling dan berbuat baik’. Ia berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambal mengajar. Ini berarti Kerajaan Allah dan Khabar Sukacita benar-benar sampai pada tujuannya. Maka ada orang, tanpa nama bertanya tentang misi dan karya Yesus di antara mereka: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Tuhan Yesus memang beda. Ia tidak menjawab pertanyaan orang itu tentang kuantitas atau sedikit banyaknya orang yang diselamatkan. Ia justru membantu mereka untuk mencari jalan yang pasti untuk memperoleh keselamatan yang dimaksud. Untuk itu Yesus berkata: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Luk 13:24).  Untuk mencapai keselamatan orang tidak hanya bermimpi untuk mencapai keselamatan tetapi harus berusaha, berkurban bahkan siap untuk menderita seperti Yesus sendiri. Untuk menyelamatkan manusia, Yesus menderita hingga wafat di kayu salib. Manusia yang mendambakan keselamatan harus menyerupai Yesus sang Penebus.

Kita semua harus berjuang melalui pintu yang sesak. Dalam berjuang, kita tidak perlu menghitung berapa banyak perbuatan baik yang sudah kita lakukan di dunia ini, apakah kita rajin berdoa, selalu mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dan lain sebagainya. Semua ini adalah urusannya Tuhan untuk menghitung karena Dia mengenal kita. Tugas kita adalah sebagai hamba yang melakukan apa yang harus kita lakukan sebagai hamba-Nya. Hanya dengan demikian Ia benar-benar mengenal kita dan memanggil kita untuk ikut dalam perjamuan-Nya. Kalau tidak Ia akan berkata: “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Luk 13:27). Menjadi orang katolik bukan hanya sekedar dibaptis dan ikut dalam kegiatan Gereja. Hal yang lebih penting adalah melakukan kehendak Tuhan di dalam hidup kita, terutama percaya akan kasih setia-Nya, dan berusaha untuk melakukan kasih setia Tuhan kepada sesama kita. Kesetiaan sebagai pengikut Tuhan Yesus itu memang penting dan harus.

Santu Paulus dalam bacaan pertama mengingatkan kita bahwa tujuan akhir hidup kita adalah menjadi serupa dengan Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus. Maka kita harus benar-benar berpegang teguh pada bendera ‘orang Kristen’ artinya seperti Kristus sendiri. Apakah kita sungguh-sungguh Kristen? Jangan sampai kita hanya katolik tetapi tidak Kristen. Artinya kita bangga sebagai orang katolik tetapi hidup kita jauh dari hidup Kristus sendiri. Seharusnya kita menjadi serupa dengan Yesus Kristus dalam langkah hidup kita. Santu Paulus membantu kita untuk percaya bahwa Roh membantu kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Roh sendiri membantu kita yang tidak tahu berdoa, dengan doa-doa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Maka bagi Santu Paulus: “Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” (Rm 8:27).

Tuhan Allah turut bekerja di dalam hidup kita. St. Paulus lebih lanjut mengatakan dalam suratnya: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rm 8:28). Banyak kali kita kurang percaya sehingga merasa diri seolah-olah Allah tidak belerja di dalam hidup kita. Kita berpikir bahwa kita sedang jalan sendiri. Padahal sebenarnya Tuhan selalu besama dengan kita. Dia berjalan dan membimbing kita menuju tujuan akhir hidup kita yaitu kebahagiaan abadi. Kitalah yang belum percaya kepada kasih setia Tuhan dalam hidup kita. Sungguh, Tuhan akan memanggil, memilih, menentukan, membenarkan dan memuliakan para pilihannya. Mari kita percaya kepada kasih setia Tuhan supaya ikut mengambil bagian dalam panggilan dan pilihan Tuhan. Kita juga ditentukan, dibenarkan dan dimuliakan oleh Allah dalam Yesus Kristus.

PJ-SDB

Tuesday, October 29, 2019

Homili 29 Oktober 2019


Hari Selasa Pekan Biasa ke-XXX
Rm. 8:18-25
Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6
Luk. 13:18-21

Selalu memiliki harapan

Ada seorang pewarta dalam sebuah persekutuan doa pernah berkata: “Hidup kita bermakna ketika kita memaknainya dengan sebuah harapan yang pasti”. Saya tertarik dengan kata-kata sederhana ini. Kita harus mengakui bahwa  sangatlah mudah kita kehilangan harapan daripada hidup dalam harapan. Ketika seseorang kehilangan harapan dalam hidupnya ia akan bersikap seperti ini: menjauh dari Tuhan, bersungut-sungut melawan Tuhan, tidak mendekatkan dirinya kepada sesama. Saya mengingat penyair Inggris bernama Alexander Pope. Ia pernah berkata: “Pandanglah hari ini. Kemarin sudah menjadi mimpi. Dan esok hari hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok sebagai visi harapan.” Setiap pribadi selalu memiliki harapan di dalam hidupnya.

