Sunday, March 25, 2012

Homili Hari Minggu Prapaskah VB

Yer 31:31-34 
Mzm 51: 3-4.12-13.14-15 
Ibr 5:7-9 
Yoh 12: 20-33

Sengsara Yesus Menyelamatkanku



Pernakah anda memperhatikan rumput-rumput di kebun atau di taman? Rumput-rumput itu memberi pelajaran yang  sangat berharga bagi kehidupan kita.  Untuk dapat berguna maka rumput-rumput itu harus dipotong, dibuang dan dibakar. Misalnya, ketika dibutuhkan untuk menjadi makanan hewan atau untuk merapihkan halaman supaya terlihat lebih indah maka rumput itu harus siap dipotong, dibuang dan dibakar. Betapa menderitanya rumput: siap dipotong, dibuang dan dibakar! Padahal manfaatnya besar yakni sebagai makanan hewan dan menyuburkan tanah. Kadang rumput itu dijadikan atap pada gubuk untuk melindungi manusia yang berteduh dibawahnya. Memang, kebahagiaan sejati hanya dapat diperoleh ketika ada orang yang siap untuk berkorban, siap untuk menderita, siap untuk dipotong, dibuang dan dibakar.

Kita berada di pekan terakhir sebelum memasuki pekan suci. Hari Minggu ini dikenal juga sebagai Hari Minggu sengsara. Permenungan umum sepanjang minggu ini adalah bahwa sengsara Yesus sungguh mendatangkan keselamatan. Pada SalibNya tersingkap hukuman dunia dan kuasa sang Penyelamat bersinar karena penyerahan diriNya yang total bagi manusia. Luar biasa kasih Tuhan bagi kita! 


Sabda Tuhan pada hari ini juga menggambarkan kehidupan manusia yang nyata dan segala pergumulannya di hadapan Tuhan. Kaum Israel mengalami pengalaman yang keras dan menyedihkan di Asyiria dan kaum Yehuda mengalami kerasnya hidup di Babel. Selama hampir 70 tahun kaum Yehuda berada di Babel, mereka terbayang oleh kisah-kisah masa silam yang pernah dialami oleh nenek moyang mereka. Perlindungan Tuhan dalam perjalanan di padang gurun. Kemegahan Zion di mana Allah diyakni bertakta di sana. Tetapi semua ini hanya kenangan manis. Mungkin saja mereka bertanya, “Tuhan di manakah Engkau? Apakah Engkau sudah melupakan kami?”

Tentu saja kecemasan-kecemasan semacam ini dijawab oleh Tuhan. Manusia boleh melupakan Tuhan tetapi Tuhan tidak akan melupakan manusia. Tuhan sendiri berfirman: “Seorang perempuan dapat melupakan anak yang ada di dalam kandungannya, tetapi Aku tidak akan melupakan engkau“ (Yes 49:15). Tuhan juga berjanji melalui Nabi Yeremia untuk mewujudkan kasih sayangNya. FirmanNya: “Sungguh, akan datang waktunya Aku akan mengikat perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda”. Tuhan mau mengikat perjanjian baru karena perjanjian yang telah diikat bersama mereka melalui Musa di Gunung Sinai sudah mereka ingkari. Tuhan membuat perjanjian baruNya yakni: “Aku akan menaruh TauratKu dalam bathin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka. Maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi UmatKu. Semuanya akan mengenal Allah dan  mengampuni kesalahan mereka dan tidak akan mengingat-ingat dosa mereka".

Kita harus mengatakan dengan suara lantang bahwa Allah kita luar biasa! Manusia boleh jatuh dalam dosa terus menerus, ada kecenderungan dan kebiasaan berbuat jahat dalam hidup tetapi Tuhan berinisiatif mengikat perjanjian baru dan takkan lagi mengingat dosa-dosa manusia. Ini adalah sebuah peneguhan yang luar biasa. Peneguhan Tuhan sebagai tanda kasihNya menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus PuteraNya. Kristus telah belajar menjadi taat dan menjadi pokok keselamatan kita. Penulis surat kepada umat Ibrani bersaksi bahwa Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Bapa di Surga. Namun kehendak Bapa harus Dia taati. Ketaatan ini menjadi nyata dalam penderitaanNya. 


