Wednesday, November 30, 2011

Renungan 3011

St. AndreasRasul
Rom 10:9-18
 Mzm 18:2-4
 Mat 4: 18-22



Menjala manusia, siapa takut?


Hari ini, 30 Nopember kita merayakan pesta Santo Andreas, Rasul. Dalam bahasa Yunani Andreas berarti gagah perkasa atau sang pemberani (manly). Sesuai dengan namanya ia tampil sebagai pribadi yang murah hati, siap menolong, terbuka dan entusias. Dia adalah saudara Simon Petrus, dan Yunus dari Betsaida adalah ayah mereka (Mat 16:17). Pada mulanya ia murid Yohanes Pembabtis dan berteman dengan Yohanes orang Betsaida yang nantinya juga menjadi salah seorang Rasul. Mereka berdualah yang pertama berjumpa dengan Yesus ketika diperkenalkan oleh Yohanes Pembabtis sebagai “Anak Domba Allah” (Yoh 1: 36). Tertarik karena mendengar gelar Yesus sebagai “Anak Domba Allah” maka Andreas bersama Yohanes mengikuti Yesus. Yesus bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?” Mereka menjawab, “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Dan Yesus menjawab mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya. Mereka pun pergi, melihat dan tinggal bersamaNya” (Yoh 1: 38-39). Ternyata mereka berdua bukan hanya tinggal dan nyaman bersama Yesus. Andreas pergi dan bertemu dengan saudaranya Simon Petrus. Ia mengakui imannya di depan saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias, Kristus. Dan Andreas membawa saudaranya kepada Yesus” (Yoh 1:41-42).

Dari segi urutan nama-nama yang dipanggil Yesus, Andreas selalu menempati urutan ke empat setelah: Petrus, Yakobus dan Yohanes (Mark 3:18; Mat 10:2; Luk 6:14 dan Kis 1:13). Meskipun namanya berarti pemberani namun Andreas adalah Rasul yang lebih diam dan tenang dibandingkan dengan saudaranya Petrus. Dia memiliki gaya tersendiri dalam mengikuti Yesus. Misalnya, Dia adalah rasul yang bertanya secara pribadi kepada Yesus tentang hancurnya Bait Allah dan akhir zaman (Mark 13:3-4). Ketika Yesus menggandakan roti dan ikan, Andreaslah yang berbicara kepada Yesus bahwa ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:9). Ketika orang-orang Yunani mau bertemu dengan Yesus, di sana Philipus dan Andreas hadir (Yoh 12:20-22). Setelah Yesus wafat, Andreas mewartakan Injil di Rusia dan Yunani. Di Patras, Ia di salibkan dengan salib berbentuk X .

Mengenang Santu Andreas membuat kita belajar banyak dari kehidupannya: Pertama, Keberaniannya sebagai misionaris sejati untuk memperkenalkan Yesus, mulai dari ajakannya kepada Petrus saudaranya sampai orang-orang kafir. Apakah kita juga menyerupai Andreas dengan mewartakan Injil dan kasih Tuhan di dalam keluarga? Kedua, kepekaan dalam hidup bersama dengan para rasul sebagaimana dicontohkan dalam mujizat penggandaan roti. Apakah kita peka terhadap kebutuhan sesama atau kita mati rasa dan tertutup untuk diri kita sendiri? Ketiga, Kesetiaan bersama Yesus selamanya sampai menjadi martir. Apa pun panggilan kita, kita harus menunjukkan kesetian kepada Tuhan yang telah memanggil. Ketiga hal ini sebenarnya meringkas apa yang diungkapkan dalam Injil: “penjala manusia”.

Apa itu penjala manusia? Santo Yohanes Krisostomus mengatakan: penjala manusia berarti setiap orang yang dibabtis memiliki panggilan untuk membawa manusia kepada Kristus, mulai dari dalam keluarga sampai yang berada di luar keluarga. Kehidupan St. Andreas menginspirasikan kehidupan kita supaya setia sebagai Murid Kristus selamanya.

Santo Andreas, doakanlah kami.

PJSDB

No comments:

Post a Comment