Yos 3:7-10a.11.13-17
Mzm 114:1-2.3-4.5-6
Mat 18:21-19:1
Allah tak pernah ingkar janji!


Pengalaman
memasuki tanah terjanji melewati sungai Yordan yang berhenti mengalir
mengingatkan kita pada penyertaan Tuhan bagi umat Israel ketika mereka melewati
laut merah. Ketika keluar dari Mesir mereka melewati laut merah, ketika
memasuki tanah terjanji mereka melewati sungai Yordan. Bagi orang Yahudi, air
itu memang simbol chaos, menakutkan karena mereka mengingat kisah tentang air bah.
Demikian juga laut merah, di mana nenek moyang mereka menyaksikan kuasa Allah
yang menenggelamkan para prajurit Mesir. Tetapi pemikiran baru yang sedang
dialami oleh umat Israel adalah air itu ternyata menyelamatkan. Nenek moyang
mereka melewati tanah yang kering di laut merah dan sekarang mereka juga
merasakan tanah kering di sungai Yordan. Mereka mau disadarkan Tuhan untuk
merasakan keselamatan yang datang dari Allah sendiri. Pengalaman ini juga mau mengingatkan mereka
bahwa meskipun mereka selalu menggerutu melawan Tuhan, tetapi kini Tuhan
menepati janjiNya dan mereka akan memiliki tanah baru yang penuh susu dan
madunya. Tuhan tidak pernah ingkar janji!
Dalam
kacamata Kristiani, pengalaman umat Israel memasuki tanah terjanji melewati laut merah dan sungai Yordan itu sama dengan
pengalaman umat kristiani dikuduskan pada hari pembaptisan. Memang ketika dibaptis dalam nama Tritunggal
Mahakudus, kita semua dikuduskan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Kristus telah wafat
bagi kita, kita juga mati karena dosa-dosa kita. Yesus Kristus bangkit, kita juga bangkit bersama Dia.
Sakramen pembaptisan sebagai saat dikuduskan harus selalu dikenang. Banyak di antara kita pasti lupa
hari pembaptisannya. Padahal hari pembaptisan adalah hari di mana kita pertama
kali dikuduskan di dalam Tuhan. Kita masuk menjadi satu keluarga dengan Tuhan sendiri.
Dalam bacaan Injil hari ini, Penginjil Matius menceritakan bahwa Petrus datang kepada Yesus dan bertanya: “Tuhan, sampai berapa kalikah aku
mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kalikah?” Perhatikanlah, Petrus sedang menggunakan perhitungan secara matematis untuk mengampuni saudara yang berdosa. Bagaimana dengan Tuhan? Tuhan Yesus tidak menggunakan
perhitungan matematis. Ia hanya menjawab Petrus, “Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Bagi Tuhan, mengampuni itu tidak
memiliki batas ruang dan waktu. Tuhan mengampuni manusia secara total karena ia
sendiri mahapengampun. Bagaimana
dengan kita? Karena kita pun mengalami pengampunan tanpa batas dari Tuhan, maka tugas
kita sekarang adalah mengampuni sesama tanpa batas. Ingatlah bahwa Tuhan sendiri sudah
mengampunimu maka ampunilah juga saudara yang berdosa terhadapmu. Tuhan
maharahim dan murah hati maka bermurah hatilah terhadap sesama. Bermurah
hatilah terhadap musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Doa: Tuhan,
terima kasih atas kemurahan hatiMu, yang selalu mengampuni dan memelihara kami.
Hantarlah kami untuk ikut menikmati tanah terjanji yang sudah Engkau janjikan melalui Yesus PutraMu terkasih, yakni Surga di mana kami berada bersama Engkau selama-lamanya. Amen
PJSDB
No comments:
Post a Comment