Saturday, October 12, 2013

Renungan 12 Oktober 2013

Hari Sabtu, Pekan Biasa XXVII
Yl 3:12-21
Mzm 97:1-2.5-6.11-12
Luk 11:27-28

Tuhanlah Hakim yang Adil!

Bangsa Israel sedang menata kehidupan mereka di Yerusalem. Sambil perlahan-lahan mereka menikmati hidup kembali sebagai orang merdeka, Tuhan mengingatkan mereka untuk selalu siap-siaga menyambut hari Tuhan. Tuhan sendiri adalah hakim yang adil, Dialah yang akan mengadili orang yang hidup dan mati. Pada saat ini kita sebagai Gereja juga percaya bahwa Yesus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Orang-orang jahat akan mendapat hukuman setimpal dengan kejahatan mereka, sedangkan orang-orang baik akan mengalami kemuliaan Tuhan selamanya di Surga.

Pada hari ini kita kembali mendengar nubuat Yoel tentang hari Tuhan. Yoel bernubuat bahwa hendaknya segala bangsa bergerak dan  maju ke lembah Yosafat karena di sana Tuhan akan duduk dan mengadili semua bangsa yang berasal dari segala penjuru. Lembah Yosafat sebenarnya merupakan sebuah bahasa simbolis yang dipakai untuk menunjukkan penghakiman di pihak Tuhan Allah. Yosafat berarti Yahwe menghakimi. Nama ini lalu dihubungkan dengan Allah yang datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Lembah Yosafat menjadi simbol lembah penentuan untuk menghakimi umat manusia. Di Yerusalem dikenal lembah Kidron (Yeh 38-39; Mi 4:11-14; Za 12:2-6).

Apa yang akan dilakukan Tuhan di hari pengadilan? Yoel bersaksi bahwa Tuhan akan mengayunkan sabit, sebab tuaian sudah masak. Mengirik, karena tempat anggur sudah penuh, tempat pemerasan sudah berkelimpahan. Mengapa Tuhan melakukan penghakiman seperti ini? Karena Tuhan melihat bahwa semua orang berbuat jahat. Karena kejahatan merajalela maka patutlah mereka merasakan keadilan Tuhan pada hari Tuhan. Yoel menggambarkan hari Tuhan sebagai hari yang gelap karena matahari, bulan dan bintang tidak bersinar. Tuhan akan memperdengarkan suaraNya dari Sion. Langit dan bumi pun akan bergoncang. Namun demikian Tuhan tetaplah menjadi tempat perlindungan bagi umatNya.

Dampak dari pengadilan Tuhan adalah segala sesuatu dibaharui oleh Tuhan. Yerusalem akan menjadi kudus sehingga orang-orang takkan melintasinya lagi. Gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, segala sungai akan mengalirkan air. Di rumah Tuhan akan muncul mata air untuk membasahi lembah Sitim. Bangsa-bangsa asing seperti Mesir akan menjadi sunyi sepi, Edom menjadi padang Gurun tandus. Tuhan menyiksa kedua bangsa asing ini karena mereka pernah melakukan kekerasan terhadap keturunan Yehuda. Yehuda akan tetap didiami selamanya, Yerusalem masih tetap didiami turun temurun.

Nubuat Yoel ini memang menarik perhatian kita karena menunjukkan wajah Yahwe sebagai hakim yang paling adil. Apa yang Tuhan lakukan? Tuhan tetap berusaha untuk menyadarkan kita semua bahwa kita orang berdosa dan perlu bertobat supaya layak mendapatkan penebusan yang berlimpah dari Tuhan. Jadi hal pertama yang harus kita pikirkan adalah kesadaran bahwa diri kita orang berdosa. Kalau kita mengenal diri kita seperti ini, lalu kita memandang Tuhan yang akan mengadili kita. Pengadilan Tuhan itu didasarkan pada berapa perbuatan kasih yang sudah kita lakukan untuk saudara yang paling kecil dan hina. Mereka ini adalah Tuhan  Yesus kecil di tengah-tengah kita. Mereka dikirim oleh Tuhan supaya kita mengasihi mereka. Bersukacitalah di dalam Tuhan. Orang-orang benar akan bersukacita selamanya dalam Tuhan. Orang-orang yang tidak setia dalam hal ini bangsa-banagsa asing akan menerima ganjaran dari Tuhan.

Orang-orang benar adalah mereka yang hidup layak di hadirat Tuhan, mereka ini mendengar suara Tuhan dan melakukannya di dalam hidup setiap hari. Orang-orang benar disapa oleh Yesus sebagai orang yang bahagia di dalam hidupnya. Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang mendengar Sabda Tuhan dan memeliharanya”. Dengan mendengar Yesus maka relasi kita semakin terbuka denganNya bahkan melampaui relasi sebagai keluarga. Hari ini Yesus memuji ibuNya dan memuliakannya karena dialah manusia pertama yang mendengar Sabda dan melakukannya di dalam hidupnya. Apakah kita juga bisa menyerupai Bunda Maria yang setia mendengar Sabda Tuhan dan melakukannya?

Doa: Tuhan, semoga kami mampu mendengar suaraMu dan melakukannya di dalam hidup setiap hari. Amen

PJSDB

No comments:

Post a Comment