Sunday, June 30, 2013

Homili Hari Minggu Biasa XIII/C

Hari Minggu Biasa XIII/C
1Raj 19: 16b.19-21
Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11
Gal 5:1.13-18
Luk 9:51-62

Mengikuti Yesus ke Yerusalem

Banyak di antara kita mungkin pernah mendengar lirik lagu  “Oh Yerusalem” yang dipopulerkan kembali oleh Victor Hutabarat beberapa tahun yang lalu. Inilah liriknya: “Oh Yerusalem kota mulia, hatiku rindu ke sana, Oh Yerusalem kota mulia, hatiku rindu ke sana, tak lama lagi Tuhanku  datanglah, bawa saya masuk sana, tak  lama lagi Tuhanku datanglah, bawa saya masuk sana.” Lagu ini dapat menginspirasikan kita untuk mengerti bacaan Injil hari ini. Penginjil Lukas mengisahkan Yesus yang mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem sebelum Ia diangkat ke Surga. Yerusalem atau kota damai ini adalah tempat di mana Ia akan mewujudkan semua rencana dan kehendak Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. Ia mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem dengan tekad yang bulat untuk mewujudkan secara total rencana Tuhan. Tentu saja Yesus sudah tahu apa yang akan terjadi dengan diriNya.

Perjalanan yang akan dilewati ke Yerusalem ternyata tidaklah mulus. Ia mengutus beberapa utusan mendahuluiNya memasuki desa-desa orang Samaria. Namun Yesus mengalami penolakan karena Ia pergi ke Yerusalem. Hal ini terjadi karena relasi Samaria (Kerajaan Israel: 1Raj 16:24) dan Yerusalem (Kerajaan Yudea) tidaklah akrab dan damai. Kedua Kerajaan ini memiliki masa lalu yang berbeda sehingga berdampak pada penolakan kehadiran Yesus Kristus. Reaksi para rasul dengan adanya sikap orang Samaria yang memblokir perjalanan Yesus ke Yerusalem adalah memohon sebuah kekerasan bagi orang Samaria dengan meminta Yesus untuk menurunkan api dari langit. Tetapi Yesus menegur mereka dengan mengatakan bahwa Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya. Mereka pun mengambil rute perjalanan lain ke Yerusalem.

Dalam perjalanan melalui rute lain, terjadi percakapan menarik antara calon-calon pengikut Yesus. Orang pertama datang kepada Yesus dan menyatakan niatnya untuk mengikuti Yesus tanpa ada syarat apa pun. Orang ini memang unik karena biasanya Tuhan yang memanggil pribadi tertentu menjadi muridNya, namun orang ini sukarela melamar dirinya untuk menjadi murid Yesus. Namun Yesus memberi kepadanya persyaratan untuk melepaskan kediamannya yang nyaman. Yesus berkata: “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Orang kedua, ia langsung dipanggil Yesus untuk mengikutiNya. Tetapi ia memberi satu syarat kepada Yesus untuk menguburkan ayahnya lebih dahulu. Tetapi syarat ini ditolak oleh Yesus dan orang itu pun langsung diutusNya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Orang ketiga, Ia merupakan gabungan orang pertama dan kedua. Ia yang mau mengikuti Yesus tetapi ia juga memberi satu persyaratan yaitu hendak berpamitan dengan orang tuanya terlebih dahulu. Kepada orang ini Yesus mengatakan  bahwa dengan menunda keputusan dan niat untuk mengikuti Yesus yang sedang pergi ke Yerusalem, ia tidak layak bagi Kerajaan Allah.