St. Paulus dalam bacaan pertama membagikan pengalamannya tentang sebuah harapan yang pasti dalam hidup setiap pribadi. Ia memiliki keyakinan akan sebuah harapan seperti ini: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.” (Rm 8:18-19). Apakah anda mengalami penderitaan tertentu? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada kita secara pribadi maka dengan sangat jujur kita akan mengatakan selalu ada pengalaman penderitaan. Ada yang menderita dalam membangun sebuah relasi antar pribadi, ada yang menderita dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Orang tidak boleh berhenti dalam pengalaman penderitaannya. Ia harus berusaha supaya melihat penderitaan sebagai jalan masuk kepada kebahagiaan abadi. Kita mengalami penderitaan namun Tuhan membukan jalan masuk untuk mengalami kebahagiaan di saat Tuhan Yesus, sang Anak Allah menyatakan diri-Nya kepada kita secara pribadi. Kita akan melihatnya dengan mata kita sendiri.

Kita perlu memiliki harapan akan sesuatu yang terbaik di dalam hidup kita. Orang yang menderita sekalipun, kalau ia menaruh karapannya kepada Tuhan maka ia akan mengalami kebahagiaan abadi. Santu Paulus berkata: “Tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Harapan membuka jalan kepada keselamatan karena setiap pribadi bersatu dengan Tuhan. Ia menjadi pribadi yang merdeka dari dosa dan salah sehingga benar-benar menjadi anak Allah. Harapan ini memang sangatlah penting bagi kita sebagai orang beriman. Santu Paulus lebih lanjut mengatakan: “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” (Rm 8:24-25). Dasar pengharapan kristiani adalah ketika kita siap untuk menderita bersama Kristus dan turut mati bersama Dia. Persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus ini menjadi harapan untuk mengalami kemuliaan Bersama Tuhan.

Lalu apa harapanmu selagi masih berada di dunia ini? Ini juga menjadi sebuah pertanyaan bagi kita semua. Saya merasa yakin bahwa banyak orang berharap untuk hidup bahagia sekarang dan nanti. Kebahagiaan sekarang terwujud misalnya kebutuhan-kebutuhan hidup jasmani dan rohani yang cukup. Kebahagiaan nanti adalah harapan akan hidup abadi di dalam Kerajaan Allah. Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini memberi perumpamaan yang kontekstual tentang Kerajaan Allah. Pertama, Kerajaan Allah seumpama biji sesawi. Biji sesawi memang kecil namun akan menjadi sebuah pohon besar di mana burung-burung dapat bersarang di rantingnya. Kedua, Kerajaan Allah diumpamakan dengan ragi. Ragi itu sedikit jumlahnya namun dapat mengembang ketika diaduk sampai rata dalam tepung terigu untuk membuat roti. Bagi Yesus, Kerajaan Allah memang mulai dari yang kecil namun akan menjadi besar. Mulanya hanya Yesus dan para rasul pilihan-Nya, namun Kerajaan akan menjadi besar sampai ke ujung dunia. Kita menyaksikan kenyataan saat ini bahwa Gereja berkembang di seluruh jagat raya. Kata-kata Tuhan Yesus benar-benar menjadi nyata.

Paus Benediktus XVI mengajarkan tiga hal penting tentang Kerajaan Allah. Pertama, Yesus sendiri adalah Kerajaan Allah yang menjelman menjadi manusia. Kedua, Kerajaan Allah ada di dalam hati manusia yang senantiasa berdoa untuk memohon datangnya Kerajaan Allah. Ketiga, Gereja merupakan wujud nyata Kerajaan Allah di dalam sejarah manusia (Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Double Day, New York, USA, 2007), hal. 49-50. Pengajaran paus emeritus ini memberikan harapan dan optimisme kepada kita bahwa Kerajaan Allah adalah saya secara pribadi sebagai Gereja yang hidup. Untuk itu kita harus selalu memiliki harapan, apapun pengalaman hidup kita.

Mari kita membangun harapan yang pasti dalam diri kita masing-masing. Tentu saja bukan sekedar harapan, namun harapan sejati ada di dalam Tuhan. Dialah yang menganugerahkan iman, harapan dan kasih (1Kor 13:13) kepada kita semua. Dialah kasih sejati maka yang paling besar adalah kasih. Kerajaan Allah adalah Kerajaan kasih di mana Allah adalah kasih mengasihi kita sampai tuntas.

