Saturday, March 31, 2012

Renungan 31 Maret 2012


Hari Sabtu Pekan Prapaskah VB
Yeh: 37:21-28
Mzm (Yer 31: 10.11-12b.13) 
Yoh 11:45-56


Berapa harga sebuah persekutuan?

Hari ini giliran Nabi Yehezkiel curhat. Curhatnya adalah bahwa Tuhan menghendaki adanya persekutuan di antara umat kesayanganNya. Nubuatnya dalam bacaan liturgi hari ini mencakup berbagai dimensi kehidupan umat kesayangan Tuhan. Dimensi geografis: “Sungguh, Aku akan menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, kemana pun mereka pergi. Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.“ Dimensi sosiologis: “Aku akan menjadikan mereka satu bangsa yang dipimpin oleh seorang raja dan tidak akan menjadi dua bangsa dan tidak terbagi lagi menjadi dua kerajaan”. Dimensi teologis: “Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhala atau dewa-dewi mereka yang menjijikan. Aku akan melepaskan mereka dari dosa sehingga mereka menjadi umatKu dan Aku menjadi Allah mereka”. Dimensi etis: Dalam upaya pertobatan kepada Allah sangat tergantung pada perjanjian damai yang kekal antara mereka dan Allah. Dimensi Misionaris: Bait Allah di Yerusalem merupakan tanda kehadiranNya di tengah umatNya.

Curhat Yehezkiel ini mencakup semua aspek kehidupan manusia. Semuanya ini adalah kehendak Tuhan bagi Israel sebagai umat kesayanganNya. Tuhan maharahim. Ia tetap menerima Israel apa adanya. Ia memberikan tempat untuk didiami, menjadikan mereka satu bangsa, menjadikan diriNya sebagai Allah bagi mereka, memberikan mereka anugerah pertobatan dan tetap tinggal bersama mereka. Segala sesuatu yang dimulai oleh Tuhan akan digenapi oleh Tuhan sendiri. Tuhan sungguh menghendaki umatNya menjadi satu bangsa atau satu keluarga. Tentu saja ini hal yang sulit dijangkau. Untuk itu sangatlah diperlukan iman dan kepercayaan kepadaNya. Tuhanlah yang mempersatukan dan Dia juga yang membentuk jalinan persaudaraan dan kekuatan untuk mengasihi.

Upaya mempersatukan umat kesayanganNya menjadi satu persekutuan yang sempurna hanya melalui kematian Yesus Kristus. Untuk menjelaskan rencana Bapa maka Yesus menggunakan Lazarus sebagai tanda. Lazarus telah wafat dan dibangkitkan oleh Yesus. Mujizat besar ini mengundang kontroversi di kalangan para pemimpin Yahudi. Pokok kontroversinya adalah pada ketakutan mereka akan banyaknya orang Yahudi yang menjadi percaya kepadaNya dan akan orang Romawi yang bisa saja datang dan merampas tempat suci mereka di Yerusalem. Tampilnya Kayafas membuka wawasan banyak orang akan kematian Yesus: “Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu tidak insyaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa binasa”. Kata-kata Kayfas ini membuat mereka terinspirasi dan mematangkan rencana untuk membunuh Yesus. Penginjil Yohanes yakin bahwa ini juga menjadi kesempatan untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai berai.

Tuhan mempersatukan anak-anakNya dalam diri Yesus Kristus PuteraNya. Semua orang yang dipercayakan Bapa kepada Yesus menjadi miliki bersama yakni milik Yesus (Sabda) dan Bapa karena Anak dan Bapa hanya satu. Dengan demikian Tuhan senantiasa mendampingi umat kesayanganNya dan mengharapkan agar semuanya menjadi satu. Ini juga yang menjadi Doa imamat Yesus dimana Dia dan Bapa adalah satu dan menghendaki agar semua yang menerima Yesus dan memperoleh pengajaranNya juga menjadi satu (Yoh 17:21).

Sabda Tuhan pada hari ini mau meneguhkan kita untuk membangun persekutuan. Di dalam Gereja memang terdapat persekutuan pribadi-pribadi berdasarkan kategori-kategori tertentu. Misalnya ada persekutuan doa. Persekutuan doa merupakan kumpulan pribadi-pribadi yang memiliki kesadaran bersama untuk saling membantu dalam doa dan bertumbuh dalam satu iman. Kategorinya adalah berdoa bersama. Maka persekutuan doa dapat menjadi sarana untuk saling mempersatukan sebagai sesama dan saling mempersatukan dengan Tuhan sendiri.

Dunia ini menjadi indah ketika semua orang merasa sebagai saudara. Sama seperti nyanyian Daud ini: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun”. (Mzm 133:1). Tuhan menghendaki persekutuan bukan perpecahan. Kita semua tahu bahwa akibat dosa maka manusia telah terpisah satu sama lain dan terpisah dengan Tuhan. Namun Yesus telah mempersatukan kita semua dengan kematianNya. Mari kita bersatu sebagai saudara dalam Kristus. Kita berjalan bersama menuju kepadaNya. Amen

PJSDB

No comments:

Post a Comment