Friday, June 15, 2012

Homili Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

HR Hati Yesus yang Mahakudus 
Hos 11:1.3-4.8-9
Mzm (Yes) 12:2-6
Ef 3:8-12.14-19
Yoh 19:31-34
Milikilah hati yang mampu mencintai!

Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Devosi ini populer dan selalu dikenang setiap bulan ketika merayakan Hari Jumat pertama. Bagamana devosi ini berkembang di dalam Gereja? Devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus di dalam Gereja berkembang sejak abad ke-11. Pada mulanya devosi ini lebih bersifat pribadi. Pada tanggal 31 Agustus 1670, di Renes, Prancis, devosi ini berkembang menjadi sebuah pesta yang dipopulerkan oleh Yohanes Eudes (1602-1680). Devosi ini kemudian lebih berkembang ketika terdapat penglihatan yang dialami oleh St. Margaretha Maria Alacoque (1647-1690). Dalam penglihatan itu, Kristus memerintahkan St Margaretha Maria Alacoque untuk melaksanakan Pesta Hati Kudus yang dirayakan pada hari Jumat setelah oktaf dari Hari Raya Corpus Christi. Pesta ini merupakan ungkapan terima kasih manusia karena pengurbanan Tuhan Yesus Kristus demi keselamatan manusia. Hati Kudus disini bukan hanya terbatas pada Hati-Nya secara fisik, tetapi juga kasih-Nya bagi seluruh umat manusia. Pada tahun 1856, Paus Pius IX, atas permintaan para uskup Perancis, memperluas pesta tersebut di dalam Gereja universal.
Merayakan Hari Raya hati Yesus yang Mahakudus membuat kita merenungkan hakikat dari Tuhan yaitu kasih. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8). Di dalam Kitab Perjanjian Lama terdapat banyak ungkapan yang menggambarkan hakikat Allah sebagai kasih. Dalam bacaan pertama misalnya, Hosea yang bernubuat di sekitar daerah Samaria menggambarkan Allah dengan kasih sayangNya yang besar bagi manusia. Tuhan berfirman melalui Hosea, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia dan dari Mesir, anakKu itu Kupanggil...Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih. atiKu berbalik dari segala murka. BelaskasihanKu bangkit serentak.” Tuhan melalui nabi Hosea menunjukkan kasih sayangnya kepada Israel, meskipun Israel tidak setia kepada Tuhan. Memang cinta kasih Tuhan itu mengalahkan kejahatan manusia. Allah itu laksana sumber air hidup.
Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan umat di Efesus supaya dapat memahami betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus. Ia mengakui dirinya sebagai orang yang tidak sempurna tetapi ia juga mengakui bahwa dirinya dianugerahi kasih karunia untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang agung. Paulus juga mendoakan jemaat di Efesus supaya kasih Kristus menaungi hidup mereka dan mereka dapat berakar dan beralas pada kasih.
Untuk lebih memahami betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus maka Yohanes dalam bacaan Injil menunjukkan pengurbanan Kristus bagi manusia.  Ketika berada di atas kayu Salib, Yesus masih dianiaya supaya kasihNya benar-benar sempurna. Seorang prajurit menikam lambung Yesus dengan tombak dan segeralah mengalir darah serta air. Darah dan air yang keluar dari lambung Yesus menunjukkan aliran-aliran kasih dan rahmat bagi setiap pribadi yang menjadi Gereja yang hidup. Darah dan air juga menyuburkan sakramen-sakramen sebagai tanda keselamatan di dalam Gereja.
Lambung Yesus ditikam dan ditembusi sebuah tombak kebengisan manusia. Tombak dosa yang merobek lambung Yesus dan darah serta air membersihkan dan menguduskan setiap pribadi yang berdosa. Hati Yesus sudah terobek, terbuka dan kasih Tuhan mengalir dengan leluasa, tanpa ada halangan. Bagaimana dengan manusia? Manusia menangkap kasih Tuhan Yesus dan masuk ke dalam serta mengalami kasih Tuhan Yesus.
Sambil merenungkan kasih Yesus yang tiada batasnya ini, kita patut bertanya dalam diri kita masing-masing, apakah kita menyadari kasih Yesus di dalam hidup kita? Apakah kasih Yesus sampai tuntas bagi kita juga mendorong kita untuk membawa kasih yang sama kepada saudara-saudara yang paling membutuhkan. Ingatlah: Anda dan saya memiliki hati untuk mencintai!
Doa: Tuhan, terima kasih atas cinta kasihMu bagiKu.
PJSDB

No comments:

Post a Comment

Post a Comment