PJ-SDB

Monday, October 28, 2019

Homili 28 Oktober 2019


St. Simon dan St. Yudas
Ef. 2:19-22
Mzm. 19:2-3,4-5
Luk. 6:12-19

Kekuatan sebuah panggilan

Saya selalu mengingat sharing seorang bapa tentang kehidupan keluarganya dalam sebuah acara rekoleksi bersama keluarga. Ia bercerita: “Ada satu hal yang selalu saya ingat sepanjang hidup saya sebagai seorang ayah bagi anak-anak dan suami bagi istri saya, yakni selalu berpegang teguh pada komitmen pribadi pernikahan saya.” Ia menjelaskan bahwa apa yang merupakan kesepakatan bersama di dalam keluarga tetaplah ia pegang teguh dan setia menjalaninya. Misalnya, kesepakatan untuk saling berjabatan tangan sebagai pasutri, baginya merupakan sebuah komitmen setiap hari. Ia tidak pernah merasa bosan untuk menjabat tangan istrinya sebelum dan sesudah bekerja. Kontak antar tangan memiliki kekuatan untuk mencairkan situasi yang beku di dalam keluarga sebagai pasutri. Ia merasa bahwa kadang-kadang sangat sulit untuk berjabatan tangan, namun karena komitmen pribadi terhadap pasangan maka ia setia melakukannya. Pengalaman sederhana yaitu saling berjabatan tangan ini sangat memiliki daya transformatif yang luar biasa. Ia merasa selalu diperbaharui setiapa saat menyentuh tangan istrinya. Ini sebuah pengalaman sederhana tetap sungguh bermakna.

Pada hari ini kita merayakan pesta Santu Simon dan Santu Yudas, Rasul Yesus Kristus. Simon adalah seorang Kanaan. Ia dikenal dengan sapaan orang Zelot yang berarti orang yang rajin, orang yang tekun, orang yang semangatnya meluap-luap. Ia memiliki komitmen dan integritas yang tinggi dalam mempelajari dan menaati hukum Taurat, dan dalam mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Ia wafat sebagai martir di Persia pada tahun 107M. Yudas dikenal sebagai Tadeus, saudara dari Yakobus muda. Namanya Tadeus berarti yang berani. Namanya juga menunjukkan integritas dan komitmennya dalam mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kita dapat mengenal jati dirinya dalam suratnya yang singkat (hanya 25 ayat). Ia memberi motivasi, peneguhan kepada Gereja muda untuk setia Tuhan Yesus Kristus. Ia meninggal dunia sebagai martir pada abad pertama di Persia. Kedua Santu ini merupakan bagian penting dalam panggilan dan pilihan Tuhan Yesus sebagaimana kita dengar dalam bacaan Injil hari ini. Mereka mewujudkan panggilan mereka dalam kesetiaan untuk mengasihi Yesus dan Gereja-Nya sampai tuntas.

Bagaimana Tuhan memanggil dan memilih para Rasul atau Utusan-Nya? Para penginjil memberi kesaksian yang sama bahwa Yesus mendaki sebuah bukit, sebuah tempat yang lebih tinggi untuk berdoa. Ia berdoa dalam waktu yang tidak singkat, tetapi berdoa semalam-malaman kepada Allah. Sikap doa Yesus ini menunjukkan persekutuan-Nya yang begitu mendalam dengan Allah Bapa di Surga. Ia benar-benar mengangkat hati dan pikiran-Nya supaya tertuju hanya kepada Bapa di dalam Surga. Doa ini memang penting bagi Yesus sebelum mengambil keputusan-keputusan yang penting untuk menyelamatkan manusia. Misalnya ketika Dia hendak memilih kedua belas Rasul-Nya dari banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti-Nya. Buah dari doa-Nya semalam-malaman-Nya adalah memilih nama-nama ini sebagai Rasul-Rasul-Nya: “Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.” (Luk 6:14-16).

Satu hal yang penting di sini adalah, Yesus tidak hanya memanggil dan memilih para rasul-Nya dan selesai. Ia selalu mendampingi dan berjalan bersama mereka. Ada perjumpaan yang menyelamatkan yang nantinya terus-menerus akan diwartakan oleh para Rasul. Tawaran kerasulan yang dikehendaki Yesus adalah ‘menyelamatkan semua orang’. Tuhan Yesus sendiri menunjukkan kuasa-Nya dalam kata dan karya. Orang yang datang kepada-Nya mengalami keselamatan. Tuhan melepaskan mereka dari belenggu dosa dan memberikan keselamatan dan keabadian. Pengalaman indah ini nantinya menjadi kerasulan dari para pilihan Yesus. Mereka akan mengajar dan menyembuhkan. Mereka akan menyelamatkan seperti Yesus sendiri karena mereka sungguh-sungguh melakukan pekerjaan Allah yang sudah dimulai oleh Yesus sendiri.

St. Paulus dalam Bacaan Pertama mempertegas misi Yesus yakni menyelamatkan semua orang. Dia tidak memilah-milah para pengikut-Nya. Lebih jelas Paulus mengatakan: “Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” (Ef 2:19-20). Dalam Yesus kita semua bersaudara. Memang masih banyak orang yang masih melihat perbedaan-perbedaan di dalam hidup menggereja. Mereka masih berpegang teguh pada suku, bangsa, bahasa, ras, agama, dan budaya. Padahal sesungguhnya di dalam Yesus, tidak ada lagi perbedaan di antara kita. Setiap perbedaan adalah pintu masuk kepada persekutuan dan persaudaraan.

