Thursday, January 10, 2013

Renungan 10 Januari 2013

Hari Kamis, Penampakan
1Yoh 4:19-5:4
Mzm 72:1-2.14.15.bc.17
Luk 4:14-22a


Jangan Berhenti Mengasihi!


Santo Sirilius dari Alexandria pernah berkata, “Semua hal yang baik di dalam diri kita mengalir lewat Roh Kudus”. Roh Kuduslah yang menyadarkan kita untuk memahami kasih Bapa dan Putera dan kasih kepada sesama manusia. Ada seorang bapa pernah mengatakan kepadaku bahwa Roh Kudus selalu berkarya di dalam dirinya. Semua tugas dan kewajibannya dia lakukan dengan sukacita. Semua orang yang dilayani juga mengakui hal yang sama. Saya bertanya kepadanya alasan mengapa ia dapat melakukan semuanya bersama Roh Kudus. Dia diam dan kelihatan tidak mengetahui jawabannya. Maka saya menyuruhnya membuka 1Kor 6:19. Dia membacanya dengan suara lantang: “Tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” Ia memandang saya dan berkata, “Aku baru tahu romo”. Lalu saya berkata kepadanya, "Mulai sekarang hafal dan lebih menghayatinya!" Apa yang kita tangkap dari sharing kecil ini? Ada satu yakni kalau Roh Allah ada di dalam diri setiap orang percaya maka ia tidak akan berhenti mengasihi serta melayani Tuhan  dan sesama.

Yohanes melanjutkan pengajarannya tentang kasih. Kemarin ia mengingatkan kita bahwa Allah begitu mengasihi kita. Karena kasihNya maka kita juga saling mengasihi sebagai sesama manusia. Kita berada di dalam Dia dan Dia berada di dalam kita. Pada hari ini ia menegaskan bahwa Kita harus mengasihi Allah karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Konsekuensi dari mengasihi Allah adalah kita juga harus mengasihi sesama manusia karena dengan mengasihi sesama kita mengasihi Allah sendiri yang tidak kelihatan. Perintah yang ditawarkan Yohanes bagi komunitasnya adalah: “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1Yoh 4:21)

Konsep cinta kasih dalam pemikiran Yohanes adalah seperti ini: Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita. Sebagai jawaban pasti kita juga mengasihi Tuhan. Relasi kasih antara Allah dengan kita sebagai manusia dan kita sebagai manusia dengan Allah menjadi nyata dalam relasi kasih antara kita dengan sesama manusia yang lain. Allah yang tidak kelihatan mengasihi kita, kita juga mengasihiNya maka cinta kasih harus menjadi nyata dalam kasih kepada sesama yang kelihatan. Kalau kita tidak mampu melakukannya maka Yohanes mengatakan “pembohong”. Cinta kasih yang Tuhan berikan kepada kita, kita lanjutkan kepada sesama. Mengapa? Karena cinta kasih Tuhan itu tidak pernah berhenti pada kita. Cinta kasih Tuhan itu senantiasa bersifat dinamis dalam arti kita terima cinta kasih Tuhan secara cuma-cuma maka kita pun memberikan cinta kasih kepada sesama dengan cuma-cuma juga. Maka konsep Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah adalah konsep cinta kasih mutlak dari Allah. Hidup kita dikuasai oleh kasih Allah yang tiada habis-habisnya.

Logika kasih Yohanes ini membantu kita untuk melihat pribadi Yesus sebagai wujud kasih Allah bagi dunia (Yoh 3:16). Penginjil Lukas mengisahkan bahwa Yesus berhasil mengalahkan godaan iblis di padang gurun. Ia dipenuhi Roh Kudus dan mengajar di mana-mana sehingga semua orang takjub dan memujiNya. Kemudian Ia datang ke Nazaret tempat Ia di besarkan. Sebagai orang Yahudi dewasa, pada hari Sabat, Ia mengikuti ibadat di dalam Sinagoga. KepadaNya diberikan gulungan Kitab Nabi Yesaya (61:1-2) untuk dibacakan, bunyinya: “Roh Tuhan ada padaKu oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan khabar gembira kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4: 18-19).

Semua orang di dalam Sinagoga sama-sama memandang Yesus dengan tatapan keheranan. Ia mengajar mereka: “Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya” (Luk 4:21). Yesus memaparkan visi dan misiNya dengan jelas sesuai apa yang sudah dikatakan di dalam Kitab Nabi Yesaya. Ia sekaligus mengatakan bahwa diriNya adalah Mesias yang dinanti-nantikan. Sebagai Mesias, Ia adalah pemimpin spiritual bagi kaum papa dan miskin. Ini membuat banyak orang heran sehingga semua mata tertuju kepadaNya.

Sabda Tuhan hari ini membantu kita untuk memahami betapa luhurnya kasih Allah bagi kita. Allah yang pertama mengasihi kita maka kita pun menjawab kasih Allah dengan mengasihiNya dan mengasihi sesama. Kita belajar dari Yesus wujud Kasih Bapa yang datang ke dunia untuk mengasihi orang-orang miskin dengan kata-kataNya, pembebasan kepada para tawanan, menyembuhkan mereka yang sakit dan yang tertindas di bebaskanNya. 

Cinta kasih menjadi sempurna karena Roh Kudus sebagai Roh Cinta Kasih menaungi kita. Mengasihilah seakan-akan hari ini adalah hari terakhir dan jika hari esok tiba, kembalilah mengasihi! Roh Kudus dari Allah ada pada kita dan memampukan kita untuk mengasihi. Pertanyaan refleksi buat kita semua adalah apa visi dan misimu sebagai pengikut Kristus?

Doa: Tuhan semoga kami tulus dalam mengasihi Tuhan dan sesama. Amen

PJSDB

No comments:

Post a Comment