Monday, January 21, 2013

Renungan 21 Januari 2013

St. Agnes, Martir
Hari Senin, Pekan Biasa II
Ibr 5: 1-10
Mzm 110:1-4
Mrk 2:18-22

Engkau adalah imam untuk selama-lamanya!

Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan pesta santa Agnes. Agnes berarti anak domba sebagai korban yang suci dan murni. Ia lahir di Roma pada tahun 291. Ia adalah wanita yang cantik dan simpatik. Ia memiliki hati emas karena Kristus bersamanya. Ia pernah berkata, "Tuhan Yesus Kristus mempercantik jiwaku dengan rahmat dan kebaikan sebagai perhiasannya. Aku ini sekarang milik Dia yang dilayani para malaikat." Banyak pemuda kota Roma yang tertarik padanya tetapi ia merasa tetap menjadi milik Kristus. Ia memilih menjadi perawan untuk Kristus yang lebih dahulu mencintainya. Ia menjadi martir Kristus pada tahun 304. Agnes menunjukkan cintanya sampai tuntas bagi Yesus. Pada saat ini para pengikut Kristus menjadi martir karena pembaptisan. Sebagai pengikut Kristus kita dipanggil sesuai cara hidup kita untuk menjadi martir dan kudus.

Ketika hendak merayakan misa syukur sebagai imam baru di kampung halamanku, saya diterima dengan meriah. Saya diarak keliling kota dan semua orang mengelu-elukan karena sebagai imam pertama yang belajar dan ditahbiskan di kota Yerusalem. Pengalaman itu lebih menakjubkan lagi dalam misa syukur dan rama tamah. Saya terkenang dengan pesan dari Almahrum Pater Ben Atok, SVD. Ia pernah menjadi pastor parokiku dan mengenalku dengan baik. Ia memberi pesan kepada saya: “Pater John yang terkasih. Anda pasti bahagia karena cita-citamu menjadi imam telah tercapai. Saya katakan, cita-citamu menjadi imam belum tercapai. Cita-citamu menjadi imam tercapai ketika kamu meninggal dunia, masuk ke dalam peti mayat dengan pakaian kebesaranmu sebagai imam dan di batu nisanmu tertulis RIP P. John Laba Tolok, SDB. Sekian dan terima kasih”. Semua orang hening baru bertepuk tangan. Terima kasih almahrum Pater Ben, engkau sudah mewujudkannya dan pasti engkau bahagia di surga.

Saya teringat juga dengan pengalaman St. Yohanes Bosco. Ketika ia menjadi ditahbiskan sebagai imam, ibunya Margaretha Occhiena berpesan: “Sekarang engkau sudah menjadi seorang imam, dan engkau mempersembahkan misa. Oleh karenanya, engkau menjadi lebih dekat dengan Yesus Kristus. Tetapi ingatlah bahwa mulai mempersembahkan Misa berarti mulai menderita. Engkau tidak akan menyadari hal ini dengan segera, tetapi sedikit demi sedikit engkau akan mengerti bahwa bahwa benarlah ibumu” .

Dua kisah dari pengalaman pribadi dan kisah kehidupan St. Yohanes Bosco untuk mengatakan kepada kita semua tentang imam bagi Tuhan. Penulis surat kepada umat Ibrani menulis, “Saudara-saudara, setiap imam agung, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan kurban karena dosa”. Imam adalah orang pilihan Tuhan dari antara manusia menjadi pelayan sejati. Sebagai pilihan Tuhan, imam agung harus memahami orang-orang jahil dan sesat karena ia juga punya kelemahan. Ia mempersembahkan kurban pelunas dosa bagi semua orang berdosa dan juga bagi dirinya sendiri. Tidak seorang pun yang layak mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri.

Di dalam dunia perjanjian lama, imam mempersembahkan kurban bakaran berupa hewan tetapi di dalam dunia perjanjian Baru, Yesus Kristus bertindak sebagai Imam Agung. Ia tidak lagi mempersembahkan hewan sebagai kurban bakaran tetapi mempersembahkan diriNya sebagai kurban persembahan. Dialah Anak domba Allah yang rela menderita, dibawa ke pembantaian tetapi tidak mengeluh atau merasa takut. Mengapa? Karena Ia diangkat oleh Bapa sebagai Imam Agung. Sebagai manusia, Yesus Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap dan tangis dengan keluhan kepada Allah yang sanggup menyelamatkanNya dari maut dan karena kesalehanNya, Ia telah didengarkan. Namun hal terpenting dari Yesus adalah ketaatan dan penderitaanNya. Semua orang yang percaya kepadaNya akan diselamatkan.

Dua hal yang menjiwai imamat Yesus Kristus adalah penderitaan dan ketaatanNya kepada Bapa. Ia tidak melihat diriNya sebagai Anak Allah. Ia justru menjadi manusia, taat dan menderita demi keselamatan kita semua. Kita mungkin  mudah takut dengan segala bentuk penderitaan di dalam hidup. Kita juga sulit menjadi orang yang taat. Tetapi hari ini Yesus memberi contoh ketaatanNya sebagai Anak Allah yang rela menderita bagi keselamatan manusia. Dia mempersembahkan diriNya secara total sebagai kurban bagi keselamatan manusia.

Bagaimana mewujudkan diriNya sebagai Imam Agung? Penginjil Markus mengatakan bahwa Yesus adalah pengantin pria yang membawa sukacita tersendiri bagi para sahabatNya. Ketika orang mempertentangkan tentang para murid yang tidak berpuasa, Yesus berkata, “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi selagi pengantin itu bersama-sama mereka? Mereka tidak berpuasa selama pengantin pria itu ada bersama mereka. Tetapi pada saat yang tepat pengantin itu akan diambil dari mereka dan saat itulah mereka mulai berpuasa.” Yesus tampil sebagai pengantin dan para muridNya adalah sahabatNya. Selagi Yesus masih hidup maka para murid bersukacita dan tidak berpuasa. Ketika Yesus mengalami penderitaan, wafat dan dikuburkan kemudian bangkit dari alam maut. Pengalaman penderitaan Kristus menjadi saat bagi para murid untuk berpuasa.

Anggur baru di dalam bacaan Injil adalah Yesus sendiri dan Injil yang diwartakanNya. Tidak seorang pun dapat menerima Yesus dan pesan-pesanNya kecuali kalau ia memiliki pikiran dan hati yang baru. Yesus dan InjilNya hanya hanya dapat diterima dengan iman. Kita tidak pertama-tama memahami Yesus kemudian  percaya kepadaNya dan Injil. Kita justru pertama percaya kepada Yesus sehingga dapat memahamiNya dan juga Injil suciNya.

Sabda Tuhan hari ini mengarahkan kita untuk memahami Yesus sang Imam Agung. Dialah Mesias, Pengantara Allah dan manusia. Dalam peristiwa Inkarnasi, Ia mengalami hidup sebagai manusia yang taat sampai mati di atas kayu salib. Dia sang Imam Agung yang mengajar kita untuk setia. Dia juga yang membuat kita menjadi sahabat-sahabat pengantin memiliki sukacita yang besar. Dialah yang menjadikan bagi diriNya para imam untuk melayaniNya.

Doa: Tuhan, Engkaulah Imam Agung kami. Kami memuliakan namaMu. Amen

PJSDB

No comments:

Post a Comment