Thursday, March 8, 2012

Gembalakanlah Domba-DombaKu


“GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBAKU”
(Yoh 21:15.16.17)


Bacaan: Yoh 21:15-19

21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

1.      Pengantar: Pemahaman Umum

Ketika membaca Injil Matius, Markus dan Lukas kita menemukan banyak kesamaan dalam bahasa. Itu sebabnya disebut Injil Sinoptik.  Kata  sinoptik berarti  "dapat   dilihat   dalam   satu  pandangan."  Yang dimaksudkan ialah bahwa Injil Matius, Markus, Lukas sangat mirip. Dengan demikian, mudah disejajarkan dan dapat dibandingkan. Dari situ kita melihat misalnya bagaimana rumusan Markus agak  berbeda  dengan  Matius  dan Lukas. Tetapi   pada dasarnya  mereka  sama.  Injil-Injil sinoptik sangat tergantung satu dengan  yang  lain.  Namun masing-masing mempunyai  corak  dan  caranya sendiri sesuai dengan bakat dan watak masing-masing  pengarangnya.

Ciri-ciri  Injil  sinoptik  ialah bahwa  secara  cukup  lengkap menggambarkan perjalanan Yesus sejak dari hidup-Nya di  Nazaret  sampai  dengan  wafat  dan kebangkitan-Nya  di  Yerusalem. Dalam Injil-injil itu dengan cara yang berbeda-beda diberi lukisan mengenai diri Yesus, dengan  menggambarkan  tindakan  dan  perbuatan-Nya dan dari lain pihak juga, khususnya dalam  Injil  Matius  dan  Lukas, menyajikan  ajaran-Nya.  Pokok dari Injil-injil ini seperti juga dari Injil Yohanes, ialah mau memberikan suatu gambaran tentang  siapa  Yesus  itu. Dan ternyata dalam Injil Matius, Yesus lebih dikemukakan sebagai Guru dan Pemimpin.  Markus lebih melukiskan-Nya sebagai  Penebus, Dia  yang  harus menderita untuk rakyat-Nya.  Sebaliknya dalam  Injil  Lukas, Yesus adalah Tuhan yang mulia, yang penuh kuasa bertindak di antara  murid-muridnya.  Dan Injil  Yohanes,  yang   memang berbeda dengan sinoptisi, lebih menonjolkan keallahan Yesus.

Walaupun Injil-injil sinoptik semua mempunyai kerangka yang sama,  yang  oleh Matius dan Lukas diambil alih dari Markus, namun masing-masing  mempunyai  cirinya  yang  khas.  Matius sangat  menekankan Gereja sebagai jemaat yang didirikan oleh Yesus. Matius juga sangat bersifat yahudi dalam arti  bahwa, entah  karena  diri  Matius  sendiri, entah karena umat yang untuknya ia  menulis  Injil,  sangat  banyak  memperlihatkan perhatian  untuk  masalah-masalah  yahudi.  Sebaliknya Injil Lukas adalah Injil untuk orang kafir, dengan tekanan  pada sasaran  universal  dari  karya dan pewartaan Yesus dan para Rasul. Lukas  juga  memperlihatkan  perhatian  yang  sangat besar  untuk  orang  yang  tidak  berdaya  dalam masyarakat, khususnya  orang  miskin,  anak-anak,  kaum  wanita,  orang berdosa, pendek kata semua orang yang tidak terpandang dalam masyarakat Yahudi.

Oleh Lukas, Yesus digambarkan sebagai Tuhan  yang  mulia tetapi sekaligus juga sebagai pelayan dan penghibur umat manusia. Sebaliknya Injil Markus, yang paling pendek, menekankan  bahwa  Yesus, yang adalah Anak Allah, merendahkan diri dan menjadi  tidak  berdaya  dan  menderita untuk  umat  manusia.  Maka  Injil  Markus  dari  satu pihak menonjolkan kekuasaan Yesus, tetapi  dari  lain  pihak  juga amat  menekankan  oposisi  dengan orang Yahudi yang akhirnya membawa Dia kepada kematian-Nya.

Sudah  dikatakan  di  atas  bahwa Injil-injil  tidak  hanya  berbeda  menurut  gaya bahasanya, tetapi juga sedikit menurut  isinya.  Gambaran Yesus dalam Matius, Markus, Lukas dan Yohanes berbeda-beda. Seringkali kekhasan masing-masing pengarang Injil digambarkan  secara simbolis.

