Tuesday, August 20, 2013

Renungan 20 Agustus 2013

St. Bernardus Calirvaux
Hak 6:11-24a
Mzm 85:9.11-12.13-14
Mat 19:23-30

Jika Tuhan menyertai kami...

Pada hari ini, seluruh Gereja katolik merayakan Peringatan St. Bernardus. Ia dikenal dengan sapaan lengkap Bernardus dari Clairvaux, dilahirkan pada tahun 1090 di Fontaines. Ia adalah seorang anak yang berasal dari keturunan bangsawan. Ketika masih kecil, ia mempunyai impian menjadi seorang biarawan. Impian ini terwujud ketika ia masuk dalam komunitas biara Citaux pada tahun 1112. Biara Citaux merupakan biara yang pertama didirikan dari ordo Cistercian. Setelah tiga tahun, Bernardus lalu mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemimpin biara Citaux di Clairvaux pada tahun 1115. Kesempatan tersebut diperolehnya setelah Stephanus Harding, pemimpin Biara Citaux, terkesan oleh kesalehan dan kepemimpinan yang ditunjukannya. Selama berada di bawah asuhannya, biara ini mengalami kemajuan yang pesat. Bernardus bahkan berhasil mengembangkannya hingga menjadi lebih dari delapan puluh biara dengan Citaux sebagai pusatnya.

Apa warisan rohani yang diberikan Bernardus bagi Gereja? Dalam ajaran-ajarannya, ia menekankan penyangkalan diri dan kesucian hidup. Ia mengajarkan orang-orang untuk lebih mengasihi Allah daripada dunia ini. Tentu hal ini berbeda dengan kaum skolastik yang banyak mengandalkan akal budi, Bernardus lebih fokus pada perubahan hidup manusia. Bernardus juga mementingkan tentang kerendahan hati manusia di hadapan Allah.  Baginya kerendahan hati manusia dibutuhkan dalam rangka penyucian rohani. Dengan demikian, ini akan menuntun manusia mencapai kontemplasi sehingga dapat menyatu dengan Tuhan. Akan tetapi, dengan konsep ini Bernardus tidak lantas menyatakan bahwa manusia kemudian menjadi Allah melainkan kehendak manusia dan kehendak Allah yang mencapai kesatuan. Ia tidak setuju dengan Immaculate Conception yaitu suatu ajaran yang mengatakan bahwa Maria tidak berdosa. Bagi Bernardus Yesus Kristuslah satu-satunya yang tidak berdosa. Bernardus juga sangat dikagumi karena ajaran-ajarannya rohaninya yang berlandaskan cinta. Ia banyak membuat khotbah tentang Kidung Agung dan risalah-risalahnya juga banyak berbicara mengenai cinta kepada Allah. Tentang cinta kasih, Bernardus berkata: “Ukuran untuk mencintai adalah mencintai tanpa ukuran”. Bernardus wafat pada tahun 1153.

St. Bernardus pernah berkata bahwa kita semua dapat mencintai Allah karena Allah sendiri. Pemikiran Bernardus kiranya tepat dengan apa yang dikatakan Yohanes bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Pandangan hidup St. Bernardus terutama mengasihi Allah karena Allah adalah kasih menginspirasikan kita untuk memahami sabda Tuhan pada hari ini. Selama beberapa hari ini, kita mendengar kisah umat Israel yang sudah masuk dan menempati tanah terjanji. Tuhan mengasihi mereka. Ia menunjukkan kasihNya dengan memilih pemimpin-pemimpin seperti Musa dan Yosua. Selama dipimpin oleh Musa dan Yosua, orang-orang Israel kurang menyadari kasih Allah. Oleh karena itu hakikat Allah sebagai kasih tidak imani oleh orang Israel. Mereka diminta oleh Tuhan untuk menghancurkan altar-altar orang Kanaan tetapi mereka tidak menghancurkannya. Mereka justru menyembah dewa Baal dan memberikan sesajian di atas altar Baal. Masa setelah wafatnya Yosua merupakan masa kegelapan. Orang Israel semakin jahat dan menyembah dewa-dewi asing. Tuhan tetap mengasihi mereka dan mengutus hakim-hakim untuk memimpin.