Orang-orang yang taat pada Yesus akan mengalami keselamatan abadi. Filipus dan Andreas adalah dua murid pertama yang mengenal Yesus dari orang-orang lain. Mereka bertemu dengan Yesus dan tinggal bersamaNya (Yoh 1:39.46). Orang-orang Yunani mendekati kedua murid Yesus dan meminta untuk bertemu dengan Yesus. Kemungkinan orang-orang Yunani ini mendengar tentang Yesus yang barusan membersihkan Bait Allah di Yerusalem. Hal yang menarik perhatian kita adalah peristiwa ini menjadi kesempatan istimewa supaya Yesus menjelaskan “SaatNya” untuk dimuliakan. Kemuliaan Yesus terletak pada pengalaman diriNya menjadi taat dan ditinggikan di atas kayu Salib, wafat dan bangkit dari alam maut.

Ketaatan bukanlah sebuah teori tetapi ketaatan merupakan bagian pengalaman hidup nyata. Yesus mengerti rencana Bapa untuk menyelamatkan manusia yang berdosa maka Dia taat sampai mati di kayu salib. Wafat Kristus di atas kayu salib ini diibaratkanNya sendiri ketika berkata: “Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika mati maka ia akan menghasilkan banyak buah.” Yesus juga laksana biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati dan menghasilkan buah penebusan yang berlimpah.

Konsekuensi dari penebusan adalah rasa syukur dan tinggal bersama Tuhan. Yesus berkata: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku, dan dimana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Ia juga dihormati Bapa”. Tentu saja di sini, Yesus membaharui relasi Bapa dan manusia. Oleh karena itu Dia harus ditinggikan di atas kayu Salib. Yesus menyadari misinya dan terharu. Bapa di surga juga mengakui rencana dan kehendakNya ketia Ia berkata: “Aku telah memuliakanNya dan dan Aku akan memuliakanNya lagi.” Bapa memuliakan Yesus PuteraNya ketika sang Putera taat pada kehendak BapaNya.  Sebuah relasi yang intim, saling percaya, punya nilai pengurbanan yang tinggi untuk keselamatan manusia yang berdosa.

Warta sukacita pada pekan ke-V Prapaskah ini adalah Pertama, inisiatif Tuhan untuk mengikat umatNya dengan Perjanjian Baru. Tuhan mau menaruh Taurat dalam bathin umatNya dan menuliskannya dalam hati mereka. Dalam terang kristiani mau dikatakan bahwa Tuhan itu sabar dengan manusia. Apapun dan bagaimanapun hidup manusia, kasihNya tetap melimpah dan tiada batasnya. Maka jawaban pasti dari manusia atas perjanjian baru ini adalah membangun sikap tobat atau metanoia. Perubahan kiblat hidup manusia dalam semangat tobat itu berasal dari dalam dirinya bukan dari luar dirinya. Pertobatan itu hal yang sangat pribadi. Kedua, Keselamatan itu harganya mahal karena dilakukan oleh Allah Bapa dengan mengorbankan Yesus PuteraNya. Allah Bapa rela meninggikan PuteraNya di atas kayu Salib sehingga dengan menumpahkan DarahNya yang mulia dapat menebus umat manusia.

Dunia akan menjadi indah, demikian juga hidup kita akan semakin bermakna hari demi hari ketika setiap pribadi menyadari dirinya sebagai biji gandum yang jatuh  ke tanah dan mati sehingga menghasilkan buah yang berlimpah. Setiap pribadi juga hendaknya menyadari dirinya seperti rumput yang siap dipotong, dibuang dan dibakar sehingga memberi hidup baru kepada sesama. Mari kita berjalan bersama, mengikuti Yesus sampai saatNya dimuliakan. Tuhan beranikanlah kami dan mampukan kami untuk berkorban bagi keselamatan dan kebahagian sesama.

PJSDB

No comments:

Post a Comment