Friday, November 4, 2011

Educare come Don Bosco

“SEORANG MALAIKAT MIRIP AYAH”



Pada suatu ketika, seorang anak  balita ditanya, “Siapakah ayah menurutmu?”. Anak itu tanpa ragu berkata, “Ayah adalah seorang pelindung, dia yang memberi penjelasan, dia yang memeluk dan dia juga yang membuat alat permainan untukku”. Anak itu ditanya lagi, “dan siapakah seorang mama menurutmu?” Tanpa ragu anak itu berkata, “Mama itu sama dengan ayah, hanya jenis kelaminnya berbeda”.


Pada kesempatan memperingati hari bagi para Bapa di Amerika Serikat, Presiden Barak Obama, berkata,  “Para ayah yang terkasih, jadilah ayah meskipun kalian tidak sempurna. Tidak apa-apa kalau ternyata pelayanan kalian hanya setengah-setengah. Jangan pernah kehilangan masa indah yang luar biasa bersama anak-anak yang hadir dan bertumbuh di atas bumi ini.” Lebih lanjut Obama mengakui kekurangannya sebagai ayah bagi dua putrinya Malia dan Sasha dengan berkata, “Saya adalah ayahmu yang tidak sempurna. Saya menyadari telah membuat banyak kekeliruan karena tugas dan tanggung jawab yang saya emban sebagai pejabat Negara dan lalai sebagai ayah yang baik.

Setiap orang dapatlah menjadi ayah, namun perlu kasih yang besar untuk menjadi ayah yang baik. Untuk dapat menjadi ayah yang baik, tidak cukuplah menyiapkan diri hanya selama sembilan bulan. Ketika mempelajari sesuatu untuk menjadi pilot pesawat udara atau menjadi pemain golf selalu dimulai dengan kekeliruan dan kesalahan. Namun dari kekeliruan dan kesalahan itu orang dapat belajar menjadi baik. Tentu saja belajar menjadi pilot atau pemain golf itu mudah kalau dibandingkan dengan belajar menjadi ayah yang baik.

Pembanding yang paling tepat bagi figur seorang ayah adalah figur Malaikat Pelindung. Kita semua mengetahui sebuah doa yang populer ini: “Malaikat Allah, Engkau yang telah diserahi oleh kemurahan Allah untuk melindungi aku, terangilah, bimbinglah dan hantarlah aku. Amin”. Doa singkat ini dapatlah menjadi inspirasi untuk para orang tua dalam mendidik dan membina anak-anak mereka, teristimewa untuk para ayah. 

Bagaimana menjadi ayah yang baik? Doa ini memberi insipirasi yang bagus bagaimana figur seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya di dalam keluarga:



(1)   Ayah sebagai “terang”



Ada sebuah ungkapan terkenal, “memberi terang” selalu merujuk pada makna sebuah kelahiran anak di dalam keluarga. Ayah dan ibu adalah orang tua yang memberi terang kepada anak mereka. Namun keistimewaan ayah adalah memiliki tugas untuk membimbing, dia juga berada di depan untuk menunjukkan jalan demi menggapai realitas. Bukan hanya itu, dia juga hendaknya memiliki ide yang jelas tentang apa yang hendak dilakukan serta mengambil keputusan penting bagi keluarganya. Para Bapa Gereja, pada zaman dahulu sering mengatakan kepada para ayah, “Jangan mencari alasan-alasan tertentu untuk menyembunyikan dirimu, jadilah manusia sesuai yang  dikehendaki Tuhan”. Menjadi ayah yang baik membuat orang mengeluarkan hal-hal yang terbaik dari dalam dirinya. Tak seorang lelaki pun dapat mengerti makna kehidupan, dunia, dan sesesuatu yang lain kalau ia tidak memiliki seorang anak untuk dikasihi.

Pernah terjadi dialog antara dua ayah yang bersahabat di sebuah restoran: Ayah 1 berkata: “ketika aku masih kecil, ayahku selalu mematikan lampu yang ia letakan di atas meja kecil dekat tempat tidurku.  Ayah 2 berkata: “Ayahku adalah terang”.  Memang seorang ayah adalah figur pribadi yang bersinar.