Matius digambarkan  sebagai  seorang manusia. Yesus sebagai Utusan Allah, yang menyampaikan Sabda Allah,  kabar  gembira dari  Allah.  Sebab  juga  mengenai  Yesus sendiri dikatakan bahwa Ia "memberitakan Injil Kerajaan Allah" (Mat 4,23)

Sebaliknya Markus sering digambarkan sebagai singa, sebab Markus  menggambarkan  daya kekuatan Allah yang ada di dalam Yesus. Yang tersimbol ialah Yesus yang  adalah  Anak  Allah, tetapi  Anak  Allah  yang menderita; daya kekuatan-Nya tidak tampak, sebab, karena kesatuan-Nya dengan umat manusia, Ia harus memikul beban dosa umat manusia.

Lukas  lain.  Dia seringkali digambarkan sebagai sapi, ialah binatang yang boleh dikatakan sangat lunak dan halus. Begitu juga  Lukas  yang  penuh  perhatian untuk orang kecil, untuk segala peristiwa  dan  perkara  yang  kecil.  Tampaknya dia adalah  pengarang  Injil  yang  paling sederhana, yang hanya memberi dongeng, kisah hidup Yesus.  Bahwa  di  dalamnya  ia justru  mau  menggambarkan  Yesus  sebagai  yang mulia, yang penuh kuasa, yang diberi Roh Kudus  untuk  dibagikan  kepada kita, itu sering kurang kita sadari. Yang diingat dari Injil Lukas adalah terutama kisah Natalnya  dan  juga  kisah-kisah pergaulan   Yesus   dengan  anak-anak  kecil,  dengan  orang sederhana, dimana juga ada perumpamaan  mengenai  anak  yang hilang.  Pokoknya  Lukas memperlihatkan kebaikan hati Yesus. Tetapi Yesus yang  baik  hati  justru  memperlihatkan  kasih Allah kepada manusia.

Dan Yohanes  yang  digambarkan sebagai rajawali, menekankan keallahan Yesus itu.  Dia  terbang  sampai  ke  langit  yang tertinggi untuk memperlihatkan siapa Yesus sebetulnya. Yesus dalam Injil Yohanes sungguh tampil sebagai Anak Allah, penuh kekuasaan, penuh kebijaksanaan, penuh  dengan  kemuliaan ilahi.

Dengan memahami aneka perbedaan dari Injil Sinoptik dan Injil Yohanes di atas maka fokus belajar dalam pertemuan ini adalah tentang tugas pastoral dari Petrus menurut Penginjil Yohanes. Mengapa tugas pastoral Simon Petrus ini perlu kita perdalam? Karena tugas ini diberikan kepada Petrus atas nama Gereja. Dia diberi mandat untuk memperhatikan dan melayani Gereja dalam hal ini Jemaat sebagai wujud kasihnya kepada Tuhan.

2.      Memahami Perikop

Sebelum melantik Petrus menjadi gembala atas domba-domba, Yesus memberi kesempatan kepada Petrus untuk membenahi dirinya setelah tiga kali menyangkal Yesus dengan menyatakan cintanya kepada Yesus. Ini adalah sebuah rekonsiliasi pribadi Petrus dengan Tuhan. Mandat yang diberikan oleh Yesus kepada Petrus sebanyak tiga kali yakni “Gembalakanlah domba-dombaKu”  menunjukkan dimensi misionaris Gereja dan kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya.

Figur gembala dalam dunia kuno sebanding dengan kuasa rajawi. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Tuhan sendiri menjadi gembala bagi umat Israel (Kej 49:24; Hos 4:16; Yer 23:1-6; 31:10; Yeh 34; Yes 40:11; Mzm 23; 80:1). Kuasa ini juga ada dalam diri Yesus yang mengatakan diriNya sebagai Gembala yang baik bagi domba-domba yang dipercayakan Bapa kepadaNya (Yoh 10:11-18). Sekarang giliran Yesus mempercayakan tongkat kegembalaan dan domba-dombaNya kepada Petrus. Komando Yesus kepada Petrus sebanyak tiga kali dan disaksikan oleh para MuridNya.

Tipe otoritas kepemimpinan mana yang diberikan oleh Yesus kapada Petrus? Santo Ambrosius menjelaskan bahwa Yesus memberikan Petrus kepada kita sebagai wakil kasihNya. Semua pelayanan Petrus merupakan implikasi dari persekutuannya yang mendalam dengan Kristus dan nantinya diungkapkan dalam pemberian diri secara total. Jadi komitmen kasih yang total dan pemberian diri yang tanpa batas dari Yesus berdampak pada upaya dan semangat untuk memelihara dan membimbing komunitas para rasul dan umat yang percaya kepada Yesus.

