Tuesday, October 15, 2013

Uomo di Dio

Harga sebuah pengorbanan

Ada seorang sahabat pernah bertanya kepadaku: “Apakah benar bahwa pengorbanan kaum pria itu lebih kecil dari pada kaum wanita?” Saya mengatakan kepadanya bahwa hal ini tergantung pada sudut pandang mana kita menilai kualitas pengorbanan seseorang. Kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa kaum wanita lebih banyak berkorban di dalam hidupnya karena dia yang mengandung dan melahirkan anak.Tanpa seorang pria, wanita juga tidak bisa mengandung. Anak-anak juga bertumbuh karena pengorbanan pria dan wanita dalam hal ini seorang ayah dan ibu.

Pada suatu kesempatan saya merayakan misa di sebuah paroki. Saya mengalami sebuah pengalaman yang menarik. Saya melihat seorang bapa membonceng anaknya dengan sepeda. Sesampai di gereja, ia memarkir sepedanya lalu menggendong anaknya masuk ke dalam gereja. Anaknya itu lumpuh dan berusia sekitar 15 tahun. Pada saat komuni kudus, ia menggendong anaknya untuk menerima komuni kudus. Semua orang memperhatikan bapa itu tetapi ia tetap maju, tidak merasa minder. Setelah perayaan ekaristi, ia menghampiri saya di ruangan sakristi untuk memohon doa dan berkat. Ia sempat bercerita singkat tentang pengalamannya. Istrinya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan anaknya yang lumpuh ini. Sejak saat itu ia memilih untuk tidak menikah lagi, tetapi mencurahkan seluruh hidup bagi anaknya. Ia bertekad untuk melakukan yang terbaik, menghilangkan semua rasa minder demi kebahagiaan anaknya.

Saya kembali ke komunitas dengan membawa sebuah bingkisan pengalaman iman yang menakjubkan. Saya sudah menemukan seorang pria katolik yang rela berkorban untuk tidak menikah lagi demi anaknya yang lumpuh. Sebuah pengorbanan yang memiliki dasar yang kuat pada kasih yang murni kepada sesama. Dalam hal ini kasih seorang bapa kepada anaknya yang lumpuh. Ada orang tua tertentu yang mungkin tidak berani atau merasa minder memiliki anak yang cacat atau berkebutuhan khusus. Tetapi banyak orang tua juga yang mau berkorban demi anaknya yang cacat atau berkebutuhan khusus.

Spritualitas pria katolik macam apa yang perlu kita miliki? Saya kira semangat rela berkorban adalah sebuah bentuk spiritualitas pria katolik. Mari kita memandang Tuhan Yesus Kristus. Dia mengorbankan diriNya untuk kita semua. Penginjil Yohanes mengatakan bahwa Yesus senantiasa mengasihi murid-muridNya sampai kepada kesudahan (Yoh 13:1). Yesus rela berkorban dan Ia tunjukkan dalam penderitaanNya. Dialah yang dinubuatkan nabi Yesaya ketika berkata: “Seperti seekor domba, Ia di bawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah ia tidak membuka mulutNya” (Yes 53:7-8; Kis 8:32). Yesus sendiri mengakui: “Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Pada hari ini kita semua diarahkan untuk mengingat pengorbanan-pengorbanan diri kita bagi sesama di dalam keluarga dan di tempat di mana kita melayani. Ingatlah bahwa sekecil apa pun pengorbananmu, anda sudah sedang melakukan sebuah pekerjaan yang besar. Pria katolik adalah pengikut Kristus yang rela berkorban untuk kebaikan dan kebahagiaan sesama. Semangat rela berkorban hendaknya menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan itu laksana sehelai serat yang kita tenun setiap hari menjadi benang dan pada akhirnya kita tidak dapat memutuskannya.

Maka berapakah harga sebuah pengorbanan? Pengorbanan itu mahal, sangat bernilai melebihi segalanya. Ketika kita berkorban, kita memberi tambahan nafas kehidupan bagi sesama. Ketika kita tidak berkorban, kita juga sedang memutuskan nafas kehidupan sesama. Maka berkorbanlah! Jangan pernah takut untuk rela berkorban demi kebahagiaan sesama manusia.

PJSDB 

No comments:

Post a Comment