Santu Paulus juga mengatakan: “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” (Ef 2:21-22). Tuhan Yesus membangun Gereja sebagai Tubuh Mistik-Nya bukan sekedar sebuah bangunan tanpa makna. Gereja sebagai Bait Allah yang kudus, bukan sekedar susuan batu-batu buatan tangan manusia. Sebagai Gereja, Tuhan juga membentuk kita sebagai tempat kediaman Allah dan Bait Roh Kudus. Konsekuensinya adalah kita sadar diri sebagai Bait Roh Kudus. Sebab itu kita perlu dan harus menghargai diri kita dan dengan demikian dapat menghargai hidup sesama di hadapan Tuhan. Kita menguduskan diri kita dan dengan demikian dapat menguduskan sesama manusia. Kekuatan sebuah panggilan terungkap dalam kemampuan kita untuk mengubah diri kita menjadi kudus dan menguduskan sesama yang lain dalam kata dan tindakan nyata kita. Hidup Kristiani bermakna ketika kita berusaha untuk semakin serupa dengan Yesus Kristus dalam kata dan tindakan nyata hidup kita.

Apa yang kita lakukan untuk menunjukkan kekuatan sebuah panggilan hidup? Kita mengingat pada hari istimewa ini kita merayakan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 untuk menjadi satu Nusa, satu Bangsa dan satu Bahasa yaitu Indonesia. Saya teringat pada sebuah tulisan inspiratif: “Indonesia adalah satu Nusa, satu Bangsa dan satu Bahasa bukan satu Agama.” Kekuatan panggilan kita terletak pada kemampuan untuk menjadi satu dalam persaudaraan sejati.

PJ-SDB

Thursday, October 24, 2019

Homili 24 Oktober 2019


Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIX
Rm. 6:19-23
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 12:49-53

Biarkan Api tetap menyala

Saya berasal dari kampung maka kalau berbicara tentang api selalu saja ada ingatan-ingatan manis. Kalau ada keluarga yang memiliki korek api atau sejenisnya maka mudah bagi mereka untuk menyalakan api. Kalau keluarga itu tidak memiliki korek api dan sejenisnya maka mereka akan menggunakan alat-alat sederhana seperti batu keras atau belahan bambu yang digesek satu sama lain hingga mendapatkan api. Kalau keluarga itu tidak memiliki fasilitas sederhana ini maka mereka hanya menunggu saja, di tempat mana mereka akan mendapatkan api. Kadang mereka dapat berjalan satu atau dua kilometer untuk mendapatkan api. Maka api begitu penting untuk memasak makanan, memberi kehangatan kalau daerah itu dingin dan menjadi penuntun di malam hari. Api bersifat mempersatukan pribadi dengan pribadi dalam perjamuan makan bersama dan di saat cuaca dingin atau melakukan perjalanan di malam hari.

Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita menemukan sosok Musa yang pertama kali berjumpa dengan Allah ketika melihat semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api (Kel 3:2). Kita menemukan 'Tiang Api' sebagai Teofani atau yang memanifestasikan kehadiran Allah di hadapan umat-Nya. Kita membaca tentang Tiang Api di dalam Kitab Keluaran 13: 21-22; 14:24; Bil 14:14; Ul 1:33; Neh 9:12.19. Tiang Api ini menuntun Umat Israel pada malam hari dalam peziarahan mereka ke Tanah yang Tuhan janjikan kepada mereka. Di sini sekali lagi pikiran kita dibuka untuk mengerti bahwa Api adalah simbol kehadiran Allah dan tindakan-Nya di dunia dan bagi umat manusia. Tuhan Allah selalu hadir di tengah umat-Nya. Ia membimbing, dan melindungi umat-Nya dalam peziarahan selama lebih kurang empat puluh tahun (Kel 13:21-22). Nabi Elia mendatangkan api dari langit untuk mewahyukan kehadiran dan kuasa Allah serta memurnikan umat-Nya yang menyembah berhala (1Raj 18:36-39). Api juga melambangkan kemuliaan Allah (Yeh 1:4,13) dan kekudusan-Nya (Ul 4:24), kehadiran untuk melindungi (2Raj 6:17) dan pengadilan-Nya (Za 13:9) serta kekudusan untuk melawan dosa (Yes 66:15-16).

Dalam kacamata Kristiani, Tiang Api itu merupakan simbol penting Roh Kudus yang menuntun umat pilihan Allah ke tempat yang dijanjikan bagi mereka. Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Paraclitus akan mengajar dan mengingatkan segala sesuatu (Yoh 14:26). Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat 3:11-12; Luk 3:16-17). Dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus nampak dalam 'lidah-lidah seperti nyalah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing' (Kis 2:3). Ini menunjukkan bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya untuk memurnikan dan menguduskan mereka. Artinya bahwa dosa-dosa manusia dihapus oleh Tuhan dan manusia menjadi kudus dan berkenan kepada Allah.