Ayat 15-17: Kata “mengasihi” dibedakan dari kata kerja phileîn dan agapân. Phileîn adalah kasih yang sifatnya lebih emosional, manusiawi, soal perasaan afektif. Kata ini melukiskan persaan kasih dengan member diri kepada pribadi yang disayangi (antar manusia). Sedangkan agapân lebih mengungkapkan kasih yang bersifat rohani, oblatif. Maka ekspresi “mengasihi Aku lebih dari mereka ini” menjadi factor pembeda antara Petrus dan para rasul yang lain. ‘Gembalakanlah domba-dombaKu” mengimplikasikan suatu kuasa juridis istimewa dari Yesus kepada Petrus.

Ayat 18-19: Dengan formulasi meriah: Amen, Amen atau “sesungguhnya” Yesus mengintroduksi nubuat tentang kemartiran Petrus. Pada masa itu pemahaman orang tentang akhir hidup manusia belumlah jelas. Maka Yesus mengggunakan bahasa yang bias dipahami: “ketika masih mudah mengikat pinggang,berjalan sesuai kehendak pribadi. Pada masa tua akan mengulurkan tangan, mengikat engkau, membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Konsep tentang penyaliban Petrus belum jelas terungkap dalam nubuat Yesus ini. Yang jelas ajakan untuk mengikuti Yesus berarti pintu penderitaan terbuka bagi Petrus.

3.    Mendalami perikop: Dialog Yesus dan Petrus

Setelah memahami perikop ini, sekarang mari kita mendalaminya. Perikop kita merupakan bagian kedua dari Bab ke-21 epilog Injil Yohanes. Tokoh Petrus sebagai leader komunitas para rasul memiliki posisi penting dalam epilog Injil Yohanes. Petrus hadir aktif dalam kisah mujizat tentang penangkapan ikan yang berjumlah 153 ekor banyaknya, dan pengenalan para rasul akan Yesus yang bangkit dengan mulia. Petrus memiliki peran dalam komunitas dengan tugas sebagai pemimpin bagi para domba (ayat 15-17) dan member kesaksian dengan kemartiran (18-19).

Tuhan Yesus hebat. Sebelum mempercayakan tugas kegembalaan Gereja kepada Petrus, Ia memintanya untuk mengakui atau mengkirarkan kasihnya. Ini adalah syarat mutlak bagi siapa saja yang mau bertugas sebagai pembimbing rohani. Setelah tiga kali mengikrakan kasihnya kepada Kristus maka dia juga diundang untuk mengikuti Kristus dalam jalan salib dan pemberian diri. Misi Gereja dan setiap umat secara pribadi hendaknya selaras dengan Kristus sendiri. Dia adalah satu-satunya penyelamat kita.

Dialog ini menekankan tiga elemen penting yakni misi, kemartiran dan mengikuti Kristus (sequela).

3.1.           Misi

Yesus bertanya kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini”. Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan tentang kasih kepada Pribadi Kristus. Jawaban Petrus merupakan sebuah penegasan terhadap tugas pastoralnya di dalam Gereja (ayat 15,16,17). Perikop ini juga merupakan perikop yang mau menguatkan Petrus karena sebelumnya Ia telah menyangkal Yesus (Yoh 18: 17.25.27). Penguatan Petrus menjadi gembala agung di dalam Gereja, terlepas dar pribadi Petrus yang penuh dengan kelemahan, bukan semata-mata berdasarkan jasanya melainkan pada pilihan Yesus dan kasihNya yang tak terbatas. Dengan alasan ini maka rasul Petrus harus mengasihi lebih.

