Tuesday, October 30, 2012

Renungan 30 Oktober 2012

Hari Selasa, Pekan Biasa XXX
Ef 5:21-33
Mzm 127:1-5
Luk 13:18-21

Rahasia ini sungguh besar!

Ada sepasang muda yang hendak menikah. Tanggal pernikahan sudah diketahui oleh mereka semua.Tiba-tiba sang calon suami mengatakan kepada ayahnya, “Daddy, aku punya rahasia. Kalau aku terbuka pada calon pasanganku, kemungkinan besar ia menolak aku.” “Rahasia apa?” tanya ayahnya. “Kaki saya bau”  Jawab anak itu. Ayahnya mengajak anak itu ke toko dan membeli aneka sabun dan kaus kaki. Ayahnya berpesan kepadanya, “Cucilah kakimu dengan sabun yang wangi dan pakailah selalu kaus kaki. Ketika tidur, selalu menggunakan kaus kaki”. Anak itu mengangguk dan mengikuti pesan ayahnya.  Giliran anak perempuan, calon istri juga mengatakan memiliki rahasia kepada ibunya. Anak itu berkata, "Mami, aku punya rahasia yang belum diketahui calon suamiku".  “Rahasia apa, nak?” tanya ibunya. “Mami, gigi saya banyak yang busuk dan bau. Aku tidak pernah membicarakannya dengan calon suami. Aku takut jangan sampai ia menolak aku.” Jawab anaknya. Ibunya mengatakan, "Tidak apa-apa." Mereka pergi ke toko, membeli aneka sikat gigi, pasta dan pengharum mulut. Ibunya berkata, “Gosok gigi dengan teratur, pakailah pengharum mulut setelah menggosok gigi.”

Pasangan muda ini pun menikah. Suaminya menjelaskan kepada istrinya bahwa ia selalu menggunakan kaus kaki saat tidur karena kakinya sensitif dengan cuaca dingin. Pada suatu malam, sang suami merasa kakinya kedinginan, ternyata kaus kaki sebelahnya hilang. Ia cemas, maka berusaha mencarinya sampai istrinya terbangun. Istrinya bertanya, “Ada apa mas?” Begitu mendengar suara istri, suaminya berteriak, “O my God, kenapa kamu tega memakan kaus kaki saya?” Setiap orang punya rahasia kecil atau besar. Namanya rahasia maka selalu tersembunyi tetapi pada kesempatan yang tidak terduga, rahasia itu bisa terbongkar juga. Ibarat sambal terasi dibungkus dengan rapi tetapi suatu saat baunya akan keluar dengan sendirinya.

Pada hari ini St. Paulus dalam tulisan kepada jemaat di Efesus, berusaha menjelaskan relasi intim antara Kristus dan GerejaNya. Paulus mengatakan relasi Kristus dan Gereja itu adalah sebuah rahasia yang sungguh besar. Relasi antara manusia yang hidup (Gereja) dan Tuhan Yesus yang tidak kelihatan adalah sebuah rahasia agung dan dapat dipahami oleh banyak orang dalam relasi antara suami dan istri. Kepada para istri Paulus menulis, “Hendaklah para istri tunduk kepada suaminya dalam segala hal, seolah-olah kepada Tuhan karena suami adalah kepala.” Kepada para suami, Paulus berpesan untuk mengasihi istrinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat, dan telah menyerahkan diri bagi jemaat untuk menguduskannya setelah menyucikannya dengan air dan firman. Suami mengasihi istri seperti ia mengasihi tubuhnya sendiri. Suami juga merawat istrinya seperti ia merawat dirinya sendiri.

Setelah menjelaskan relasi kasih antara suami dan istri, Paulus menyimpulkan: “Karena itu pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Sikap bathin “meninggalkan” akan membuat suami dan istri saling mengasihi dan saling menghormati. Harapan Paulus adalah relasi kasih manusiawi ini hendaknya menjadi nyata juga dalam relasi ilahi antara Umat sebagai Gereja dan Kristus. Kristus mencintai Gereja sebagai Umat Allah dan Umat Allah mencintai Kristus sebagai Tuhan.

Bagaimana kita dapat memahami relasi ini sebagai sebuah rahasia besar? Relasi Kristus dan Gereja sepadan dengan relasi suami dengan istrinya. Kristus telah menyerahkan diriNya satu kali untuk selama-lamanya bagi keselamatan manusia. Dalam dunia Perjanjian Lama, Yahwe pun memiliki kehendak untuk membangun relasi penuh keakraban dengan umat Israel. Kita bisa membacanya dalam Hosea 1-3; Yer 2:2; Yeh 16:23 dan Yes 54:1-10. Dalam kutipan-kutipan ini Tuhan menunjukkan kasihNya yang besar bagi manusia. Gereja yang bersatu dengan Kristus memiliki sebuah keindahan yang tinggi karena Kristus sendiri telah memurnikan, menyucikan Gereja. Ia menyucikannya dengan sakramen pembaptisan dan sabdaNya. Relasi Kristus dan Gereja hendaknya menjadi model relasi antara pria dan wanita dalam perkawinan. Kristus menyatu dengan Gereja, Suami menyatu dengan istrinya.

Bagaimana mengungkapkan sikap mengasihi Kristus selamanya?

Pertama, Umat Allah sebagai Gereja mengasihi Kristus dengan segenap hati dan budi dan kekuatan. Mengasihi Kristus berarti tinggal bersamaNya dan melakukan kehendak yang terungkap di dalam FirmanNya. Mengasihi Kristus  berarti mendengar dan menjadi pelaku FirmanNya.

Kedua, mencintai Kristus berarti mengikuti Kristus dari dekat. Kristus adalah pribadi yang taat, miskin dan murni dan hendaknya Gereja juga demikian.

Ketiga, mencintai Kristus berarti menjadi seperti Kristus yang menerima semua orang apa adanya. Suami dan istri saling menerima kelebihan dan kekurangan, melihat dan menghayati kesepadanan mereka.

Tentu saja untuk menghayati kasih, kita memulai dari hal-hal yang kecil dan lama kelamaan akan menjadi besar. Hal-hal kecil itu ibarat biji sesawi atau ragi. Biji sesawi meskipun kecil tetapi dapat bertumbuh menjadi besar, bahkan burung dapat bersandar di atasnya. Ragi meskipun jumlahnya sedikit tetapi dapat membuat adonan menjadi besar. Perbuatan-perbuatan baik, sekecil apa pun memiliki power untuk menjadikan sesama bernilai dan bermartabat.

Sabda Tuhan menguatkan relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Bagi para suami dan istri, sabda Tuhan adalah peneguh: Jadilah istri yang taat dan penuh hormat kepada suami. Jadilah suami yang mengasihi istri seperti diri sendiri dan merawatnya seperti merawat diri sendiri. Keluarga-keluarga akan menjadi sebuah gereja yang sempurna kalau Kristus sungguh hadir dan menetap di dalamnya. Apakah keluarga-keluarga terbuka pada Kristus? Sakramen Ekaristi adalah sakramen yang membantu kita untuk memahami rahasia persekutuan intim antara umat dan Tuhan. Apakah kita menyadari Ekaristi sebagai saat bersekutu dengan Tuhan Yesus  dalam Sabda serta menerima Tubuh dan DarahNya?


Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau mengasihi keluarga kami. Amen


PJSDB 

No comments:

Post a Comment