Pada hari ini kita mendengar Tuhan Yesus berkata: "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!" (Luk 12:49). Tuhan Yesus datang ke bumi untuk melakukan kehendak Bapa yakni memurnikan dan menguduskan manusia supaya layak di hadirat Tuhan Allah Bapa. Manusia yang berdosa dikuduskan-Nya sebab Ia sendiri tidak menghitung dosa-dosa. Ia bahkan memberikan Roh Kudus-Nya, laksana api yang selalu menyala. Untuk menguduskan manusia maka Yesus menerima baptisan yakni kemartiran-Nya. Ia menumpahkan darah di kayu salib untuk menyelamatkan dunia. Tentu saja semua ini menunjukkan kesetiaan Tuhan terhadap manusia. Bedanya adalah manusia itu susah untuk menjadi pribadi yang setia. Hal yang sungguh terjadi adalah tindakan-tindakan melawan kekudusan, misalnya tidak ada damai dan pertentangan di dalam keluarga. Ketika tidak ada damai dalam keluarga maka pertentangan menjadi jawabannya. Tetapi apa untungnya kita bertentangan dan tidak mau berdamai? Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus-Nya untuk menguatkan dan menguduskan hidup kita.

Tuhan Yesus mengurbankan diri-Nya untuk keselamatan kita semua. Manusia diselamatkan dari dosa dan salah yang dilakukan sadar atau tidak sadar. Dosa-dosa yang selalu diulangi manusia adalah menyerahkan anggota-anggota tubuh, menjadi hamba, menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan. Tuhan melalui Santu Paulus menghendaki supaya saat ini kita menyerahkan anggota-anggota tubuh dan menjadi hamba kebenaran yang membawa kepada kekudusan. Lebih lanjut St. Paulus mengatakan bahwa sekarang kita sudah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba Allah. Kita menjadi Hamba Allah yang hidup saat ini karena anugerah Roh Kudus.

PJ-SDB

Monday, October 21, 2019

Homili 21 Oktober 2019

Hari Senin, Pekan ke-XXIX
Rm. 4:20-25
MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75
Luk. 12: 13-21

Belajar Menepati Janji

Setiap orang pasti pernah mengikat perjanjian dengan orang lain atau suatu lembaga tertentu. Sebuah perjanjian, entah tertulis atau lisan menuntut sebuah komitmen pribadi untuk melakukannya dengan baik dan sempurna. Sikap tidak berkomitmen pada sebuah perjanjian tertulis dan lisan menggambarkan sikap pribadi yang tidak konsisten terhadap pribadi atau lembaga tertentu yang terikat perjanjian dengan kita. Itulah sebabnya kita sering mendengar orang mengatakan ‘ingkar janji’ atau ‘berkhianat’ karena tidak menepati janji. Saya merasa yakin bahwa kita semua sudah pernah mengalami dua situasi ini: menepati janji dan mengingkari janji kita serta konsekuensi yang kita terima. Menepati janji membuat kita semakin mendapat kepercayaan sedangkan mengingkari janji membuat orang kehilangan kepercayaan. Hanya Tuhan saja yang mampu menepati janji-janji-Nya kepada manusia.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan perkataan Tuhan melalui Santu Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Paulus mengajarkan tentang sosok Abraham yang dibenarkan oleh karena imannya. Tuhan telah menganugerahkan iman kepada Abraham dan ia berkomitmen untuk setia kepada Allah dalam iman. Imannya tidak menjadi lemah sekalipun tubuhnya menjadi lemah karena termakan usia. Namun demikian Abraham tetap percaya kepada Allah dan layak untuk menjadi Bapa bagi segala bangsa atau kaum beriman. Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa Abraham tidak pernah bimbang karena ketidakpercayaan. Abraham merasa semakin kuat dalam imannya dan memuliakan Allah. Tentu saja Abraham selalu mendapatkan pendampingan dan merasakan kehadiran Tuhan Allah dalam imannya.

Hal lain yang menjadi kualitas hidup dari Abraham sehingga ia layak menjadi bapak kaum beriman adalah ia selalu percaya kepada Tuhan melalui janji-janji-Nya. Tuhan memanggil Abraham untuk keluar dari tanah kelahirannya dan meninggalkan hidup lamanya karena telah mengenal dewa-dewi yang begitu banyak di negeri asalnya. Abraham adalah seorang yang kaya karena sudah memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah namun ketika mendengar panggilan Tuhan dan janji Tuhan ia menjadi percaya. Inilah janji Tuhan kepada Abraham: “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kej 17:4-9).

Abraham percaya kepada Tuhan dan segala perjanjian-Nya. Mengapa Abraham bersikap demikian? Ada sebuah jawaban yang pasti yakni karena Abraham percaya bahwa janji Tuhan adalah sebuah kebenaran. Konsekuensinya bagi kita saat ini adalah bahwa Allah sendiri berjanji untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa karena dosa Adam. Ia sendiri akan memberikan Adam baru yang akan menebus dosa manusia. Dialah Yesus Kristus yang telah wafat dan Allah membangkitkan-Nya dari antara semua orang mati. Kebangkitan Yesus menjadi tanda kebenaran dan kita semua diselamatkan dalam iman kepada Tuhan Allah. Di sinilah iman kita semakin dikuatkan sebab Tuhan sendiri menepati janji-janji-Nya kepada manusia. Janji terbesar adalah memnagnugerahkan Yesus Putera-Nya untuk menebus dosa-dosa kita.