Inisiatif pertama datang dari Yesus dengan bertanya: “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (ayat 15a). Yesus menuntut dari Rasul Petrus kasih yang lebih besar dari para rasul lainnya. Injil-injil Sinoptik tidak mengisahkan tentang pertanyaan seputar kasih kepada Yesus tetapi hanya pada iman kepada Yesus sebagai Mesias (Mrk 8:27-29). Sebaliknya dalam Injil Yohanes pertanyaan tentang kasih ini suatu keharusan. Petrus berusaha menjawab pertanyaan Yesus namun dia juga berusaha supaya tidak menyinggung perasaan para rasul lainnya. Petrus dengan rendah hati dan penuh kesederhanaan mau membuktikan dirinya bahwa dia berubah dan mau membaharui kasihnya terhadap Yesus. Dia menjawab: “Ya, benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” (ayat 15b) Lalu Yesus berkata kepadanya: “Gembalakanlah domba-dombaku!” (ayat 15c). Penguatan kepada Petrus  untuk menggembalakan domba-domba yakni yang paling kecil membuat Petrus menyadari bahwa tugas pastoralnya adalah diperuntukan bagi orang-orang kecil, kaum miskin, orang berdosa, mereka yang jauh dari Tuhan. Karya dan pelayanan Petrus adalah bukti kasihnya yang mendalam kepada Kristus dan juga kepada semua mereka yang dilayani oleh Petrus dalam misinya.

Selanjutnya Tuhan bertanya lagi kepada Petrus untuk kedua kalinya. Jawaban Petrus seperti sebelumnya: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (16b). Di sini Petrus menerima tugas bukan lagi bagi orang-orang kecil saja tetapi bagi seluruh gereja universal. Petrus menjadi pembimbing dan gembala bagi seluruh umat beriman. Yesus bertanya lagi untuk ketiga kalinya: “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”(ayat 17a). Petrus merasa hatinya sedih atas pertanyaan Yesus. Biar bagaimana pun juga Petrus harus tetap teguh dengan melupakan masa lalunya yang gelap karena menyangkal Yesus sampai tiga kali. Pada saat ini dia tiga kali mengikrakan cintanya kepada Yesus. Yang penting di sini adalah adanya sinkronisasi akan apa yang dikatakan dan yang dilakukan. Jawaban Petrus membuatnya semakin kuat: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (ayat 17b). Tuntutan dan dorongan Yesus tentang kasih memapukan Petrus untuk menjalin hubungan kasih sebagai seorang anak dengan Tuhan sendiri. Kepemimpinan Petrus bias berhasil kalau dia memulainya dengan kasih kepada Tuhan.

Yesus mengenal Petrus maka Ia berani memberikan kepercayaannya untuk menjadi gembala bagi domba-dombaNya. Dialah yang menyelidiki bathin setiap orang. Itu sebabnya Yesus berkata: “Gembalakanlah domba-dombaku” (17c). Yesus memberi kepada Petrus sifat kegembalaanNya sendiri (Yoh 10: 1-31). Seperti Yesus, Petrus pun harus mengenal domba-domba dengan namanya sendiri sehingga domba-domba juga mengenal suaranya. Sebagai gembala ia akan berjalan mendahului atau mendampingi domba-dombanya ke padang rumut yang hijau. Bahkan ia sendiri mengurbankan dirinya untuk domba-dombanya. Petrus menjadi wakil Kristus, pembimbing rohani bagi seluruh umat Allah.

3.2.           Kemartiran

Setelah Yesus menguatkan Petrus untuk melakukan tugas sebagai gembala, Ia juga membuka pikiran Petrus untuk memahami tujuan akhir dari pelayanan kegembalaan yaitu kemartiran. Bagaimana Petrus juga bersaksi dengan menumpahkan darahnya karena iman dan kasihnya pada Yesus. Cinta kasih menjadi sempurna ketika seorang rela “menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Petrus juga harus memiliki kasih yang dimiliki Yesus Kristus  sendiri yakni menyerahkan diri. Tuhan Yesus sendiri mengatakan masa depan Petrus dengan mengatakan: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." (ayat 18).

Beberapa hal yang dilukiskan oleh Yesus yakni: “mengulurkan tangan”, “mengikat pinggang”, “membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” membuat kita mengerti tentang masa depan Petrus yakni kemartirannya. Ia juga mengikuti sang Maestronya yakni salib menjadi jalannya dan menyerahkan dirinya kepada sesama. Seorang gembala yang benar adalah dia yang siap untuk menyerahkan nyawanya bagi sesama. Menyerahkan hidup bagi sahabat-sahabat merupakan bagian dari misi seorang gembala di dalam Gereja.

Tentang tugas sebagai seorang gembala, kita ingat apa yang dikatakan Yesus dalam Sabda Bahagia: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Mat 5:10-12).

