Monday, November 7, 2011

Renungan 7 Nopember 2011


Bacaan I: Keb 1:1-7
Mzm 138:1-10
Bacaan Injil: Luk 17:1-6



Indahnya Persaudaraan



Kebiasaan barbecue sudah lazim dalam masyarakat kita. Pernakah anda memperhatikan arang yang dipakai untuk membakar daging atau ikan secara saksama? Kobaran api dari arang tersebut bisa menjadi besar kapan saja, kalau bara apinya dikipas-kipas. Biasanya arangnya akan dikurangi dengan memisahkannya ke tanah atau tempat lain. Dalam waktu beberapa menit saja bara api yang dipisahkan akan padam sedangkan yang dipakai untuk membakar daging atau ikan akan tetap menyala. Kita dapat belajar sesuatu dari pengalaman ini. Kita akan selalu mengalami pengaruh positif atau negatif dari lingkungan di mana kita berada. Maka gambaran kepribadian kita sehat atau tidak sehat tergantung pada interaksi bersama dalam komunitas. Kita membutuhkan orang lain dengan sentuhan-sentuhan ajaib yang membuat kita berkembang: perhatian, doa, dukungan, pujian yang tulus, semangat, kata-kata penuh motivasi.

Tuhan Yesus dalam Injil hari ini berbicara kepada para muridNya tentang pentingnya hidup bersama dalam komunitas dan pengaruh-pengaruhnya terhadap setiap pribadi. Ada tiga hal berbeda tetapi senantiasa dialami di dalam komunitas yakni: skandal (sandungan), pengampunan dan iman.

Hal pertama, skandal atau sandungan. Sangat sulit untuk menghindari batu sandungan dalam kehidupan bersama terutama ditujukan kepada mereka-mereka yang dianggap lemah seperti kaum wanita, para janda dan anak-anak. Kelompok ini selalu menjadi korban ketidakadilan sosial dalam masyarakat. Mereka sering menjadi korban pelecehan fisik dan verbal. Namun sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk menghidari sedapat mungkin skandal atau sandungan terhadap mereka.

Hal kedua, kemampuan untuk mengampuni tanpa batas. Mengampuni berarti berusaha untuk melupakan kesalahan dan dosa sesama kepada kita. Sama seperti Tuhan sendiri yang mengampuni kita tanpa batas. Pengampunan tanpa batas diawali dengan usaha untuk memberi koreksi atau teguran persaudaraan kepada sesama yang telah berbuat dosa.

Mengampuni tujuh kali. Angka tujuh adalah angka yang istimewa, angka yang di dqalam Kitab Suci menunjukkan totalitas kehidupan manusia. Tradisi Priestly (P) dalam Kitab Kejadian menunjukkan satu hal positif bahwa Tuhan menciptakan bumi dan isinya secara sempurna dalam kurun waktu 7 hari. Hal ini bertentangan dengan apa yang terjadi setelah penciptaan yakni kisah Kain dan Lamekh dengan dosa-dosanya: “Kalau Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat maka Lamekh tujuhpuluh tujuh kali lipat (Kejadian 4:24). Angka tujuh dalam perikop Injil hari ini menunjukkan waktu atau saat kita mengampuni saudara tanpa ada batasnya. Berkali-kali kita harus berkata, “Saya meminta maaf! Saya mengampuni saudara!”

Hal ketiga yang diajarkan Yesus adalah iman. Para Rasul memohon dengan penuh kepercayaan: “Tambahlah iman kami!” Di hadapan pengalaman manusia dengan aneka penderitaan dan kebahagiaan, Tuhan Yesus meminta para RasulNya untuk memiliki iman dengan dayanya yang besar. Iman yang membuat para Rasul dapat berpartisipasi dalam karya penciptaan Tuhan sendiri. Hal ini diumpamakan dengan biji sesawi yang kecil tetapi dapat menjadi pohon yang besar. Iman bertumbuh dari apa yang didengar, apa yang dilihat  dan menjadi besar dan dapat mengubah seluruh hidup manusia.

Ketiga hal yang disebutkan di atas merupakan suatu kebijaksanaan iman. Kebijaksanaan yang mengatur kehidupan manusia untuk menuju kepada kehidupan kekal: perlu menghindari skandal, saling mengampuni dan memiliki iman yang kuat. Kebijaksanaan merupakan sahabat manusia. Kebijaksanaan selalu keluar, berjalan dan mencari orang yang mencarinya. Ketika menemukannya, kebijaksanaan akan tinggal bersama dia. Dan siapa yang terbuka kepada kebijaksanaan maka semua derita akan mampu diatasi. Kebijaksanaan adalah Bapa surgawi yang selalu memiliki rencana yang istimewa dan indah bagi kita. Kebijaksanaan adalah Sang Sabda yang senantiasa menguatkan dan menyelamatkan kita yakni Yesus sendiri. Kebijaksanaan adalah Roh Tuhan sendiri yang senantiasa menerangi akal budi kita untuk tidak menjadi sandungan, mampu mengampuni dan kuat dan bertumbuh dalam iman.

Hari ini kita berdoa: “Ya Tuhan, tuntunlah aku di jalan yang kekal.” Biarlah Tuhan sendiri membuat komunitas persaudaraan di dalam Gereja menjadi kuat. Biarlah kita menjadi sesama yang saling menghormati, mendukung, mengampuni dan bertumbuh bersama dalam iman. Kita semua pernah tersandung, kita semua pernah jatuh dalam dosa maka mari bergandengan tangan untuk melangkah bersama di dalam Tuhan. PJSDB.

No comments:

Post a Comment