Alkisah, ketika Tuhan berkeputusan untuk menciptakan seorang ayah, Tuhan menciptakan dengan struktur fisik yang tinggi besar dan kuat. Kebetulan ada seorang malaikat yang berada di sana dan bertanya kepada Tuhan, “Wah, jenis manusia apa ini, Tuhan? Kalau anak-anak kecil Engkau ciptakan kecil dan kurus, mengapa Engkau menciptakan ayah begini besar? Tuhan harus memperhitungkan juga bahwa kalau bermain kelereng dia tentu harus berlutut, dia harus  cekatan saat bemain dengan anaknya dan bahkan membungkuk untuk mencium anaknya. Kalau dengan postur tubuh begini, dia tentu tidak akan cekatan bahkan saat menunduk untuk mencium anaknya. Tuhan menjawab, “Betul sekali malaikat, tetapi apabila saya menciptakannya kerdil seperti anak kecil, maka tentu saja tak seorang anakpun yang dapat mengangkat kepala untuk melihatnya.”

Baik atau tidak baik, mau atau tidak mau, seorang ayah tetaplah seorang figur model, seorang pribadi di mana anak-anak dapat mengangkat kepala untuk memandang, ibarat obor yang menuntun perjalanan pada malam hari. Menerangi berarti melenyapkan baying-bayang kegelapan, menjadi jelas dan transparan, menjelaskan peristiwa-peristiwa dengan jujur dan benar, lebih lagi memberi kesaksian yang benar bukan kepalsuan atau kebohongan.



(2)   Ayah sebagai “Pelindung”

Ayah bagi seorang anak adalah kekasih dari sang ibu. Ikatan yang akrab antara ayah dan ibu dalam keluarga adalah dasar yang kuat dan kokoh bagi perkembangan pribadi anak itu secara emosional dan afektifitas. Ikatan itu juga menjadi tempat berlindung bagi anak secara psikologis. Figur sang ayah adalah pribadi yang dekat, mengasihi, menolong, merawat. Singkatnya ayah adalah figur yang selalu hadir, mendengar sang anak dalam kelemahan, mengerti dan mampu mengampuni kesalahan anak-anak. Dalam dunia dewasa ini anak-anak memang memerlukan benteng pertahanan yang handal terhadap arus perkembangan dunia yang dapat menghalangi masa depan mereka.



(3)   Ayah sebagai “pembimbing”

Ayah adalah figur seorang yang memberikan dorongan bagi anak-anak untuk berani dalam arti, ayah “memberi hati” bagi anak-anak. Ayah mengajarkan anaknya bagaimana memecahkan masalah kehidupan dalam masa-masa yang sulit, sebagai benteng pertahahan, tempat bersandar, seorang yang mendukung untuk mewujudkan cita-cita, mewujudkan mimpi, membantu untuk mentranformasi diri dalam dunia. Tugas dari sang ayah adalah mulai mengajar anak bagaimana sedini mungkin bagaimana mengobati luka-luka atau bagaimana menghadapi kehilangan-kehilangan tertentu yang muncul di dalam hidup anak-anaknya.



(4)   Ayah sebagai “yang memerintah”

Secara alamiah ayah memiliki tugas alamiah untuk memimpin dengan persetujuan sang ibu. Sebuah keluarga memang memerlukan seorang pembimbing yang sadar dan aktif.  Hal ini tentu tidak terlepas dari upaya bagaimana menumbuh kembangkan anak-anak. Adalah suatu kekosongan besar kalau anak-anak tidak dibekali sedini mungkin tanggungjawab untuk menjadi manusia yang mandiri. Prinsip yang baik: “Saya mengasihimu dan karena itu akan tetap menjagamu supaya jangan membuat kesalahan apapun”.



(5)   Ayah sebagai “yang telah dipercayakan”

Menjadi ayah adalah sebuah panggilan yang menuntut komitmen pribadinya, sebuah tugas yang turun dari atas.  Menjadi ayah, laksana menjalankan suatu tugas kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan sang Pencipta: “Aku percayakan suatu kehidupan kepadamu: biarlah bahwa karya itu ada dan berasal dari pikiran saya”

Ayah ternyata figur pribadi yang luar biasa. Dia laksana Malaikat yang diutus Tuhan untuk melindungi manusia. Dia adalah terang, pelindung, pembimbing, memerintah dan dapat dipercaya. Marilah kita mengabsorbsi nilai-nilai luhur ayah dalam kehidupan kita sebagai pendidik. Educare come don Bosco…mendidiklah seperti Don Bosco.



PJSDB

(Terjemahan bebas dari tulisan Bruno Ferrero, “Un Angelo come Papà” dalam Il Bullettino Salesiano, Edisi Maret 2010)

No comments:

Post a Comment