Mengucapkan Terimakasih

Saya merenungkan diskusi para bapa yang prihatin terhadap pendidikan nilai yang mesti ditanamkan kepada anak-anak sejak masih usia dini ini. Banyak orang orang tua yang sudah mulai lupa untuk mengajarkannya, mungkin karena kesibukan dalam bekerja atau lupa dan berharap agar di lembaga-lembaga pendidikan formal bisa mengajarkannya. Mungkin juga orang tua merasa bahwa mengucapkan terima kasih itu nantinya bisa mengalir dengan sendirinya di dalam hidup anak-anak.

Seorang sahabat saya mengatakan rasa bahagia di tempat kerjanya bukan karena gajinya besar atau karirnya menanjak. Ia ternyata merasa dihargai dan diakui keberadaannya dan semua yang sedang ia lakukan. Pengalamannya sangat sederhana. Misalnya setelah mengerjakan sesuatu ia selalu mendapat tulisan kecil dari bossnya: “Pekerjaanmu rapi, thank you bro”. Kata-kata sederhana ini memiliki power yang mengubah motivasi kerjanya. Ia senang dan mencintai pekerjaannya.
Nah, marilah kita memandang Yesus, sang Maestro. Yesus adalah pria sejati yang melakukan karya-karya yang agung. Banyak orang terpesona kepadaNya tetapi juga kepada ibuNya. Seorang wanita pernah berkata di tengah orang bayak rasa syukur dan terima kasihNya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Ia juga selalu mencari kesempatan untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Bapa di Surga melalui saat-saat istimewa untuk berdoa. Ada kalanya semalam-malaman ia berdoa dan bersyukur. Ketika para murid yang diutusNya kembali, mereka menceritakan banyak hal dengan kuasa nama Yesus. Setelah mendengar sharing dari para rasulNya, Yesus berkata: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang-orang bijak dan orang pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Ia memandang para murid yang selalu bersamaNya selama tiga tahun. Ia berterima kasih kepada mereka dan berkata: “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:14).
Yesus adalah Tuhan kita, sumber spiritualitas kita menunjukkan contoh bersyukur dan berterima kasih kepada Bapa di Surga. Seorang pria katolik dapat mengikuti Yesus dengan berani mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan sesama. Seorang pria katolik dapat memberi contoh mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang dekat dengannya baik di rumah maupun di tempat kerja. Bayangkan seorang anak yang lagi stress bisa berubah menjadi baik ketika ia mendapat ucapan terima kasih dari ayahnya. Seorang pekerja menemukan jati dirinya ketika pemimpinnya mengucapkan terima kasih atas pelayanannya.
Hidup kita hendaklah dirasakan sebagai syukur dan terima kasih tiada hentinya. Ajarkanlah turun temurun ucapan syukur dan terima kasih.
PJSDB
No comments:
Post a Comment