Pengalaman juga membuktikan bahwa banyak orang kesulitan menepati janjinya, terutama ketika ada hubungannya dengan uang, harta dan kuasa. Para politikus memiliki kebiasaan untuk berjanji dalam masa kampanye dan bersumpah ‘demi Allah dan Kitab Suci’ namun mudah jatuh karena tidak menepati janjinya. Kejatuhan mereka hanya karena soal uang, harta dan kuasa. Banyak politikus menjadi koruptor karena gila uang, banyak orang tergiur dengan harta sehingga hidupnya masuk kategori ‘avarice’ dan uang dan harta tidak berjalan sendiri sebab mereka selalu bersama-sama dengan kekuasaan. Ini adalah sebuah kenyataan dalam hidup bermasyarakat kita.

Tuhan Yesus mengetahui kehidupan manusia terutama dalam hubungannnya dengan harta kekayaan. Dia sendiri mengatakan ‘di mana ada harta di situ hatimu juga berada’ (Mat 6:21). Orang yang sudah memiliki harta saja masih gila untuk mengumpulkan dan menimbun harta-hartanya. Kisah Injil tentang orang kaya yang masih gila harta menggambarkan diri kita masing-masing. Sebuah warning yang disampaikan Tuhan Yesus sangat jelas maknanya bagi kita semua: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12:15). Benar sekali, orang tamak akan tetap menimbun kekayaan, padahal hidupnya sendiri tidak tergantung pada kekayaan. Mungkin kita secara pribadi sering menjadi tamak dan suka menimbun kekayaan. Kita takut untuk menjadi miskin sehingga menutup pintu rapat-rapat untuk berbagi.

Satu pelajaran yang beharga bagi kita hari ini adalah selalu berusaha untuk tidak mengikat diri pada harta dan kekayaan yang kita miliki. Tuhan hanya menitipnya kepada kita dan kita berusaha untuk menepati janji kita, menjadi distributor setia kasih Tuhan kepada sesama manusia. Uang, harta dan kuasa bukanlah segalanyanya bagi kita dan bukan menjadi jaminan bagi kita untuk masuk surga. Pada saat sang maut menjemput, kita tidak membawa apa-apa. Kata-kata Ayub ini sangat menguatkan kita: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayb 1:21). Ini boleh menjadi janji kita hari ini bagi Tuhan dan sesama kita. Belajarlah menepati janji sebab Tuhan sendiri selalu menepati janji-janji-Nya kepada kita.

PJ-SDB

Tuesday, October 15, 2019

Homili 15 Oktober 2019

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXVIII
Peringatan Wajib St. Theresia dr Yesus
Rm. 1:16-25
Mzm. 19:2-3,4-5
Luk. 11:37-41

Merenungkan iman orang benar

Pada hari ini kita mengenang St. Theresia dari Avilla. Beliau juga dikenal dengan sapaan Santa Theresia dari Yesus. Ia dilahirkan di Avila, Spanyol, pada tanggal 28 Maret tahun 1515. Sejak kecil ia berniat untuk masuk ke dalam biara. Niat sucinya ini terwujud di mana beliau meninggalkan rumah diam-diam untuk menghuni sebuah komunitas biara Carmel, hingga ia menjadi seorang biarawati Karmelit.  Motivasi dasarnya adalah ia mencintai Tuhan Yesus yang lebih dahulu mencintainya. Orang tuanya tanpa ragu-ragu menyetujui niat sucinya ini.

Apa yang terjadi di dalam biara Carmel saat itu? Theresia merasa bahwa biaranya terlalu longgar peraturannya dan jauh dari kehidupan rohani yang dicita-citakannya. Ia melakukan sebuah gerakan yang menjadi revolusi mental bagi semua biarawati Carmelit saat itu. Revolusi mental dimulai dari dirinya sendiri dengan kembali ke akar kehidupan membiara yang sebenarnya yaitu untuk menjadi taat, miskin dan murni. Tentu saja ini menjadi kesulitan bagi banyak biarawan yang sudah terbiasa hidup santai, tidak berdisiplin dan melupakan cara hidup asketis. Tuhan mempertemukan Theresia dan Yohanes dari Salib yang juga memiliki semangat pembaharuan bagi Ordo Karmelit. Kedua-duanya berjuang untuk memperbaharui kembali semangat spiritualitas Ordo Karmel melalui kehidupan membiara yang suci, dalam doa, serta menjalankan puasa dan berpantang dengan sangat ketat. St. Theresia wafat pada tahun 1582 dan dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622. Ia digelari Doktor Gereja oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970.

Santa Theresia melakukan Revolusi Mental di dalam Biara Carmel sebab ia memiliki iman sebagai orang benar. Iman orang benar selalu memiliki kasih yang besar kepada Tuhan yang lebih dahulu mengasihinya, bukan pada besarnya karya-karya di dalam hidup pribadinya. Banayak orang selalu menghitung besarnya karya dan lupa untuk bertumbuh dalam iman. Itulah sebabnya Theresia berkata: “Tuhan tidak terlalu peduli dengan betapa pentingnya pekerjaan kita, yang dipedulikanNya adalah kasih yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Untuk dapat mengasihi dengan tulus maka setiap orang berusaha untuk memandang Salib. Berkaitan dengan ini, Theresia berkata: “Cinta adalah ukuran kemampuan kita dalam memikul salib.”