Pada suatu kesempatan Malaikat Tuhan duduk di bawah pohon terbantin di Odra kepunyaan Yoas, orang Abiezer. Putra Yoas bernama Gideon. Ia bekerja sebagai pemeras anggur. Kepada Gideon malaikat Tuhan berfirman: “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gaga berani”. Tentu perkataan malaikat ini membingungkan Gideon. Dari pengalamannya, ia merasa bahwa banyak penderitaan dan kemalangan mereka rasakan. Maka penyertaan Tuhan tentu saja disangkal oleh Gideon. Ia lalu teringat pada semua karya Tuhan kepada umat Israel, sejak keluar dari Mesir, hingga menempati tanah Kanaan. Penderitaan yang mereka rasakan adalah berada di bawah cengkeraman kaum Median.

Tuhan melalui malaikatNya mengatakan perintah ini kepada Gideon: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang-orang Israel dari cengkeraman orang-orang Midian. Bukankah Aku telah mengutus engkau? (Hak 6:15). Gideon keberatan dengan perintah penugasan dari Tuhan karena ia merasa bahwa bangsa kecil dan tentu mereka tidak mampu menghadapi bangsa yang kuat. Namun Tuhan tetap pada pendirianNya bahwa Gideonlah yang harus menyelamatkan Israel. Gideon pun menerima penugasan dari Tuhan dan dengan berani Gideon mempersembahkan korban kepada Tuhan untuk membuktikan apakah Tuhan sungguh menyertainya. Ketika memandang malaikat Tuhan, Gideon ketakutan karena ia memandang Malaikat Tuhan berhadapan muka. Malaikat Tuhan meyakinkan Gideon bahwa ia akan tetap. Hal yang menarik dari kisah Gideon adalah bagaimana ia membangun relasi yang akrab dengan Tuhan. Ia berani berkata apa adanya, semua keraguan dan pengalaman menderita. Itu sebabnya Tuhan memilihnya untuk memimpin Israel terutama membebaskan mereka dari orang-orang Midian.

Yesus dalam Injil melanjutkan pengajaran Yesus tentang keterikatan manusia pada harta kekayaan. Orang muda di dalam injil merasa bahwa dengan mengikuti sepuluh perintah Allah itu sudah cukup. Tuhan Yesus menghendaki sesuatu yang lebih radikal yakni sikap lepas bebas. Orang muda tidak hanya sekedar menjual harta milikinya. Hasil penjualannya itu diberikan kepada kaum miskin supaya ia hanya berharap kepada surga. Setelah itu mengikuti Yesus. Orang muda itu kecewa dan mundur karena banyak hartanya dan ia tidak rela meninggalkannya. Itu sebabnya hari ini Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk Kerajaan Surga. Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada orang kaya masuk kedalam Kerajaan Surga”. 


Pernyataan Yesus ini menggemparkan seluruh komunitas. Mereka bertanya, “Kalau begitu siapa yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”. Petrus sebagai ketua para rasul bertanya kepada Yesus tentang upah yang akan mereka terima karena mengikutiNya. Mereka telah meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. bagi para rasul, Yesus menjanjikan sebuah hidup berkelimpahan di atas dunia dan kelak. 

Sabda Tuhan pada hari ini menuntun kita untuk meninggalkan segala sesuatu, menjadi manusia yang bebas sehingga dapat mengikuti Yesus secara radikal. Tentu saja ada pengalaman penderitaan, kemalangan yang datang silih berganti tetapi semuanya ini tidak akan memisahkan kita dari kasih Kristus. Dia tetap menyertai kita semua.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau selalu menuntun dan mengasihi kami. Semoga hari ini kami juga dapat menjadi tanda dan pembawa kasihMu kepada sesama. Amen
PJSDB

No comments:

Post a Comment