Thursday, June 6, 2013

Renungan 6 Juni 2013

Hari Kamis, Pekan Biasa IX
Tob 6:10-11; 7:1,9-17;8:4-9a;
Mzm 128:1-2,3,4-5;
Mrk 12:28b-34

Mengasihi Tuhan, Mengasihi Sesama!

Pada suatu hari saya merasa terganggu dengan persiapan pribadi untuk merayakan Ekaristi kudus. Saya ingat bahwa pada saat itu saya baru dua tahun menjadi imam. Saya pergi menghadap Bapa Uskup Kherubim Parera, SVD, Uskup Weetebula untuk konsultasi rohani. Dalam perbincangan kami Bapa Uskup coba membantu saya untuk melakukan resolusi yang bagus: “Pastor harus memiliki skala prioritas dalam menghayati hukum cinta kasih”. Beliau menjelaskan kepada saya: “Kalau pastor betul-betul mengasihi Tuhan lebih dari yang lain maka prioritaskanlah Tuhan di atas segalanya. Jadi sesibuk apa pun siapkanlah perayaan ekaristi dengan baik karena untuk itulah kita ditahbiskan”. Sejak saat itu saya benar-benar memprioritaskan Tuhan dalam segalanya. Saya mulai tekun menyiapkan perayaan Ekaristi dan merayakannya dengan devosi dan penuh iman. Pesan-pesan Bapa Uskup ini tetap saya ingat sampai sekarang. Terima kasih Bapa Uskup Kherubim, SVD.

Kadang-kadang di dalam hidup dan karya, kita mengandalkan diri sendiri. Mungkin kita berpikir sudah memiliki kemampuan super bahkan sudah melebihi Dia yang menciptakan kita. Padahal Tuhan Yesus sendiri berkata: “Terlepas dari Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. (Yoh 15:5). Kita seba
gai manusia hanya “seperti bunga yang berkembang lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan” (Ayub 14:2). Itulah kefanaan manusia. Maka di hadapan Tuhan hendaknya kita mengakui dan percaya bahwa Dia adalah segalanya. Semua yang kita lakukan dalam karya dan pelayanan adalah bukti kasih kita kepada Tuhan melebihi segalanya.

Penginjil Markus hari ini melaporkan bahwa ada seorang ahli Taurat yang mendengar Yesus, datang kepadaNya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus tahu bahwa di hadapanNya adalah seorang ahli Taurat maka Ia pun langsung menjawabnya: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12: 29-30). Hukum yang pertama ini sudah ada di dalam Kitab Ulangan 6:4-5. Setiap orang Israel harus mengulanginya setiap hari baru. Mengasihi Allah lebih dari segalanya dan seluruh totalitas kehidupan kita: hati, jiwa, akal budi dan kekuatan semuanya untuk Tuhan.

Dengarlah Israel merupakan kalimat-kalimat pertama dari shema yang harus diucapkan oleh seorang Israel. Mula-mula ada pengakuan iman "Tuhan Allah kita adalah esa" Setelah itu dilanjutkan dengan hukum kasih kepada Allah. Mengasihi Allah dengan  segenap hati berarti mengasihi Tuhan dengan seluruh totalitas kehidupan kita. Hati bagi seorang Yahudi adalah pusat personalitas manusia, energi baik yang rasional maupun emosi. Jiwa menunjukan seluruh eksistensi manusia yang dihidupi oleh Roh (nephesh) (Kej 2:7). Dengan segenap akal budi menunjuk pada aspek rasional dari personalitas, dalam hal ini kekuatan intelektual dari setiap manusia. 

Yesus melanjutkan perkataanNya, “Hukum yang kedua ialah: “Kasihilah sesamamu
manusia  seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Haruslah selalu diingat bahwa tidak cukup kita mengatakan mengasihi Allah, sesama juga patut dikasihi. St. Yohanes mengatakan: “Barangsiapa mengatakan mengasihi Tuhan tetapi membenci saudaranya, ia seorang pembohong” (1 Yoh 4:20). Kualitas mengasihi Tuhan menjadi nyata dalam usaha kita mengasihi sesama seperti kita juga mengasihi diri kita sendiri.

Jawaban Yesus ini membuat Ahli Taurat bertumbuh dalam imannya. Dia pun sebagai seorang ahli Taurat dan orang Yahudi tulen pasti mengetahui hukum yang pertama dan terutama maka ia mengakuinya dengan jujur di hadapan Yesus bahkan menambahkan bahwa kedua hukum ini melebihi korban bakaran dan korban sembelihan. Mendengar itu Yesus mengatakan kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Kisah tentang Tobit berlanjut. Tobit menderita kebutaan dan membuat dia mengeluh karena menderita di hadapan Tuhan. Tetapi karena imannya, Tuhan memberikan anugerah kesembuhan melalui malaikat Rafael. Demikian juga Sara yang mengalami kekerasan verbal dan perlakukan tidak adil. Ia mengalami kemurahan Tuhan. Ia pun menjadi pilihan Tuhan untuk mendampingi Tobia sebagai teman hidup. Mereka berdua menikah dan hidup bahagia. 


Sebagai tanda syukur Sara dan Tobia berdoa: Terpujilah Engkau, ya Allah nenek moyang kami, dan terpujilah namaMu sepanjang sekalian abad. Hendaknya sekalian langit memuji Engkau dan juga segenap ciptaanMu untuk selama-lamanya. Engkaulah yang telah menjadikan Adam dan baginya telah Kaubuat Hawa isterinya sebagai pembantu serta penopang; dari mereka berdua lahirlah umat manusia seluruhnya. Engkaulah bersabda pula: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, mari Kita menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Bukan karena nafsu birahi sekarang kuambil saudariku ini, melainkan dengan hati yang benar. Sudilah kiranya mengasihani aku ini dan dia dan membuat kamu menjadi tua bersama." Serentak berkatalah mereka: "Amin! Amin!"

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menyadari prioritas kehidupan kita di hadapan Tuhan. Dia adalah segalanya maka kita pun harus mengasihiNya lebih dari segalanya dan dengan seluruh totalitas kehidupan kita. Mari kita juga bertumbuh dalam kasih dan menghayati kasih kepada Tuhan dengan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Iman menjadi dasar yang kuat untuk mencintai Tuhan  dan sesama. Kisah Tobit dengan penderitaannya, Sara dengan pengalaman menyakitkan karena pencelaan ternyata tidak membuat mereka patah semangat dalam hidup. Mereka tetap percaya pada perlindungan Tuhan. Mereka berhasil di dalam hidup karena dikasihi Tuhan. Sara akhirnya bahagia menikah dengan Tobia. Kalau mengalami penderitaan, jangan mudah putus asa. Tuhan adalah penolong kita.

Doa: Tuhan, semoga kami mengasihi Engkau lebih dari segalanya dan kami juga mengasihi sesama seperti diri kami sendiri. Amen


PJSDB

No comments:

Post a Comment

Post a Comment