Tuesday, November 1, 2011

Renungan Hari Raya Semua Orang Kudus

Bacaan I : Wahyu 7:2-4.9-14 
Mazmur:  24:1-2.3-4.5-6
Bacaan II: 1Yoh 3:1-3
Bacaan Injil: Matius 5:1-12

“Makarios”

Tony de Mello bercerita dalam bukunya “Burung Berkicau” tentang Pandangan Yesus: Petrus berkata: “Tidak, aku tidak tahu apa yang kamu katakan.” Seketika itu juga, sementara ia masih berkata-kata, berkokoklah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus…dan Petrus pergi keluar dan menangis tersedu-sedu.

De Mello merefleksikan kisah Petrus ini sebagai pengalaman pertobatan dengan menulis: “Hubunganku dengan Tuhan cukup baik. Aku biasa memohon sesuatu kepadaNya, berbicara denganNya, memuji dan bersyukur kepadaNya. Tetapi sekarang aku merasa kurang enak. Aku selalu merasa bahwa Ia ingin aku memandang mataNya, dan aku tidak mau. Aku mau bicara, tetapi aku melihat ke arah lain kalau kurasa Dia memandangku. Aku takut karena aku berpikir disana aku akan mengalami tuduhan dosa yang belum kusesali. Aku juga mengira ada tuntutan buat aku yakni sesuatu yang diinginkannya dariku. Pada akhirya, aku juga berani untuk memandang Dia. Ternyata tidak ada tuduhan. Tidak ada tuntutan. Matanya hanya berkata: “Aku mencintaimu!” Lama aku memandang matanya dan hanya ada satu pesan yang sama: “Aku mencintaimu”. Aku keluar dan menangis seperti Petrus.

Kasih Tuhan tiada batasnya. Ia tetap memandang kita dengan tatapan kasihNya. Dalam keadaan kita yang sebenarnya Ia juga tetap menyapa kita “makarios” yang berarti berbahagialah.

Kata “berbahagialah” ini menggambarkan kondisi individu atau kelompok yang setia dan benar dalam hidupnya sehingga menyukakan hati Allah. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, kata ini banyak ditemukan terutama dalam Kitab Mazmur. Hal ini didasarkan pada adanya doktrin bahwa mereka yang mengasihi dan mentaati Yahve akan diberkati dengan berkat jasmani dan rohani. Manusia berharap bahwa berkat jasmani dan rohani ini diperoleh di dunia saat ini dan kelak. Di dalam Kitab Perjanjian Baru kata berbahagialah merupakan sapaan yang meneguhkan dari Yesus tanpa memandang siapakah pribadi tersebut.

Berbahagialah adalah sapaan yang tidak hanya dirasakan pada saat-saat yang menggembirakan tetapi pada saat-saat yang sulit pun Tuhan menghendaki agar manusia tetap bahagia. Ayub dalam Perjanjian Lama menjadi figur yang menunjukkan orang yang berbahagia dalam penderitaannya di hadirat Tuhan. Para martir juga disapa bahagia ketika mereka mengurbankan hidupnya sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. St. Yohanes memberi kesaksian bahwa para martir menyucikan hidupnya dengan darah, seperti darah Anak Domba yakni Yesus Kristus. Mereka laksana sekumpulan besar orang banyak yang tak terhitung jumlahnya dari segala suku, bangsa, kaum dan bahasa. Dengan jubah putih mereka berdiri di hadapan taktha dan di hadapan Anak Domba sambil memegang daun palem mereka memuliakan Allah sumber keselamatan. Mereka adalah orang kudus yang siang dan malam melayani dan memuji serta memuliakan Allah.

Melayani Allah siang dan malam merupakan kewajiban seorang anak Allah. Melayani Allah berarti mengasihiNya dan siang dan malam memandang Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya. Allah adalah kasih. St. Yohanes bersaksi: “Betapa besar kasih Allah yang dikaruniakan Bapak kepada kita sehingga kita disebut anak-anak Allah.” Anak-anak Allah yang nantinya akan memandang Allah dalam keadaanNya yang sebenarnya pada saat Kristus menyatakan diriNya.

Maka siapakah orang-orang kudus itu? Para kudus adalah mereka yang disapa berbagialah! Mereka pernah hidup sebagai orang benar di hadirat Allah. Mereka mengurbankan hidupnya karena iman kepada Kristus. Mereka dibersihkan oleh Darah Anak Domba yakni Yesus sendiri. Merekalah yang memandang Allah sebagaimana adanya, melayaniNya dan memuliakanNya siang dan malam. Mereka yang secara total: miskin dalam Roh, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, dianiaya demi kebenaran, dicela dan difitnah.  

Kekudusan adalah DNA yang dimeteraikan kepada kita. Sebelum dunia dijadikan kita telah dipilih dan ditentukan untuk menjadi bagian dalam diriNya yaitu kekudusan. Pada saat dibabtis kita dikuduskan dan menjadi bagian dalam diriNya. Maka hendaklah kita menyadari dan mengimani sapaan Tuhan: “Berbahagialah”. Pandanglah mataNya dan Dia akan mengatakan tetap mengasihimu. Maka dalam situasi yang sulit sekalipun Ia mengingatkan kita: “Bersukacitalah dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga.” PJSDB

No comments:

Post a Comment