Santa Theresia dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ini adalah kesaksian hidupnya yang nyata. Sebagai bagian dari kesaksian hidup pribadinya, beliau mengatakan: “Tuhan mengijinkan jiwa untuk jatuh sehingga ia dapat tumbuh menjadi lebih rendah hati. Ketika jiwa itu jujur, dan menyadari apa yang telah dilakukan, dan kembali, ia membuat perkembangan yang meningkat dalam pelayanan Tuhan kita.” Sebab itu menurutnya, “Kita hanya bisa belajar mengetahui diri sendiri dan melakukan apa yang kita bisa yaitu, menyerahkan kehendak kita dan memenuhi kehendak Allah didalam diri kita.”

Bagi saya, ungkapannya yang selalu inspiratif adalah pada sepenggal puisinya ini: “Nada te turbe, nada te espante, todo se pasa, Dios no se muda; la paciencia todo lo alcanza; quien a Dios tiene nada le falta: Sólo Dios basta.” (Artinya: Jangan membiarkan sesuatu apa pun mengganggumu, Jangan membiarkan sesuatu apapun menakut-nakutimu. Segala sesuatu akan berlalu: Allah tidak pernah berubah, kesabaran memperoleh segalanya. Siapa saja yang memiliki Allah tak akan merasa kekurangan. Allah saja sudah cukup).

Kehidupan pribadi Santa Theresia ini menginspirasikan kita untuk merenungkan dan memahami Sabda Tuhan pada hari ini. Santu Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan mereka untuk selalu berpegang teguh pada Injil sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Ia percaya bahwa di dalam Injil sebagai Sabda dan Khabar Sukacita, kebenaran Allah sungguh menjadi nyata. Kebenaran itu sendiri, bagi Paulus, bertolak dari iman dan menuju kepada iman. Mengapa demikian? Sebab orang-orang benar akan hidup oleh imannya. Perkataan St. Paulus ini kiranya sejalan dengan semangat St. Theresia yakni ‘Solo Dios basta’. Tuhan dan Injilnya menjadi kekuatan dan kebenaran bagi iman orang benar.

St. Paulus juga melihat berbagai titik kelemahan manusia yang mana titik-titik kelemahan ini dapat menghalanginya untuk hidup sebagai orang benar di hadapan Tuhan. Baginya, murkah Allah nyata dari surga bagi kefasikan dan kelaliman manusia. Orang-orang seperti ini selalu menindas kebenaran dengan kelaliman. Paulus melihat bahwa orang-orang boleh mengatakan bahwa mereka mengenal Allah namun mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Hati mereka justru menjadi sia-sia dan pikiran mereka menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Ini adalah hidup bukan dalam kebenaran melainkan dalam kegelapan di hadapan Tuhan.

Pengalaman iman Paulus di Roma ini juga menjadi pengalaman iman St. Theresia di dalam biaranya. Ketika itu para biarawan dan biarawati carmel hidup sebagai orang kaya baru (okb), penuh dengan borjuisme sehingga lupa menghayati kaul ketaatan, kemiskinan dan kemurnian dan disiplin hidup religius yang lain seperti hidup dengan bermatiraga atau hidup askesis. Para biarawan dan biarawati berada di zona nyaman dan hidup dalam kelimpahan harta. Kiranya cita-cita Theresia dari Avila dan Yohanes dari Salib masih aktual hingga saat ini. Banyak imam, biarawan dan biarawati yang menjadi kaum borjuis, konsumeris dan hedonis masa kini. Tanpa di sadari bahwa sikap hidup ini menghalangi relasi yang intim dengan Tuhan. Bagaimana dapat berprinsip ‘Solo Dios basta’ kalau kaum berjubah masih dikuasai oleh harta duniawi?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini membuka pemahaman kita tentang jati diri orang benar di hadapan Tuhan Allah. Dalam pandangan manusiawi, orang benar dinilai hanya sebagai sosok yang hidup di hadirat Tuhan dengan patuh pada hukum-hukum dan kebiasaan yang berlaku. Kadang-kadang sifat mereka ini sangat legalis sehingga patut dikritik oleh Tuhan Yesus. Misalnya, mereka sangat memperhatikan kebiasaan membasuh tangan sebelum makan. Ini merupakan kebiasaan yang sama saja dengan orang yang terbiasa melihat cashing atau bagian luar orang atau tampilannya, sehingga lupa akan jati diri  orang tersebut. Tuhan justru melihat orang benar dari hatinya bukan dari hal lahirianya semata. Apakah hati orang itu bersih, suci dan murni. Orang benar yang hatinya bersih akan mampu mengasihi. Ia akan berempati dengan orang lain, berderma dan murah hati. Semua ini adalah kebajikan-kebajikan yang dimiliki orang benar.

