Friday, March 8, 2013

Renungan 8 Maret 2013

Hari Jumat Prapaskah III
Hos 14:2-10
Mzm 81:6c-8a.8bc-11ab.14.17
Mrk 12:28b-34

Cinta kasih membuat dunia berbeda

Catherine Lawes adalah seorang wanita Amerika yang hebat. Dialah yang membuat dunia berbeda karena kasih. Para penghuni penjara Sing Sing dihuni oleh para penjahat kelas berat Amerika. Para pembunuh dan perampok yang bagi banyak orang layak untuk menghuni penjara. Suaminya bernama Lewis pernah menjadi Sipir penjara pada tahun 1921. Pada waktu itu mereka baru memiliki tiga orang anak putri. Banyak orang mengingatkan Cathrine dan ketiga putrinya untuk tidak mengunjungi penjara Sing Sing karena berbahaya. Tetapi Catherine tetap berani mendekati para nara pidana atau tahanan, duduk bersama mereka menonton pertandingan basket. Mengapa ia begitu berani akrab dengan para tahanan? Karena ia dan suaminya sepakat untuk memelihara serta memperhatikan para tahanan. Dari situ ia yakin tidak akan disakiti oleh mereka. Ia membantu seorang tahanan tuna netra sampai bisa membaca, kepada mereka yang tuli ia mengajar mereka dengan bahasa isyarat.

Pada suatu kesempatan para tahanan merasa tidak lagi dikunjungi oleh Cathrine. Ternyata ia meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Para tahanan pun mendengar berita duka itu maka mereka berduka dan berkumpul di gerbang utama. Salah seorang sipir mengatakan kepada mereka untuk bisa keluar dan mengunjungi jenazah Catherine. Pada malam harinya mereka semua kembali ke penjara dalam jumlah yang sama. Sipir yang dari tadinya khawatir merasa kuat ketika melihat mereka semua kembali dalam jumlah yang sama. Wajah mereka lebih ceria. Cinta kasih mengubah hati orang yang keras menjadi lembut. Cinta kasih membuat orang sungguh-sungguh menjadi manusia.

Penginjil Markus hari ini melaporkan bagaimana perjumpaan antara Yesus dan seorang ahli Taurat. Orang itu datang kepada Yesus dan bertanya kepadanya tentang perintah yang paling utama.Yesus tidak menciptakan teori baru tetapi mengingatkan mereka bahwa dari 613 hukum yang ada dalam Taurat, hanya ada dua yang penting: pertama, “Shema Israel, Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang esa. Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatanmu” Kedua, “Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Ahli Taurat itu mengakui Yesus dan menambahkan bahwa hukum yang diajarkan secara baru oleh Yesus itu benar. Dalam hal ini, mengasihi Allah sama dengan mengasihi manusia. Kasih itu nilainya lebih tinggi dan luhur dari pada korban bakaran. Yesus memuji ahli Taurat itu dengan mengatakan bahwa ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. Ia dekat dengan Tuhan.

Dalam masa prapaskah ini kita semua diingatkan untuk bertumbuh dalam kasih karena kita sendiri akan mengalami kasih yang paling agung dari Yesus Kristus. Wujud nyatanya adalah melayani semua saudara yang menderita. Biarkanlah mereka yang menderita menikmati kebahagiaan bersama kita. Biarkan mereka juga mengalami kasih setia Tuhan.

Pertanyaan kita adalah apa makna kasih yang sebenarnya? Menurut Katekismus Gereja Katolik, kasih adalah kekuatan yang dengannya, kita telah lebih dahulu dikasihi Allah, dapat memberikan diri kepadaNya sehingga kita bersatu dengan Dia, dan dapat menerima sesama kita tanpa syarat seperti kita menerima diri kita sendiri (KGK 1822-1829, 1844). St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, dan sekali pun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna" (1Kor 13:2). Meister Eckhart (1260-1328) pernah berkata, “Jam terpenting adalah selalu saat ini. Orang terpenting adalah selalu orang yang duduk paling dekat denganmu saat ini. Pekerjaan yang paling perlu adalah kasih”.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini menempatkan kasih di atas semua hukum, tanpa menghapus hukum-hukum itu. St. Agustinus pernah berkata, “Kasihilah dan lakukanlah apa yang kaukehendaki” Kasih adalah kebajikan terbesar, energi yang mengilhami kebajikan lainnya, dan mengisi kebajikan-kebajikan lainnya dengan hidup ilahi. Dengan melakukan perbuatan cinta kasih, orang itu tidak jauh dari Kerajaan Allah.

Apa yang harus dilakukan? Hosea dalam bacaan pertama mengatakan bahwa orang harus bertobat. Tuhan melalui Hosea mengingatkan umat Israel agar bertobat karena telah tergelincir dari kesalahannya. Mereka harus datang kepada Tuhan dengan kata-kata penyesalan dan bertobat. Untuk itu mereka harus berseru: “Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami”. Dengan perasaan menyesal dan bertobat maka Allah akan menyatakan belas kasihNya kepada mereka. Allah berjanji untuk memulihkan mereka  dari segala penyelewengan, Allah tetap mengasihi mereka.Allah laksana embun bagi Israel. Dengan demikian mereka juga akan kembali pada naungan Tuhan.

Sabda Tuhan hari ini membantu kita untuk semakin percaya pada Allah sebagai kasih. Kita diajak untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Kita mengasihi Tuhan dengan seluruh totalitas kehidupan. Kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Kita percaya kepada Tuhan, berarti Allah yang adalah kasih menyelimuti diri kita. Oleh karena itu kita harus membuat dunia ini berbeda karena kasih. Karena kasih maka tidak ada peperangan dan kekerasan. Karena kasih maka orang-orang jahat menjadi baik. Apakah kita berani mengasihi Tuhan dan sesama sesuai kehendak Tuhan sendiri?

Doa: Tuhan, bantulah kami selalu untuk mengasihiMu dan sesama kami. Amen

PJSDB

No comments:

Post a Comment