Im 25:1.8-17
Mzm 67:2-3.5.7-8
Mat 14:1-12
Jangan kalian saling merugikan satu sama lain
Selama hari-hari menjelang Idulfitri, istilah mudik menjadi populer di mana-mana. Orang memiliki kebiasaan yang baik untuk kembali ke kampung halaman demi merayakan hari kemenangan bersama seluruh keluarga. Momen kekudusan, persahabatan mau dimantapkan ketika berada dalam suasana kebersamaan sebagai keluarga. Itu sebabnya orang memang sudah tahu bahwa akan ada kemacetan di mana-mana, bahaya kejahatan yang tinggi dan kecelakaan lalu lintas tetapi orang masih mau mudik. Mereka juga tahu bahwa untuk mudik butuh biaya yang besar tetapi orang tetap mau memilih mudik. Itulah suasana khusus di Indonesia pada hari-hari ini. Banyak orang yang tinggal di kota-kota besar menjadi Oshin untuk melayani keluarga.

Jubileum berasal dari kata Jobel, tanduk yang dijadikan trompet, digunakan untuk mewartakan tahun Jubileum. Perhitungan tahun Jubileum adalah selama tujuh tahun Sabat yakni tujuh kali tujuh tahun. Maka tujuh tahun Sabat sama dengan empat puluh sambilan tahun. pada tanggal sepuluh bulan ketujuh, sangkakala harus dibunyikan. Pada tahun ke lima puluh haruslah menjadi tahun Yobel. Apa yang harus dilakukan dalam tahun Yobel? Setiap orang harus pulang ke tanah miliknya dan kaum keluarganya. Umat Israel diingatkan supaya pada tahun Yobel atau Yubelium itu, mereka tidak bercocok tanam. Kalau ada buah dari tanaman yang bertumbuh sendiri juga tidak perlu dipetik. Setiap orang diharapkan tidak saling merugikan. Tahun Yubileum haruslah menjadi tahun yang kudus bagi Israel. Prinsip-prinsip penting yang muncul di dalam persiapan tahun Yuibelum adalah: supaya semua orang berlaku adil, jujur dan penuh kasih. Semua aturan hanya akan menjadi aturan kalau tidak memuat prinsip-prinsip ini.


Dunia zaman ini membutuhkan banyak orang kudus untuk mengajarkan kebenaran dan keadilan bukan hanya dalam perkataan tetapi dalam hidup konkret. Tentu saja hal ini adalah pekerjaan yang sulit karena harus melawan arus dunia yang nyata. Kita tahu bahwa sikap Herodes ini memang sangat berlawanan dengan kebenaran dan keadilan. Ia merebut Herodias yang saat itu berstatus sebagai istri dari saudaranya bernama Filipus. Pada masa ini banyak orang juga yang masih tetap berperilaku demikian. Ada yang merebut suami atau istri orang lain. Keluarga bukan lagi menjadi gereja domestik tetapi neraka domestik. Mengapa? Karena orang sudah mati rasa sehingga menghancurkan keluarga sendiri dan keluarga orang lain. Masih ada Herodes-Herodes lain dalam masyarakat kita. Yesus sendiri berkata: “Setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya, ia sudah berbuat zinah” (Mat 5:28). Perhatikanlah, baru melihat dan menginginkan saja sudah dosa, bagaimana kalau melakukan dengan merebut pasangan orang lain? Mari kita menghormati kekudusan keluarga-keluarga, karena di dalam keluarga Tuhan hadir. Ada cinta kasih yang menaungi seluruh keluarga. Prinsip yang baik adalah "Love one another not love another one".
Doa: Tuhan, kami bersyukur atas keluarga-keluarga yang didirikan di atas dasar kasih sayang. Semoga Engkau menganugerahkan kasih sayang dan kesetiaan kepada mereka semua. Amen
PJSDB
No comments:
Post a Comment