Pada hari ini kita memohon semoga santa Theresia dari Avila menginspirasikan kita untuk  mengasihi Allah dengan hati yang bersih. St. Theresia dari Avila, doakanlah kami. Amen.


PJ-SDB

Monday, October 14, 2019

Homili 14 Oktober 2019

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXVIII
Rm. 1:1-7
Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4
Luk. 11:29-32


Yesus adalah Tuhan

Saya mengawali hari baru ini dengan mengingat St. Petrus dalam kotbahnya yang menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kis 2:36). Yesus adalah Tuhan karena Dia telah wafat dan bangkit dengan mulia dan kita mengambil bagian dalam Paskah-Nya. Dialah yang diurapi atau dikuduskan Allah untuk menebus dosa manusia. St. Paulus pernah memberi nasihat-nasihat bagi Jemaat di Filipi supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus sendiri. Ia mengakhiri nasihat-nasihatnya dengan berkata: "Segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Flp 2:11). Di bagian lain Paulus berkata: "Ia [Yesus Sang Mesias] adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” (Rom 9:5). Pengakuan iman St. Petrus dan St. Paulus bahwa Yesus adalah Tuhan memiliki konsekuensi logis yang sangat besar bagi pertumbuhan iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Dalam hal ini kita semua percaya bahwa Yesus Kristus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Kita menyebut Yesus sungguh Allah berarti Dia adalah Tuhan. Perlu kita pahami bahwa Gereja Katolik memang tidak membedakan istilah antara Tuhan dengan Allah, karena memang keduanya sama maknanya, jika mengacu kepada Sang Ilahi.

Pada hari Tuhan Yesus sangat keras memberikan kritikan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya dari dekat, mendengar Sabda dan menyaksikan atau mengalami sendiri tanda-tanda heran dari Yesus. Kritikan pantas diberikan Yesus kepada mereka sebab 'orang banyak' ini tidak malu menuntut suatu tanda. Padahal dari semua perkataan dan tanda-tanda heran, seharusnya sudah menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka Yesus menamai 'orang banyak' itu sebagai angkatan yang jahat yang memiliki mata namun tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar. Yesus mengatakan bahwa Ia tidak akan memberi sebuah tanda khusus tentang diri-Nya di hadapan mereka. Mereka semua adalah orang Yahudi yang mengetahui seluk beluk kehidupan Yunus sehingga layaklah kisah hidup Yunus ini menjadi tanda bagi mereka. Yunus adalah tanda bagi orang-orang Ninive karena dua pengalaman ini: Ia pernah menghuni perut ikan selama tiga hari dan tiga malam (Yun 1:17) karena tidak mengikuti kehendak Tuhan. Dia juga menyatakan pertobatan kepada orang-orang Ninive. Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai Anak Manusia, menjadikan Yunus sebagai tanda sebab Ia juga akan menghuni perut bumi selama tiga hari dan tiga malam karena ketaatan-Nya kepada Bapa. Dia menyerukan pertobatan manusia dan mengajak mereka untuk percaya kepada Injil. Dengan demikian keselamatan menjadi milik mereka. 

Tuhan Yesus juga membuka pikiran 'orang banyak' dengan mengambil dan membandingkan contoh-contoh lain dalam Kitab Suci. Dia adalah Tuhan maka pasti lebih bijaksana dari Salomo. Semua orang akan mencari Dia untuk menemukan kebijaksanaan sejati. Yesus lebih besar dari Yunus sebab Yunus memulai perjalanannya dengan tidak taat kepada Tuhan kemudian baru taat kepada Tuhan. Yesus memulai segalanya dengan taat kepada kehendak Bapa di Surga. Saya membayangkan bahwa 'orang banyak' yang sedang mengerumuni Dia akan mengerti jati diri Yesus yang sebenarnya yakni Yesus adalah Tuhan bagi segalanya.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, coba membangkitkan pikiran kita untuk semakin mengimani Yesus sebagai Tuhan. Ini benar-benar sebagai tanda sejati dengan menghadirkan jati diri Yesus yang sebenarnya. Mula-mula Paulus mengaku diri sebagai hamba Kristus Yesus, mendapat panggilan untuk menjadi rasul supaya memberitakan Injil Allah. Baginya, isi pokok Injil adalah tentang Yesus sebagai Anak Allah. Dia sungguh manusia dan sungguh Allah sebab menurut daging dilahirkan dari keturunan Daud, menurut Roh kekudusan dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa. Paulus juga menjelaskan bahwa Paskah Kristus telah membuka pikiran kita supaya percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Dia menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya dan menguduskan kita semua.

Pada hari Tuhan menghendaki supaya kita semakin percaya dan mengasihi Yesus sebagai satu-satunya Tuhan kita. Mengikuti Santu Paulus, Yesus menjadi satu-satunya pengantara kita kepada Bapa (1Tim 2:5). Dia benar-benar tanda sejati bagi kita, tidak ada yang lain.


PJ-SDB