3.3.           Sequela: “Ikutlah Aku”

Sequela berarti mengikuti jejak Kristus. Setelah mengatakan tentang kemartiran Petrus: “Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.” (ayat 19) lalu Yesus melanjutkan dengan berkata: “Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." (ayat 19). Undangan Yesus kepada Petrus untuk mengikutiNya mirip dengan apa yang Ia sampaikan kepada Philipus (Yoh 1:43). Petrus akhirnya meninggal sebagai martir di salib seperti Kristus sendiri.

Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku." (Yoh 13:36). Yesus juga mengundang menjadi murid: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”. (Yoh 12:26). Petrus lalu mengikuti Yesus sang Maestro tanpa bersungut-sungut dan dengan kemurahan hati. Selanjutnya Petrus memang menjadi martir. Ia juga disalibkan seperti Yesus.

4.      Dampak Sabda bagi kita

Sabda yang kita pelajari ini memfokuskan perhatian pada leadership di dalam Gereja. Petrus adalah pribadi yang sederhana dengan latar belakang sebagai nelayan yang dipanggil untuk “menjala manusia” (Mat 4:19; Mrk 1:17). Menjadi penjala manusia bukan hanya berarti menjadikan mereka percaya kepada Kristus tetapi seluruh hidup mereka pun diperhatikan. Artinya mereka sejahtera secara rohani dan jasmani. Kadang pikiran hanya terarah pada kemampuan untuk menambah jumlah umat secara kuantitatif dan lupa bahwa kualitas hidup umat juga perlu diperhatikan. Untuk itulah leadership di dalam gereja sangat diperlukan. Leadership macam apa? Semangat kegembalaan seperti Yesus sendiri sebagai gembala sejati.

Dari pengalaman Petrus, kita lalu membayangkan rencana Yesus bagi GerejaNya. “Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih dan menentukkan sebelum dunia dijadikan” (Ef 1:4-5). Ia yang mengenal masing-masing pribadi, memilih dan menentukan mereka menjadi pemimpin GerejaNya. Dari sebelas rasul, Ia memilih Petrus dengan segala kelebihan dan kekurangan untuk menjadi gembala bagi domba-dombaNya. Orang yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali telah dibantu oleh Yesus sendiri untuk mengenal dirinya dan berubah total dengan menyatakan kasihnya kepada Yesus. Ia bahkan mengikuti Yesus dan mengasihiNya sampai tuntas. Mengikuti berarti menyerupai!

Dasar keterpilihan sebagai gembala adalah mengasihi “lebih dari pada”. Jadi bukan hanya sekedar mengasihi tetapi mengasihi lebih dari pada! Perikop yang kita pelajari malam hari ini memiliki dampak tersendiri bagi kita terutama dengan para pemimpin di dalam Gereja: Paus, Uskup dan Imam. Para pilihan Allah ini adalah Petrus yang lain! Mereka juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Mereka juga berkali-kali menyangkal Yesus, bukan hanya tiga kali seperti Petrus tetapi Tuhan menguduskan mereka menjadi gembala di dalam Gereja. Pilihan hidup dan panggilan seperti ini tidaklah muda. Ibarat harta terpendam dalam bejana tanah liat. Mereka telah memilih untuk mengasihi Yesus lebih dari yang lain dengan menghayati nasihat-nasihat injil dan juga tahbisan suci. Dan itulah kemartiran mereka. Oleh karena  itu kita diajak untuk mendukung dalam doa, memberikan koreksi persaudaran, memperhatikan kesejahteran hidup mereka karena hidup mereka dibaktikan untuk kita sebagai Gereja (Umat Allah).

Perikop ini juga mengundang kita untuk berefleksi sebagai orang pilihan Allah karena imamat umum yang kita terima lewat pembaptisan. Kita juga dipanggil sebagai gembala bagi saudara-saudari di dalam keluarga atau komunitas. Pertanyaan ini selalu kita hadapi: Apakah anda juga seorang gembala bagi domba yakni saudara-saudarimu? Apakah anda juga mengasihi Yesus lebih dari sesama umat yang lain? Mengasihi lebih dalam hal apa? Mari kita membenahi diri kalau belum menemukan kasih yang lebih itu di dalam diri kita.  


KEPUSTAKAAN

Poppi, A. 1997., I Quattro Vangeli. Commento Sinottico. Padova: Edizioni Messaggero
Jacob, T. 1996., Permasalahan Sekitar Kitab Suci. Jogyakarta: Kanisius
Zevini, G. 1998., Vangelo Secondo Giovanni. Commenti Spirituali del Nuovo Testamento. Roma: Citta’ Nuova

PJSDB

No comments:

Post a Comment