Kisah Injil ini memang sangat menarik perhatian kita. Yesus hendak melakukan perjalanan ke Yerusalem tetapi langsung mengalami penolakan. Hal ini ditanggapi secara manusiawi oleh para murid dengan meminta Yesus untuk membinasakan mereka dengan api dari langit tetapi Yesus mengajar mereka untuk sabar dan berdamai dengan sesama. Yesus memang memiliki satu misi yang agung yakni menyelamatkan semua orang bukan membinasakan mereka. Di dalam perjalananNya ini, ada orang yang mengatakan keinginannya untuk mengikuti Yesus ke Yerusalem. Yesus menuntut suatu sikap yang serius, penuh dedikasi yakni: sikap lepas bebas atas semua kepemilikan, meninggalkan dosa,dan maju dengan melupakan masa lalu. Banyak kali kita mungkin secara pribadi mau menunjukkan hasrat kita untuk mengikuti Yesus, memiliki seribu satu hasrat untuk bersama Yesus dan melayaniNya tetapi semua hasrat itu murni berasal dari diri kita. Seharusnya Yesuslah yang memanggil kita bukan kita melamar dan memberi syarat kepada Yesus. Akibatnya kita tidak dapat memberi yang maksimal untuk Tuhan. Kerajaan Allah adalah mutlak!

Di dalam Bacaan Pertama dari Kitab pertama Raja-Raja, kita mendapat inspirasi cemerlang. Nabi Elia sebagai utusan Allah mengetahui masa depannya yakni ia akan diangkat ke Surga. Oleh karena itu Tuhan mengangkat Elisa menjadi nabi yang akan memberi kesaksian kepada umatNya.Allah senantiasa mencari keselamatan umatNya bukan kebinasaan. Para nabi diutus Allah bagi umatNya yang setia. Bagaimana proses terpilihnya Elisa? Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Tuhan meminta Elia untuk mengurapi Elisa bin Safat dari Abel Mehola menjadi nabi. Elisa dipanggil pada saat dia sedang bekerja sebagai petani yang membajak tanah garapannya dengan dua belas ekor lembu. Ketika dekat dengan Elisa, Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa.

Reaksi Elisa adalah meninggalkan pekerjaan dan ternaknya, mengejar Elia dan memberi satu syarat yakni mencium ayah dan ibunya. Elia mengijinkan Elisa untuk melakukannya. Elisa membuat perayaan syukur dengan membunuh sepasang lembu, memasak dengan kayu bajak sebagai kayu api, memberikan daging kepada orang-orangnya untuk dimakan. Sesudah melakukan semuanya ini, ia pergi mengikuti Elia dan melayaninya. Kita melihat satu rencana luhur di dalam diri Elisa. Ia setuju dengan rencana Tuhan melalui nabi Elia. Ia mau mencium orang tuanya sebagai tanda hormat, meninggalkan mereka dengan segala ternak dan melayani Tuhan bersama Elia sebelum ia naik ke Surga. Sikap kerelaan, kesiapsediaan seperti ini adalah tanda murid yang sejati. Ini juga merupakan keputusan dan komitmen yang bagus untuk menjadi pelayan.

Santo Paulus dalam Bacaan Kedua memfokuskan perhatian kita lebih khusus lagi untuk menyadari panggilan kita sebagai orang merdeka. Kamu dipanggil untuk merdeka. Mengapa? Karena Kristus sendiri telah memerdekakan kita supaya kita benar-benar merdeka. Merdeka berarti lepas dari kuk perhambaan. Ini memang patut disyukuri. Namun demikian Paulus juga menasihati jemaat di Galatia untuk tidak menyalahgunakan kemerdekaan demi kejahatan. Kemerdekaan itu seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam kasih. Paulus juga mengharapkan agar jemaat Galatia hidup oleh Roh. Hidup dalam Roh berarti hidup sebagai orang yang merdeka dari dosa (kedagingan).

Sabda Tuhan pada hari ini menuntut kita untuk mengambil keputusan yang jelas tentang mengikuti Yesus. Dia yang memanggil dan mengutus kita. Dia yang menghendaki agar kita pun mengikutiNya dalam perjalanan menuju ke Yerusalem. Kita hendaknya berkomitmen untuk melakukan kehendaknya di dalam hidup kita. Sambil kita bersyukur sebagai orang merdeka, kita juga membawa Yesus sebagai Kebenaran yang memerdekakan sesama kita (Yoh 8:32).

Doa: Tuhan terima kasih karena Engkau juga menghendaki kami untuk menemani perjalananMu ke Yerusalem. Bantulah kami untuk memiliki keputusan dan komitmen yang jelas dalam mengikutiMu. Amen


PJSDB

No comments:

Post a Comment

Post a Comment